Love Is Only A Feeling
A fanfic by Presiousca
.
ENAM
.
'Bagaimana? Sunny Kreme nanti sore jam empat. Aku tahu kau tertarik.'
'Aku akan datang.'
.
e)(o
.
Mendengar ocehan Kris sambil mengunyah makan siang adalah fase yang paling payah.
Chanyeol menyesal karena harus tinggal di hotel Wu dan membiarkan Baekhyun pulang dengan supir tadi pagi. Seharusnya dia juga pulang tapi si brengsek Kris tidak akan mau melepasnya begitu saja.
"Baekhyun terlihat menarik dengan setelan serba putih." Sudah lewat satu jam sejak Kris pertama kali membuka mulutnya.
Entah untuk bicara atau makan, bagi Chanyeol sama saja. Kris adalah penyumbang polusi udara terbesar se-Korea. Salahkan pria ini kalau udara semakin panas karena bibirnya yang terus mengoceh itu.
"Menurutmu, pakaian apalagi yang cocok dikenakan oleh Baekhyun?"
Kris Wu adalah seorang yang bisa berlaku seperti bunglon. Bisa menjadi super formal saat sedang bekerja, juga bisa jadi super menjijikan saat sedang membual. Hanya tinggal menyesuaikan kondisi saja maka kau bisa melihat karakter Kris yang beragam itu.
"Hmm, biar aku tebak. Lingerie?"
Chanyeol mendengus, "Bung, dia laki-laki."
Mau semanis apapun senyuman Baekhyun, juga secantik apapun wajahnya saat tertawa, Chanyeol yakin kalau simpanannya itu adalah laki-laki.
"Bikini?"
"Just go fuck yourself!" umpat Chanyeol sambil berpura-pura untuk memukul wajah temannya itu.
Kris mungkin memang seorang kontraktor ternama. Hotel dengan nama keluarganya berdiri kokoh di tiga negara. Namun soal selera humor, dia sangat nol. Sangat payah.
"Seingatku kau juga meminta Joy dan Wendy untuk mengenakannya saat photoshoot."
"Aku tidak mungkin melakukannya kepada Baekhyun."
"Kenapa?"
Namun ada satu hal yang terkadang membuat Chanyeol tidak bisa membatasi persahabatannya dengan pria ini.
"Kau tidak pernah selambat ini, sobat. Biasanya kau akan langsung merilis fotomu setelah kau menemukan simpanan."
Sesuatu yang tidak dimiliki Jongin, yang terkadang hanya bisa dikelola oleh kepala aneh seorang Wu.
"Tapi kau tidak kunjung melakukannya. Kau bahkan bercinta tanpa harus menyembunyikan kamera atau membayar seorang fotographer."
Pria ini, terkadang memiliki cara berpikir yang bersih. Yang bisa membuat Chanyeol menyadari sesuatu yang bahkan tidak dia sendiri pahami.
"Aku tidak yakin kalau kau dan Baekhyun hanya sekedar rekan kerja. Mungkin kau, terlalu menjaga perasaannya atau bagaimana? Atau kau takut dia akan lari darimu seperti yang dilakukan Joy dan Wendy?"
"Kris?" Chanyeol mengusap wajah lelahnya dengan kasar.
Seharusnya hanya dengan melihat wajah lusuh temannya itu, Kris bisa sedikit saja bersikap prihatin. Seperti, mengurangi ocehannya dan mulai paham kalau diam adalah sama dengan emas.
"Ya?"
Chanyeol meletakan peralatan makannya dan mendekat untuk berbisik. "Kau sangat cerewet."
Kris tertawa tanpa sebab dan itu membuatnya terlihat sinting. Tapi memang begitulah dia. "Bukan cerewet, hanya pandai bicara saja. Hey! Kau mau kemana?"
Piring Chanyeol masih penuh. Masih bersisa setengah namun selera makannya seperti menguap habis. Dia beranjak menjauh juga mengabaikan Kris yang memanggil namanya sambil terus mengunyah. Seperti seorang bar-bar yang tidak tahu adab makan.
"Pria sejati harus kembali bekerja!" Jawab Chanyeol.
Laki-laki setengah Kanada itu tersenyum sebentar. "Bekerja dengan siapa? Dengan Baekhyun?"
Siapapun tahu bahwa Chanyeol jelas bingung dengan dirinya sendiri. Bagaimana Chanyeol mulai berhenti memikirkan kepentingannya dan terus mengkhawatirkan kondisi simpanannya itu.
Siapapun tahu kalau Chanyeol sudah beralih dari jalan awal dan salah seorang diantaranya adalah Kris. Teman yang paling berani untuk memberitahu Chanyeol bahwa dia sudah keluar dari jalur.
"Kalian tidak bekerja! Kalian berkencan!"
Ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan perdebatan bodoh, dengan orang bodoh. Chanyeol merasa kepalanya seperti dipukul oleh ribuan palu. Dia sedang tidak sehat, tapi Kris terus mengejarnya dengan rentetan omong kosong.
Bukankah tidak mungkin bagi Chanyeol untuk bersikap tidak profesional? Itu sangat tidak masuk akal. Meskipun benar dia mengkhawatirkan Baekhyun dan komentar-komentar jahat di sana, tapi bukan berarti mereka berkencan.
Chanyeol seharusnya ingat kalau pantang bagi mereka untuk melibatkan perasaan...
.
e)(o
.
Jam empat sore di Sunny Kreme.
Lihat? Siapa yang mengingkari ucapannya sendiri? Baekhyun jelas sudah duduk di dalam cafe penyedia es krim ini sejak setengah jam lalu. Belasan kali dia menghubungi nomor asing yang memulai kesepakatan ini namun selalu nihil.
Tidak ada jawaban. Hanya nada sambung yang terdengar seperti mengejek tingkah bodoh Baekhyun ini.
Seharusnya sejak awal dia tidak perlu ambil pusing. Lihat sekarang? Wanita itu pastilah hanya menjebaknya dan mempermainkannya. Tipikal seorang pembenci yang tidak punya nyali.
Belum selesai Baekhyun merutuki diri sendiri, tiba-tiba sebuah pesan yang berasal dari nomor wanita asing itu masuk.
'Hey, pecundang. Anjing penjaga mu ada di luar. Bukankah aku sudah bilang untuk datang sendirian?'
Baekhyun melihat keluar, menembus kaca yang menjadi dinding cafe untuk mendapati Yixing berjalan menyeberang jalan. Pria berdarah China itu adalah pria terlatih yang dibayar Chanyeol untuk menjaganya.
Termasuk mengamati, mengawasi dan memata-matainya kalau perlu. Pekerjaan yang menyebalkan.
Yixing membuka pintu cafe dan langsung berjalan ke mejanya. Membungkuk sebentar dengan sangat sopan dan masih bisa tersenyum tenang. Mengabaikan wajah sebal Baekhyun yang pasti sudah sangat kentara.
Sekarang Baekhyun tahu kenapa wanita asing itu tidak kunjung datang.
"Master Chanyeol tidak akan suka kalau anda berbohong, Tuan Baekhyun."
Mau bagaimana lagi? Mengetahui kalau Baekhyun pergi secara diam-diam saja pasti Chanyeol akan marah. Beralasan kalau dia hanya bertemu teman juga tidak akan masuk akal karena tidak perlu mengendap-endap begini.
Baekhyun tidak punya pilihan lain. Mau tidak mau, dia harus memperlihatkan pesan dari wanita asing itu kepada tangan kanan Chanyeol ini.
"Mari, saya akan mengantar anda pulang."
Ucapan Yixing lebih terdengar seperti akan mengantarnya ke neraka. Cukup ironis tapi memang seperti itulah yang akan terjadi. Chanyeol yang murka pasti tidak akan terasa menyenangkan.
.
e)(o
.
Chanyeol sedang berada dalam perjalanan pulang saat Yixing melaporkan pelanggaran yang dilakukan Baekhyun.
Bawahannya yang paling setia itu menjelaskan bagaimana seorang perempuan tidak dikenal mengajak Baekhyun untuk bertemu. Menjanjikan sebuah fakta yang tidak akan Baekhyun dapatkan dari siapapun tentang bagaimana Chanyeol sebenarnya.
"Segera lacak siapa pemilik nomor sialan itu."
"Baik, Master."
Sambungan ditutup bersamaan saat pintu apartmen dibuka. Chanyeol seharusnya sangat marah saat ini tapi kondisi tubuhnya sedang tidak baik. Baekhyun jelas baru saja melanggar peraturan mereka namun ketimbang murka, ternyata sakit kepala jauh lebih terasa.
Tak perlu susah-susah untuk menemukan dimana mahluk kecil nan cemas itu berada karena Baekhyun sudah duduk di sofa. Dengan raut wajah tegang dan bahu yang kaku.
Chanyeol mendekat pelan. "Kita sudah pernah membahasnya, Baekhyun."
Simpananya mengangguk sangat pelan. "Aku tahu."
"Kau sadar untuk siapa kau ini bekerja?" seharusnya Chanyeol membentak.
Atau setidaknya meninggikan nada suaranya namun kembali lagi, dia sedang benar-benar tidak sehat. Jelas sekali kalau pria besar itu dilanda keringat dingin sampai bernafas-pun Chanyeol terengah.
Baekhyun menyadari kondisi pemiliknya itu dan meraih dahinya. "Kau sakit."
Telapak tangan itu kemudian mendarat di pipi yang tidak sehat. Merasakan hawa panas menjalar dari tubuh Chanyeol yang sedang dilanda demam.
"Tidurlah dulu. Aku akan membuat bubur dan-"
"Jangan coba-coba lari..." potong Chanyeol. Mengira kalau Baekhyun terlalu pandai untuk melarikan diri dari penghakimannya ini.
Baekhyun berhenti di tempatnya. "Setidaknya kau harus sehat kalau ingin menghukumku."
Sebenarnya, Chanyeol setuju. Mau membentak saja dia tidak mampu karena kondisi tubuhnya sedang payah. Baekhyun mungkin bisa saja mendapatkan sesuatu yang lebih buruk saat Chanyeol sudah sehat, tapi dia tidak peduli.
Karena yang terjadi sekarang adalah Chanyeol seperti berubah bak anjing basah yang lelah. Dalam tidurnya, dia bermimpi kembali ke masa saat Proxima sangat hancur. Juga bayangan ketika ayahnya memohon di kaki ketua Bae demi sebuah pertolongan.
Semuanya terulang kembali sampai suara-suara tangisannya juga terdengar. Mimpinya terus berputar-putar dan rasa sakitnya berlipat-lipat. Sampai tiba di satu titik dimana Chanyeol menyadari bahwa dia memang sudah kehilangan Proxima.
Bahkan sejak sebelum dia dan Irene menikah.
"-Yeol! Bangun Chanyeol!"
Mata kelinci itu terbuka lebar, dengan jelas menangkap wajah cemas Baekhyun pertama kali setelah terbangun. Sejenak merasakan dua telapak tangan mungil itu membingkai wajahnya yang panik. Bagi Chanyeol, mimpi buruk saat demam adalah yang terburuk.
"Kau sangat ketakutan." Baekhyun mungkin hanya ingin memandang wajah pucat itu sebentar.
Lima detik atau sepuluh detik. Tapi Chanyeol tidak pernah terlihat setakut ini.
"Semuanya jadi menakutkan sejak aku menikah." Nafas Chanyeol terasa panas menyapa wajah.
Baekhyun mundur untuk mengambil semangkuk bubur dan mulai menyuapkan sendok demi sendok. Keduanya tidak terlalu banyak membuka suara. Baekhyun cukup tahu diri bahwa dia masih seorang tersangka lalu Chanyeol adalah hakimnya.
Mereka sedang memiliki masalah, dan itu belum selesai.
"Apa aku terlihat seperti pembohong?" tanya Chanyeol pelan. Dengan suaranya yang terdengar lebih serak.
"Kau tidak."
"Lalu untuk apa pergi diam-diam?"
Tidak ada alasan untuk berkelit, apalagi bertindak tidak jujur. Baekhyun tahu bahwa mereka sudah sepakat dan seorang laki-laki harus menepati janji. Apalagi, Chanyeol sudah memberinya terlalu banyak kebaikan.
Mengapa dia masih bisa mengkhianati pria itu?
"Aku hanya tidak mengenalmu, Chanyeol. Maaf." Sesal Baekhyun.
"Apa yang paling ingin kau ketahui?" Chanyeol paham kalau simpanan kecilnya ini seorang yang perasa. Dia bukan robot yang hanya bisa patuh dan diam.
"Jika aku menjawabnya, berjanjilah untuk tidak melanggar apapun lagi."
Baekhyun tahu kesempatan ini tidak akan datang dua kali.
"Kau pernah bilang bahwa pernikahan kalian adalah sebuah kecelakaan. Kau sangat ingin bercerai, tapi kenapa harus Irene? Kenapa harus dia yang menceraikanmu?"
Jika benar hanya ingin berpisah, seharusnya Chanyeol tidak perlu mempersulit diri. Dia bisa melakukannya sendiri daripada harus menunggu Irene yang jelas tidak akan melakukannya.
Baekhyun tentu tidak bisa disalahkan jika dia ingin tahu.
"Kau akan membenciku kalau tahu apa alasannya." Katanya. Chanyeol mungkin hanya ragu.
Jauh di dalam hatinya jelas ada rasa takut yang tidak bisa dijelaskan. Dan yang paling aneh dari semua itu Baekhyun ada dalam ketakutannya.
Seperti, takut untuk kehilangan pria itu atau sejenisnya. Meskipun Chanyeol tahu itu tidak mungkin karena surat perjanjian, tapi Baekhyun adalah Baekhyun.
Dan mereka bukan apa-apa.
"Proxima adalah untuk apa Ayahku hidup. Kami merintis semuanya dari nol lalu tiba-tiba berakhir kembali ke nol. Ketua Bae adalah orang yang sangat berpengaruh saat itu. Hanya dia harapan kami." Ucap Chanyeol begitu pelan.
"Awalnya, aku pikir dia tidak akan membantu kami. Lalu aku tahu kalau Irene menyukaiku."
Tangan kecil Baekhyun mendarat pada rahangnya. Seperti tahu kalau menguak masa lalu yang buruk memang akan terasa sangat berat.
"Kami harus menikah. Dan Ketua Bae sangat menyayangi Irene dan tidak ingin putrinya patah hati. Jadi dia membuat sebuah peraturan." Lanjut Chanyeol seolah mendapat keberanian lebih hanya dengan melihat senyuman Baekhyun.
"Siapa yang menceraikan, maka dia akan kehilangan Proxima." Tukas Chanyeol.
Sesuatu yang terlalu rumit, Baekhyun tidak terlalu suka untuk memikirkannya. Yang paling jelas dari semua ini adalah dia tahu Chanyeol diikat dan bukannya terikat. Pria itu tidak bisa lari karena hal paling penting di hidupnya juga akan sirna.
Sekarang semua terdengar begitu jelas. Chanyeol harus membuat Irene menceraikannya tapi siapapun tahu bahwa itu mustahil.
Cinta Irene untuk Chanyeol bahkan tidak hancur walaupun sudah pernah ada Joy dan Wendy.
"Aku tahu aku sangat naif." Lumayan benar karena Chanyeol jadi terdengar begitu ambisius dengan uang dan jabatan.
Tapi Baekhyun hanya tahu bahwa pria ini rela berkorban demi perjuangan ayahnya. Demi Proxima.
"Kalau begitu aku juga naif." Jawab Baekhyun penuh keyakinan.
"Kau dan aku sama-sama harus berkorban. Kau untuk ayahmu, dan aku untuk keluargaku. Aku tidak punya alasan untuk membencimu."
Saat kau membuat sebuah peraturan, maka bersiaplah untuk menemui pelanggaran.
Chanyeol ingat dia membuat batasan antara dirinya dan Baekhyun dengan benteng perasaan. Mereka harus bersikap profesional. Mereka harus berada di jalur masing-masing dan tidak boleh mencampurnya dengan emosi.
Tapi Chanyeol sudah berdiri di sini. Melewati batasannya sendiri untuk bergabung ke dalam jalur Baekhyun.
Tanpa sadar mencium bibir tipis simpanannya itu atas dorongan perasaan.
Baekhyun terpejam. Merasakan Chanyeol yang begitu berani mengenali mulutnya. Sampai saat lidah bertemu dengan lidah dan nafas berpadu dengan nafas. Chanyeol seperti sangat gila oleh betapa nikmatnya bibir Baekhyun.
Tapi dia sedang sakit. Dia demam dan ciuman mereka yang sudah panas menjadi lebih panas. Baekhyun bahkan bisa merasakan pria itu menahan batuk di tenggorokan ketika ia menggigit bibir bawah pemiliknya itu.
Akhirnya, mau tidak mau Baekhyun membuat jarak. Menyadari kalau nafas Chanyeol jadi jauh lebih serak dan berat.
"Jangan buat aku begini, Baek." Pria besar itu mendesis. Seperti ingin menggapai kembali bibir manis itu tapi batuk terus mengejar di tenggorokan.
"Begini bagaimana?" tanya Baekhyun benar-benar tidak mengerti.
Dia bertanya bukan untuk menggoda Chanyeol atau apapun. Baekhyun hanya tidak tahu kalau seseorang baru saja melanggar peraturannya sendiri.
"Aku tidak ingin kau tertular."
Dan Chanyeol masih bersikeras untuk tidak melanggarnya...
.
e)(o
.
"Kita harus pergi belanja." Baekhyun membuka lebar pintu lemari pendingin yang kosong saat Chanyeol memasuki dapur sambil menguap.
Ini hari Minggu. Itu berarti tidak perlu bekerja dan Chanyeol sudah mendapatkan kembali tenaganya yang bugar. Bubur ajaib buatan Baekhyun yang menyehatkan, juga sarapan mata pagi ini yang terasa begitu menyegarkan.
Melihat Baekhyun mengenakan sebuah kemeja yang ekstra besar saja sudah mengenyangkan.
"Kalau begitu ganti bajumu." Titah Chanyeol sambil lalu. Enggan terlalu lama melihat betapa menariknya paha Baekhyun itu.
Lima belas menit setelah Chanyeol mencuci muka, mengambil jaket dan memasuki mobil. Baekhyun bergerak pelan di kursi samping sambil bersiul. Memasang seatbelt sampai benar dan meraba dahi Chanyeol.
"Kau sudah sehat. Itu berarti nanti kau yang mendorong troly."
Senyuman Baekhyun di pagi hari. Siulan Baekhyun di pagi hari. Dan sentuhan pria mungil itu di pagi hari.
List baru Chanyeol untuk beberapa hal yang dia butuhkan untuk terus hidup. Lumayan berlebihan tapi masa bodoh. Selagi Chanyeol menyukainya, maka semua sah-sah saja.
Eh tunggu? Apa? Menyukainya?
"Wow, ramai sekali."
Hongdam Supermarket begitu ramai diisi oleh kepala-kepala pengunjung. Chanyeol juga menangkap nada bicara Baekhyun mengandung cemas yang aneh.
"Ingin mencari tempat lain?"
Tapi Baekhyun selalu menutupinya dengan senyuman.
"Ada kau di sini. Its ok."
Mereka berbelanja. Membeli sayuran. Membeli buah. Apel, semangka dan timun. Walaupun Baekhyun tidak suka timun tapi dia tahu bahwa Chanyeol tidak akan menolak. Mereka seperti mengerti satu sama lain.
Saling memberi toleransi walaupun hubungan mereka hanyalah untuk kerja sama. Lumayan pahit.
Kenapa? Karena orang-orang masih menatap mereka dengan cara yang aneh. Beberapa bahkan terang-terangan mengambil foto namun Baekhyun membutakan diri. Lagipula dia bersama Chanyeol.
"Semua orang punya mata. Mereka hanya tidak tahu cara menggunakannya." Bisik Baekhyun sambil terus tersenyum.
Chanyeol tertegun. Menyadari betapa positif-nya Baekhyun dalam menanggapi segala sesuatu. Membuatnya semakin jatuh dalam rasa kagum.
"Mereka akan menyesal karena melewatkanmu begitu saja, Baek."
"Kalau begitu jangan."
Setelah membayar semua belanjaan, lapar di perut adalah antrean selanjutnya.
Ada foodcourt yang tidak terlalu jelek. Yang membuatnya sangat menarik adalah karena kau bisa mengambil makananmu sendiri. Baekhyun memilihnya dan Chanyeol setuju.
Tapi orang-orang masih mengambil gambar mereka. Beberapa bergunjing bahkan ada yang sampai melotot sinis.
Mirip manusia gua yang tidak pernah mendapat pendidikan bersosialisasi.
"Aku tidak apa-apa. Selagi bukan keluargaku yang mereka usik, itu bukan masalah." Ucap Baekhyun.
Berhenti makan sebentar, Chanyeol membersihkan saus yang mengotori bibir simpanannya dengan ibu jari. Mengundang desas-desus di sana lebih keras dan lebih panas.
"Bagaimana dengan keluargamu?" tanya Chanyeol pelan.
Baekhyun mengedikkan bahu. "Mereka baik. Aku yakin Sehun menjaga Ibu dan Baekhee dengan-"
"Sshh." Chanyeol berdesis. "Maksutku, hubunganmu dengan keluargamu, Baekhyun."
Mata sabit itu berkedip beberapa kali sampai akhirnya, raut mendung Baekhyun kembali. "Ibuku mungkin belum tahu karena Sehun pasti mempertimbangkan kesehatannya."
Baekhyun kembali berucap "Ayahku memiliki seorang simpanan saat usiaku dua tahun. Wanita itu, melahirkan Sehun satu tahun setelahnya. Berbeda dengan ibu kami, aku dan Sehun sangat dekat."
Chanyeol tidak memintanya untuk bercerita, tapi Baekhyun merasa harus menceritakannya. Kenapa? Karena jika Chanyeol mampu membuka dirinya, maka Baekhyun juga harus.
"Tapi ayahku terus bersikap tidak adil. Dia bahkan menganggap kalau putranya hanya Sehun. Tentu saja ibuku sangat hancur."
Chanyeol mengusap punggung tangan Baekhyun. Tahu kalau kisah seperti ini tidak akan menyenangkan untuk diungkit.
"Orang tuaku memilih bercerai, padahal saat itu ibuku tidak sadar kalau sedang mengandung Baekhee. Tapi yang paling mengejutkan adalah saat Sehun datang menyusul kami di stasiun. Dia bilang, dia membenci ibunya dan ingin tinggal bersama kami." Baekhyun meringis sedih.
"Sehun jelas sangat membenciku."
Chanyeol meraih kedua tangan lemah itu ke genggaman. Dicium pada masing-masing punggung tangan. "Dia hanya belum tahu, Baek."
"Seharusnya aku tidak menjadi seperti apa yang ibunya lakukan."
Seharusnya Baekhyun tidak boleh menghadapi kesulitannya sendiri. Chanyeol tahu diri tentang siapa yang telah meletakan lelaki itu di posisi sulit ini. "Apa aku boleh berkunjung ke rumah kalian?"
Dia harus membantu, meskipun Chanyeol tahu bahwa itu tidak akan banyak membantu.
"Ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan Sehun."
.
e)(o
.
Baekhyun tidak ingat kalau bangunan tempat dia dulu tinggal bisa seramai ini.
Beberapa orang yang dia kenal sebagai tetangganya berkumpul di lantai bawah. Mengobrol tentang sesuatu hal yang tidak bisa dia dengar karena jarak mereka yang jauh.
Tapi bukan berarti Baekhyun tidak bisa mengenali tas besar milik Sehun yang dilemparkan pemilik bangunan ke tanah. Juga boneka Hamtaro milik si bungsu yang tergelatak di dekat selokan. Dan beberapa tumpuk pakaian yang tidak tahu harus dimuat kemana.
Semua itu milik keluarganya.
"Oh Jesus..." Chanyeol berdesis, seolah tahu bahwa ini pertanda buruk.
Barang-barang mereka dikeluarkan paksa dan orang-orang terus berbisik ngeri. Baekhyun berlari keluar dari mobil dan melihat Ibunya berjalan sambil menangis. Dipobong oleh Sehun dan digandeng oleh si bungsu, Baekhee.
Semua orang menatapnya. Tanpa ragu memberitahu bahwa mereka semua membenci keberadaan laki-laki mungil ini lewat cemoohan. Lewat tatapan kelewat kejam.
"Pergilah ke tempat dimana anakmu ini tidak dikenali. Cih, membuat malu saja." ucap pemilik bangunan. Terdengar lebih tajam dari pisau asahan mana pun.
"Ibu..."
.
.
To be continued
Bacod's:
Hardcore sekali ya sobat readers semua ini. Naena kemaren menurut saya udah panjang, eh taunya masih kurang :')
Chapter ini freak banget menurutku. Idk, kayak terlalu maksa di beberapa scene and im so sorry. Just want to sorry.
Oh ya, tiga atau empat chapter lagi bakal End~ Mohon supportnya sampai selesai yaa~ thankyou!
