"Pelarian"
Remake Story by Astrella
Park Chanyeol
Byun Baekhyun (GS)
Others
[Chanbaek]
.
.
.
Tulisan miring untuk flashback
.
.
.
Putri Baekhyun begitu marah saat mengetahui Ayahnya Yang Mulia Raja Kyuhyun menjodohkannya dengan pemuda yang tak pernah di kenalnya. Dengan kekesalan hati akhirnya sang tuan putri melarikan diri dari istananya yang serba mewah. Namun siapa sangka, perjalanannya malah terdampar di kastil sang tunangan. Chanyeol. Dengan berpura-pura sebagai gadis yang kehilangan ingatan, sang putri akhirnya memulai petualangannya dengan riang. Ternyata kebebasan di luar istana begitu memikatnya. Alam bebas, pohon-pohon, kicau burung dan padang rumput mengiringi kisah cinta sang putri yang biasanya penat oleh tugas-tugasnya sebagai putri mahkota.
.
.
.
.
.
.
Apa yang dikhawatirkan Chanyeol menjadi kenyataan. Belum jauh mereka memasuki hutan yang lebih dekat dengan Castil Q`arde dari pada jalan setapak yang tadi pagi mereka lalui, hujan mulai turun. Chanyeol segera berlari. Melihat itu Baekhyun juga segera berlari agar lebih cepat sampai di Castil Q`arde. Mula-mula hujan tidak deras. Tetapi semakin lama semakin deras hujan turun dan semakin banyak genangan air di tanah. Lumpur terus mengotori gaun Baekhyun yang berwarna cerah. Tetapi bukan itu yang dikhawatirkan Baekhyun. Baekhyun mengkhawatirkan Jackson. Anak yang telah mengetahui jalan yang mereka lalui ini segera berlari ketika melihat pamannya berjalan terburu-buru. Baekhyun sudah berusaha mencegah anak itu berlari tetapi ia tahu ia tidak dapat mengejar anak itu di dalam hutan yang berbahaya seperti ini. Di mana-mana batang berserakan dan akar bermunculan dari dalam tanah. Yang lebih ditakutkan Baekhyun bila ia mengejar Jackson adalah anak itu mengira ia sedang mengajaknya bermain kejar-kejaran lagi. Baekhyun tidak ingin anak itu terjatuh dan ia berharap Chanyeol mencegah Jackson. Tetapi Chanyeol juga tidak berusaha mencegah Jackson. Pria itu diam saja melihat Jackson berlari menjauh. Ia hanya berpesan kepada Jackson agar hati-hati. Melihat hal itu, Baekhyun marah kepada Chanyeol yang tetap bersikap acuh. Pria itu seakan-akan tidak peduli apakah nanti Jackson akan jatuh atau tidak.
"Mengapa kau tidak mencegahnya?" tanya Baekhyun, "Apa kau tidak khawatir ia akan jatuh?"
"Jangan khawatir. Jackson tahu jalan ini dan ia tidak akan jatuh karena ia telah terbiasa berlari dari sini ke Castil," jawab Chanyeol tenang.
"Bagaimana bila ia terjatuh?"
"Jackson sudah besar. Anak itu pasti tahu apa yang harus dilakukannya bila ia jatuh."
"Jackson masih anak-anak. Aku yakin anak itu belum genap sepuluh tahun, mungkin tahun ia baru berusia tujuh tahun. Mengaku saja kalau kau sama sekali tidak mempedulikan kemenakanmu itu. Apa yang akan kaulakukan bila ia jatuh?" kata Baekhyun dingin.
Chanyeol tiba-tiba berhenti. Ia menatap tajam wajah Baekhyun. "Aku lebih mengkhawatirkan orang sepertimu akan mempengaruhi dia dari pada alam."
"Kalau kau khawatir aku akan mempengaruhinya, mengapa tadi kau hanya tidur dan tidak menjaga Jackson?" kata Baekhyun tidak mau kalah.
"Siapa yang mengatakan aku tidak mengawasi kalian? Aku tahu apa saja yang kalian lakukan termasuk tingkahmu yang seperti anak kecil," kata Chanyeol tajam.
"Lalu?" kata Baekhyun dingin.
"Lalu apa?" tanya Chanyeol tak mengerti.
"Lalu mengapa kau tidak mencegah aku membuat kemenakanmu itu kelelahan. Kalau kau memang khawatir aku akan mempengaruhi Jackson, kau seharusnya mencegah aku menggodanya bukannya hanya diam saja."
Chanyeol tahu Baekhyun benar. Seharusnya tadi ia mencegah Baekhyun terus bermain kejar-kejaran bila ia khawatir dengan Jackson tetapi ia hanya diam saja. Matanya terus mengawasi mereka bermain di lapangan rumput.
"Aku lebih khawatir kau mengajari Jackson bagaimana caranya memanjat pohon daripada membuat Jackson kelelahan."
"Terima kasih," kata Baekhyun mengejek.
"Terima kasih kembali," balas Chanyeol dan ia segera melanjutkan perjalanannya. Dengan kesal Baekhyun mengikuti Chanyeol. Hujan semakin deras dan hingga saat ini belum terlihat bangunan Castil Q`arde yang megah. Baekhyun semakin mengkhawatirkan keadaan Jackson. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada anak itu.
Tiba-tiba Chanyeol berhenti dan menarik tangan Baekhyun. Kekhawatiran dan rasa terkejut membuat Baekhyun tidak melawan. Chanyeol memanfaatkan kesempatan itu untuk menarik tubuh Baekhyun lebih dekat. Gadis itu tetap diam saja ketika ia melingkarkan lengannya di pundaknya. Kediaman gadis itu membuat Chanyeol merasa lega. Semula ia khawatir Baekhyun akan melawan tetapi ternyata Baekhyun diam saja. Baekhyun masih diam saja ketika Chanyeol membawanya berteduh di bawah sebatang pohon yang besar.
Ketika Baekhyun telah pulih dari rasa terkejutnya, ia bertanya heran, "Mengapa kita tidak segera ke Castil Q`arde?"
"Hujan sangat deras dan aku tidak ingin Mama marah kepadaku karena telah membiarkan kau berlari di bawah hujan."
"Tetapi kita harus mencari Jackson," kata Baekhyun.
"Jangan khawatir. Anak itu pasti sudah sampai di Castil Q`arde."
"Mengapa kau bersikap sesantai itu? Bagaimana bila ia belum sampai?" tanya Baekhyun khawatir.
"Castil Q`arde tidak jauh lagi dari sini. Saat ini kita sudah sangat dekat dengan Castil," kata Chanyeol, "Aku yakin Jackson sudah sampai di Castil Q`arde sebelum hujan mulai turun."
"Kita harus kembali ke Castil Q`arde secepatnya. Aku khawatir mereka akan mengkhawatirkan kita."
"Apakah kau takut berada di sini hanya bersamaku?" tanya Chanyeol.
Walaupun Chanyeol sering bertengkar dengannya dan ia menganggap Chanyeol adalah pria yang harus dihindarinya tetapi Baekhyun tidak pernah takut berhadapan dengan pria itu. Berhadapan dengan Chanyeol justru membuat semangat Baekhyun untuk melawan semakin besar.
"Aku sama sekali tidak takut menghadapimu," kata Baekhyun dingin.
"Mengapa kau ingin segera kembali ke Castil Q`arde?" tanya Chanyeol.
"Aku sudah mengatakan alasannya kepadamu," kata Baekhyun.
Baekhyun membalikkan badannya. Ia tahu tidak ada yang dapat dilakukannya selain menuruti Chanyeol. Ia tidak tahu jalan ke Castil Q`arde dan ia tidak ingin tersesat apalagi dalam hujan deras seperti ini. Kerimbunan pohon tempat mereka berteduh membuat mereka terhindar dari air hujan yang terus membasahi bumi. Tetapi udara dingin tetap membuat Baekhyun kedinginan. Walaupun gaun Baekhyun tidak seberapa basah tetapi udara yang dingin membuat Baekhyun menggigil. Ia memeluk tubuhnya.
Karena tidak ingin merusak kesenangannya melihat air hujan berusaha menembus dedaunan tempat mereka berteduh, Baekhyun mencoba untuk tidak menghiraukan keberadaan Chanyeol di sisinya. Tapi Chanyeol membuatnya tidak dapat melakukannya. Pria itu tiba-tiba menyentuh pundak Baekhyun. Baekhyun terkejut. Ia membalikkan badannya dan melihat pria itu berdiri sangat dekat dengannya.
"Kurasa tidak ada yang dapat membuatmu merasa hangat selain kain ini," kata Chanyeol sambil menyampirkan kain yang semula dibawa Baekhyun untuk kegiatan piknik mereka, di pundak gadis itu, "Kalau kau tidak keberatan." Kata-kata yang diucapkan dengan nada mengejek itu membangkitkan kembali kemarahan Baekhyun.
"Terima kasih atas kebaikan hatimu," kata Baekhyun.
Mendengar suara mengejek itu, Chanyeol hanya tersenyum. Baekhyun memalingkan kepalanya dan mulai memperhatikan sekitarnya. Sejak tadi Baekhyun hanya terburu-buru mengikuti Chanyeol. Sebenarnya Baekhyun ingin berjalan pelan-pelan sambil melihat sekitarnya tetapi Baekhyun tahu Chanyeol akan meninggalkannya bila ia melakukan itu. Sederetan tanaman menjalar yang membentuk dinding membuat Baekhyun tertarik. Menurut Baekhyun bentuk tanaman itu aneh. Tanaman itu tampak seperti menutupi dinding. Baekhyun mendekati tanaman itu. Baekhyun merasa aneh. Ia merasa tahu sesuatu tentang tanaman itu. Jemari Baekhyun menyusuri dedaunan di depannya. Bawah sadar Baekhyun tahu apa yang harus dilakukan, jemari Baekhyun memasuki dedaunan yang rimbun itu. Anehnya Baekhyun sama sekali tidak terkejut ketika jarinya menyentuh sesuatu yang keras dan dingin. Tangannya terus mencari sesuatu. Baekhyun juga tidak terkejut ketika jemarinya menemukan sesuatu yang mudah digerakkan. Sekali lagi Baekhyun tahu apa yang harus dilakukannya, gadis itu menekan benda itu.
"Apa yang kau lakukan?"
Baekhyun terkejut. Chanyeol merasa marah melihat wajah tak bersalah Baekhyun. Begitu melihat gadis itu berdiri di bawah hujan, Chanyeol segera mendekat tetapi rupanya sang gadis tidak menyadari ia sedang kehujanan. "Apakah kau tidak sadar saat ini masih hujan deras?"
Suara sesuatu yang bergerak membuat Baekhyun mengalihkan perhatiannya dari kemarahan Baekhyun.
"Pintunya terbuka," kata Baekhyun senang.
Chanyeol memandang aneh wajah Baekhyun tetapi ia tidak mengatakan apa-apa.
Tanpa menanti Chanyeol, Baekhyun segera memasuki pintu itu dan menuruni tangga di depan pintu. Baekhyun mendapati dirinya berada di sebuah ruangan berdinding batu yang kokoh.
"Bagaimana kau mengetahuinya?" tanya Chanyeol.
Baekhyun membalikkan tubuhnya dan melihat sorot mata Chanyeol yang aneh. Saat melihat mata itulah Baekhyun menyadari ia melakukan semua itu tanpa disadarinya. Baekhyun tidak mengerti bagaimana ia dapat melakukannya. Semua terjadi begitu saja seakan-akan Baekhyun memang telah mengetahui ada ruangan tersembunyi di balik tanaman menjalar itu. Perasaan Baekhyun mengatakan ia pernah ke tempat ini tetapi seingat Baekhyun ia tidak pernah ke tempat ini.
"Aku… aku tidak tahu," jawab Baekhyun kebingungan. Baekhyun tidak mengerti mengapa ia tahu di balik tanaman itu ada ruangan rahasia ini dan tahu bagaimana cara membuka pintu ruangan ini.
"Siapa kau ini?"
"Aku…."
Hampir saja Baekhyun mengatakan ia adalah sang Putri Mahkota yang hilang. Kilat petir yang tiba-tiba menerangi langit luar beserta ruangan itu membuat Baekhyun sadar ia hampir melakukan kesalahan. Untuk melengkapi kalimatnya yang belum selesai, Baekhyun berkata,
"Aku tidak ingat."
Chanyeol tidak mempercayai kata-kata itu. "Aku yakin kau tidak mengatakan yang sebenarnya jadi katakan saja dengan jujur siapa dirimu."
Suara yang penuh ancaman itu membuat Baekhyun ketakutan tetapi gadis itu tidak mau menyerah pada rasa takutnya. "Aku mengatakan yang sebenarnya."
Dalam ingatan Baekhyun tidak ada suatupun yang berhubungan dengan Chymnt tetapi sejak ia tinggal di Castil Q`arde beberapa kali ia merasa mengenal tempat ini. Bahkan Baekhyun merasa pernah melihat wajah penghuni Castil Q`arde yang telah tua.
"Katakan sejujurnya siapa dirimu," kata Chanyeol, "Tidak seorangpun yang tahu ruang rahasia ini selain aku dan…"
"Kalau kau telah mengetahuinya, mengapa tidak sejak tadi kau membawaku ke tempat ini?" sela Baekhyun tajam untuk menyelamatkan dirinya dari situasi yang berbahaya bagi penyamarannya ini.
"Itu bukan urusanmu."
"Memang bukan urusanku tetapi aku tidak dapat mengerti mengapa kau tidak membawaku ke sini daripada membiarkan aku kedinginan di luar sana," kata Baekhyun tajam.
"Kau harus mengerti aku telah berjanji kepadanya untuk tidak mengatakan hal ini kepada siapapun," kata Chanyeol sambil berusaha mengendalikan kemarahannya.
"Apakah kau lebih senang melihat aku kedinginan daripada mengingkari janjimu kepada gadis itu?"
Kata-kata Baekhyun yang tajam serta kecurigaannya kepada Baekhyun membuat Chanyeol tidak dapat lagi menahan kemarahannya. "Katakan siapa dirimu yang sebenarnya. Tidak mungkin gadis itu mengingkari janjinya. Ia dan aku telah sepakat untuk tidak mengatakan hal ini kepada siapapun."
"Aku tidak tahu siapa diriku saat ini," jawab Baekhyun tajam.
"Jangan berbohong kepadaku. Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu," kata Chanyeol tidak kalah tajamnya.
"Untuk apa aku berbohong padamu?" kata Baekhyun dengan ketenangan yang dingin.
"Lalu mengapa kau tahu ruang rahasia ini?"
"Aku tidak tahu. Kebetulan saja aku menemukannya," jawab Baekhyun sambil berusaha mengatasi ketakutannya melihat wajah Chanyeol yang penuh kecurigaan. Baekhyun takut ia tidak dapat menahan dirinya. Ia takut mengatakan sesuatu yang dapat merusak penyamarannya. Kecurigaan sekaligus kemarahan yang tampak di wajah Chanyeol tampak menakutkan di ruangan yang remang-remang itu.
"Tidak mungkin kau mengetahuinya dengan kebetulan. Selama berabad-abad tidak seorangpun mengetahui adanya ruangan ini."
Sekali lagi Baekhyun memotong perkataan Chanyeol untuk menyelamatkan dirinya, "Lalu mengapa kalian dapat mengetahuinya?" Baekhyun merasa ia telah mengetahui jawabannya.
"Aku menemukan peta tempat ini di antara buku-buku kuno di Ruang Perpustakaan. Kemudian kami mencarinya bersama-sama," jawab Chanyeol.
"Gadis kecil itu berhasil menemukan tempat yang kalian cari." Kalimat yang tercetus begitu saja membuat mereka berdua sama-sama terkejut.
"Bagaimana kau mengetahuinya?" tanya Chanyeol.
"Aku… aku hanya menduganya," jawab Baekhyun kebingungan. Sesaat yang lalu terlintas suatu gambaran masa kecilnya di benak Baekhyun tetapi Baekhyun tidak dapat mengetahuinya dengan jelas. Ia hanya teringat ia sibuk mencari sesuatu di tanaman menjalar yang sama dengan tanaman yang menutupi dinding ruangan ini. Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang tampak janggal ketika ia berhasil menyibak tanaman itu. Ia melihat dinding batu dan tampak sebuah batu yang tidak menyambung dengan batu-batu lainnya. Tertarik dengan batu itu, Baekhyun mengulurkan tangannya dan menekan batu itu. Baekhyun senang melihat batu itu masuk dan ia lebih senang lagi ketika ia melihat sebuah pintu yang tertutup oleh tanaman membuka. Baekhyun tidak dapat mengingat lebih jauh dari itu.
"Sungguh?"
Suara Chanyeol yang terdengar aneh itu membuat Baekhyun terdiam. Gadis itu tidak tahu harus berkata apa menghadapi sikap Chanyeol yang penuh kecurigaan itu. Seperti suaranya, pandangan Chanyeol ke Baekhyun juga aneh. Pria itu seperti sedang mencari sosok yang disembunyikan Baekhyun di balik wajah bingungnya. Matanya menatap curiga dan bertanya-tanya.
.
.
.
.
.
Chanyeol tetap diam saja ketika ia melihat wajah kebingungan Baekhyun berubah menjadi seperti biasanya. Wajah itu menunjukkan sikap menantangnya. Pandangan mata gadis itu tampak ia tidak mau kalah dari siapapun terutama dirinya. Gadis itu tidak seperti gadis umumnya. Ia tampak kekanak-kanakan tetapi ia selalu bersikap menantang kepada siapa saja. Gadis itu tidak mau dikalahkan oleh siapapun terutama dirinya. Chanyeol tidak mengerti mengapa ia mempunyai pikiran seperti itu. Dalam setiap pertengkaran mereka, Chanyeol melihat gadis itu selalu berusaha mengalahkan dirinya. Tetapi dalam setiap pertengkaran itu pula tidak seorangpun dari mereka yang kalah atau menang.
Sejak pertama kali bertemu dengan gadis itu, Chanyeol merasa ia mengenal wajah Baekhyun, wajah yang mirip seseorang. Tetapi ia tidak ingat wajah siapakah itu. Tadi ketika ia mengawasi gadis itu bermain dengan kemenakannya di lapangan, barulah ia ingat tetapi ia tidak berani memastikannya. Gadis itu memainkan rumput seperti gadis kecil yang selalu diajaknya ke sana ketika ia masih kecil. Seperti gadis kecil itu pula, Baekhyun menyiramkan rumput ke atas kepala Jackson. Chanyeol tidak lupa bagaimana senangnya gadis kecil itu ketika berhasil menyiramkan rumput ke atas rambutnya. Setiap kali Chanyeol mengajak gadis itu ke lapangan itu hanya satu yang dilakukan gadis itu yaitu duduk sambil memainkan rumput dan berusaha menyiramkan rumput itu ke atas kepalanya.
Ketika melihat Jackson mendekati Baekhyun dengan perasaan tertarik, Chanyeol jadi teringat dirinya sendiri yang selalu tertarik melihat gadis kecil itu mempermainkan rumput. Seperti halnya Jackson, Chanyeol juga mendekati gadis kecil itu dan akhirnya gadis itu berhasil menyiramkan rumput ke atas kepalanya. Kemudian ia berusaha membalas gadis itu. Tingkah Baekhyun di lapangan tadi mirip sekali dengan gadis kecil itu.
Teringat gadis kecil yang selalu ditemaninya bermain, Chanyeol akhirnya tahu mirip siapakah wajah Baekhyun. Wajah Baekhyun mirip sekali dengan wajah gadis kecil itu. Rambut mereka juga sama-sama hitam. Tetapi yang berbeda adalah sinar mata mereka. Gadis kecil itu memiliki sinar ceria sedangkan sinar mata Baekhyun adalah sinar mata yang menantang dan tidak mau kalah dari siapapun juga.
Semua tingkah Baekhyun sama dengan gadis kecil itu bahkan ketika gadis itu berusaha membersihkan rumput dari rambutnya. Ketika melihat Jackson menyiramkan rumput ke atas rambut Baekhyun, Chanyeol menebak gadis itu tidak akan menggunakan tangannya untuk membersihkan rambutnya. Baekhyun akan membersihkan rambutnya dengan cara yang sama dengan si gadis kecil. Tebakan Chanyeol tepat. Baekhyun mengibaskan rambut hitamnya yang panjang untuk membersihkan rumput dari rambutnya. Chanyeol terperangah melihatnya. Bukan wajah gadis itu yang tampak semakin cantik ketika ia mengibaskan rambutnya yang membuat Chanyeol terpana melihat gadis itu. Yang membuatnya terkejut adalah tebakannya benar-benar menjadi kenyataan.
Gadis itu adalah gadis yang sama dengan gadis di masa kecilnya. Tidak seorangpun yang mengetahui ruangan ini selain dirinya dan gadis kecil itu. Dan tidak mungkin Baekhyun mengetahui tempat ini dengan kebetulan.
Terlalu banyak kemiripan Baekhyun dengan gadis kecil itu. Chanyeol tahu
ia tidak mungkin salah. Pada awalnya ia tidak tahu ia telah jatuh cinta pada gadis itu, ia hanya merasa ia menyayangi gadis itu seperti ia menyayangi adiknya sendiri. Baru ketika gadis kecil itu tidak pernah lagi bermain ke Castil, ia menyadari perasaannya. Chanyeol tidak pernah mengerti mengapa gadis itu tidak pernah lagi bermain ke Castil Q`arde. Seingat Chanyeol ia tidak pernah membuat gadis itu marah. Ia selalu berusaha menyenangkan gadis kecil yang manis itu. Gadis itu juga tidak pernah terlihat membencinya. Gadis kecil itu menyukainya tetapi tidak pernah menyukai adiknya, Sehun. Setiap kali melihat sikap permusuhan yang ditunjukkan Baekhyun kepada adiknya, Chanyeol teringat sikap permusuhan yang ditunjukkan gadis itu kepada adiknya. Kedua gadis ini sama-sama tidak menyukai Sehun dan selalu menghindari Sehun.
Pada setiap kedatangannya, gadis itu selalu ditemani ibunya. Dan pada kedatangannya yang terakhir kalinya di Castil Q`arde, ibunya meninggal di Castil Q`arde. Tetapi tidak mungkin itu penyebab gadis itu tidak pernah lagi bermain ke Castil Q`arde. Karena tidak menemukan alasan yang lain, maka Chanyeol berpikir gadis itu adalah anak sombong yang tidak mau bermain lagi dengannya. Pikiran itu didorong oleh kedudukan yang dimiliki gadis kecil itu.
Dengan kematian ibunya, si gadis harus menggantikan kedudukan ibunya dalam setiap kunjungan kerajaan. Peran penting yang didapatkan gadis itu karena kematian ibunya membuat Chanyeol yakin dengan pendapatnya. Gadis itu tidak mau menemuinya lagi karena ia menganggap rendah dirinya. Karena itu pula Chanyeol sama sekali tidak merasa senang ketika orang tuanya memberinya sebuah kabar yang mengejutkannya.
.
.
.
.
.
Pada suatu siang ketika mereka sedang berkumpul di Ruang Duduk sambil bercakap-cakap, Changmin tiba-tiba berkata, "Aku mempunyai kabar gembira untukmu, Chanyeol."
"Kabar gembira?" tanya Chanyeol tak mengerti.
"Tahun ini gadis itu genap delapan belas tahun dan ayahnya berniat untuk segera mengumumkan pertunangan kalian," kata Changmin.
"Pertunangan?" tanya Chanyeol semakin tidak mengerti, "Pertunangan apa? Siapa yang akan bertunangan?"
Changmin memandang kebingungan wajah istrinya, "Ia belum tahu?"
"Belum. Kami belum memberi tahu seorangpun dari mereka berdua. Kami berniat membuat kejutan untuk mereka," jawab Victoria.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Chanyeol curiga.
"Siapa tunangan Chanyeol?" tanya Sehun tertarik.
"Kau pasti senang mendengarnya, Chanyeol. Sebenarnya sejak kecil kau telah aku tunangkan dengan gadis kecil itu, Putri Baekhyun."
Chanyeol terkejut. "Mengapa Mama membuat keputusan seperti itu tanpa mengatakannya kepadaku?" Melihat kemarahan di wajah putranya, Changmin dan Victoria terkejut.
"Kami pikir kau akan senang mendengarnya," kata Changmin dan Victoria bersamaan.
"Kalian sudah tahu aku sama sekali tidak senang orang lain mencampuri hidupku," kata Chanyeol, "Mengapa kalian tetap saja mempertunangkan aku dengannya tanpa sepengetahuanku pula?"
"Kami mempertunangkan kau dengan Putri Baekhyun sejak kalian masih kecil. Saat itu Ratu berkata kalian akan senang mendengarnya. Ratu pula yang mengusulkan pertunangan kalian ini," kata Victoria menjelaskan.
"Mengapa Mama menyetujuinya?"
"Saat itu kalian tampak akrab sekali."
"Ya, kau lebih akrab dengan Putri Baekhyun daripada aku. Setiap kali ia datang ke sini kau selalu berada di sisinya," sela Sehun.
"Sehun, jangan memotong perkataan Mama," tegur Victoria.
"Mengapa kalian menyetujuinya hanya karena alasan itu?" tuntut Chanyeol, "Apakah kalian tidak pernah berpikir kalau perasaanku bisa saja berubah?"
"Maksudmu kau sudah tidak menyukai Putri Baekhyun lagi?" tanya Sehun, "Kalau kau menikah dengannya kau akan menjadi Raja Kerajaan Lyvion."Chanyeol tidak tertarik mendengar kata-kata adiknya. Siapa yang tidak tertarik menjadi Raja kerajaan yang makmur ini tetapi yang menjadi masalah adalah Chanyeol tidak mau berurusan lagi dengan gadis yang dibencinya, Putri Baekhyun. Chanyeol masih tidak dapat memaafkan sikap sombong gadis itu yang setelah menjadi orang penting, tidak mau lagi bermain ke Castil Q`arde.
"Aku tidak setuju dengan pertunangan ini," kata Chanyeol tegas.
"Maafkan kami, Chanyeol. Kami tidak tahu kalau akan begini jadinya," kata Changmin, "Tetapi kita tidak dapat membatalkan pertunangan kalian."
"Mengapa?" tanya Chanyeol tajam.
Kemurkaan Chanyeol membuat Changmin dan Victoria memilih untuk bersikap hati-hati. mereka tidak ingin melihat putra sulung mereka lebih marah dari saat ini.
"Mengertilah, Chanyeol. Pertunangan kalian adalah keinginan Ratu yang telah meninggal. Tidak baik menolak keinginan orang yang sudah meninggal lagipula persiapan pesta pertunangan kalian sudah hampir siap," kata Victoria penuh pengertian.
"Semua telah siap. Undangan telah disebarkan dan tempat untuk pesta itupun telah diselesaikan," tambah Changmin.
"Tidak ada yang dapat dilakukan untuk membatalkan pertunangan kalian," kata Victoria meyakinkan, "Kami minta maaf, Chanyeol. Tetapi kau tidak dapat menghindari pertunangan ini. Aku tidak tahu mengapa kau marah seperti ini tetapi aku tahu kau masih mencintai Putri Baekhyun."
"Mama tidak mengerti apa-apa," kata Chanyeol marah.
Chanyeol tidak menyukai pertunangan ini. Ia ingin sekali membatalkan pertunangan ini.
"Kau harus mengerti, Chanyeol. Keluarga kita dan keluarga Raja telah lama bersahabat. Jangan sampai persahabatan ini rusak hanya karena kau tidak menyetujui pertunanganmu," kata Changmin mencoba memberi pengertian.
Chanyeol menatap tajam wajah orang tuanya. Ia tahu orang tuanya benar. Bila ia menolak pesta pertunangan ini, hubungan kedua keluarga tua di Kerajaan Lyvion akan rusak bahkan mungkin menjadi bermusuhan. Yang paling ditakuti Chanyeol adalah Raja menjadi murka kemudian kemurkaan itu menimpa keluarganya. Chanyeol tahu Raja Kyuhyun adalah Raja yang bijaksana juga pemarah. Sangat mudah membangkitan kemarahan Raja Kyuhyun daripada membuatnya senang. Niat semula Chanyeol untuk melakukan apa saja demi membatalkan pertunangannya hilang.
Dengan pasrah bercampur kemarahan, Chanyeol berkata, "Kalian telah membawaku ke situasi yang paling sulit yang pernah kualami."
Victoria tersenyum lega, "Maafkan kami, Chanyeol. Kami tidak pernah berniat membawamu ke situasi seperti ini. Kami berterima kasih kau mau mengerti."
"Bagus," kata Sehun senang, "Bila Chanyeol sudah mempunyai tunangan maka ia tidak akan merebut kekasihku lagi."
Chanyeol menatap tajam wajah Sehun. "Harus berapa kali kukatakan aku tidak pernah merebut kekasihmu?"
"Kau memang melakukannya," tuduh Sehun, "Kau merebutnya dariku."
"Sudah, jangan bertengkar lagi," kata Changmin menghentikan pertengkaran kedua putranya, "Kau jangan lupa Sehun, Chanyeol sudah mempunyai tunangan."
Diingatkan tunangannya, Chanyeol merasa jengkel. Ia segera meninggalkan orang tuanya. Walaupun Chanyeol tidak membanting pintu melainkan menutupnya perlahan-lahan, namun Changmin dan Victoria tahu putra mereka marah. Mereka tidak dapat melakukan apa-apa. Mereka hanya dapat berharap bagi kebahagiaan putra mereka yang paling sulit diatur. Berbeda dengan adiknya, Chanyeol sejak kecil lebih suka menghabiskan
waktunya untuk belajar daripada bermain.
.
.
.
.
.
Pertunangan yang diharapkan membuat Chanyeol maupun Baekhyun merasa senang ternyata membuat keduanya marah. Keduanya tidak menyukai pertunangan ini. Dan ingin melepaskan diri dari pertunangan ini.
Batalnya pesta yang dipersiapkan dengan matang karena hilangnya sang Putri tidak membuat Chanyeol merasa senang. Justru sebaliknya pria itu semakin yakin gadis kecil yang dulu dikenalnya telah berubah menjadi gadis sombong.
Yang tidak dimengerti Chanyeol adalah mengapa gadis yang dianggapnya bangga dengan kedudukannya itu justru memilih untuk meninggalkan Istananya yang nyaman hanya karena ingin membatalkan pertunangannya.
Gadis yang sekarang berdiri di depannya tidak mungkin adalah Putri Baekhyun. Tidak mungkin mereka adalah gadis yang sama. Tetapi mengapa mereka memiliki banyak kesamaan? Bila benar gadis itu adalah Putri Baekhyun yang menghindari pertunangannya mengapa ia membiarkan dirinya berada di Castil Q`arde yang merupakan Castil tunangannya. Chanyeol benar-benar tidak mengerti.
Tiba-tiba saja Chanyeol tahu bagaimana caranya membuktikan hal itu. Chanyeol sering membaca berita yang memuat Putri Baekhyun. Dalam setiap foto sang Putri yang dimuat di surat kabar, selalu ada pria yang berdiri di samping Putri sambil menatap mesra wajah sang Putri. Banyak berita yang beredar mengenai Putri dengan pria-pria yang disekitarnya seiring dengan bertambahnya pria yang mendekati Putri. Setiap hari selalu tampak wajah Putri Baekhyun bersama pria yang selalu berbeda di surat kabar beserta isu yang terjadi di sekitar Putri Baekhyun.
Chanyeol mengulurkan tangannya dan meraih tubuh gadis itu ke pelukannya. Baekhyun terkejut dengan tindakan Chanyeol yang tidak terduga itu. Ia terlalu sibuk meyakinkan dirinya untuk menjaga setiap kata-katanya sehingga ia terhindar dari ancaman terbongkarnya penyamarannya – ketika tiba-tiba pria itu menariknya ke dalam pelukannya. Gerakan pria itu terlalu cepat untuk ditangkap Baekhyun yang masih dipenuhi berbagai macam pikiran.
Keterkejutan dan pikiran yang masih memenuhi benaknya membuat Baekhyun tidak menyadari apa yang dilakukan pria itu. Baekhyun baru menyadari apa yang terjadi ketika bibir pria itu menyentuh bibirnya. Baekhyun terkejut sekaligus marah. Tanpa disadarinya tangannya telah melayang ke wajah Chanyeol.
.
.
.
.
.
.
TBC
READ , REVIEW , FAV PLEASE?
PS : HI GUYS WHAT DO YOU FEEL ABOUT CHANYEOL KISSING SCENE? Ceritanya lagi asik asik nyetrika eh tiba-tiba dikirimin temen screencapt itu OMG , mana malemnya beredar videonya... menyakitkan wkwkw
Yaudahlah itu mah tuntutan pekerjaan, asal dapet duit ya gpp biar tabungan masa depan sama Baekhyun makin banyak wkkw lagipula pemilik eksistensi Park's lips ya si Byun wk
Yang penting sekarang ya jejak kalian guys!^^ Chap depan-depan chanbaek udah ada manis-manisnya gitu! Stay tuneeee .
Besok pengumuman SBMPTN nih , deg-deg an banget huhu semoga bisa lolos, dan kalian para readers yang sama-sama nunggu pengumuman juga lolos! Amin^^
