Title : Stubborn Couple
Cast : DBSK, dll.
Pair : Yunjae, dll
Disclaimer : These charactersare not mine, they belong to themselves. But this story is mine.
Warning : Yaoi, typos, dll. DON't LIKE DON't READ…
-CHAPTER 5-
"Bagaimana kalau aku saja yang menggantikan Jaejoong?" kata suara itu yang sontak membuat seluruh siswa yang ada di situ menatapnya. Sementara orang yang ditatap hanya tersenyum sambil berjalan mendekati tempat di mana Jaejoong dan Yunho berada.
"Lihat mereka berdua. Kurasa mereka berdua tidak cocok untuk memerankan peran utama itu," lanjut suara tersebut.
"Lalu, memangnya kau merasa bisa menggantikan Jaejoong, Karam-ah?" tanya Taeyeon.
Ya, suara yang menyela berlangsungnya perang dunia antara couple kita ini adalah Karam. Teman sekelas Jaejoong. Sebenarnya sudah menjadi rahasia umum di kelas Jaejoong kalau Karam menyukai Yunho. Namun apa peduli mereka karena memang selama ini Karam tidak pernah melakukan sesuatu terhadap Yunho. Bahkan Yunho sendiri pun sama sekali tidak mengenal Karam. Bukan karena Karam tidak mau mendekati Yunho atau apa, namun hal itu lebih karena Yunho selalu terlihat bersama dengan Jaejoong.
Selain itu, waktu ada pemungutan suara untu pemilihan peran, Karam sebenarnya sangat-sangat keberatan dengan keputusan teman-temannya. Tapi mau apa dia? Karam masih cukup sadar posisinya, walaupun ia tidak setuju, tapi melawan banyak orang yang sudah setuju dengan keputusan kalau Jaejoong akan menjadi pemeran putrinya adalah sama saja dengan menepuk udara kosong. Hal ini juga menyebabkan diam-diam sebenarnya Karam menyimpan dendam terhadap namja cantik yang satu itu. Namun, sepertinya kali ini, Dewi Fortuna sedikit berpihak kepadanya, karena itu, ia pasti akan memanfaatkan kesempatan in sebaik-baiknya.
"Ne, aku pasti bisa menggantikan Jaejoong. Lagipula aku kan memang anggota klub drama," kata Karam santai. Namun, dalam hati dia bersumpah akan menjadikan Yunho miliknya lewat kesempatan ini.
"Huh, sepertinya tidak ada pilihan lain, Taeyeon-ah. Bagaimana menurutmu?" kali ini Seung Ri yang akat bicara.
"Kita tanya yang lain saja," kata Taeyeon, "Bagaimana menurut kalian?" lanjut Taeyeon menanyakan pendapat pada teman-temannya yang lain.
"Kurasa tidak buruk juga. Lagipula Karam juga lumayan cantik," sahut Tiffany.
Mendengar kata-kata Tiffany itu, sontak seluruh orang yang ada di situ menganggukkan kepala tanda bahwa mereka setuju kalau peran putri yang awalnya dimainkan oleh Jaejoong digantikan oleh Karam. Akhirnya keputusan pun diambil. Sementara itu, lebih baik kita lihat keadaan Yunho dan Jaejoong yang masih mematung mendengar perubahan keputusan yang tiba-tiba tersebut.
"Jadi, aku tidak akan memerankan peran bodoh ini?" tanya Jaejoong pada Taeyeon.
"Ne, begitulah. Kau dengar kan keputusan kelas tadi?" kata Taeyeon pasrah namun dalam nadanya terselip rasa bersalah pada Jaejoong. Namun, Jaejoong sama sekali tidak menyadari hal tersebut.
"Benarkah? Yeayyy, akhirnya aku benar-benar terbebas dari hal ini, dan terutama dari beruang mesum ini," kata Jaejoong bersorak kegirangan.
"Ya, siapa yang kau bilang beruang mesum, hah?" protes Yunho mendengar sorakan Jaejoong. Jaejoong langsung menengok dan mendelik ke arah Yunho untuk membalas perkataan Yunho.
"Tentu saja kau, bodoh," kata Jaejoong ketus.
"Huh? Baguslah kalau kau diganti. Aku juga sangat gembira kalau peranmu itu diganti," kali ini giliran Yunho yang membalas perkataan Jaejoong. Namun, Jaejoong lebih memilih untuk tidak menggubris perkataan Yunho dan malah berkata pada Taeyeon.
"Kalau begitu, aku sekarang membantu apa, Taeyeon-ah?" tanya Jaejoong.
"Ah, iya benar juga. Lebih baik kau membantu Tim properti bersama Siwon karena bagian tersebut membutuhkan banyak orang, sedangkan kau Karam, sebaiknya sekarang kau ganti baju," lanjut Taeyeon.
"Ne, aku akan segera ke sana setelah membereskan ini untuk Karam," kata Jaejoong sambil menunjuk gaun yang sedang dipakainya itu, gaun yang menurutnya sangat nista.
Segera saja Jaejoong dan Karam melangkah menuju ke ruang ganti lagi diikuti oleh Tiffany dan tim rias lainnya. Segera saja Jaejoong melepas semua pakaian dan aksesoris yang menempel di tubuhnya karena ulah Tiffany dan menggantinya dengan seragam sekolahnya. Jaejoongpun segera keluar dan menuju ke tempat Siwon. Sementara Karam dengan senang hati duduk di kursi yang tadinya diduduki Jaejoong untuk dirias oleh Tiffany. Anggota yang lain juga segera melanjutkan persiapan yang lainnya.
"Siwon Hyung, perlu bantuanku?" tanya Jaejoong menghampiri Siwon yang sedang duduk di sudut ruangan dengan beberapa orang lainnya sambil memotong-motong beberapa sterofoam untuk property.
"Ah, Jae. Ini, kau bisa bantu memotong ini mengikuti pola yang sudah tergambar," kata Siwon sambil menyerahkan sterofoam yang berukuran cukup besar dan cutter pada Jaejoong.
"Ne, Hyung," kata Jaejoong sambil tersenyum manis.
"Sepertinya kau senang sekali bisa lepas dari peran itu, Jae?" tanya Siwon sambil mengerjakan tugasnya.
"Tentu saja, Hyung. Aku tidak suka memakai pakaian nista itu. Dan juga aku juga tidak suka kalau harus berpasangan dengan Yunho," jawab Jaejoong mempoutkan bibirnya, sambil tetap melakukan tugasnya memotong sterofoam yang disuruh oleh Siwon tadi. Mendengar jawaban tersebut, Siwon melirik kearah Jaejoong sekilas. Di mata Siwon, Jaejoong yang mempoutkan bibir sambil memotong-motong sterofoam tersebut benar-benar terlihat sangat manis dan menggemaskan. Bahkan saat berteriak-teriak marah pada Yunho pun, namja itu masih saja terlihat sangat manis. Oh gosh, sepertinya kali ini Siwon benar-benar jatuh cinta pada namja cantik yang pesonanya tidak bisa ditolak oleh siapapun itu.
Sementara itu, tanpa disadari oleh Siwon dan Jaejoong, sepasang mata musang sedang menatap mereka dengan penuh kekesalan. Diteguknya cepat-cepat kaleng minuman yang ada di tangannya. Ya, saat ini Jung Yunho sedang tidak ada kerjaan karena masih menunggu Karam menyelesaikan ganti bajunya.
"Huh, kenapa dia itu? Dasar menyebalkan. Bersikap sok imut tersebut pada orang lain. Dasar serigala berbulu domba," kata Yunho bergumam tak jelas.
"Tunggu. Kenapa aku jadi seperti orang cemburu begini?" kata Yunho tadi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, namun beberapa detik kemudian dia tersenyum meyakinkan dan berkata lagi, "Ah, tidak. Tidak. Aku tidak cemburu. Aku hanya sedang kesal karena mainanku diambil orang lain. Ya, hanya itu,"
Beberapa menit tetap dalam posisi tersebut, tiba-tiba saja Yunho mendengar ada yang memanggilnya.
"Yunho Oppa, cepat kemari. Karam sudah siap," teriak Taeyeon. Semua orang yang ada di situ pun ikut menoleh untuk melihat secantik apa Karam. Segera saja, Karam yang sedang berdiri di sebelah Taeyeon pun menjadi pusat perhatian seperti Jaejoong tadi. Postur, garis wajah, dan kecantikkan namja itu memang tidak kalah dengan Jaejoong. Yunho pun segera melangkah ke tempat Taeyeon dengan enggan. Dia akui sosok Karam saat itu sangat cantik, namun entah kenapa dia tidak tertarik. Dalam hati dia berpikir bahwa lebih cocok Jaejoong yang memakai baju itu.
Melihat Yunho sudah berada di depannya, Karam tersenyum. Senyum yang dibuat semanis mungkin agar Yunho melihatnya. Namun, sayangnya hanya ditanggapi sekilas oleh Yunho.
"Annyeong, Yunho Hyung. Mohon bantuannya," sapa Karam masih dengan mempertahankan senyumnya saat melihat Yunho.
"Ne, aku juga," jawab Yunho singkat.
Tidak ingin membuang-buang waktu, Taeyeon pun segera memulai latihan mereka. Kemampuan akting Karam sebagai anggota klub drama memang sudah tidak diragukan lagi. Sedangkan Yunho, sebagai seorang amatir, kemampuannya cukup membuat Taeyeon puas. Tanpa terasa, matahari pun sudah menenggelamkan sinarnya. Taeyeon dan Seung Ri pun segera mengakhiri latihan hari pertama mereka itu. Yunho pun bersiap-siap pulang ke rumah, namun matanya menangkap sesosok namja cantik yang masih dengan riangnya membuat barang-barang untuk properti drama tersebut sambil asik berbincang-bincang dengan Siwon. Tanpa disadarinya, tiba-tiba saja Yunho menjadi kesal sendiri dan berjalan menuju Jaejoong.
"Hei, ayo cepat pulang," kata Yunho menginterupsi pembicaraan Jaejoong dengan Siwon.
"Hm? Kau bicara denganku?" tanya Jaejoong menoleh kearah Yunho karena merasa namanya dipanggil.
"Ya tentu saja, kau, bodoh. Memangnya siapa lagi?" jawab Yunho.
"Kau pulang saja duluan. Toh di rumah juga sudah ada eomma dan appa. Aku masih ada pekerjaan,"
"Ya, bagaimana jika eomma dan appamu menanyakan kenapa aku tidak pulang bersamamu? Ini sudah malam, mereka pasti khawatir kan?" kata Yunho. Mendengar kata-kata Yunho tersebut, Jaejoong memutar badannya menghadap Yunho dan melipat tangannya di depan dada. Sementara Siwon? Namja itu masih waras untuk tidak mencampuri urusan ini. Jadi, dia hanya diam saja menjadi penonton yang baik. Jika dia ikut berbicara, salah-salah malah dia yang kena akibatnya, seperti apa yang dikatakan Yoochun padanya sebelum ini.
"Hm? Tumben sekali kau mencemaskanku, Tuan Jung Yunho yang terhormat?" kata Jaejoong sambil menaikkan alisnya dengan tangan masih terlipat di dadanya.
"Hah? Mencemaskanmu? Dalam mimpimu saja sana, bodoh," balas Yunho ketus. Mulai terbawa suasana.
"Lalu, kenapa mengajakku pulang? Aku bisa pulang sendiri. Begini-begini aku juga sudah SMA," balas Jaejoong.
"Aku hanya tidak mau ditanyai macam-macam oleh orangtuamu, pabo," balas Yunho.
"Orangtuaku bukan orangtua yang protektif terhadap anak semata wayangnya ini. Mereka tidak akan khawatir padaku selama aku memberi kabar yang jelas pada mereka. Lagipula nanti aku bisa pulang bersama dengan Siwon Hyung, benarkan Siwon Hyung?" tanya Jaejoong pada Siwon. Sedangkan Siwon yang sedari tadi terdiam melihat tontonan gratis ini segera tersadar setelah mendengar pertanyaan Jaejoong.
"Ne, tentu saja, Jaejoong-ah," jawab Siwon sambil tersenyum yang dibalas dengan senyuman pula oleh Jaejoong.
"Huh, terserah kau saja. Aku pulang," kesal Yunho sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
Sampai di rumah Jaejoong, Yunho segera masuk ke kamar dan mengganti pakaiannya. Mrs. dan Mr. Kim sedang pergi, namun Mrs. Kim sudah menyiapkan makanan untuk Yunho, Jaejoong, dan Changmin. Setelah mengganti pakaiannya, Yunho segera menuju ke meja makan untuk makan malam. Perutnya sudah meronta-ronta untuk diisi makanan sejak beberapa jam yang lalu. Sedangkan Changmin? Anak itu, sedang berkencan dengan kekasih barunya yang bernama Cho Kyuhyun. Alhasil, sekarang hanya ada Yunho sendiri di tempat itu. Setelah makan malam, Yunho membereskan semua perkakasnya dan kemudian ke kamarnya.
Di kamarnya dia merebahkan dirinya di kasur. Tubuhnya sangat lelah akibat latihannya hari ini. Dia pun memejamkan matanya. Namun, entah kenapa tiba-tiba bayangan Jaejoong yang sedang tertawa bersama dengan Siwon tadi melintas di pikirannya. Dan Yunho tidak suka pemandangan itu. Sadar dengan pikirannya barusan, Yunho kaget dan segera duduk di ranjangnya. Diacaknya rambutnya dengan frustasi.
"Arghhh, aku benar-benar sudah gila," teriak Yunho frustasi karena bayangan tersebut terus berputar di kepalanya. Yunho tidak khawatir teriakannya didengar orang lain karena dia sedang sendiri di rumah tersebut. Namun ternyata perkiraannya salah. Tiba-tiba saja, Changmin dan Jaejoong masuk ke kamarnya.
"Hyung, kau kenapa? Kenapa tiba-tiba berteriak seperti itu?" tanya Changmin karena mendengar teriakan Yunho.
"Changmin? Kau sudah pulang?" tanya Yunho.
"Ne, baru saja aku masuk bersama dengan Joongie Hyung. Lalu kami mendengar teriakanmu dan kami segera ke sini. Kau kenapa, Hyung?" tanya Changmin. Sementara Jaejoong hanya menatap Yunho dengan penuh tanda tanya.
"Ah, aku tidak apa-apa. Tadi kebetulan aku sedang ketiduran kemudian mimpi dan terbangun," kata Yunho mencari alasan.
"Huh, dasar tukang melebih-lebihkan," kata Jaejoong.
"Apa katamu?" kata Yunho ketus mendengar kata-kata Jaejoong.
"Sudahlah, aku capek. Aku mau mandi dan tidur. Selamat malam, Minnie," kata Jaejoong berpamitan pada Changmin. Hanya pada Changmin dan kemudian keluar dari kamar Yunho.
"Hyung, kau benar hanya mimpi?" Changmin bertanya pada Yunho setelah Jaejoong keluar dan masuk ke kamarnya sendiri.
"Ne," jawab Yunho singkat.
"Aku tahu kau bohong, Hyung. Ayolah, ceritakan pada adikmu yang tampan ini," kata Changmin narsis. Yunho pun tidak bisa mengelak lagi. Changmin memang sangat ahli dalam menebak hal-hal seperti ini.
"Benar-benar tidak ada apa-apa. Kau keluar saja. Urusi saja namjachingu barumu itu," kata Yunho.
"Ya Hyung, kau ketus sekali. Ya sudahlah, aku hanya pesan, jangan berusaha membohongi dirimu sendiri atau kau akan menyesal seumur hidup," kata Changmin berlagak dewasa, lalu kemudian dia keluar dari kamar Yunho.
Hari-hari berlalu begitu cepat, dan tanpa terasa besok adalah hari di mana pertunjukkan drama tersebut akan diadakan. Selama itu, Yunho selalu latihan dari pagi sampai sore, sedangkan Jaejoong harus menyelesaikan tugasnya membantu tim property menyiapkan keperluan panggung yang sangat banyak itu. Karena itu, selama itu Jaejoong selalu pulang sangat malam, bahkan jauh setelah jam kepulangan Yunho. Taeyeon dan Seung Ri memang menyarankan agar orang-orang yang memainkan drama tidak ikut membantu persiapan tim yang lain agar tidak terlalu capek. Ini untuk mencegah hal buruk terjadi pada hari H.
Pagi ini masih sama seperti pagi-pagi sebelumnya selama Yunho dan Changmin menginap di rumah Jaejoong. Namun, saat sarapan, Leeteuk menyampaikan kabar untuk mereka semua.
"Joongie-ah, nanti malam eomma dan appa akan pergi mengunjungi nenekmu di Chungnam selama 5 hari. Kau bisa kan jaga rumah bersama Yunho dan Changmin?" tanya Leeteuk.
"Ne, serahkan saja padaku. Eomma tenang saja," jawab Jaejoong.
"Yunho-ah, Changmin-ah. Mian, ahjumma dan ahjussi harus pergi. Kalian tidak apa-apa kan kalau kutinggal? Masalah makan, Jaejoong bisa memasakkan untuk kalian, benar kan, Joongie?" tanya Leeteuk pada Yunho, Changmin, dan Jaejoong.
"Ah, ahjumma tenang saja. Kalau masalah itu, aku bisa saja membeli makanan di luar," jawab Yunho sambil tersenyum. Namun setelah itu, dia sempat melemparkan tatapan yang berkata aku-tidak-mau-makan-masakanmu pada Jaejoong. Yunho hanya berpikir, jika makan masakan Jaejoong bisa saja dia mati keracunan karena ulah Jaejoong seperti yang dilakukan Jaejoong sebelum ini. Sementara Jaejoong, merasa mendapat tatapan seperti itu dari Yunho juga membalas dengan tatapan mata tajam yang berkata aku-juga-tidak-mau-memasak-untukmu.
Changmin? Namja itu hanya merutuki nasibnya dalam hati setelah berhasil membaca tatapan yang saling dilayangkan kedua Hyungnya itu. Jaejoong tidak memasak untuk Yunho berarti tidak ada makanan untuk Yunho. Tidak ada makanan untuk Yunho itu berarti sama saja dengan tidak ada makanan untuknya. Tidak ada makanan untuknya sama dengan kelaparan, dan kelaparan artinya sama dengan mati. Setidaknya itulah pikiran lebai, namja imut yang hanya mengenal makanan ini.
Sementara kita lupakan Changmin dan kembali melihat tokoh utama kita kali ini. Seperti biasa, setelah selesai pelajaran, Yunho harus melakukan latihan drama dengan Karam lagi. Sedangkan Jaejoong, yang sekarang ini bergabung dengan tim property bekerja membantu Siwon dalam mempersiapkan semua kebutuhan untuk drama besok. Yunho yang sekarang ini sudah berdiri di panggung masih menunggu Karam yang sedang memakai kostumnya.
Kalian penasaran dengan Karam? Sejak menggantikan Jaejoong, namja itu benar-benar membuat Yunho gerah sekarang ini. Bagaimana tidak? Namja itu selalu saja meminta Yunho menemaninya saat pulang. Terlebih sikapnya yang sok manja dan sok imut itu benar-benar membuat Yunho ingin muntah. Namun, sebagai namja yang baik, Yunho hanya bisa mendiamkan sikap Karam tersebut tanpa memberikan respon yang positif.
Masih merasa kesal dengan Karam, Yunho melirik ke arah orang-orang tim property sedang memasang background untuk panggung tersebut. Kekesalannya memuncak melihat Siwon dengan santainya tersenyum sambil bercakap-cakap ria dengan Jaejoong. Jaejoong, yang diklaimnya sebagai mainannya. Masih kesal dengan pemandangan itu, tiba-tiba Yunho teringat dengan perkataan Changmin beberapa hari yang lalu. Jujur, dia benar-benar sangat bingung dengan kata-kata Changmin itu. Tapi Yunho tidak ambil pusing. Baginya Changmin hanya anak SMP biasa yang tidak mengerti apa-apa. Tidak tahukan kau Jung Yunho kalau adikmu yang satu itu benar-benar sangat pintar?
Akhirnya waktu yang Yunho tunggu tiba juga, yaitu waktu untuk pulang dari latihan drama ini. Hari ini benar-benar lebih melelahkan dari biasanya karena Yunho dan yang lainnya harus latihan sampai malam mengingat besok adalah hari H pertunjukkan mereka. Tidak hanya itu, menghadapi sikap Karam yang sok manja yang terus menempel padanya, membuat capek yang dirasakan Yunho menjadi bertambah berkali-kali lipat. Sambil memikirkan itu, Yunho melirik sekelompok orang yang sedang memasang dekorasi untuk panggung. Dilihatnya seorang namja cantik yang sedang berusaha menggantungkan lampu. Tangannya terlihat menggapai-gapai karena tingginya yang memang kurang padahal dia sudah berpijak di kursi. Melihat itu, entah sadar atau tidak, Yunho segera menghampirinya, naik ke kursi yang juga dinaiki namja cantik itu dan membantunya.
Kaget dengan adanya orang yang tiba-tiba membantunya, Jaejoong yang sejak tadi berusaha untuk menggantungkan lampu itu tiba-tiba menoleh. Sayangnya gara-gara sempitnya kursi yang menjadi pijakan itu, mereka berdua menjadi hilang keseimbangan dan akhirnya pun terjatuh. Jaejoong yang merasakan itu hanya memejamkan matanya, namun entah kenapa rasa sakit yang ia rasakan tidak sebesar yang ia bayangkan. Perlahan ia membuka matanya dan hal pertama yang dilihatnya adalah wajah Yunho dalam jarak yang sangat dekat.
Sedetik kemudian, Jaejoong segera menyadari posisinya. Ternyata posisi mereka adalah Yunho sedang berbaring di bawahnya. Pantas saja dia tidak terlalu merasakan sakit. Segera saja dia berdiri. Sedangkan orang-orang lain yang ada di situ segera menghampiri mereka.
"Jaejoong-ah, Yunho-ah, kalian tidak apa-apa?" tanya Seung Ri.
"Ah, gwenchana," kata Yunho sambil berdiri. Jatuh seperti itu sudah biasa karena klub hapkido yang diikutinya.
"Gwenchana," kali ini Jaejoong yang memberikan jawaban.
"Huh, syukurlah. Sekarang cepat kita lanjutkan tugas kita," kata Seung Ri membubarkan kerumunan itu. Sedangkan Jaejoong dan Yunho masih berdiri di tempatnya.
"Em, itu," kata Jaejoong mencoba mengeluarkan suaranya. Merasa Jaejoong berbicara padanya, Yunho membalikkan badannya.
"Apa?" tanya Yunho dengan nada yang dibuat sedatar mungkin untuk menutupi kegugupannya mengingat posisi mereka tadi.
"Go-gomawo," kata Jaejoong yang untuk pertama kalinya mengucapkan kata terima kasih pada Yunho. Sekali lagi untuk PERTAMA KALI. Sebenarnya dalam hati, Jaejoong juga merasa sangat gugup akibat posisinya tadi. Mengingat kejadian itu, perlahan muka Jaejoong menjadi merah, dan untuk menutupinya Jaejoong segera berbalik dan meninggalkan Yunho yang masih berdiri di tempatnya.
Sementara itu, tidak jauh dari tempat itu, sepasang mata sedang memperhatikan kelakuan dua orang itu. Raut kesal tidak lepas dari wajahnya.
"Kim Jaejoong, kau benar-benar lawan yang tangguh. Tapi lihat saja, aku pasti akan mengalahkanmu," kata Karam.
-TO BE CONTINUED-
Hi2 semua, annyeong! Hahaha..
Author gaje balik lagi setelah hiatus 4 bulan.. ada yang kangen? Hahaha *narsis*
Oh ya, kunjungi blog saya kalo sewaktu2 FF di sini dihapus lagi: 1002jaejoongie . wordpress . com
Di blog itu juga lanjutan FF saya udah saya post semua, lebih cepet daripada di sini. Hehe.
Mohon reviewnya ne ;) Gomawo..
Twitter : Kei_1091
Kakao talk : Kei_1091
Feel free to chat with me.. Let's be friend ^^..
