CAST
Park Chanyeol (25)
Byun Baekhyun (19)
.
Kami sampai ketika matahari mengintip dari ufuk timur bersiap untuk menyapa semesta. Venice.
Saat itu aku baru saja naik kelas 4, ketika pertama kali mengetahuinya, hyung dan aku mendapatkan souvenir cangkir dari bibi dengan gambar berupa bangunan berwarna-warni membuat binar mataku tidak berhenti berpendar dan perahu-perahu kecil dilengkapi sebuah tulisan 'Venice' dibawahnya. Berpikir, apakah aku bisa kesana ?. Lalu hari ini pikiran itu terwujud, disini, bersama seorang pria yang kemarin baru saja mengikat janji sakral kepada sang pemilik semesta.
Aku mengeryit ketika merasakan denyutan ringan pada kepalaku. Jari tanganku bergerak keatas untuk memijitnya sebentar.
"Kau baik-baik saja ?" Tanya Chanyeol ketika menoleh sebentar padaku.
"Yah, sedikit pusing"
"Mungkin jetlag, 11 jam bukan waktu yang sebentar" ucapnya sambil mengeratkan genggaman tangan kanannya pada tangan ku. Aku memilih untuk bersandar sesekali dilengannya.
Tangannya begitu hangat, pening dikepalaku berangsur menghilang, aku akan sangat senang jika itu karena kehangatan darinya. Kami berjalan sekitar 10 menit kemudian menaiki venice water taxi. Karena transportasi utama tempat yang terletak di utara Italia ini bukanlah mobil atau semacamnya melainkan dengan perahu atau bisa disebut gondola.
"Kita menginap ditempat orangtua temanku" ucapnya.
"Hah ? Apa tidak merepotkan ?" Tanyaku. Chanyeol terkekeh.
"Tidak, tentu saja tidak Baek"
.
.
.
Disebelah kiri, mataku menangkap bangunan-bangunan besar khas dengan pola arsitektur eropa juga sebuah bangunan berwarna merah bata, tidak, dinding itu bewarna merah dengan tulisan VIVARINI a.r.t ketika kami melintas menuju kediaman orang tua teman Chanyeol. Aku masih ragu jika kami menginap disana. Maksudku bukankah seharusnya kami dihotel atau apapun itu ?.
.
.
.
Dahiku berkerut ketika akhirnya kami sampai disebuah.. apakah ini hotel ?.
"Chanyeol, kau bilang kita akan menginap di tempat orang tua temanmu"
"Memang" jawabnya masih dengan menggenggam tanganku ketika memasuki tempat ini.
Aku melirik sebentar kepada tiga orang berjas hitam kelewat formal yang berjalan dibelakang kami dengan membawa koper. Dua dari mereka aku sudah merasa tidak asing, karena itu adalah Minho dan yang satunya Shin.. ah aku lupa namanya tapi mereka terlihat sering bersama dalam bertugas disekitar Chanyeol. Ya, bodyguard Chanyeol, mungkin juga aku. Tapi yang satunya lagi begitu asing karena pria itu bukan dari ras Asia. Wajahnya juga kelewat kaku dan dingin. Aku berasumsi bahwa dia dari negara ini.
"Richard !" Panggil seseorang membuat pandanganku kembali lurus kedepan.
Itu berasal dari seorang pria paru baya dengan rambut sedikit memanjang melewati bawah telinga dengan warna putih mendominasi sama seperti kumis dan jenggotnya.
"Welcome.. aku sangat senang saat mendengar kabar dari Edgard bahwa kau akan datang kesini. Bagaimana kabarmu ?"
"Tidak pernah lebih baik" jawab Chanyeol.
Sedang aku terdiam karena tidak ada satu katapun yang aku mengerti. Mereka berbicara dengan bahasa ufo astaga !. Kau berlebihan Baek, batinku mengejek.
"Apa kau kesini untuk berlibur atau berbisnis. Aku tentu telah mendengar bisnis keluargamu yang juga kau kelola di daratan Asia dan Amerika, apa kau berniat untuk menanamkan bisnismu di Eropa juga ?"
"Itu terdengar menarik. Aku akan mencobanya"
"Selalu, kau masih Richard yang penuh kerja keras. Oh, siapa ini ?"
Aku tersenyum kikuk mendengarnya. Ini bukan karena aku tahu artinya, tapi orang tua itu menunjukku dengan telunjuknya.
"I am Baekhyun" ucapku sedikit menarik senyum yang terasa sedikit kaku pada otot pipiku. Terimakasih untuk diriku yang selalu memperhatikan guru bahasa inggrisku ketika menerangkan didepan.
"Bak.. uh its very hard to spell it, I'm Giorgio, nice to meet you"
Aku sedikit membungkuk ketika menyambut tangannya untuk bersalaman.
"Siapa pria manis ini Richard ? Apakah adikmu ? Tapi dari yang kutahu kau anak terakhir", orang tua bernama Gorgio itu kembali berbicara dalam bahasa alien.
Sontak aku menolehkan kepalaku ketika gelegar tawa Chanyeol terdengar. Apakah pak tua ini sedang membuat lelucon ? Atau mereka sedang bercanda ? Tuhan, aku harap aku tahu apa yang mereka bicarakan.
"Tidak.. dia Baekhyun, suamiku. Kemarin kami melangsungkan pernikahan" ucap Chanyeol.
Aku masih terdiam seperti batu ketika pria paru baya itu membuat ekspresi terkejut lalu selanjutnya berkata..
"Congratulation for your wedding. Oh I hope I was there" ucapnya dalam bahasa inggris.
Oh ? Dia memberi selamat kepada kami. Maka bisa aku asumsikan jika Chanyeol mengatakan sesuatu seperti pernikahan atau semacamnya.
"Ayo mari kuantar ke kamar kalian. Jika tahu ini adalah perjalanan bulan madu. Aku akan mempersiapkan kamar kalian lebih awal" ucap pria itu kemudian menuntun kami ke suatu tempat, mungkin kamar kami. Aku juga tidak begitu mengerti.
.
.
.
Aku membawa langkahku memasuki kamar ketika Chanyeol membuka pintu kamar setelah menekan passwordnya. Kamar ini begitu luas dengan corak khas eropa pada ukiran kayu di tiang-tiang tempat tidur. Terdapat kain yang digelung berputar pada tiap tiang. Sebuah lukisan persegi panjang yang begitu besar dipasang tepat diatas kepala ranjang. Kamar didominasi oleh warna coklat dan krem, juga putih. Menghempaskan tubuhku ke ranjang ketika aku telah sampai dikamar. Begitu lembut sehingga mataku ingin sekali terpejam.
"Lelah ?"
Aku hanya bergumam untuk menjawabnya.
"Chanyeol", mendudukkan diriku.
"Ya ?". Chanyeol sedang sibuk dengan handphonennya ketika menyahutku.
"Kau tadi mengatakan jika kita akan menginap di tempat orang tua temanmu"
"Memang"
"Tapi bukankah ini- tunggu, maksudmu ini milik orang tua temanmu ?!"
Chanyeol terkekeh lalu menyimpan handphonennya di saku kanan celana hitam ketatnya ketika berjalan mendekat menghampiriku.
"Ya. Centurion Palace, milik orangtua asuh Edgard. Temanku semasa kuliah" jawabnya.
"Lalu dimana temanmu ?" Tanyaku.
"Di Cambridge. Mengambil gelar doktornya"
Aku terkagum untuk beberapa saat ketika mendengarnya. Teman Chanyeol yang bernama Edgard itu terdengar seperti orang yang haus ilmu. Batinku bergosip didalam sana. Bukan hanya Chanyeol, tapi relasinya pun bukan orang biasa. Tidak, itu memang kebenarannya.
"Oh, dan aku melihat pria asing yang berjalan dengan Minho dan Shin .. Shin.."
"Shin Wan. Itu Severo. Tentu kita membutuhkan seseorang yang berasal dari tempat ini"
"Dia.. sedikit menakutkan", aku berkomentar. Chanyeol terkekeh begitu ringan.
"Kadang nama memang mendeskripsikan pemiliknya, severo"
"Kumandikan atau mandi bersama ? Pilih", dia beralih topik begitu cepat kelewat tanpa jeda dan intonasi bahkan untuk kalimat pertanyaan.
Aku sedikit terpaku untuk sekedar memproses makna kalimat yang keluar dari mulutnya. Lalu apa-apaan dengan pilihan itu.
"Mandi sendiri" jawabku.
Aku memekik ketika lenganku ditarik mendekat lalu napas hangatnya terasa berada dekat dengan kulit wajahku.
"Dear.." aku menahan darah panasku yang naik dari ujung kaki ketika mendengar suara beratnya.
"...saat diberi pilihan, jangan membuat jawaban yang lain" peringatnya. Sirine tak kasat mata mulai berbunyi dikepalaku.
Bibir tebalnya beberapa kali menyentuh pipi juga area disekitar bawah telingaku ketika mengatakannya.
"Jadi ?"
Aku menelan ludahku mengumpulkan jawaban pada mulutku.
"M-mandi bersama" jawabku sedikit terbata.
Bukankah mandi bersama pilihan yang lebih baik ketimbang dimandikan ?.
Mungkin juga tidak, Park Baekhyun. Karena berikutnya rongga mulutku terasa sakit dan pegal. Jari-jariku berulang kali memijatnya perlahan. Seharusnya aku cukup pintar ketika Chanyeol meminta mandi bersama. Karena itu menjadi artian yang tidak sesungguhnya bagi Chanyeol. Kami tidak benar-benar mandi bersama dengan rematan jarinya pada rambut basahku, lututku yang pegal karena menopang tubuhku ketika penisnya berada dimulutku. Chanyeol kehilangan akal jika nafsu telah menguasainya. Bahkan tidak membiarkanku untuk sekedar bernafas atau berhenti sejenak saat tersedak oleh penisnya yang terdorong sampai pangkal tenggorokkanku. Begitu keras, begitu cepat.
.
.
.
Cuaca pagi ini sangat cerah. Aku menggunakan kaos putih polosku dengan kemeja berwarna coklat nutella. Aku dan Chanyeol segera berjalan keluar dari kamar setelah menuntaskan kegiatan kami. Tentu setelah kami benar-benar mandi. Pagi ini kami memutuskan untuk sarapan diluar bersama para turis lain.
"Baek, tunggu disini sebentar" ucapnya bahkan saat kami belum duduk dimeja makan.
Aku mengangguk kecil memilih untuk menurut. Chanyeol sedikit berlari menghampiri salah satu pengawalnya dan menyerahkan sebuah.. tunggu apa itu ?. Merutuki bagaimana bahu bidang Chanyeol menutupi pandanganku. Mengeryit ketika pengawal itu terlihat membungkuk dan setelahnya berlari pergi. Chanyeol berbalik untuk berjalan kearahku dengan senyum lebarnya.
"Ayo" ucapnya ketika kurasakan tarikan pada tanganku.
"Ada apa Chanyeol ?" Tanyaku.
"Apa ?"
"Tadi pengawalmu"
"Hanya memberinya perintah"
Alisku berkerut.
"Perintah apa ?" Tanyaku. Aku mendengar kekehan Chanyeol setelahnya.
"Baby, sebaiknya kita sarapan. Kau harus sarapan karena kita membutuhkan tenaga mengelilingi kota ini" jawabnya.
Ada rasa kecewa ketika Chanyeol memilih untuk mengalihkan topik. Tidak, jangan kekanakan seperti ini Baek. Aku mulai mengulas senyumku ketika sarapan kami datang. Aku mendapatkan secangkir vanilla latte, sepiring roti dengan selai coklat ditaburi irisan strawberry diatasnya. Ada juga semangkuk sandwich disisi kiri bersama dengan wortel yang dipotong kecil-kecil memanjang persis seperti stik. Selebihnya hanya semangkuk irisan tomat dan beberapa sayur didalamnya. Apakah hotel ini menerapkan menu sarapan sehat ?. Pada akhirnya aku memilih untuk menghabiskan latte dan rotiku juga sedikit sayur ketika Chanyeol memaksaku dengan dalih jika kita harus makan makanan seimbang.
Setelah menyelesaikan sarapan, kami pergi mengunjungi academia bridge, beberapa orang melintas dibawah jembatan menggunakan gondola. Terkadang mereka juga bernyanyi ketika melewati jembatan ini. Tangan Chanyeol menarik pinggangku, menarikku kedalam ciuman hangatnya. Aku sempat terkejut beberapa saat karena kami masih berada diluar dengan beberapa orang yang melintas disekitar kami. Bergumam 'ayo' setelah melepas kulumannya lalu menarik tanganku untuk berjalan-jalan menyusuri Venice. Terkadang ketika kami sedang berjalan di gang-gang sempit Chanyeol akan mendorongku ke dinding lalu bibirnya akan mengulum juga menarik bibirku. Disini kami, maksudku Chanyeol, akan menciumku bahkan sesekali juga meremas bokongku, dimanapun, kapanpun, saat ditengah-tengah keramaian. Kadang ringisan akan keluar dari bibir tebalnya karena cubitan tanganku pada perutnya.
"Yeol-ie.. bisakah kita membeli makanan ? Aku lapar~" rengekku. Berjalan dengan waktu yang lama membuat tenagaku terkuras begitu saja.
"Bahkan ini belum masuk jam makan siang Baekhyun"
"Tapi aku lapar~ kumohon.. ayo berhenti sebentar untuk makan"
Chanyeol menghembuskan napasnya sebelum mengiyakan. Kami berhenti untuk membeli makan dipinggir gang karena aku sudah tidak kuat untuk berjalan lebih jauh lagi untuk sekedar menemukan sebuah restoran.
.
.
.
Mengambil sumpit disebelah kananku ketika pesanan kami datang. Lalu segera memasukkan irisan daging ayam bersama dengan saus kedalam mulutku. Oh daging ini begitu lembut. Mereka seperti menjual makanan setara restoran untuk ukuran makanan dipinggir gang.
"Baekhyun.. " peringat Chanyeol ketika tanganku tengah menyingkirkan butir-butir hijau kacang polong yang berada diatas tumpukan irisan daging ayam. Aku mendengus begitu keras sebelum akhirnya memasukkan kacang polong itu bersamaan dengan saus dan daging.
.
.
.
Mulutku tidak berhenti berucap takjub ketika melihat ribuan burung dimana-mana.
"Chanyeol..."
Tanganku keatas menyentuh punggung tangannya ketika lengannya melingkari perutku.
"Kau mengatakan jika ingin memberi makan burung. Sekarang kita berada di St. Mark's basilica"
Apa ? Bahkan aku bercanda ketika mengatakannya. Aku memutar tubuhku lalu segera memeluknya.
"I love you ! " pekikku ketika tubuhku diputar. Aku terkikik terlampau senang. Ini menakjubkan ! Bahkan aku telah jatuh tenggelam dalam kekaguman ketika kakiku berpijak pada tempat ini untuk yang pertama kali. Tapi Chanyeol.. Oh astaga, aku sangat mencintai pria dalam dekapanku ini.
"Love you more.." bisiknya lalu mengecup telingaku setelahnya.
.
.
.
Kakiku bergerak kesana kemari bermain-main dengan burung-burung itu. Ada segenggam makanan ditangan kiriku dan mereka akan bergantian hinggap di lengan, bahu, terkadang juga diatas kepalaku. Aku berhenti ketika menyadari jika aku bersenang-senang sendiri. Chanyeol disana, berdiri tegap tanpa minat dengan lengan terlipat didepan dada.
"Chanyeol ! Kemari.. "
"Tidak, kau saja"
"Ini bulan maduku atau bulan madu kita ? Kenapa aku hanya bersenang-senang sendiri ?" Ucapku tak lupa dengan mata memicing.
Alisnya menukik sedang aku tetap mempertahankan air mukaku. Tangannya diangkat keatas dan senyumku terkembang ketika Chanyeol mulai berjalan menghampiriku.
"Kenapa kau menjadi pemaksa, huh ?"
"Karena aku bisa" jawabku. Alisnya terangkat dan aku menyesali jawabanku yang begitu berani. Ya, kau begitu berani Baek.
"Baik. Kita memang harus bersenang-senang" ucapnya kemudian langsung mengambil alih makanan burung dari tanganku.
Sementara aku berpikir apakah aku melakukan sebuah kesalahan, Chanyeol terlihat mulai bersenang-senang bersama burung-burung disekitarnya.
.
.
.
Ini masih sore hari ketika lagi-lagi aku merasa lapar ditengah perjalanan kami menyusuri Venice lebih dekat.
"Ada yang salah ?" Tanya Chanyeol. Aku menggeleng.
"Lalu bisa katakan apa yang terjadi pada bibirmu yang melengkung itu ?"
Ah.. mana bisa aku berbohong padanya.
"Tidak apa-apa" elakku.
"Katakan" ucapnya kelewat datar.
"Kau akan mengejekku" rengekku.
"Tidak, jadi katakan"
"Benar ? Janji ?"
"Baekhyun.."
"Janji tidak ..?"
"Astaga oke. Jadi katakan"
"Aku lapar.." menggigit belah bibir bawahku ketika mengatakannya. "-a aku tahu. Ini hanya karena kita berjalan terus-terusan dan.. dan banyak menguras energiku. Sehingga.. aku jadi lapar" lanjutku.
"Dan ?" Balasnya.
"Bisakah kita membeli camilan ? Hanya camilan, hm ? Boleh yaa"
"Baik, ini harimu"
"Yeay !"
Kami berhenti disebuah toko dan membeli Banchetta dan Ventaglio susamielo karena itu terlihat seperti burger hanya namanya saja yang berbeda.
.
.
.
Malamnya kami berkunjung ke Vetreria Artistica lalu berhenti sejenak untuk mendengarkan nyanyian dari para violis juga pianis di pinggiran jalan.
"Laki-laki itu menyanyi dengan sangat bagus. Permainan biola mereka begitu indah", ucapku berkomentar ketika mendengar gesek senar biola.
Aku menatap bingung Chanyeol ketika menarik tanganku mendekat ke arah mereka. Aku kembali dibuat bingung ketika Chanyeol mendekat kearah mereka. Salah satu dari mereka terlihat terkejut ketika Chanyeol menepuk bahunya. Aku masih berdiri, menerka, mencari-cari apa yang sebenarnya Chanyeol lakukan disana. Bahkan ketika tangannya mulai duduk dikursi piano. Apa ?
Dia berdehem saat memegang mikrofon.
"Ehem.. Hello, I am Richard and.. I don't bravely enough to sit down on here because my voice is not really good. But I just want to sing for my love who stand up right there" ucapnya bersamaan dengan arah pandang kedua phoenixnya dalam mataku.
Lidahku kelu, tubuhku tiba-tiba saja membeku. Riuh suara orang disekelilingku bahkan kuhiraukan. Dentingan piano mulai terdengar ketika kakiku mulai terasa seperti jelly. Relungku bergetar disana ketika bibirnya mulai bernyanyi.
[ Breathless - Shayne Ward ]
"..You must have been sent from heaven to earth to change me,
You're like an angel,
The thing that I feel is stronger than love believe me,
You're something special..
I only hope that I'll one day deserve what you've given me
But all I can do is try every day of my life
You leave me breathless
You're everything good in my life
You leave me breathless
I still can't believe that you're mine
You just walked out of one of my dreams
So beautiful, you're leaving me breathless.."
Kemudian dentingan itu berakhir. Tanpa kusadari airmata telah menumpuk disudut mataku. Gemuruh tepukan tangan juga sorakan terdengar bersahut-sahutan. Chanyeol membungkuk ketika telah berdiri ditempatnya untuk menutup konser baginya. Menjabat tangan para musisi disana lalu langkahnya mendekat kepadaku. Iris berwarna cerah yang memenuhi tempat ini mengikuti langkah tegapnya ketika menghampiriku.
"Hey.." ucapnya ketika tangannya merengkuh pinggangku menarikku mendekat.
"Chanyeol.."
Jariku terangkat meremas kain kemeja diperutnya.
"Hey.. ada apa ?" Tangannya mengusap pipiku ketika mengatakannya dan aku tersadar telah ada sungai kecil dipipiku tanpa kusadari.
Tanganku bergerak menelusuri garis pinggangnya, bergerak diatas dadanya, terus keleher dan mengusap rahang setajam phoenixnya. Aku menariknya kedalam ciuman dengan kedua lenganku dilehernya. Mengulum tekstur bibir tebalnya. Pinggangku semakin merapat pada tubuhnya dan kepalaku terdorong kebelakang ketika mulutnya melepaskan lidahnya. Alisku berkerut ketika paru-paruku mulai membutuhkan oksigen, sedang ciumannya semakin dalam dan menuntut. Jari-jariku mencengkram rambutnya begitu keras ketika aku benar-benar tidak bisa mentolerir lagi. Chanyeol melepaskan kulumannya setelah menggigit sudut bibirku. Kepalaku bersandar didadanya bernapas sebanyak-banyaknya. Usapan tangan hangatnya pada pipiku membuatku terdongak.
"Aku mencintaimu" ucapku. Bibirnya melengkung dalam bahagia dan batinku tidak bisa lebih bahagia berpesta didalam sana.
.
.
.
"Angh !" Ketika punggungku melakukan reflek tarikan keatas keatas.
Setelah ciuman di tempat umum tadi, Chanyeol segera menarikku untuk naik ke gondola dan kembali ke hotel. Dalam perjalanan kami membisu, tapi menyadari pusaran panas juga nafsu pada tiap pori-pori kulit. Ketika sampai dihotel aku menahan malu karena Chanyeol menggendongku sepanjang jalan menuju kamar kami dengan tatapan mengganggu dari orang-orang di hotel. Punggungku sedikit sakit tadi karena Chanyeol mendorongku ke dinding dan mengunci umpatanku dengan ciumannya. Aku tidak sempat untuk sekedar protes ketika nafsu telah mengambil alih dirinya, juga saraf tubuhku.
"Tangan ke atas",
"Keluarkan",
"Berbalik",
"Diam".
Dia seorang diktaktor yang sialnya kucintai. Menghempaskan tubuh telanjangku ke ranjang setelah bermain dengan pelepasanku. Mengungkungku diantara kakinya. Tangannya bergerak lincah membuat simpul diatas kepalaku, lalu mengikatkannya ke kepala ranjang.
"Chanyeol tidak.." ucapku sambil menggeleng.
Alisnya terangkat keatas sebentar lalu kembali mengarahkan fokusnya pada kedua kakiku. Tidak.. aku ingin menyentuhnya, tapi Chanyeol membuatku tidak bisa melakukannya.
"Apakah kau menghukumku ?" Tanyaku kepayahan.
"Tentu tidak baby.. hukumanmu bisa dilain waktu" jawabnya.
"Lalu kenapa..?" Tanyaku dengan sedikit mengangkat simpul pada kedua tanganku.
"Bukankah kita sedang berbulan madu ?"
Aku mengangguk atas pertanyaanya.
"Maka malam ini aku ingin kau hanya bisa mengingatku, hanya aku" begitu rendah, begitu tak terbantahkan. Phoenixnya berbinar dan senyumannya merekah ketika menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.
Tubuhku bergerak tak nyaman diatas ranjang ketika Chanyeol berjalan menuju lemari. Mengambil sesuatu, firasatku mengatakan bahwa itu bukan hal yang baik, berbanding terbalik dengan adrenalinku yang tak karuan.
Tubuh kekarnya merangkak untuk kembali mengungkungku. Tangannya mulai membuka tutup botol itu. Menuangkan cairan bening itu ditangan kirinya. Membuat gerakan memutar pada kedua telapak tangannya.
"Kau pasti lelah, biarkan aku memijitmu" ucapnya. Kemudian tangannya bergerak diatas putingku.
"Ahk !" Mataku membola ketika dingin dari cairan itu terasa mengejut sarafku. Gerakan tangan Chanyeol begitu lambat, menyiksaku, jarinya bermain-main dengan putingku. Berikutnya panas terasa disekujur tubuhku, mendadak akalku hilang dan kembali, lalu menghilang lagi.
"Cha ahh.. Chanyeol apah ini.." , bibirku merintih sedang bibirnya tetap terkatup diam tak berminat bahkan untuk sekedar mengalihkan pandangannya kepadaku. Jarinya menekan, memutar di titik-titik sensitif pada tubuhku. Menelusuri perutku mengelusnya disana. Aku mengerang ketika merasakan pijatannya pada pinggangku bergerak menuju paha dalamku.
"Chanyeolhh.." kulit tubuhku terbakar dengan rasa yang berbeda. Batinku memohon, jiwaku meraung didalam sana. Kepalaku mendongak ketika bibirnya mengecup kepala penisku. Aku merengek untuk kesekian kali ketika tangannya berada di sekitar anusku, menggodanya disana lalu melewatinya, kemudian kedua tangannya meremas bongkahan bokongku perlahan. Pijatannya berhenti dan napasku terengah. Putingku mengeras dan cairan itu membuatku tak nyaman, begitu lengket dan gerah dengan artian yang berbeda. Sebenarnya apa ini ?.
"Kau.. tidak akan menggunakan alat-alat itu kan ?" Tanyaku.
"Alat ?" Ulangnya.
"Tentu tidak. Aku tidak memerlukannya untuk membuatmu lupa semuanya" lanjutnya.
Kepalanya bergerak untuk mensejajarkan phoenixnya dengan manik coklatku.
"Katakan, apakah kita akan berhenti jika aku belum selesai ?"
Tangannya menekan kulit diantara lenganku, menuntut jawaban.
"Apa yang akan terjadi jika kita berhenti ?" Tanyaku. Aku melenguh ketika ereksinya menekan ereksiku.
"Membalik pertanyaan, huh ?. Jika kita berhenti ? Hm.. maka malam ini tidak ada surga, tapi raungan keputus-asaan dari bibirmu" jawabnya tak lupa dengan senyum penuh percaya diri terpatri dipipinya.
"Apakah ini ancaman ?"
"Ini timbal balik. Kuulangi pertanyaanku, apakah kita akan berhenti jika aku belum selesai ?"
Jari-jari tanganku mengepal disana, berkeringat. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika Chanyeol tidak berhenti. Tapi ereksiku benar-benar telah kehilangan harga dirinya disana. Sekalipun Chanyeol mengatakan jika bibirku akan meraung, tapi bahkan jiwaku telah berlutut memohon didalam sana.
"Tidak.."
"Hm ?"
"Tidak.. kita tidak berhenti"
Bibirnya tersungging sebelum membawaku kedalam ciuman panasnya. Tangannya bergerak tak karuan dibawah sana. Aku merintih di sela-sela ciuman ketika tangannya berada disekeliling penisku. Menggenggam juga meremasnya dibawah sana. Kepalaku pening ketika panas mengalir menuju pusat tubuhku. Lidahnya melesak didalam mulutku. Terjalin juga berperang dengan lidahku yang kaku, terlalu amatir. Bergerak dilangit-langit rongga mulutku.
"Ahh.."
Melepas ciumannya lalu berpindah menuju rahang kiriku, menggigitnya disana. Terus menuju garis leherku. Membuat beberapa kissmark dengan giginya. Lidahnya bergerak menelusuri putingku, menariknya diantara giginya.
"Chan ahh yeolie.. ahh "
Sedang tangannya meraih bongkah bokongku, meremasnya begitu lembut dan keras secara bersamaan. Kepalaku mendongak ketika jarinya berada didalam lubangku. Memutar juga mengeluar masukkannya disana. Pegangan pada simpul tali makin menguat ketika Chanyeol menambahkan jari tengah dan manisnya.
"Chanyeolhh..." rintihku ketika tiga jarinya bergerak bermain-main disana.
"No ahh !" Ini gila, aku mengerang begitu keras ketika penisku berada dalam mulut hangatnya.
Lidahnya bergerak dikulit penisku sedang ketiga jarinya semakin brutal bergerak didalam sana. Tidak menunggu waktu lama. Aku meledak, gairahku berterbangan disekelilingku. Spermaku berada diperut kerasnya. Napasku terengah. Aku tersentak ketika Chanyeol kembali melakukan siksaannya pada tubuhku. Mataku memutih ketika jarinya menemukan prostatku.
"Ahhh !", mengerang begitu keras. Chanyeol mengulanginya di titik yang sama berkali-kali. Ini terlalu dalam, terlalu berlebihan, dan logika tidak bisa mengendalikan tubuhku yang akan meledak untuk kedua kali. Lalu tiba-tiba semua berhenti. Apa ?
"Chan-"
"Bisakah aku mendengar jawabanmu Baekhyun ?" Ucapnya.
"Kau telah mendengar- ahhh", ketika tangannya menggenggam penisku yang ngilu, begitu sensitif.
"Tidak Chanyeol, kita tidak akan berhenti sebelum kau selesai"
"Good"
Lalu berikutnya pusat tubuhku terbelah menjadi dua ketika penisnya menerobos lubangku. Begitu besar dan keras. Chanyeol tidak memberikanku waktu untuk sekedar bernapas. Menumbuknya begitu cepat dan keras. Akalku ikut menghilang seiring dengan gairahku yang melayang. Tubuhku terhentak-hentak diatas ranjang seirama dengan genjotan penisnya didalam tubuhku. Menyodok prostatku begitu keras tak karuan. Aku telah bersiap untuk menuju awang-awang tenggelam didalam pusaran gairahku. Perutku ditekan oleh tangannya.
"Ahh ahh chan ahh !"
"Go on dear"
"Chanyeol ahh Cha- ah !"
Tarikan pada simpul tali ditanganku begitu kuat, pergelangan tanganku begitu sakit tapi kabut nafsu membuatku menghiraukannya. Tangannya menarik pinggangku, membuat sodokannya semakin dalam, semakin gila.
"Ah.. ahh Chanhh Chanyeoll !"
"Baekhyunn !"
Aku meledak, kepalaku terdongak, kakiku mengejan. Hanya ada namanya didalam kepalaku. Chanyeol menggeram ditenggorokan atas pelepasannya didalam tubuhku. Mengecup kedua mataku lalu mengulum bibirku sebentar. Lidahnya yang basah bermain didaun telingaku. Aku meremang ketika napas hangatnya menyapu kulit wajahku.
"Aku belum selesai" ucapnya.
Kemudian desahanku kembali menggema. Meneriakkan namanya tanpa tahu waktu fajar.
.
.
.
.
.
I am so so GOMENASAI atas keterlambatannya. Tahun ini saya dikelas akhir SMA. So aku harap semoga kalian bisa maklum. Aku harap readernim bisa ngebayangin suasana venice chanbaek ver. yaaa Last ! Jangan lupa review chapter ini
