*Akhirnya bisa update! Ceritanya bayar utang nih, udah 3 hari situasi bikin saya gak bisa nulis, jadi saya utang sekitar 5000 kata T_T. Jadi begitu ada kesempatan, nulis deh seharian... Masih 28 ribu kata lagi ah sebelum saya menang Nanowrimo tahun ini, jadi semangat! \o/. Ngomong-ngomong, entah kenapa dokumen uploadan saya spacing-nya rada-rada berantakan di beberapa chapter T_T (beberapa chapter yang spacing-nya ancur diketik pake Word for Mac 2011, dan itu pas ngetik di rumah sialnya orz). Kali ini, saya coba upload pake metode copy-paste aka salin-tempel, deh, semoga gak begitu ancur ._. #heah. Shout-out saya buat Shaun the Rabbit, KensyEcho, Akashi Keita, sama Calico Neko yang setia nge-review-in xD. Kredit saya di chapter ini buat Fujimaki Tadatoshi buat Kuroko no Basuke-nya, seperti biasa, dan buat Baby V.o.X (yang udah bubar) buat Coincidence-nya yang bikin garuk kokoro #heah. As usual, dimohon kesediaannya buat baca dan review, ya... u_u*

Juli 2022, Tokyo.

Sudah berapa tahun berlalu, ya, sejak kejadian "itu"?
Berapa lama kita bermain-main dengan nasib, baik ataupun buruk?
Namun entah mengapa, hari dimana kita bisa dengan ikhlas,
saling mendoakan kebahagiaan masing-masing, tak pernah tiba.
Tentu saja, akan terlalu sedih kalau hari itu sampai datang...

Pagi itu, sang mantan pebasket terbangun dengan rasa kaget; ponselnya menampilkan suatu hal yang belum pernah terjadi seumur hidupnya.

Ponsel ungu itu menampilkan notifikasi bahwa ia menerima enam puluh tujuh pesan baru.

Hei, seumur hidupnya kehadirannya saja dipertanyakan, kontras dengan keberadaan seorang artis yang selalu dikelilingi para penggemar dan orang-orang yang entah menginginkan apa dari hidup mereka sehingga orang-orang itu tak jemu-jemunya memenuhi kotak masuk sang bintang. Jadi, untuk apa banyak orang mengiriminya pesan?

Sepagian itu otaknya tak dapat menemukan jawaban logis akan fenomena yang baru saja dialaminya itu. Ia menarik nafas panjang, meninggalkan ponselnya, kemudian bersiap untuk mandi dan membuat sarapan. Ia berharap, rutinitas paginya itu bisa mendinginkan otaknya sejenak dan menyembuhkan kekagetannya. Lagipula, tak elok jika mengecek dan membalasi pesan (yang setumpuk itu) menjadi awal rutinitas paginya. Kalau saja orang tuanya masih hidup seatap dengannya, ia pasti sudah dijuluki sebagai seorang otaku dan diceramahi habis-habisan.

Namun sayangnya, rutinitas paginya itu tidak memberikannya ketenangan, malah roti bakar yang dibuatnya nyaris hangus karena ia terus-menerus memikirkan ponselnya. Setelah menyelesaikan mandi dan sarapannya, ia pun menarik nafas untuk yang kesekian kalinya pagi itu, kemudian mulai membuka ponselnya. Saat ia membukanya, daftar pesan-pesan baru yang menunggunya nampak, dan seluruhnya menampilkan "Pengirim Tak Dikenal".

Kuroko pun membuka pesan paling atas dengan ragu-ragu. Baru saja fobia dari pengirim tak dikenalnya sembuh, ia sudah disuguhi tumpukan pesan yang sejenis.

Ah, mungkin saja dari Mahou Island, begitu sugestinya.

Beberapa detik kemudian, pesan baru itu pun terbuka.

"Sebuah komentar telah ditinggalkan oleh 'hikari' pada cerita anda 'Tetsu no Shima'.

Anda dapat membalas komentar tersebut secara pribadi dengan mengklik pada profil 'hikari' di Mahou Island.

Isi komentar yang ditinggalkan adalah sebagai berikut:

'Wah licik!
Kok bisa-bisanya cerita anda tidak dikritik shinkirou...
(tapi ceritanya memang bagus, sih...)
Jadi, ceritanya habis sampai disini, kah?
Kalau sudah selesai, jangan lupa ditandai 'selesai' ya, supaya tidak banyak orang yang menunggu-nunggu...
-hikari-'

Menemukan pelanggaran aturan? Laporkan! Login ke..."

Ah, pesannya rupanya dari Mahou Island. Nampaknya trauma yang dialami Kuroko sepuluh tahun lalu itu membuatnya ketakutan akan hal-hal yang sebenarnya absurd. Ia pun melanjutkan ke pesan kedua dari puluhan pesan tersebut. Masih berisi komentar cerita, nampaknya. Kali ini, dari Kei.

"Dua chapter yang...
...
tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, deh!
Saya ikut nangis, lho, untuk Tetsu.
Di satu sisi, dia kuat,
tapi sisi lemahnya juga yang membuat seorang 'Tetsu' hidup, di cerita ini setidaknya.
Saya baru berlangganan cerita ini lewat email, lho...
Kalau sudah selesai, sayang sekali ya.
Apa memang belum selesai?
Atau sekuelnya sedang dibuat?
Kalau memang belum selesai, mohon diperbarui ya.
Salam,
Kei.
P.S: Gak salah tuh, shinkirou komentar tapi kritiknya cuma sedikit?"

"Hei, cerita ini masih jauh dari selesai, nona," pikir Kuroko. Ia pun melanjutkan kegiatan membacanya, dan pesan ketiga yang dibukanya pun masih berisi komentar. Kali ini, dari tamu yang tak menyebutkan namanya. Email yang diterimanya pun menyatakan bahwa ia tak dapat membalas komentar tersebut dengan cara apapun, berbeda dengan email pemberitahuan komentar yang dikirim oleh anggota.

"Sedikit kecewa memang atas cerita ini...
Kenapa tokoh Shima digambarkan sebagai tokoh serba sempurna?
Karena itu juga, cerita ini terlihat seperti cerita shojo manga biasa,
dimana sang tokoh jatuh cinta pada pangeran,
berjuang,
kemudian mendapatkan cintanya dan hidup bahagia selamanya.
Hanya saja di cerita ini, tokoh utamanya bukan gadis tapi jejaka.
Kalau saja Shima digambarkan sedikit lebih 'manusiawi', pasti ceritanya lebih bagus lagi, saya yakin.
Yakin sekali.
Ide di baliknya saya rasa dialami juga oleh banyak pelajar di Jepang,
jadi banyak juga sepertinya anak-anak muda yang akan merasa, 'hei, ini yang saya alami!',
kemudian mereka akhirnya mengadopsi nilai-nilai yang ada di sini.
Tetsu yang tak mudah menyerah, misalnya,
atau Buchou yang rakus akan kuasa namun tetap menemui batasnya.
Ah, terlalu panjang rasanya ulasan saya,
tapi apapun yang terjadi, saya tetap akan baca kelanjutannya!
Saya juga akan merasa heran kalau karya sebagus ini tidak sampai diterbitkan."

Diterbitkan? Tentu saja Kuroko tak berpikir sejauh itu. Yang ia inginkan hanyalah kegiatan di musim panasnya yang senggang, dan jika memungkinkan, angka bunuh diri di Jepang yang berkurang barang satu dua nyawa karena tulisannya (seperti efek yang telah dicapai Kei dengan Rikkaboshi-nya. Sangat mulia, bukan?). Setelah membuka pesan itu, ia tak melanjutkan membuka pesan-pesan lainnya, karena toh ia berpikir bahwa kebanyakan pesan itu isinya komentar. Ia akan membalasi komentar-komentar itu langsung di Mahou Island saja, kemudian menghapusi pesan yang masuk dan memenuhi ponselnya.

Ah, iya. Tak lupa juga, menanyakan melalui pesan pribadi pada Shin, Kei, ataupun Vanilla, atau bahkan shinkirou, bagaimana caranya mematikan pemberitahuan email atas komentar cerita. Akhir-akhir ini kan, kotak masuk emailnya hanya dipenuhi email dari Mahou Island. Rupanya ia takut pesan-pesan penting yang harusnya terbaca olehnya jadi tak terbaca atau terhapus begitu saja. Kasihan sang pengirim, kan?

Peramban ponselnya lancar memuat laman Mahou Island. Ikon berkelip-kelip yang mengarahkannya pada laman pemberitahuan pun dibukanya. Ia terkaget-kaget atas isi halaman tersebut.

"Statistik terbaru untuk 'Tetsu no Shima' sejak kunjungan terakhir anda:
57 komentar baru pada cerita anda,
161 orang berlangganan cerita anda lewat email,
dan 80 orang memfavoritkan cerita anda."

"Anda punya 6 pesan baru."

6 pesan? Ia memutuskan untuk membalas dahulu pesannya, baru membalas komentar yang sepertinya sudah menumpuk minta dibalas itu. Membalas pesan nampaknya membutuhkan lebih sedikit usaha, dan Kuroko ingin menyelesaikannya dulu sebelum melakukan hal yang lebih besar: membalas komentar dan memperbarui cerita.

Pesan pertama dibukanya. Pesan itu ternyata dari shinkirou.

"Kuroi-san,
Nampaknya saya mengalami dejavu, ya.
Habis, karya anda ini bagus sekali, lho.
Iya, saya dulu anggota klub basket dari SMP hingga SMA. Bukan pemain andalan, sih, tapi saya senang ^^
Menua itu memang proses, saya setuju,
tapi entah mengapa saya tidak ingin mengalaminya, jangan-jangan saya terkena sindrom Peterpan?
(oke, abaikan saja yang barusan, hahaha)
Pembaruan cerita anda, sudah saya baca.
'kan, saya berlangganan cerita anda lewat email.
Ulasannya, nanti saya kirim di kotak komentar.
Salam,
shinkirou."

Kuroko tak menyangka bahwa sang kritikus ulung adalah pemain basket juga semasa bersekolah. Selain itu, masa bermainnya pun tak jauh berbeda dengannya, sejak sekolah menengah pertama hingga sekolah menengah atas. Entah mengapa, Kuroko menyangka bahwa shinkirou adalah seorang pecinta sastra yang tak bisa menyatakan cintanya pada seorang pebasket di kelasnya, dan hanya bisa menatap sang belahan jiwa dari balik jendela perpustakaan. Klise, memang, namun bukankah tak banyak cara membayangkan bagaimana wujud dan perilaku orang yang hanya kau temui di dunia maya?

Kuroko pun menekan-nekan tombol virtual di ponselnya, mengetik jawaban untuk shinkirou. Entah mengapa, wajahnya yang sejak tadi tegang, kini memancarkan sebuah senyuman samar.

"shinkirou-san,
terima kasih sudah berkenan membalas pesan saya.
Apa sampai sekarang shinkirou-san masih bermain?
Saya sudah berhenti di kelas 2 SMA.
Sudah beberapa belas tahun lamanya,
jadi kalau ada referensi teknik basket yang mungkin melenceng sedikit,
mohon untuk dimaklumi...
(Ngomong-ngomong, jadi merasa malu umur saya yang sebenarnya ketahuan.
Novel ponsel kan, katanya, sepenuhnya jatah anak muda.
Semasa sekolah saya malah tidak suka novel ponsel, meski teman saya banyak yang membaca.)
Tenang saja, saya juga sudah tua kok, shinkirou-san.
(Atau jangan-jangan anda lebih tua dari saya?)
Ulasan dari anda sejujurnya belum saya baca saat saya membalas pesan ini,
tapi akan saya baca dan saya jadikan perbaikan.
Terima kasih ya.
Salam,
Kuroi Kage."

Ia pun melanjutkan membaca pesan-pesan yang diterimanya. Kali ini, dari Shin.

"Kuroi Kage-san,
Terima kasih atas komentarnya, juga pesannya.
Saya balas di satu pesan saja, ya...
Saya mengerti, kotak pesannya Kuroi-san pasti penuh, hahaha.
Nampaknya pemikiran kita sama, ya.
Kita sama-sama ingin menghapuskan kemunafikan dan stereotip di dunia.
'Irodori' juga, punya inti yang sama dengan 'Tetsu no Shima'.
Terutama, tokoh yang kita cerminkan adalah sama-sama anak sekolah.
Usia yang benar-benar rentan bunuh diri atau terjebak pergaulan bebas,
jika mereka tidak diperhatikan.
Saya yakin, Kuroi-san juga dulunya nakal di sekolah, hahaha.
(Karena saya pun berperilaku seperti demikian)
Ah, iya, shinkirou-san nampaknya sudah berkomentar di cerita anda, ya?
Beliau adalah kritikus handal di Mahou Island.
Bahkan sampai ada rumor bahwa cerita apapun yang beliau komentari,
sebentar kemudian pasti tenar atau bahkan sampai terbit.
(Sayangnya cerita saya satu-satunya yang dikomentari beliau, tidak pernah sampai naik cetak, hahaha)
Sayangnya, beliau sekarang sibuk dengan pekerjaannya.
Beberapa tahun lalu, beliau pernah mengirimi saya pesan,
katanya, beliau sekarang bekerja sebagai pilot di JAL.
Kebetulan sekali, musim panas ini beliau pulang, jadi bisa mengomentari cerita anda.
(Mahou Island kan tidak bisa dibuka dari luar Jepang, ya.)
Beliau baik, kok, tenang saja.
Bahkan kalau sudah dekat, kau akan mendapat panggilan khusus darinya.
Saya, misalnya, sering dipanggil 'Shincchi' pada pesannya.
Ngomong-ngomong, pembaruan 'Tetsu no Shima', masih saya tunggu, lho.
Salam,
Shin."

Dari pesan tersebut, Kuroko bisa menyimpulkan bahwa Shin dan shinkirou sudah saling mengenal sejak lama. Beberapa fakta akan situs yang baru dikenalnya selama beberapa hari itu pun diberikan olehnya secara cuma-cuma. Rasanya cukup menyenangkan juga, mendapat teman baru dari tempat yang tak diduga, begitu pikirnya. Ia pun kemudian membalas pesan Shin.

"Shin-san,
kotak pesan saya tidak penuh, kok.
Sewaktu remaja ya...
Rasanya saya tidak terlalu nakal, tapi yang jelas tentunya pernah membelokkan aturan...
Saya setuju dengan pemikiran anda.
Kasus bunuh diri di negara ini lama-lama mengkhawatirkan juga ya...
Terkadang, yang bunuh diri hanya seorang,
namun seluruh keluarga ikut menjadi korban.
Saya penasaran dengan kelanjutan 'Irodori', saya harap Irodori dilanjutkan sampai tamat, ya...
Saya sudah mengobrol dengan shinkirou-san.
Orangnya cukup ramah memang.
Ternyata kami juga sama-sama pernah ikut klub basket semasa sekolah dulu.
Terima kasih karena sudah mengenalkan saya padanya, ya.
Salam,
Kuroi Kage."

Setelah membalas pesan Shin, ia pun memilih untuk beristirahat sejenak dari ponselnya. Terlalu lama menatap layar tak baik untuk kesehatan, tentu saja. Setelah menutup peramban pada ponselnya, ia pun memutuskan untuk merapikan rumah kecilnya. Rumah warisan itu sudah lama tak dibereskan secara menyeluruh, hingga Kuroko sendiri tak ingat kapan terakhir kalinya ia melakukan hal itu, padahal ukurannya sendiri tak besar. Berapa, sih, waktu yang diperlukan untuk membereskan rumah dengan satu dapur merangkap ruang makan, satu kamar mandi, tiga kamar tidur (dua diantaranya tak lagi pernah digunakan selain untuk tamu, ngomong-ngomong), satu ruang keluarga, dan satu gudang?

Kemudian entah mengapa, siang itu, ia merasa harus melakukannya. Selain untuk mengalihkan pemikirannya (dan pandangan matanya) yang terus-menerus terpaku pada ponselnya, ia pun berpikir bahwa kegiatan beres-beres rumah ini bagus untuk fisiknya. Sejak gantung sepatu dari lapangan basket, jarang-jarang kan ia menggerakkan tubuhnya.

Untungnya, meskipun sudah lama tidak dibereskan secara total, rumah itu tak terlalu berantakan layaknya Titanic yang baru saja karam. Satu-dua tumpukan koran tua dan botol minuman yang teronggok begitu saja di ruang keluarga rumahnya (juga beberapa rongsokan dari kamarnya, dan setumpuk alat-alat masak yang tak berguna dari dapurnya; ia tak membuka dua kamar lainnya karena toh tak ada apapun di dalamnya) tak seberapa buruk untuk ukuran rumah yang hanya ditinggali oleh seorang pria lajang, tentu saja (ia pernah melihat yang jauh lebih parah). Selain itu, kamar dan lemarinya pun tak terlalu berantakan, jelas.

Maka hari itu, fokusnya beralih pada satu bagian saja: gudang.

Sejujurnya sejak rumah itu diwariskan padanya beberapa tahun lalu hingga hari itu, ia tak pernah menyentuh gudang tua itu selain untuk melempar rongsokan atau barang yang tak lagi ia gunakan ke dalamnya. Semasa sekolah dasar, ia selalu ditakuti orang tuanya agar tak membuka gudang tersebut (mereka mengatakan bahwa di dalamnya hidup arwah-arwah yang takkan senang jika diganggu). Semasa sekolah menengah pertama hingga universitas, ia terlalu sibuk dengan studi dan aktivitas klubnya. Sesaat setelah ia lulus kuliah, rumah itu diwariskan padanya, dan ia berniat untuk merapikan gudang tersebut suatu hari kelak. Sayangnya, ada saja hal yang membuat niatnya itu terlupakan atau tertunda.

Siang hari itu panas, dan gudang yang kondisinya sangat kontras dengan rumah utama itu membuat Kuroko merasa semakin gerah. Rencananya sih, ia akan membuang barang-barang yang sudah tak lagi ia perlukan, mengambil barang yang masih bisa dipakai, dan membersihkan ruangan gelap itu. "Berantakan" tak lagi bisa mendeskripsikan keadaan ruangan itu, saking hancurnya. Sebagian salahnya juga sih, main lempar saja jika ada barang yang tak lagi ia butuhkan pada suatu waktu tapi masih terlalu bagus untuk dibuang.

Satu-satu barang yang kelihatannya sudah usang maupun tak lagi dibutuhkannya mulai dikeluarkannya, untuk kemudian dibuang. Botol-botol tua, koran-koran terbitan dua sampai tiga puluhan tahun lalu, buku-buku pelajaran dari kurikulum lama yang tak lagi relevan, album-album yang berjamur karena tak pernah dibuka, sedikit demi sedikit kumpulan barang yang disimpannya di luar gudang itu menumpuk hingga gudang yang awalnya pengap itu pun akhirnya memberi Kuroko ruang untuk bernafas.

Terkadang, membuang barang-barang yang tak lagi kau perlukan itu layaknya membuang beban berat dalam hatimu yang lemah. Kau tak bisa menyimpan semuanya - kenangan buruk, dendam tak berujung, luka yang tak pernah mengering hingga membusuk - selamanya, bukan? Suatu hari kelak, cepat maupun lambat, kau harus membuang dan mengikhlaskan semuanya, biar waktu yang menyembuhkanmu setelah semuanya hilang. Semakin cepat kau membuang semuanya, semakin cepat pula kau memulai hidup yang baru dan segar. Saat kau merasa jengah, ulangi saja proses yang sama.

Nah, lho, malah jadi berfilosofi segala. Kekurangan oksigen di cuaca tiga puluh sekian derajat Celsius ini bisa membuat otak seseorang kehilangan akal sehatnya, rupanya.

Setelah mengeluarkan beberapa tumpukan barang, Kuroko berhenti sejenak untuk beristirahat. Lima menit kemudian, ia pun mulai kembali bekerja karena ingin pekerjaannya cepat selesai. Tumpukan barang-barang yang sudah dikeluarkannya itu rencananya akan ia bawa ke halaman depan rumahnya untuk kemudian diangkut oleh truk pengangkut sampah. Truk itu biasanya melewati rumahnya dua kali sehari pada pagi dan sore hari, jadi ia berharap pekerjaannya itu selesai sebelum senja menyapa.

Setelah selesai membereskan gudang ini, tentunya ia akan melanjutkan novel ponselnya, atau membalas pesan-pesan yang diterimanya, mungkin?

Tumpukan barang itu pun mulai dikeluarkannya. Dimulai dari koran-koran, kemudian botol-botol, lalu rongsokan-rongsokan berat semacam alat masak dan barang-barang rusak lainnya, dan ditutup dengan album-album foto lama. Skema pemanasan, klimaks, dan pendinginan yang dipelajarinya nun di klub basket sekolah menengah pertama ternyata bisa juga diaplikasikan pada kegiatan dunia nyata, yang bahkan tak terkait sama sekali dengan olahraga yang pernah disukainya pada suatu masa itu.

Koran-koran tua dan botol-botol bekas itu sudah selesai dibawa keluar. Rongsokan-rongsokan yang tersisa pun sudah menjelang habis. Setelah mengangkat kumpulan terakhir rongsokan yang tersisa ke halaman rumahnya, ia mengangkut kumpulan foto-foto tua dan berjamur itu sebagai penutup pekerjaannya.

Siapa sangka membereskan gudang yang ukurannya sekecil itu saja bisa sangat merepotkan dan menguras tenaga?

Ia tak menyadari beberapa foto terjatuh dari albumnya saat ia mengangkut keluar album-album itu. Ia baru menyadarinya saat ia kembali ke gudang untuk menutup dan menguncinya. Setelah mengunci gudang, ia pun memungut foto yang baru saja jatuh itu. Salah satu foto yang baru saja ia pungut itu ternyata adalah fotonya saat sekolah menengah pertama, diambil saat tim mereka, membawa nama SMP Teikou, memenangi pertandingan basket nasional tingkat SMP untuk terakhir kalinya. Di foto itu, wajah Akashi terlihat samar, Aomine tertawa, Murasakibara terlihat tak terlalu peduli akan sekelilingnya, Midorima tengah memperbaiki kacamatanya, dan Kise tersenyum lebar, tangannya membentuk huruf V (untuk "Victory", sepertinya). Kuroko sendiri berada di tengah-tengah mereka, ekspresinya datar.

Seketika, ia merasakan kerinduan pada teman-teman setimnya. Meski mereka pernah menjadi rival saat sekolah menengah atas, namun sebenarnya Generasi Keajaiban tak pernah benar-benar bubar. Setidaknya hingga sembilan tahun lalu, ia masih menerima kabar tentang mereka. Ia tahu bahwa Akashi pulang ke kampung halaman orang tuanya untuk memperdalam ilmu shogi-nya, Aomine masuk sekolah polisi, Murasakibara berangkat ke Eropa - Perancis, tepatnya - untuk belajar memasak (atau membuat kue, ingatannya tentu sudah samar-samar), Midorima diterima melalui jalur undangan ke fakultas kedokteran Universitas Tokyo, dan Kise masuk sekolah penerbangan.

Sembilan tahun yang lalu adalah kontak terakhirnya dengan Generasi Keajaiban. Ia mengganti alamat emailnya, tak memberitahu universitas dan pilihan jurusannya (juga sekolah tempatnya mengajar), dan memilih untuk kuliah di luar prefekturnya serta tak pulang saat liburan tahun baru maupun musim panas tiba. Tahun pertama dan kedua, Aomine dan Momoi mencoba mencarinya ke rumahnya, namun karena tak menemukannya, mereka menyerah. Setelah lulus, ia pun pulang dan mulai mengajar, tanpa sekalipun berkirim kabar pada satu pun mantan anggota Generasi Keajaiban.

Semuanya untuk menghindari sesosok pria berambut pirang yang profesinya sebagai model terlalu berharga untuk ia hancurkan.

Ia memilih mundur tanpa kabar, karena toh, dalam pikirannya, itu adalah hal yang terbaik untuk seorang Kise Ryota.

Hei, bukankah cinta sejati adalah cinta dimana kau bisa merelakannya bahagia, tanpa harus "memiliki"?

Namun ternyata hati nuraninya tak bisa dibohongi, karena berapa tahunpun yang diberikan padanya, rasa cinta itu bentuknya akan selalu sama.

Ia pun menarik nafas panjang setelah melihat foto itu, kemudian berniat kembali ke kamarnya, memeriksa ponselnya, kemudian mengirim pembaruan novelnya. Ada sepercik harap dibalik penulisan novel itu, sebenarnya. Meski kemungkinannya satu berbanding sejuta, ia berharap semoga sang pilot (ia yakin Kise telah menjadi pilot sekarang, meski mereka tak pernah lagi bertukar kabar. Dengan kemampuan "menyalin" dan profesionalitas tinggi yang dimilikinya, rasanya sulit membayangkan kegagalannya) membaca karyanya, kemudian mencairkan kesunyian diantara mereka.

Karena sejak kejadian di ruang ganti gelanggang olah raga selepas pertandingan preliminer mereka itu, hanya kesunyian yang menghinggapi mereka. Sisa-sisa kemesraan yang dulu terpampang dengan jelas hingga membuat iri semesta, tak lagi ada jejaknya.

Kuroko sadar ia telah menyakiti Kise. Ia tahu Kise mencintainya sepenuh hatinya. Namun ia beralasan bahwa apa yang dilakukannya semata atas dasar cinta. Hei, mereka kan sudah mulai dewasa kala itu. Bukan zamannya lagi menenggak obat-obatan manis, obat itu takkan lagi terasa efektif. Obat yang mereka telan memang pahit, namun tentu saja efeknya manjur sebagai penangkal "sakit". Buktinya? Sejak itu, karir Kise kembali normal, layaknya kasak-kusuk tak jelas yang sempat santer akan hubungan mereka tak pernah tersebar.

Ia tak pernah mendengar penjelasan Kise, karena yang diharapkan memberi penjelasan pun bungkam seribu bahasa, layaknya mereka tak lagi saling mengenal. Padahal, meskipun untuk terakhir kalinya, ia ingin mendengar suara renyah Kise yang mendatanginya ke sekolah, menanyakan kabarnya, dan meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja.

Ah, sudahlah. Doraemon kan hanyalah tokoh fiksi semata. Jika, dan hanya jika, Doraemon berubah menjadi nyata, ia akan minta mesin waktu saja, agar waktu bisa ia putar ulang.

Namun karena Doraemon itu tidak ada, maka mesin waktu yang dimilikinya pun tak ada.

Kini hanya mesin waktu alami yang dimiliki oleh setiap manusia yang ia andalkan. Bentuknya? Memori jangka panjang. Tangis. Tawa. Penyesalan. Rasa lega. Juga sederetan emosi lain yang menemaninya melakukan pengejawantahan atas seluruh kenangan yang dimilikinya.

Siapa sangka kegiatan bebenah rumah dan gudang ini bisa berfungsi juga sebagai kegiatan nostalgia.

Setelah terpaku beberapa saat, ia pun kemudian memasak makanan, makan dalam kesunyian, dan masuk ke kamarnya. Ponselnya, yang sejak tadi terabaikan, berkelip lagi, menandakan pesan masuk. Kali ini, ada tiga pesan masuk untuknya.

Tak sebanyak tadi pagi, tentunya.

Pesan pertama pun dibukanya.

"Sebuah pesan baru dari 'shinkirou' telah diterima di Mahou Island.

Anda dapat membalas pesan tersebut dengan masuk ke kotak pesan pribadi anda dan memilih menu 'Balas'.

Isi pesan tersebut adalah sebagai berikut:

'Kuroi-san,
tentunya saya sudah berhenti sejak lulus SMA.
Inginnya sih, lanjut, tapi apa boleh buat,
jika kita ingin meraih masa depan, kita harus mengorbankan sesuatu yang penting juga, kan?
(Hahaha, saya jadi filosofis rupanya.
Tidak apa-apa, kan?)
Wah, ternyata kita sama-sama berada di kepala dua...
Saya kira Kuroi-san masih muda,
dan kesan pertama saya pada Kuroi-san adalah,
'Wah, dia pasti otaku yang tidak ada kerjaan.
Hebat sekali bisa menulis tiga puluhan chapter hanya dalam lima hari saja.'
(Jangan marah ya...)
Ah, tidak apa-apa,
saya lihat tadi ulasan buat 'Tetsu no Shima' jadi berlipat ganda...
Jadi kalau Kuroi-san pusing, wajar saja,
Kuroi-san kan baru belajar menulis, ya.
Kalau ada referensi soal basket yang sedikit melenceng juga tidak masalah,
tapi sebaiknya sebelum menulis, Kuroi-san riset dulu, ya...
Semakin akurat sebuah cerita, semakin menarik cerita itu bagi para pembaca,
bukankah demikian?
Ngomong-ngomong, Kuroi-san, sudah bekerja kan?
Bekerja sebagai apa?
Tidak apa-apa kan saya tanya pertanyaan pribadi begini?
Ah, iya.
Pembaruan Tetsu no Shima, masih akan saya tunggu kedatangannya
di kotak masuk email saya.
Salam,
shinkirou.'

Mahou Island sedang mencari karyawan! Sila klik..."

Ah, rupanya pesan balasan dari shinkirou-san. Kuroko pun kemudian masuk kembali ke situs Mahou Island untuk membalas pesan shinkirou.

"shinkirou-san,
terima kasih atas balasannya.
Ah, rupanya kita berhenti di titik yang tidak jauh berbeda.
Selain itu tentu saja, jika kita tidak berani berkorban,
selamanya kita akan berada di titik yang sama dan takkan merasakan kemajuan.
(tidak apa-apa, sungguhan.
Filosofi dibalik sebuah tulisan kan penting juga, benar demikian kan?)
Ah, shinkirou-san juga masih umur dua puluhan, ya...
Ternyata umur kita tidak terlalu jauh bedanya.
Jika mau melepas keigo pun, tidak apa-apa rasanya.
Iya, ulasan atas 'Tetsu no Shima' benar-benar banyak.
Saya bingung menanggapinya...
Soal riset, karena saya tidak memakai komputer pribadi,
agak sulit rasanya, tapi saya akan tetap coba seakurat mungkin!
Tentu saja, saya inginnya cerita ini akurat.
Siapa yang tak ingin, coba?
Ah, saya hanya guru TK biasa, kok...
shinkirou-san, katanya bekerja sebagai pilot?
Saya diberitahu oleh Shin,
(yang menulis 'Irodori' dan 'Equal Prayer to All', itu...)
jadi kalau salah, saya mohon maaf ya...
Malam ini, saya akan memperbarui 'Tetsu no Shima'.
Terima kasih sekali lagi sudah setia membaca.
Juga, selamat membaca chapter terbarunya.
Semoga berkenan untuk shinkirou-san.
Salam,
Kuroi Kage."

Ia pun memutuskan untuk memperbarui "Tetsu no Shima" terlebih dahulu. Hari ini, ia belum menulis sama sekali. Pesan dari Shin dan Vanilla yang masih tersegel di kotak masuknya belum ia sentuh. Ia berpikir untuk membalasnya nanti, setelah selesai menulis dan beristirahat.

"Ujian masuk SMA sudah mendekat.
Saya belajar dengan giat, lalu diterima di SMA T.
Hari pertama sekolah tak ubahnya hari pertama di SMP saya.
Ceramah penerimaan kepala sekolah, pencarian kelas, dan perkenalan dengan teman sekelas.
Namun hingga sekarang, ada satu bagian dari ceramahnya pak kepala sekolah
yang terus saya ingat, hingga hafal luar kepala bahkan."

"Ia berkata,
'Kejujuran adalah modal utama untuk meraih impian,
jadi apapun yang terjadi, pada siapapun kau berinteraksi,
ingatlah untuk selalu mengatakan yang sebenarnya.
Sekolah ini dibangun dengan dasar kepercayaan,
jadi jika kau coba-coba mengkhianatinya,
misalnya melanggar aturan, atau tak memberikan usahamu yang terbaik,
dalam belajar atau berlomba,
kami takkan mempercayaimu lagi.
Silakan temukan sekolah lainnya.'"

"Ada benarnya juga.
Saya jadi mempertanyakan diri saya.
Apakah saya sudah jujur, bahkan pada diri sendiri saja?
Rasa-rasanya tak selalu, ya.
Perasaan saya pada Shima-kun saja,
cuma saya yang mengetahuinya.
Kalau dia tahu, reaksinya seperti apa, ya..."

"Hari pemilihan klub pun tiba.
Seperti biasa, saya memilih masuk klub basket.
Saya yakin, Buchou, Ryo-kun, Shima-kun, semuanya memilih klub yang sama.
Saat saya hadir di ruangan klub mereka,
kehadiran saya lagi-lagi mengagetkan mereka.
Terutama yang paling kaget adalah Kirishima-kun.
Katanya, ia keturunan Amerika.
Baru tahun ini pindah ke Jepang.
Rambutnya merah, sangat tidak biasa.
Suaranya juga keras.
Sekilas, ia mengingatkan saya pada Ryo-kun.
Ryo-kun di SMA Z, apa kabar, ya?"

"Ternyata Kirishima-kun dan saya sama-sama kelas satu.
Keesokan harinya setelah kejadian itu,
bersama Fushimi-kun dan teman-teman kelas satu lainnya,
kami dikumpulkan di atap sekolah, kemudian Ritsu-senpai,
pelatih kami, anak gadis satu-satunya pak guru olahraga,
menyuruh kami meneriakkan alasan kami masuk klub basket SMA T.
Kirishima-kun teriak sangat keras, sampai-sampai kaca ruang referensi pecah.
Ketua OSIS pun menertibkan kami,
katanya itu sudah tradisi klub basket,
dan kami dimarahi oleh kepala sekolah dan ketua OSIS."

"Seminggu setelah kejadian itu, latihan perdana pun kami lakukan.
Selama seminggu kami tidak diizinkan memakai lapangan,
karena insiden teriakan Kirishima-kun yang terkenal.
Sebelum kami mulai latihan, terlihat anak-anak gadis berkumpul di dekat lapangan,
terdengar teriakan seperti 'minta tanda tangannya!', 'boleh kenalan tidak?',
hingga kami yang belum mulai latihan pun merasa terganggu karenanya.
Belum sempat Ritsu-senpai memecahkan keributan,
sebuah wajah dan sesosok tubuh yang saya kenal berhasil melepaskan dirinya
dari kerumunan gadis-gadis gila yang nampaknya baru mulai pubertas itu."

"'Shima-kun?'
Saya kaget luar biasa.
Bagaimana ia bisa tahu saya bersekolah di SMA T?
SMA T bukan sekolah elit, prestasinya biasa saja,
nilai rata-rata siswanya berkisar enam puluh dari skala seratus,
klub olahraganya pun bahkan gagal menembus preliminer lomba antar prefektur.
Tentu saja, tidak banyak siswanya yang diterima di universitas ternama.
Saya kira, Shima-kun percaya saja bualan Ryo-kun,
yang menyatakan saya bersekolah dengannya di SMA Z."

"'Kenapa kau bisa berada di sini?', tanya saya.
Wajah Shima-kun berkerut,
saya baru pertama kalinya melihat ia begitu serius.
Untuk sejenak saja, memang.
Sebentar kemudian senyum cerahnya kembali.
'Aku mau menjemput Tetsucchi!
Ayo sekolah di SMA K!'
Saya kaget luar biasa."