Cring…cring…cring!
Terdengar suara gemerincing lonceng yang memenuhi ruangan tersebut. Tobi pun mengarahkan kameranya pada wajah Hidan.
"Tampaknya penghuni rumah kosong ada disini..." ucap Hidan di depan kamera. Sasori segera mengeluarkan sebuah boneka kayu setinggi 20cm. Sebuah boneka dengan rambut hitam panjang dan baju berwarna cokelat yang lusuh.
"Ini adalah boneka turun temurun dari keluargaku. Boneka ini adalah tempat singgah yang nyaman bagi para hantu. Sebelum kita menangkap hantu, kita harus berinteraksi dulu dengan mereka. Kita harus tahu, apakah dia hantu jahat yang harus kita bunuh dengan cara kasar atau hantu yang tersesat mencari alam baka," jelas Sasori sambil menyimpan boneka tersebut di samping lonceng milik Hidan. Konan, Itachi dan Pein kini ikut berkumpul mengelilingi meja.
"Mari kita mulai..."
KONOHA VILLAGE
Chapter 5. Klub Akatsuki
Desclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Drama/Mysteri/Humor/Horror/Romance/Fantasi
Rating : T
Warning : AU/OOC/ Typo/ genre tiap chapter mungkin berbeda/ Update tidak menentu.
.
.
.
Tubuh Naruto gemetaran menonton layar yang kini menampilkan sebuah boneka kayu menyeramkan. Matanya melirik ke sana kemari menghindari layar besar di depan. Naruto tidak suka ini, hantu dan semacamnya adalah hal yang paling ia hindari.
"Kenapa kau?" tanya seseorang di samping Naruto. Ia sedikit terganggu dengan tingkah Naruto. "Kau takut ya?!" tuding orang itu.
"Ti-tidak! Siapa yang takut?!" bantah Naruto dengan cepat.
"Hantu itu hanya mitos! Sama seperti Zombie dan Vampire. Mereka semua hanya ada di film-film! Aku heran di sekolah ini ada klub aneh seperti itu," gerutu pria berambut cokelat tersebut.
"Haha, iya kau benar hantu itu kan hanya mitos!" sahut Naruto. Iya benar, hantu itu tidak ada. Tapi ayahnya selalu cerita tentang hantu yang ada di desa Konoha. Tapi mungkin saja ayahnya hanya berbohong agar Naruto tidak keluyuran malam-malam. Iya benar, hantu itu hanya mitos!
Naruto pun kembali menonton layar di depannya. Ia mencoba meyakinkan diri kalau yang di layar hanya sekedar film.
Layar tersebut kini menampilkan 5 orang yang sedang mengelilingi boneka. Mereka mulai menyanyikan sebuah lagu untuk memanggil hantu. Ketika hampir selesai menyanyikan lagu, kamera men-zoom boneka kayu tersebut yang kini tampak bergetar. Dan saat lagu selesai dinyanyikan, perlahan kepala boneka yang semula merunduk kini mendongkak menampilkan wajah yang cukup menyeramkan.
"KYAAA!" terdengar teriakan beberapa murid yang kaget melihat boneka tersebut.
"Kenapa kalian mengganggu kami?" terdengar suara seorang wanita yang keluar dari boneka tersebut.
"Kami mendapat laporan kalau kalian mengusik para tetangga rumah ini. Apa yang sebenarnya kalian lakukan?" tanya Pein.
"Itu karena mereka tidak pernah menganggap kami! Mereka mengabaikan rumah kami! Mereka bahkan mengabaikan para pencuri yang menjarah rumah ini," jawab boneka tersebut.
Terdengar beberapa murid yang mulai berbisik mempertanyakan keaslian video ini. Mereka tentu tidak percaya begitu saja dengan hantu yang bicara lewat boneka tersebut.
"Begitu rupanya, jadi kalian tidak bermaksud jahat?" sekarang giliran Itachi yang bertanya.
"Aku hanya ingin menjaga rumah yang menjadi tempat terakhir kami hidup. Rumah ini adalah rumah impian keluarga kami. Aku tak pernah menyangka bahwa rumah kami akan menjadi tempat kematian kami," terdengar suara lirih dari boneka tersebut.
"Serahkanlah rumah ini pada kami yang masih hidup. Kami akan mengatakan pada para tetangga untuk ikut merawat rumah ini juga. Jadi kalian pergilah dengan damai," ucap Konan yang akhirnya buka suara.
"Baiklah, tapi jika rumah ini masih tetap terbengkalai, kami akan datang kembali dan menghantui para warga."
"Serahkan saja pada kami!" Tandas Pein.
"Baiklah, kami akan memulai ritual perjalanan kalian ke alam baka, bersiaplah."
Hidan tampak membuka koper dan mengeluarkan sebuah belati kecil. Belati tersebut ia lumuri dengan cairan tak berwarna. Kemudian ia berdiri dari tempat duduknya dan mulai melangkah ke belakang boneka.
"Pergilah dengan damai..." ucap Hidan sambil menodongkan belatinya. Tampak sesuatu berkilauan berasal dari belati tersebut. Setelah itu terdapat tulisan [Mision Complete] di akhir video tersebut.
Pein pun segera mengambil mic dan kembali ke tengah podium.
"Nah, tadi adalah hasil rekaman perburuan hantu kami. Beruntung sekali karna kami bertemu dengan hantu yang gentayangan karna masih punya urusan didunia."
"..."
"Sebenarnya ada 3 cara memburu hantu, hal ini disesuaikan dengan alasan hantu tersebut gentayangan. Hantu yang paling sulit diburu adalah hantu yang memiliki dendam atau keinginan untuk hidup yang kuat," lanjut Pein.
"Pekerjaan kami bukan hanya memburu hantu. Kami juga meneliti berbagai makhluk tak kasat mata dan cara untuk memusnahkannya!"
"Nah, bagi kalian yang ingin bergabung dengan klub kami. Silakan datang ke ruang klub Akatsuki yang terletak di lantai dua di samping toilet. Terimakasih," ucap Pein mengakhiri demonstrasinya. Semua anggota Akatsuki pun merunduk memberi salam diiringi tepuk tangan dari para penonton. Tiba-tiba terdengar suara gemerincing lonceng persis seperti dalam video.
"Eh? Suara apa tuh?"
"Hiiiyy! Jangan-jangan di sini ada hantu!"
"Sepertinya suara itu berasal dari sana!" ucap salah satu siswi sambil menunjuk ponsel Itachi yang menyala. Tampak cahaya layarnya menembus saku celananya. Itachi pun buru-buru merogoh celananya dan mengambil ponselnya.
Layar ponsel tersebut menampilkan tulisan 'KAA-SAN CALLING'. Rupanya sang ibu menelpon dan Itachi lupa men-silent-kan suara ponselnya.
"Berarti suara lonceng yang dalam video itu suara ponselnya! Bukan suara hantu!"
"WOOO! DASAR PENIPU!"
"WUUU! DASAR PAYAH! AYO LEMPARI MEREKA!" tampak salah seorang siswa mengompori mereka. Akatsuki pun buru-buru turun dari podium sebelum menjadi bulan-bulanan para murid.
Singkat cerita, demonstrasi klub pun selesai. Para murid kelas 1 menuju kelas mereka masing-masing untuk memilih tempat duduk. Sedangkan Naruto malah pergi ke kantin untuk makan dan mengistirahatkan kakinya.
Suasana di dalam kelas 1 B tampak ricuh berebut tempat duduk. Kebanyakan dari mereka memilih tempat duduk di belakang atau di tengah. Ada juga sebagain orang yang berebut teman sebangku karena tempat duduk di kelas memang disusun masing-masing untuk dua orang. Seperti Sakura yang kini tengah berebut bangku pilihannya dengan seorang gadis berambut pirang diikat ponytail, Ino.
"Hei! Aku yang melihat bangku ini duluan!" teriak Sakura begitu Ino duduk di kursi yang menjadi incarannya.
"Apa katamu? Aku yang pertama duduk di sini! Itu artinya aku yang berhak atas bangku ini!" tandas Ino.
"Hei tenanglah, bangku ini kan untuk dua orang, kalian bisa duduk bersama kan?" lerai seseorang berambut cokelat kemerahan yang duduk di belakang Ino.
"Tidak bisa! Pokoknya bangku ini milikku! Aku mau duduk dengan Sasuke-kun! Pergi sana ke depan!" usir Sakura sambil menunjuk bangku di barisan depan yang masih kosong.
"Tidak mau! Kau saja yang pindah! Siapa cepat dia dapat!" ucap Ino dengan senyum meledek.
Hinata yang baru saja tiba ke kelas hanya menatap aneh teman-temannya yang tampak ribut berebut bangku. Setelah ia berpikir sebentar, Hinata memutuskan untuk duduk di bangku paling depan dekat pintu keluar. Lebih tepatnya lagi di depan bangku yang diperebutkan oleh Ino dan Sakura.
Kelas mulai terisi penuh hanya tersisa beberapa bangku kosong. Kursi di sebelah Hinata pun masih kosong. Tampaknya orang-orang menolak untuk duduk di bangku paling depan.
Keadaan kelas tampak masih ribut sebagian murid saling berkenalan satu sama lain. Hinata yang merasa gugup pun hanya diam dan luput dari perhatian orang-orang.
Tak lama kemudian, Sasuke dan Naruto pun datang. Kelas yang semula ricuh kini semakin ricuh. Para siswi berteriak meminta Sasuke untuk duduk di sebelahnya. Termasuk Sakura dan Ino.
"Kyaaa! Hei kau! Duduklah disini! Di sebelahku!" teriak para siswi.
"Sasuke! Disini! Duduk disini!" teriak Sakura, "Hei kau minggirlah! Sasuke mau duduk disini!" usir Sakura pada Ino.
"Yang harusnya pergi itu kau! Sana pergi! Biarkan pria tampan itu duduk dengan tenang di sampingku!" balas Ino.
"Aku tidak akan menyerahkan Sasuke padamu!"
"Kenapa tidak ada yang menawari aku tempat duduk," gumam Naruto kesal.
Sasuke yang mendengar teriakan para siswi itu hanya cuek dan mengedarkan pandangannya mencari bangku kosong. Tapi nihil, semua bangku sudah terisi, yang kosong hanya bangku yang sebelahnya sudah diisi murid lain. Dan pandangannya berhenti tepat di depannya. Terlihat seorang gadis berambut indigo yang sedang merunduk sambil sesekali melirik ke arah Sasuke dan Naruto.
"Boleh aku duduk disini?" tanya Sasuke tanpa ekspresi dan dengan seenaknya ia duduk di sebelah Hinata.
"E-eh?" hanya itu kata yang keluar dari mulut Hinata. Sebenarnya Hinata lebih berharap kalau Naruto yang akan duduk di sebelahnya. Namun tampaknya Naruto lebih memilih duduk di belakang Sakura bersama seseorang berambut cokelat.
"Kalau kursi ini kosong, itu artinya siapa saja boleh duduk di sini," ucap Sasuke lagi. Hinata hanya mengangguk pasrah.
"Kyaaa! Sasuke duduk di situ pasti karna tak mau jauh-jauh dariku~" inner Sakura. Sakura tampak senyum-senyum sendiri memikirkannya. Ino yang berada di sampingnya pun hanya menatap heran pada gadis merah muda itu.
Sementara itu, beberapa siswi di barisan lain menatap Hinata dengan tatapan tidak suka.
"Si cewek sialan itu lagi! Tadi di aula dia caper pada Gaara-senpai! Sekarang dia caper pada pria tampan itu! Benar-benar membuatku kesal," umpat seorang gadis berambut merah.
"Aku yakin gadis itu akan menjadi sumber masalah, sebaiknya kita singkirkan dia sejak dini!" usul teman sebangkunya.
"Benar juga, kita beri gadis itu pelajaran!"
"Hai! Namaku Naruto, semoga kita menjadi teman yang baik ya!"
Naruto pun memulai pembicaraan dengan teman sebangkunya tersebut.
"Namaku Amaru," jawab murid yang memakai penutup kepala dan menyisakan rambut cokelatnya di bagian depan tersebut. Ia memiliki tahilalat di bawah matanya.
Mereka berdua pun mulai berbincang dengan akrab. Naruto itu tipe orang yang mudah bergaul, dan Amaru juga tampaknya orang yang ramah. Berbeda dengan kondisi dua bangku di depan mereka. Ino dan Sakura saling diam dan mengumpat dalam hati. Pertemuan pertama mereka tidak berjalan begitu baik. Sedangkan bangku Sasuke dan Hinata pun tampak sepi, mereka berdua sibuk dengan urusannya masing-masing. Sasuke membaca buku sedangkan Hinata melamun sambil menatap keluar jendela.
Tak lama kemudian seorang guru yang mengaku sebagai wali kelas mereka pun datang. Kegiatan di kelas di awali dengan perkenalan dan pembagian organisasi kelas seperti ketua kelas dan sebagainya.
.
-Konoha Village-
.
Sementara itu di kelas 3, tepatnya di kelas A, Shisui tampak melamun memikirkan sesuatu. Sejak kejadian di belakang podium, ia terus merasa ada seseorang yang mengawasinya. Berulang kali ia mencari ke berbagai sudut. Tapi Shisui tak menemukan seorang pun yang mencurigakan.
Shisui kemudian mengeluarkan salah satu bukunya dan menulis sesuatu di sana. Sesuatu yang mungkin akan berguna suatu hari nanti. Semenjak kematian Uchiha Tekka yang tidak wajar, Shisui tak hanya tinggal diam. Ia ikut memikirkan kemungkinan adanya seseorang yang meneror klan Uchiha. Terlebih lagi, beberapa minggu sebelumnya ada Uchiha lain yang mengalami kasus yang sama seperti Tekka. Shisui yakin, ini bukan kasus bunuh diri.
Rumah Tekka hanya berjarak beberapa meter dari rumah Shisui. Tapi ia tidak begitu akrab dengannya, jadi Shisui tidak bisa memastikan apakah sebelum kematiannya, Tekka diikuti oleh seseorang atau tidak. Jika iya, maka yang akan menjadi korban terror selanjutnya adalah dirinya.
Shisui tahu ini hanyalah spekulasi dirinya sendiri. Tapi ia tak mau menyia-nyiakan satu kemungkinan kecil sekalipun. Jika ia yang menjadi incaran terror itu, maka ini akan menjadi kesempatan besar bagi Shisui untuk mengungkap pelakunya. Yah meskipun taruhannya adalah nyawanya sendiri.
"Selamat siang semuanya," sapa seorang guru yang baru datang untuk mengajar kelas Shisui.
"Selamat siang, Sensei!" sahut para murid. Shisui pun berhenti menulis dan bersiap mengikuti pelajaran selanjutnya.
Di ruangan kepala sekolah, kini berkumpul 10 orang anggota klub Akatsuki. Mereka semua di minta untuk menghadap kepala sekolah setelah menjadi bahan cibiran satu sekolah.
Hanya karna dering ponsel Itachi, kini klub mereka berada di ujung tanduk. Tsunade-sama benar-benar marah dan mengancam pembubaran klub Akatsuki.
"Ku mohon, Tsunade-sama! Jangan bubarkan klub kami!" rengek Pein yang menjadi juru bicara klub Akatsuki.
"Kalau kalian menipu orang seperti itu, kalian lebih cocok bergabung ke klub drama!" tandas Tsunade.
"Kami terpaksa melakukannya karna hantunya tak kunjung datang, dan kami tidak tahu harus menampilkan apa saat demo nanti," elak Pein untuk ke sekian kalinya.
"Kami mohon, beri kami kesempatan sekali lagi," ujar Konan yang menjabat sebagai wakil ketua klub Akatsuki.
"Haah~" Tsunade mengambil nafas berat. "Baiklah, aku akan beri kalian satu kesempatan lagi," ucapnya.
"HOREEE! TERIMAKASIH, TSUNADE-SAMA!" ucap seluruh member Akatsuki.
"Tapi dengan satu syarat!" potong Tsunade. Akatsuki yang tadinya tersenyum gembira kini kembali menampilkan ekspresi datar. Terakhir kali Tsunade memberi syarat, mereka semua diminta untuk membuat laporan tentang penelitian makhluk gaib sebanyak 100 halaman.
"A-apa syaratnya?" tanya Pein waswas.
"Gampang saja, kalian harus merekrut anggora dari kelas satu! Kalau tidak ada yang mau bergabung dengan klub kalian, katakan selamat tinggal pada klub Akatsuki dan kalian akan masuk ke dalam klub drama!" ucap Tsunade sambil tersenyum penuh kemenangan. " Nah, sekarang silakan kembali ke kelas."
Akatsuki menaiki tangga menuju kelas mereka yang ada di lantai dua dengan gontai. Syarat dari Tsunade memang kelihatannya mudah bagi klub lain. Tapi bagi Akatsuki sepertinya tidak, saat demo saja mereka dilempari kertas dan botol minum. Bagaimana caranya mereka merekrut anggota baru? Sebenarnya Pein punya ide untuk mengiming-imingi anak kelas satu dengan uang, tapi mengingat bendahara mereka yang pelitnya minta ampun, hal itu harus dicoret dari pikiran Pein.
"Ini semua gara-gara kau, Itachi! Kenapa juga kau harus lupa men-silent ponselmu!" omel Deidara yang berjalan di samping Itachi
"Lagi pula siapa yang menelponmu saat kau sedang sekolah begini?" lanjut Hidan. Itachi tiba-tiba saja ingat sesuatu. Yang menelponnya adalah ibunya, ada apa ya kira-kira? Itachi tak sempat mengangkatnya karna terjadi keributan di aula tadi.
'Tapi karna ibunya tidak menelpon lagi, itu artinya tidak ada sesuatu yang penting 'kan?' pikir Itachi.
"Aku tahu siapa yang akan menyelamatkan klub kita!" ucap Itachi yang tiba-tiba berbalik menatap teman-temannya.
"Siapa?" ucap Kakuzu yang mewakili pertanyaan dari para member Akatsuki.
"Kalian ingat gadis berambut indigo yang maju ke atas podium saat Gaara demo memasak kan?" ucap Itachi antusias. Anggota Akatsuki hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Itachi.
"Gadis itu! Harus masuk ke dalam klub kita! Dia akan menjadi modal utama kita untuk merekrut banyak orang!"
"Maksudmu, kita akan menyuruhnya memakai baju maid dan menyebarkan formulir Akatsuki?" tanya Pein yang tidak mengerti maksud Itachi.
"A-Apa? Yang ada kita akan benar-benar di bubarkan kalau melakukan hal mesum begitu!" bentak Konan yang langsung menjitak kepala jabrik Pein.
"Tentu saja bukan begitu! Maksudku, Pein bilang gadis itu bisa melihat hantu. Jika itu benar, dia akan membantu kita dalam mencari hantu yang akan kita buru! Kalian mengerti 'kan?" jelas Itachi pada teman-temannya. Entah paham atau tidak, anggota Akatsuki pun mengangguk saja.
"Baiklah, kalau begitu misi kita hari ini adalah, merekrut gadis itu! Saat jam istirahat kita berpencar untuk mencarinya!" ucap Pein dengan semangat yang membara.
Jam istirahat pun tiba, Akatsuki kini tengah berkumpul di ruang klub yang di dominasi dengan warna hitam tersebut. Mereka sedang membagi-bagi tugas untuk misi mereka kali ini. Konan dan Kakuzu bertugas untuk berjaga di ruang klub, jaga-jaga kalau ada murid yang datang untuk mendaftar. Yah meskipun kesempatannya kecil sih.
Sedangkan Pein dan yang lainnya berpencar mencari gadis bersurai indigo. Karena mereka tidak tahu gadis itu masuk kelas mana, jadilah mereka berpencar ke masing-masing kelas 1 dan juga ke kantin.
Pein melangkahkan kakinya menuju kelas 1B. Tampaknya akan cukup sulit mencari gadis itu karna sekarang para murid berhamburan keluar kelas menuju kantin atau menuju ruang klub untuk mendaftar. Pein pun tiba di depan pintu kelas 1B yang terbuka. Pandangan matanya langsung tertuju pada gerombolan siswi yang kini mengerubungi bangku bagian depan yang berada tak jauh dari pintu.
"Hai, Sasuke-kun~"
"Sasuke-kun, ayo kita ke kantin bersama!"
"Sasuke-kun, kau akan ikut klub apa?"
"Sasuke-kun, ayo kita ke kantin!" ajak Sakura.
"Sasuke-kun, nanti kita pulang bareng yaa!"
Kira-kira begitulah kalimat yang diucapkan para Siswi tersebut. Pein yang merasa familiar dengan nama Sasuke pun segera menerobos kerumunan tersebut.
"Hei! Jangan dorong-dorong dong!"
"Woi! Siapa sih ini?"
"Aduh, apa-apaan sih!" gerutu para siswi. Melihat para siswi yang perhatiannya teralihkan, Sasuke segera menarik Hinata keluar dari kerumunan, pasalnya gadis pendiam itu dari tadi terlihat tersiksa dengan dorongan-dorongan yang disebabkan para siswi yang mengerubungi bangku mereka berdua.
Begitu Pein sampai di depan bangku, tempat itu kosong. Sasuke dan Hinata sudah pergi keluar kelas.
"Loh? Kemana Sasuke-kun?" tanya Sakura yang baru menyadari kalau temannya sudah menghilang dari kursinya.
"Cewek sialan berambut ungu itu juga hilang!"
"Pasti dia yang membawa Sasuke kabur!"
"Eh, tunggu! Cewek berambut ungu itu, apa rambutnya panjang?" tanya Pein yang tiba-tiba nimbrung bersama para fans Sasuke.
"Iya! Rambutnya panjang seperti sadako!" sahut salah satu siswi.
"Apa matanya berwarna lavender?" tanya Pein lagi.
"Iya! Matanya lavender hampir putih! Pokoknya dia mirip hantu!" jawab siswi lain.
"Apa badannya seksi dan mempesona?" tanya Pein untuk ke sekian kalinya.
"Apa maksud pertanyaanmu itu? Hei! Kau kan ketua klub penipu itu!" tuding salah satu siswi yang menyadari wajah Pein.
"Hoi! Aku ini bukan penipu! Ah sudahlah aku harus mencari gadis itu!" elak Pein yang kemudian buru-buru keluar kelas untuk mencari Hinata di ikuti Sakura di belakangnya. Sementara para siswi yang lain berkumpul untuk menyusun rencana 'Memberi Pelajaran' pada Hinata.
Sementara itu, Sasuke menarik Hinata menuju lantai dua. Mereka tampak kehabisan nafas dan berdiri diujung tangga. Lorong di lantai dua juga cukup sepi, mungkin lantai dua cukup aman bagi Sasuke, mengingat Kantin dan ruang klub kebanyakan berada di lantai satu.
Setelah mengatur nafas, Sasuke melihat ke arah Hinata yang kini tengah terengah-engah.
"Maaf," ucap Sasuke yang merasa bersalah telah membuat Hinata kerepotan gara-gara dirinya. Gadis bersurai indigo tersebut menyeka keringat dari pelipisnya, kemudian ia tersenyum pada Sasuke.
"Itu bukan salahmu 'kan," jawabnya lembut.
Sasuke terpaku. Gadis ini, dia berbeda dengan gadis lain. Dia tenang dan lembut, persis seperti ibunya.
"AKHIRNYA AKU MENEMUKANMUU!"
"JANGAN MENGAGETKAN ORANG SEPERTI ITU, SIALAN!" bentak Sasuke yang kaget karena teriakan Pein yang tiba-tiba muncul dari bawah tangga.
"Oh, hai Sasuke!" sapa Pein tanpa rasa bersalah. "Hai, kau ingat aku kan?" tanya Pein pada Hinata.
Hinata terdiam beberapa saat, mencoba mengingat pria berambut oranye di depannya ini. Hinata tahu, pria ini ketua klub Akatsuki. Tapi kenapa pria ini seakan mengenal Hinata?
"Kau, ketua klub Akatsuki?" tanya Hinata meyakinkan.
"Betul sekali! Maukah kau bergabung dengan klub kami?" tanya Pein penuh harap. Hinata tentu saja kaget, Sasuke juga.
"Kenapa kau memintanya bergabung dengan klub anehmu itu?" tanya Sasuke.
"JANGAN GANGGU HINATA-CHAAANN!" teriak Neji yang baru saja naik ke lantai dua. Ia langsung menendang Pein dan Sasuke dengan gerakan karate. Dimatanya, saat ini Hinata dalam bahaya. Ada dua laki-laki yang jaraknya kurang dari satu meter dari Hinata. Terlebih lagi salah satunya adalah teman sekelasnya yang terkenal mesum dan berjiwa preman.
"Woi! Apa-apaan kau?!" teriak Pein dan Sasuke bersamaan.
"Kalian pasti akan berbuat macam-macam pada Hinata kan?!" tuding Neji sambil menunjuk hidung Pein dan Sasuke secara bergantian.
"Tidak, Nii-san! Mereka tidak melakukan apa-apa!" jelas Hinata sambil menahan Neji yang berniat menendang Pein dan Sasuke lagi.
"Apaa? NII-SAN? Jadi- jadi- kalian?" Pein menatap Hinata dan Neji secara bergantian. Wajah mereka mirip. Matanya sama persis. Rambutnya sama-sama panjang dan lurus, hanya beda warna. Dan yang paling mencengangkan adalah nama di name-tag mereka...
Hyuuga Neji.
Hyuuga Hinata.
Marganya sama!
Benar-benar kebenaran yang tidak Pein harapkan!
"Please! Jangan bilang kalau kalian suami-istri?!" pekik Pein frustasi. Sasuke yang mendengarnya pun segera menabok senpainya tersebut.
Duaghh!
"Tentu saja mereka adik-kakak, bodoh!"
"Tapi, Kisame bilang kalau wajahnya mirip mereka jodoh. Dan marga mereka sama seperti suami istri!" jelas Pein ngaco.
"Hh~ kenapa bisa kakakku berteman dengan orang bodoh seperti ini," ratap Sasuke.
"Aku tidak peduli kau adiknya Neji ataupun istrinya! Yang jelas saat ini hanya kau yang bisa menyelamatkan klub kami! Kumohon, bergabunglah bersama kami!" Pein memohon dengan sepenuh hati.
"Apa maksudmu, hah? Aku tidak akan izinkan Hinata bergabung dengan klub aneh kalian!" bantah Neji yang kini berdiri didepan Hinata. Menghalangi jarak antara Pein dan adik sepupunya tersebut.
"Aku tidak bicara padamu! Aku memohon pada Hinata!"
Hinata yang berada di belakang Neji pun merasa bingung. Ia tidak mengerti apa maksud Pein. Menyelamatkan klub? Memangnya apa yang bisa Hinata lakukan? Lagi pula Hinata sudah memutuskan untuk bergabung dengan klub memasak.
"Apa maksudmu, menyelamatkan klub?" tanya Hinata.
"Kau kan bisa melihat hantu, itu sebabnya kami membutuhkanmu."
"Apa? Melihat hantu?" gumam Sasuke. Ia tampak ragu dengan ucapan Pein barusan.
"Omong kosong macam apa ini!" bentak Neji.
"Dia yang mengatakannya sendiri kalau dia bisa melihat hantu! Aku bertemu dengannya saat dia datang ke sekolah untuk mendaftar!"
Saat mendaftar sekolah? Jangan-jangan saat kepribadian Hinata berubah waktu itu. Jadi Pein bertemu dengan Hinata? Ini gawat, Neji harus menjauhkan Hinata dari Pein. Jika tidak, bisa saja Pein mengetahui kepribadian aneh Hinata dan menyebarkannya pada satu sekolah.
"Jangan mengada-ngada! Ayo Hinata, aku antar kau ke kelasmu. kalau kau mengganggu Hinata lagi, akan ku patahkan tulang-tulangmu!" Neji menunjuk wajah Pein kemudian menunjuk Sasuke "Kau juga!"
Neji pun menarik Hinata turun ke lantai satu. Meninggalkan Pein dan Sasuke yang masih terdiam di tempat itu. Pein berbalik menghadap Sasuke. Kemudian memegang bahunya dengan erat.
"Kau, bergabunglah dengan Akatsuki," ucap Pein tegas sambil menatap tajam ke arah mata Sasuke. Sasuke memutar bola matanya tanda bosan. Kemudian ia menyingkirkan kedua tangan Pein yang bertengger di masing-masing bahunya. "Tidak mau!" ucapnya sambil berjalan menuruni tangga.
"Argghhh! Bagaimana ini? Kenapa kenyataan ini begitu pahit?! Tapi tidak apa-apa, yang penting aku sudah tahu siapa namanya dan kelasnya. Hanya tinggal buat rencana untuk membujuknya! Yosh! Aku pasti bisaa!"
.
-Konoha Village-
.
Kereta yang ditumpangi oleh Sasuke, Sakura dan Itachi akhirnya berhenti di stasiun Konoha. Mereka bertiga berjalan beriringan menuju rumah masing-masing. Mereka tidak pulang bersama Naruto karena dia harus pulang dengan menggoes sepedanya kembali. Yang pertama sampai adalah Sakura yang memang rumahnya tak jauh dari stasiun kereta.
"Sampai jumpa, Sasuke-kun! Itachi-senpai!" ucap Sakura sambil melambaikan tangannya kemudian masuk kedalam halaman rumahnya.
"Daah!" sahut Itachi sambil membalas lambaian tangan Sakura. Sementara Sasuke hanya ber 'Hn' ria.
Tap
Tap
Tap
Sepi, hanya terdengar suara langkah kaki kakak beradik yang berjalan beriringan ini. Itachi yang biasanya mengoceh kali ini hanya diam. Tidak seperti biasanya. Hingga dari jauh mereka dikagetkan oleh beberapa orang yang berkumpul di depan rumah mereka.
Terlihat disana ada Minato-sama, Sai, beberapa orang klan uchiha dan beberapa polisi. Irish mata Itachi membulat, tanpa pikir panjang ia langsung berlari menuju rumahnya.
"Hei!" Sasuke yang melihat sang Kakak berlari pun ikut membuntuti dari belakang.
Itachi terdiam mematung begitu melihat rumahnya kini dipasang garis polisi. Terlihat beberapa polisi yang melakukan pemeriksaan di dalam sana.
Apa yang terjadi?
Dimana ayah dan ibunya?
Grep!
Sebuah tangan merangkul Sasuke dan Itachi dari belakang. Sasuke menatap orang itu, ternyata Minato-sama. Sedangkan Itachi masih terpaku melihat rumahnya.
"Aku turut berduka cita..."
.
.
.
TBC
A/N :
Hallo minna-san!
Bagaimana menurut kalian tentang chapter ini? Apa ada yang bisa menebak kira-kira siapa yang meninggal? Apakah Mikoto? Fugaku? Atau kucing piaraan Itachi? #duaghh oke abaikan pertanyaan ini.
Oia untuk kalian yg bertanya-tanya tentang pair fict ini, Fai harap kalian bukan 'Pair Fanatic' karna Fai bakal tetap merahasiakan ending pair sampai waktunya tiba XD
Dan tolong jangan terlalu berharap dengan romancenya. Karna Fai gak jago bikin scene romance :v
Oia, bagi yang mengharapkan kemunculan kepribadian lain Hinata. Sepertinya akan muncul di chapter depan :D
Balas Review :
Ashuraindra64 : Shion dan Sara mau aku jadiin tokoh antagonis deh kayaknya, huehe.
Kalo untuk pair Naruto kita lihat saja nanti yaa, dan untuk scene NaruHina itu gak bisa di pungkiri dari fict ini karna mereka berdua sama-sama karakter penting di fict ini -,-
akano eijii : kalo kepribadian Hinata lain milih klub, mungkin dia akan milih klub karate, atau mungkin Akatsuki :v
Euclidz : aku udah lihat tapi baru episode 1 yg cerita di sekolah gitu. Entah itu yg baru apa yang lama deh :v
J : thank you ^_^
Sabaku no Yanie : Heheh, iya nih, aku usahain munculin misteri di tiap chapternya :v
DandiDandi : Hahaha, untuk adegan mistisnya... aku gak yakin kalo scene Akatsuki termasuk mistis apa kagak XD
Intan Margareta Ica269 : Eh jangan, kalo dibuang ke laut ntar di pungut Kisame wkwk
Ah, betul sekali! Genre utama fict ini adalah Drama/Misteri. Jadi untuk romancenya hanya sekedar bagian dari drama dan pengembangan cerita..
Amelia sania : Haha, oke, terimakasih sudah menunggu ^_^
RendyDP424 : Disini aku pake Pein Yahiko ya, kan rambutnya oranye..
Oia dan buat Tobi, Tobi disini itu Obito yaa.
Yosh! Terimakasih pada semua reviewer dan juga para reader yg sudah memfav/foll fict in..
Apresiasi kalian sangat berarti bagi Fai ^_^
