Snow : Terima kasih Snow-san... yah, sebenernya sih belum kuliah... ini juga baru menginjak kelas 3 SMK jurusan Administrasi Perkantoran. Iya, sebenernya sih pengen buat Bya-kun semenderita-derita-derita-deritanya, tapi apalah daya... jumlah word-nya terbatas jadi yah, saya ambil singkatnya saja(?). Hehe... Iya, waktu itu saya cuman berimajinasi tentang tato hitam yang membara... eh, jadi ngelantur deh. Pas ingat kalau itu segel, udah terlanjur dipublish... em... gimana, ya? Saya sih ngga menjamin soal itu, yah. Rencananya sih saya mau bikin Rukia semenderita-deritanya... hahaha #Evil_laugh tapi dia bakal dicintai banyak cowok keren, kok. Suer, lhoh! Tapi kalau soal ending sih... em... pikir-pikir dulu deh, ya...#Sok_misterius_mode_on makasih buat semangatnya, Snow-san... ^u^
Disclaimer : Bleach tetep punya Tite Kubo. Mau nyogok pake uang berapa triliun pun saya Cuma bisa jadi seorang reader pecinta IchiRuki.
Title: Blood x Guard
Genres : Romance, vampire, fantasy(?), supernatural(?), Shoujo, Harem, Action(?), Magic(?), (kemungkinan berakhir) Tragedy
Lagu yang mengiringi pembuatan fanfic ini : S.H.E wings of my word, S.H.EGoodbye my Love (Taiwanese)
Chapter 6 The Solitude of the Wild Flower
Setelah hampir satu bulan absen, Rukia akhirnya kembali ke akademi. Namun Rukia merasa ia bukanlah Rukia yang dulu. Jika dulu dia dengan bangga akan mengayunkan pedangnya ataupun menunjukan kebolehannya di hadapan banyak orang, maka saat ini dia berusaha menahan agar kekuatannya yang tertidur tidak terbangun tiba-tiba.
Sejak ia membuka mata tiga minggu yang lalu, para dewan mulai mengajarinya untuk mengendalikan kekuatannya jika sewaktu-waktu kekuatan itu bangkit. Namun itu tidak efisien karena jika kekuatan gelap itu mengambil alih pikirannya seluruhnya maka pada akhirnya ia tetap menjadi sang monster. Jadi sebisa mungkin Rukia harus menghindari pertarungan.
Jika dulu Rukia begitu penasaran dengan apa yang disebut jenis langka, sekarang ia berharap bahwa ia tidak mengetahuinya sama sekali. Kenyataan itu memang terkadang lebih mengerikan dari apa yang diharapkan. Bersama dengan ingatannya yang sedikit demi sedikit kembali, ia semakin tercekam oleh ketakutan yang menyesakkan.
Setelah masa-masa itu, Rukia merasa asing saat berdiri di depan pintu gerbang. Ditemani oleh kakak iparnya, Rukia melangkah memasuki halaman akademi. Tidak ada yang berubah, semua masih sama seperti yang dulu. Para vampir dan Eve berkumpul dengan komunitas-komunitas mereka masing-masing, sementara manusia-manusia terkurung di gedung.
Bulan sabit di langit seperti seringaian jahat iblis membuat Rukia merinding. Ia merasa bahwa banyak mata yang mengikutinya. Meski berjalan bersama sang kakak, namun Rukia merasa kesepian. Apalagi saat tanpa sengaja tatapannya bertemu dengan salah satu dari komunitas-komunitas itu, Rukia merasa dadanya sesak.
Rukia merasakan tangan lebar kakaknya melingkupi kepalan tangannya, berbagi kekuatan untuk Rukia. Rukia mendongak, tersenyum untuk menenangkan kakak iparnya. Saat mereka berjalan di lorong, Rukia mencari sosok gadis berambut karamel yang seharusnya berada di bawah perlindungannya. Lalu rasa bersalah menyeruak di dadanya.
"Kuchiki-san!" suara itu mengalihkan Rukia dari rasa bersalahnya.
Rukia mendongak dan dalam sekejap ia tenggelam dalam pelukan Orihime. Rukia terpaku selama beberapa saat, sebelum akhirnya membalas pelukan Orihime dengan sebelah tangan. Ia dapat mendengar suara isakan Orihime. Rukia menepuk punggung Orihime dengan lembut, berusaha menenangkan.
"Ssst... kau sudah bukan anak-anak lagi, bukan? Jangan menangis seperti ini," bisik Rukia.
"Hiks... tapi... tapi..."
"Aku baik-baik saja. Maaf tidak bisa menjagamu selama ini."
Orihime melepas pelukannya, menatap wajah Rukia lekat-lekat sebelum akhirnya kembali menjatuhkan dagu di pundak Rukia.
"Aku mendengar dari kakakku bahwa kau harus berhenti menjadi Guardian-ku. Apa itu benar?"
"Ah... itu... " Rukia mendorong pundak Orihime pelan, menunduk lalu melanjutkan dengan sesal. "Maaf, Inoue-sama. Aku ingin menjagamu lebih lama, tapi ada hal lain yang harus aku urus."
Setelah mengatakan hal itu, Rukia melepaskan pundak Orihime. Tanpa berkata-kata lagi, Rukia meninggalkan Orihime yang terpaku dengan air mata berlinang. Rukia menatap punggung Orihime sekilas lalu terus melangkah ke depan, mengikuti langkah kakak iparnya.
Semua... telah berubah.
Sekarang Rukia bukan seorang penjaga. Setelah semua kenangannya kembali, maka ia harus merelakan semua yang dimilikinya saat ini sebagai bayarannya. Rukia... membenci dirinya yang sekarang. Meskipun ia selalu berpikir begitu, toh semua sudah terjadi. Yang harus Rukia jalani adalah masa depan di hadapannya yang entah mengapa terasa mencekam.
Rukia ketakutan setiap kali memikirkan masa depan yang akan ia jalani. Dulu baginya mengabdi pada Orihime sudah merupakan hal terbaik untuknya, namun sekarang semua menguap seperti debu. Rukia menggigil, memikirkan sosoknya yang lain. Sosok kegelapan di dalam dirinya.
Byakuya menatap adiknya dengan khawatir. Ia lalu meraih tangan kiri adik iparnya dan menggenggamnya erat. Hari ini Rukia akan pindah ke kelas istimewa dan hal itu membuat Byakuya khawatir. Memindahkan Rukia ke kelas istimewa adalah keputusan sementara dari para dewan. Byakuya berharap bahwa keputusan ini berlaku selama Rukia menjadi bagian akademi.
Byakuya menatap lantai dengan muram memikirkan bahwa mungkin para dewan akan menjatuhkan pilihan lain yang jauh lebih buruk. Byakuya menggeleng frustasi. Rukia yang menyadari keputusasaan di mata pria itu tersenyum lembut, berusaha menenangkan kakak iparnya.
Sejujurnya Rukia benci telah membuat pria itu menjadi khawatir. Andai saja dia kakaknya, apa yang akan dilakukan wanita itu untuk menenangkan Byakuya?
"Rukia."
Tiba-tiba saja Byakuya berhenti sehingga Rukia pu terpaksa berhenti. Dengan wajah tidak berdosa, Rukia merespon dengan "ng?" yang penuh tanya.
"Kita sudah sampai."
"Ya? Lalu kenapa kita masuk saja?"
Byakuya membisu sejenak, membuat Rukia bertanya-tanya.
"Kau yakin pada keputusanmu?"
"Hm..." lagi-lagi Rukia hanya tersenyum.
Rukia lalu melepaskan genggaman tangan Byakuya, lalu meraih wajah pria itu. Rukia memaksa pria itu untuk menatap tepat di matanya.
"Apa Nii-sama melihat keraguan di mataku?"
Byakuya menatap mata Rukia lurus-lurus, menyelami manik sedalam lautan itu untuk mencari keraguan di dalamnya. Namun Byakuya tidak menemukan apa-apa selain tekad yang membara. Byakuya meraih adik iparnya ke dalam pelukan dengan tangan gemetar. Bayangan Hisana memenuhi benaknya, membuatnya menggigil. Untuk kedua kalinya, Byakuya tidak ingin kehilangan sosok yang berharga untuknya.
"Rukia, teruslah bertahan."
Rukia balas memeluk Byakuya.
"Karena... kau adalah kelemahanku," lanjut Byakuya.
Byakuya lalu melepaskan pelukannya. Rukia tersenyum lalu melangkah memasuki ruang kepala akademi. Byakuya melepaskan tangan Rukia dengan berat hati. Namun gadis itu sama sekali tidak menoleh padanya.
Byakuya mendesah lalu mengikuti langkah gadis itu.
"Aku dengar gadis itu sudah kembali."
Semua kepala menoleh serentak ke asal suara. Pemuda berambut biru itu menyeringai, merasa senang dengan perhatian teman-temannya yang kini kembali padanya. Menyadari respon masing-masing, mereka segera kembali dari kegiatannya dan berpura-pura bahwa ia tidak mendengar apapun dari pemuda berambut biru itu.
"Ayolah, kalian terlambat untuk menyangkal ketertarikan kalian pada gadis itu, tahu!" komentar Grimmjow lalu melemparkan tubuhnya di sofa.
"Tapi aku tidak melihatnya di kelas," sahut Ichigo sementara matanya fokus ke langit malam.
"Dia berhenti menjadi penjaga. Aku dengar dia bergabung dengan kelas istimewa." Grimmjow menatap langit-langit ruangan itu.
"Kelas istimewa? Bukankah kelas itu hanya untuk monster seperti kita?" Ashido yang duduk di sebelah Grimmjow bertanya dengan penuh ketertarikan.
"Sepertinya dia memang bukan manusia biasa. Aroma darahnya sangat asing. Aku belum pernah mencium aroma darah yang seperti itu," tambah Grimmjow. "Aromanya begitu manis. Di saat tertentu sangat dingin dan di saat yang lain berubah menjadi sangat panas."
"Berhenti membicarakan soal makanan di sini!" hardik Kaien yang tengah serius membaca buku di hadapannya.
Semua terdiam mendengar bentakan Kaien. Entah mengapa Kaien selalu berubah menjadi dingin jika membicarakan gadis penjaga dari keluarga Inoue. Seolah-olah Kaien sangat membenci gadis itu. Padahal pada kenyataannya Kaien selalu memandang gadis itu dari kejauhan dengan tatapan lembut.
"Berhenti melihatnya sebagai Miyako, Kaien. Dia bukan Miyako. Miyako-mu sudah mati bertahun-tahun yang lalu."
Buku di tangan Kaien melayang ke arah Ichigo. Namun Ichigo menghindarinya tepat waktu sehingga buku itu hanya mengenai kisi-kisi jendela dan berhamburan.
"Cih, dasar darah kotor!" maki Kaien lalu bangkit dan meninggalkan ruangan itu.
"Cih! Pada kenyataannya darah yang mengalir ditubuhmu sama dengan darah yang mengalir di tubuhku!"
Kaien menutup pintu dengan keras. Meninggalkan suara derak patah engsel di ruangan itu.
"Huh, lagi-lagi dia merusak pintu." Grimmjow mendengus.
Ashido bangkit untuk memeriksa pintu dengan malas. Namun ia terus memaksakan diri. Saat ia membuka pintu, pintu itu segera roboh. Dengan kecepatan secepat angin, Ashido berpindah tempat sebelum pintu itu menimpanya. Lalu segera setelah itu, suara pintu yang remuk terdengar dari Rose Dorm.
Rukia dihadapkan dengan berpasang-pasang mata di ruangan itu, seolah dia adalah seorang penjahat yang diadili oleh hakim di meja hijau. Namun pada kenyataannya memang begitulah keadaannya sekarang. Di sudut yang sedikit gelap, Rukia dapat melihat Hitsugaya Toushiro menatapnya dengan tatapan teduh.
"Kuchiki Rukia, kami akan memindahkanmu ke kelas istimewa. Apa kau tidak keberatan?" suara pria tua itu bergema penuh wibawa di ruangan itu.
"Ya. Saya tidak keberatan!" jawab Rukia tegas, tanpa ada keraguan di setiap kata-katanya.
Hitsugaya menutup matanya mendengar jawaban tanpa ragu dari gadis itu. Byakuya menggeleng pelan, frustasi.
"Keputusan ini hanya untuk sementara. Dalam jangka waktu satu bulan, kami akan mengasingkanmu ke Menara Putih."
Ucapan Yamamoto Genryusai membuat semua kepala menoleh, memandang tidak percaya (kecuali seorang pria dengan topi bergaris). Sedangkan Rukia hanya bisa membisu, tidak mampu menjawab atau menyanggah. Diasingkan... ia belum mendengar tentang hal tersebut.
"Tunggu, Jii-san! Kita belum membicarakan tentang hal ini sebelumnya!" Yoruichi bangkit berdiri, dengan terang-terangan menunjukkan penolakan lewat gerakan.
"Itu benar. Anda tidak mengatakan hal tersebut!" kali ini Byakuya ikut berdiri.
"Ada alasan lain yang tidak bisa aku bicarakan di sini."
"Kenapa? Kenapa anda tidak memberitahu kami? Bukankah kami adalah dewan?" Ukitate Juushiro ikut bergabung dalam perdebatan.
Braaak...!
Pria dengan topi bergaris, Urahara Kisuke berdiri dan menggebrak meja, membuat semua terdiam. Semua perhatian kini teralih pada pria itu.
"Lebih baik kita mendengarkan penjelasan Jii-san lebih dulu!"
Setelah berkata begitu, pria itu kembali menghempaskan tubuhnya di kursinya. Rukia menggenggam ujung seragamnya erat-erat. Keringat dingin meluncur dari dahi menuju dagunya. Sesuatu yang dingin menyentuh kuduknya, namun ia tidak tahu dari mana asal perasaan itu. Ruangan yang semula dipenuhi ketegangan perlahan kembali sunyi. Semua kembali ke tempat duduk masing-masing.
Yamamoto Genryuusai kembali berucap, "untuk menjaga keamanan dan kestabilan akademi, kami akan mengirimmu ke Menara Putih. Apa kau keberatan, Kuchiki?"
Rukia merasa lidahnya kelu, ia tidak dapat berkata apa-apa. Semua yang ada di ruangan itu menunggu dengan tegang. Rukia membuka bibirnya, namun kembali tertutup berulang kali. Di tempat duduknya, Sousuke Aizen tersenyum penuh misteri seperti biasanya. Matanya menatap lurus pada gadis di tengah ruangan yang kini berusaha membuka mulutnya untuk menjawab.
"A... aku bersedia."
Jawaban Rukia menyalakan berbagai reaksi berbeda dari para dewan. Mereka mulai ribut sendiri karena jawaban itu. Byakuya tertunduk kaku di tempat duduknya, tidak mampu berbuat apapun. Yamamoto Genryusai berdehem, berusaha menarik perhatian kembali. Dalam sekejap ruangan itu kembali sunyi.
"Aku tidak memaksamu untuk menerima pilihan ini. Jika kau berubah pikiran, kau bisa berbicara langsung pada kakakmu."
Setelah berkata begitu, pria itu bangkit dan meninggallkan kursinya tanpa berkata apa-apa lagi. Dewan pertama yang keluar mengikuti pria itu adalah si topi bergaris, Urahara Kisuke lalu disusul dewan-dewan yang lain. Meninggalkan Rukia dalam ruangan putih itu dalam kesepian. Kakaknya datang menghampiri, mencengkeram bahunya dengan kehangatan seorang kakak.
"Rukia, kenapa kau menyetujuinya? Kau tahu bahwa menara itu terletak di tempat yang jauh dari sini. Tempat itu sama dengan penjara." Pria itu berbisik di dekat wajah Rukia.
Rukia hanya membalas dengan menutup kedua matanya, tidak mampu menatap sang kakak.
"Mungkin... itu memang yang terbaik."
"Kau... bisa menolaknya."
"Aku tidak ingin menolaknya."
"Rukia..."
"Sejak dulu, aku selalu berpikir siapa aku sebenarnya dan untuk apa aku ada di dunia ini. pada kenyataannya, aku hanyalah bencana. Di dalam diriku mengalir darah monster." Rukia mengepalkan jari-jarinya dengan gemetar.
"Rukia..." Byakuya meremas pundak Rukia yang kini tanpa ekspresi.
"Mungkin... seharusnya aku memang tidak ada di dunia ini."
"Rukia..."
"Nii-sama... terima kasih telah menjagaku selama ini. Terima kasih."
Rukia memeluk tubuh Byakuya sembari terduduk, menekan wajahnya pada perut Byakuya. Tangan-tangannya memegang erat jubah putih Byakuya dengan gemetar. Air mata yang ditahannya sejak tadi akhirnya jebol juga. Rukia berusaha meredam isakannya. Byakuya memeluk kepala gadis itu erat-erat.
"Hisana, apa aku akan kehilanganmu untuk yang kedua kalinya?" bisik Byakuya dalam hati.
Hitsugaya yang melihat gadis itu menangis mencoba untuk bertahan pada tempat duduknya. Untuk pertama kalinya ia melihat gadis itu begitu rapuh. Padahal biasanya ia tampak kuat dan ceria, seolah tidak ada hal yang ia takutkan.
Ah, Hitugaya tahu apa yang ditakutkan oleh gadis itu. Masa depan.
Sama seperti saat itu, saat ia melihat gadis itu tergeletak bersama genangan darahnya. Dan juga neneknya. Hitsugaya saat itu juga berpikir, akan seperti apa kehidupannya selanjutnya tanpa gadis itu dan juga neneknya. Dalam ketakutan yang besar itu, Hitsugaya mulai hidup tanpa ingin melihat masa depan.
Lalu Hitsugaya bangkit dan meninggalkan ruangan itu. Menoleh ke arah gadis itu sebelum akhirnya menutup pintu.
Ichigo berjalan tak tentu arah. Beberapa kali ia berhenti untuk mengamati sekitarnya. Ah, tidak. Mengamati bukanlah hal yang benar. Sebenarnya ia sedang mencari sosok gadis itu. Gadis Kuchiki dengan kekuatan dan keberanian yang tidak terduga.
Wajah angkuh dan keloyalan gadis itu pada majikannya hilang selama nyaris sebulan. Ichigo menjatuhkan tubuhnya di kursi taman, merasa frustasi dengan tingkah lakunya sendiri.
"Ah... kenapa aku melakukan hal seperti ini? Seperti orang bodoh saja!" Ichigo menenggelamkan wajahnya dengan kedua tangan, sebelum akhirnya menyibakkan rambutnya yang mencolok. "Apa aku sudah gila sampai melakukan hal yang tidak berguna seperti ini? Untuk apa aku melakukan ini? Ini semua gara-gara si kerdil itu!"
Ichigo jadi tidak mengerti dirinya sendiri. Ia belum pernah mengalami rasa ketertarikan ini sebelumnya. Sebelumnya ia hanya bermain-main dengan para gadis, tidak pernah sekalipun ia merasakan ketertarikan yang begitu kuat. Ichigo pikir, mungkin ada yang salah dengan hatinya... atau bagian manapun itu.
"Ya... mungkin ada yang 'rusak' pada diriku karena selama ini aku 'tidak utuh'. Aku hanya 'setengah'!" tegasnya pada dirinya sendiri.
Tapi pada akhirnya ia meraung lagi. Merasa konyol dengan kata-kata penegasannya sendiri. Ichigo lalu membaringkan tubuhnya pada kursi taman, menatap bulan di langit yang bertabur bintang. Lalu perlahan-lahan kelopak matanya tertutup.
Tapi... Ichigo segera membuka matanya kembali. Ia tidak ingin bermimpi lagi dan jika ia tidur, mungkin ia akan bermimpi tentang hal-hal itu lagi. Tapi matanya begitu berat. Pada akhirnya ia jatuh tertidur. Dan mimpi dari masa lalu itu muncul kembali. Mimpi itu... tentang wanita itu, wanita berambut indah seperti karamel.
"Maaf, Ichigo."
Pisau berhias indah itu berkilau tertimpa cahaya lampu, menggantung di tangan wanita itu. Warna pisaunya seputih salju, begitu putih dan dingin. Namun perlahan-lahan warna putihnya tenggelam dalam warna merah yang kental, menodai kesucian warnanya.
"Maaf."
Air mata menetes, jatuh dari dagu wanita itu.
"Maaf."
Ichigo menutup kedua telinganya, tidak mampu mendengar perkataan maaf wanita itu. Dan tubuh wanita yang terbungkus gaun putih tenggelam dalam warna merah yang kental. Namun suara permintaan maaf wanita itu masih terus bergiang di telinganya.
Pisau di tangan wanita itu terjatuh, menimbulkan suara bergemelontang di lantai marmer. Dan seketika itu juga, ia membuka mata dengan nafas tersengal. Keringat membasahi tubuhnya. Ichigo menutup mata dengan lengan kirinya.
Hanya sebentar ia tertidur dan wanita itu pun muncul. Kenapa? Padahal kejadian itu sudah berlalu lama tapi bayangannya tetap mengikuti Ichigo. Atau sebenarnya ia yang menuntun bayangan itu, Ichigo pun tidak mengerti.
Saat Ichigo menoleh ke sampingnya, tiba-tiba sebuah pisau bersarung indah teracung padanya. Saat Ichigo mendongakkan wajah, matanya bertemu dengan sepasang mata yang selalu ia cari sebulan ini. Wajah gadis itu tampak semakin pucat dari yang terakhir Ichigo ingat. Seketika itu juga Ichigo bangkit terduduk. Andai saja harga diri Ichigo tidak selangit, mungkin ia akan segera menarik gadis itu ke pelukannya.
Ichigo menatap pisau di tangan gadis itu sejenak. Mimpi itu... karena benda ini. Ichigo mengambil pisau itu dengan kasar, lalu menyimpannya di balik jas.
"Kenapa kau membawa benda tajam? Bukankah siswa di larang membawa benda tajam selain guardian?"
Ichigo memutar matanya. Baru saja ia bertemu dengan gadis itu dan langsung dihadiahi oleh ceramah. Padahal perasaan senangnya baru saja kembali. Apa gadis ini sama sekali tidak peka? Oh, oke. Itu bukan masalah peka atau tidak peka, tapi memang begitulah sifat gadis ini.
"Bukan urusanmu."
"Sepertinya benda itu penting untukmu?"
"Bukan urusanmu."
"Cih!" gadis itu berdecih.
"Kau sendiri? Kau tidak berjaga?"
Gadis itu terdiam sejenak, atau lebih tepatnya enggan menjawab.
"Bukan urusanmu!"
Setelah berkata begitu, gadis itu pun berbalik untuk meninggalkan tempat itu. Namun Ichigo menahan lengannya, membuat gadis itu terpaksa menghentikan langkahnya. Ia menoleh kembali pada Ichigo dengan wajah kesal.
"Apa?" tanyanya ketus.
Keduanya saling bertatapan selama beberapa saat, membuat gadis itu semakin kesal.
"Aku ingin tidur."
"Heh?"
Sebelum Rukia menyadarinya, tubuhnya telah ditarik dengan paksa. Tubuhnya bertabrakan dengan dada pemuda itu dalam posisi yang tidak nyaman karena Rukia setengah berjongkok di antara kaki Ichigo yang terbuka. Andai saja lengan pemuda itu tidak menahan tubuhnya, mungkin ia sudah terjatuh. Tapi dengan posisi yang seperti itu, mereka berdua jadi terlihat mencurigakan. Diam-diam Rukia melirik kanan-kirinya, takut jika ada yang melihat posisi yang aneh itu.
Rukia segera bangkit dengan kesal, namun vampir muda itu memaksanya duduk di sebelah vampir itu. Rukia hendak bangkit, namun pundak kanannya terasa berat. Saat Rukia menoleh, yang terlihat oleh ujung matanya adalah rambut oranye vampire muda itu.
"Pantas saja berat. Ternyata dia menjadikan pundakku sebagai bantal!" pikir Rukia jengkel.
Rukia mendorong kepala oranye vampire itu, namun tidak bergeming. Rukia lalu menepuk-nepuk pipi pemuda itu, namun tidak menghasilkan efek apapun. Rukia dengan jengkel mendorong kepala itu menjauh.
"Jangan mengganggu! Aku ingin tidur!" Sebelah mata Ichigo terbuka lalu kemudian tertutup dengan cepat.
Kepalanya kembali tersandar di pundak Rukia. Lalu terdengar suara nafas yang teratur. Rukia merasa geli karena nafas vampir muda itu menggelitik lehernya.
"Dia sudah benar-benar tidur, ya?" pikirnya sembari mengintip sebelah wajah Ichigo yang tampak tenang.
Dalam jarak yang sedekat ini, Rukia dapat mencium aroma vampire itu. Aroma yang tidak biasa. Bisa dibilang aroma yang unik dan entah mengapa itu membuat Rukia nyaman. Rukia hanya merasa bahwa vampir muda itu sama sepertinya.
"Aneh. Padahal wajahnya saat tertidur tadi terlihat gelisah. Tapi sekarang wajahnya begitu tenang," pikir Rukia.
Rukia melemparkan pandangan pada bulan di langit. Langit yang membuatnya ketakutan sekarang terlihat biasa-biasa saja. Rasa takut yang dirasakan Rukia lenyap.
"Hanya satu bulan, huh?" bisiknya pada angin.
Rukia tidak menyadari bahwa telinga tajam Ichigo mendengar bisikan itu. 'Hanya satu bulan' adalah kata yang ambigu untuknya.
"Kau aneh juga. Bukankah vampir tidur di siang hari?" bisik Rukia pelan.
Angin malam berhembus, membuat rambut-rambut mereka menari. Perpaduan warna yang mencolok. Rambut hitam sepekat malam Rukia bersanding dengan warna senja Ichigo. Namun entah mengapa begitu serasi.
"Sampai kapan aku harus menungguimu seperti ini?"
Rukia mendesah. Entah berapa lama akan seperti ini, namun Rukia merasakan bahwa pundaknya mulai pegal. Ia lalu merebahkan kepalanya pada sandaran kursi taman. Angin sepoi-sepoi membuatnya terkantuk-kantuk namun Rukia sebisa mungkin menahan kantuknya dan menjaga kesadarannya.
Namun meski ia berusaha keras membuka matanya, pada akhirnya kelopak mata Rukia perlahan-lahan mulai tertutup. Kewaspadaannya lenyap dalam kegelapan. Lalu kisah dari masa lalu mulai mengalir dalam mimpi-mimpinya. Tanpa sadar, air mata menetes saat bayangan wanita yang mirip dengannya tersenyum lembut padanya.
"Nee... chan..." racaunya.
Entah berapa lama mereka tertidur. Orang pertama yang terbangun adalah Ichigo. Saat mendapati gadis itu tertidur di sampingnya, Ichigo menggerutu. Ia hendak memukul kepala gadis itu untuk membangunkannya. Ia sudah mengangkat kepalan tangannya dan mengarahkannya pada wajah Rukia. Namun niat itu terhenti saat tinjunya tinggal beberapa centi dari wajah Rukia.
Air mata mengalir di pipi gadis itu, membuat Ichigo bertanya-tanya apa yang sedang dimimpikan oleh gadis itu hingga menangis. Apakah mimpi yang buruk? Sama seperti Ichigo yang juga memimpikan hal-hal buruk itu? Ichigo membuka kepalan tangannya, lalu mencubit pipi Rukia pelan.
"Kenapa kau juga tidur, bodoh!" bisiknya.
Tanpa sadar matanya jatuh pada bibir merona Rukia yang sedang sedikit terbuka. Warnanya semerah cherry, nampak ranum dan menggiurkan. Lalu pandangannya terus turun hingga leher Rukia yang putih bersih. Pikiran-pikiran kotor segera memenuhi kepala Ichigo, membuatnya segera berpaling cepat dari gadis itu dengan wajah memerah.
"Apa yang baru saja aku pikirkan, sih?" rutuknya dalam hati.
Ichigo menutup bibirnya yang berkedut dengan punggung tangan kiri lalu menoleh dengan ragu-ragu pada Rukia. Namun tetap saja, gadis itu nampak menggiurkan. Ichigo tanpa sadar meneguk ludahnya sendiri. Dengan cepat Ichigo bangkit dan sedikit menjauh dari gadis itu.
Ia merasa frustasi dengan pikiran-pikirannya yang kotor. Ichigo menyibakkan rambutnya yang menghalangi pandangan. Kembali ia melirik gadis itu, lalu dengan cepat segera menolah ke arah lain. Kali ketiga Ichigo menoleh pada Rukia, gadis itu menggeliat dan mengerang pelan.
"Arrrrgh... apa yang sedang aku pikirkan, sih?" Ichigo mengacak rambutnya sendiri karena frustasi.
Ichigo lalu bangkit dengan cepat, lalu segera melangkahkan kakinya. Namun baru beberapa langkah, vampir muda itu berbalik dengan melepas jas sekolahnya. Ia menyelimuti tubuh gadis itu dengan jasnya, lalu kembali berbalik. Baru saja ia mencapai beberapa langkah, Ichigo kembali mendekati gadis itu.
Seperti orang yang bodoh, Ichigo lalu berdiri selama beberapa detik untuk memandangi wajah gadis itu. Lalu ia mengangkat tubuh gadis itu dengan lengan-lengannya yang kekar. Gadis itu mengerang pelan, mencari posisi yang nyaman namun ia sama sekali tidak terbangun. Selama beberapa saat, Ichigo terpaku di tempat itu.
Ia berusaha mencerna apa yang baru saja dia lakukan. Namun sudah terlambat baginya sekarang. Ia tidak mungkin menurunkan Rukia kembali. Apalagi saat ia merasakan tubuh Rukia yang begitu dingin. Lalu tanpa berpikir dua kali lagi, Ichigo membawa gadis itu bersamanya.
Bulan sabit tersenyum dengan jahat, membiaskan cahayanya yang dingin dan misterius menimpa apa saja yang ada di bawah langit. Pria muda itu berdiri tanpa rasa takut meski di hadapannya berdiri monster-monster raksasa. Pakaiannya yang seputih cahaya bulan mencolok di kegelapan. Di tangannya tergenggam senjata berwarna putih seperti roda.
Saat monster-monster itu menyerang, pemuda itu melepaskan anak panah dari roda itu. Beribu-ribu anak panah muncul dan menghujani moster berjumlah 3 itu. Suara raungan yang mengerikan menggaung di udara. Dalam sekejap saja, moster-monster itu menghilang seperti debu.
Pemuda itu menaikkan kacamata dengan jari telunjuknya. Pandangannya lalu terarah pada bangunan di tengah-tengah hutan yang berwarna putih. Night Academy. Mangsa yang diincarnya sejak lama ada di sana. Monster itu ada di sana.
Setelah melihat bangunan itu sekilas, pemuda itu lalu berbalik lalu melepaskan anak panahnya. Dua moster sekaligus segera melebur, tenggelam dalam hujan panah yang tidak berkesudahan. Lalu dengan cepat pemuda itu menghilang di antara bayangan-bayangan pohon.
Kelak, ia pasti akan membunuh monster itu dengan tangannya sendiri.
Saat Rukia tersadar, ia sudah berada di tempat yang tidak ia kenali. Jelas kamar itu terlalu mewah untuk ukuran kamar di asramanya. Sedangkan tempat ini, yang didominasi dengan warna hitam tampak glamor. Rukia mengalihkan pandangannya ke seberang ruangan. Ia sadar bahwa selain mewah, tempat itu juga begitu luas. Jelas pemiliknya adalah seorang bangsawan.
Namun yang Rukia pikirkan adalah, siapa pemilik kamar ini?
Suara berkeriut ranjang menjawab kebingungan Rukia. Ia dengan cepat menoleh ke belakang punggungnya. Mata Rukia membesar saat menangkap warna oranye di balik selimut yang sama dengannya.
Tanpa harus berpikir lebih lanjut, Rukia jelas tahu siapa pemilik rambut dengan warna langka tersebut. Dia adalah... vampir yang dengan seenaknya tidur di pundak Rukia.
"Tunggu dulu! Kenapa aku bisa seranjang dengannya?!" tanpa sadar Rukia berteriak dengan keras.
Pemilik ruangan itu menggeliat di balik selimutnya, tanda ia terganggu.
"Berisik!"
Lalu tangan vampir muda itu terulur, menarik dahi gadis itu untuk tidur kembali.
"Waaaakz..." Rukia berteriak terkejut.
Kini ia kembali terbaring di ranjang itu. Sebelum Rukia bereaksi lebih lanjut, sebuah tangan kekar melingkari pinggangnya dengan kuat. Rukia kembali berteriak histeris, namun pemuda itu segera membungkam mulutnya dengan tangannya. Pandangan Rukia bertemu dengan pandangan sayu Ichigo.
"Diam, atau aku akan membungkammu dengan bibirku!" ancamnya.
Rukia menggeram kesal. Dengan kasar ia menyibak selimut dan bangkit. Namun tangan kuat Ichigo telah meligkari pinggangnya kembali. Tangan Ichigo yang dingin dan sekeras batu membuat Rukia tidak berkutik. Apalagi setelah sebelah tangan Ichigo yang lain juga ikut menahan tubuhnya, Rukia hanya bisa mendesah pasrah. Dalam hati ia berjanji untuk memberi vampir itu pelajaran.
Dari ruangannya, Sousuke Aizen menatap Rose Dorm dari kejauhan. Senyum ramah namun misterius senantiasa menghiasi wajahnya yang menawan. Ia memainkan jam pasir mungil di tangannya.
"Sepertinya pria tua itu mengetahui rencana kita, ya? Makanya dia sengaja menjauhkan gadis itu dari kita," kata Aizen.
Dua sosok manusia muncul dari balik bayangan. Seorang pria dengan senyum rubah dan seorang pria berkulit cokelat. Mereka lalu bergabung di meja Aizen. Pria seperti rubah yang senantiasa menutup kedua matanya, kini membuka matanya. Meski ia sedang tersenyum, namun matanya yang sebiru langit tidak menunjukkan senyum itu. Yang terlihat hanyalah pandangan dingin yang tidak dapat didefinisikan.
"Lalu apa yang akan kita lakukan, Aizen?" tanya pria rubah itu.
"Untuk sementara kita lihat situasinya dulu sembari mengatur strategi."
"Apa dia benar-benar 'yang membawanya'?" kini giliran pria lain yang bertanya.
"Hm... kali ini tidak akan salah lagi. Gadis itu yang membawanya. Kisuke benar-benar bodoh. Dia mengira aku tidak mengetahuinya hal itu."
Kedua pria itu lalu terdiam. Ruangan itu kembali sunyi untuk waktu yang cukup lama.
"Tapi dalam jangka waktu satu bulan, gadis itu akan akan segera dipindahkan ke Menara Putih." Si pria rubah angkat bicara. "Selain itu, menara itu memiliki tingkat perlindungan paling ketat di Soul Society."
"Jangan khawatir, Gin. Kita hanya perlu orang yang tepat untuk membuatnya tetap berada dijangkauan kita."
"Orang yang tepat?"
"Ya." Pandangan Aizen kembali pada Rose Dorm.
"Orang yang tepat itu adalah?" Pria rubah itu, Ichimaru Gin kembali bertanya.
"Makhluk yang sama dengannya."
"Makhluk yang sama?"
"Makhluk yang merasa dirinya bukanlah makhluk yang utuh!"
Mata Aizen menyipit. Pandangannya terasa dingin meski ia tetap tersenyum seperti biasanya. Pandangannya lurus ke Rose Dorm, seolah-olah pandangannya mampu menembus tembok-tembok Rose Dorm.
Di ufuk timur, matahari pagi mulai menampakkan separuh dari tubuhnya.
"Apapun yang terjadi, 'buah keabadian' itu pasti akan menjadi milikku," bisik Sousuke Aizen.
Hiks... hiks... akhirnya... chapter ke 6 selesai juga. Hm... hm... emang sih chapter kali ini lebih pendek dari chapter yang kemarin. Habis... lagi kekurangan ide ini... huhuhu... pas aku baca ulang, aku jadi malu sendiri sama karyaku ini. Banyak yang harus diperbaiki... begitu pula penggunaan nama depan dan nama belakang. Di chapter 1 sampai chapter entah berapa, aku tempatkan first name dulu, baru surnames. Nah, berhubung pengetahuan tentang jejepangan mulai meningkat, aku meletakkan surnames dulu baru first nama. Yah, jujur aja aku lebih nyaman dengan peletakkan surname di depan.
Untuk minna reviewer semuanya, maaf atas ketidaknyamanan saat membaca fanfic ini. Sekali lagi maaf. Sebagai seorang manusia biasa, saya juga bisa tidak luput dari kesalahan. Akhir kata... saya tunggu deh kripik pedasnya... jangan lupa sarannya juga, ya...
Ah... dan saat membaca ulang... rasanya sedih banget. Ceeritanya banyak yang terputus-putus... huhu...
