Mom

Cast :

Oh Sehun

Lu Han

dll

Rated : M

Genre : Mature Content, Sex Scene, Drama.

Warning : Typo bertebaran, EYD berantakan, dan Cerita abal-abalan.

DON'T LIKE DON'T READ

DON'T BE SILENT READER

~Banana Sehun present~

Happy reading^^

.

.

.

Dihempaskannya tubuh Luhan pada ranjang miliknya dengan pelan walaupun kesabarannya sudah diambang batas. Melihat Luhan tengah memanjakan dirinya tadi membuat tubuhnya juga ikut memanas minta dipuaskan. Dan tanpa menunggu lama ketika sang Mama memberikan kode untuknya dirinya langsung menggendongnya menuju kamar.

Tubuhnya menindih Luhan walaupun kedua sikunya masih mempertahankan berat tubuhnya sendiri agar tak terlalu menghimpit Luhan. Wajah berkeringat dibawahnya membuat birahinya semakin naik. Dikecupnya bibir semerah ceri itu berulang kali sebelum menyesap bibir bawah Luhan perlahan dibarengi Luhan yang menyesap bibir atasnya. Bibir mereka bergerak tak beraruturan mencari kenikmatan tersendiri.

Luhan mengalungkan tangan kurusnya pada leher Sehun membuat pemuda diatasnya semakin menempel pada tubuhnya. Putingnya yang mengeras dibalik bajunya yang sudah tak terpasang sempurna bergesekan dengan dada Sehun membuatnya mendesah keenakan. Semakin digesekkannya putingnya itu berulang kali. Sehun yang menyadari hal itu segera melepas pagutan bibir Luhan dan beralih pada dada kenyal milik sang Mama.

Bunyi kecipak saliva terdengar memenuhi ruangan bercat abu-abu itu ketika bibir Sehun tidak henti-hentinya bermain pada puting Luhan. Lidahnya sesekali ikut memainkan puting merah muda milik Lugan. Sedang payudara yang satunya tengah ia remas kencang dan menaik turunkan seperti bola. Putingnya juga tak lupa ia pilin-pilin gemas dan dicubiti kecil membuat empunya mendesah keras.

Dijilatinya seluruh permukaan payudara Luhan dengan lidahnya membuat benda itu mengkilat basah tak lupa meninggalkan jejak dibeberapa bagian. Kepalanya turun kebawah kearah pusat gairah Luhan yang masih terbungkus celana dalam berwarna hitam. Diusapnya klitoris Luhan dari luar berkali-kali sampai tangannya merasakan basah dibawah sana.

"Sudah keluar eh?" Ejek Sehun disela-sela kegiatannya. Luhan membalas ejekan Sehun dengan desahan menggodanya berharap si pemuda berhenti mempermainkannya.

Bibirnya melumat lagi puting Luhan yang membuatnya sangat tergiur walaupun sudah merasakannya berulang kali. Disedotnya puting itu berulang kali berharap akan keluar cairan dari dalam sana walaupun nihil. Tangannya merambat memasuki celana dalam Luhan dan menekan kasar klitorisnya membuat Luhan menggeliat tak nyaman. Tangan Sehun memainkan klitoris Luhan dibawah sana dengan telunjuk tangannya sampai dirinya merasakan basah pertanda Luhan baru saja mengalami klimaksnya.

"Menikmatinya sayang?"

"Kau.. uhh benar-benar bajingan. Cepat masukan penismu agar permainan ini cepat selesai"

"Tapi aku tak ingin semua ini cepat berakhir Ma"

Sehun beranjak berdiri melepas baju serta celananya hingga terpampangnya penis tegang menantangnya. Luhan menjilat bibirnya sekali dan segera berjongkok di depan Sehun lalu menangkup penis itu dengan kedua tangannya. Lidahnya sedikit menjilat ujung si penis yang sudah mengeluarkan precum membuat Sehun mengerang seperti binatang buas. Sehun menjambak rambut panjang Luhan lalu menjejalkan penisnya kemulut si perempuan membuatnya tersedak.

Penisnya keluar masuk pada mulut Luhan dengan erotis. Bayangan keduanya pada dinding yang terkena sinar bulan membuat Sehun menyeringai. Bukankah posisi Mamanya saat ini bebar-benar menggoda. Sehun ikut membantu menggerakkan kepala Luhan ketika penisnya sudah semakin membengkak pertanda dirinya akan klimaks. Sperma kentalnya masuk seluruhnya ke mulut Luhan lalu di telan si perempuan tanpa rasa jijik.

Sehun mengangkat tubuh Luhan lalu melemparkan ke ranjang menimbulkan decitan keras. Ia kungkung si perempuan dengan dekapannya dan ciuman panas terjadi setelahnya. Tangan lentik Luhan dengan usil mengelus penis Sehun membuat benda itu tegang kembali. Sehun menyampaikan kekesalannya dengan menyesap lidah Luhan kasar dan membelitnya dengan lidahnya sendiri.

Dibaliknya tubuh Luhan dalam posisi tengkurap dan secara otomatis Luhan dengan sendirinya mengangkat pinggulnya. Sehun menampar pantat berisi Luhan berulang kali meninggalkan bekas kemerahan disana. Ditenggelamkannya wajahnya itu pada lipatan bokong Luhan guna menikmati lubang merah berkedut. Lidahnya terjulur dan segera disambut cengkraman membuat Sehun mendesis. Ini baru lidahnya bagaimana jika penisnya yang bermain disana.

Ketika dirasa lubang itu telah siap Sehun langsung memposisikan penisnya disana. Sedikit mengusap ujung penisnya disana sebagai pelumas agar tak terlalu sakit walaupun percuma. Dengan sekali sentakan penisnya bisa tertanam sempurna di dalam sana. Keduanya melenguh keenakan hingga Luhan bergumam menyuruh Sehun bergerak. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan Sehun segera memaju mundurkan tubuhnya dengan tempo yang teratur di awal lalu cepat setelahnya.

Lubang Luhan yang menjepit penisnya secara sempurna membuat sensasi nikmat yang tak bisa digambarkan. Tangan Luhan meremas sprei abu-abu Sehun sampai kusut menyalurkan kenikmatan yang dirasakan. Tubuhnya terhentak-hentak kencang hingga rasanya untuk bernafas pun sulit. Rambutnya lepek karna keringat menempel pada kulit wajahnya menambah kesan seksi pada dirinya.

Luhan mencondongkan tubuhnya kedepan saat cairannya keluar bersama dengan sperma Sehun yang memenuhi lubangnya. Tubuhnya terasa remuk karna terlalu lama bergerak. Kepalanya pun sudah bersandar lemas pada bantal milik Sehun. Tapi siapa sangka jika Sehun langsung memutar posisi keduanya tanpa melepas tautan kelamin mereka membuat Luhan mendesis.

Tubuh Sehun bersandar pada ranjang dengan Luhan yang berada dalam pangkuannya. Mulutnya tidak berhenti bekerja sedari tadi untuk menyusu pada sang Mama. Dilumatnya puting sang Mama bergantian membuat Luhan hanya mendesah pasrah. Sehun memang sangat pandai memberinya kenikmatan. Wajah pemuda itu kini tengah menempel pada payudara kenyalnya seperti bayi. Luhan ikut mendorong kepala pemuda itu agar putingnya benar-benar terpuaskan.

Setelah dirasa penis Sehun di dalam lubangnya keras kembali Luhan segera menggerakkan tubuhnya naik turun. Sehun membantu memegangi pinggang Luhan agar ia tidak terlalu lelah. Dengan posisi seperti ini membuat penisnya dapat menusuk gspot Luhan telak. Benda kenyal didalam sana berkali-kali berbenturan dengan penisnya ditambah lubang Luhan yang mencengkram kuat membuat sensasinya semakin nikmat.

Payudara kenyal Luhan ikut bergoyang seirama pergerakan si empunya yang tengah menaik-turunkan tubuhnya cepat. Gerakannya semakin cepat saat dirinya akan mencapai klimaks entah yang berapa kali. Tapi Sehun tak membiarkannya begitu saja. Pemuda itu membawanya turun dan berdiri dengan kakinya yang diangkat ke bahu dan satunya masih menginjak lantai. Posisi seperti ini sebenarnya sangat merepotkan. Tapi mau bagaimana lagi jika dirinya juga sama-sama merasakan kenikmatan.

.

.

.

Luhan melenguh pelan ketika merasakan pergerakan dibawah sana. Matanya yang masih lengket terpaksa dibuka dan menemukan rambut hitam yang menusuk lehernya. Sedangkan si pemilik rambut tengah asik menyesap putingnya pelan. Demi tuhan dirinya baru menutup mata ketika jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Tapi si brengsek ini memang tak ada puasnya. Lihatlah pinggulnya yang saat ini tengah bergerak memasukkan penisnya yang semalam sengaja tak ia keluarkan.

"Sehun-ah"

Plop

"Ya Ma?"

"Aku sungguh lelah. Semalam kita melakukannya entah sampai berapa kali klimaks tapi pagi ini pun kau masih belum puas" Luhan mengeluh dengan mata sayunya. Sehun menjajarkan wajahnya dengan Luhan dan mengecup mata seperti rusa itu bergantian.

"Maafkan aku. Jika kau lelah tidurlah kembali. Aku bisa menyelesaikannya sendiri" setelah itu Sehun melepaskan tautan keduanya dan manatap prihatin penisnya yang masih mengeras di bawah sana. Setelah itu kakinya berjalan menuju kamar mandi.

Inginnya bercinta di pagi hari tapi malah berakhir bersolo di kamar mandi.

Setelah mengurus penisnya juga membersihkan tubuhnya yang sangat berbau sperma Sehun segera keluar dengan handuk yang melilit pinggangnya. Matanya menemukan Luhan yang tengah menggelung rambutnya asal dan memakai kaos kebesaran miliknya.

"Mau mandi?" Tanya Sehun sambil berjalan menuju lemari pakaian dan menarik satu kaos dari sana.

"Tid- astaga Sehun-ah! Appamu.. pasti Appamu sudah pulang. Bagaimana ini?" Luhan berjalan menghampiri Sehun dengan gelisah. Dirinya sangat khawatir jika Seho memergoki kegiatan mereka semalam. Bagaimana jika Seho marah dan menceraikannya dan menuntut penggantian biaya operasi Junghan. Dirinya ingin mati saja jika hal itu sampai terjadi.

Sehun berjalan tenang menghampiri meja nakas dan mengambil ponselnya. Sedikit menekan beberapa tombol lalu diarahkannya layar ponselnya itu pada Luhan. "Appa tidak pulang semalam. Dia harus pergi ke China untuk menangani kantor cabang yang baru di bukanya disana" jelas Sehun membuat wajah tegang Luhan berangsur-angsur hilang.

"Tidakkah kita seperti pasangan yang sedang berselingkuh?" Tanya Sehun mencoba mengalihkan topik. Dirinya tak suka jika sedang bersama Luhan harus membicarakan Appanya. Cemburu itu wajar okey.

"Begitukah?"

"Ya. Apa kau marah? Kau menyesalkan?"

"Sehun.." Luhan menangkup kedua pipi Sehun dengan kedua tangannya. Kakinya sedikit berjinjit karna tingginya hanya sampai hidung Sehun saja. "Aku tidak menyesalinya sama sekali. Jujur aku suka. Aku menyukai setiap perlakuanmu padaku dan aku sangat kecewa saat kau bersifat dingin. Jujur diawal pertama kali kita bertemu aku sudah tertarik padamu. Aku tahu ini konyol, bagaimanapun sekarang aku sudah menjadi ibu tirimu. Tapi aku juga punya hati. Aku tidak bisa menampik setiap getaran-getaran yang aku rasakan saat didekatmu. Jangan pernah berpikiran buruk lagi tentangku. Bisakah?" Mata rusanya yang sedari tadi tepat menatap manik kelam Sehun kini tertutup. Perasaan sedih dan bersalah kini bersarang di hatinya. Dirinya merasa terlah mempermainkan seorang Appa dan anak. "Aku tahu jika yang kita lakukan adalah sebuah dosa. Aku tahu"

Sehun terdiam mendengarkan setiap perkataan yang keluar dari bibir semerah ceri itu walaupun kini terlihat sedikit pucat. Hatinya menghangat. Senyum dibibirnya merekah lebar. Dipeluknya tubuh wanita di depannya itu erat. Ternyata perasaannya selama ini terbalas. Ternyata Luhan juga menyukainya. Persetan dengan hubungan mereka sebagai ibu dan anak. Cinta itu memang gila kan. Sehun mengecupi pucuk kepala Luhan berkali-kali dan membisikkan kata-kata mesra.

.

.

.

"Pancake?" Sehun mengernyit heran melihat tumbukan roti bundar di piring piring kecil yang tengah Luhan pegang. Biasanya setiap pagi Luhan hanya menyiapkan roti bakar dan selai coklat. Jadi ketika menu sarapan kali ini sedikit berbeda tentu saja membuatnya heran.

Lelehan madu manis yang mengotori permukaan piring kecil itu menjadi pemandangan yang menakjubkan. Setelah selesai tangannya menepuk lengan Sehun sekali yang melingkar erat di pinggangnya.

"Ayolah Tuan Oh. Aku sudah sangat lapar dan membutuhkan sesuatu untuk ku santap"

"Baiklah Nyonya Oh yang terhormat" Luhan tersenyum ceria. Bukankah panggilan seperti itu sangat manis jika mereka berada dibawah satu marga yang sama.

Luhan meletakkan dua piring kecil juga dua gelas susu di meja makan. Setidaknya jam 10 masih dibilang pagi untuk mereka sarapan. Sebenarnya akan lebih mudah jika mereka memilih memesan makanan di salah satu restoran di hotel ini. Tapi Luhan rasa itu tidak perlu jika dirinya masih bisa memasak walaupun pinggangnya masih sedikit nyeri akibat aktifitas mereka semalam.

"Sehunnhh.."

"Ya" Sehun menoleh ke arah Luhan yang duduk tepat di sisi kirinya dengan wajah yang dibuat sepolos mungkin. Sosok di sampingnya malah melotot kearahnya dengan wajah memerah.

"Bisakah kita makan dengan tenang?"

"Tentu saja" jawab Sehun santai.

Luhan menghembuskan nafasnya perlahan mencoba menekan amarahnya yang sudah diubun-ubun. "Singkirnya tanganmu dari payudaraku brengsek. Bukankah semalam kau sudah puas melahapnya selama berjam-jam?" Sungut Luhan mencoba melepas tangan Sehun yang merangkul pundaknya dan meremas payudara kirinya. Selera makannya benar-benar menghilang setelah itu.

"Payudaramu tak mengeluarkan susu juga Ma. Makanya aku ingin memerasnya terus menerus agar cairan putih itu keluar" jelas Sehun dengan ceria berbalik dengan ekspresi kesal milik Luhan.

"Bodoh"

"Mama marah?" Sehun memasang wajah sedih dan menatap Luhan. Mata sipitnya ia buat berkedip-kedip imut mencoba beraegyeo di depan Luhan. "Baiklah aku akan berhenti" Sehun langsung melepas tangannya dari tubuh Luhan dan kembali fokus pada pancakenya yang masih banyak.

Luhan tersenyum manis dan merapatkan tubuhnya pada Sehun. "Aku tidak marah Sehun-ah. Hey berhenti merajuk seperti itu. Kau seperti bayi yang kehilangan botol susunya"

"Kau memang telah merebut botol susuku"

Luhan memutar bola matanya jengah. "Bagaimana jika setelah ini kau menemaniku belanja. Kulihat kulkas kita sudah tampak kosong. Aku juga ingin membeli sesuatu untuk ulang tahun Junghan nanti"

"Aku malas" sewot Sehun.

"Ayolah~ satu ronde setelah berbelanja. Bagaimana?" Luhan memberi tawaran yang langsung membuat senyum di wajah Sehun merekah.

"Baiklah jika kau memaksanya"

"Cih dasar"

"Ayo membuat pesta kejutan untuk Junghan"

"Pesta? Tapi Junghan masih belum di perbolehkan keluar dari rumah sakit. Kurasa memberinya sebuah kado sudah cukup"

"Hey kita bisa melakukannya di kamar rawat Junghan. Hanya pesta kecil-kecilan. Dia pasti merasa senang dan kesehatannya akan membaik dengan cepat"

"Akan kufikirkan"

.

.

.

"Jelly? Kenapa kau mengambil jelly?" Luhan menatap heran trolly belanjaannya dan menemukan dua kotak jelly ukuran besar. Dirinya merasa tisak mengambilnya tadi. Jadi jika bukan dirinya pasti Sehun pelakunya.

"Memangnya kenapa jika aku mengambil Jelly? Jelly itu kenyal dan manis"

"Seperti bocah saja"

"Lagipula Jelly juga mengingatkanku dengan payudaramu. Kenyal dan manis" ucap Sehun sambil menerawang keatas dan tersenyum idiot.

Luhan memukul lengan Sehun keras membuat fantasi pemuda itu buyar. "Dasar mesum. Cepat dorong trollynya. Masih banyak barang yang harus kubeli"

"Dasar ibu tiri" cibir Sehun lirih di belakang Luhan.

"Aku masih bisa mendengarnya. Dan ngomong-ngomong aku memang ibu tirimu jika kau tak lupa" sahut Luhan tanpa menoleh kearahnya dan memilih fokus pada botol caos yang berjejer di rak.

"Ma tunggu sebentar" Sehun memanggil Luhan membuat perempuan itu berhenti dan menoleh bingung kearah Sehun. Pemuda itu kini asik mengampiri deretan susu kotak dan mengambil beberapa dari sana. Setelah itu menghampiri deretan berbagai jenis coklat dan juga mengambil banyak bungkus coklat.

"Astaga kau benar-benar seperti bocah sekolah dasar"

.

.

.

"Luhan!" Yang dipanggil segera menoleh dan menemukan wanita paruh baya dengan dua kantung kresek di tangannya. Dirinya yang sudah ingin menuju kusir memilih berhenti dan menghampiri wanita paruh baya itu.

"Halmeoni? Bagaimana kabar halmeoni? Maaf Luhan sudah lama tidak mengunjungi Halmeoni" kata Luhan kepada wanita paruh baya itu yang ternyata adalah neneknya.

"Tidak apa-apa. Itu siapa?" Sang nenek menunjuk kearah Sehun dan otomatis Sehun membungkuk sekilas dan tersenyum.

"Halo.. saya Oh Sehun"

"Dia Sehun. Anak Seho" jelas Luhan.

"Ah pantas saja jika aku seperti melihat Seho diparasnya. Tapi kau jauh lebih tampan dari Seho"

"Halmeoni.." tegur Luhan mendengar perkataan neneknya. Sehun yang dipuji hanya tersenyum senang.

"Kenapa? Dia memang tampan kan? Berapa umurmu anak muda?"

"Saya 18"

"Aiguuu.. Yasudah Halmeoni duluan. Pamanmu sudah menunggu lama di luar"

"Ya. Hati-hati" Luhan menatap kepergian neneknya dan melambai kecil. Setelah dirasa neneknya sudah cukup jauh dirinya menyeret Sehun menuju kasir untuk menghitung barang belanjaan mereka.

.

.

.

Bruk

Luhan yang baru saja menaruh kresek belanjaanya di meja langsung ditarik Sehun kasar dan dihempaskan ke dinding. Sehun melumat bibir Luhan kasar membuat empunya mengerang karna tidak siap. Lidahnya membelai permukaan bibir Luhan berharap benda itu akan terbuka dan dirinya bisa mengeksplor goa hangat itu.

Digigitnya bibir bawah Luhan dengan gemas membuat Luhan memekik dan segera dimanfaatkan Sehun untuk memasukkan lidah panjangnya kesana. Lidahnya mencoba menggoda lidah Luhan yang terdiam mengajak bertarung. Tak mendapat respon lidahnyapun bermain dengan rongga atas mulut Luhan. Meresa kegelian Luhan mendorong lidah Sehun keluar dengan lidahnya hingga perang lidah pun terjadi setelahnya. Perang antara benda lunak tersebut berlangsung lama membuat beberapa tetes saliva mengalir dari sudut bibir keduanya.

Setelah merasa puas Sehun segera membalik tubuh Luhan membelakanginya dan diselipkannya tangannya masuk ke dalam rok Luhan lalu dengan lancang menerobos celana dalamnya dan memainkan benda sensitif kecil dibawah sana. Diremesnya benda itu berulang kali membuat tubuh Luhan bergetar keenakan. Tangannya yang lain ia gunakan untuk meremas payudara kencang Luhan dari luar kaosnya. Sedang mulutnya asik bermain-main di cuping telinga sang perempuan.

Tring

Tring

"Se-sehun ponselmuhh ugh"

Tring

"Sehh hungghh"

"Sial" Tangannya yang tadi asik menggoda payudara Luhan ia gunakan untuk merogoh saku jeans dan menekan tombol hijau disana.

"Hal-

"Brengsek! Kau dimana?"

"Apa maksudmu brengsek?" Sehun balas mengumpat karna tak terlalu paham dengan sosok di seberang yang tiba-tiba mengumpat padanya.

"Pertandingan segera di mulai. Dan disini ada Si China. Si pengecut itu sedari tadi memandang remeh kearah kita karna kau yang tak segera tiba"

"Sial aku lupa Jong"

"Bajingan kau. Cepat kesini. Kita akan mengambil start 10 menit lagi"

Pip

Setelah mematikan ponselnya Sehun segera menjaga jarak dengan Luhan dan merapikan bajunya sebentar. Luhan yang dibuat bingung langsung berbalik dan menatap Sehun dengan pandangan bertanya.

"Ada apa?"

"Maaf Lu. Aku harus segera pergi" setelah itu Sehun langsung mengambil jaket dan kunci motornya tak mengindahkan teriakan Luhan dibelakang sana.

.

.

Bendera putih hitam di depan sana sudah berkibar dan sedetik kemudian derungan mesin motor terdengar keras. Masing-masing dari mereka melajukan motornya dengan kekuatan penuh tak ingin tersalip oleh lawannya. Begitu pula dengan Sehun yang mencoba menetralkan detak jantungnya yang memburu karna baru saja datang dan langsung merapat ke garis start.

Mesin motornya terasa panas karna terus dipaksa melaju cepat oleh pemiliknya. Belokan juga tanjakan di sirkuit kali ini sedikit menakutkan. Ceroboh sedikit saja akan membuatmu jatuh dengan lengan berdarah. Keadaan sekitar yang gelap gulita tak membuat semangatnya surut. Dirinya semakin bersemangat karna posisinya kali ini berada di urutan ketiga dengan Jongin yang memimpin di depan.

Misinya kali ini adalah menyalip pengandara nomor dua yang tak lain adalah Si China Kris. Tapi si pengecut itu terus mengelabuhinya membuatnya terus gagal. Ketika berada di belokan terakhir ban depan Kris meledak karna terus melakukan rem dengan aspal membuat bodi motornya tak seimbang dan bertabrakan dengan motor Sehun di belakangnya.

Motor keduanya ambruk dan terseret ke dalam semak-semak sebelum akhirnya menghilang dalam kegelapan.

TBC

Review please~

Okey. Ini pendek. Ini gk ngefeel. Ini amburadul. Ini gk jelas. Ini banyak typonya. Ini apdetnya ngaret. Ini NCnya gk hot. Ini alurnya maksa bgt.

Maaaaaaaaf banget.

Gw tau kalo chapter ini banyak banget kekurangannya. Gw siap nerima kritik dari kalian.

Makasih buat yang udah sabar nunggu ff ini eh kalo ada yang nunggu sih.

Makasih buat yang udah review, follow, dan favorite. Juga makasih buat yang udah baca tanpa ninggalin jejak.

FF ini kayaknya bakal END di chapter sembilan.

Mind to review?

Line : enyolssi

Salam 520