Enam tahun sudah terlewati, namun dalam ingatannya masih segar tatkala untuk pertama kalinya Naruto memperkenalkan dirinya kepada keluarganya, yaitu sebuah keluarga yang memang berasal dari kaum bangsawan. Kaum elit yang tak akan pernah tergapai oleh khayalannya sekalipun.

Harusnya ia menyadari, bahwa kehadirannya tidak akan pernah diterima oleh keluarga besar ataupun kedua orang tua Naruto sekalipun. Harusnya ia menolak, menolak tawaran Naruto untuk mempertanggung jawabkan benih yang dikandungnya dan datang meminta restu orang tua Naruto untuk menikahinya.

Bagaimana pun keluarga bangsawan seperti Namikaze, tidak akan pernah mau menerima kehadiran seorang pria untuk menjadi menantu mereka. Ditambah ia yang dapat mengandung seorang anak pasti akan membuat harga dan martabat keluarga besar itu tercoreng. Dan ia cukup memahami jika saat itu Naruto akan meyerah untuk mempertanggung jawabkan anak mereka. Ia masihlah sanggup untuk membesarkan anaknya seorang diri.

Setidaknya itulah yang ia pikirkan.

Namun pada kenyataannya, sikap keras kepala Naruto membuat mereka terpaksa menikah walaupun tanpa ijin ataupun restu dari kedua orang tua Naruto. Dan hal itu pun tentu saja membuat ibu mertuanya marah besar, menganggap bahwa dirinya lah yang telah menghasut Naruto untuk menikahinya.

Dan ia cukup tahu..

Bahwa keberadaannya tak akan pernah dianggap oleh mertuanya sendiri.

.

.

.

_oxo_oxo_

Suasana kamar itu begitu gelap gulita, hawa dingin yang mengudara disekitar sangatlah menusuk tulang, entah berapa tinggi suhu ruangan itu digunakan, namun hal tersebut tidaklah mengganggu keberadaan seorang pria yang tengah bergelung dalam tebalnya selimut. Sesosok yang begitu kesepian dan juga rapuh…

Dalam kesendirinya, seorang pria yang bernama Sasuke itu kini tengah berkelut dengan pikirannya, dalam benaknya ia sungguh bertanya-tanya, kenapa suaminya belum juga menghubungi ataupun mengirimkan pesan satupun.

Dua hari sudah terlewati, namun tidak mendapatkan kabar apapun tentang keadaan Menma membuat hatinya gelisah. Rasanya sudah puluhan kali dirinya menghubungi ponsel Naruto, tapi hal itu percuma saja lantaran ponsel milik suaminya tidak pernah bisa dihubungi.

Ia masih ingat, perdebatan yang terjadi dengan Naruto tentang keinginanya yang ingin ikut bersama mereka membuat hubungannya kian memburuk. Ia cukup tau, ibu mertuanya tak akan pernah mengijinkan dirinya untuk memasuki wilayah Namikaze. Namun dengan hanya mengingat kembali ke masa lalu saja telah membuat dadanya sesak seketika.

Dan disisi lain, disaat dirinya mengalah pun, Naruto juga telah melanggar janjinya dengan tidak memberikannya kabar sama sekali. Dan satu-satunya yang terlintas dalam pikirannya saat itu hanyalah mencoba untuk menghubungi ibu mertuanya.

Walapun keraguan sempat bersarang, namun rasa gelisahnya akan keadaan anaknya lebih besar dibandingankan apapun. Yang ia inginkan hanyalah memastikan bahwa keadaan Menma baik-baik saja.

Tanpa berpikir panjang lengan putih itu pun menggapai handphone yang terus ia simpan didalam dekapannya. Hingga ketika jari-jari lentik itu akan menekan tombol dial, sebuah panggilan dari nomor yang terus ia harapkan telah muncul.

Naruto's calling

Klik

"Naru—"

'Ini saya Iruka, Sasuke-san.'

Suara berat khas pria dewasa memasuki pendengaran Sasuke, sebuah suara yang ia yakini pernah didengarnya entah dimana. Yang jelas ini bukanlah suara suaminya yang biasa ia dengar.

"Maaf, ini dengan siapa ? dimana pemilik nomor ini berada ?" Balas Sasuke dengan suara yang dibuat setenang mungkin, walapun ia menyadari nada panik dan cemas begitu kentara disetiap kata dalam ucapannya.

"Saya adalah kepala pelayan di keluarga Namikaze, Sasuke-san." Jawab suara disebrang sana pelan. "Dan saya hanya ingin memberitahukan kepada Sasuke-san untuk segera melakukan penerbangan ke Kyoto saat ini juga." Lanjutnya.

"Kenapa ? Apa yang terjadi disana Iruka-san ?"

Nada panik kini sangat terdengar jelas, degub jantungnya kian memompa cepat ketika mendengar perkataan kepala pelayan Namikaze itu.

Cukup lama suara disebrang sana menutup suaranya, hingga yang ia rasa adalah kegelisahan yang kian bertambah. Bahkan Sasuke sendiri tak menyadari bahwa sedaritadi ia terus mengepalkan telapak tangannya hingga buku jarinya memutih karena tertahannya aliran darah yang mengalir.

"Naruto-sama …

.

.

Mengalami kecelakaan.."

.

.

.

.

.

_oXoXo_oXoXo_

Ditengah sepinya lorong rumah sakit, bunyi tapak kaki yang berjalan dengan tergesa-gesa menjadi suara yang mendominasi kala itu, seorang pria bersurai hitam yang menjadi sumber bunyi tersebut terlihat tengah gelisah dengan raut khawatir yang kentara.

Sesaat Sasuke mendarat di Kyoto, langsung saja ia begegas menuju rumah sakit yang telah diberitahukan oleh Iruka. Ia sungguh tak mengira suaminya akan mengalami kecelakaan. Dan yang hanya terpikirkan olehnya saat itu adalah ingin mengetahui keadaan Menma. Walaupun sedikitnya ia merasa lega karena Iruka sempat mengatakan bahwa keadaan Menma baik-baik saja.

Dari jarak pandang nya ia melihat seseorang tengah berdiri didepan pintu kamar rawat yang ia rasa milik Naruto.

"Iruka-san kah ?"

Sosok pria paruh baya itu seketika menoleh, melihat kearah sumber suara yang memanggil dirinya.

"Ya, saya Iruka, Sasuke-san." Ucap kepala pelayan itu dengan sedikit membungkuk. Memberi sedikit hormat kepada 'istri' majikannya.

"Dimana Menma dan Boruto ?" Tanya Sasuke langsung.

"Tuan muda Menma dan Boruto sedang tidur diruang khusus anak. Sepertinya mereka kelelahan karena seharian menangis. Anda tidak perlu khawatir."

Mendengar penuturan dari kepala pelayan Namikaze itu membuat Sasuke mengela nafas lega. Setidaknya ia bersyukur bahwa buah hatinya dalam keadaan baik.

"Lalu bagaimana keadaan Naruto ? Bolehkan aku masuk untuk melihatnya ?"

"Tentu saja Sasuke-san. Silahkan …"

Pintu ruangan VVIP dengan nomor 59 itu dibuka pelan. Didalam ruangan khusus yang sepi itu Sasuke dapat melihat dihadapannya, Naruto tengah berbaring dengan alat-alat medis dihampir seluruh tubuhnya. Hanya bunyi alat pendeteksi jantunglah yang satu-satunya terdengar diruangan tersebut.

Sungguh ia tak menyangka bahwa keadaan suaminya akan separah ini. Dengan lilitan perban dan tubuh ringkih yang tak sadarkan diri membuat Sasuke menahan tangis seketika. Walaupun ia dan suaminya sedang dalam situasi yang buruk, rasa khwatir jelas akan muncul jika suami serta orang yang kini mulai ia cintai tengah dalam keadaan kritis.

Dielusnya pipi tirus sang suami, Sasuke pun membuka suaranya lirih.

"Cepatlah sadar, Naru.."

"Bukankah kau seharusnya merasa senang dengan keadaan anakku sekarang, Uchiha ?"

Tiba-tiba sebuah suara wanita mengudara dalam heningnya ruangan tersebut. Sebuah suara yang Sasuke kenal milik ibu mertuanya.

"I-Ibu…"

"Kau tahu dengan pasti bahwa aku tak pernah menganggapmu. Jadi behentilah memanggilku seakan-akan kau adalah menantuku." Ucap wanita itu dengan suara yang begitu tenang namun dingin disaat yang bersamaan.

Mendengar penuturan metuanya, rasa sesak dan sakit yang menggerogoti lagi-lagi muncul dan menjalar kembali ke ulu hatinya. Raut pilu yang terus bersarang diwajah Sasuke pun semakin menjadi ketika orang tua dari Naruto sekaligus mertuanya itu mengarahkan pandangan yang begitu menusuk.

"Keluarlah, ada sesuatu hal yang akan kusampaikan pada mu."

Wanita yang merupakan ibu dari suaminya itu pun membuka suaranya kembali. Mengucapkan sebuah kalimat yang membuat Sasuke gugup dan bingung sekaligus.

"Ha'i."

Dalam hati kecilnya ia terus memohon agar tidak terjadi lagi hal buruk dengan rumah tangganya.

.

.

.

.

_oXo_oXo_

.

"Ini .. ambilah."

Sebuah amplop tebal berwarna coklat tiba-tiba saja diarahkan kepada Sasuke. Dengan raut bingung ia pun menatap mertuanya tanda meminta penjelasan dengan keadaan ini.

"Ambil uang itu dan tinggalkan anakku sejauh mungkin." Ucap Kushina tenang dan balik menatap Sasuke yang tengah terkejut mendengar perkataannya.

"A-Apa maksud I-Ibu.."

"Dari awal aku memang tak pernah setuju jika Naruto menikah denganmu hanya karena alasan ingin mempertanggung jawabkan kesalahannya. Dan setelah anakku mengungkap bahwa dirinya telah menikah dengan wanita lain dan memiliki seorang anak yang bernama Boruto, tentu saja aku sangat merasa senang." Jelas Kushina tanpa ragu sedikitpun. Mengabaikan fakta bahwa ucapannya begitu menyakitkan perasaan Sasuke.

"Bukankah itu cukup menjelaskan bahwa selama 6 tahun ini, anakku tidak pernah mencintaimu ? lalu apalagi yang membuatmu mempertahankan rumah tanggamu Uchiha ?"

Meremas telapak tangannya kuat, Sasuke pun merasa tertohok dengan pertanyaan yang diarahkan kepadanya. Ia ingin mengelak, Namun kenyataan yang benar adanya lah membuat ia mengurungkan niatnya. Sebuah pertanyaan yang sebenarnya sering ia pertanyakan kepada dirinya sendiri. kenyataan yang begitu menghempaskan dirinya ketika ia memikirkan keadaan rumah tangganya yang diujung tanduk. Ia sudah tahu… bahwa tak ada harapan lagi untuk keluarga kecilnya.

"Untuk itu, aku memberikan uang ini agar kau dan Menma bisa pergi sejauh mungkin. Tinggalkan lah anakku." Lanjut Kushina dengan tenang.

Hening sesaat sebelum Sasuke kembali membuka suaranya. Raut ragu yang sempat bersarang diwajahnya kini hilang tergantikan dengan pandangan yakin. Seolah-olah ia tak akan gentar dengan hanya perkataan mertuanya.

.

"Aku tidak bisa." Ucap Sasuke menolak permintaan ibu metuanya. "Menma masih membutuhkan seorang ayah. Dan aku tidak boleh memikirkan perasaanku saja, walaupun aku tau Naruto tidak pernah mencintaiku." Lanjutnya pelan.

"Satu hal yang perlu kau tahu, ini bukanlah sebuah permintaan, namun ini adalah perintah yang harus kau lakukan, Uchiha." Balas Kushina dengan suara yang keras. "Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menerima dirimu."

Tatapan tajam semakin mengarah kepada Sasuke. Rasa kesal dan amarah yang disebabkan oleh penolakan pria didepannya membuat Kushina semakin membenci 'istri' dari anaknya tersebut.

"Aku tidak peduli dengan semua itu, asalkan Menma bahagia bersama dengan ayah kandungnya, itu sudah cukup bagiku." Ucapnya dengan senyum tulus yang meyertainya.

"Lalu bagaimana jika Naruto menceraikanmu ? kau bisa saja akan terpisah dengan anakmu. Ne Uchiha ?"

Ibu mertuanya kembali membuat pertanyaan yang memohok Sasuke, sebuah pertanyaan yang sangat sulit baginya untuk ia jawab.

"A-Aku.…"

"Sebelum kecelakaan ini terjadi, Naruto mengatakan kepadaku bahwa ia berencana untuk menceraikanmu dan mengambil hak asuh Menma. Dan kau tau maksudku bukan ?"

Tangan yang terkepal kuat serta bibirnya yang terus ia gigit menandakan bahwa Sasuke tengah menahan emosinya. Mendengar apa yang dikatakan ibu dari suaminya itu membuat perasaannya goyah.

Ia cukup tahu… konsequensi yang harus ia ambil jika tetap mempertahankan rumah tangga mereka. Dan membayangkan bahwa ia akan dipisahkan dengan Menma membuat ia sesak sampai rasanya ia tak bisa bernafas.

"Ini adalah kesempatan yang bagus untuk pergi bersama anakmu sejauh mungkin sebelum Naruto sadar dan menceraikamu." Lanjut Kushina, merasa bahwa pria didepannya telah masuk kedalam perangkapnya. Melihat wajah Sasuke yang terlihat risau, Kushina yakin bahwa Sasuke bersedia untuk pergi dari kehidupan anaknya.

"….."

"Pikirkanlah baik-baik. Jika kau memang tak ingin berpisah dari anakmu sendiri. Maka segeralah pergi sejauh mungkin." Ucap Kushina sambil beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan Sasuke seorang diri yang tengah bergelut dengan pikirannya.

Haruskah ia pergi ?

Tapi bagaimana jika Menma menanyakan keberadaan Naruto ?

Ia sangat tahu begitu sayangnya Menma terhadap Ayahnya. Dan ia tak ingin membuat anaknya merasa sedih jika harus kehilangan sosok seorang ayah.

Namun disisi lain dirinya juga tidak ingin berpisah dengan Menma, harta berharganya yang ia punya. Sedetik pun rasanya ia tak sanggup jika harus kehilangan Menma disisinya.

Hati dan pikirannya terus bergelut, memikirkan nasibnya yang terus terombang-ambing

'Apa yang harus ku lakukan, Kami-sama.'

.

.

.

.

_xxxx_

.

"Ngh.. Papa ?"

Suara khas seorang anak yang tengah terbangun dari tidur panjang membuat pria yang sedari tadi memandang anaknya pilu tersentak kaget.

"Ssstt.. tidurlah." Bisik sang pria pelan sambil membelai rambut hitam anaknya penuh kasih sayang. Mencoba menenangkan anaknya agar dapat kembali tidur.

"Kenapa Menma ada didalam Pesawat Pa ?" Tanyanya dengan suara yang masih terdengar mengantuk. "Tou-san wa doko ?" lanjutnya pelan.

"Menma pasti masih mengantuk. Tidurlah, Sunshine."

Ucapan lembut mengalun indah dalam kesadaran anak kecil dipangkuannya. Merasa terbuai dengan kenyamanan yang diberikan oleh papa-nya membuat ia jatuh kedalam indahnya mimpi yang menenangkan. Melupakan keberadaan papanya yang tiba-tiba mendekapnya. Mengabaikan dirinya yang berada ditempat lain, yang jauh dari tempat Tou-san nya berada.

"Shinpai nai."

.

.

".…. Papa akan selalu bersama dengan Menma."

.

.

.

.

.

.

TBC

Note :

Shinpai nai = Jangan Khawatir.