Chapter 6

Disclaimer : Kuroshitsuji © Yana Toboso

Warning : Yaoi, BL, SebastianxCiel, ClaudexAloisxLizzie (nanti ^^)

Genre : AU, Romance, Tragedy

Rating : T

Summary : Apa yang akan dilakukan Alois setelah melihat apa yag tengah dilakukan Sebastian pada Ciel ?


Balasan Reviews :

Leony-chan GabyNez : hehehehe makasih ya ^^

Maaf ya updatenya lama sangat ^^

Review lagi ya ^^

UzumakiKagari : yah sebenarnya Ciel itu merasa –piiipp- ke Sebas, tpi kyknya gk dichap ini dh buat ngejawab pertanyaan kamu itu, mungkin chap depan ^^

Makasih ya ^^

Review lagi ya ^^

Earl Louisia vi Duivel : hehehe maaf chap kali ini jga gk kalah pendeknya ^^ -plakplak-

Makasih ya ^^

Review lagi ya^^

"Sebastian menyukai Ciel" kata gadis itu yang telah berada disamping Alois.


Alois menatap gadis pirang itu dengan tatapan –dari-mana-kau-tahu-?-, seakan bisa membaca apa yang di pikirkan Alois, Elizabeth menjawabnya dengan santai.

"Sebastian menceritakan tentang perasaannya pada Ciel, padaku tadi pagi." Jawabnya yang terus menatap pemandangan di lantai satu.

"Benarkah?" tanya Alois denga tampang yang makin bingung.

"Ya Al, lagi pula coba kau lihat Ciel dia terlihat nyaman saat berada di dekat Sebastian." Jawab Elizabeth yang masih tetap memandang kedua insan yang ada di bawah mereka.

"Ya, kau benar, dan kita hanya bisa melihat mereka berdua dari kejauhan, lagi..." gumam Alois.

"Tenanglah Al, lagipula sepertinya cuma Sebastian yang mampu menghibur Ciel" kata Elizabeth.

"Ya, kau benar..." lirih Alois yang merasa dirinya tidak bisa berbuat apa-apa untuk sahabatnya tersayang.

"Tapi..." lanjutnya saat dilihatnya dua insan yang sedang larut dalam kehangatan dan kelembutan melepaskan ciuman mereka.

"Eh?" kata Elizabeth kebingungan karena melihat raut wajah Alois yang berubah drastis.

"Aku tidak ingin hanya menjadi 'penonton' dalam hidup Ciel, aku ingin ada dalam hidupnya, karena aku menyayanginya." Kata Alois melanjutkan kalimatnya.

"Alois! Aku tau kau menyayangi Ciel! Tapi kau tidak bisa ikut campur dalam masalah cintanya" Bentak Elizabeth dengan nada suara yang masih ditahan agar tidak terdengar oleh Ciel dan Sebastian.

"Aku tidak ingin melihat Ciel sengsara karena seorang pria! Kau tau 'Elizabeth' aku tidak ingin melihat masa depan Ciel hancur karena seorang lelaki bernama 'Sebastian Michaelis' itu" jawab Alois yang berlari menuruni tangga, dan menghampiri Ciel.

"APA YANG KAU LAKUKAN!" teriak Alois sambil menarik lengan Ciel.

"A...Alo..is" Ciel nampak terkejut dengan apa yang dilakukan Alois.

"Memangnya kau buta? Kau bisa lihatkan? Apa yang barusan aku lakukan pada Phantomhive?" jawab Sebastian yang tidak lupa menyertakan seringai mesumya.

"KAU!" teriak Alois yang langsung–

PLAK!

– memberikan tamparannya dipipi mulus Sebastian.

"Mulai detik ini kau tidak boleh mendekati Ciel lagi!" bentak Alois.

"Bukankah ini tidak ada hubungannya denganmu, bukankah harusnya ini keputusan Ciel? Kau bukan orang tua Ciel!" Balas Sebastian.

"KELUAAAAAAAAAAARRRRRR!" teriak Alois, wajahnya yang sudah memerah sedari tadi semakin merah, karena menahan amarah.

"Hentikan Alois!" kali ini Ciel angkat bicara.

"Aku mau berteman dengan siapa pun tidak ada hubungan nya denganmu, Sebastian sebaiknya kau pulanglah, aku tidak ingin melihat keributan disini" kata Ciel mencoba menenagkan Alois dan Sebastian yang telah tersulut api amarah.

"Baiklah aku pulang, permisi" kata Sebastian mengalah.

"Biar aku mengantarmu Sebastian" kata Elizabeth setelah menuruni tangga dan mengantar Sebastian menuju pintu keluar.

"Alois ada denganmu? Kenapa kau bersikap seperti itu pada Sebastian" kata Ciel setelah dilihatnya Sebastian pergi bersama Elizabeth.

"Aku tidak suka melihatmu barsama pria seperti itu, lagipula bukannya kau membencinya?" cibir Alois, terlihat sekali dia tidak suka pada Sebastian.

"Kau tidak boleh seperti itu Alois, harusnya kau minta maaf pada Sebastian!" bentak Elizabeth yang telah kembali setelah mengantar Sebastian.

"Aku sudah bilangkan?! Aku tidak ingin masa depan Ciel hancur karena orang macam Sebastian Michaelis!" balas Alois yang tidak kalah emosinya dari Elizabeth.

"Kalian berdua hentikan! Bukankah aku sudah bilang aku tidak ingin melihat keributan disini! Lagipula Alois, sudahku katakan, aku mau berteman dengan siapapun itu tidak ada hubungannya denganmu! Kau tidak berhak melarangku! Kau bukan orang tuaku!" kata Ciel sinis, lalu meninggalkan dua orang yang tengah bersitegang.

"Ciel kau mau kemana?" tanya Elizabeth dengan wajah khawatirnya.

"Bukan urusanmu!" jawab Ciel dingin. Cielpun berjalan meninggalkan Alois dan Elizabeth.

"Ini semua gara-gara kau Alois!" bentak Elizabeth.

"Dasar pirang baka!" jawab Alois ketus lalu berjalan menuju kamarnya.

"Kau juga pirang! Bego!" jawab Elizabeth yang tak kalah emosinya.

Dan terjadilah berseturuan antara kedua pirang itu yang tentu saja kata-kata berawalan 'B' diabsen semua oleh mereka.

~OoO~


Pemuda kelabu dengan tubuh ringkih tengah berjalan lunglai ditrotoar. Dan menuju lampu menyeberengan jalan. Tatapan matanya kosong. Pemuda itu terus berjalan mengikuti kakinya yang entah kenapa terus melangkah tanpa tujuan.

Pemuda itupun tanpa dia sadari, dilangkahkannya kaki mungilnya untuk menyeberang jalan, namun, dia sama sekali tidak melihat lampu rambu-rambu pejalan kaki yang menunjukan berhenti.

TIIIIIINNNNNNNN

Bunyi klakson yang sangat keras (tentu saja kan?) mampu membangunkan anak itu dari lamunannya.

Ciel –pemuda kelabu– itu menoleh dan tak lupa memasang ekspresi terkejut pada wajah indahnya. Entah kenapa kaki Ciel telah berhenti berjalan, tubuhnya bergetar sejenak. Ya hanya sejenak, karena setelah itu Ciel tersenyum manis, sepertinya Ciel sangat senang akan hal ini.

'Ayah, ibu, sebentar lagi aku akan menyusul kalian' batin Ciel, seraya memejamkan matanya demi meresapi bau kematian yang semakin mendekat. Ya Ciel ingin secepatnya mati dam menyusul orang tuanya

TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINN !

Kali ini bunyi klakson mobil itu semakin keras, tinggal beberapa ditik lagi...

To be Continued


Akhirnya saya publish juuga kelnjutan fic ini ^^

Nah semua tolong reviews-nya ya ^^