FANFICTION

:

Taufiq879 Fanfiction

:

Title : Uzumaki Destiny

:

Bab 6

Latihan dan Perjalanan

:

Disclaimer : Naruto Masashi Kishimoto

Genre Utama : Adventure & Friendship

Karakter Utama : [Boruto&Sarada] [Naruto&Hinata] [Sasuke&Sakura]

:

Rate : T+ (16+)

Warning : Kemungkinan menjadi OOC, Typo kemungkinan ada, Canon namun akan ada beberapa perbedaan yang menyimpang dari seri aslinya, dan OC pasti ada.

:

==::[][][][]::==

:

:

:

Boruto menyelinap di antara semak-semak yang berada di hutan. Matanya sedang fokus ke arah 2 orang yang sudah bisa di katakan hampir memasuki usia lanjut usia itu. Kakashi kala itu sedang memegangi tangan kanannya setelah membentuk beberapa segel.

Sebuah petir berwarna ungu pun terlihat muncul dari tangannya. "Woah! Itu pasti Shinden." Kata Boruto kagum.

Kakashi mengambil langkah pertamanya ke arah sebuah pohon. Setelah beberapa langkah, ia menambah kecepatan jalannya dan akhirnya Kakashi pun berlari dengan cepat dan memotong pohon itu dengan tekniknya. Tak berhenti sampai di situ, Kakashi melanjutkan aksinya dengan memotong pohon kedua.

"H-Hebat!" ujar Boruto.

Dengan kursi rodanya, Guy mendatangi Kakashi. "Kakashi. Teknikmu itu sangat hebat. Berbeda dengan Raikiri, Shinden itu tidak terlihat menyilaukan."

"Namun, Raikiri mampu memotong batang pohon ini dengan sedikit lebih rapi. Dan lagi, Shinden ini belum bisa kuaplikasikan bersamaan dengan kunai," kata Kakashi.

"Tapi Shinden ini lebih aman untukmu ketimbang memakai Raikiri. Apalagi ketika kau sudah tidak punya Sharinggan lagi," ujar Guy.

Perhatian Kakashi dan Guy pun teralihkan kapada semak-semak yang bergesekan. "Siapa di sana?" tanya Kakashi tegas.

Boruto berdiri perlahan "Maaf aku mengendap-endap." Ia pun menampakkan dirinya.

"Ternyata kau, Boruto. Kenapa kau bersembunyi di semak-semak itu?" tanya Kakashi.

"Aku hanya penasaran dengan apa yang kakek dan kakek Guy lakukan di sini," kata Boruto lalu melihat ke arah pohon-pohon yang tumbang.

"Kami sedang menebang pohon untuk membuat sarana latihan di akademi," kata Guy.

Seseorang pun tiba-tiba melompat turun dari atas pohon ke hadapan mereka. Seseorang itu adalah Tenten yang sedang membawa sebuah gulungan yang cukup besar.

"Jadi guru. Apakah semua pohon itu yang harus kubawa?" tanyanya.

"Benar." Guy melihat ke sekitar. "Di mana Lee?" tanyanya.

"Ahh, seperti biasa." Tenten menunjuk ke arah hutan. "Dia ada di sana."

Semua mata tertuju pada arah yang di tunjukan oleh Tenten. Kakashi pun menepuk dahinya ketika melihat Lee sedang berjalan memakai tangannya. "Guy. Sebenarnya apa saja yang kau ajari pada anak itu."

"Itulah yang kusebut semangat masa muda." Ia mengangkat tangannya ke atas. "Berjuanglah Lee?" sorak Guy.

"Guy, kuserahkan tugas selanjutnya padamu." Kakashi berjalan mendekati Boruto.

"Serahkan padaku."

Sementara Guy sedang memberi instruksi pada Lee dan Tenten yang sedang mengurusi batang-batang pohon yang baru di potong, Kakashi pun berbicara dengan Boruto.

Kakashi melihati pakaian Boruto yang kotor. "Kenapa pakaianmu terlihat kotor sekali?" tanyanya.

"Uh! Aku bahkan tidak tahu kalau pakaianku kotor." Boruto pun langsung melihati dan membersihkan pakaiannya. "Aku baru saja selesai latihan. Jadi wajarkan kalau pakaianku kotor," ucapnya sombong.

"Bagaimana kabar ibumu?" tanya Kakashi.

"Baik-baik saja. Tidak ada masalah. Hanya saja, ibu pernah berkata waktunya bersama ayah menjadi berkurang karena kesibukannya."

"Uhuk! Uhuk!" Kakashi batuk beberapa kali.

"Kakek Rokudaime, apa anda baik-baik saja?" tanya Boruto khawatir.

"Ya. Aku tidak apa-apa. Aku hanya kaget karena ibumu mengatakan hal itu padamu," kata Kakashi.

"Uh? Aku tidak tahu apa maksud kakek," kata Boruto bingung.

"Ahh sudahlah. Bagaimana kalau aku menemanimu berlatih?" tawar Kakashi.

"Boleh! Tapi, bukannya kakek sibuk di sini?"

Kakashi melihat ke arah Guy yang sedang menemani mantan muridnya bekerja. Kala itu Lee mengumpulkan pohon-pohon yang telah ditebang Kakashi sementara Tenten menyegel pohon-pohon itu ke dalam gulungannya.

"Mereka adalah orang-orang yang bisa diandalkan oleh Konoha. Jadi kalau aku tinggal sebentar kurasa tidak masalah," kata Kakashi.

Boruto pun memimpin jalan menuju tempat latihannya. Setibanya di sana, Kakashi menatap permukaan tebing yang berlubang-lubang. "Aku melihat, kau sepertinya sedang mengembangkan Rasengan? Apa aku benar?" kata Kakashi.

"Ya begitulah! Aku sedang berusaha memperkuat Rasengan milikku. Tapi aku kesulitan untuk memadatkan Chakra agar tercipta Rasengan dengan daya ledak yang sangat kuat."

"Memadatkan? Kurasa itu hal yang tak seharusnya kau lakukan. Pada dasarnya, Rasengan merupakan salah satu teknik Ninjutsu yang memanfaatkan perubahan wujud Chakra. Jika Pusaran Chakra itu di padatkan, maka akan sulit di pertahankan karena menjadi tidak stabil."

"Huh? Kok bisa?" tanya Boruto. Ia pun mengingat kejadian beberapa menit yang lalu saat ia berusaha membentuk Rasengan yang lebih padat. "Benar. terakhir kali aku mencoba lebih memadatkan Rasengan lagi, itu meledak dan membuatku terhempas dan membentur tebing," kata Boruto.

"Di dunia ini, Shinobi yang mampu memakai teknik Rasengan hanyalah beberapa orang saja." Kakashi pun membentuk Rasengan di tangannya. Boruto pun terlihat kagum dan juga bingung.

"Woah! Ternyata Kakek juga bisa memakai teknik ini?"

"Tentu saja. Aku dulu di kenal sebagai ninja peniru. Teknik ini sangat mudah untuk ditiru oleh ninja sepertiku," kata Kakashi. "Tapi aku tidak bisa meniru Oodama Rasengan."

Boruto pun terlihat menunjukan ekspresi bingung.

"Kau sepertinya belum pernah mendengarnya ya? Oodama Rasengan adalah tingkatan terkuat dari Rasengan. Bentuk dari Oodama Rasengan ini sama seperti Rasengan biasa. Namun dengan ukuran yang besar. Besarnya ukuran Oodama Rasengan tergantung konsentrasi Chakra yang di keluarkan penggunanya. Semakin besar ukurannya, maka dampaknya pun semakin dahsyat. Hingga saat ini, hanya Ayahmu, kakekmu, dan Tuan Jiraiya yang mampu mengembangkan Rasengan hingga ke tahap itu."

"Sepertinya teknik itu sedikit lebih sulit."

"Aku yakin kau bisa mengembangkan Rasenganmu hingga ke tahap itu. Aku percaya karena kau adalah anak dari muridku dan cucu dari guruku," kata Kakashi tersenyum di balik maskernya.

Boruto melihati tangannya. "Baiklah, aku akan berlatih keras!" Ia pun membentuk segel dan memunculkan sebuah Bunshin.

[]=[]=[]

Kala itu di ruangan Hokage.

"Jadi, kapan kita akan ke kuil itu?" tanya Sasuke.

"Kurasa secepatnya. Tapi sekarang aku masih belum bisa. Aku harus mendiskusikan hal ini dulu pada petinggi desa yang lain, terutama Daimyo. Kau sendiri kan yang bilang kalau perjalanan ke Kuil itu bisa memakan waktu hingga sebulan," kata Naruto.

"Tentu saja. Kalau banyak halangan, kita akan tiba dalam waktu 1 bulan. Jadi sebaiknya kita bergegas mencari tahu rahasia di balik Raiken sebelum dirinya yang asli tiba," kata Sasuke.

"Siang ini aku berencana untuk membicarakan ini pada para petinggi. Aku akan minta izin untuk pergi untuk waktu yang lama."

"1 hal yang perlu kau ingat. Cukup petinggi inti saja yang berhak tahu masalah ini. Rahasiakan hal ini dari para Daimyo dan asistennya. Dan jangan beritahu masalah ini pada para Kage yang lain."

"Ya... Ya...! sebaiknya kau pulang dan mempersiapkan semua yang kau butuhkan. Besok kita akan berangkat," kata Naruto.

"Baiklah." Sasuke pun berbalik. "Tapi, firasatku benar-benar tidak enak. Kurasa musuh kita yang satu ini lebih kuat dari Kaguya." Setelah itu, ia pun keluar dari ruangan Hokage.

Tak lama kemudian, Shikamaru pun memasuki ruangan. "Hei! Kenapa Sasuke terlihat sangat murung. Dia bahkan tidak membalas ketika aku menyapanya."

Tiba-tiba, Kiba memasuki ruangan Hokage ketika Shikamaru hendak menutup pintu. "Bukankah itu sudah sifat alamiahnya dari dulu?"

"Ahh, akhirnya kau tiba, Kiba. Mana laporannya?" tanya Naruto.

"Ini kawan," katanya sambil melempar sebuah gulungan ke arah Naruto.

Naruto berhasil menerima gulungan itu dengan baik tanpa kendala ketika menangkapnya. "Aku tak percaya. Generasi kita masih memakai gulungan kuno ini untuk membuat laporan." Naruto membuka lalu membaca isi gulungan itu. "Dan tulisannya pun jelek kayak begini."

"Jangan menghina dong! Tulisanmu juga jelek," kata Kiba membela diri.

Naruto melihati Kiba dan sekitarnya. "Tumben kau tidak membawa Akamaru?" tanya Naruto.

"Dia menungguku di luar. Di bawah pohon yang rindang. Sepertinya tempat itu lebih menyenangkan ketimbang tempat membosankan ini," kata Kiba.

"Sudahlah, hentikan! Jika kalian bicara terus, kapan aku bisa memberitahukan informasi," ujar Shikamaru.

"Apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Naruto.

"Tidak perlu ada rapat. Daimyo telah mengizinkanmu pergi. Begitupula dengan petinggi yang lain. Mereka mengizinkanmu pergi selama yang kau mau dalam perjalanan rahasia ini asal ada seseorang yang bertugas menggantikanmu untuk sementara."

"Baiklah. Shikamaru. Tolong gantikan aku untuk sementara. Ini perjalanan panjang jadi kuharap kau siap menggantikanku selama aku pergi." Naruto melepaskan jubahnya dan menyerahkannya pada Shikamaru. Ia berpikir satu-satunya orang yang dapat ia percaya menjadi penggantinya hanyalah Shikamaru. Meskipun Shikamaru sendiri tidak begitu menyukai keputusan Naruto itu, namun mau bagaimana lagi. Ia adalah wakilnya, dan menggantikan Hokage untuk sementara waktu sudah menjadi tugasnya.

Naruto pun pergi meninggalkan kantor Hokage dengan alasan mau mempersiapkan hal-hal yang ia perlukan selama perjalanan panjang ini. Yang menjadi tujuan utamanya adalah toko senjata. Meskipun sebenarnya ia bisa mengambil senjata-senjata yang ia perlukan dari dalam gudang senjata Konoha. Mungkin ia sangat baik hati sampai lebih memilih membeli dari toko senjata milik salah satu warga Konoha.

[]=[]=[]

Di tempat latihan siang itu terlihat Berantakan. Tebing-tebing terlihat semakin hancur akibat serangan Boruto. Untuk mencegah kerusakan yang lebih parah, Kakahsi membentuk dinding dengan memakai Doton sebagai target serangan bagi Boruto.

Kini sudah lebih dari 15 Rasengan berhasil ia buat dan sekarang ia sudah nampak lelah. Boruto mendesih akibat kelelahan. Tak hanya itu, tangan dan kakinya pun seraya hampir tidak bisa di gerakan lagi karena sudah kehabisan energi. Boruto berniat untuk menghancurkan dinding itu dengan Rasengannya. Kini setidaknya ia sudah memakai 6 Rasengan untuk menghancurkan dinding itu. Namun, dinding yang di bentuk Kakashi itu masihlah belum rusak parah.

Kakashi pun menyarankan Boruto untuk beristirahat. Namun seperti tak mendengarkan, Boruto kembali mengeluarkan sebuah Bunshin untuk membantunya membentuk Rasengan keenam belas. "Aku tidak akan menyerah sebelum dinding itu hancur!" teriaknya untuk memberi semangat pada dirinya.

Ia memadatkan Rasengan yang ia bentuk itu dengan semua Chakra yang tersisa. Sedikit teriakan yang keluar dari mulutnya membuktikan kalau dirinya saat ini sedang berusaha keras untuk memadatkan Rasengan yang mungkin akan menjadi yang terakhir di hari ini.

"Boruto, hentikan! Jangan memaksa untuk lebih memadatkan Rasengan itu." Kakashi berusaha untuk mengingatkan Boruto. Namun suara Kakashi tidak terdengar oleh Boruto.

Setelah semua Charka yang dapat ia pakai habis, Bunshinnya pun menghilang. Mata Boruto terfokus ke arah dinding buatan Kakashi. Pandangannya beberapa kali menjadi buram karena kelelahan. "Untuk terakhir! Ahhhhhhhhhh!" Boruto mulai berlari ke arah dinding itu. Namun karena Chakra Boruto telah habis, ia sudah tidak bisa lagi mempertahankan dan mengontrol Rasengan yang tidak stabil itu. Pada akhirnya sebelum ia mencapai dinding, Rasengan di tangannya meledak dan menghempaskan dirinya ke arah sungai.

Kakashi bergerak cepat untuk menyelamatkan bocah malang itu sebelum tenggelam. Ketika telah aman di tangan Kakashi, perlahan Boruto pun pingsan karena kehilangan cukup banyak Chakra dalam latihan ini.

[]=[]=[]

Hari ini, Boruto berakhir di rumah sakit. Mendengar putranya masuk rumah sakit membuat Hinata seketika panik dan langsung menuju rumah sakit bersama Himawari. Dengan cepat, Hinata tiba dan langsung mendatangi kamar VIP tempat putranya di rawat.

Setibanya di kamar putranya, ia melihat Naruto dan Kakashi sedang tertawa. Menyadari kedatangan Hinata, Perhatian kedua laki-laki itu pun terfokus ke arah wanita berambut Indigo bersama anak perempuannya itu.

"Yo Hinata. Kenapa kau terlihat panik?" tanya Naruto.

"Karena kau mendengar putra kita masuk rumah sakit."

"Tenang saja, Hinata. Boruto hanya pingsan akibat kelelahan sewaktu latihan."

"Hufft. Syukurlah. Kukira Boruto kenapa."

"Naruto, aku mau pergi ke tempat Guy."

"Oh, guru sudah mau pergi. Terima kasih ya sudah membawa putraku ke sini," kata Naruto.

Hinata pun mendekati Boruto untuk memastikan keberadaan putranya. "Tangannya terluka. Apa tidak ada ninja medis yang menangani luka Boruto?" tanya Hinata.

"Itu hanya luka kecil. Obat pembersih sudah cukup untuk luka itu. Lagi pula luka itu menjadi bukti bahwa ia berlatih dengan sangat keras. Aku bangga pada putra kita," kata Naruto.

Hinata pun tersenyum. "Sekarang kita sudah tidak bisa menyebutnya putra kecil kita. Apalagi tahun depan ia akan menjadi Genin Senior."

"Kau benar. Kita tidak bisa menganggap Boruto sebagai anak kecil lagi. Mungkin bulan depan aku akan memberikannya misi rank B," kata Naruto.

"Ide bagus. Ia selalu saja mengeluh tentang itu."

"Ya. Aku akan memberikannya setelah aku kembali."

"Kembali? kau mau kemana?" tanya Hinata.

Naruto melihat ke arah Himawari yang kala itu sedang melihati keadaan kakaknya. Naruto memberi kode mata pada Hinata. Ia mengerti dan langsung mendekati Himawari.

"Sayang, bisakah kau membelikan ayahmu minuman?" tanya Hinata.

"Tentu bu. Mana uang?"

Hinata mengeluarkan dompetnya dan memberikan Himawari sejumlah uang. Gadis kecil itu pun pergi setelah menerima uang dari ibunya.

Naruto menutup pintu dan berjalan menuju kursi untuk duduk. Hinata pun menyusul.

"Ada sebuah masalah. Aku akan mengeceknya bersama Sasuke. Aku akan meninggalkan Konoha untuk waktu yang lama. Paling lama adalah 1 bulan kalau tidak ada kendala dalam perjalanan ke sana." kata Naruto.

"Masalah apa?"

"Maaf Hinata. Itu rahasia."

"Aku mengerti."

Himawari pun kembali dengan membawa 3 minuman kaleng. "Ini ayah!" kata Himawari seraya memberikan minuman pada Naruto.

"Wah! Kau tahu rasa kesukaan ayah." Naruto pun langsung menaruh minuman kaleng itu di meja lalu menggendong Himawari. Sebuah kecupan pun mendarat di pipi gadis kecilnya itu.

[]=[]=[]

Malam hari, Boruto tersadar dari pingsannya. Sedikit pusing dan tenggorokannya kering. "Di mana aku?" tanyanya lalu tak lama ia menyadari bahwa ia berada di rumah sakit.

"Sepertinya kau sudah sadar," kata Naruto yang kala itu sedang duduk di sudut ruangan yang gelap karena lampunya di matikan.

Naruto mengucek matanya untuk memastikan bahwa orang itu benar ayahnya. "Apa itu kau, ayah?" tanya Boruto.

Naruto menyalakan lampu. "Sebenarnya aku hanyalah Bunshin yang di tugaskan untuk menjagamu. Ayahmu sedang sibuk menyiapkan keperluan untuk besok."

Boruto berusaha duduk namun badannya masih terlalu lemas untuk melakukan itu. "Besok? Ada apa dengan besok?"

"Ayah mau melakukan perjalanan untuk beberapa hari. Jadi sekarang ayahmu dan ibumu sedang sibuk mempersiapkan barang-barang untuk di bawa besok."

"Baiklah. Bisa antar aku pulang. Aku mau beristirahat di rumah saja."

"Lebih baik kau beristirahat di sini. Lagi pula keadaanmu masih lemas. Kau masih belum bisa berjalan pulang kan?"

"B-Benar." Boruto pun pasrah dan kembali berbaring walau tadi ia sudah berjuang keras untuk dapat duduk di kasur. "Bisakah aku minta tolong, Bunshin ayah?"

Bunshin Naruto pun mendatangi Boruto. Ia langsung menuang air dalam gelas dan memberikannya pada Boruto. "Aku tahu kau haus."

Dengan bantuan Bunshin Naruto, Boruto meneguk habis air itu. Setelah itu, Boruto pun kembali tidur untuk memulihkan kembali tenaganya. Cairan infusnya pun sudah hampir habis karena semuanya sudah berpindah ke tubuh Naruto. Suasana malam itu terdengar sangat sepi. Jam dinding menunjukan pukul 12 malam.

Ketika Boruto kembali tidur, Bunshin Naruto itu pun kembali duduk dan tidur. Tentu saja Bunshin itu dapat tidur sebab teknik Kagebunshin milik Naruto adalah teknik yang berkelas.

[]=[]=[]

Pagi harinya, Naruto berjalan menyusuri jalanan desa dengan memakai seragam Jounin Konoha. Di punggungnya terdapat ransel yang bisa di bilang cukup besar.

Dalam perjalanan menuju gerbang utara, Naruto menguatkan ikatan pelindung kepala berlambang Konoha itu. "Sudah lama aku tidak berpakaian seperti ini," batinnya.

Saat itu, desa masih belum begitu ramai sebab masih terlalu pagi untuk warga desa memulai aktivitasnya. Namun bukan berarti tak ada orang yang berada di luar. Untuk mencapai gerbang utara, dari rumahnya Naruto harus melewati salah satu wilayah perdagangan dan industri Konoha. Tentu saja ia akan bertemu setidaknya 1 orang setiap meter kakinya melangkah.

"Selamat pagi, tuan Hokage," Sapa seseorang yang kebetulan baru keluar dari rumah untuk membuka tokonya. Naruto hanya mengangkat tangan dan tersenyum ramah sebagai tanda menyapa

"Dasar payah! Kau bilang pada Sasuke bahwa ini adalah perjalanan Rahasia. Lalu kenapa kau malah terang-terangan pergi dari desa," ujar Kurama.

"Hehe. Mau bagaimana lagi, tasku ini terlalu berat."

Di gerbang utara, Sasuke sudah menunggu. Saat itu ia hanya membawa sebuah tas kecil dan pedang. Ia pun memakai jubah yang sering ia pakai namun tak lupa ia juga memakai rompi Jounin.

Naruto pun tiba dan nampak terkejut melihat Sasuke. "Apa kau hanya membawa tas kecil itu saja."

Sasuke mengeluarkan sebuah gulungan dari tasnya itu. "Aku menyimpan ranselku dalam gulungan ini," ucapnya.

"Sial, benar juga. Kenapa aku tidak kepikiran menyegel ranselku ini dalam gulungan. Jadi aku lebih mudah untuk membawanya."

"Itu karena kau tidak berpikir panjang." Sasuke mengambil gulungan lain dari tasnya. "Kau hanya akan memperlambat kita kalau membawa ransel sebesar itu." Ia melempar gulungan itu pada Sasuke.

Naruto pun menyegel tasnya dalam gulungan itu. Teknik ini memang tidak bisa dilakukan oleh sembarangan orang. Hanya Shinobi tertentu yang dapat memakai teknik ini. Namun Naruto dan Sasuke levelnya sedikit lebih tinggi ketimbang Shinobi pada umumnya sehingga teknik penyegelan benda seperti ini bisa mereka lakukan dengan mudah.

Setelah penyegelan selesai, ia meletakkan gulungan itu pada saku yang terdapat di rompi Jouninnya.

"Kupikir kau akan datang bersama Shikamaru," kata Sasuke.

"Aku juga berpikiran seperti itu tadi. Tapi Temari berkata bahwa dia masih tidur. Ya makanya aku hanya menitipkan pesan dan pergi ke sini."

Mereka pun berjalan pergi dari desa dengan santai dan tanpa pengawalan. Dari jauh, Sarada sedang memandangi Kepergian ayahnya. "Cih! Sebenarnya ayah mau ke mana? Kenapa harus ia rahasiakan sih."

[]=[]=[]

Sarada berjalan kesal menuju rumah sakit. Sebuah batu yang berukuran cukup besar ia tendang hingga menabrak pohon lalu terpantul ke dalam air. "Padahal ayah sudah berjanji mau mengajariku Chidori Minggu ini."

Setibanya di rumah sakit, Sarada bertanya kepada perawat mengenai keberadaan ibunya.

"Sakura sedang berada di kamar VIP nomor 7. Di sana ada pasien bernama Boruto yang sedang beliau tangani," kata perawat yang di tanya Sarada.

"Boruto? ada apa dengan anak itu sampai berakhir di sini?"

Sarada pun memutuskan untuk menemui ibunya sekaligus melihat keadaan Boruto.

Di dalam kamar, Boruto sedang berbaring sementara Sakura sedang memeriksa keadaan Boruto dengan teknik medisnya.

"Ya! Keadaan Boruto sudah membaik. Tapi ia tidak boleh latihan untuk 2 hari ini. Aku akan mengizinkan Boruto pulang nanti siang,"

"Terima kasih sudah memeriksa keadaan Boruto. Tugasku sudah selesai. Jadi aku akan pergi sekarang. Aku serahkan sisanya padamu, Sakura." kata Bunshin Naruto.

"Hn. Nanti aku akan mengantar Boruto pulang."

Bunshin itu pun menghilang meninggalkan Sakura dan Boruto di ruangan itu.

"Bibi? Apa ayah dan paman Sasuke sudah pergi?" tanya Boruto.

"Ya. 2 jam yang lalu paman Sasuke sudah meninggalkan rumah."

Tok...Tok...

Sarada pun membuka pintu setelah mendapatkan izin masuk dari Sakura. Sakura pun nampak terkejut melihat putrinya datang dengan muka cemberut.

"Ada apa sayang? Wajahmu terlihat cemberut?" tanya Sakura.

"Tidak apa-apa kok ma." Sarada memaksakan untuk tersenyum seraya mendekati Boruto. "Kenapa kau bisa sampai berakhir di sini?" tanyanya pada Boruto.

"..." Boruto terdiam tak ingin menjawab pertanyaan Sarada.

"Tuan Rokudaime yang membawa Boruto ke sini. katanya sih Boruto pingsan karena terlalu memaksakan diri dalam latihan," kata Sakura.

Perut Boruto pun berbunyi. Ia mengeluh lapar para Sakura.

"Kebetulan. Bibi tadi membeli 2 bungkus bubur." Ia mengeluarkan 1 bungkus dan memberikannya pada Boruto. "Makanlah supaya kau cepat pulih."

"Makasih," Boruto pun menerima bubur itu.

Sakura pun memberikan yang satunya lagi pada Sarada. "Kalian berdua makanlah di sini."

"Tapi ma. Aku tidak mau makan di sini?"

"Sarada. Mama mau mengambilkan vitamin untuk Boruto. kau makan saja di sini sekalian menemani Boruto."

"Hufft. Baiklah," kata Sarada dengan nada mengeluh.

:

:

:

Bersambung

Gw mau membalas review yang masuk dari Chapter 1. Maaf karena baru di balas, Hehe.

Thobi Trio Centil [Maaf kali tidak ada emosionalnya. Tapi saya akan berusaha untuk menghasilkan cerita yang sesuai minat kalian]

Nyhaww (Guest) [Makasih. Dukunganmu cukup berarti. Konfliknya di usahakan akan di perbanyak. Dan mungkin cerita ini akan cukup panjang]

Drac [Makasih atas penilaiannya. Sarannya juga cukup membantu. Sejak itu, saya selalu menghindari adanya kata-kata yang semakna. Btw, saya tidak punya banyak kenalan author senior yang lihai dalam scenen battle. Tapi akan saya usahakan membuat adegan itu sesuai bayangan saya. untuk itu saya ingin belajar menampah kosakata.]

Kira-kira itu dulu yang ingin saya balas. Dan maaf yang merasa reviewnya tidak di balas. Untuk chapter 5 kemarin tidak ada review yang masuk ya. Jadi tidak ada yang bisa di bicarakan lebih banyak. Oke see you next Chapter.