"Benar. Ini tidak bisa dibuka."

"Kan?"

Atsushi mengangguk. Dazai di sebelahnya hanya tersenyum tipis. "Saa, katanya kita mau ke kamarmu sekarang, kan?"

"U-um ..."

Keduanya beranjak, meninggalkan gerbang besar SMP Bungou yang jadi satu-satunya penghubung dengan dunia luar. Gerbang itu terkunci—lebih tepatnya tidak bisa dibuka, karena tidak ada tanda-tanda sesuatu menahan pergerakan gerbang geser itu.

"Dari yang kutahu ..." Dazai menggantung sejenak ucapannya. "Buku itu ... disembunyikan di suatu tempat, dalam sekolah ini. Itu kunci agar kau bisa keluar dari sini. Sayangnya sampai sekarang kami belum pernah menemukannya.

"Saat kamu mengatakan sesuatu soal ruang musik, kami berpikir buku itu ada di sana, makanya pada malam hari, aku dan Chuuya menyelinap ke dalam sana dan mencarinya. Kami belum selesai di sana, sih."

Atsushi mangut-mangut. "Begitu ... kah ..."

"Sou."

"L-lalu, kenapa kalian tidak mencarinya pada siang hari saja?"

Sejenak, Dazai diam.

"Lebih banyak bahaya di siang hari ketimbang malam, jika kamu gegabah mencarinya," ucapnya pelan. "Orang itu bisa leluasa memergoki kita."

"B-begitu ..."

"Yah, apapun yang bakalan terjadi kedepannya, kita akan temukan itu sama-sama dan—"

"Apa yang kalian lakukan di sini, hmm?"

Suara teguran itu membuat keduanya serentak menghentikan langkah, lantas sama-sama menoleh.

~o~

Boarding School

06 – Morning

By Vira D Ace

Bungou Stray Dogs by Asagiri Kafka and Harukawa Sango

Genre: horror-friendship

Berminat RnR?

~o~

"S-sensei ..." Atsushi tergagap, mendapati sosok gurunya itu tiba-tiba muncul di depannya dan Dazai.

Sejak kapan dia ada di sana?

"Apa yang kalian lakukan?" Fitzgerald-sensei mengulangi pertanyaannya dengan nada dingin. "Masa pembiasaan asrama* belum berakhir. Kalian mau kabur?"

"I-itu, etto ..."

"Atsushi-kun menjatuhkan gelangnya pada jam olahraga kemarin, dia bilang jatuhnya di sekitar gerbang!" Dazai langsung berkelit, membuat Atsushi seketika menatapnya.

Alis Fitzgerald-sensei naik satu. "Gelang?"

"Sou," pemuda kelas 3 SMP itu langsung merogoh sakunya, kemudian mengeluarkan sebuah gelang bermanik kayu dari sana. "Ini gelangnya, tadi mau kuberikan pada Atsushi-kun di aula makan, haha~"

Fitzgerald-sensei diam sebentar. Manik biru pucat itu menatap tajam Atsushi dan Dazai bergantian, seolah tengah mencari sesuatu. Seketika Atsushi merasa takut.

"... Baiklah ..." lalu pria itu beranjak, "kalian cepatlah mandi, lalu sarapan!"

"Ha'i~" Dazai membalasnya dengan nada riang seperti dirinya yang biasa orang lain kenal, sedangkan Atsushi hanya mengangguk kecil.

Hingga punggung guru itu tidak terlihat lagi, baru keduanya kembali berjalan. Tujuan mereka, asrama laki-laki, lebih tepatnya kamar Atsushi dan Akutagawa—berniat mengambil seragam Atsushi buat hari itu, untunglah Atsushi masih menyimpan kunci dalam sakunya.

Atsushi melirik Dazai yang berjalan di sampingnya. Pemuda itu tampak memperhatikan gelang kayu yang ada di tangannya dengan ekspresi tak terdefinisi. Ragu-ragu, Atsushi memanggil.

"Anu, Dazai-san ..."

"Ya?" Dazai menoleh.

"Gelang itu ..." Atsushi menunjuk gelang bermanik kayu yang ada di tangan sang senior, "milikmu, ya?"

Dazai mengerjap. Kemudian, ia mengangguk. "Tentu saja."

"Tampaknya berharga sekali ..."

"Kamu benar, Atsushi-kun."

"Hee ..." Atsushi mangut-mangut. "Dari seseorang?"

"Sou," lagi, Dazai mengangguk. "Dari seseorang yang juga berharga."

"Eh?"

"Gelang ini ..." sejenak Dazai menutup mata, "sudah seperti jimat buatku. Apapun yang terjadi, aku tahu gelang ini akan melindungiku, mewakili orang yang pernah memberikan ini padaku."

Atsushi termangu. "Begitu ..."

"Nih."

"Are?"

Atsushi mengerjap ketika Dazai menyodorkan gelang itu padanya. Dahinya mengernyit, serta tatapan matanya yang turut meminta penjelasan.

"Buatmu," ucap Dazai sambil tersenyum tipis.

"Buatku?" Atsushi menunjuk dirinya sendiri.

"Hmm," Dazai mengangguk.

"Apa tidak apa-apa? Maksudku, itu kan dari—"

"Sudah, terima saja."

"... Baiklah," gelang itu akhirnya diterima. Dazai tersenyum puas.

"Jaga itu baik-baik, nee?" ucapnya. "Dia akan menjagamu seperti dia menjagaku. Terserah mau kamu pakai atau tidak."

"B-baik ..." untuk sekarang Atsushi belum mau memakainya, jadi ia meletakannya dahulu dalam saku celana.

Keduanya sampai di gedung asrama laki-laki. Dazai hanya mengantar Atsushi sampai kamarnya, karena begitu sampai, ternyata Akutagawa belum pergi ke aula makan.

~o~

"Berharap gelang itu akan melindunginya, eh?"

"Itu dari Alicia. Aku yakin Alicia akan melindunginya dari sana."

"Ah, ya. Dari Alicia, ya?"

"Sou~"

"Ya udah. Sekarang mandi, gih! Aula makan udah buka!"

~o~

Atsushi diam. Maniknya sedari tadi terus menatap gelang bermanik kayu yang diberikan Dazai tadi. Sarapan yang ia ambil tadi sekarang terabaikan begitu saja di depannya. Akutagawa melirik.

"Nggak makan?"

"Ah! Oh ..." Atsushi langsung memasukan gelang tadi ke dalam saku, lantas mulai meraih sumpit dan melahap sarapannya.

Akutagawa hanya mengernyit, namun setelahnya ia hanya mengendikkan bahu dan lanjut sarapan.

"Maaf terlambat!" terdengar seruan Chuuya dari samping. Begitu menoleh, terlihat Chuuya dan Dazai sedang melangkah gegas ke arah mereka dengan nampan berisi menu sarapan hari itu di tangan masing-masing. Keduanya duduk bersebelahan di seberang Atsushi dan Akutagawa.

Kebiasaan tiap sedang berada di meja makan tetap berlanjut hari itu. Dazai entah kenapa selalu punya banyak topik untuk menghibur mereka semua di sela-sela sarapan hari itu—entah yang dibicarakannya itu hanya karangan atau benar-benar terjadi, mengingat kejadian kemarin, Atsushi sudah tidak tahu lagi.

Ah, kejadian kemarin …

Atsushi sontak melirik kanan-kiri. Aula makan ini, orang yang duduk di sekitar mereka ini, bukanlah manusia. Sebuah fakta yang membuat Atsushi merasa merinding meskipun ini masih pagi.

Sarapan keempatnya sudah tandas, namun tidak ada yang beranjak. Bel masuk belum berbunyi, mungkin baru akan berbunyi sekitar 10 menit lagi—entahlah, tidak ada jam yang bisa menunjukan waktu di aula makan besar ini. Lagian, Dazai masih mengoceh di sana.

"Baik …" suara Chuuya menginterupsi. Netra birunya sejenak melirik sekitarnya, memastikan keadaan. "Aku rasa … kita bisa mulai, sekarang?"

"Terserah Chuuya-san," kata Akutagawa.

Dazai dan Atsushi diam, namun agaknya mereka setuju-setuju saja.

Chuuya mengangguk perlahan. "Atsushi," panggilnya, "kau sudah mengerti, kan, soal yang terjadi di sini?"

Atsushi mengangguk kaku. "Y-ya …" ucapnya. "Dazai-san juga sudah menjelaskan sedikit soal buku itu."

"Naruhodo," Chuuya mangut-mangut. "Berarti hanya soal mencarinya, kan?"

"Aku dan Chuuya bisa lanjut di ruang musik," sahut Dazai. "Kita belum selesai di sana kan, Chuu?"

"Ah, ya," Chuuya diam sebentar. "Tapi bagaimana kalau ternyata bukan di sana?"

"Ya cari di tempat lain," kata Dazai santai.

"Ngomong doang gampang, masalah nyarinya itu lho," Chuuya mendengus.

"A-ano …" Atsushi mengangkat tangannya sedikit.

Dazai dan Chuuya menoleh. "Ya?"

"Kenapa tidak cari ke … perpustakaan?" Tanya Atsushi ragu. "Bukankah di sana ada banyak buku?"

"Aku dan Dazai sudah lama mencari di sana," ujar Chuuya pelan. "Nihil."

"M-memang rupa bukunya seperti apa?"

"Mirip buku tulis, kalau dari segi ukuran," ujar Dazai. "Ada nama lengkap Alicia di sampul depannya. Lalu di sampul belakangnya, kalimat berbahasa aneh. Aku kurang tahu itu bahasa apa—tapi aku berasumsi itu mantra untuk memanggil sang Iblis."

"Hanya asumsi," sahut Chuuya. "Tidak usah dipercaya, kalau kataku."

Atsushi mangut-mangut.

Bel masuk berbunyi. Keempatnya berdiri, lalu berjalan beriringan menuju pintu aula makan.

"Kami akan mencari lagi, kalau ada kesempatan," ujar Dazai sebelum mereka berpisah. Netra coklatnya menatap kedua juniornya. "Kalian ke kelas, gih."

Akutagawa mengangguk. "Hmm," lalu ia melirik Atsushi. "Ayo, Nakajima."

"T-tunggu!" seru Atsushi tiba-tiba.

"Ng?"

"B-boleh aku ikut mencarinya?"

Dazai, Chuuya, dan Akutagawa saling berpandangan.

"Karena kau sudah tahu …" Chuuya mengulum senyum. "Baiklah, kau boleh ikut mencari."

"Tapi hati-hati," tambah Akutagawa datar.

Atsushi mengangguk. "Ha'i!"

Lalu keempatnya berpisah. Dazai dengan Chuuya, Atsushi dengan Akutagawa, menuju kelas masing-masing.

~tbc~

[*Masa pembiasaan asrama: masa di mana pada awal tahun ajaran baru, selama 3 bulan, siswa tidak diperbolehkan pulang ataupun keluar dari lingkungan asrama-sekolah. Di dunia nyata, ini hanya berlaku pada siswa baru / pindahan, tapi di sini Vira buat berlaku untuk seluruh kelas.]

Yosh, ternyata bisa update minggu ini … (eh tapi minggu lalu ga ada update ya, wkwkwk :'v)

Chapter depan kayaknya udah masuk, em … apa sebutannya? Duh lupa, apapun itu lah :'v /apa sih Vir apa?

Tapi berhubung ini beneran update-an terakhir, berarti masih lama sebelum chapter selanjutnya. Vira bakalan masuk asrama mulai sabtu, 13 Juli 2019. So I'll miss you, guys :"

Btw maaf karena chapter ini begitu pendek :" /g /auto digebuk

Untuk kali ini maaf banget karena nggak bisa balas review. Banyak yg kudu disiapin besok sampe hari Jum'at, Sabtu tinggal pindahan (btw chapter ini selesai diketik pas lagi di Balikpapan kemarin, dan di sana nggak bisa buka FFn kalau pakai kartu yg Vira pakai saat ini). reviewnya udah dibaca semua, kok (dari sebelum pergi ke Balikpapan sih), dan kayaknya beberapa pertanyaan udah ada yang terjawab dalam chapter ini (yang belum bakalan dibahas di chapter selanjutnya, mungkin.)

Oke, segini saja. Terima kasih sudah mampir dan baca, Minna-san :D

Vira D Ace pamit, mari bertemu tiga bulan lagi!