Ia tidak ingat bagaimana ia bisa sampai disini atau alasan yang membawanya kemari. Semuanya terasa aneh namun masih diterima oleh nalarnya. Tempat itu terlihat asing dimata Chan Yeol namun batinnya seolah mengenali tempat itu.

"Chan-ie-hyung!"

Chan Yeol menoleh ke arah suara. Disana, sekitar sepuluh meter dari posisinya, seorang anak kecil tampak melambai-lambaikan tangan padanya.Anak itu tiba-tiba berlari ke arahnya dan membuat sosok itu terlihat jelas. Chan Yeol merasa tidak asing dengan birunya kaos atau sepatu yang membalut kaki kecilnya. Hanya saja wajah anak itu tidak bisa retinanya tangkap dengan jelas karena topi merahnya menghalangi cahaya menyentuh wajahnya.

"Kenapa hyung diam saja? Ayo main!"

Anak itu meraih tangannya dengan mudah, membuat Chan Yeol sadar bahwa tingginya ternyata tidak terpaut jauh dari anak tersebut. Chan Yeol tidak bisa memastikan berapa umur anak itu, mungkin berkisar antara empat atau lima tahun. Ia menyeret Chan Yeol dengan tangan kecilnya yang terasa halus.

"Kita kemana?"

Anak itu menoleh dan Chan Yeol dapat merasakan senyum yang terarah padanya. "Ke taman! Hari ini Chan-ie-hyung yang jaga ya?"

Chan Yeol belum menjawab ketika anak itu kembali berucap, "Tapi kali ini hitung lebih lama, kalau cuma sampai sepuluh terlalu cepat."

Kalimat terakhir diujarkan dengan nada merajuk yang lucu, Chan Yeol tanpa sadar mengangguk. Dan sekali lagi, Chan Yeol tahu anak itu tersenyum dibalik topinya.

"Terima kasih hyung!"

.

Unbreakable Vow © Nightingale

I own the story but casts, we knew whose own them ;)

.

The flower petals fell and became dirt,
The burning passion become ash,
Why does everything good always become like this?

(Super Junior – Evenesce)

.

Mata Chan Yeol terbuka begitu saja, seorang bocah bertopi merah sedang bersembunyi darinya di sebuah taman dan Chan Yeol harus menemukannya. Itu adalah mimpi yang aneh, namun perasaan mendesak untuk menemukan bocah itu terbawa hingga ke alam sadarnya.

Cahaya yang menyelip ditepian gorden abu kamarnya memberitahu Chan Yeol hari telah berganti. Ia menoleh ke samping dan menemukan Kyung Soo yang masih terlelap. Lelaki itu tidur dengan posisi telungkup dan wajahnya menghadap ke Chan Yeol. Iris terangnya menyapu pundak dan sepanjang pungung Kyung Soo yang pucat, dan berakhir di tepian selimut yang membungkus pinggang hingga pangkal pahanya. Jauh di bawah sana Chan Yeol bisa melihat sebelah kaki Kyung Soo yang luput tertutup selimut.

Chan Yeol mengulas senyum, ini adalah pemandangan yang ingin dilihatnya setiap hari. Kyung Soo memiliki wajah tidur yang lucu –walau pada dasarnya segala jenis ekspresi Kyung Soo adalah kesukaan Chan Yeol- dan ia sanggup berbaring disana seharian memandang rupa sosok tersebut.

Tangannya menyusuri tulang belakang Kyung Soo dengan sentuhan mengambang. Ia terkekeh geli melihat Kyung Soo yang bergerak-gerak kecil karena tidurnya terusik. Merasa gemas, Chan Yeol mendekat dan memberikan kecupan-kecupan ringan di pundak Kyung Soo berkali-kali dan menghasilkan gumaman tak jelas dari yang lebih kecil.

"Hey, Sunflower, rise and shine." Bisik Chan Yeol.

Kyung Soo belum juga membuka matanya.

"Sayang, bangunlah…"

"Ugh, jangan nakal, hyung. Akan kuadukan ke ibu."

Chan Yeol tertegun, untuk sesaat ia mengira Kyung Soo benar-benar berbicara padanya, namun setelah beberapa lama Kyung Soo tak juga membuka matanya ia sadar ternyata anak itu sedang mengigau. Tiba-tiba sekelebat bayangan muncul di kepalanya.

Kyung Soo yang tidur di sofa,

Kyung Soo dalam pelukannya,

Kyung Soo dan bunga matahari.

Chan Yeol memegang kepalanya yang tiba-tiba berdenyut. Ia tanpa sadar mengeluarkan desisan yang membuat sosok di sebelahnya terjaga.

"Ada apa, Chan Yeol?" tanya Kyung Soo, suaranya sedikit serak khas baru bangun tidur.

"Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing."Chan Yeol memaksakan sedikit senyum di akhir kalimatnya.

"Apa kau membutuhkan sesuatu?"

Kyung Soo bangkit, sepenuhnya menghiraukan bagian atas tubuhnya yang bersentuhan langsung dengan udara. Chan Yeol yang melihatnya tersenyum tipis. Nyeri di kepalanya sudah berkurang, mungkin mencandai kekasihnya sedikit tidak apa-apa.

"Yah, aku memang butuh sesuatu."

"Apa?"

Chan Yeol menyingkirkan tangannya agar bisa menatap wajah Kyung Soo keseluruhan. Seraya menunjukkan cengiran lebarnya, Chan Yeol menjawab,

"Morning kiss."

Seketika itu pula raut khawatir Kyung Soo berubah gusar. Ia memberikan satu pukulan keras di pundak Chan Yeol disertai umpatan dengan suara rendah.

"Dasar bodoh."

Meski begitu Kyung Soo tetap tidak menolak ketika Chan Yeol menariknya kembali berbaring. Ia menggunakan lengan yang lebih tinggi sebagai bantal. Tangannya menggambar pola-pola tak tentu di dada Chan Yeol.

"Kau memang menyebalkan. Aku benar-benar khawatir tadi."

Chan Yeol mengusap-usap punggung Kyung Soo. "Maaf. Tadi kepalaku memang sedikit sakit, tapi sekarang sudah tidak apa-apa."

"Apakah itu sering terjadi?"

Ada jeda sejenak, potongan-potongan ingatan itu kembali. "Tidak."

"Bagaimana perasaanmu sekarang?" Kyung Soo kembali bertanya.

"Aku baik-baik saja. Tidak usah khawatir, oke?"

Kyung Soo mengangguk sekali sebagai jawaban. Chan Yeol mengeratkan pelukan, sementara kakinya di bawah selimut membelit tubuh Kyung Soo sepenuhnya, dan ia diam-diam tersenyum mengetahui yang lebih kecil tidak menolaknya sama sekali.

"Aku suka memelukmu seperti ini." Chan Yeol bergumam di sela rambut Kyung Soo.

"Hm, aku juga."

"Hei, aku benar-benar serius tentang tadi."

Kyung Soo mengangkat kepalanya agar bertemu pandang dengan Chan Yeol. "Apa?"

Bibir Chan Yeol membentuk senyum miring hampir menyerupai seringai, suara baritonnya mampu membuat rambut halus di sekitar tengkuk Kyung Soo bergetar.

"Aku menginginkan ciuman selamat pagiku."

Dan Kyung Soo bahkan belum sempat merespon karena Chan Yeol sudah lebih dulu menyatukan bibir mereka. Membungkam segala protesan yang mungkin akan dijadikan sebagai alasan dan menginvasi bagian dalam mulutnya. Dan ciuman Chan Yeol mampu melumpuhkan seluruh kinerja dalam kepalanya.

...

Mata berbalur eyeliner-nya terus mengawasi gerak-gerik lelaki yang tampak serius dengan foto-foto di atas meja. Manik elangnya tampak fokus meneliti setiap gambar, sebentar-sebentar ia akan tersenyum geli ketika matanya menangkap pose yang lucu di matanya.

Sebenarnya Baek Hyun penasaran setengah mati tentang perubahan sikap Jong In terhadapanya akhir-akhir ini. Awalnya ia mengira mungkin Jong In hanya sedang tak ada kerjaan sehingga ia mengantar-jemput Baek Hyun di apartemennya, namun ketika hal itu terus berlangsung lebih dari seminggu, Baek Hyun mulai bertanya-tanya. Ditambah dengan pesan-pesan yang memenuhi ponselnya dari orang yang sama seperti, 'Hyung, sudah makan siang?' atau 'Jangan tidur terlalu larut, hyung. Aku tidak ingin kau jatuh sakit.' atau 'aku tunggu di parkiran hyung, kita pulang bersama ya?' dan masih banyak lagi.

Mata Baek Hyun terus terpaku pada wajah Jong In sementara pikirannya melayang ke dua minggu terakhir. Terlalu larut dalam lamunannya, Baek Hyun tidak menyadari bahwa Jong In mengangkat wajah dan balas memandangnya.

"Ada sesuatu di wajahku, hyung?"

"Huh?"

"Sejak tadi kau terus menatapku."

Baek Hyun salah tingkah. "Be-benarkah? Haha, aku tidak sengaja."

Jong In mengangkat alis. "Kau tidak sengaja melamun sambil memandang wajahku?"

"Y-yeah, begitulah." Baek Hyun mengalihkan matanya ke arah lain. "Ah, Chen! Kau butuh bantuanku?"

Baek Hyun menghampiri Jong Dae dan Min Seok yang tampak sibuk menata hadiah yang sudah rapi di dinding, menumpuknya bersama kotak yang lain. Berdasarkan perhitungan Tao, harusnya kotak-kotak itu sudah genap lima ratus.

"Bagaimana? Sudah cukup?"

Joon Myeon datang membawa tiga kotak hadiah di tangannya di ikuti Luhan, Kyung Soo, dan Jong In yang muncul paling akhir.

"Sebentar, hyung. Minnie sedang menghitungnya." Jawab Jong Dae.

Baek Hyun memungut kotak terakhir di lantai dan berniat meletakkannya diatas kotak lain, namun tumpukan itu ternyata sudah melewati tinggi Baek Hyun dan ia bahkan tidak bisa mencapainya meski menjinjitkan kaki. Ia sudah hampir menyerah dan kembali meletakkannya sebelum tangan lain merebut kotak tersebut. Baek Hyun sontak berbalik dan menemukan Jong In yang menatapnya dengan ekspresi tak terbaca. Jong In maju dan Baek Hyun refleks mundur ke belakang. Jantungnya semakin berdetak kencang ketika punggungnya menyentuh kotak di belakangnya sementara wajah Jong In semakin mendekat.

"J-jong In…" panggil Baek Hyun dengan suara tercekik.

Namun Jong In tidak berhenti. Baek Hyun yang tidak sanggup menatap mata Jong In lebih lama tanpa sadar memejamkan matanya. Suara 'tuk' pelan dari atas kepalanya menarik Baek Hyun untuk membuka mata. Ia mendongak dan melihat kotak yang tadi dipegangnya kini sudah berada di tempat yang Baek Hyun inginkan.

"Jangan memaksakan diri kalau tidak bisa, hyung. Kau bisa minta tolong padaku."

Baek Hyun mengalihkan tatapan dan menemukan Jong In yang sedang tersenyum tipis padanya. Senyum tipis yang mampu membuat wajah Baek Hyun memunculkan semu di sekitar tulang pipinya, ditambah dengan jarak wajah mereka yang terlampau dekat. Dan Baek Hyun akhirnya bisa bernapas dengan normal ketika Jong In mundur beberapa langkah.

"Empat ratus sembilan puluh, empat ratus sembilan puluh satu,—"

Baek Hyun mendekati Min Seok yang hampir selesai menghitung di ujung deretan kotak yang satunya. Yifan, Chan Yeol, dan Yixing sibuk di depan komputer, katanya mendiskusikan konsep pertunjukan musik mereka dan segala tetek bengeknya. Sisanya sedang mengelilingi Min Seok, jadi Baek Hyun memilih untuk bergabung bersama mereka.

"498, 499, 500!"

"YES!"

"Holla!"

"Yuhuuu!"

Seketika suara sorakan terdengar. Mereka berpelukan, melakukan high five, dan melompat-lompat seperti anak kecil. Joon Myeon langsung berlari ke arah Yifan dan merangkul leher kekasihnya dari belakang sambil memekik,

"Kita berhasil, Yiyi! Kita berhasil! Hadiah natalnya sudah cukup lima ratus kotak! Kita berhasil!"

Chan Yeol dan Yixing yang melihatnya hanya bisa tersenyum, sama sekali tidak berniat menolong Yifan yang tampak kesulitan bernapas karena pelukan kelewat erat Joon Myeon di lehernya.

Baek Hyun terkekeh melihat tingkah kekanakan Joon Myeon yang baru kali ini dilihatnya. Ia pun tak kalah senangnya, namun menurut Baek Hyun itu wajar mengingat bagaimana perjuangan Joon Myeon dalam menghadapi dirinya beserta sepuluh anggota yang lain mulai dari belajar merajut hingga mereka berhasil membuat shawl dan beanie untuk anak-anak yatim di hari natal nanti. Walau perjuangan mereka belum berakhir, setidaknya rencana pertama mereka berhasil, dan Baek Hyun tidak bisa lebih senang dari itu.

Ia berpelukan erat dengan Jong Dae dan menari-nari tidak jelas bersama Tao. Baek Hyun berbalik dengan tangan terentang namun terpaku karena ternyata sosok yang ada di belakangnya adalah Luhan. Lelaki itu juga terpaku dengan pose yang sama dengan Baek Hyun, lengan terbuka siap memeluk. Mereka bertatapan untuk sekian detik dan Luhan memutuskan untuk berbicara lebih dulu.

"Kenapa berhenti? Bukankah tadi kau ingin memelukku?"

Baek Hyun langsung memasang wajah imut-tapi-menyebalkannya. "Siapa bilang? Bukankah itu kau?"

Seorang Byun Baek Hyun adalah tsundere sejati, dan Luhan sudah sangat hapal dengan karakternya yang satu itu. Ia hanya memutar bola mata dan memilih untuk menghampiri yang lain saja.

"Ya sudah kalau tidak mau."

"Eh-eh, kau mau kemana? Bukankah tadi kau ingin berpelukan?"

Luhan hanya bisa memasang wajah datar melihat tingkah Baek Hyun yang sangat tidak sesuai usianya. Namun ia tetap mendekati Baek Hyun dan memeluk tubuh lelaki itu.

"Dasar bocah!" gerutu Luhan.

"Ya! Aku bisa mendengarnya, Bodoh!" Baek Hyun membalas di bahu Luhan.

"Arra…" Luhan memutuskan mengalah. Setidaknya untuk kali ini ia ingin berkomunikasi dengan cara yang normal pada teman sejak SMA-nya itu.

"Hei, Bacon."

"Ada apa?"

"Aku harap kau sudah bisa berpindah dari Chan Yeol."

Baek Hyun mendengus. "Kenapa? Kau takut aku menjadi pengganggu dalam hubungan percintaan adikmu?"

"Bukan begitu Baek." Luhan melepas pelukannya dan menatap Baek Hyun serius. "Aku yakin kau bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik dari Chan Yeol. Dan aku mengatakan ini bukan karena aku ingin melindungi Kyung Soo, melainkan karena aku peduli pada sahabatku."

Adalah hal yang jarang diantara mereka memanggil dengan nama masing-masing. Dan ketika Luhan melakukannya, itu berarti lelaki itu sungguh-sungguh dengan ucapannya.

"Kukira kita bukan sahabat lagi." Ujar Baek Hyun dengan mata berkaca-kaca.

"Kau yang lebih dulu bilang aku adalah sainganmu di ruang musik waktu itu."

"Aku tidak sungguh-sungguh dasar rusa menyebalkan, itu hanya karena orang-orang berkata suaraku tidak sebagus suaramu, jadi aku tanpa sadar mengatakan hal seperti itu. Lalu kau tiba-tiba menjauhiku dan lengket dengan Min Seok!"

"Itu karena kau tidak menjelaskannya padaku! Yang ada kau malah bersikap tidak peduli." Luhan membalas sengit.

Baek Hyun berkacak pinggang. "Jadi kau mau bilang itu adalah salahku?"

"Siapa lagi?"

"Tentu saja kau!"

"Kau!"

"Kau!"

"Kau yang salah, Byun Bacon!"

"Ya! Kau memanggilku Bacon lagi?"

Mereka berdua saling melempar tatapan tajam untuk beberapa saat, namun menyengir lebar setelahnya. Selanjutnya saling menertawakan pertengkaran mereka yang benar-benar tidak ada gunanya dan kekanakan. Namun yang pasti mereka berdua sadar bahwa mereka saling memiliki satu sama lain lagi, walau pada dasarnya tidak ada yang benar-benar kehilangan.

"Jadi kita baikan?" tanya Baek Hyun disertai senyuman.

"Kecuali kau lebih suka kita beradu mulut seperti tadi, kenapa tidak?"

Senyum Baek Hyun melebar. Ia kembali memeluk Luhan, kali ini dengan sangat erat.

"Luheeeeen, aku sangat merindukanmuuuu!"

Yang dipelukhanya bisa terkekeh. "Aku juga merindukan panggilan itu."

Luhan masih dipeluk oleh Baek Hyun ketika ia bersitatap dengan Jong In yang tersenyum padanya. Lelaki itu mengacungkan jempol padanya dengan bibir yang berucap 'good job' tanpa suara. Hal itu mengingatkan tujuan utamanya tadi ketika mengajak bicara Baek Hyun. Ia buru-buru melepas belitan Baek Hyun agar bisa menatap wajahnya.

"Aku serius dengan ucapanku tadi, Baekkie."

"Apa?"

"Finding someone else."

Baek Hyun tersenyum, merasa senang mengetahui Luhan mencemaskannya. "Mungkin akan lebih mudah jika kau punya rekomendasi seseorang yang tak kalah keren dari Chan Yeol." Candanya.

"Oh, tentu saja aku punya rekomendasi yang sangat bagus."

Melihat kilatan misterius di mata Luhan, entah kenapa Baek Hyun merasa agak menyesal atas ucapannya. Namun Luhan tidak mengatakan yang lain lagi, lelaki itu justru menariknya ke tengah-tengah ruangan dimana teman-temannya yang lain tampak serius membicarakan sesuatu.

"Maaf terlambat, apa yang kami lewatkan?" tanya Luhan seraya menarik Baek Hyun duduk di sofa yang sudah Min Seok siapkan untuk mereka.

"Ini tentang pertunjukan musik kita." Yifan angkat bicara.

"Hasilnya?"

"Belum ada yang pasti, kami masih memilih-milih. Punya saran tema yang cocok?" sambung Joon Myeon.

"Entahlah, White Christmas?" Luhan memberikan usul.

"Bagus juga, ada yang lain?"

"Bagaimana menurutmu, Baek?" tanya Chan Yeol.

"Bagaimana kalau Miracle in December?"

"Aku suka ide Baek-hyung."

Baek Hyun menoleh ke arah Jong In, lelaki itu duduk di lengan sofa tunggal yang ditempati Sehun. Tatapannya terarah ke Baek Hyun dan hal itu membuat pipinya merona. Luhan yang menangkap interaksi diam-diam mereka hanya bisa mendengus.

"Oh, tentu saja kau suka jika itu tentang Baek Hyun."

Baek Hyun menginjak kaki Luhan keras, menghasilkan jeritan kesakitan dari yang bersangkutan.

"Hyung, jangan injak kaki pacarku!" Sehun memprotes.

"Guys, be focus." Lagi-lagi Jong Dae menjadi penengah.

Baek Hyun memilih bungkam, ia berpura-pura tidak merasakan sorot bengis yang dilemparkan sahabatnya, maupun tatapan penuh makna oleh Jong In. Ia menyibukkan diri menatap foto-foto yang berserakan diatas meja.

"Jadi semuanya sepakat pertunjukan kita bertema Miracle in December?"

Yang lain serempak mengiyakan.

"Setelah itu apa lagi?" tanya Min Seok.

"Bagaimana dengan nama?" Yixing menyeletuk.

"Nama apa?" Tao ikut bersuara.

Yixing menepuk jidat. "Nama kelompok kita! Aku bertugas di bagian publikasi dan pemasaran, dan aku bingung harus menulis apa. Masa aku hanya menuliskan nama kalian saja?"

Di sudut sana Baek Hyun mendengar bisikan Sehun pada Jong In. "Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah dikatakan Lay-hyung, benar?"

"Itu benar, menurutku kita butuh sebuah nama agar orang-orang gampang mengingat kita." Ujar Joon Myeon.

"Entah kenapa aku merasa kita seperti membuat sebuah boygroup." Luhan menyahut.

Jong In mengangkat bahu. "Kenapa tidak? Itu akan membuat kita terkenal."

"Oke, nama apa yang keren?" tanya Chan Yeol lagi. Sementara di sebelahnya Kyung Soo duduk dengan tenang. Ia hanya memainkan tangan Chan Yeol di pangkuannya.

"Sebenarnya aku sudah memikirkan tentang hal itu sejak lama. Aku punya sebuah nama yang menurutku cocok." Yifan berhenti sejenak. Ia memandang teman-temannya satu persatu dan melihat mereka menanti kelanjutan kalimat Yifan. "Dan namanya adalah… EXO."

"Huh? Bisa ulangi?" Jong Dae memasang wajah bingung.

"EXO." Balas Yifan.

"Bakso?" Tao menggumam.

"Namanya EXO! E, X, O! EEEXOOO!" ulang Yifan berapi-api.

"Err, apa itu hyung?" tanya Sehun.

"Itu berasal dari kata exoplanet, sebutan untuk planet-planet diluar jajaran tata surya."

"Apa hubungannya dengan konsep pertunjukan kita?" Joon Myeon ikut bertanya.

"Sebenarnya tidak ada. Aku hanya merasa nama itu keren."

Joon Myeon dan yang lainnya hanya bisa memasang wajah datar mendengar penuturan Yifan. Hari itu mereka membahas banyak hal dan mereka mencapai beberapa kesimpulan:

Nama group (Luhan selalu memasang wajah muntah mendengarnya) mereka adalah EXO;

Tema pertunjukannya adalah Miracle in December;

Tao bersikeras menjadi penata kostum;

Mereka semua membuat mental note bahwa Yifan adalah pemberi saran terburuk.

From: Mine

Baby, dimana? Aku baru selesai latihan.

Luhan membaca pesan Sehun seraya mendengus. Sejak resmi menjalin hubungan, bocah itu tidak bersedia memanggilnya dengan embel-embel hyung lagi. Alasannya sederhana dan cukup kekanakan, karena Luhan adalah kekasihnya dan hyung bukanlah panggilan yang romantis dalam berpacaran.

Sekali bocah tetap saja bocah. Pikirnya.

Kelas terakhir Luhan baru saja selesai beberapa menit yang lalu, bersamaan dengan masuknya pesan Sehun. Tubuhnya terasa lelah meski tidak banyak aktivitas berat yang dilakukannya seharian. Setelah ini ia akan bertemu dengan seorang pelatih vokal untuk persiapan pertunjukan musik mereka. Kemarin Joon Myeon sudah membagi tugas untuk mereka semua, dan ia mendapat jatah vocal line bersama Baek Hyun, Jong Dae, dan Kyung Soo. Ia tidak heran mendapat tugas itu karena menyanyi adalah satu-satunya keahlian Luhan dalam bidang seni. Tentu saja Sehun dan Jong In mendapat tugas menari, dan Joon Myeon, sebagai leader sekaligus orang terkaya diantara mereka, menyediakan segala property dan membiayai semua keperluan mereka.

Dan tujuan Luhan pergi ke lapangan olahraga saat ini karena kekasihnya bersikukuh mengantarnya ke tempat latihan Luhan.

Sehun bilang ia baru selesai latihan, jadi Luhan memilih langsung ke ruang ganti khusus klub baseball di gedung olahraga dan menunggunya disana. Di depan gedung ia bertemu dengan teman seklub Sehun yang sudah berganti kostum.

"Ah, halo, Luhan-sunbae." Mereka membungkuk singkat pada Luhan. "Mencari Sehun ya? Dia masih di ruang ganti, sunbae masuk saja." Ujar salah seorang diantara mereka, Luhan lupa siapa namanya.

Luhan hanya memasang senyum kikuk di hadapan mereka. Sedikit risih melihat sikap ramah mereka. Ini semua karena Sehun langsung mengenalkannya pada semua kenalannya bahwa Luhan adalah kekasihnya. Kata 'semua' disini berarti seluruh orang yang mengenal Sehun maupun dirinya, lelaki itu bahkan langsung mengunggah fotonya dan Luhan di seluruh akun media sosial miliknya.

Benar-benar khas Sehun.

Luhan berjalan mendekati pintu tujuannya dengan bibir menggerutu. Ia berniat mengomeli sikap Sehun yang terlalu berlebihan. Satu kampus kini sudah tahu dan ia tidak bodoh untuk tidak menyadari tatapan membunuh yang dilayangkan para penggemar Sehun padanya. Benar-benar menyebalkan.

Pintu terbuka dengan keras namun segala jenis makian Luhan tertahan di tenggorokannya. Sehun yang sedang mondar mandir di ruangan tiga kali empat itu membuat Luhan tertegun. Bagaimana tidak? Lelaki itu melakukannya hanya dengan selembar handuk tipis yang hanya menutupi bagian paling privasi tubuhnya.

"Lu? Kenapa berdiri saja? Masuklah."

Luhan masih belum bisa memproses keadaan di sekelilingnya, matanya terlalu sibuk memandangi torso Sehun yang bersih tak bercela. Selama ini Luhan tidak pernah mengira lelaki pucat itu memiliki tubuh seperti itu karena Sehun selalu memakai kaos longgar atau kemeja lengan panjang. Pakaian itu ternyata menyembunyikan dada bidang, pundak lebar, dan kotak-kotak halus yang tercetak di perut kekasihnya. Sementara Sehun yang bingung karena kekasihnya tak merespon berjalan mendekati Luhan. Ia mengibaskan rambutnya yang setengah basah ke belakang seolah sedang mengiklankan brand shampoo untuk pria, dan Luhan langsung merinding seluruh tubuh melihatnya.

"Hei, baby, kau baik-baik saja?"

Wajah Luhan semakin memerah menatap Sehun dalam jarak yang dekat. Bulir-bulir air yang menghiasi dada dan perut ratanya terlihat menggoda, dan aroma aftershave yang segar memenuhi indera penciumannya. Dan wajah Sehun yang basah membuat alisnya terlihat lebih tebal, dan bibirnya...

Oh Tuhan, ampuni hamba-Mu ini. Luhan mendesah dalam hati.

"A-aku… oke." Balas Luhan seraya mengalihkan pandang.

Mata Sehun yang jeli tentu saja menangkap semu yang berkumpul di pipi kekasihnya, dan seperti lampu pijar yang menyala Sehun langsung mahfum akan apa yang dialami sosok cantik dihadapannya. Ia menarik langkahnya malas hingga jarak diantara mereka semakin menipis. Sehun terkekeh dalam hati melihat iris jernih Luhan yang bergerak liar tanpa berniat bertatapan langsung dengannya.

Iseng, Sehun menangkap lengan Luhan kemudian menarik hingga tubuh bagian depan Luhan menubruk dada telanjang Sehun.

"Y-ya! Apa yang kau lakukan?"

Luhan menekan dada Sehun, berusaha menciptakan jarak namun lingkaran tangan Sehun di pingganya membuat usahanya sia-sia. Ia menelan ludah susah payah, mata Sehun yang tak pernah berpaling darinya membuat perasaannya resah.

Luhan mengangkat kepalanya takut-takut. "Sehun-ah, aku akan terlambat jika kau tidak bergegas."

Sehun tak langsung membalas atau melepas rengkuhannya, lelaki jangkung itu justru merapatkan tubuh Luhan ke dadanya hingga wajah mereka hanya terpaut satu senti. Dan seringai yang tercipta di wajah Sehun terlihat begitu agung hingga Luhan merasa lututnya melembek.

"Luhan…"

Sejak kapan pula namanya berubah begitu erotis di telinganya sendiri?

Alarm imajiner di kepala Luhan menyalak keras begitu sadar apa yang ingin dilakukan Sehun padanya. Entah mendapat kekuatan dari mana, Luhan berhasil mendorong Sehun hingga lelaki itu mundur dua langkah ke belakang. Namun sesuatu yang lebih buruk terjadi, lilitan handuk Sehun lepas dan kain putih itu meluncur mulus ke lantai. Mereka berdua terpaku pada sesuatu diantara kaki Sehun selama beberapa detik sebelum Sehun merasakan telinganya berdenging.

"HYAAAAA! DASAR BOCAH CABUL SIALAN!"

Plak!

Seharian itu Luhan tidak mau bicara dengan kekasihnya, dan Sehun pulang ke rumahnya dengan noda merah bekas tangan di pipinya.

Lelaki dengan tinggi diatas rata-rata itu berjalan sendiri menuju auditorium kampusnya. Hari ini adalah jadwal latihan mereka, para anggota EXO. Chan Yeol jadi tersenyum sendiri setiap kali benaknya menyebut nama itu. Apa yang Luhan katakan memang benar, mereka jadi seperti sebuah boygroup yang digilai oleh gadis-gadis sekolah menengah. Sang ketua, Joon Myeon menyuruhnya untuk cepat kesana karena hanya sisa dirinya yang belum datang.

Begitu memasuki ruang auditorium, kesibukan langsung menyambut pandangannya. Ada banyak orang mengenakan kaos hitam mondar-mandir di panggung tampak sudah jadi dengan model setengah lingkaran, dengan tempat duduk penonton yang mengelilinginya. Kursi-kursi itu tak hanya di letakkan di lantai yang ditempati Chan Yeol sekarang, di lantai khusus yang berada tepat diatas kepala Chan Yeol pun juga tampak dipersiapkan agar penonton yang tidak mendapatkan kursi di lantai dasar akan dialihkan ke lantai khusus tersebut.

Chan Yeol tidak menyangka persiapan untuk pertunjukan mereka ternyata sampai seperti ini.

"Oi, Chan Yeol!"

Ia menoleh ke arah suara dan melihat Joon Myeon yang berada di sudut panggung bersama seorang lelaki yang tidak Chan Yeol kenal. Ia melangkah menaiki panggung dan menghampiri Joon Myeon.

"Loh, yang lain mana hyung?" tanya Chan Yeol seraya mengedarkan pandang ke segala arah.

Joon Myeon tersenyum. "Kau terlambat, mereka semua sudah pergi. Kris dan Lay ada janji dengan ketua BEM kampus, sedang sisanya ke Concerto. Tao menyuruh kesana untuk mencoba kostum yang akan kita pakai tampil nanti."

"Bagaimana dengan latihannya?"

"Nanti malam mereka semua akan berkumpul disini. Sebaiknya kau menyusul mereka."

"Hyung masih akan disini?" Chan Yeol bertanya lagi.

Joon Myeon mengangguk sembari tersenyum. Ia sekilas mengangkat lembaran denah tata ruang dan panggung di tangannya. "Ada sedikit masalah di bagian lighting dan visual-nya."

"Apakah itu parah?"

"Tidak. Para teknisi disini pasti bisa menanganinya. Oh ya, beritahukan pada anak-anak untuk ada disini sebelum pukul tujuh malam, semuanya memiliki bagian perform dan itu berarti kau juga termasuk. Atau kalian akan dalam masalah, oke?"

Chan Yeol memutar bola mata. Lama-lama ia setuju juga dengan Tao tentang Joon Myeon yang sudah seperti ibu mereka semua. "Arasseo, Eomma."

"Ya!"

Joon Myeon hendak menjitak kepala Chan Yeol namun lelaki yang lebih tinggi darinya itu sudah lebih dulu kabur dari sana. Ia hanya bisa menggeleng-geleng pelan melihat punggung Chan Yeol yang menuju pintu keluar.

Sementara itu dilain tempat, Tao sibuk membuka kotak kardus yang baru saja diantar oleh petugas pengantar barang. Ia memekik senang melihat isi kardus tersebut sesuai dengan harapannya. Min Seok dan Jong Dae membantu membuka dua kardus yang lain.

"What the fuck." Sehun membentangkan kain tersebut dengan alis mengerut.

"Oh Sehun, sudah berapa kali kukatakan untuk tidak mengumpat?" Luhan berdiri di belakang Sehun seraya berkacak pinggang.

"Kau akan mengatakan hal yang sama setelah melihat ini, Baby." Ujar Sehun seraya berbalik.

"Apa maksud- holyshit! Apa itu?!"

Sudah kuduga. Sehun membatin.

Luhan menatap tak percaya pada blazer abu-abu yang dibentangkan oleh kekasihnya. Di punggung blazer tersebut tertera angka 21 dengan tulisan CHEN berwarna hitam dibawahnya.

"Huang Zitao!"

"Ya, Ge?" balas Tao seraya menatap Luhan.

"Katakan padaku kalau itu bukan kostum kita!" tanyanya seraya menunjuk kain di tangan Sehun.

Tao belum sempat menjawab ketika Baek Hyun bersama Jong In muncul di hadapannya.

"Hei, Lu, lihat ini!"

Ekpresi Luhan adalah perpaduan antara heran, jijik, dan ngeri melihat penampilan Baek Hyun. Lelaki itu tampak tidak menyadari mimik Luhan, ia sibuk mengagumi dirinya sendiri dalam balutan kemeja lengan panjang putih dan jeans super ketat yang menonjolkan kakinya yang jenjang. Di lehernya terdapat dasi kupu-kupu berwarna merah, beserta fedora hat merah terang diatas kepalanya. Tangannya sibuk menarik-narik suspender hitam yang terkait ke jeans miliknya.

"Bagaimana? Ini bagus bukan?" tanyanya dengan senyum cantik.

Sehun yang berdiri di belakang Luhan menunduk dengan pundak bergetar setelah menatap Jong In, penampilan pemuda itu tidak beda jauh dengan Baek Hyun hanya saja kemeja yang dipakainya bermotif kotak dengan dominasi merah dan tidak ada dasi kupu-kupu.

Setelah sadar dari keterkejutannya, Luhan berujar, "Aku. Tidak akan. Pernah. Memakai. Benda. Itu." Tangannya menunjuk pada setelan Baek Hyun dan Jong In dengan tatapan iritasi yang sangat lucu.

Senyum Baek Hyun seketika menghilang. Ia menatap Luhan dengan mimik tak berdosa. "Kenapa?"

Sedikit lagi Luhan mungkin akan meledak. "Karena itu sangat norak, for fuck's sake!" ia lalu beralih ke Tao. "Zitao! Kenapa kau memesan kostum seperti itu? Memangnya kau pikir kita ini penyanyi atau semacamnya? Astaga!"

Tao mengkerut di tempatnya melihat tatapan Luhan yang seolah berniat mengulitinya hidup-hidup. Ini pertama kalinya ia melihat Luhan segusar ini. Tao menunduk dengan wajah murung sedang kedua tangannya tersembunyi di punggungnya.

"Ma-maaf kalau hyung tidak suka. A-aku akan menggantinya." Ujar Tao seraya mengambil blazer di tangan Sehun tanpa mengangkat wajahnya. "Kai, Baek-hyung, bajunya tolong dilepas, aku akan mengembalikannya."

Luhan terpaku melihat Tao yang berjalan menuju pintu keluar tanpa mengatakan apapun lagi. Mendadak ruangan itu berubah hening dengan atmosfir yang tidak mengenakkan.

"Lu, menurutku kau terlalu berlebihan." Min Seok menghampiri Luhan yang masih bungkam.

"A-aku tidak bermaksud membentaknya, hanya saja baju-baju ini terlalu aneh."

"Tidak, Luhan. Ini sama sekali tidak aneh atau norak, ini keren. Gadis-gadis jaman sekarang memang menyukai konsep yang seperti ini. Tao sudah konsultasi dengan beberapa fashion stylist, Suho-hyung pun sudah menyetujuinya."

Pundak Luhan merosot mendengar penjelasan Min Seok. Ia berjalan gontai menuju sofa dengan wajah suram. Dalam hati pun Luhan mengakui kostum itu sama sekali tidak buruk, hanya saja ia tanpa sengaja mengeluarkan reaksi spontan setiap kali ia melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan seleranya.

"Ugh, apa yang sudah kulakukan?" gumamnya seraya meremas rambutnya.

"Minta maaf. Kau sudah berkata kejam padanya." Ujar Baek Hyun.

Masih dengan bibir yang tertekuk, Luhan menganggukkan kepalanya pelan.

"Hei, Lu, aku punya ide yang bagus." Tiba-tiba Jong Dae menyahut, senyum cerahnya seolah berniat menghapus mendung yang menaungi mata jernih Luhan.

Begitu membuka pintu, Chan Yeol disambut dengan banyak putih yang bergerak kesana-kemari. Teman-temannya mengenakan kemeja warna putih –oh tidak, hanya Sehun dan Jong In yang berbeda, punya mereka merah– dan topi bertepi lebar berwarna merah.

Alis Chan Yeol bertaut pada awalnya, namun ia segera teringat tentang ucapan Joon Myeon mengenai kostum mereka yang sudah datang. Bibirnya tertarik ke atas melihat antusiasme teman-temannya, terutama Baek Hyun yang sibuk mondar-mandir ke sana-sini membantu rekan-rekannya mencoba kostum mereka.

"Jadi itu kostumnya?"

Suara Chan Yeol menarik perhatian orang-orang yang ada di ruangan tersebut, dan seperti biasa Baek Hyun menjadi yang paling berisik menyambutnya.

"Dobby!"

Pemuda eyeliner itu menghampiri Chan Yeol dengan mata yang melengkung indah. Chan Yeol selalu suka melihat eyesmile Baek Hyun, karena lelaki itu terlihat seperti bocah lima belas tahun dengan wajah seperti itu.

"Bagaimana menurutmu?" tanya Baek Hyun seraya berputar-putar di tempatnya.

"Seperti biasa, kau selalu terlihat manis Baek."

Baek Hyun melotot. "Ya! Kau buta atau bodoh? Aku ini laki-laki!"

Yang ditatap hanya terkekeh kecil. "Kau laki-laki yang manis, Baek Hyun-ie."

"Ya!" teriakan Baek Hyun lebih keras dari yang tadi.

Chan Yeol tidak membalas, ia justru melingkarkan lengannya ke leher yang lebih kecil dan setengah menyeret lelaki itu bersamanya.

"Bagaimana menurutmu, Yeol?" kali ini Luhan yang bertanya.

"Well, itu bagus dan kau terlihat keren."

"Mwo?" Baek Hyun langsung melepaskan diri. "Kenapa kalau Luhan kau bilang keren sedangkan aku manis?"

Baek Hyun memanyunkan bibir sementara di belakangnya ia mendengar Jong In terkikik pelan.

"Terima kenyataan saja, Bacon." Ujar Luhan dengan wajah congkak.

Chan Yeol hanya terkekeh melihat interaksi antara dua lelaki di depannya. Ia memilih mengedarkan pandang untuk menemukan sesosok pemuda bermata gelap berkaki pendek serta berbahu sempit.

"Mana Kyung Soo?" Chan Yeol menyela adu mulut Luhan dan Baek Hyun.

Luhan menoleh. "Oh, sepulang dari auditorium dia pergi ke suatu tempat."

"Dia sendirian?"

Pertanyaan Chan Yeol dibalas anggukan Luhan.

"Kemana?"

Sampai disitu Luhan terlihat ragu untuk menjawab, dan Chan Yeol menangkap sikap enggan tersebut.

"Luhan?" panggil Chan Yeol.

"Dia… ke rumah lamanya."

Lima menit kemudian Chan Yeol sudah berada di balik setir kemudi mobilnya menuju alamat yang di berikan Luhan padanya. Ia tidak mengerti mengapa Luhan seolah enggan memberitahu Chan Yeol. Jelas-jelas ia tidak mungkin keberatan apalagi sampai melarang Kyung Soo mendatangi rumahnya sendiri. Ia sudah mengetahui kisah hidup Kyung Soo sebelum bertemu dengan Luhan dan ibu kandungnya. Dan Chan Yeol sama sekali tidak bermasalah dengan hal tersebut, ia bahkan akan tetap mencintai Kyung Soo seperti sekarang meski pemuda itu benar-benar dari keluarga miskin.

Tapi kemudian Chan Yeol berpikir, mungkin ia tidak akan bertemu Kyung Soo jika saja jalan hidup Kyung Soo tidak seperti itu, atau jika ayahnya tidak menyuruhnya untuk kuliah dan Yifan tidak menyarankan Korea Selatan sebagai tempat pelarian. Namun sisi Chan Yeol yang lain percaya, ia akan tetap bertemu dengan Kyung Soo meski mereka berdua tidak dalam situasi yang sekarang, karena akan ada skenario lain yang Tuhan rancang sehingga mereka kembali berakhir bersama.

Chan Yeol merasa geli sendiri dengan pemikirannya, beberapa bulan yang lalu ia adalah seorang lelaki yang menghabiskan waktunya di sekeliling wanita dengan hobi menggeliatkan tubuh di sekitar selangkangannya. Namun hidupnya seolah terbalik dalam satu kedipan, dan semua itu diakibatkan oleh seseorang yang jauh berbeda dari wanita-wanitanya. Do Kyung Soo hanyalah seorang laki-laki yang lebih mencintai buku dan kesendirian. Sosok sederhana dengan tatapan datar dan irit senyum, dan Chan Yeol jatuh cinta pada lelaki itu.

Jatuh yang terlalu dalam.

Mobil Chan Yeol berhenti di depan sebuah rumah –ia bahkan ragu menyebut bangunan itu rumah– berlantai satu yang pagarnya terkikis karat. Ia keluar dari mobilnya dan menatap 'rumah' itu dengan seksama, mengecek alamat yang tertera di secarik kertas pemberian Luhan, lalu memandang sekeliling sebagai pemastian.

Chan Yeol tidak salah, rumah ini memang rumah lama Kyung Soo. Ia mencoba menghubungi nomor Kyung Soo namun kekasihnya tidak mengangkatnya sama sekali.

Kyung Soo memang selalu kesana sekali sebulan untuk membersihkan rumah itu. Ia tidak mau menjualnya karena itu adalah peninggalan kakaknya, dan ia juga tidak membiarkan siapapun masuk bahkan ia melarang pelayan datang kesana walau hanya untuk bersih-bersih.

Pagar rumah itu tidak terkunci, Chan Yeol semakin yakin jika Kyung Soo masih di dalam. Ia berdiri di depan pintu dan mengetuknya pelan.

"Kyung? Kau di dalam?"

Chan Yeol terus memanggil namun hingga tiga kali ketukan Kyung Soo tak juga membuka pintu, panggilannya pun tak diangkat sama sekali. Chan Yeol mulai merasa resah, takut terjadi sesuatu yang tidak beres dengan kekasihnya. Ia belum lupa dengan ketakutan Kyung Soo pada gelap dan bagaimana wajah Kyung Soo di lantai dua Concerto beberapa bulan yang lalu.

Iseng, Chan Yeol mencoba memutar gagang pintu dan sedikit terkejut mendengar bunyi 'klik' pelan yang menandakan pintu itu tidak terkunci sama sekali. Pintu itu berderit mengerikan ketika Chan Yeol membukanya semakin lebar. Lampu di dalam rumah itu menyala, menyinari dinding yang berwarna kuning pucat beserta beberapa bingkai foto yang tergantung disana.

Matanya menjelajah dan terhenti pada sosok yang sejak tadi dicarinya. Do Kyung Soo berbaring di sofa panjang dengan kaki tertekuk, matanya terpejam dan sebelah tangannya terkulai ke depan hampir menyentuh karpet di lantai. Chan Yeol mendekat agar bisa melihat lebih jelas, dimata Chan Yeol anak itu terlihat seperti malaikat yang kehilangan sayapnya.

Malaikat…

Memangnya apa lagi yang bisa kulakukan? Aku punya seorang malaikat bermata bulat yang harus kujaga…

Hyung tahu aku tidak bisa tidur sendirian…

Selamat tidur, Hyung. Aku menyayangimu…

Suara-suara itu tiba-tiba bergema di kepalanya tanpa bisa Chan Yeol cegah bersamaan dengan rasa sakit yang kembali menyerangnya. Ia mencengkeram rambutnya dengan kuat, lalu seperti sebuah sihir, potongan-potongan kejadian berlomba-lomba memasuki kepalanya.

Ini bukan pertama kalinya Chan Yeol melihat Kyung Soo tertidur disana, ia sudah menyaksikan itu berpuluh-puluh kali sebelumnya.

Chan Yeol merangkak mundur hingga punggungnya menghantam dinding. Napasnya terengah-engah seolah baru saja berlari bermil-mil jauhnya. Matanya menatap nyalang ke seluruh sudut rumah, kini ia merasa seperti seorang buta yang penglihatannya baru saja dipulihkan oleh keajaiban Tuhan. Tangannya menekan dinding ketika ia berusaha untuk berdiri dan beralih memandang pigura yang paling dekat dengannya.

Foto itu menampakkan empat sosok yang kini terlihat sangat akrab di netranya. Sepasang manusia dewasa dan kedua anak laki-laki yang berdiri di depannya. Dada Chan Yeol kini direcoki sesak yang tak ia pahami dari mana. Rasa kehilangan dan rindu yang membuncah. Tanpa sadar bibirnya menggumam bersamaan dengan cairan bening yang terlepas dari pelupuk matanya.

"Ayah… ibu…"

Di sebelahnya terdapat pigura lain, foto itu berisi seorang anak kecil yang mengenakan kaos biru langit dan celana longgar selutut. Kakinya terbalut sepatu hitam dan ada topi merah yang terpasang di kepalanya. Bibirnya yang berbentuk hati tersenyum lebar ke arah kamera, dan latar taman di belakang sosok tersebut sangat akrab di mata Chan Yeol.

Kini ia mengerti, sosok anak kecil yang ada di mimpinya adalah kekasihnya sendiri. Kyung Soo…

Ia kembali menatap Kyung Soo. Wajah anak itu tampak begitu damai, mungkin ia sedang bermain-main diatas awan bersama kelinci putih berdasi dan kupu-kupu bersayap emas. Sakit di kepalanya belum hilang sama sekali, dan ingatan masa lalunya terus bermunculan.

Masa kanak-kanaknya dengan sepasang suami istri Han di Busan sana, kecelakaan mobil, pindahnya ia dan adiknya ke Seoul, pelayan dan bartender, segalanya… Lalu ingatannya sampai di hari ia mengetahui semuanya. Bahwa ternyata ia dan Kyung Soo telah diculik dari keluarga masing-masing kemudian dijual pada sepasang manusia yang mereka panggil ayah dan ibu. Dan pada hari itu semuanya terbongkar.

"Tapi rumahku yang sebenarnya itu disini, hyung!"

"Tidak, ini bukan rumahmu. Seorang anak dari pemilik grup perusahaan tidak sepantasnya tinggal di tempat yang lebih layak disebut gubuk ketimbang rumah."

"Apakah aku terlihat peduli dengan semua itu? Aku sama sekali tidak pernah memikirkan tentang rumah yang besar atau mobil mewah, aku hanya ingin kita selalu bersama apapun yang terjadi. Itu saja!"

"Tapi aku peduli! Aku memikirkannya!"

"Kalau begitu jangan! Aku tidak membutuhkan semua itu, hyung!"

"BERHENTI MEMANGGILKU HYUNG! AKU BUKAN KAKAKMU! KITA BAHKAN TIDAK MEMILIKI IKATAN DARAH SEDIKITPUN!"

Air mata Chan Yeol semakin deras meski tak ada sedikitpun isakan yang keluar dari mulutnya. Sekarang Chan Yeol mengerti kenapa Kyung Soo takut gelap, kenapa Kyung Soo sejak awal terus berusaha menghindarinya, kenapa Kyung Soo tanpa sadar sering memanggilnya hyung, kenapa setiap kali Chan Yeol menciumnya… Kyung Soo selalu berurai air mata.

Chan Yeol telah ingat semuanya.

Chan Yeol tidak ingat bagaimana ia bisa sampai ke apartemennya sendiri. Tubuhnya seolah bergerak otomatis tanpa ia sadari. Tahu-tahu hari sudah berubah gelap ketika Chan Yeol tanpa sengaja melirik keluar. Yang ia lakukan hanyalah duduk di tempat tidurnya dan melamun.

Ponselnya lagi-lagi bergetar, layarnya menyala menjadi satu-satunya sumber cahaya di ruangan tersebut. Ia merasa terlalu lelah hanya untuk bangkit menyalakan lampu, lagipula ia tidak butuh cahaya. Chan Yeol meraih benda pipih tersebut dan jantungnya terasa ditikam pisau melihat nama yang tertera disana.

My Sunflower

Jemarinya bergetar ketika ia menggeser iconmerah untuk mematikannya. Ia ingat malam ini mereka harus latihan di auditorium, namun Chan Yeol bahkan tidak sanggup menggerakkan jemari kakinya. Lama ia menatap layar ponselnya, foto Kyung Soo yang tersenyum lebar balas memandangnya. Detik yang entah ke berapa, Chan Yeol men-dial nomor seseorang.

[Halo.]

Chan Yeol menarik napas sebelum bicara. "Noona, ini aku."

[Ya, Yeol, ada apa?]

"Ada yang ingin kutanyakan padamu."

[Apa itu?]

"Kecelakaan mobil yang membuatku amnesia… terjadi dimana, noona?"

Chan Yeol bisa mendengar napas Yoo Ra yang tertahan. [Ke-kenapa kau bertanya tentang itu Yeol?]

"A-apakah amnesiaku ini benar-benar karena kecelakaan?"

Pipi Chan Yeol kembali basah untuk kedua kalinya, sementara di ujung sana Yoo Ra tak juga menjawab.

"Noona, tolong jawab aku, hiks."

[Cha-cha Yeol?! Kau menangis? Apa yang terjadi?!]

Tangis Chan Yeol meledak. Pegangannya pada ponsel mengerat. "Kenapa, noona? Kenapa kalian semua berbohong padaku?"

Ponsel di tangan Chan Yeol terlepas, benda itu menghempas lantai dengan layar menghadap ke atas. Samar-samar ia bisa mendengar suara Yoo Ra yang memanggil-manggil disela-sela sesegukannya sendiri. Tubuhnya merosot hingga berbaring di lantai. Chan Yeol menggelung tubuhnya seperti bayi dan menangis keras disana. Ponselnya terus memperdengarkan suara Yoo Ra yang masih berusaha mengajaknya bicara namun Chan Yeol tidak peduli. Sakit yang menghimpit dadanya jauh lebih mengerikan dibanding nyeri di kepalanya.

"Kenapa kalian semua berbohong, noona?"

Butiran bening yang jatuh dari sudut mata Chan Yeol berkumpul di karpet di bawahnya, membentuk bulatan yang semakin membesar.

"Kenapa kalian merahasiakan semuanya?" suara Chan Yeol melirih di ujung kalimatnya. Matanya memberat namun ia berusaha untuk tetap terjaga. Karena setiap kali ia menutup mata, wajah terluka Kyung Soo selalu muncul diantara kegelapan.

Chan Yeol masih sempat menyuarakan pertanyaan terakhirnya sebelum rasa sakit itu mengikis kesadarannya dan menariknya ke kehampaan yang sempurna.

"Kenapa kalian membiarkanku… jatuh cinta… padanya…"

Kyung Soo menatap layar ponselnya dengan kening berkerut. Ini pertama kalinya Chan Yeol tidak mengangkat panggilannya. Luhan memberitahunya bahwa lelaki jangkung itu mencarinya sejak sore tadi, dan ia juga menelepon Kyung Soo beberapa kali namun tidak mengangkatnya karena ketiduran sehabis membersihkan rumah lamanya.

"Bagaimana? Sudah berhasil menghubungi Chan Yeol?"

Joon Myeon menghampiri Kyung Soo yang duduk di barisan terdepan kursi penonton. Lelaki itu mengenakan kemeja dan celana jeans hitam yang dipasangkan dengan blazer abu-abu, persis seperti yang Kyung Soo pakai.

"Belum hyung, dia tidak mengangkat teleponku." Kyung Soo menjawab murung.

"Awas saja anak itu. Aku sudah mewanti-wantinya dengan jelas agar datang sebelum waktu makan malam."

Kyung Soo tersenyum ringkas. "Aku akan terus mencoba menghubunginya, hyung."

"Baiklah. Beritahu aku jika dia menjawab teleponnya."

Setelahnya Joon Myeon berbalik dan berjalan kembali ke pinggir panggung. Kyung Soo memandang punggung blazer Joon Myeon, angka 00 tercetak tebal dan nama panggilan sang leader tertulis di bawahnya. Tao men-design kostum dengan tema seragam sekolah, dengan nama panggilan mereka beserta nomor pungung yang berbeda-beda. Mereka semua memakai kostum yang sama untuk membantu Luhan meminta maaf ke Tao. Kyung Soo tidak tahu pasti apa masalahnya, namun ia tidak keberatan untuk membantu kakak sepupunya.

Diatas panggung tampak Luhan dan Jong Dae yang menyanyikan lagu yang berjudul 'Unfair' karangan Yixing. Mereka semua terkejut ketika Joon Myeon menyuruhnya mendengar beberapa lagu dengan suara yang sangat dikenalnya. Selama ini Yixing dan Chan Yeol disuruh Joon Myeon untuk membuat lagu untuk pertunjukan musik mereka. Dan yang menjadi favorit Kyung Soo adalah lagu yang berjudul 'Baby, Don't Cry' milik Chan Yeol yang akan mereka nyanyikan bersama-sama nanti.

Kyung Soo kembali melirik ponselnya dan menghela napas. Chan Yeol tidak juga mengangkat melirik setumpuk pakaian yang terbungkus plastik di sebelah tempatnya duduk. Ia mengambilkan kostum Chan Yeol dan berniat memberikannya jika pemuda itu datang nanti. Namun sampai sekarang sosok itu tidak muncul-muncul juga.

Suara Luhan yang tadi terdengar tiba-tiba berhenti, Kyung Soo mendongak dan melihat kakak sepupunya menghampiri Tao yang baru saja tiba.

"Tao, aku minta maaf. Aku sadar kata-kataku tadi terlalu kasar, aku menyesal."

Luhan berujar seraya membungkuk 90 derajat di depan Tao, membuat anak itu salah tingkah dengan sikap hyung-nya.

"Ti-tidak perlu sampai seperti itu, hyung. Aku sama sekali tidak marah."

"Tidak, kali ini aku benar-benar keterlaluan, baju ini sama sekali tidak norak, ini keren."

Huang Zitao tersenyum melihat Luhan yang memasang wajah sedih dan menyesal. Tidak akan ada yang bisa marah pada Luhan dengan mimik seperti itu. Luhan tidak suka melakukan aegyo karena baginya itu menjijikkan, namun ekspresi wajahnya yang natural jauh lebih ampuh dari aegyo manapun.

"Tidak apa-apa. Aku mengerti, hyung sudah kumaafkan jadi lupakan saja, oke?"

Seulas senyum ikut terbit di wajah Luhan. Siapapun yang melihatnya tidak akan percaya jika usia pemuda itu sudah melewati angka dua puluh, apalagi dengan seragam khas sekolah menenah yang dipakainya sekarang.

"Terima kasih, Zitao. Aku sayang padamu~" ujar Luhan seraya memeluk Tao.

"Oooke, sudah cukup dramanya. Bisakah kita mulai latihannya dengan serius sekarang?" Joon Myeon berujar dengan suara keras dari atas panggung. Matanya kemudian terarah ke kursi penonton. "Bagaimana Kyung Soo-ya? Chan Yeol sudah mengangkat teleponnya?"

Kyung Soo menggeleng pelan dari posisinya. Melihat itu Joon Myeon hanya bisa menghela napas. Adalah hal yang jarang Chan Yeol tidak datang tanpa memberi kabar sama sekali, dan melihat wajah Kyung Soo yang tampak murung, ia tahu anak itu juga merasakan hal yang sama.

Keesokan harinya, Kyung Soo terkejut melihat Chan Yeol sudah berdiri di depan kelasnya. Lelaki itu bersandar di dinding dengan arah pandang yang tertuju pada lantai. Sepasang earphone menyumbat lubang telinganya.

"Chan Yeol?" panggil Kyung Soo ketika sudah berdiri di depan lelaki tersebut.

Chan Yeol mengangkat kepala, matanya terpaku pada wajah Kyung Soo. Dalam sedetik tatapan datarnya berubah seraya mengukir senyum lebar khasnya.

"Hai, Kyung. Sudah selesai?"

Kyung Soo mengangguk kaku. Untuk sedetik ia merasa sempat melihat kilatan sedih di mata Chan Yeol namun ia memilih mengabaikannya.

"Ke Concerto sekarang?" Chan Yeol bertanya lagi, dan Kyung Soo kembali menjawabnya dengan anggukan yang sama.

Sesampainya di sana, mereka menemukan Yifan yang terlelap di sofa. Panjang sofa tersebut sama sekali tidak muat untuk tubuh jangkung Yifan, namun menilik bagaimana dada sang kakak bergerak naik-turun dengan lembut sepertinya lelaki itu nyaman dengan posisinya. Di bawahnya ada tubuh Yixing yang tak bergerak telentang di atas karpet, sama nyenyaknya dengan Yifan.

Sepertinya dua orang itu tidur disini semalam. Kyung Soo mendekat, ia meletakkan bungkusan berisi susu kotak, minuman kaleng, dan beberapa snack di meja. Ia tersenyum melihat wajah kakaknya yang tampak damai dan mengguncang tubuhnya pelan.

"Hyung, bangunlah. Ini sudah siang."

Begitu mata Yifan terbuka, Kyung Soo beralih ke Yixing dan melakukan hal yang sama. Ia sama sekali tidak sadar sejak tadi Chan Yeol hanya berdiam diri terpaku menatap segala hal yang dia lakukan.

"Semalam kau dimana, Yeol?" tanya Yifan yang baru saja datang dari kamar mandi. Penampilannya terlihat lebih segar dengan wajah dan rambut yang basah. Yixing yang melihat Yifan telah selesai langsung bangkit untuk melakukan hal yang sama dengan Yifan.

"Oi, Park Chan Yeol, do you hear me?"

Chan Yeol langsung tersadar, ia mengangkat kepalanya untuk bertemu pandang Yifan yang duduk di seberangnya. "Ah, maaf, hyung. Semalam kepalaku sedikit pusing dan aku tertidur hingga pagi."

Yifan menatapnya dengan pandangan menyelidik. Kyung Soo yang sibuk menata makanan dan minuman di sebelah Chan Yeol menatap kekasihnya dengan mimik cemas.

"Kau tidak berniat memeriksanya ke dokter? Akhir-akhir ini kau sering mengeluh sakit kepala."

Chan Yeol menoleh ke arahnya seraya tersenyum. "Tidak perlu, itu bukan masalah besar, mungkin aku hanya kelelahan."

Yifan hanya menatap interaksi antara adik sepupu dan sahabatnya dalam diam. Percakapan itu kemudian beralih ke berbagai hal ketika Yixing selesai dengan kegiatannya dan bergabung di sofa tersebut. Kyung Soo bersyukur tadi ia menyempatkan diri mengambil beberapa bungkus roti isi diantara beberapa snack yang dibelinya, karena ternyata ada dua manusia kelaparan yang menantinya.

Mereka membahas masalah pertunjukan mereka selagi menanti yang lain datang. Pertunjukan musik mereka akan diadakan tanggal dua puluh satu Desember, empat hari sebelum Natal. Sejauh ini persiapan mereka cukup lancar tanpa ada kesulitan yang berarti. Yifan berhasil mendapat izin dari pihak rektorat untuk menggunakan auditorium pada malam hari, tentu saja itu tidak terlepas dari pengaruh nama ayah Joon Myeon. Awalnya Yifan merasa tidak enak hati harus menggunakan nama calon mertuanya (Luhan terbatuk mendengar ini) demi memuluskan rencana mereka, namun karena mereka melakukan ini untuk tujuan yang baik Yifan pikir tidak apa.

Yixing menempel brosur yang dibuatnya di seluruh papan pengumuman yang ada di kampus mereka, dan cukup puas mengetahui pertunjukan mereka menjadi topik panas di kalangan mahasiswa dan juga para dosen. Nama EXO mulai terkenal dan sering-sering disebut. Tampaknya pertunjukan mereka menjadi acara yang sangat ditunggu di akhir tahun 2015 ini.

Menjelang senja para anggota yang lain mulai berdatangan satu-persatu. Beberapa diantara mereka muncul dengan wajah lesu dan tak bersemangat. Baek Hyun yang datang paling akhir menyeret kakinya dengan mata setengah terbuka dan langsung menyenderkan ke lengan sofa. Ia lelah setengah mati, tulang-tulangnya seperti di lolosi satu persatu. Sejak pagi ia terus memburu dosen untuk menyerahkan tugas dan berakhir dengan nilai minus lima puluh karena terlambat tiga menit. Ia mencintai Business and Economics, tapi tidak dengan dosennya.

"Minum ini, hyung."

Baek Hyun membuka matanya dan menemukan sebotol minuman istonik terulur di depannya. Ia menatap Kyung Soo, si pemilik tangan, tersenyum dengan sorot polos di matanya.

"Thanks Kyung." Ujar Baek Hyun seraya meraih botol tersebut, membuka tutupnya, dan menenggak setengah isinya dalam tiga kali tegukan. "Ugh, aku lelah sekali." Ia mengeluh tanpa sadar.

"Itu resiko mahasiswa." Kyung Soo menyahut. Ia mengambil sebungkus sandwich di meja, merobek plastiknya, lalu menyerahkannya ke pemuda sipit di sebelahnya.

"Aku tahu, tapi kenapa para dosen itu menyebalkan sekali sih?" gerutu Baek Hyun seraya menguyah roti miliknya kelewat semangat, sebelah pipinya menggembung dan bibirnya mengerucut lucu. "Aku heran mahasiswa kedokteran seperti kalian masih bisa tersenyum."

"Itu karena kami jenius, hyung." Itu bukan Kyung Soo yang menjawab, melainkan Sehun yang tiba-tiba datang bersimpuh di lantai dan membuka sebungkus Kkokkalcorn dan mengunyahnya dengan suara keras. "Kalau kau jenius, tidak akan ada tugas, laporan, atau praktikum yang terasa susah." Lanjutnya.

Mata Baek Hyun menyipit. "Jadi kau mau mengatakan kalau aku bodoh, begitu?"

"Aku tidak bilang begitu." Sehun menyanggah dengan wajah polos.

"Tapi kau mengindikasikannya, dasar maknae kurang ajar."

"Setidaknya otakku tidak jongkok seperti Baek-hyung."

Sehun sudah lebih dulu kabur sebelum Baek Hyun sempat melemparkan kaleng cola ke wajahnya.

"Jangan pikirkan omongan Sehun, dia kadang memang menyebalkan." Ujar Kyung Soo.

Baek Hyun melihat Kyung Soo yang tersenyum menenangkan di sebelahnya. Selama ini ia jarang bicara dengan Kyung Soo karena Baek hyun selalu menjaga jarak dari sosok tersebut. Alasannya sederhana, ia tidak sanggup berdekatan dengan seseorang yang sudah mengalahkannya. Kekanakan memang, tapi biar bagaimanapun ia masih memiliki perasaan kepada Chan Yeol dan tidak bisa memungkiri sesak yang dirasakannya setiap kali melihat kedekatan mereka.

Tapi mungkin sekarang Baek Hyun mulai bisa menerimanya, lagi pula sepertinya Kyung Soo bisa menjadi teman mengobrol yang menyenangkan. Dengan gagasan itu Baek Hyun membalas senyum Kyung Soo, menampilkan eyesmile yang selalu mampu membuat siapapun yang melihatnya terkesima.

"Ne, Kyung Soo-ya, aku tahu café yang bagus di dekat apartemenku, kapan-kapan temani aku kesana ya?"

"Kau bisa bercerita padaku kalau kau mau."

Chan Yeol tersentak mendengar suara bass disampinya. Yifan ikut berdiri di sebelahnya dengan pandangan yang terarah ke panggung dimana para vocal line sedang berlatih, di bawah panggung ada Joon Myeon yang mengamati mereka.

"Apa maksudmu?" tanya Chan Yeol tanpa menoleh. Tatapannya sejak tadi hanya tertuju pada sosok berpostur terkecil disana.

"Kau hanya akan memanggilku hyung ketika sedang banyak pikiran."

Chan Yeol tersenyum kecil. "Benarkah? Aku bahkan tidak sadar melakukannya."

"Apa ada masalah?" kali ini Yifa menghadapkan seluruh tubuhnya ke Chan Yeol.

Yang ditatap menghembuskan napas pelan. Ia lalu menoleh ke arah sosok yang sudah dianggapnya sebagai kakak, suaranya goyah dan rapuh ketika ia bertanya, "Bagaimana pendapatmu jika aku mengatakan aku sudah mendapatkan seluruh ingatanku?"

Mata Yifan melebar sempurna, namun ia tidak sempat menyahut karena sudut matanya menangkap siluet Kyung Soo yang melangkah ke arah mereka.

"Kris -hyung, Suho-hyung memanggilmu."

Yifan tersenyum pada sang adik, tangannya mengacak surai gelap Kyung Soo. "Baiklah, Ma cheri." Tatapannya lalu beralih ke Chan Yeol. "Kita lanjutkan nanti."

"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Kyung Soo begitu mereka hanya tinggal berdua.

"Kami membahas masalah perform nanti." Bohong Chan Yeol.

"Oh, ya, aku baru ingat kau, Kris-hyung, Lay-hyung, dan Tao juga akan tampil satu kali." Gumamnya.

Chan Yeol mengangguk sebagai jawaban.

"Bagaimana nyanyianku tadi?"

"Suaramu sangat indah, aku selalu menyukainya." Sejak dulu.

"Tapi menurutku suara Baek Hyun-hyung jauh lebih bagus. High note-nya keren."

Yang lebih tinggi terkekeh pelan. "Itulah kenapa kau dipasangkan dengannya, karena suaramu yang semanis cokelat sangat cocok dipadukan dengan nada tinggi milik Baek Hyun."

Kyung Soo mendengus. "Dasar gombal."

"Tapi kau menyukainya, wajahmu memerah."

"Tidak kok!" bantah Kyung Soo seraya menutupi pipinya.

Namun Chan Yeol justru tergelak melihat kekasihnya salah tingkah.

"Ya! Jangan tertawa!" kepalan tangan Kyung Soo menepuk lengannya.

"Maaf. Kau sangat lucu ketika tersipu seperti itu."

Kalimat Chan Yeol justru membuat semu di wajah Kyung Soo berkumpul semakin banyak. Tidak tahu harus menyembunyikan pipinya dimana, ia menubruk dada Chan Yeol lalu menenggelamkan wajahnya diantara kemeja si tinggi yang terbuka.

"Berhenti tertawa! Aku malu~"

Chan Yeol tertegun merasakan lengan Kyung Soo yang melingkari pingganggnya. Namun detik berikutnya tubuhnya melemas dan tangannya ikut merengkuh pundak Kyung Soo. Jantung Chan Yeol berdetak kencang dan darahnya mengalir dengan cepat. Penat serta sesak yang dirasakannya sejak kemarin seolah lenyap tersapu angin. Sejak dulu selalu begitu, keberadaan Kyung Soo adalah kekuatan terbesarnya untuk bertahan hidup. Maka Chan Yeol pun mengeratkan pelukannya, merapatkan tubuh mereka, memastikan tidak ada celah yang memungkinkan angin bahkan cahanya menyelip diantara mereka.

"Ne, Chan Yeol…" panggil Kyung Soo di dadanya.

"Hm…"

"Apa terjadi sesuatu?"

Tubuh Chan Yeol berubah kaku untuk sesaat. "Kenapa kau bertanya seperti itu?"

"Kau terlihat murung, dan kata Baek Hyun-hyung kau tidak mengumpul satupun tugasmu hari ini."

Chan Yeol berdecak. "Anak itu mengadu padamu ya? Awas dia."

"Jangan bicara begitu! Aku yang bertanya padanya tadi."

"Aww, jadi kau khawatir padaku ya?"

"Chan Yeol… aku sedang serius." Sahut Kyung Soo setengah merengek.

Yang lebih tinggi tergelak. "Baiklah. Aku baik-baik saja. Tidak terjadi hal yang buruk, aku hanya merasa agak lelah."

"Kalau begitu sebaiknya kau pulang, kau harus istirahat agar tenagamu kembali."

Kyung Soo berusaha melepas pelukannya, namun Chan Yeol justru mendekapnya semakin erat.

"Chan Yeol, lepas… biarkan aku bicara pada Suho-hyung agar kau bisa pulang."

"Tidak perlu. Bukankah kau ingin aku istirahat?"

"Tentu saja, maka-"

"Kalau begitu biarkan seperti ini." Ucapan Chan Yeol menghentikan usaha Kyung Soo untuk melepaskan diri. "Memelukmu selalu mampu membuatku bertenaga kembali."

Lagi-lagi Kyung Soo merasa de javu, Chan Yeol dulu sering mengatakan hal yang sama padanya. Kini ia mendapat kesempatan untuk mendengarnya lagi. Hanya Chan Yeol yang selalu mampu membuatnya merasa begitu berharga dan diinginkan. Dicintai begitu tulus dan putih.

Aroma Chan Yeol selalu seperti ini. Seperti buah jeruk dengan sedikit tambahan rumput hijau.

"Hei, Chan Yeol…" panggil Kyung Soo lagi, tangannya kembali memeluk batang tubuh di hadapannya, menyamankan diri dalam dekapan hangat cintanya satu-satunya.

"Ya…"

"Saranghae." Ucap Kyung Soo. Tangannya menepuk-nepuk punggung Chan Yeol dalam kelembutan.

Chan Yeol membenamkan wajahnya di ceruk leher Kyung Soo, menghirup wangi chamomile yang menguar dari helai rambut lelaki itu. Ia memejamkan mata, berharap kecamuk di dadanya sedikit berkurang.

"Nado saranghae." Balasan Chan Yeol hanya berupa bisikan lirih di telinganya, namun itu sudah cukup membuat Kyung Soo tersenyum lebar dan melupakan segalanya. Termasuk banyak pasang mata yang terus terarah ke mereka sejak tadi.

Sementara Chan Yeol di balik pundaknya terus memejamkan mata, menghalau cairan bening yang berusaha jatuh dari pelupuk matanya.

"Kau tidak perlu mengantarku sampai ke sini, Kai."

Jong In memiringkan kepala dan terseyum miring. "Tidak masalah, aku ingin melakukannya."

Baek Hyun hanya bisa menggigit bibir, berusaha menahan diri untuk tidak bersemu di hadapan Jong In dan mempermalukan dirinya sendiri.

"Terserah kau sajalah."

Baek Hyun berbalik berniat membuka pintu apartemennya namun Jong In sudah lebih dulu menarik tangannya hingga Baek Hyun kembali berhadapan dengan wajah Jong In yang kini lebih dekat.

"A-apa?"

Sudut bibir Jong In kembali terangkat membentuk seringai yang mampu membuat Baek Hyun merinding.

"Selamat malam, Baek-hyung, mimpi yang indah."

Dan sebelum Jong In menarik diri, ia menempelkan sebuah kecupan di sudut bibir Baek Hyun lalu berbalik dan berjalan menuju lift di ujung koridor. Baek Hyun masih tetap terpaku di tempatnya meski sosok Jong In sudah lama pergi, dan masih disana hingga adiknya datang.

"Apa yang hyung lakukan disini? Kenapa tidak masuk?"

Tae Hyung menatap bingung kakaknya yang masih mematung seolah tidak mendengar ucapannya.

"Oi! Hyung!"

Panggilan kedua Tae Hyung akhirnya direspon sang kakak. "Y-ya?"

"Kenapa hyung bengong di depan pintu? Hyung dirasuki setan?"

Urat di pelipis Baek Hyun berkedut mendengar pertanyaan adiknya. "Perbaiki cara bicaramu, dasar bocah kurang ajar." mata Baek Hyun memicing melihat penampilan sang adik yang masih mengenakan seragam sekolahnya. "Dan sudah berapa kali kubiang untuk tidak kelayapan setelah pulang sekolah, huh?"

"Aduh, hyung, jangan jewer telingaku!"

Rintihan Tae Hyung tidak Baek Hyun pedulikan sama sekali, sebelah tangannya yang bebas meraih kunci di sakunya dan membuka pintu apartemen. Lalu dengan tanpa perasaan menarik telinga adiknya memasuki ruangan.

"Adu-duh, hyung, berhenti! Telingaku sakiiit!"

Baek Hyun melepaskan jewerannya sekaligus menoyor kepala Tae Hyung ke belakang dengan keras. Tae Hyung langsung mengusap-usap daun telinganya yang sudah pasti memerah.

"Dari mana saja kau?" tanya Baek Hyun dengan nada mematikan.

Tae Hyung meneguk ludah, merasa ngeri dengan tatapan kakaknya yag seolah berniat mengulitinya hidup-hidup. "Da-dari rumah Jimin, hyung."

"Kutebak, kau bermain nintendo dengannya lagi sampai lupa pulang?"

Tae Hyung hanya memberikan cengiran tak berdosanya, berharap Baek Hyun akan luluh melihatnya.

"Sebentar lagi ujian masuk universitas, Tae. Bukankah kau ingin menjadi seorang arsitek?"

"Aku berubah pikiran."

Baek Hyun yang sedang berjalan menuju kulkas menghentikan langkahnya. Ia menatap sang adik dari balik konter sebatas pinggang dengan tatapan bingung. "Kau bilang apa?"

"Aku bilang aku berubah pikiran, aku tidak ingin menjadi arsitek."

"Lalu kau ingin jadi apa?" Baek Hyun kembali bertanya seraya membuka pintu kulkas lalu meraih satu botol air dingin dan menenggaknya.

"Aku ingin masuk jurusan kedokteran seperti Kai."

"Uhuk, uhuk."

Baek Hyun memukul-mukul dadanya sendiri sambil berusaha menumpuk sebanyak mungkin oksigen ke dalam paru-parunya. Sepertinya air minum tadi naik ke hidungnnya.

"Hyung, kau oke?" Tae Hyung menghampiri kakaknya.

Baek Hyun mendelik sinis pada adiknya, dalam hati ia merutuki mulut jelek Tae Hyung yang menyebut nama sosok itu dan membuat Baek Hyun hampir mati tersedak. Namun karena tidak mengerti apa-apa adiknya hanya membalasnya dengan tatapan polos dan mimik kosong seperi biasa.

"Ya, aku baik-baik saja." Jawab Baek Hyun setelah napasnya kembali normal."Kenapa kau tiba-tiba ingin masuk kedokteran? Bukankah selama ini kau sangat membenci segala jenis pekerjaan yang berhubungan dengan dunia medis?"

"Yah, itu benar. Tapi Kai berhasil mengubah cara pandangku."

"Wow. Kau sepertinya benar-benar menyukainya." Timpal Baek Hyun setengah mengejek.

"Tenang saja hyung, aku tidak akan merebutnya darimu."

Yang lebih tua menyipitkan mata curiga. "Apa maksudmu?"

Seringai Tae Hyung muncul. "Aku melihatnya."

"Huh?"

Tae Hyung memilih berbalik menuju kamarnya, meninggalkan Baek Hyun yang sepenuhnya kebingungan akan maksud kata-katanya. Awalnya ia berniat membiarkan sang kakak tetap seperti itu, namun Tae Hyung berpikir ia belum mendengar teriakan melengking kakaknya hari ini jadi satu kalimat godaan terakhir mungkin akan sangat cocok menjadi penutup.

Sebelum menghilang dibalik pintu dapur, Tae Hyung menyempatkan diri berbalik memperlihatkan seyum jenaka miliknya dan berujar, "Ciuman disudut bibir sebelum berpisah ternyata romantis juga."

Tidak butuh sepuluh detik bagi Baek Hyun untuk mengerti maksud kalimat adiknya, namun Tae Hyung sudah lebih dulu kabur sebelum sang kakak sempat melemparkan botol minuman ke kepalanya. Wajahnya sepenuhnya memerah ketika ia berteriak,

"YA! TAE HYUNG! YOU'RE SO DEAD! AKU AKAN MENCINCANGMU DAN KUJADIKAN MAKANAN IKAN PIRANHA DASAR ADIK KURANG AJAR!"

"Jadi, kau adalah kakak angkat Kyung Soo, begitu?"

Tanya Yifan begitu Chan Yeol selesai dengan ceritanya. Seusai latihan mereka berdua pergi ke bar yang biasa mereka datangi agar Yifan bisa menjadi pendengar untuk segala kisah Park Chan Yeol, seperti biasa. Chan menceritakan semuanya mulai dari awal-awal kehidupan mereka hingga pertengkaran hebat yang terjadi di malam terakhir Chan Yeol melihat Kyung Soo. Chan Yeol sengaja melewatkan kejadian di gedung tua yang hampir membuat dirinya menjadi seorang pembunuh. Ia tak ingin Yifan mengetahui peristiwa kelam tersebut sekalipun pemuda pirang itu juga kakak sepupu Kyung Soo sama seperti Luhan. Ia mengarang cerita bahwa saat mencari Kyung Soo lah ia mengalami kecelakaan.

"Tapi aku tidak mengerti satu hal." Ujar Yifan setelah beberapa saat. "Bagaimana ceritanya sehingga tiba-tiba kau ada di LA sana bersama keluarga kandungmu?"

"Itu pun masih menjadi misteri bagiku, namun aku yakin hal itu tidak luput dari campur tangan Kyung Soo dan secepatnya aku akan segera mengetahuinya." Sahut Chan Yeol dengan wajah muram.

"Kapan kau akan memberitahunya?"

Pegangannya di rock glass miliknya mengerat. "Aku tidak tahu, hyung."

"Menurutku Kyung Soo wajib tahu, Yeol. Dia harus tahu bahwa kini dia mendapatkan kakaknya kembali."

"Jadi kini hubungan kami kembali menjadi kakak-adik huh?" tanya Chan Yeol tersenyum miris.

"Aku tidak bilang kau harus putus dengannya, Chan Yeol, tapi menurutku hubungan kalian akan lebih dekat lagi jika ternyata masa lalu kalian terhubung."

Chan Yeol mendengus, ia terkesan menyepelekan ucapan Yifan. "Apakah kau tidak mengerti juga? Ia selalu menghindariku di awal-awal pertemuan kami, hyung. Jika ia memang ingin aku kembali harusnya dia tidak menjauh dan justru membuatku ingat secara perlahan. Kyung Soo tidak ingin ingatanku kembali hyung, kami tidak akan berpacaran jika saja aku tidak terus memaksanya."

Chan Yeol menenggak isi gelasnya dalam satu kali tegukan. Di matanya tersirat akan kekecewaan, rasa bersalah, dan putus asa yang begitu pekat. Sebuah pemikiran tiba-tiba muncul di kepalanya. Hal itu terasa begitu miris dan ironis hingga membuatnya terkekeh sumbang. "Dia mungkin mencintaiku, tapi dia tidak pernah berharap aku kembali mengingat semuanya."

Malam itu berakhir dengan Chan Yeol yang kehilangan kesadaran hingga Yifan harus membopongnya pulang. Dan Chan Yeol tidak pernah imut ketika mabuk.

"YUHUUUU! AKU TERBAAAAANG!"

Chan Yeol berteriak dari dasar paru-parunya, ia mencondongkan setengah badannya keluar melalui jendela mobil dan berteriak kesetanan. Yifan disebelahnya berusaha menjaga kecepatan mobil agar tetap stabil seraya memegang jaket Chan Yeol agar anak itu tidak menjatuhkan dirinya sendiri ke jalanan.

"WOOOOOOO! I'M FREE!"

"HEY, YOU! WHAT ARE YOU LOOKING AT, JACKASS?"

"Oh, shit." Yifan mengumpat keras ketika Chan Yeol semakin menjadi. Kakinya menekan pedal gas semakin kencang agar mereka bisa sampai secepatnya.

"Aku mencintaimu, Kyung Soo-ya!"

Yifan memandang setengah prihatin setengah jijik pada Chan Yeol yang terus meracau tidak jelas di tempat tidurnya. Setelah menormalkan napasnya yang terengah karena memapah Chan Yeol dari basement hingga ke kamarnya, Yifan menelepon nomor seseorang.

Lima belas menit kemudian Byun Baek Hyun sudah berada di dapur apartemen Chan Yeol dengan kompor yang menyala di depannya. Jadi ceritanya begini, Baek Hyun sudah siap mengarungi dunia mimpi ketika ponselnya menyalak menampilkan nomor Yifan dilayar. Lelaki jangkung itu hanya mengucapkan dua kalimat dan Baek Hyun sukses menendang selimutnya, meraih mantel dan kunci apartemen, lalu turun mencegat taksi.

"Chan Yeol stres berat dan mabuk parah. Aku tidak sanggup menanganinya sendirian."

Ia merebus ramen instan karena hanya itu yang bisa Baek Hyun temukan. Sementara Yifan duduk di meja makan dengan iris terpaku pada layar ponsel.

"For seriously, hyung? Kau bilang tidak bisa menangani Chan Yeol sendirian sementara anak itu tengah tidur seperti bayi. Apanya yang susah?"

"Aku harus pergi tapi aku juga tidak bisa meninggalkan Chan Yeol sendirian dalam keadaan seperti itu."

"Memangnya apa yang akan terjadi padanya? Tidakkah kau lihat dia sudah teler layaknya kerbau begitu?"

"Oh, ayolah Baek, kau tidak kasihan padanya?" Yifan menghampiri Baek Hyun yang masih ada di depan kompor, mendadak sisi jahilnya muncul. Sosok mungil –sebenarnya ia tidak semungil itu namun Yifan selalu menganggap mungil siapapun yang lebih pendek darinya- Baek Hyun tampak sangat lucu dalam balutan piyama bitu cerah dengan corak awan yang tersebar di seluruh permukaannya.

Kasihan? Tentu saja, dia adalah orang yang kusukai, hyung.

"Biasa saja. Bukankah itu adalah hal yang wajar dialami sepasang kekasih?"

Yifan menghela napas lelah. Baek Hyun memang manis, namun anak itu keras kepalanya luar biasa. "Ini… sedikit kompleks Princess."

Baek Hyun mengernyit mendengar sebutan Yifan padanya namun ia memilih mengacuhkannya. "Kompleks bagaimana?"

"Aku bukan orang yang berhak menceritakan ini padamu, yang jelas Chan Yeol sedang dalam fase terberat hidupnya dan sebagai sahabat aku ingin kau ada disisinya. Please?"

Yang ditatap pura-pura memasang wajah keberatan meski dalam hati memekik senang. Yifan mempercayakan Chan Yeol padanya, bukankah itu berarti ia dianggap penting?

"Baiklah. Aku akan menjaganya, memastikannya tidur dengan aman, dan membuatkannya sarapan besok pagi. Oh, apakah aku harus memandikannya juga?"

Yifan tergelak melihat Baek Hyun yang mengedip-ngedipkan matanya lucu. Ia mengacak-acak surai madu Baek Hyun gemas. "Tidak perlu sampai segitunya juga, Princess. Cukup temani saja dia malam ini, kau bisa menggunakan kamar tamu. Kamarnya cukup bersih karena aku selalu tidur disana jika menginap disini."

"Ooh, aku kira hyung tidur sekamar dengan Chan Yeol."

"Enak saja! Aku kan bukan gay."

Baek Hyun menatap yang lebih tinggi dengan tatapan kau-bodoh-atau-mabuk? Pada Yifan. "Jadi pacaran dengan Suho-hyung bukan hal gay?"

"Itu berbeda, hohoho. Uri Joonie is the cutest uke ever, sedangkan aku dan Chan Yeol sama-sama seme, bedakan itu!"

"Menjijikkan."

Yifan hanya bisa terkekeh geli melihat ekpresi yang dibuat Baek Hyun. "Ya sudah, aku pergi dulu."

"Ya! Kris-hyung! Bagaimana dengan ramennya? Kau yang tadi menyuruhku memasaknya!"

"Untukmu saja, aku sudah makan tadi. Bye, Princess!" setelahnya pintu apartemen Chan Yeol tertutup dan terkunci secara otomatis.

"Ya! Kris-hyung! Oh, astaga."

Baek Hyun akhirnya berakhir memakan ramen instan tersebut, sesekali ia merutuki Yifan karena sudah membuatnya harus sikat gigi dua kali. Ia sebenarnya ingin membuang ramen tersebut namun kepulan asap dengan aroma wangi itu terlihat sangat menggoda hingga air liur Baek Hyun serasa berkumpul di bawah lidahnya.

Sembari memasukkan lembaran mie tersebut ke mulutnya, Baek Hyun iseng memeriksa akun instagram miliknya. Ia bersyukur ia tidak lupa membawa ponselnya tadi, Baek Hyun terlalu khawatir hingga lupa mengganti piyamanya dengan pakaian biasa sebelum kesini. Salahkan Yifan dan kalimat anehnya hingga Baek Hyun sudah lebih dulu berpikir buruk.

Dan Baek Hyun langsung menyesali keputusannya saat itu juga. Bagaimana tidak? Ia menemukan ada banyak notification dari aku Instagram miliknya, dan asal muasal hal itu adalah satu orang: Wu Yifan.

"Kris sialan." Baek Hyun mengumpat dengan suara rendah sementara matanya melotot menatap layar ponselnya.

Yifan mengunggah foto Baek Hyun dan menandai akunnya. Itu adalah foto Baek Hyun yang sedang memasak ramen dengan wajah mengantuk. Baek Hyun bahkan tidak sadar kapan Yifan mengambil gambarnya, dan pemuda jangkung itu seenak jidatnya mengunggah foto Baek Hyun dalam pose yang sangat bukan tipikal dirinya. Dan note yang Yifan selipkan di foto itu semakin membuat Baek Hyun ingin membunuh Yifan.

[foto Baek Hyun]

395 likes

galaxy_fanfan a drop-dead future wife, he's a knockout! #dongsaeng

hzttao Kau tidur di rumahnya Baekhyun-hyung?

oohsehun Future wife, huh? Ha. Ha.

galaxy_fanfan hzttao: Tidak, aku tidak tidur di rumahnya. oohsehun: Yup! *smile*

7_luhan_m Aku yakin Bacon tidak tahu kau memotretnya, kau sudah mempermalukannya Kris *lol*

Sampai disini Baek Hyun tidak henti-hentinya memaki, ia kemudian lanjut membaca komentar teman-temannya.

zyxzjs aku yakin Suho akan membotakimu jika dia melihatnya.

galaxy_fanfan zyxzjs: aku yakin dia tidak akan cemburu, Joonie percaya padaku. *grin*

kim_ji_kai tapi aku cemburu hyung *tear*

7_luhan_m apa-apan -_-

oohsehun *cough* apakah itu artinya…

hzttao wow, Kai mulai beraksi! Resmikan secepatnya, aku tunggu~

galaxy_fanfan semangat, Jong! I'll have your back hohoho

Wajah Baek Hyun memanas membaca komentar Jong In, pikirannya melayang ke kejadian kemarin malam disaat lelaki itu mencium sudut bibirnya. Dengan brutal Baek Hyun mengetik komentar pertama dan terakhirnya di foto tersebut.

baekhyunie_exo: YA! KALIAN SEMUA BERHENTI MEMENUHI NOTIFICATIONKU DENGAN HAL YANG TIDAK BERGUNA! galaxy_fanfan: Kris-hyung, jika kau tidak segera menghapus foto ini kau akan benar-benar kubuang ke galaxy di atas sana!

Baek Hyun meninggalkan dapur dengan langkah berderap keras seolah berniat meretakkan lantai yang dipijaknya. Ia sudah hampir membuka pintu kamar yang tadi ditunjuk oleh Yifan namun gerakannya terhenti ketika matanya terarah ke pintu kamar Chan Yeol.

Chan Yeol masih berada di posisi yang sama ketika Baek Hyun meninggalkannya sejam tadi. Pakaiannya masih lengkap beserta mantel dan kaos kaki yang belum terlepas. Maka dengan tekun Baek Hyun melepaskan pakaian luar Chan Yeol hingga hanya menyisakan kaos singlet dan celana kain yang sabuknya sudah terlepas. Ia tidak sanggup melihat Chan Yeol hanya dengan pakaian dalam, membayangkannya saja sudah membuat pipi Baek Hyun memanas.

Setelah menyetel suhu ruangan agar Chan Yeol nyaman namun tidak terlalu dingin untuk Baek Hyun dan mematikan seluruh lampu, Baek Hyun beranjak ke sisi ranjang yang kosong lalu menyelipkan dirinya disana. Ia memperbaiki selimut yang mambalut tubuh Chan Yeol sebelum ikut membaringkan diri di sebelah lelaki tersebut.

"Apa yang sedang kulakukan?" pertanyaan itu meluncur dengan lirih dari bibir tipis Baek Hyun.

Matanya menikmati setiap sudut wajah pemuda di hadapannya, berusaha menghapal setiap detilnya agar bisa ia simpan di sudut terdalam hatinya. Baek Hyun sadar apa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan, namun ia benar-benar tidak bisa menampik perasaannya sendiri. Ini pertama kalinya Baek Hyun jatuh cinta, dan ia harus menerima kenyataan bahwa cintanya itu tidak akan pernah bisa ia raih.

"Bagaimana ini, Chan? Aku terus saja mengharapkan sesuatu yang jelas-jelas bukan untukku."

Baek Hyun mendekatkan tubuhnya hingga pundak Chan Yeol menyentuh keningnya. Aroma Chan Yeol yang menyatu dengan alkohol semakin mengusutkan jalan pikiran Baek Hyun. Tanpa sadar setitik bening luruh dari sudut matanya.

"Tidak bisakah… aku mendapat satu kesempatan? Jika denganku, kau tidak akan pernah berada dalam posisi yang membuatmu sampai mabuk-mabukan seperti ini. Aku akan memastikan kita selalu bahagia seperti biasanya."

"Kyung…"

Tubuh Baek Hyun mendadak kaku mendengar suara berat Chan Yeol, apakah ia mengira orang yang ada disebelahnya adalah Kyung Soo? Dan seolah menjawab pertanyaan Baek Hyun, tubuh Chan Yeol bergerak menyamping ke arah yang lebih kecil dan memeluknya. Baek Hyun hanya bisa melotot dengan tubuh tegang ketika Chan Yeol melingkarkan lengannya ke sekeliling pundak Baek Hyun dan membuat dadanya menyentuh ujung hidung yang lebih kecil.

"Kyung Soo-ya… jangan tinggalkan aku." Suara Chan Yeol terdengar seperti rengekan.

Baek Hyun hanya bisa tersenyum miris mendengarnya. Jawaban akan pertanyaan Baek Hyun bahkan sudah terjawab disaat tak sadar lelaki tersebut. Tidak akan ada kesempatan untuknya walau hanya setitik. Air matanya jatuh semakin banyak ketika ia turut melingkarkan tangan ke pinggang Chan Yeol dan menenggelamkan wajahnya di dada yang lebih tinggi.

"Malam ini saja, biarkan aku memilikimu malam ini saja." Setelah ini aku akan benar-benar mengubur perasaanku dalam-dalam dan mencoba melupakanmu.

Ucapan Baek Hyun lebih terdengar seperti sebuah janji pada dirinya sendiri. Ia terus mengulang-ulang kalimat itu di benaknya hingga pandangannya menyayu sebelum akhirnya benar-benar terpejam. Diujung kesadarannya, Baek Hyun sempat memanjatkan sebaris doa dan berharap seluruh semesta merestuinya.

Di kehidupan selanjutnya, semoga kita terlahir kembali agar bisa mengukir kisah cinta kita sendiri. Kau yang akan jatuh cinta padaku lebih dulu.

Pagi itu Chan Yeol terbangun dengan kepala serasa dihantam godam, perut teraduk dan tenggorokan kering. Chan Yeol tidak ingat kapan terakhir kali ia mengalami hangover parah seperti ini. Alkohol bukan hal asing baginya, dan ia adalah peminum yang cukup kuat namun masalah yang melandanya saat ini benar-benar membuatnya frustasi. Mabuk memang menghilangkan beban pikiran untuk sesaat, namun efek yang ditinggalkannya bukanlah hal yang menyenangkan untuk ditangani pagi harinya.

Ia keluar kamar setelah memuntahkan seluruh isi perutnya dan merasa cukup kuat untuk berjalan tanpa merasa limbung lagi. Aroma menyenangkan tercium dari arah dapurnya sehingga Chan Yeol tanpa sadar mengikuti aroma tersebut.

"Baek Hyun?"

"Oh, selamat pagi Dobby."

"Apa yang terjadi? Kenapa kau disini? Bagaimana kau bisa masuk?" tanya Chan Yeol sembari menghampiri Baek Hyun yang sibuk dengan teflon di depannya.

"Semalam kau mabuk berat, Kris-hyung yang membawamu pulang kemudian meneleponku karena ia harus pergi namun tidak tega meninggalkanmu sendirian dalam keadaan buruk jadi dia menyuruhku menemanimu disini." Baek Hyun menjawab pertanyaannya satu-persatu dengan lancar tanpa mengalihkan matanya dari teflon.

Chan Yeol mengurut pelipisnya yang berdenyut ketika berusaha mengingat kejadian malam sebelumnya. Ia melirik penampilan Baek Hyun yang mengenakan kaos dan celana puntung miliknya dan sandal rumah, wajahnya terlihat segar pertanda ia sudah mandi. Baju itu terlihat kebesaran di tubuh Baek Hyun.

Seolah mengetahui kalau Chan Yeol sedang memandangi penampilannya, Baek Hyun berujar, "Aku memakai bajumu karena aku hanya mengenakan piyama saat kesini. Aku mengira kau kecelakaan atau sejenisnya sehingga aku langsung pergi tanpa sempat berganti pakaian."

"I don't mind." Ujar Chan Yeol seraya tersenyum. "Kau membuat pancake?"

Baek Hyun memutar bola mata. "Tentu saja. Aku turun membeli bahan makanan di supermarket sebelah gedung ini, bagaimana bisa di refrigeratormu hanya ada ramen instan?"

Chan Yeol menggaruk tengkuknya canggung. Seseorang juga pernah mengatakan hal yang sama dan Chan Yeol sedang tidak ingin mengingat sosok itu sekarang.

"Buat yang banyak, aku sangat kelaparan." Chan Yeol menyempatkan mengacak rambut Baek Hyun sebelum kembali ke kamarnya untuk mandi.

"Jangan perlakukan aku seolah aku adalah pembantumu, Dobby sialan!"

Suara tawa Chan Yeol teredam begitu tubuhnya menghilang dibalik pintu.

Baek Hyun sedang menumpuk pancake buatannya di dua piring dan meletakkannya di meja makan. Ia juga menuangkan susu kotak yang tadi dibelinya ke dalam dua gelas. Chan Yeol pasti akan mengolok-oloknya lagi dengan mengatakan dirinya yang seperti anak SMP karena masih memilih susu ketimbang teh atau kopi. Baek Hyun bukannya tidak menyukai dua jenis minuman itu, hanya saja susu menurutnya jauh lebih enak dan sehat.

Bel apartemen Chan Yeol tiba-tiba berbunyi. Baek Hyun yang mendengarnya menghampiri pintu kamar Chan Yeol kemudian berteriak.

"Yeol, ada tamu!"

Dari dalam suara berat Chan Yeol terdengar. "Buka saja Baek!"

Baek Hyun mendengus dengan suara keras. Ia hampir kembali mengumpati Chan Yeol agar berhenti menyuruh-nyuruhnya jika saja seseorang di luar sana tidak kembali membunyikan bel. Dengan langkah malas Baek Hyun menghampiri pintu tanpa berniat mengecek melalui interkom rupa si tamu lebih dulu. Baek Hyun dalam hati bertanya-tanya siapa yang datang pagi-pagi seperti ini.

Mungkin itu Kris-hyung yang ingin melihat keadaan Chan Yeol. Batin Baek Hyun.

Namun tebakan Baek Hyun salah total ketika ia membuka pintu. Mata Baek Hyun membola melihat sosok yang berdiri di depannya, ia juga tampak sama terkejutnya.

"K-kyung Soo…"

Tbc