REINCARNATION

.

.

.

Chapther 6: Hati Yang Jauh

.

.

.

Langit sudah berwarna hitam pekat. Para penjaga sudah berdiri rapi di setiap sudut, diterangi sebuah obor. Suara derap kaki para kasim dan dayang utama meramaikan malam di musim semi ini. Kediaman sang Raja menjadi tujuan mereka. Mengantarkan tuan mereka untuk beristirahat, setelah menyambangi kediaman permaisuri.

Langkahnya terhenti tepat di pertengahan jalan. Matanya yang tajam menyorot wanita yang berdiri tertunduk di sana, bersama para dayang. Wanita berbalut chima hijau muda dan dangui berwarna hitam. Corak perak bercampur emas menandakan betapa tingginya posisinya sekarang, namun tak lebih tinggi dari ratu. Seorang selir tingkatan tertinggi dan satu-satunya pemilik hati sang raja.

"Maafkan saya telah lancang selarut ini berkunjung di kediaman Yang Mulia," ucap sang selir sedikit membungkuk, sebagai bentuk rasa hormatnya. Ia sadar betul seberapa besar kesalahannya. Semua kekacauan memang berawal darinya.

"Kau benar ini sudah sangat larut, apalagi udara musim semi begitu dingin menyentuh kulit seharusnya kau tak usah menungguku, Selir Soo-bin. Kau bisa datang esok hari... " balas sang Raja berjalan mendekati sang selir.

"Maafkan saya Yang Mulia - "

"Aku hanya mengkhawatirkan kesehatanmu," potong sang Raja. "Kembalilah ke kediamanmu! Angin malam tak baik untuk kesehatanmu. Datanglah esok hari saat cuaca lebih hangat," lanjutnya berjalan melewati sang selir menuju tempat peristirahatannya.

Namun lagi-lagi langkahnya harus terhenti, kali ini karena jari lentik yang bertengger di lengannya. Menarik pelan lengan jubah kekaisarannya. Di iringi bibir berbentuk hati itu terbuka lagi. Sedangkan mata bulatnya bergerak-gerak tak tentu arah. Menentukan kata yang tepat untuk menjelaskan kegelisahannya. "Kenapa Yang Mulia tak membiarkan saya di adili saja? Kenapa Yang Mulia menutupi semuanya? Saya jelas-jelas bersalah Yang Mulia..!"

Sang raja tetap tenang, membiarkan lengan bajunya bertambah kusut. Karena tarikan pelan sang selir berubah genggaman kuat. Kemudian ia membalas tanpa menengokkan wajahnya. "Ini bukan sesuatu yang bisa di adili dengan hukum negeri ini. Dan membiarkanmu di adili sama saja merendahkan pilihanku. Aku memilihmu dan kau tanggung jawabku."

"Y-yang Mulia... Hukum saya, Yang Mulia! Anda tak boleh pilih kasih seperti ini!"

"Tidak... Aku tak mau."

"Saya sudah menyusahkan dan membuat Yang Mulia malu. Saya meninggalkan istana berhari-hari tanpa ijin. Bahkan di malam penikahan kediaman saya sudah kosong. Dimana seharusnya saya mulai mengabdi dan melayani Yang Mulia. Bagaimana mana saya bisa hidup dengan rasa bersalah ini, jadi hukum saya Yang Mulia."

Sang raja memejamkan matanya. Menahan kekecewaannya yang muncul kembali. Dirinya akui ia begitu kecewa dengan tingkah selirnya. Namun di balik itu semua ia sadar selirnya tak menaruh perasaan apa pun pada dirinya. Ia hanya mengikuti kemauan ayahnya dan fraksi Utara. Sangat sulit hidup di istana tanpa keinginan sendiri. Apalagi...

"Apa kau meninggalkan istana untuk ke perbatasan bagian Selatan?"

"Ya, Yang Mulia."

Tidak salah lagi, selirnya memang pergi menemui jenderal Park yang sedang berperang di perbatasan Selatan. Para pemberontak sedang mencoba masuk lewat Selatan. Dan kabar yang berhembus jenderal Park tekena luka parah. Tenaga medis akan tiba 5 hari setelahnya. Mungkin setiba disana sudah tak tertolong. Namun selirnya memotong perjalanan menjadi 3 hari dengan menembus hutan. Yang lebih mengesankan lagi, ia menaiki kudanya sendiri dengan berkantong-kantong tanaman obat.

Dengan lembut ia mengambil tangan yang lebih kecil dari lengannya. Membalik tubuhnya perlahan, menghadap sang selir yang terlihat sangat terkejut. Membawa tangan yang ada dalam genggamanya. "Baiklah jika itu mau mu. Aku akan menghukummu sendiri."

"Dayang Han... "

"Ya, Yang Mulia," balas dayang Han sembari membungkuk hormat.

"Bawakan cambuk rotan yang biasa kau gunakan untuk mendisiplinkan dayang junior."

Tak hanya mata dayang Han yang melebar namun juga dayang-dayang dan kasim disana. Mereka saling bertukar pandang satu sama lain. Apa ini artinya tuannya sudah murka? Sampai tega turun tangan sendiri memberikan hukuman?

"Jeon haaaa ! Tolong tarik perintah Anda!" seru mereka bersamaan.

Perintah tetaplah perintah. Para dayang berduyun-duyun keluar kediaman raja. Mereka tak di perbolehkan berada disana sampai besok pagi. Rasa cemas menghiasi wajah mereka, takut jika sesuatu terjadi pada sang selir. Salah seorang dayang sudah melapor pada permaisuri untuk membujuk raja. Namun permaisuri malah tersenyum simpul dan menyatakan tak mau ikut campur.

Sedangkan di dalam kamar utama, sang selir sedang memegangi kuat-kuat rok chima-nya. Mengangkatnya setinggi betis dengan wajah tegang. Menunduk memandangi kakinya yang telanjang tanpa alas kaki apa pun. Dari sudut matanya ia mampu melihat sang raja sudah mengapai cambuk berbahan rotan yang ada di meja.

"Angkat lebih tinggi!" perintahnya.

Sontak membuat sang selir otomatis menurut mengangkat rok chima-nya yang menggembung setinggi lutut. Dimana goresan luka yang belum kering mulai nampak melintang di lutut sang selir.

"Apa jenderal Park sudah baikan?" tanya sang raja berfokus pada lutut sang selir yang terluka.

"Ya, Yang Mulia. Dia pemuda yang kuat," jawab sang selir jujur. "T-tunggu.. Bagaimana Yang Mulia tau - "

Bukannya menjawab pertanyaan sang selir, ia malah berjalan ke sisi samping sang selir. Duduk disana dengan tenang untuk bersiap memberikan cambukan. Sasarannya adalah bagian betis. "Berapa cambukan yang kau pinta?" ucapnya lirih bercampur parau.

"Lima?". "Sepuluh?". "Dua puluh?". "Atau lima puluh?" tanyanya dengan suara semakin merendah.

"Sampai Yang Mulia merasa cukup, seratus pun tak apa," jawab sang selir mulai memejamkan matanya menyambut cambukan pertamanya.

Rotan mulai di ayunkan. Namun betisnya tak jua merasakan permukaan rotan yang kasar. Hanya hawa dingin yang diam diam menyusup lewat pintu kamar, dan menggoyahkan kakinya. Detik demi detik berlalu tanpa terjadi apa pun. Hingga lututnya tiba-tiba terasa perih. Tepat di bagian lukanya. Memaksanya untuk segera membuka mata perlahan.

"Yang Mulia!" pekiknya mendapati sang raja sudah berlutut di hadapannya. Tangannya sibuk menempelkan sesuatu di lututnya. Terlihat seperti tumbukan daun. Namun ia tak yakin daun apa itu. "Saya bisa mengobatinya sendiri, Yang Mulia tak perlu - "

"Tegakkan kakimu!" perintah sang raja, mau tak mau membuat sang selir terus berdiri menahan perih. "Ini hanya daun pegagan, perihnya tak akan lama. Jika terlau sakit, kau bisa berpegangan pada pundakku."

Dengan ragu-ragu sang selir menaruh salah satu tangannya di pundak yang kokoh itu. Berpegangan kuat disana. Sedangan tangan lainnya tetap memegangi roknya agar tetap terangkat. "Ibumu tabib bukan? Dan kau pergi mengobati jenderal Park, lalu kenapa kau membiarkan lukamu sendiri?" tanya sang raja membuat sang selir gugup setengah mati.

"Aa.. a.. a.. I-itu... "

"Rawat dirimu dengan baik." ucap sang raja memandangi hasil kerjanya yang sudah berbalut kain. Tujuannya agar tidak terjadi peradangan jika terkena udara maupun gesekan kain chima. Tak lupa membubuhkan kecupan disana. Kemudian menarik kepalanya perlahan. Namun netranya tetap memandangi kaki sang selir yang masih terekspos jelas. "Aku tak sanggup menghukummu, apalagi mencambukmu."

"Mana bisa begitu Yang Mulia!"

"Aku tak bisa, jangan memaksaku! Melihat lututmu terluka saja rasanya aku ingin menjeburkan diriku ke kolam paviliun ibu suri."

Sang raja mendongakkan kepalanya guna melihat wajah cantik sang selir. Ia sudah tak melihatnya berhari-hari. Tak bisa di pungkiri melihat selirnya kembali ke istana dan berdiri di hadapannya, rasanya sangat melegakan. "Aku merindukanmu, apa kau tak sedikit pun merindukanku?"

Sebuah tangan lentik membelai rahang tegas yang menatapnya. Mengusapnya ragu-ragu. Berbalik menatapnya dengan pandangan sayu tanpa berucap apa pun. Sang selir pikir ini pernikahannya ini hanya atas dasar politik saja. Sedikit demi sedikit rajanya ini menunjukan ketulusannya, mencoba memberitahunya bahwa perasaannya murni tanpa ada campur tangan politik.

"Apa aku menakutkan untukmu, Selir Soo-bin?"

Bibir hati sang selir perlahan terbuka. "Duduk di sisi Anda begitu menakutkan Yang Mulia. Menyentuh Yang Mulia seperti ini saja rasanya setumpuk dosa menghantui saya. Rasanya saya akan segera di gantung jika salah berucap ataupun bersikap."

"...A-anda begitu jauh dari jangkuan saya, Anda begitu asing bagi saya Yang Mulia," ucapnya seraya membungkukkan badannya. Memberanikan diri menyatukan bibirnya pada sang pemimpin negeri ini. Melupakan sikapnya bisa dianggap terlalu lancang. Beruntung ciumannya di sambut baik, terbukti tubuhnya ditarik lembut untuk duduk di pangkuan sang raja.

Kecapan demi kecapan kedua bibir yang menyatu membuat suara begitu nyaring. Atas dan bawah, bergantian tanpa merasa bosan. Mencoba meresapi hati satu sama lain. Mengeratkan pegangan di pundak dan pinggang. Tanpa sadar mereka mereka mengakhirinya dengan nafas tersengal-sengal. Menatap satu sama lain dengan perasaan campur aduk. Antara gairah yang memuncak bercampur dengan rasa malu.

"Hidup di istana akan semakin berat. Tetap kuat, selirku! Karena aku membutuhkanmu.. " diakhiri dengan kecupan di kening sang selir.

Akan tetapi acara malam tetap berlanjut seiring dengan simpul otgoreum (pita pada hanbok) yang terlepas, diikuti dengan lapisan baju yang terus berjatuhan. Terlucuti dengan hati-hati, tak ada kata terburu-buru di dalamnya. Menikmati setiap lapisan kain yang terkikis. Hingga mereka saling merasa gugup karena ketelanjangan mereka sendiri.

Rasa gugup mereka akhirnya terkalahkan dengan cumbuan-cumbuan yang terus di lancarkan satu sama lain. Mencoba memberikan kenikmatan pada pasangannya. Hisapan bercampur kecupan tercecer di setiap sudut lekukan. Rengkuhan yang semakin mengerat. Peluh yang semakin deras. Desahan yang semakin tak terbendung. Menjadi tanda tubuh mereka yang menyatu sempurna.

.

REINCARNATION

.

.

Tes

Tes

Tes

Suara air hujan yang jatuh ke tanah karena atap gubug tersebut tak tertutup sempurna. Membuat Jongin membuka matanya yang berat. Samar-samar ia bisa melihat gerimis yang mejelma menjadi hujan di celah-celah atap yang lumayan besar. Netranya melihat sekeliling. Dimana hanya ada tumpukan jerami, begitu juga tempat ia bersandar sekarang. Dan juga Kyungsoo yang duduk membelakanginya.

"Maaf aku ketiduran," ucap Jongin, membuat Kyungsoo menoleh tanpa menghentikan acaranya mengancingkan baju.

"Kau sudah baikan? Kau ingin pulang sekarang?" tanya Kyungsoo yang wajahnya terlihat kelelahan di mata Jongin. Jongin terus menatapnya tanpa ingin bertanya ataupun menjawab. "Ada apa?" tanyanya lagi.

Jongin hanya menggeleng. Mengenyahkan mimpinya tadi. Padahal dirinya sudah mengubur ingatan berbau dewasa, namun tiba-tiba ingatan itu muncul di mimpinya. Sangat jelas dan terasa nyata.

"Di luar masih hujan. Tapi bisakah kita pulang sekarang? Kita sudah terlalu lama berteduh tapi hujan tetap tak mau reda," ucap Kyungsoo berkali-kali membenarkan posisi duduknya.

"Ayo, aku sudah sedikit baikan. Hanya saja - " lidah Jongin terasa kelu untuk melanjutkan kalimatnya sendiri. Ia menunduk kebingungan. Tidak mungkin bukan ia katakan miliknya yang terbungkus rapi celana panjang terasa keras, basah dan lembab. "Lupakan... Ayo ku antar pulang. Chen hyung pasti mencemaskan kita."

Hujan yang mengguyur tak menghalangi kaki Jongin yang terus mengayuh sepedanya. Berharap angin membantunya cepat sampai kontrakan. Untuk segera meminum paracetamol meredakan demannya, yang mungkin nanti akan berkolaborasi dengan flu. Mengingat tubuhnya sekarang basah kuyup. Kyungsoo yang membonceng di belakang, merapatkan duduknya agar bisa menyandar di punggung lebar sepupunya itu. Sedangkan tangannya melingkar apik di pinggang. Merasakan perut datar yang mengencang karena sentuhan ringan tangannya.

"Aku tak akan menahanmu lagi, Jongin...Semoga kau juga menemukan kebahagiaanmu," bisik Kyungsoo mencoba melawan suara hujan yang begitu bising. "Maaf aku tak akan ikut mengantarmu besok. Salam untuk bibi dan paman."

"Tentu." Jongin mengangguk singkat.

"Apa kau - akan menetap di rumah bibi dan paman?" tanya Kyungsoo lagi. Yang tanpa Jongin ketahui sibuk menggigit bibirnya sendiri.

"Sepertinya tidak, Chen hyung menawariku di sekolah asrama. Eomma dan appa jarang dirumah, aku akan banyak kesepian katanya. Hyung takut aku jadi gila karena kesepian," balas Jongin tertawa kecil, menertawakan kekhawatiran hyung-nya yang terlalu berlebihan.

"Kau harus mengirimiku alamat sekolahmu. Akan kubawakan bunga saat kelulusanmu nanti." Tangan Kyungsoo melemah, tak dapat melingkar lagi di perut Jongin. Jongin dengan sigap menahannya dengan satu tangan, sebelum tangan Kyungsoo benar-benar kehilangan pengangannya.

"Kyung... " panggil Jongin panik.

"Aku tak apa, hanya kelelahan karena perjalanan jauh. Pinjam punggungmu."

Setibanya di kontrakan Kyungsoo menyuruhnya untuk segera masuk dan mengompres dahinya dengan air hangat. Jongin hanya bisa menurut, membalik tubuhnya meninggalkan Kyungsoo bediri di depan pintu dalam keadaan basah kuyup. Gadis itu tak bergerak seinci pun hanya untuk melihat dirinya benar-benar sudah masuk ke dalam pintu kontrakan.

Ada yang tidak beres dengan Kyungsoo, pikir Jongin. Kepulangannya yang tidak masuk akal, sikapnya yang mendadak emosional. Ingat di stasiun tadi, gadis itu memarahinya. Itu bukan gaya Kyungsoo. Jongin segera mengecek Kyungsoo melalui jendela.

"Kau liat apa, Jong?" sapa Sehun yang membantu Chen memplester tumpukan kardus milik Jongin. Ia bagian gunting menggunting

"Kyungsoo," balas Jongin acuh. Ia fokus memperhatikan Kyungsoo yang berjalan kepayahan masuk ke dalam kontrakannya. Apa kaki Kyungsoo sakit? Ia rasa tadi di stasiun gadis itu baik-baik saja.

"Hey, adikku.. Apa seharian bersamanya kurang untukmu?" cerca Chen memplester kardus terakhirnya. "Sebaiknya kau segera mandi dan beristirahat. Sehunna bisa tolong angkat koper di kamar Jongin kesini juga?"

"Baik, hyung," Sehun bergegas ke kamar Jongin, begitu juga sang pemilik kamar.

Jongin sibuk melepas bajunya sebelum melangkah ke kamar mandi. Masukan pakaian basah itu ke keranjang cucian. Sehun yang awalnya ingin mengambil koper dan segera pergi, memilih terdiam disana lama. "Kau sudah menaruh koper Kyungsoo ke kontrakannya?" tanya Jongin berjalan mengambil paracetamol di laci. Meminumnya dengan sebotol air mineral yang sudah ada di atas meja. Jakunnya yang naik turun, pertanda hanya menunggu waktu agar obat itu bekerja.

"Ya," jawab Sehun tetap terfokus pada tubuh Jongin yang topless. "Kau yakin akan pindah?" pernyataan itu keluar begitu saja tanpa di cegah.

"Mmm.. " Jongin mengambil handuk bersiap untuk mandi.

"Aku tak tau cara berpikirmu, bung! Jika sejak awal ingin pergi kenapa membuat masalah menjadi rumit?" seru Sehun. Jongin mengerutkan dahinya. Ia tak tau apa maksud Sehun. Kepergiannya malah menyelesaikan masalah, kenapa kawannya itu malah marah-marah sekarang.

"Ahhh sudahlah lupakan omonganku. Aku tak akan ikut campur." Sehun pergi menyeret koper ke luar.

.

.

.

Kyungsoo berbaring di ranjangnya. Dengan kain kompres menempel di dahi. Baekhyun yang selama dua hari ini merawatnya. Rupanya ia ikut tertular demam Jongin. Ahhh anak itu.. Dirinya mendadak sedih mengingatnya, bahkan tanpa ucapan perpisahan. Hanya mendengar suara mesin mobil sepupunya Chen di hari keberangkatan Jongin. Tak ada yang bisa menahannya.

"Kyung...kau tak ingin ganti baju? Kurasa bajumu lembab karena keringat. Ayo ku bantu!" ucap Baekhyun membantu mendudukan Kyungsoo. Lalu mengambil pakaian ganti dari almari. Memilihkan baju yang longgar dan nyaman di pakai, beserta pakaian dalamnya.

"Terima kasih. Aku akan memakainya sendiri," ucap Kyungsoo mulail melepaskan bajunya sendiri. Sedangkan Baekhyun memilih membersihkan meja dari sisa makanan.

"Kau tak ada jadwal konsultasi dengan Xiumin noona?" tanya Kyungsoo ketika melepas bra-nya kemudian meraih bra kaos putih yang terlipat rapi di sampingnya.

Mau tak mau Baekhyun menengoknya, saat Kyungsoo setengah perjalanan memakai bajunya. Saat baru tersadar sesosok pemuda sudah sedari tadi berdiri di pintu. Melihat ke arahnya dengan pandangan terkejut. Baekhyun mengabaikannya memilih tetap tenang.

"Tidak, jadwalku minggu depan." jawab Baekhyun dimana Kyungsoo berganti melepas celana dalamnya. "Sepertinya aku butuh ke luar sebentar, memasak bubur untukmu," lanjutnya. Kyungsoo hanya bisa mengangguk.

Sampai sebuah panggilan membuat jantungnya berdetak lebih cepat. "Kyungsoo..!" suara bass yang sukses membuat Kyungsoo segera menyembunyikan celana dalam bekasnya di balik bantal. Dan menutupi bagian bawahnya dengan selimut. Ia belum sempat memakai celana.

"Chan.. " panggil Kyungsoo balik. Chanyeol berjalan menghampirinya. Duduk di pinggir ranjang dengan wajah bersalahnya.

"Kenapa tak mengabariku jika kau sakit? Aku akan kesini lebih cepat," ujar Chanyeol memeriksa dahi Kyungsoo. "Sudah berapa hari kau demam?"

"Dua hari. Bagaimana nenekmu?"

"Sudah baikan. Harusnya aku tak membiarkanmu pulang sendirian. Hanya karena kau memohon padaku." Usapan lembut tangan lebar Chanyeol menyeka keringat di wajah Kyungsoo.

"Kau baru saja datang?"

"Sejak tadi, aku hanya tak ingin menganggumu yang sedang mengobrol bersama B-temanmu."

"Namanya Baekhyun... Kau melihatku berganti pakaian?"

"Maaf,"

"Untuk apa? Kau sudah pernah melihatnya - "

"Untuk ini dan lainnya," Chanyeol mengusap tengkuk Kyungsoo dengan ibu jarinya. Dimana tanda keunguan nampak jelas terlihat disana. Sisanya tertutup baju Kyungsoo. "Kau pasti malu pada temanmu."

Kyungsoo menggeleng, "Kami wanita dewasa, kami sudah sama-sama mengerti. Dan kita sama-sama menghargai privasi masing-masing. Dia tak akan bertanya siapa kekasihku dan dengan siapa aku tidur."

"Jangan terlalu percaya pada orang lain," ucap Chanyeol seakan mencoba memperingatkan Kyungsoo. "Kemana sepupu-sepupumu? Biasanya mereka bukan yang merawatmu?"

"Mereka ke rumah paman dan bibi Kim. Jongin pindah kesana," jelas Kyungsoo yang memposisikan dirinya menjadi menyender pada kepala ranjang. Menarik selimutnya semakin ke atas. Sebatas dada.

"Kau kelihatan begitu sedih," komentar Chanyeol.

"Sudah pasti, Jongin... Jongin sudah seperti - " Kyungsoo menjeda kalimatnya. "Adikku sendiri," lanjutnya dengan suara terdengar lebih lemah.

"Kenapa aku mendengar keraguan di ucapanmu, Kyung? Dia lebih dari itu bukan?" terselip kecemburuan di hati Chanyeol. Tapi ia menekannya, toh mereka sepupu bukan. Apa yang perlu di khawatirkan.

"Kami di besarkan bersama. Aku, Chen oppa dan Jongin. Akan beda rasanya jika salah satu menghilang di antara kami," elak Kyungsoo.

"Kau menyukainya?" tanya Chanyeol lagi. Tak ada gertakan. Ia hanya bertanya biasa, seolah menanyakan cuaca hari ini.

Kyungsoo memilih diam. Meremas ujung selimutnya di dada, karena rasa gugup menyelubunginya. Beberapa bulan bersama Chanyeol membuat dirinya mengerti pemuda jakung itu tidaklah mudah menerima kekalahan dan sedikit ambisius seperti Richard Park. Namun di balik itu semua hatinya begitu tulus dan lembut seperti jenderal Park yang pernah ia baca.

"Itu alasanmu tempo hari?" Chanyeol tak segan-segan menambah pertanyaannya. Memborbardir Kyungsoo yang semakin tak nyaman dengan percakapan ini.

"Chanyeol... " seru Kyungsoo tak terima. Chanyeol menggeser tempat duduknya. Mendekat ke arah Kyungsoo. Mengukung sang gadis kanan dan kiri. Kyungsoo memandang kekasihnya itu was-was. Kyungsoo memilih menutup matanya ketika wajah Chanyeol sudah tinggal beberapa inchi.

Bukan bibirnya yang menjadi sasaran, namun pipi gembilnya. Bibir tebal itu cukup lama mampir di pipi Kyungsoo. "Kau dua hari tak mandi ya?" bisik Chanyeol membuat Kyungsoo membuka matanya lebar-lebar. "Tapi kau tetap wangi bagiku," Chanyeol menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Kyungsoo.

"Cepat sehat, aku maupun sepupumu Jongin pasti tak suka kau sakit seperti ini," pinta Chanyeol. Kyungsoo berbalas memeluknya. Memberikan tepukan-tepukan ringan di punggung lebarnya. "Waktumu sisa sebelas hari. Kuharap - "

"Bagaimana jika ku jawab sekarang?" sela Kyungsoo.

"Kau sedang demam. Kau pasti tak bisa berpikir jernih. Jadi jangan katakan jawabannya sekarang," tolak Chanyeol membelai rambut Kyungsoo yang terurai di punggung. Firasat Chanyeol mengatakan Kyungsoo akan menyerah untuk tetap bersama dirinya. Gadis itu akan menolak pinangannya. Dan ia tak mau itu terjadi.

Kyungsoo mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Menelan jawabanya lagi. Sedangkan Chanyeol yang sangat khawatir Kyungsoo nekat memberikan jawaban, membungkam bibir hati itu. Mencumbunya seorang diri berkali-kali. Mengabaikan segumpal air mata sudut mata Kyungsoo.

Sedangkan di lantai bawah, Baekhyun berkutat dengan bubur yang terus ia aduk. Dan rasa sakit perutnya yang kambuh lagi. Chanyeol menuruni tangga. Berbelok ke arah dapur. Berdiri di sana, di depan meja dapur yang penuh bahan-bahan masakan. "Ini bukan pertama kali kau melihatku lagi kan? Kau tak kaget sama sekali, Byun Baekhyun... "

Baekhyun menyendok buburnya ke mangkuk, menambahkan irisan daun bawang dan potongan daging. "Ya, jadi kau kekasih Kyungsoo?" tanya Baekhyun balik. Tanpa sadar tangannya bergetar sendiri, tanpa terkontrol.

"Ya, aku berniat menikahinya," jawab Chanyeol angkuh.

"Kudoakan semoga kau bahagia." ujar Baekhyun merogoh isi kantung celananya. Mengambil sebutir pil, lalu menegaknya dengan cepat. Ia tak tahan lagi dengan rasa sakit perutnya. Apalagi muncul rasa takut yang berefek pada tangannya. Baekhyun berpegangan pada pinggiran meja dapur. Menunggu efek obat yang ia telan. Kepalanya tertunduk hingga rambutnya menjuntai menutupi wajahnya.

"Berhenti bergantung pada obat, Baek!" seru Chanyeol penuh penekanan.

"Apa pedulimu!" bentak Baekhyun sudah tak tahan lagi.

Chanyeol mengangkat tangannya tanda menyerah. "Baik.. Baik... Lakukan semaumu. Aku hanya pria yang buruk bukan di matamu?"

"Pergilah, bawa mangkuk ini ke atas. Dan pura-pura lah tak mengenalku." usir Baekhyun. Chanyeol hanya bisa memandangnya iba dan membuang nafasnya berat. Kenapa tadir mempermainkannya di saat seperti ini. Kenapa kau tak bisa memaafkan dirimu sendiri, baek? Batinnya dalam hati.

.

.

.

Raja bergegas menuju istana Selatan tempat kediaman selirnya. Setelah mendengar laporan bahwa selirnya telah kembali dari mengunjungi sepupunya di daratan China. Perjalanan yang panjang hampir memakan waktu dua bulan. Namun sayangnya sang selir kembali dalam keadaan sakit. Jenderal Oh berlarian sepanjang halaman istana, untuk segera membuntuti di belakang sang raja.

"Ikut aku masuk!" perintah sang raja pada jenderal Oh.

Ketika pintu telah terbuka, seorang kepala tabib kerajaan segera menyingkir dan membungkuk hormat. Mempersilakan untuk melihat keadaan sang selir. Selirnya sedang tidur pulas dalam balutan selimut tebal.

"Katakan padaku sakit apa yang di derita selir Soo?" tanya sang raja yang tengah membelai pipi pucat sang selir.

"Setibanya di istana selir Soo-bin mengeluh mual dan muntah. Beliau sedang mengandung-" sang tabib menghentikan penjelasannya. Sebuah senyum terukir jelas di wajah sang raja. Penantiannya berbuah manis. "K-kandungannya satu minggu," lanjutnya takut-takut.

Senyum tersebut luntur mengilang tanpa bekas tergantikan kerutan dahi yang dalam. Sedalam kebingungannya sekarang. "Satu minggu," gumam sang raja tak percaya akan pendengarannya.

Bersamaan dengan suara pedang yang tarik dari sarungnya. Begitu nyaring di kediaman selir yang sunyi. Jenderal Oh mengangkat pedangnya di leher kepala tabib. Satu gerakan saja, pedang itu bisa memotong otot-otot nadi di leher sang kepala tabib. "Masukan pedangmu!" pinta sang raja.

Jenderal Oh tak mau menurut. "Bagaimana bisa seorang tabib mengatakan hal seperti itu. Itu sama saja melecehkan Yang Mulia dan Selir Soo-bin. Satu minggu Yang Mulia... Bagaimana Selir Soo bisa mengandung satu minggu, padahal dua bulan ini beliau bersama hamba dan Jenderal Park. Kami bergantian menjaganya."

"KUBILANG TURUNKAN PEDANGMU! BAGAIMANA BISA KAU MENGANCAM SEORANG TABIB WANITA DENGAN PEDANGMU!" seru sang raja dengan nada tinggi.

Jenderal Oh akhirnya menyimpan pedangnya lagi. "Hamba akan bersaksi jika desas desus buruk muncul terkait bayi yang ada di kandungan selir Soo. Tak ada satu pun pria yang mendekati apalagi -"

"Kau dan jenderal Park menghadaplah padaku malam ini. Tepat tengah malam. Datanglah lebih awal! Aku tak tau mana yang benar mana yang salah, hanya kau yang kupercayai," potong sang raja.

"Jenderal Park hamba yakin akan datang terlambat karena setelah mengantar selir Soo ia langsung menyambangi kediaman keluarga Park. Jauh dari Hanyang," jelas Jenderal Oh. Tanpa mereka ketaui para dayang mencuri dengar percakapan mereka dari luar pintu.

.

.

.

TBC

.

.

Note:

Ada apa dengan chanbaek? Mari kita lihat episode besok yap... Mau nebak-nebak juga monggo , saya persilahkan...