Disclaimer :
-All Naruto Chara inside is belong to Masashi Kishimoto
-The Story is belong to Ayame Yumi
Warning :
-Sasori dalam cerita ini warna matanya biru bukan coklat.
-OOC, TYPO, Gaje, DLDR
-Apabila masih banyak kekurangan mohon dimaklumi.
.
.
Enjoy Reading minna-san~
.
.
.
.
The Story of The Second Heir
Sakura sedang duduk dengan tenang di salah satu meja kantin Universitas Konoha sambil mengerjakan sesuatu di laptop miliknya, sesekali ia menyeruput Milkshake Strawberry yang telah dipesannya.
"Sedang apa ?" tanya sebuah suara dengan tiba-tiba yang sontak membuat Sakura tersentak kaget.
Sakura memasang wajah sedatar mungkin. "Menurutmu ?" tanya Sakura kepada seseorang yang merupakan Sasuke itu.
Pemuda tampan itu duduk di samping Sakura tanpa meminta persetujuan terlebih dulu lalu ia mengeluarkan laptop miliknya, mata Onyxnya beralih ke arah Sakura.
"Bisa aku minta tolong diajari sesuatu olehmu ?" tanya Sasuke.
"Ajari apa ?" tanya Sakura tanpa mengalihkan pandangannya.
"Tentang tugas yang kau beri, ada beberapa hal yang tidak kumengerti," ungkap Sasuke. "Baiklah aku hanya akan memberikanmu beberapa gambaran untuk membuka pikiranmu," Sakura menutup laptop miliknya lalu menggeser bangku miliknya mendekat ke arah Sasuke membuat beberapa kaum hawa menatapnya dengan iri dan ada juga beberapa kaum adam yang memandang dengan wajah mupeng a.k.a muka pengen. Sakura memang baru beberapa hari mengajar di Universitas Konoha namun ia sudah menjadi incaran banyak pemuda lajang di kampus tersebut. Ia cerdas dan mapan, siapa yang tidak mau dengannya ? ditambah ia juga cantik dan memiliki tubuh yang cukup proporsional, walau tak seseksi tubuh kekasih Namikaze Naruto. Kalau Sasuke ? Tidak perlu diragukan lagi ia pangeran kampus dan seorang playboy yang sudah vakum beberapa minggu belakangan dari dunia ke-playboy-annya.
Sakura mulai mencoba menjelaskan tentang hal-hal yang tidak dimengerti Sasuke, sedangkan Sasuke ia memang memandang ke arah Sakura namun ia tidak fokus memperhatikan apa yang Sakura jelaskan. Ayolah Uchiha dianugrahi dengan otak cemerlang, mana mungkin ia tak mengerti pelajaran seperti ini. Sebenarnya ia hanya mencari kesempatan untuk dekat dengan sang dosen yang mengajar di mata kuliah e-business ini.
'Aku belum pernah merasa senyaman ini didekat wanita selain kaa-sanku, bahkan dengan mantan-mantanku,' pikir Sasuke.
Sejak bertemu dengan Sakura ia merasakan getaran-getarana aneh dari dalam dirinya, ia tak dapat mendefinisikan bagaimana perasaan itu namun ia hanya ingin berada di dekat gadis ini, ia merasakan seperti sesuatu yang sempat hilang telah kembali. Tapi ia benar-benar tidak mengerti apa maksud dari perasaan itu, namun dia menikmatinya.
'Apakah aku menyukainya ?' batinnya bertanya.
"Hey... Boleh aku bergabung ?" seru sebuah suara secara tiba-tiba, membuat Sasuke tersentak kaget dari lamunannya.
"Apa yang kau lakukan disini ? Pergi sana," usir Sasuke.
'Mengganggu saja,' batin Sasuke kesal.
Pemuda bernama Kimimaro itu memandang Sasuke dengan wajah (sok) polos. "Aku hanya ingin minta diajarkan oleh Sakura-sensei, apa tidak boleh ?"
"Tidak boleh!" ucap Sasuke ketus.
Kimimaro mengabaikan Sasuke dan memandang ke arah Sakura yang sedang memandang pertengkaran mereka dengan wajah pokerface.
"Aku tau kalau kau mengajar di mata kuliah E-Business tapi kudengar selama masa kuliahmu kau juga cukup ahli di program studi Akuntansi, bisa kau ajari aku mengenai Intrapreneurship? Ada beberapa hal yang tidak aku mengerti," ucap Kimimaro.
"Hm ? Boleh saja," ucapan Sakura menimbulkan seringai kemenangan di wajah Kimimaro dan decihan kesal dari Sasuke.
Akhirnya selama waktu istirahat itu dihabiskan Sakura dengan mengajari dua pemuda jenius yang mendadak kehilangan kejeniusannya demi menarik perhatian sang calon Presdir Haruno Corp.
"Pada dasarnya intrapreneurship adalah entrepeneurship yang dipraktekan dalam sebuah organisasi yang lebih besar dan mempunyai sumber daya untuk melaksanakan ide dan inovasinya guna mengembangkan perusahaannya. Jadi dapat dikatakan bahwa perbedaan intrapreneurship dan entrepreneurship adalah skala besar-kecilnya suatu perusahaan atau organisasi," jelas Sakura kepada Kimimaro.
Merasa tidak mendapat respon, Sakura mengibaskan tangannya di depan Kimimaro yang sedang duduk sambil menopang dagu menghadap Sakura.
"Hei!" panggil Sakura.
Kimimaro tersentak. "Ah... iya iya, aku mengerti,"
"Giliranku," seru Sasuke.
"Mana yang tidak kau mengerti lagi ?" tanya Sakura malas. Ayolah ia mulai bosan melihat tingakh mereka yang sedari tadi lebih mirip bocah yang sedang berebut mainan dibandingkan dua pemuda yang sedang meminta kursus dadakan dengannya.
"Aku kurang mengerti yang ini," ucap Sasuke sambil menunjuk salah satu baris tulisan yang ada di buku catatannya.
Sakura menghela nafas. "Itu sangat mudah sekali Sasuke, Organisational learning terjadi melalui pengalaman, bangunan dan berbagi pengetahuan, keahlian, ide-ide dan wawasan,"
Sasuke mengangguk-angguk paham.
"Ah... kalau yang-"
"Hey Ayam sok keren! Sekarang giliranku! Tadi kan kau sudah bertanya,"
"Ayam katamu ? Sebaiknya kau tutup mulutmu itu dasar ceking,"
"Ceking katamu ? Kau tidak melihat tubuh atletisku yang membuat para gadis rela melakukan apapun untuk dapat terus melihatnya,"
"Che! Para gadis itu pasti sudah buta,"
Dan bla bla bla, adu mulut terus terjadi di antara kedua pemuda most wanted di Konoha University. Sang sensei yang berada di antara mereka memijit pelipisnya. Ia tidak suka melihat perdebatan.
Tanpa mengatakan apapun gadis yang memiliki nama seperti bunga kebanggaan Jepang itu membereskan barang-barangnya lalu melangkah pergi meninggalkan kedua pemuda tampan yang sedang adu mulut tersebut.
"Sensei sebaiknya kita belajar di perpustakaan, aku tidak mau belajar bersama si kerem- EH!"
Sasuke kaget ketika melihat kursi yang tadinya terdapat seorang gadis pink kini telah kosong melompong. Kemudian Sasuke memandang Kimimaro sengit.
"Itu gara-gara dia ilfeel satu meja dengan orang sepertimu, lebih baik aku pergi saja," sewot Sasuke sambil melenggang pergi.
Kimimaro menggelengkan kepalanya.
"Belum pernah aku melihat seorang Uchiha Sasuke berdebat tentang hal-hal tak penting seperti tadi, ini benar-benar konyol. Cih dasar bodoh,"
-o-
"Hahhh... sudah lama aku tidak mampir ke sini," ucap Itachi sambil melihat ke arah Akatsuki's Coffeeshop.
"Selamat datang di Akatsuki's Coffeeshop," ucap seorang pelayan yang membukakan pintu untuk Itachi.
Itachi hanya membalas dengan anggukan singkat, ia melangkah masuk lalu melihat anak muda sangat terasa di sini, tak mengherankan jika kafe ini menjadi tempat tongkrongan favorit kalangan muda.
Itachi tersenyum tipis.
'Tempat ini sudah sangat berbeda dari beberapa tahun yang lalu, sungguh sangat disayangkan aku tidak sempat melihat bagaimana tempat ini berkembang,' batin Itachi.
Ia kemudian mengambil duduk di tempat yang masih kosong.
"Selamat datang di Akatsuki's Coffee- ITACHI!?"seorang pelayan yang awalnya ingin menanyakan pesanan Itachi seketika berteriak kaget. Sepertinya ia mengenal pelanggannya yang satu ini.
Dengan wajah kalem seolah tidak terjadi apa-apa Itachi memandang ke arah pelayan tersebut lalu tersenyum tipis. "Aku pesan satu Mocha Latte dan satu porsi salad,"
CTAK!
Hup!
"Aku merindukanmu bodoh,"
Itachi yang awalnya mengaduh karena kepalanya yang baru saja dijitak kini tersenyum tipis, putra sulung Uchiha itu lalu membalas pelukan dari si pelayan.
"Aku juga merindukanmu, Konan,"
Pelayan yang dipanggil Konan itu lalu melepaskan pelukannya. "Kau adalah tamu spesial kafe kami, jadi ayo ikut aku," Konan menarik tangan Itachi menuju ke sebuah ruangan yang di depannya bertuliskan VIP.
"Wow... kafe ini bahkan mempunyai ruangan VIP," Itachi berdecak kagum.
Ruangan ini memang bukan sebuah ruangan yang didesain dengan interior-interior bernilai jutaan dollar, tetapi yang membuat tempat ini istimewa karena tempat ini dilengkapi oleh beberapa fasilitas, seperti tempat karaoke, stand makanan dan minuman, rak buku yang berisikan berbagai macam buku yang merupakan sumbangan dari beberapa pengunjung kafe, disana juga tersedia Playstation, PSP, Tablet, dan tentunya sebuah LCD TV, oh jangan lupakan sebuah toilet khusus yang tersedia di dalamnya. Benar-benar surga remaja. Tapi harga yang dibayarpun pasti akan sebanding untuk semua ini.
Itachi melihat sekelilingnya kemudian tertawa pelan. "Ini luar biasa! Aku tidak percaya kalau kalian benar-benar menjalankan ide konyol yang dulu aku dan Sasori buat," ungkap Itachi.
"Untuk membuat suatu hal seperti ini memang sangat sulit dan tentunya membutuhkan biaya yang besar, tapi kami bisa mengatasinya. Akan menjadi cerita panjang kalau diceritakan,"
"Baiklah kalau begitu aku tidak mau mendengarkannya," ucap Itachi diakhiri dengan kekehan.
"Baguslah, karena sekarang aku harus menyelesaikan pekerjaanku, kau tunggulah pesananmu di sini," titah Konan
"Apa kau masih mengingat pesananku ? Karena seingatku kau tidak menyatatnya tadi," ucap Itachi sambil tersenyum meremehkan.
"Tentu saja, segelas Mocha Latte dan seporsi Salad kan ?" tanya Konan memastikan dan hanya dibalas anggukan singkat dari Itachi.
BRAK!
Beberapa menit setelah Konan menutup pintu, kini pintu tersebut kembali dibuka err... maksudnya didobrak oleh Yahiko.
"Ternyata benar kau," ungkap Yahiko.
Kedua teman lama tersebut beradu High Five.
"Awalnya aku ingin membuat sebuah sambutan untukmu, tapi kau malah datang ke sini duluan," ungkap Yahiko.
"Tidak perlu membuat sambutan segala, mengetahui kalian menyambutku dengan baik saja sudah membuatku senang," ungkap Itachi.
"Ah... bagaimana Amerika ? Apakah ada sesuatu yang menakjubkan ?" tanya Yahiko sambil menaik-naikkan alisnya dan tersenyum mesum yang membuat Itachi hampir muntah di tempat.
"Jika yang kau maksud itu para gadis yang memakai bikini seksi ketika sedang berjemur di pantai saat musim panas, jawabannya tidak ada yang menakjubkan tentang itu," ketus Itachi.
"Che.. kau itu gay. Mana berselera dengan wanita seksi. Kau sama saja dengan Sasori, sok alim," ejek Yahiko yang hanya di balas dengusan dari Itachi.
"Ngomong-ngomong soal Sasori, dimana dia ?" tanya Itachi.
"Dia sedang bekerja di depan, kau ingin bertemu dengannya ?" tanya Yahiko.
"Nanti saja kalau dia tidak sibuk,"
Yahiko mengangguk mengerti. Sesaat suasana sempat hening sampai Yahiko kembali mengeluarkan suaranya.
"Hey! Pekerjaan di Amerika pasti membuatmu tidak sempat bermain Playstation seperti dulu, bagaimana kalau kita berduel ? Kau ingat CD Game Ramen No Ninja ? Edisi barunya sudah keluar," cerocos Yahiko.
"Hm... boleh juga, sudah lama tangan-tanganku tidak bermain di atas stickPS,"
"Yosh... Lets start the game,"
-o-
"Ada apa mengajakku bertemu di sini Neji -kun ?" tanya seorang wanita bercepol dua, ia terlihat gelisah sekali.
"Ini," pria berambut coklat panjang yang dipanggil Neji itu memberikan sebuah botol silinder berukuran 210 ml.
"Apa ini ?" tanya wanita tersebut.
"Berikan saja ini kepada tuanmu itu. Jangan lebih dari 2 tetes," titah Neji.
"Memangnya kenapa Neji-kun," tanya wanita tersebut.
"Karena aku tidak ingin dia mati lebih cepat, setidaknya dia harus melihat kehancuran keluarganya dulu," ucap Neji penuh penekanan disertai sorot mata penuh kebencian.
Wanita bercepol dua itu memandang sedih pria dihadapannya.
"Baiklah,"
'Jika itu bisa membuatmu bahagia, aku rela melumuri tangan ini dengan dosa,'
"Hn, sekarang pergilah," titah Neji.
Tanpa berkata apapun wanita tersebut beranjak dari duduknya, namun sebelum melangkah pergi sebuah tangan menggenggam pergelangan tangannya.
"Aku harap semua ini cepat berakhir, dan kemudian aku akan membahagiakanmu dengan kebahagiaan yang pantas kau dapatkan Tenten-chan,"
Wanita bernama Tenten tersebut merasakan air mata akan keluar dari kedua mata hazelnya.
"Iya, aku harap juga begitu. Sekarang aku harus pergi," ujar Tenten tanpa memandang ke arah Neji.
Setelah Neji melepaskan tangannya Tenten langsung saja pergi meninggalkan tempat itu. Tanpa Neji sadari air mata mengalir dari kedua sudut mata gadis keturunan Cina itu.
-o-
"Sial, lambat sekali kerja anak itu! Kalau menunggunya kapan aku bisa melakukannya!?" gumam frustasi seorang pria berambut perak berkuncir satu.
Drrtt.. Drrtt..
Sebuah ponsel pintar berwarna black opal terlihat bergetar di atas meja yang diduduki pria bernama lengkap Yakushi Kabuto itu. Pria yang memiliki kaca mata seperti Harry Potter itu mengambil ponselnya lalu mengangkat panggilan yang masuk ke ponselnya.
"Halo ?"
"Kabuto, aku sudah mendapatkan apa yang kau butuhkan. Aku akan mengiriminya melalui email," Ujar sang penelpon to the point.
Kabuto menyeringai. "Kerja bagus, kenapa membutuhkan waktu yang lama untuk mngerjakan hal mudah seperti ini," ujar Kabuto.
"Maafkan aku Kabuto, tadi malam aku sudah menganalisis datanya dan sepertinya data-data itu belum cukup untuk menjalankan rencana kita" jelas sang penelfon.
"Tentu saja belum, dia sekarang hanya memimpin satu cabang. Kehancuran 1 cabang tidak terlalu berarti bagi mereka, mengingat mereka juga punya banyak anak perusahaan," ujar Kabuto.
"Kurasa kau benar,"
"Ada apa hm? Kenapa nada bicaramu terdengar gusar begitu bocah ?" tanya Kabuto dengan nada mengejek.
Terdengar dengusan dari seberang sana. "Bukan urusanmu, kau pelajari saja data itu. Setidaknya kalau kau bisa menghancurkan salah satu anak perusahaan paling berpengaruh tentunya akan mudah bagimu untuk menghancurkan yang lainnya, karena kau sudah tau celahnya,"
"Aku tidak suka cara bicaramu yang sok bossy itu, tapi kuakui aku suka caramu," ungkap Kabuto sambil terkekeh.
"Hn,"
Klik! Sambungan pun terputus.
Kabuto kembali meletakkan ponselnya di atas meja. Lalu ia mulai mengalihkan fokusnya ke laptop miliknya. Jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard. Kini dilayar laptop terlihat berbagai hal-hal rumit yang bisa membuat otakmu pecah kalau belum terbiasa menghadapinya.
Seringai Kabuto kembali terkembang. "Hm... tuan pasti akan menyukai ini. Sebaiknya aku menghubunginya,"
-o-
Pria berambut hitam panjang itu terlihat tengah tertidur di kursi kerjanya yang empuk, ia terlihat lelah. Tiba-tiba ponselnya berdering yang membuatnya terlonjak kaget. Dengan wajah kesal ia mengangkat panggilan yang masuk ke telfonnya.
"Ada apa kau menggangguku di jam istirahatku !? Kuharap kau memiliki alasan yang bagus untuk itu," bentak pria tersebut, mata emasnya menyiratkan bahwa dia sangat kesal.
"Ma-maafkan aku Orochimaru-sama, a-aku punya kabar bagus untukmu," ujar suara di sana, dari suaranya jelas sekali kalau ia ketakutakan.
Syaraf-syaraf pria yang dipanggil Orochimaru yang semulanya menegang kini mulai melemas. Orochimaru menyandarkan punggungya di kursi empuknya.
"Katakan," titahnya.
"Aku sudah mendapatkan data yang kau inginkan Orochimaru-sama, sudah kukirim lewat emailmu tadi,"
Pria yang memiliki wajah tirus itu menunjukkan seringainya yang membuat snake-like-teethnya terlihat jelas. "Kerja bagus Kabuto, aku tau kalau aku bisa mengandalkanmu,"
"Arigatou Orochimaru-sama, sekarang apa selanjutnya rencana kita Orochimaru-sama ?" tanya Kabuto.
"Hm... kita sekarang hanya tinggal menunggu hasil dari anak itu,"
"Bukankah itu hanya membuang waktu jika menunggunya selesai ? Menurutku kita langsung saja melancarkan rencana utama Orochimaru-sama,"
Orochimaru mendengus. "Jangan terlalu terburu-buru Kabuto, hasilnya tidak akan terlalu memuaskan jika kita melakukannya dengan tergesa-gesa,"
"Baiklah Orochimaru-sama,"
Klik! Sambungan terputus.
Orochimaru menopang dagunya di atas meja.
"Lihat saja red-head sebentar lagi kau akan melihat orang yang paling kau sayangi hancur ditanganku, khu khu khu khu,"
Sementara itu...
Deg Deg!
Sasori yang ketika itu baru saja selesai mengantarkan pesanan tiba-tiba merasakan perasaan tidak enak. Ia memegang dadanya. Alisnya mengkerut.
'Aku merasakan firasat buruk, tapi... apa itu ?' batin Sasori gusar.
Sasori menggelengkan kepalanya.
"Mungkin hanya perasaanku saja," lirih Sasori.
~TBC~
[Revised 7/23/2016]
Author Note :
Gimana Chapter kali ini ? Apakah masih banyak kekurangan ? Atau semakin jelek dari chapter sebelumnya ? Apapun itu tinggalkan Kritik dan Saran melalui kotak Review di bawah :)
Mohon maaf juga kalau gaya penulisan Ayame kurang enak dilihat...
Dan di bawah ini balasan review buat yang gak login.
Balasan Review:
L Kim: Iya... chap 4 kemarin hasil rombak ^^
Iya akan Ayame abaikan kritik yang mengatakan kalau fic ini buruk, jikalau itu flame.
Tapi kalau mengandung kritik dan saran yang membangun tidak akan Ayame abaikan, sebisa mungkin Ayame ikutin nasehatnya :)
Hehehe... ya iyalah bagusan Sasuke xD
Kalau masalah berapa Chapter itu Ayame belum tau, karena Ayame belum buat perkiraan, dan lagi Ayame baru ngetik sampai Chapter 7, tapi diusahakan chapnya nggak terlalu banyak.
Ayame update cerita ini setiap seminggu sekali tepat di hari minggu, Tapi kalau ada halangan bakalan di undur di minggu depan berikutnya.
Kalau soal Sasori yang apakah akan balik ke keluarga atau nggak belum bisa saya kasih tau, mungkin jawaban ini akan terjawab di beberapa chapter kedepan.
Itachi tetap bagian Akatsuki, hanya saja dia harus ngurusin bisnis keluarga, jadi gak bisa sama-sama Akatsuki terus.
Yosh, ini udah update ^^ dont forget give me a review yaaa ^^
Douita -san :)
anonymous : Thanks for loving this story *give you a big hug* Ini udah update ^^ semoga suka ya, dan jangan lupa tinggalin review lagi :D
