.

Sebetulnya gx bisa buat suatu cerita yang sweet, jadi nanti tetap ada konflik yang sedikit membuat sebal.

.

.

-Yasto-

.

.

.

Kedai sushi dengan suasana cozy milik keluarga Kim adalah salah satu kedai sushi terbaik di Ansan. Bukan hal yang mengejutkan jika, kedai tersbut selalu memiliki antrian terlebih ketika jam makan siang kantor. Mereka datang bukan hanya karena rasa sushinya yang memiliki cita rasa bak seni tetapi kecantikan dari puteri pertama pemilik kedai tersebut. Lelaki mana yang tak akan betah berlama-lama didalam kedai tersebut ketika ada koki bar yang memiliki pesona gadis jepang yang terkenal dengan aura bersinar yang manis dan imut bersamaan. Memang banyak gadis korea yang cantik tapi, pesona adalah hal yang tak semua gadis miliki dan aura Seokjinlah yang membuatnya menjadi puluhan kali lebih cantik dari kebanyakan gadis.

Makanan enak dan pelayan cantik. Ketika dua kombinasi ini bergabung, maka begitulah kondisi suatu akomodasi. Semua mendadak ramai dan terlihat sibuk. Lalu keramaian akan menarik pelanggan lain untuk datang. Setiap orang pasti akan berfikir makanan di kedai Kim pasti enak karena selalu terlihat ramai, dan ketika mereka mencoba dan memang enak, maka secara otomatis akan muncul keinginan di hati pelanggan untuk datang kembali. Lain halnya dibagian service dimana semua orang harus mendapatkan pelayanan baik, di dapur yang super sibuk itu, tentu memproduksi makanan terbaik mereka adalah kewajiban untama para chef dan masalah tentu bisa saja terjadi.

"Oh tidak!"

Ucap seorang pria paruh baya membuat seisi dapur menoleh.

"Jin! Persediaan nori habis lagi. bisa kau belikan nori secepatnya?."

"Hai!"

Tanpa fikir panjang Jin langsung meninggalkan garnisnya untuk mengambil di kasir depan. Nori adalah hal paling penting dalam dapur dan entah kenapa selalu saja kehabisan. Padahal sebelum buka ia sudah mengecek stok. Sepertinya Jin harus membeli lebih banyak lagi dari persediaan sebelumnya agar kejadian seperti ini tak terulang lagi. Sesampainya di lantai sayuran dan buah, dengan cepat Jin mengambil enam pack nori dan ikan tuna. Jin segera ke kasir tapi naas, sepertinya ia hanya mengambil uang di kasir tanpa dompetnya, ia kekurangan beberapa won. Jin meminta izin untuk mengambil uang lagi. Jin tak malu karena hampir seluruh kasir disini tau Jin karena sering belanja kebutuhan kedainya ditempat yang sama. Jin yakin kasir akan mengizinkannya.

"Tapi nona!"

"Ayolah! Akukan sering belanja disini."

Saat Jin berdebat seorang pelanggan lain menggeser belanjaan Jin untuk memberinya tepat untuk menaruh barang belanjaannya sendiri. Jin menoleh dan hendak protes tapi melihat siapa orang itu Jin sedikit tersentak. Itu Kim Namjoon, dan itu bukan hal baik bertemu disaat memalukan seperti ini. Namjoon mengeluarkan black cardnya dan Jin berhenti bernafas. Itu black card, sebuah card platinum dengan limit tinggi dan segala fasilitas kelas atas. Ia tau Kim Sihyuk itu kaya tapi ia tak tau dia sekaya itu hingga anaknyapun punya black card.

"Jumlah bersama milik nona ini."

"Hey itu tak perlu. Aku tidak mungkin merepotkanmu!"

"Ucapkan terimakasih saja, maka aku tak akan pernah merasa direpotkan atau semacamnya."

"Maaf!" Jin meringis. Ia sepertinya terlalu terkejut hingga lupa mengucapkan terimakasih. "Terimakasih dan aku akan membayarmu kembali."

"Itu tak perlu!"

Tiba-tiba ide brilliant muncul di benaknya, ini kesempatan dia bertukar nomor ponsel. Jin memegang sakunya tapi lagi-lagi sial. Jin juga tak membawa ponsel. Alternatif lain Jin fikirkan dan ide mengajaknya makan di kedai akan jadi ide yang baik.

"Itu harus. Maksudku kita belum kenal baik dan tak seharusnya kau menghamburkan uang untuk orang asing."

Percayalah, Jin tak setulus mulut manisnya. Ia hanya menjaga imagenya agar tak terlihat matre dan sepertinya Jin berhasil membuat Namjoon percaya. Karena Namjoon kini terkagum dengan Jin, ia berfikir Jin adalah gadis yang tegas dan idealis, chirikhas gadis baik-baik. Memang bukan tipe Namjoon untuk bermain-main dengan gadis baik-baik tapi, ia fikir tak ada salahnya menjalani hubungan serius. Walaupun, ia sendiri tak yakin ia bisa.

"Kau bukan orang asing. Aku mengenalmu. Noona!"

"Apa kau sudah makan? kau menyukai makanan jepang tidak?" 'Aku mohon katakan ya!'

Namjoon menaikan alisnya, terkejut dengan ajakan makan Jin yang ia fikir itu terlalu cepat untuk makan bersama, tapi ia fikir, bisa saja Jin tak memiliki maksud lain. Ia tak boleh percaya diri dulu sebelum ia mendapatkan sinyal bahwa gadis bersweater pink itu menyukainya.

"Aku belum sarapan dan ya! Aku suka." bohong, Jelas sekali pagi tadi ia makan dua porsi lebih banyak. Namjoon hanya tak ingin melewatkan kesempatan makan berdua dengan gadis itu.

"Aku ada kedai di atas dan kami mempunyai sushi terbaik di Ansan. Aku akan memberimu diskon dan uang ganti belanjaanku."

Jin hendak membawa belanjaannya tetapi terlambat, itu sudah ada di tangan Namjoon sekarang. "Diskon? Kau harus memberiku gratis."

Jin tersenyum dan mengiyakan. Ia berjalan di depan agar Namjoon bisa mengikutinya. Sungguh pelangi setelah adanya badai. Rupanya kesialannya tak membawa ponsel dan dompet membawa keberuntungan lain. Bukan hanya membayari tagihan belanjaan tapi juga mengantar bahan makanannya sampai dapur. Sungguh pendekatan yang sempurna. Setelah meletakan belanjaan, Jin menarik Namjoon duduk di salah satu kursi lalu memberikan buku menu.

"Silahkan pesan! Chef terbaik disini akan memberimu full service."

"Kau koki disini?"

"Aku memiliki keterampilan memasak layaknya sebuah seni."

Namjoon tersenyum dengan kenarsisan Jin. Bibir pink dengan senyuman manis, kulit wajah terlihat halus dan lembap serta mata bulat yang berbinar. Sungguh komposisi yang sempurna. Wajah Jin penuh dengan pesona dan sekarang Namjoon benar-benar terpikat.

"Dragon roll dan lemonade."

"Dragon Roll dan lemonade? Adikku memiliki selera yang sama denganmu!"

"Kau punya adik?"

"Ya! Seorang adik laki-laki yang manis."

'Aku bisa bayangkan dari manisnya dirimu' Jika kakaknya saja cantik tentu adiknya akan tampan. Jin mengulangi pesanan dengan antusias dan itu terus berhasil mempesona Namjoon. Mata berbinar dan senyum ramah Jin bukan ia lakukan sebagai keramah tamahan terhadap pelanggan atau semacamnya, tetapi itu semua sebagai pesona dari seorang Kim Seokjin terhadap mangsanya. Merasa berhasil membuat Namjoon terus menatapnya tentu itu adalah kebanggaan sendiri untuknya.

...

Setelah lelah memanen stawberi di green house yang tak bisa dibilang kecil itu, Yoongi berisirahat sejenak sebelum mengangkat pantatnya menuju kamar mandi. Mandi adalah hal yang paling dibutuhkan setelah berkebun dan Yoongi mengabaikannya karena istirahat, sehingga ia harus menunggu orang yang sudah lebih dulu mandi di dalam. Beruntung kamar mandi nenek Yang ada dua, jadi Yoongi tak harus antri lebih panjang lagi. Yoongi menunggu dengan sabar, ia tak tau siapa orang yang sedang mandi sekarang, tapi ia tau yang lain sudah selesai dan sedang di kamar masing-masing untuk bersiap-siap ke rumah sakit.

'Sial! Aku lupa membawa handuk. EOMAAAAAAAAA!'

Yoongi tersentak dan langsung menoleh ke arah kamar mandi. terkejut dengan teriakan Jimin.

'EOMAAA!'

'Apa terjadi sesuatu?' batin Yoongi. Siapapun akan mengira ada sesuatu yang terjadi jika seseorang berteriak di dalam kamar mandi. Yoongi maju selangkah, hanya selangkah karena ia tak mampu maju lagi karena takut dibilang mesum.

"Apa terjadi sesuatu?"

Kali ini Jimin yang terlonjak kaget. Yoongi ada di luar dan sungguh itu alarm peringatan. Akan sangat memalukan jika masalah ini diketahui Yoongi.

"Oppa bisakah kau memanggil eoma?!"

"Aku rasa bibik sedang di kamarnya. Memangnya ada apa?!"

"Suruh saja eomaku kemari. Tolong!"

Tak ingin bertanya lagi, Yoongi mengiyakan lalu pergi ke kamar Yoseob dan Doojoon. Tapi sungguh bukan keinginan Yoongi. Pintu kamar mereka terbuka, jadi bukan salah Yoongi ketika ia tak sengaja melihat kedua pasang suami isteri itu sedang berciuman di dekat meja rias. Tak ingin menggangu, Yoongi memutuskan mencari bibik Hyunseung saja, terserah nanti dia akan mendapat ekspresi sinisnya atau tidak, Yoongi lebih tak bisa mengganggu kegiatan orang dewasa di sana. Dengan hati-hati dan rasa penuh hormat, Yoongi mengetuk pintu kamar Hyunseung.

"Bibik! Ini aku Yoongi."

"Ada apa?" Suaranya dijawab sahutan dari Junhyung suami Hyunseung.

"Jimin, dia memanggil bibik Park tapi dia sedang sibuk, jadi aku fikir untuk memanggil bibik Hyunseung sebagai gantinya."

"Hyunseung kembali ke kebun lagi, memangnya kenapa dengan Jimin?"

"Aku tak tau, dia hanya memintaku memanggil ibunya."

"Dimana dia?" ucap Junhyung membuka pintu kamarnya dengan bathrobe yang masih menutupi tubuh kekarnya.

"Kamar mandi!"

Junhyung menghela nafas lalu masuk lagi ke kamar untuk mengambil handuk dan bath robe milik Hyunseung.

"Hanya dua hal yang akan biasa terjadi ketika Jimin berteriak di kamar mandi. Satu, dia lupa tak membawa handuk dan kedua, dia lupa tak membawa pakaian ganti setelah meletakan pakaian kotornya dilantai."

Junhyung memberikan handuk dan bath robe itu pada Yoongi. Ia tau Jimin pasti malu untuk mengakui dirinya tak membawa handuk pada Yoongi, itulah kenapa keponakannya itu meminta Yoongi memanggil ibunya dan ia tau kenapa Yoongi berkata Yoseob sibuk. Ia tau persis ritual yang dilakukan kedua adik iparnya itu setelah mandi. Kembali kemasalah Jimin, ia bisa saja mengantarkan handuk itu. Tetapi, ia juga tau bahwa kedua adiknya itu menginginkan Yoongi sebagai menantu mereka dan ia yakin Yoongi itu yang terbaik untuk Jimin. Bukan hanya mengenal keluarga Yoongi dengan baik tetapi tak ada orang lain yang bisa membuat keponakannya lebih sedih selain dipisahkan dari Yoongi. Jadi akan lebih baik kalau ia mendekatkan lagi mereka berdua.

"Aku belum memakai pakaian. Jadi kau saja yang mengantar handuk ini pada Jimin."

'Apa? itu tak mungkin.'

Memberi handuk di saat Jimin sedang telanjang di kamar mandi bukanlah hal yang bagus. Yoongi berfikir keluarga ini sedikit gila. Isterinya terus saja mengawasinya dan menganggapnya mesum dan sekarang suaminya malah membuat Yoongi akan menjadi mesum sungguhan.

"Tapi,,,"

"Aku kedinginan dan merasa harus segera memakai pakaianku sebelum aku kena flu. Kau hanya menunggu Jimin membuka pintu lalu saat dia mengulurkan tangannya kau berikan semua ini. Apa salahnya mengantar itu? Aku tak menyuruhmu masuk ke dalam kamar mandi Jimin bukan?"

Brak! Junhyung menutup pintu begitu saja, meninggalkan Yoongi tanpa pilihan. Yoongi memejamkan matanya menahan geram. Ia tak mengerti dengan isi keluarga Jimin. Satu sisi mereka hangat dan satu sisi mereka bisa terlihat aneh semua. Merasa tak ada pilihan, Yoongi kembali ke kamar mandi. Ia mendekat dengan ragu menuju pintu kamar mandi Jimin.

Knok Knok

"Jimin?!"

Tanyanya hati-hati. Tapi itu tetap membuat Jimin panik di dalam sana. Jimin menutupi dadanya merasa was-was. Bukan ia berfikir Yoongi akan melakukan sesuatu tetapi itu bentuk dari refleknya karena rasa malu yang ia miliki.

"Oppa?!"

"Ibumu sedang sibuk, bibik Hyunseung pergi dan paman malah memintaku memberikan handuk dan Bathrobe ini. Apa benar kau lupa bawa handukmu?"

'Sial! Sial! Sial!'

Jimin tertangkap basah dan sekarang ia tak ada pilihan. Jimin memejamkan mata untuk menyiapkan mental. Sungguh ia malu sekarang. Jimin bersembunyi di balik pintu lalu membuka pintunya sedikit untuk memberikan akses tangannya keluar. Melihat uluran tangan Jimin, Yoongi langsung memberikan handuk dan bathrobe tersebut. Jimin langsung menutup pintu setelah mendapatkan apa yang ia inginkan. Jimin mengelap tubuhnya, naas kesialan terjadi lagi. Jimin yang menungging untuk mengelap kakinya melihat seseuatu menggeliat keluar dari lubang saluran pembuangan air. Itu kelabang yang besar, seukuran kaki seribu dewasa. Jimin teriak dan langsung naik ke atas toilet. Mendengar teriakan Jimin, Yoongi ikut panik lalu mengetuk pintu untuk memastikan Jimin baik-baik saja.

"Jimin kau baik-baik saja?"

"OPPA~!"

"Apa yang terjadi?"

"Ada kelabang keluar dari lubang sanitasi!... Tolong aku! Aku tak mau mati!"

Jimin memakai bathrobenya dengan cepat lalu membuka pintu yang memang dekat toilet. Yoongi melihat Jimin yang sudah berdiri di atas pinggiran bak dan Yoongi sudah bersiap dengan tongkat kayunya. Sementara itu di dalam rumah, Yoseob mendorong suaminya sedikit menjauh.

"Apa kau mendengar Jimin teriak?!"

'A~! Oppa~!'

Doojoon kali ini mendengarnya. "'Oppa.' Jimin bermain dengan 'oppanya'."

Doojoon mencium Yoseob lagi dan mengabaikan teriakan histeris puteri mereka. Sedangkan Woozi yang berada di kamar mandi lain dan Junhyung yang baru mengancingkan bajunya hanya bisa menggelengkan kepalanya.

"Masa muda!" Junhyung melanjutkan kegiatannya kembali. Mengabaikan teriakan histeris Jimin.

...

Bukh Bughk Yoongi berhasil membunuh hewan berbahaya tersebut dan membuangnya ke dalam lubang sanitasi lalu menyiramnya dengan air. Jimin bersimpu di atas toilet dan bersandar di pinggiran bak.

"Nyaris saja! Itu menyeramkan sekali."

Yoongi melihat wajah pucat Jimin dan mengusap rambut basahnya. Terang saja Jimin shock, ia juga takut melihat kelabang sebesar itu. Kelabang kecil saja bisa membuat orang kritis apalagi sebesar itu. Yoongi memegang jantungnya yang berdetak kencang karena takut juga tadi.

"Itu sudah mati."

Yoongi memegang lengan Jimin untuk menenangkannya lagi lalu membantu kekasihnya turun dari toilet. Karena masih takut, Jimin masih agak ragu menginjakan kakinya di lantai, tetapi ia fikir ia harus segera keluar. Dengan segenap keberanian, Jimin turun dan segera menarik yoongi keluar dari kamar mandi juga.

"Jangan mandi di kamar mandi ini! Itu bahaya!"

Tegas Jimin pada Yoongi. Ia masih setia memegang lengan Yoongi sampai ia sadar dengan situasi mereka. Jimin melepaskan genggaman tangannya pada lengan Yoongi. Ia malu karena secara tak sengaja mereka berdua berada di kamar mandi yang sama tadi, dengan Jimin yang hanya dibalut bathrobe. Merasa kikuk Jimin hendak kembali ke kamar tapi ia memang ceroboh. Yoongi segera mengangkat tangannya untuk menggapai pinggang Jimin yang pasti terjatuh karena tersandung lantai yang setingkat lebih tinggi itu. Perkiraannya memang benar Jimin akan terjatuh tetapi pergerakan tangannyalah yang salah. Bukan memegang pinggang Jimin, tapi ia justru menyanggah tubuh Jimin dengan telapak tangan tepat berada di gundukan kenyal di dada Jimin. Beberapa detik mereka membeku sebelum Yoongi akhirnya melepas tanganya dari dada Jimin.

"Maaf!"

Jimin menyilangkan tangan di dadanya, Ia terkejut dengan apa yang terjadi barusan. Itu sakit dan juga ada sensasi aneh. Merasa kikuk, Jimin naik ke atas lantai yang setingkat lebih tinggi itu kemudian segera berlari ke dalam kamarnya. Jimin membanting pintu lalu melompat ke kasur lantai.

'oh Tuhan! aku tak memakai bra! Oppa pasti merasakannya.'

"Memalukan sekalai,,, itu memalukan,,, Aish~."

Jimin menutup mulutnya lalu masuk ke dalam selimut. Ingin sekali ia berteriak tapi itu bisa lebih malu lagi jika didengar Yoongi. "Sekarang bagaimana bisa aku bertemu dengan oppa lagi?! Memalukan sekali!"

...

'Shit! Dia tak memakai bra!'

Yoongi menutup mulutnya dengan tangan kanannya lalu terkejut lagi dengan wangi tangannya. Ia menjauhkan tangannya dari mulut Yoongi. Itu tangan yang tadi menyentuh sesuatu kenyal dan lembut milik Jimin. Semua sudah terjadi, Yoongi tadi menyentuhnya. Entah itu sial atau beruntung tapi otaknya tak bisa lagi berfikir jernih. Ia tak bisa lagi menahan fikiran kotornya. Sekarang Yoongi benar-benar sedang panas dan butuh melakukan sesuatu yang sudah sangat keras dibawah sana. Jangan salah fikir Yoongi mesum, tetapi lelaki manapun akan melakukan hal yang sama ketika sedang heat. Itu normal.

...

"Dragon roll dan ini uang yang tadi!"

Jin menyediakannya dengan terampil, sebuah gulungan sushi yang sudang dipotong dan ditata rapi dengan garnish yang indah itu kini berada di depan Namjoon.

"Ini kau yang buat?"

"Yup!"

Namjoon tanpa fikir panjang lagi langsung melahapnya dan itu jebakan. Rasanya benar-benar memanjakan lidahnya. Entah apa yang Jin masukan ke dalam sushinya tapi itu enak sekali. komposisi rasa gurih dan asinnya rasa seafood, bercampur dengan nasi dan rumput laut dengan sempurna. Namjoon bahkan tak bisa bicara untuk mengucapkan kata enak dari mulutnya, ia hanya ingin merasakan masakan gadis cantik itu. Satu kunyahan lagi dan namjoon menelan sushi itu.

"Bagaimana?"

Namjoon minum lalu meletakan tangannya di meja. "Apa kau memasukan semacam sihir di dalamnya?!"

"Tentu saja tidak," 'Jika punya, aku akan memasukan ramuan cinta kedalamnya'

"Ini sangat enak"

"Tentu saja! Aku membuatnya dengan kompetensiku di bidang kuliner." Jin mengucapkan dengan narsis lagi sambil mengibas rambutnya ke belakang. ",,, Apa ada yang lain yang kau butuhkan?"

"Tidak. Terimakasih servisnya chef!"

"Your wellcome!"

Jin kembali ke dapur dan mendapat sambutan dari ibunya yang memang terlalu penasaran dengan segala hal.

"Siapa dia? Kenapa kau memberinya service? Apa kau sedang mendekati dia? Bagaimana dengan Min Yoongi?"

"Eoma! Min Yoongi hanya teman, aku tak tertarik padanya sebagai kekasih ok!?"

"Lalu dia?"

"Kalau dia, Ya! Dia anak Kim Si-hyuk Pd-nim!"

"Kim si-hyuk produser yang dulu kau pernah berduet disana?"

"Ya!"

Mrs. Kim tentu tahu betul aset kekayaan seorang Kim Si-hyuk. Jika satu Idol terkenal saja memiliki keuntungan jutaan dolar maka jika dikali puluhan idol,,, Mrs. Min tersenyum.

"Wah! Apapun yang terjadi kau harus memikatnya! Harus!"

"Tentu saja! Dia bahkan memiliki black card eoma!"

"HA~? Sesange!,"

Sepertinya dua wanita di dapur itu terlalu asyik bergosip hingga melupakan pekerjaan mereka. Mereka terlale terlena hingga tak menyadari seorang pria paruh baya sedang menopang kedua tangannya dipinggang sambil membuang nafas berat.

"Kalian akan bergosip atau akan melayani tamu?"

Mendengar teguran dari ayahnya, Jin langsung melihat pesanan dan kembali bekerja. Ayah Jin adalah orang paling disiplin di tempat kerja, itulah kenapa ia dan ibunya langsung mengikuti perintahnya.

...

Doojoon dan Yoseob saling melirik saat melihat bagaimana gelagat Yoongi dan Jimin. Sepanjang jalan sampai rumah sakit, mereka terlihat saling menghindar dan gugup. Bahkan meski sesekali salah satu diantara mereka curi pandang tetapi sama-sama menghindari kontak mata. Bukankah itu terlalu mencurigakan? Lihat, bahkan mereka tetap kikuk dan saling menghindari kontak mata ketika Yoongi berbicara dengan orangtuanya lewat telfon.

"Ne! Mereka semua sehat. Kakek Min dia tertidur."

'Syukurlah! Berikan ponselmu pada Seobie! Aku ingin bicara padanya.'

"Ne eoma!,,," Yoongi memandang Yoseob yang salah tingkah dan pura-pura melihat ke ayahnya yang ada di atas ranjang. Yoseob tadi sedang mengawasi Yoongi, tentu saja ia merasa tertangkap basah. ",,,Bibik Eomma ingin bicara!"

Yoseob langsung mengambil ponsel Yoongi dengan hati-hati lalu bicara ke pojokan tempat dimana Yoongi tadi menerima telfon.

Sungguh momen yang sangat canggung, lebih canggung daripada saat mereka pertama bertemu untuk sekian lama seperti kemarin. Yoongi tak tahan dengan situasi seperti itu, maka ia harus meminta maaf. Tetapi, bagaimana ia bisa bicara untuk meminta maaf jika menatap wajah Jimin saja ia tak berani. Ia masih bisa membayangkan bagaimana wajah terkejut gadis itu, dan sungguh, ia merasa sangat bersalah. Yoongi memang kekasihnya, tetapi untuk ukuran gadis shs, Yoongi merasa itu terlalu jauh. Terlebih ia tau Jimin belum pernah pacaran.

Yoongi terus mencuri-curi pandang, ia menunggu moment yang tepat, momen dimana mereka ada kesempatan berdua. Agar ia bisa meminta maaf secara pribadi. Walaupun Yoongi juga bingung harus berkata apa, dan sekarang otaknya sedang belajar merangkai kata untuk sebuah permintaan maaf yang sebenarnya mudah. Sampai keluar dari rumah sakit, Jimin dan Yoongi berada di belakang, hingga saat Doojoon pergi mengambil mobil, dan semua keluarga sibuk mengobrol, Jimin bersandar di dinding dengan jarak agak jauh dari keluarganya. Menemukan kesempatan, Yoongi mendekati gadis yang sedang sibuk dengan ponselnya.

"Jimin!"

Panggil Yoongi pelan, tetapi Jimin masih saja terlihat terkejut. Membuat Yoongi merasa bersalah karena berfikir dirinya telah mengagetkan gadis itu.

"N-Ne?"

Jimin bahkan tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya. Yoongi bisa melihat jelas kuping Jimin yang berubah merah, dan Yoongi yakin warna telinganya tak kalah merah. Ia bisa tau karena ia merasakan kupingnya menjadi sedikit panas.

"em,,," 'Shit' Yoongi blank dan lupa dengan apa yang seharusnya ingin ia katakan. Yoongi tanpa sadar memegang tengkuknya dan menatap melihat sepatunya. Ia merasa bodoh dan canggung bersamaan. ",,, Aku,, Ingin minta maaf masalah kemarin."

Tidak! Yoongi tak menatap wajah Jimin, ia terlalu malu. Sama seperti Jimin yang kini menggigit bibirnya. lalu saat Yoongi mendongak menatap wajah Jimin, Kali ini Jimin yang menunduk.

"Ania! Itu bukan salah oppa!,," Jimin memberanikan diri menatap Yoongi dan tercekat karena melihat mata hitam indah milik kekasihnya. ",,, Kemarin hanya kecelakaan."

"Ne!"

Baik Yoongi maupun Jimin saling diam. Sampai mobil Doojoon tiba dan Yoongi mengajak Jimin masuk mobil. Jimin membalas senyum Yoongi dan mereka sama-sama melangkah menuju mobil. Tetapi suasana cair itu kembali membeku ketika mereka berdua melihat tatapan dingin Hyunseung yang mematikan. Bibiknya Jimin seperti terlihat ingin menguliti mereka berdua yang seolah telah melakukan kesalahan besar. Jimin memamerkan giginya dengan senyum masamnya. Sungguh tak enak hati melihat bibiknya, sedangkan Yoongi, dia hanya menunduk memberi hormat.

"Fiuh..."

Yoongi menghela nafas lega ketika memasuki mobil. Bersyukur bisa menjauh dari bibiknya Jimin yang super galak itu. Ia duduk di belakang bersama Jimin dan Woozi. Sedangkan Yoseob di depan bersama Doojoon. Sungguh liburan yang mengesankan, meskipun terkadang terasa berat tapi kenangan dimana ia dan Jimin jadian adalah hal yang paling menyenangkan. Dimana mereka juga mendapat ciuman pertama mereka, membayangkan malam itu, Yoongi tanpa sadar tersenyum. Ia menatap Jimin yang sudah tertidur saling bersandar dengan saudaranya.

.

.

.

tbc

.

.

Meskipun jarang update tapi aku pasti akan selesaikan sampai ending.

.

.

.

.