warning! boys' love. abo verse. implicit prostution.


Mulutnya membuka tidak percaya melihat nominal yang tertera di depannya. Hutangnya bertambah setengah kali lipatnya, dan Daehwi cuma bisa megap-megap seperti orang bodoh. "Ke... kenapa bisa?"

Laki-laki beta yang kelihatannya beberapa tahun lebih tua dari Daehwi tertawa. Daehwi tidak suka bagaimana cara bibirnya meneriakkan tawa, diikuti senyuman mengejek dari beberapa orang di sekitar mereka. "Kenapa bisa? Karena ada bunga pinjaman, sayang. Pokoknya akhir bulan ini sudah harus lunas, oke?"

"Tapi... Kenapa bisa meningkat drastis dalam waktu pendek?" tanya Daehwi, langsung terpotong karena laki-laki itu merangkulnya paksa. Dia mengeluarkan rintihan pelan, tidak suka bagaimana badan laki-laki itu menempel kepadanya.

"Dengar, Daehwi... aku tidak peduli apapun itu pikiranmu. Aku mau uangku kembali. Pokoknya akhir bulan ini harus lunas, oke?" desisnya di samping telinga omega itu. Kemudian rangkulan itu dilepas, Daehwi keluar dari ruko itu secepatnya. Dia pulang dengan hati yang lebih sesak daripada apapun.

Jinyoung mengirim SMS kepadanya untuk singgah dulu di Shunnoshi selagi dia dalam perjalanan. Lelaki itu didapati sedang berdiri di meja konter bersama dengan seorang alfa, diketahui sebagai pacar Jinyoung. Ketika Daehwi masuk, otomatis perhatian keduanya beralih.

"Oh. Hai, Daehwi," sapa Jaebum. Daehwi mengangguk membalas, kepalanya dibelai oleh tangan besar yang hangat. Jaebum melanjutkan berbicara kepada Jinyoung, mengecup pipi beta itu dan pamit pulang duluan.

Situasi menjadi canggung dan hening setelah Jaebum pergi. Jinyoung tersipu-sipu sendiri, sementara Daehwi meliriknya menggoda. "Jadi tujuan aku ke sini buat apa?"

"Ah, kamu," kata Jinyoung menepuk dahi, meraih plastik di bawah meja dan menyerahkannya kepada anak itu. "Tadi aku beli makanan, tapi nggak sempat pulang untuk menaruhnya. Ini buat makan malam, karena hari ini aku pulang telat."

"Oh," Daehwi menerimanya. "Terima kasih." Kemudian dia membuka bungkusannya dan menenggak menatap Jinyoung. "Aku mau makan di sini saja."

Jinyoung memberinya tempat duduk di samping seraya beta itu melayani orang yang datang. Daehwi langsung melahap makanan yang diberikan, sesekali melirik orang yang berlalu-lalang sesekali. Terkadang diantara mereka ada yang naik ke lantai dua, ditemani kakak-kakak yang dulu pernah menjadi rekan kerja Daehwi.

Anak itu berhenti mengunyah untuk sesaat berpikir. "Bedakah bayaran yang kerja di lantai satu dan lantai dua?" tanyanya seketika.

Jinyoung sedang sibuk menulis data pengunjung, jadi tidak terlalu banyak berpikir ketika menjawabnya. "Tentu saja beda. Setidaknya dua kalinya dari yang kerja di bawah, ditambah tip yang suka diberikan para alfa kalau mereka benar-benar puas. Tapi tentu saja itu butuh banyak pengorbanan."

Matanya melirik sesaat. Daehwi menelan makanan yang tersisa, sebelum mengumpulkan keberanian untuk bertanya, "Kalau aku kembali ke Shunnoshi, bolehkah aku kerja di lantai dua?"

Hal ini tidak luput dari perhatian Jinyoung sekalipun lelaki itu sedang fokus pekerjaannya. Mendadak tatapan Jinyoung menjadi tegas dan tajam. Daehwi tidak suka, jadi dia memalingkan muka. "Dan kenapa kamu kepikiran hal macam itu, Daehwi?"

Pertanyaan itu menjahit bibirnya menutup, bahkan sampai sekian menit. Jinyoung menghela napas dan tiba-tiba sudah berdiri di depannya. "Daehwi. Ada apa?"

Anak itu menggeleng sambil berusaha tersenyum. "Aku hanya penasaran. Tidak ada apa-apa."

"Bocah," panggil Jinyoung. "Kalau kamu nggak kasih tahu aku, aku nggak bisa menolongmu."

Daehwi merasakan dorongan kuat untuk menceritakan segala masalah yang menggantung di ujung lidahnya. Bibirnya kelu dan dia kembali mengingat angka nominal yang berlipat ganda, tertera di kertas seolah mengejeknya. Membayangkan semua itu ditumpahkan kepada Jinyoung yang notabenenya bahkan bukan keluarga.

Jadi dia menggeleng. Dan Jinyoung cuma bisa menghela napas lagi.


"Bocah itu hari ini minta kerja lagi di Shunnoshi."

Jinyoung meraih gelas sojunya. Lagi-lagi, Daehwi menjadi topik pembicaraan mereka. Di tempat yang sama, dengan orang yang sama. Dongho juga mengambil gelasnya. Mereka mengulurkan tangan, suara berdenting memenuhi kedai yang perlahan ramai.

"Di lantai dua," tambah Jinyoung. Sudut matanya melihat bagaimana Dongho berhenti dari kegiatannya hendak meneguk soju dalam sekali coba.

Dongho, yang semakin hari penampilannya semakin berantakan melotot. Jinyoung hanya mengendikkan bahu. "Aku bilang tidak boleh. Dan dia bilang hanya penasaran saja." Sekali teguk alkohol itu masuk ke badan, Jinyoung mengernyit. "Tapi aku tahu ada sesuatu yang dia sembunyikan."

"Ada masalah apa kali ini?" tanya Dongho, mengusap mukanya. Lelaki itu bertumpu dagu di meja, mukanya sangar dan galak. Tapi Jinyoung tahu dia sedang berpikir.

Jinyoung menggeleng. "Dia nggak mau mengaku." Diam sebentar, dipenuhi suara helaan napas Dongho. "Mungkin harus kau sendiri yang ngomong ke dia."

"Terakhir kali kita bicara berakhir dengan kau membanting pintu di depan mukaku dan mengataiku goblok."

Jinyoung mendengus. "Saat itu emosinya sedang tak stabil. Kau juga jangan sedikit-sedikit terbawa suasana. Bicarakan pelan-pelan, aku yakin dia pasti mau cerita."

"Dia kelihatan takut setengah mati kepadaku."

"Dan dia juga tersipu-sipu begitu tahu kalau kau memangkunya sepanjang perjalanan pulang dari rumah sakit."

Alfa itu terdiam. Dia menatap Jinyoung yang kini menelan gelas kesekiannya, balas melirik dengan pandangan monoton. Sang beta mengangkat tangannya untuk melihat jam yang terpasang di pergelangan tangan. "Ayo, alfa. Satu jam lagi dia selesai kerja."


"Kalau saya beli ini tiga, dapat satu gratis ya?"

Daehwi tersenyum penuh sesal, menggeleng pelan. "Tidak bisa, bu. Promosinya bukan produk yang ini. Tapi ibu bisa dapat gratis bila beli produk yang—"

"Mereknya sama-sama saja, kenapa nggak bisa?"

Bibirnya menekan tipis. Daehwi tersenyum, dengan sabar menjelaskan pelan-pelan dari awal yang sudah dia katakan sebelumnya. Wanita paruh baya itu bahkan tak tampak mendengarkan, membuat perasaannya semakin jelek tetapi dia tetap mempertahankan senyumnya. Pada akhirnya, wanita itu keluar sambil menggerutu tentang "promosi palsu jaman sekarang".

Daehwi menghela napas dan memijat pelipisnya ringan. Matanya menganalisa kondisi toko sekitar. Ketika memastikan bahwa tak ada yang berniat untuk datang ke kasir selama beberapa menit, anak itu keluar dari konter dan mulai merapikan barang-barang di rak.

Jam sembilan tepat anak itu bersiap-siap untuk pergi. Dia menerima gaji bulan itu dengan senyum dan bungkuk rendah, kemudian keluar dari toko sambil memiringkan lehernya yang kaku perlahan. Sesaat dia melihat sebuah gedung familiar di penghujung jalan, Daehwi cepat-cepat berbelok tanpa melirik. Setelah tahu hutangnya berganda, dia memaksakan diri bekerja di tempat yang jauh dari rumah Jinyoung, bahkan di dekat gedung tempat penagih hutangnya biasa bersemayam. Dia harus cepat mengumpulkan uang sebelum hutangnya mendongkrak kembali.

Dia berjalan menuju terminal bis dan duduk di bangku tanpa melihat sekeliling. Seseorang yang duduk jauh di pojok beringsut mendekatinya. Daehwi menoleh, dan mukanya seketika memucat melihat orang itu.

Dongho duduk di sampingnya dengan muka datar menatap ke depan. Daehwi membeku, berkonflik di dalam pikirannya apakah dia harus menyapa atau tidak. Pada akhinya, dia diam saja. Daehwu melihat lamat-lamat alis Dongho yang mengernyit sekilas, hidungnya, bibirnya yang terlihat sedikit pucat, dan jejak rambut tak tercukur tipis yang ada di dagunya.

Daehwi terkejut menyadari dia baru saja mengerling. Kepada Dongho, lagi. Kakinya bergerak-gerak gelisah, sementara feromon Dongho pelan-pelan mengelilinginya. Dia ingin bersandar lebih dalam, tapi sadar bahwa itu bukan ide yang bagus. Terutama setelah pertemuan terakhir mereka.

"Maaf," Alfa itu berbicara duluan. "Aku... mungkin masuk ke urusan pribadimu. Tapi aku benar tulus ingin bantu. Aku minta maaf sudah terlanjur bayar. Tapi aku nggak menyesal. Kalau kamu mau bayar, silahkan. Kalau kamu nggak, aku juga nggak masalah. Tapi kamu harus janji kamu bakal baik-baik saja apapun yang kamu pilih."

Lelaki itu menoleh kepadanya. Daehwi mengangguk. "Saya juga minta maaf. Saya sudah teriak-teriak kepada... om."

Dongho lantas tertawa. "Aku belum setua itu."

"Hyeongnim," balas Daehwi cepat. Dia melihat ke arah sang alfa dan menemukan Dongho telah menatapnya duluan. Pertama kali setelah beberapa waktu, Daehwi tersenyum yang benar-benar tersenyum. "Hyeong."

Daehwi sadar bisnya telah lewat, tapi dia menemukan dirinya tak begitu peduli. Beberapa saat kemudian, Dongho tersentak dan menoleh ke jalanan yang hampa. Bis jauh dari pandangan mereka. "Kamu ketinggalan bis."

"Saya pulang naik kereta saja," katanya. "Saya tinggal jalan kaki ke stasiun."

Kepala Daehwi dibelai dan sebuah tangan diulurkan. Dongho melirik jam tangan sekilas, kemudian tersenyum tipis. "Aku tahu rumah Jinyoung di mana. Aku antar pakai mobilku. Kita jalan ke parkiran mobil dekat sini."

Ragu-ragu, Daehwi menatap jemari yang terbuka. Kemudian dia meraih hati-hati, mengabaikan jantung yang berdebar gila-gilaan ketika tangannya menghangat.


Menjadi rutinitas bagi mereka untuk Dongho menunggu di terminal bis dan Daehwi menemuinya. Seketika bekerja di tempat jauh tidak menjadi suatu masalah yang besar bagi Daehwi. Dia sedikit malu untuk mengakuinya, tetapi Dongho membuatnya merasa ditemani.

Suatu hari dia berjalan dari toko menuju terminal seperti biasanya dan dicegat oleh seseorang bau rokok, muka tidak ramah dan seringai liar. Daehwi mengenalinya sebagai penagih hutang.

"Hutangmu belum lunas, sayang," Dia menyodorkan ponselnya menunjukan kalender yang ditandai sebagai hari panen. "Tik tok tik tok. Habislah bulan ini. Mana uangnya?" Seringai itu berubah menjadi wajah marah, memojokkan Daehwi menuju satu sudut jalan.

Mata si omega berkeliling di belakang punggung lelaki itu, barangkali ada orang yang bisa diteriaki minta tolong. Nihil. Matanya kembali ke muka sang penagih hutang, bibirnya terkunci rapat tanpa bisa mengeluarkan bantahan.

Lelaki itu mendengus. Kemudian tertawa. "Kalau begitu aku harus bagaimana, sayang? Kau mau bayar pakai apa?" Daehwi menutup matanya dan mengeluarkan rintihan tertekan. Sebuah pukulan tiba di sebelah pipinya.

"Kubawa kau ke kantor, bos akan menentukan kau mau diapakan," katanya pada akhirnya. Tangan Daehwi ditarik, kemudian dia merasa tubuhnya diseret paksa. Daehwi berteriak, melawan, dan berusaha lari. Kemudian lelaki itu memukulnya lagi di wajah. Sebuah langkah terburu-buru mengikutinya dari belakang. Sebuah geraman. Terlepas dari si penagih utang, Daehwi tersandung, membentur badan dengan bau menenangkan.

Kang Dongho.


Author's Note:

- sedikit lagi menuju klimaks.

- aku baru sadar cerita ini mengandung sangat sedikit momen romantis. mayoritas adalah kesulitan daehwi maupun rasa penasaran dongho. aku memutuskan membuat bonus yang memasukkan secuil pengalaman sweet yang akan dirilis setelah cerita ini semuanya selesai. nantikanlah!