Gekkan Shoujo Nozaki-kun

©Izumi Tsubaki sensei

.

A/N : "Ini bukan soal apa yang anda katakan, tapi bagaimana cara mengatakannya."—Erika Martines (psikolog Miami). Dedicated for #EyesVoiceHear.

85% Percakapan, sisanya kehendak Tuhan.

.

Badai —

Chapter 6

.

.

.

Kaki-kaki mungil melangkah dengan tergesa. Ia tidak perduli dengan apa yang akan ia terjang, atau bahkan nasib bakpau dalam plastik yang sudah benyek karena terjatuh tadi. Chiyo hanya ingin sampai tepat waktu di bangku taman yang biasa ia duduki. Ia hanya ingin orang itu masih di sana menunggu dirinya.

Peluh mulai membanjiri kepalanya, mereka mengalir dengan deras dari kepala hingga leher Chiyo. Napasnya mulai terengah, dan ia masih belum sampai. Pikirannya mulai kalut, ia tersesat. Padahal Chiyo yakin bahwa ia sudah mengikuti jalur dalam memorinya. Chiyo yakin tidak ada yang salah dengan itu, "Nona?" sebuah suara menyapanya. "Apa kau butuh bantuan?"

Chiyo ingin menangis. Kenapa aku tidak bisa melakukannya seorang diri? Kenapa kalian harus selalu membantuku?

"Nona?"

Chiyo menghela napasnya, ia tahu ia tidak bisa egois meski ia sangat ingin. "aa...ng.. uii..ee" taman putih...

"Eh... Maaf aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan," ujar wanita itu. Chiyo cukup jeli membedakan antara suara wanita dan pria, karena hanya telinganya yang dapat berfungsi dengan sempurna—sangat sempurna.

"Itulah masalahmu, nyonya. Kenapa kau tidak mengerti!" Chiyo sedikit meracau, wanita itu jelas sangat tidak memahaminya.

"Baiklah, baiklah..." wanita itu mengambil sebuah kertas dan pena dari tasnya. "Tuliskan disini," katanya seraya menyodorkan benda-benda itu ke tangan Chiyo.

"Taman dengan bangku putih."

"Oh, kurasa aku tahu tempat itu. Aku akan mengantarmu,"

Chiyo membungkukkan tubuhnya—lagi. Aku lelah membungkuk.

Wanita itu membawa Chiyo ke tempat yang ingin ia tuju. Tidak terlalu lama, dan untuk beberapa saat Chiyo berpikir bisa melakukan semua itu sendiri. Ia bersikeras walau pada akhirnya tetap menerima bantuan itu. "Kita sampai," kata wanita itu. Ia mendudukkan Chiyo di salah satu bangku berwarna putih. Taman sudah tidak terlalu ramai, Chiyo hanya bisa mendengar beberapa orang yang lalu-lalang namun tidak banyak.

"Nah, ada lagi yang kau butuhkan?"

Chiyo menggelengkan kepalanya, ia tidak butuh apapun lagi. Ia akan bertemu dengan orang itu, dan ia tidak perlu mempermasalahkan jalan pulang. "Terimakasih," ujar Chiyo seraya membungkuk lagi dan lagi.

"Baiklah, aku harus pergi. Jaga dirimu, nona..."

Chiyo bisa mendengar langkah itu menjauh dari pendengarannya. Beberapa orang berbincang di sekitarnya, dan ia tidak perduli dengan apapun yang mereka katakan. Chiyo memegang dadanya, renda yang menutupi sebagian bahunya sedikit tersapu angin. Chiyo berusaha menahan jantungnya yang terasa akan melompat, ia mencoba untuk mengatur irama jantungnya tapi usahanya sia-sia. Apa yang akan aku lakukan jika dia datang?

"Bagaimana dia bisa datang ke taman dengan keadaan seperti itu?"

Huh?

Chiyo mengedarkan pandangannya. Meski ia hanya dapat menangkap gelap, tapi telinganya masih dapat menangkap suara. Kepala oranye itu bergerak tak tentu apa yang dicarinya. Ada apa?

"Rambutnya berantakan," seru seseorang. Tubuh Chiyo seketika menegak, ia ingat bahwa ia tak menata rambutnya. Dengan cepat jemari mungilnya menyisir surai-surai yang tak tertata itu.

"Lihat! Dia merapikannya. Tapi, bajunya juga lusuh dan kotor. Apakah dia bisa merapikan hal itu juga?" orang lain menimpali seseorang yang terdengar seperti perempuan di telinga Chiyo. Entah kenapa ia harus mendengar gosip tentang dirinya sendiri. Jemari mungil Chiyo menepuk-nepuk dress katunnya yang kotor. Tapi, hal itu tak lantas membuatnya bersih, tidak juga rapi.

"Apakah kita harus memanggil petugas taman?"

Pergilah!

Chiyo menggenggam dress-nya dengan kuat. Ia ingin mengutuki para penggosip itu tapi, tak ada satupun kata yang akan keluar dari bibirnya. Ia akan semakin menjadi olokan untuk mereka semua. Sekarang yang mengganggu pikirannya adalah apakah orang itu akan tetap menemuinya dengan keadaan Chiyo yang seperti ini.

Punggungnya tersandar pada bangku taman, ia bisa merasakan hempasan angin yang sejuk menyapa wajahnya. Telinganya dapat mendengar bisikan-bisikan yang lalu-lalang di depannya. Ia tidak perduli, ia hanya ingin bertemu dengan orang itu. Sudah berapa lama aku duduk di sini?

Pori kulitnya tidak bisa merasakan kehangatan matahari, tanda cahaya itu mulai tenggelam. Chiyo tidak tahu pukul berapa sekarang. Tapi, ada ke khawatiran dari sudut hatinya. Dia sudah pulang? Atau, dia tidak ingin bertemu denganku?

Tetesan air mata langit tiba-tiba saja membasahi keningnya, menjalar turun melewati alisnya, lalu menerjang kelopaknya, dan tiba pada pipinya yang kenyal. Sepersekian detik kemudian wajah Chiyo sudah basah semua oleh air dari langit. Hujan itu datang tanpa peringatan, sepersekian detik yang lalu awan masih membiarkan matahari menerangi dirinya. Namun, sepersekian detik kemudian matahari meninggalkannya lalu bersembunyi di balik awan. Membuat kemarahan pada langit, hingga awan saling beradu dan menangis.

Chiyo masih menengadah, air matanya yang asin kini berbaur dengan air mata langit yang basa.

Aku seperti sampah, dan sampah itu menjijikkan. Karena itukah kau tidak ingin menemuiku?

.

.

.

"Tunggulah di sini, Miyu."

"Miyu?" gumam Nozaki. Ia menggernyitkan alisnya, dan telunjuk serta ibu jarinya bekerja sama untuk memijat pelipisnya. "Apakah aku harus mengenakan kacamata, sekarang?" Nozaki membuang napasnya berat. Ia terlalu berharap hingga membayangkan seorang gadis di hadapannya sebagai gadis yang ia tunggu kedatangannya. "Dia tidak akan datang, Umetaraou."

Tes.

Tanpa permisi jutaan air mengguyur dirinya. Ini adalah hari yang buruk untuknya, untuk pekerjaannya juga—jika ia tidak membawa map plastik itu. "Payung penyelamat," kekeh Nozaki.

Nozaki tidak bisa berharap lebih dari ini, Chiyo tidak akan datang dalam hujan dan angin yang mengoyak dahan-dahan pohon di taman. Kaki jenjang Nozaki melangkah meninggalkan taman dengan deretan bangku berwarna putih. Angin sangat kencang hingga ia harus menahan payung sedikit lebih kuat. Jarak pandangnya semakin menjadi pendek dengan guyuran air yang membuat udara sedikit berembun. "Apa yang di lakukan orang itu di tengah hujan seperti ini?" gumam Nozaki. Suaranya beradu dengan gemuruh petir dan juga riuhnya angin. Kakinya semakin mendekat pada sosok gadis yang menengadahkan wajahnya ke langit. Nozaki melewati gadis itu, tidak memperdulikan kebodohan yang tengah dilakukannya. Ia berjalan dan melangkah lebih jauh. Angin sangat kencang hingga payung itu terhempas dari genggaman Nozaki.

"Dia hanya terlalu lelah untuk berbicara dengan seseorang yang tidak pernah meresponnya." Nozaki menengadah menantang langit. "Aku tidak jauh berbeda dengan orang bodoh itu, benarkan? Aku menyelamatkannya tapi, secara bersamaan aku menghancurkan hidupnya." Nozaki tertawa untuk hal yang begitu menyakitkan.

Kebahagian Chiyo dan Nozaki hanya muncul sesaat, lalu sirna dengan cepat—seperti pelangi yang muncul setelah badai. Mereka tak pernah saling berbicara, tidak juga saling menatap. Nozaki terjebak dalam keadaan dan Chiyo terjebak dalam keterbatasan, mereka tak pernah benar-benar mencoba untuk menerjang rintangan itu. Hanya aroma manis dari sebatang cokelat yang dapat menyatukan keduanya—seperti angin dan awan yang hanya akan berdamai dengan kehadiran matahari, dan kembali bertengkar dengan kepergian matahari.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kaki jenjang Nozaki berputar, langkahnya pindah haluan. Ia mendekati gadis yang tengah menengadahkan wajahnya ke atas langit. Isaknya begitu samar di telinga Nozaki, bersamaan dengan riuhnya angin dan petir. Namun, secara tidak langsung menyayat batinnya.

Nozaki merasa bahwa ia adalah pria yang lebih bodoh dari gadis di hadapannya. Ia hampir saja membiarkan Chiyo mati kedinginan. Kakinya melangkah dengan cepat menuju minimarket di dekat taman. Dan kembali dengan sebuah payung yang baru.

Tangan kanannya semakin keras memegang payung, sedang yang kiri semakin erat menggenggam totte bag.

Kepala Chiyo sudah tak menengadah lagi, hanya sebuah tautan pada alis dan kening yang sedikit berkerut. Chiyo bingung, tak ada satu tetespun air yang membasahi wajahnya. "iiaa..." siapa?

Tidak ada jawaban, Chiyo berharap akan ada aroma manis yang merelungi rongga hidungnya. Tapi tidak, ia tidak mendapatkannya. Hanya sebuah gagang payung yang menyapa telapak tangannya.

"aa..eea?" ayah?

Tidak ada jawaban juga. Orang itu menarik payung yang tertaut pada genggangaman Chiyo hingga gadis itu berdiri tepat di depannya. Nozaki tak berani menyentuhnya. Namun, seperti hujan yang datang dengan tiba-tiba hari ini, seperti itu juga memori ketakutan Chiyo memuncak. Ia terangkat ke permukaan, dan dengan cepat menerjang pertahanan batin Chiyo.

Gadis itu menarik tangan mungilnya, mata ungunya bergetar hebat. Bukan hanya karena dinginnya air yang berkolaborasi dengan hempasan angin, tapi juga ketakutan. Nozaki bisa menangkap itu, tak ada yang dapat ia lakukan. Nozaki kembali menyerahkan payung itu pada Chiyo, tapi gadis itu menolak. Ia tidak bisa terus berdiam diri dalam keadaan seperti ini—basah kuyup. Nozaki ingat dengan cokelat yang ia beli untuk Chiyo. Ia menyentuhkan cokelat itu ke hidung Chiyo, berharap gadis itu sedikit lebih percaya kepadanya.

Aroma manis cokelat menyapa indra penciumannya. Kau kah itu?

Tanpa keraguan, Chiyo mengambil gagang payung yang menyentuh tangan kanannya. Ia menggenggam lengkukan itu dengan erat. Chiyo mengikuti kemana arah payung itu berjalan.

Chiyo sedikit meragu begitu ia melewati persimpangan yang biasa ia lewati dengan ayahnya. Chiyo berusaha menunjukkan jalan yang benar pada pria tinggi itu tapi, "hatchu!" tangan kiri itu beralih pada hidungnya. Chiyo menoleh ke sisi kanan, ia dapat dengan jelas menangkap lenguhan dari seseorang yang tidak mau menyentuh tangannya yang hanya berjarak dua inchi dari tangan orang itu.

Nozaki mempercepat langkahnya, hingga gadis kecil itu sedikit terengah di tengah derasnya hujan. Meski hujan turun begitu deras, ia tak lagi mendapatkan guyuran air mata langit di kepalanya. Payung itu melindunginya, tapi tidak dengan kepala hitam di sisi kananya. Nozaki beberapa kali menahan bersin yang rasanya sangat gatal dan mengganggu. Ia mencoba tak mengeluarkan sedikitpun suara dari lidahnya. Nozaki menarik payung hingga Chiyo melepaskan genggamannya. Ia menutup payung itu, dan kembali menyerahkannya pada Chiyo.

Ting!

Chiyo memasuki lift bersamaan dengan tarikan halus pada payung dari Nozaki. Mata hitam itu mengekor pada sorotan hampa netra ungu di sisinya. Nozaki dapat mengingatnya, sebuah kilatan yang dengan cepat mendebarkan jantungnya, di tempat yang sama, dalam kondisi yang sama—empat tahun yang lalu. Kini, jantungnya masih berdebar tapi, hatinya terkoyak karena hanya mendapatkan netra hampa dari gadis yang ia cintai.

Ting!

Nozaki kembali menarik lengan Chiyo, dan menuntunnya tepat ke depan pintu bernomer 199.

"A!"

Teriakan Chiyo membuat Nozaki menjatuhkan kuncinya ke lantai, di saat yang sama ia melihat gadis itu terjongkok dengan telapak tangan yang menutupi telinganya. Gemuruhnya petir mengingatkan Nozaki kepada pria tanpa moral yang merusak masa depan gadis mungil di hadapannya. Atau, ia harus menyalahkan dirinya sendiri karena melontarkan umpatan kepada pria itu.

Pria tinggi dengan rahang yang tegas itu membawa Chiyo masuk ke dalam apartemennya. Nozaki meninggalkannya di ruang tamu, Chiyo hanya bisa berusaha menahan dingin yang sudah menjalar ke seluruh tubuhnya hingga Nozaki kembali dengan handuk dan pakaian ganti untuk Chiyo. Tumpukan kain itu menggiring punggung Chiyo untuk masuk kamar mandi, kemudian tangan besar Nozaku menutup pintu itu dengan rapat.

Rasa takut itu tidak hilang dari benak Chiyo. Ia tahu, bahwa yang membawa dirinya adalah seseorang di taman dengan cokelat, tapi sayangnya, Chiyo tidak tahu apakahia seorang pria atau wanita. Chiyo meraba seisi ruangan yang ia tempati, memastikan bahwa pintu ruangan itu benar-benar tertutup dan terkunci. Chiyo menghempaskan napasnya begitu menemukan kenop dan kunci yang tergantung di bawahnya, ia memutar kunci itu hingga telinganya mendengar bunyi klik!

Ia mulai mengeringkan tubuhnya namun ada aroma aneh yang mengusik hidungnya. Aroma yang bahkan lebih menenangkan dari aroma mawar, aroma ini lebih manis. Chiyo memejamkan matanya, mencoba menghirup aroma itu lebih kuat.

Manis. Cokelat?

Chiyo menggeleng kuat. Ah, bukan!

Ia masih berusaha mengenali aroma itu, ia mencoba mengingatnya. Aroma manis yang menenangkan, buah plum?

Aku rasa dia seorang wanita, Chiyo sedikit terkekeh. Kini, ketakutannya mulai sirna. Ia tidak pernah melihat seseorang—bahkan ia tidak tahu parasnya sendiri. Tapi, seorang pria tidak akan menggunakan sabun beraroma buah plum!

Aku terlalu khawatir... Rasa takutku tak beralasan...

.

.

.

To Be Continued

.