.

.

"UCHIHA SIALAN!" Sasuke berbalik dan terbelalak melihat sakura melemparkan sepatunya.

"Aduh." rintih Sasuke saat sepatu Sakura mengenai pelipisnya. Onixnya menatap gadis berambut pink itu tak mengerti.

"Dasar bodoh! Idiot! Tak bertanggung jawab! Brengsek!" Sasuke menganga mendengar umpatan yang keluar dari mulut gadis yang sangat jarang mengeluarkan suaranya itu. Dia masih terdiam melihat Sakura yang menghirup udara dengan rakus. Tak lagi terdengar isak tangis gadis itu, hanya nafas yang memburu dan wajah yang memerah karna marah. Marah? Sasuke bahkan tak tahu dimana kesalahannya.

"Sakura..." Lirih Sasuke. Emerald di depannya menatapnya tajam dan berkilat karna kemarahan. Ini terasa asing. Seperti Sasuke tak pernah mengenal Sakura.

"Brengsek. Memangnya kau tak butuh tanya apa yang ku inginkan? Kenapa suka sekali mengambil kesimpulan sendiri? Setelah membuatku terbiasa melihatmu, kau mau pergi begitu saja. Kalau memang begitu harusnya kau tak pernah datang kepadaku. Dasar sialan!" Sakura terengah-engah lalu mengulurkan tangannya pada Sasuke. Alis pria itu terangkat tanda tak mengerti. "Sepatu."

"Eh?"

"Sepatuku!" Teriak Sakura untuk yang ke sekian kalinya.

"Ah ah iya." Bergegas Sasuke mengambil sepatu Sakura yang mengenai kepalanya tadi. Nyerinya sudah hilang menyisakan rasa bingung dan tak percaya yang masih bersarang dikepalanya. Ini benar-benar asing. Sasuke merasa berada di alam imajinasinya. Sakura yang dia tau begitu tenang. Akrab dengan ketakutan dan memilih diam atau menghindari sesuatu yang merepotkannya. Sasuke berjalan mendekati Sakura berniat memberikan sepatu ditangannya pada gadis itu.

"Stop. Meski aku bicara banyak padamu bukan berarti aku sudah baik-baik saja dekat denganmu." Sasuke menghentikan langkahnya melihat Sakura mengangkat tangannya.

"Sakura..." Sasuke masih tak tahu harus mengatakan apa. Semua yang Sakura lakukan saat ini begitu sulit dipahami olehnya. Begitu baru.

"Sepatuku." Sakura meraih sepatunya yang diulurkan dari jarak aman oleh Sasuke. Onix sekelam malam itu masih meneliti gerak gerik Sakura yang mengenakan sepatunya. Sasuke terkejut saat Sakura menatapnya serius setelah selesai dengan sepatunya.

"Harusnya kau tak menyerah 'kan? Harusnya kau tanya apa yang ku mau. Harusnya kau bilang apa yang benar-benar kau inginkan." Sasuke tertegun mendengar ucapan bernada yakin dari Sakura. Dia belum berani mengartikan ucapan gadis itu. Situasinya terlalu membingungkan baginya. Hingga Sakura melangkah pergi meninggalkannya sendirian dia masih belum bergerak. Perlahan kepalanya mendongak menatap langit. Hembusan angin mengacak pelan surai ravennya.

"Bolehkah aku mengartikan kata-katamu sesuai dengan yang ada di kepalaku?" Bisik Sasuke pelan.

'_' ...

Sasuke masih tak tahu bagaimana cara meluapkan perasaanya sekarang. Dia bahkan masih terlalu takut untuk mengiyakan apa yang terpikirkan di otaknya tentang hubungannya dengan Sakura. Meski begitu senyumnya tak pernah mau pudar. Perasaan senang yang meragukan begitu meluap hingga terlihat transparan di wajahnya.

"Aku ragu dengan kewarasannya." Desis Naruto. Mereka sekarang sedang berada di kamar Shikamaru. Tiga pasang mata melirik ke arah Sasuke yang memeluk guling seolah memeluk kekasihnya. Penuh perasaan dan melankolis.

"Dia sama sekali tak normal." Gumam Sai. "Mengerikan." Lanjut pria eboni itu.

"Kapan dia bersikap normal?" Shikamaru terkekeh. "Menyukai gadis aneh. Menguntit. Menghayal. Pahlawan kesiangan. Dan sekarang sepertinya dia cocok menjadi penghuni RSJ." Sasuke melemparkan guling yang dipeluknya ke wajah Shikamaru.

"Sialan." Umpat Sasuke yang hanya disambut tawa tiga temannya. Kadang Sasuke tak bisa menganggap mereka teman. Terlalu membullynya.

"Jadi kali ini apa yang dia lakukan padamu?" Sasuke menarik bantal lain dan kembali menenggelamkan kepalanya di sana. Sedangkan Shikamaru mendengus melihat tingkah aneh temannya itu.

"Kau sedang bermain rahasia? Ayolah... itu bukan gaya kita." Kini giliran Sasuke yang mendengus. Kenapa si pirang itu mematok mana yang gaya mereka mana yang bukan.

"Aku bahkan tak pernah tahu kapan kau jadian dengan Hinata." Sungut Sasuke.

"Itu karna kau yang tak serius mendengarkan curhatku." Sasuke tertawa sinis mendengar ucapan Naruto. "Atau kau mau dengar kisah malam pertamaku dengan Hime?"

"Kau melakukannya?" Tanpa sadar Sasuke melotot dan menatap jijik pada Naruto.

"Hei hei jangan menatapku seolah aku hidung belang. Kami hanyalah pasangan yang hot." Sasuke menggerutui gelak tawa tiga temannya. Meski begitu diam-diam dia membayangkan sedang melakukannya pada Sakura. Ugh. Sasuke menenggelamkan wajahnya yang memanas ke bantal. Kepalanya tiba-tiba terasa seperti terbakar.

Pria raven itu bersandar pada pagar rumah Sakura, menunggu sang empunya keluar. Ini hari terakhir mereka sekolah di minggu ini. Sasuke menimbang-nimbang keputusannya lagi. Dia tak mau mengambil resiko dinilai lancang oleh Sakura karna kejadian beberapa hari lalu. Iya, tak ada apapun yang dilakukannya setelah kejadian di atap. Sasuke hanya melakukan yang biasa dia lakukan. Melihat Sakura kembali diam seperti biasa justru membuatnya sedikit bingung dan ragu dengan ucapan Sakura saat itu.

Sasuke tersenyum melihat Sakura dan Temari keluar dari rumah. Temari terlihat menghela nafas. Sasuke melunturkan senyumnya karna tersinggung. Dia sama sekali tak menghabiskan udara di sini. Gadis macho itu berlebihan sekali.

"Ohayou Sakura." Sasuke berusaha mengacuhkan Temari.

"Ohayou." Sakura tersenyum tipis padanya. Membalas sapaan Sasuke disertai senyuman manis sudah dilakukan Sakura selama beberapa hari ini dan Sasuke selalu menyukai senyum yang ditujukan padanya.

Perjalanan mereka masih seperti biasa. Ini membuat Sasuke semakin meragukan kejadian di atap sekolah. Apa yang diinginkan Sakura? Atau apakah itu memang benar-benar terjadi? Mungkinkah hanya halusinasinya saja? Sasuke tak punya jawabannya. Setidaknya sampai jam istirahat tiba.

Saat kelas sepi Sakura beranjak dari tempat duduknya dan menghampirinya. Ini keajaiban berikutnya bagi Sasuke dan segera mengusir Shikamaru dengan lirikannya. Sasuke mengabaikan dengusan malas pria nanas itu. Sakura lebih penting saat ini. Kesempatan berinteraksi sekecil apapun dengan Sakura tak akan dilewatkan.

"Uchiha, Aku..." Sakura menggigit bibir bagian dalamnya gelisah. Sejenak kemudian dia menghela nafas. "Aku membawa bekal, ayo makan siang bersama." Sakura terlihat menghela nafas lega saat mengucapkan kata itu dengan cukup cepat dan lancar.

Sasuke terpana di tempatnya. Gadisnya mengajaknya makan siang. Dia sangat ingin merayakannya dengan bersorak girang. Tapi tak bisa, itu hanya akan membuat Sakura kabur darinya. Dengan senyum lebar melebihi senyum lima jari milik Naruto, Sasuke berjalan mengikuti Sakura. Perasaannya begitu menggebu dan menyesakkan karna ditahan. Tapi menyenangkan. Sangat menyenangkan saat gadis yang pasif berinisiatif mendekatinya lebih dahulu.

Sasuke memperhatikan gerak-gerik Sakura yang membuka kain pink pembukus kotak bekalnya. Sangat Sakura. Pelan dan penuh kegugupan. Nafas Sasuke terasa tercekat saat melihat Sakura tersenyum saat menyodorkan satu kotak bekal padanya. Dia berharap waktu berhenti saat ini untuk mengabadikan hal terindah yang ditangkap onixnya. Sakura dan bekal. Sasuke menyukainya.

"Maaf..." Sakura menatap Sasuke menyesal. "Untuk kepalamu waktu itu dan..." Emerald bening Sakura menatap onix kelamnya. Ini juga menjadi favorit Sasuke, Sakura tidak setakut dulu untuk menatapnya meski tidak bertahan lama. "...baru meminta maaf sekarang." Sakura mengalihkan tatapannya pada bekalnya.

"Jangan khawatir. Itu tak akan membuatku mati." Dengan ringan Sasuke mengambil tempura yang ada di kotak bekal. Sasuke tak bisa menahan senyumnya membayangkan Sakura bangun pagi untuk membuat bekal untuknya. Keserakahan Sasuke berbisik lebih senang jika makan satu kotak bekal dengan Sakura. Atau dari mulut Sakura jika beruntung. Sasuke menggelengkan kepalanya kesal karna mulai terpengaruh dengan kemesuman Naruto. Yah sebelumnya dia memang mesum, tapi dia pikir tidak separah ini.

"Kau benar." Ucap Sakura. "Uhm... bagaimana rasanya?" Tanya Sakura tentang bekalnya dengan sedikit khawatir. Wajahnya yang menunggu jawaban Sasuke dengan was-was terlihat sangat menggemaskan. Membuat Sasuke terkekeh.

"Semuanya enak."

"Ah... Syukurlah." Sasuke tersenyum melihat kelegaan di wajah cantik gadisnya.

"Kau senang?"

"Hm." Sahut Sakura setelah menatap Sasuke sebentar. Senyum manis terukir di bibir mungilnya saat kembali menekuri bekalnya. "Aku..." Sasuke memperhatikan Sakura yang menatap bekalnya serius. "Ku rasa aku ingin menyentuhmu."

"Uhuk uhuk." Sasuke tersedak potongan tempura saat mendengar ucapan Sakura. Pendengarannya tak salahkan? Sakura bilang ingin menyentuhnya. Tapi bagaimana? Gadis itu memiliki trauma entah apa. Terakhir dia menyentuh wajah gadisnya hanya dengan ujung jari, hal buruk terjadi. Sungguh Sasuke tak mau dan tak suka melihat Sakura menderita seperti itu.

"Kau meragukanku?" Sasuke mencelos melihat kekecewaan dan luka di mata Sakura. Sungguh bukan itu maksudnya. Sasuke hanya mengkhawatirkan gadis itu.

"Aku tak tahu trauma yang kau punya sejenis apa. Tapi itu jelas parah..." Sasuke menatap manik emerald favoritnya yang meredup.

"Aku tahu. Aku memang tidak seperti gadis lainnya." lirih Sakura seraya menunduk.

"Kau tahu bukan itu maksudku Sakura." Sasuke bimbang. Dia ngeri membayangkan Sakura akan histeris lagi, tapi dia juga tak bisa memungkiri keinginannya untuk menyentuh Sakura. Sasuke menghela nafas berat. "Kita lakukan pelan-pelan." putus Sasuke yang menghasilkan binar di mata Sakura.

Sasuke tersenyum lembut. Dia sangat senang melihat Sakura juga menginginkannya. Rasanya tertawa keras dan berteriak tak akan cukup untuk meluapkan kebahagiaannya. Bolehkah dia menyimpulkan segalanya semakin baik mulai hari ini?

''''''''°=°'''''''''

"Uchiha, aku..."

"Pertama-tama bukankah kau harus mengubah panggilanmu?" Sasuke mendesah melihat Sakura hanya diam memandangnya. Saat ini sedang jam istirahat hari pertama mereka masuk sekolah di minggu ini. Selama libur akhir pekan kemarin membuat Sasuke frustasi karna sangat ingin bertemu Sakuranya. Tapi rasanya segalanya terobati ketika Sakura menghampirinya dan sepertinya Sakura akan memulai membiasakan melibatkan Sasuke dalam setiap hal yang dilakukannya di sekolah. Sasuke tentu saja sangat senang dengan perubahan ini.

"Aku tak tahu namamu." Lirih Sakura malu-malu yang membuat bungsu Uchiha itu ingin membenturkan kepalanya ke dinding. Bagaimana mungkin gadis ini tidak tahu namanya?

"Kita selalu sekelas Sakura, bagaimana mungkin kau tak tahu nama kecilku?"

"Maaf." Sasuke mendengus mendengar bisikkan Sakura. Gadis itu terlihat menyesal dengan menunduk dalam.

"Sudahlah. Kita bisa mengawali ini dengan perkenalan." Sasuke tersenyum. "Hallo, Aku Uchiha Sasuke." Sasuke tersenyum manis. Senyumnya semakin lebar melihat semburat merah muda muncul di wajah Sakura.

"Aku Haruno Sakura, salam kenal." Sasuke tertawa pelan mendengar nada malu-malu Sakura. Gadis itu langsung berbalik dan mengulum senyumnya.

Sasuke mengikuti langkah Sakura. Ini terasa sempurna disaat dia tahu Sakura benar-benar menginginkannya berdiri diposisinya sekarang. Sepertinya gadis itu membawanya ke perpustakaan. Sasuke mengambil tempat duduk dengan jarak aman dari Sakura. Dia hanya membuka buku lalu membiarkannya, bagaimana dia bisa fokus pada buku sementara ada hal yang jauh lebih menarik di depannya.

"Sa... Sasuke.. kau bisa melubangi wajahku." Sasuke terkekeh. Sakura memiliki selera humor yang bagus. Pria raven itu justru menumpukan dagunya pada lipatan tangannya di meja, terang-terangan onixnya mengamati Sakura yang bergerak-gerak gelisah ditempatnya. Sasuke tersenyum, sekarang bukan hanya Sakura yang berpengaruh baginya tapi juga dirinya yang berpengaruh bagi Sakura.

Beberapa hari berlalu, dari jarak aman menjadi jarak dekat. Dari hanya saat pulang dan pergi sekolah bersama menjadi setiap di luar jam pelajaran bersama. Sasuke sangat menikmati waktunya dengan Sakura. Melihat gadis itu duduk tenang, tersenyum kecil, dan menatap sendu sesuatu membuatnya merasa lebih mengenal Sakura. Tapi Sasuke menjadi serakah, dia sangat ingin bisa mengenal Sakura luar dan dalam dengan cepat. Sangat sulit menahan keinginannya yang menggebu itu.

"Hei mau tukar tempat duduk?" Sasuke menoleh pada Shikamaru yang duduk di belakangnya. Terkadang pria nanas itu mengatakan hal aneh secara tiba-tiba. "Ku pikir kau akan begitu merindukannya karna berjarak satu setengah meter."

"Kau gila." Sasuke memukul kepala nanas itu.

"Kau kasar sekali." gerutu Shikamaru mengelus kepalanya.

"Kau aneh sekali." cibir Sasuke.

"Aku hanya berniat membantumu."

"Haruskah aku bilang terima kasih?"

"Ku rasa tak perlu."

"Sialan." Shikamaru terkekeh melihat Sasuke kesal.

Kali ini Sakura dan dia menghabiskan waktu di bawah pohon favorit mereka. Semilir angin yang menerbangkan helaian Sakura menjadi pemandangan paling menarik bagi Sasuke. Sakura bersandar di batang pohon seperti biasanya, sedangkan Sasuke berbaring di sampingnya. Sasuke cukup puas karna sekarang dia tak perlu tarlalu jauh dari gadisnya.

Keheningan yang tercipta begitu syahdu. Sakura dengan kegiatannya membaca buku, Sasuke dengan kegiatannya mengamati gadisnya. Tidak ada yang sesempurna ini sekarang. Meski tidak banyak percakapan yang terjadi Sasuke tahu perlahan jarak diantara mereka terkikis. Ketakutan Sakura padanya juga berkurang. Sakura memang masih menghindari pria, tapi dia pengecualian. Sasuke suka menjadi pengecualian bagi Sakura.

"Wah pantas saja kau betah di sini teme. Tempatnya nyaman." Sasuke dan Sakura menatap bersamaan ke arah Naruto yang ternyata tidak datang sendirian.

Dada Sasuke bergemuruh melihat raut terganggu Sakura, dia menatap gadis itu meminta maaf dalam diam. Dan mengutuk rombongan pengganggu itu dalam hati. Sejak kapan mereka jadi menyebalkan suka mengganggu waktu berkualitas yang Sasuke miliki bersama Sakura? Sepertinya mereka sudah keterlaluan.

"Jangan menatapku begitu, aku hanya mengantar seseorang yang ada perlu denganmu." Ucap Naruto sembari duduk di samping Sasuke. Menjaga jarak aman dengan Sakura di ikuti yang lainnya.

"Ano... Sasuke-kun, aku ingin mengundangmu ke pesta ulang tahunku." Ucap Karin. Sasuke merasa terganggu melihat wajah datar Sakura. Gadis itu mulai membangun temboknya lagi.

"Aku mungkin tak bisa datang." Ujar Sasuke datar. Dia tak akan melakukan apapun yang membuat kondisinya dengan Sakura memburuk.

"Hei hei jangan begitu teme. Kau bisa membawa Sakura-chan jika kau tak mau datang sendiri." Cerocos Naruto tak terima.

"Siapa yang mengijinkanmu memanggilnya seakrab itu." ketus Sasuke sembari memukul kepala durian Naruto.

"Lalu menurutmu aku harus datang dengan siapa?" Tambahan pukulan dari Shikamaru. Pria nanas ini akan benar-benar sendirian jika Sasuke mengajak Sakura.

"Aku tak tahu mau bilang apa tapi, bolehkah aku berpartisipasi?" Sai mengangkat tangannya bersiap memukul Naruto.

"Apa masalahmu Sai?" Jerit Naruto memegangi kepalanya yang sudah benjol membuat Sai terkekeh dan mengurungkan niatnya. "Hime-chan..." Naruto merengek pada Hinata yang mengusap-usap kepala kekasih kuningnya itu prihatin.

"Haruno-san, kau tidak keberatan Sasuke-kun datang ke pesta ku kan?" Wajah Sakura memerah mendengar nada sinis dari Karin. Sasuke menggeretakkan giginya tak suka gadisnya di ganggu. "Bukankah sangat disayangkan jika Sasuke-kun tak pergi bersama yang lainnya hanya karenamu?" lanjut wanita berambut merah itu.

"Karin Hentikan." tegas Sasuke.

"Maaf. Itu bukan hakku membuat keputusan." Sakura bangkit, menundukkan sedikit tubuhnya dan berlalu dengan cepat.

Onix Sasuke berkilat penuh amarah saat melihat punggung Sakura yang semakin jauh pergi tanpa mengucapkan apapun lagi.

"Wah Salahkan saja Naruto, Sasuke." ucap Shikamaru sambil menguap.

"Apa? Kenapa aku? Aku hanya menuruti maunya hime-chan saja." Naruto tak terima. Sedangkan Hinata hanya menunduk. Entah apa yang dipikirkan gadis berambut indigo itu.

"Terserah." Sasuke pergi mengikuti langkah Sakura tanpa menghiraukan panggilan Karin. Bahkan dia baru saja menikmati harinya dengan Sakura. Kenapa Naruto harus sebodoh itu mengikuti rengekan Hinata. Tidak. Kenapa Hinata selalu menuruti maunya Karin. Terserah jika itu tak ada hubungannya dengannya. Tapi nyatanya selalu saja merusak kesenangannya. Haruskah dia menjauhi mereka? Sasuke sudah bersahabat sejak bayi dengan mereka. Bagaimana mungkin akan rusak karna urusan wanita. Ugh. Sebenarnya siapa yang harus disalahkan?

Sasuke menemukan Sakura di atap berdiri menatap ke bawah. Perlahan pria itu menghampiri Sakura. Dia berharap ini tidak serumit yang dipikirannya. Sasuke menghela nafas pelan lalu mengalihkan pandangannya pada Sakura yang masih menatap ke bawah, dimana para siswa terlihat hilir mudik dengan kepentingan masing-masing.

"Maaf." Ucap Sasuke. Tak ada lagi kata yang terpikirkan olehnya selain kata itu. Setidaknya itu kata yang tepat untuk mood Sakura yang rusak karna teman-temannya.

Sakura menoleh ke arahnya. Menatapnya cukup lama lalu mengalihkan perhatiannya ke bawah lagi. Helaan nafas gadis itu terasa berat. Sasuke sama sekali tidak bisa membaca apa yang dipikirkan oleh gadisnya. Sakura terlalu sulit dipahami olehnya. Padahal Sasuke pikir dia cukup mengenal Sakura, nyatanya dia sama sekali tak mengerti pola pikir gadis pink itu.

"Kau sangat tampan Sasuke." Ucap Sakura lirih. Meski tak paham nyatanya Sasuke merona mendengar ucapan sederhana Sakura. Dia memalingkan wajahnya agar Sakura tak melihat rona itu. Sasuke menggigit bibirnya menahan senyum yang akan mengembang dan sulit dia kontrol. Akan terasa biasa saja jika orang lain yang mengucapkannya, tapi ini Sakura. Dia tak bisa biasa saja saat ucapan itu keluar dari mulut Sakura. Sasuke sangat bersyukur bahwa dia tampan.

"Ku rasa lebih baik kau memilih salah satu gadis yang..." Sakura mengangkat bahunya. "...Lebih baik dari ku." Senyum Sasuke luntur. Sebenarnya apa mau gadis ini. Kemarin dia melarang Sasuke menyerah dan sekarang dia mengatakan agar Sasuke memilih gadis lain. Sasuke mengepalkan tangannya menahan semua emosi yang dirasakannya.

"Apa kau yakin padaku?" Emerald itu menatap onix yang sepertinya tak lagi bisa menyembunyikan kemarahannya.

"Sakura..." Geram Sasuke.

"Aku takut Sasuke. Aku meragukanmu. Mungkin saja..." Sasuke terdiam melihat kegamangan di manik kesayangannya itu. "... Setelah kau mendapatkan yang kau inginkan, kau akan meninggalkanku dengan keanehanku."

"Sakura..." Ucap Sasuke lembut. Rasa sakit karna tuduhan Sakura tertutupi rasa sakit melihat Sakuranya mendesah sedih. Dia tahu hatinya tak akan begitu saja berpaling dari Sakura, tapi Sakura tak tahu. Meyakinkan gadis itu hanya akan terdengar sebagai pembelaan diri. Bukan gaya Sasuke.

"Ini aneh Sasuke. Di antara banyak gadis kenapa kau memilihku? Aku..." Sasuke merasakan nyeri di dadanya melihat emerald Sakura berkaca-kaca. "...Aku berbeda Sasuke." Sakura mengakhiri ucapannya dengan bisikkan.

"Aku tak tahu." Jawab Sasuke jujur. Dia memang tak tahu pasti alasan memilih Sakura. Dia tak pernah mengerti kenapa atensinya begitu tersita oleh gadis merah jambu itu. Dia hanya... Mengikuti kata hatinya. Sasuke bingung sendiri melihat Sakura begitu menuntut jawabannya.

"Aku tahu..." Ucap Sakura setelah menghela nafas dan menyeka sudut matanya. Sasuke sendiri semakin bingung dengan apa yang Sakura tahu. Dia hanya berharap firasat buruknya tak terjadi. "...sudahlah." Lanjut Sakura yang membuat hati Sasuke mencelos. Meski Sakura memaksakan senyumnya sama sekali tak mengurangi kecemasan di hati Sasuke.

"Sakura, demi tuhan. Jangan menakutiku." Ucap Sasuke memelas. Sementara Sakura terkikik. Apa Sakura mempermainkannya?

"Sasuke-kun..." ucap Sakura lembut. Mendengar akhiran -kun yang diucapkan Sakura membuat Sasuke mau tak mau merona lagi. Sungguh dia tidak pernah tahu jika Sakura berbakat mempermainkannya. "... ayo kita pergi ke pesta ulang tahun Karin-san." Lanjut Sakura yang membuat Sasuke ternganga.

"Kau bercanda kan?" ucap Sasuke lamat-lamat. Pesta bukan hal bagus untuk Sakura.

"Hm. Yakinkan aku jika kau tak akan berpaling dariku." Ucapan Sakura disambut senyuman menawan Sasuke. Bukan hal sulit baginya membuktikan itu. Dia sudah terbiasa mementingkan Sakura. Maunya Sakura sudah menjadi maunya Sasuke.

Diperjalanan pulang sekolah, sekarang mereka berjalan beriringan. Tidak ada lagi jarak bermeter-meter. Hanya beberapa centi saja. Sasuke diam menikmati perasaan senangnya. Sesaat kemudian dia terkejut merasakan satu sentuhan ringan dan sekilas di jemarinya. Sasuke menoleh dan mendapati Sakura menggigit bibirnya dengan wajah sedikit tak nyaman. Tangannya terlihat terkepal di depan dadanya.

"Aku... sangat ingin menyentuhmu." ucap Sakura ragu dan takut. Kini gantian Sasuke yang menggigit bibir bawahnya, menahan segala perasaan girang yang ingin keluar dari mulutnya. Sakura ingin menyentuhnya. Bukan hanya itu, bahkan gadis itu sudah melakukannya. Rasanya Sasuke ingin berteriak mengungkapkan betapa dia mencintai gadis ini. Tak akan jadi masalah baginya menunggu.

Di dalam mobil Sasuke berkali-kali tak bisa menahan tawa kecilnya merasakan luapan senang di dadanya. Sejenak kemudian pria raven itu merasa konyol karna terlalu senang hanya karna sentuhan sekilas dan seujung jari seperti itu. Tapi nyatanya dia sama sekali tak bisa menahan dirinya agar bersikap biasa saja.

"Ada hal bagus yang terjadi tuan?" Tanya Menma berusaha menyembunyikan antusiasnya. Sasuke tertawa kecil lagi mendengar pertanyaan supirnya.

"Apa terlihat seperti itu?"

"Benar. Jadi apa nona itu menerima anda?"

"Belum. Tapi pasti nanti akan terjadi." Ucap Sasuke yakin.

-_- ... -_-

Hari ini Naruto menemani Hinata mencari gaun untuk ke pesta ulang tahun Karin besok malam. Dan Sai menemani Ino. Tidak ada konfirmasi apapun, tapi mungkin benar jika dua orang itu mengalami kemajuan. Atau justru sudah menjadi pasangan? Entahlah. Yang jelas gaun menjadi tema pembahasan dua orang tanpa pasangan ini.

"Gaun merah? itu tak cocok untuk Temari. Harusnya kau memberinya seragam judo." Cibir Sasuke melihat Shikamaru mengamati gaun merah dengan bagian punggung terbuka dan belahan roknya mencapai paha.

"Urusi saja gadismu." ketus Shikamaru. Sasuke terkekeh.

"Kau khawatir ajakanmu tak ditanggapi?" ejek Sasuke.

"Jangan mulai Uchiha. Aku bisa saja mengganggu gadismu jika kau membuatku tak senang." Sasuke melotot penuh ancaman. Dia tahu Shikamaru tak serius, tapi tetap saja mengerikan membayangkan ada orang lain yang mengganggu gadisnya.

"Jangan macam-macam Nara."

"Kalau begitu pastikan Temari menerima gaun dariku dan pergi bersamaku." Sialan. Si brengsek ini mengancamnya.

"Kau tak seriuskan?" Geram Sasuke.

"Coba saja." Ucap Shikamaru acuh tak acuh. Sasuke ragu. Dan dia mendesah kalah disusul seringai pemuda nanas itu. Sasuke tak bisa menempatkan Sakura diposisi yang riskan. Sekarang dia hanya harus memikirkan cara bicara pada gadis macho itu. Setidaknya dia bisa bertemu Sakura dan memberinya gaun pink sederhana yang tak terlalu terbuka pada gadisnya.

.

.

tbc~~

.

Keyikarus

8/11/2017