Huaa...gomen nasai! o.o author baru update story sekarang, coz ada UAS yang harus author hadapi #curcol#

Ehem...soal kritik mengkritik, author mau memberi saran, nih...mengkritik itu boleh, tapi harus disertai saran yang membangun karena kritik punya adab dan etika juga. Agar tidak terjadi kesalahan yang sama, maka author katakan sekali lagi: "Don't like, don't read,"

Aduh, jadi panjang gini, udah gitu author jadi kelihatan galak, nih. Sumimasen ne...

Oke, deh, ini chapter selanjutnya.

.

.

Disclaimer: Vampire Knight, all characters and story belong to Hino Matsuri

.

References: My Original Story: Bite and Love story 1: The Wrong Beginning

.

Blood

"Permisi, apa Kaname-senpai hari ini masuk?" tanyaku pada salah satu senior yang sekelas dengan Kaname-senpai.

"Tidak, tuh," jawabnya. "Tapi kenapa kamu tanya ke sini? Kamu ini, kan adiknya. Seharusnya kami yang tanya kemana Kaname,"

"M-maaf, saya benar-benar tidak tahu," jawabku.

Senior itu mendengus kesal, "Kami mendengar kabar kalau Kaname sakit. Memangnya dia sakit apa?"

Aku terbelalak kaget, "Sakit?"

Mendadak saja perasaanku tak enak. Kaname-senpai tidak kelihatan sejak dua hari terakhir, atau tepatnya...sejak peristiwa itu. Dia tidak ada di asramanya maupun di rumah. Otou-san tidak mau cerita apapun padaku, tapi dia melaporkan Kaname-senpai sakit ke kelasnya. Sebenarnya ada apa...?

"Hei, kenapa kamu kaget?" tegur senior itu.

Aku lari begitu saja meninggalkan kelas tersebut. Aku berlari ke arah menuju asrama Moon Dorm. Kalau Otousan tidak mau berkata apapun, satu-satunya pilihan tersisa adalah bertanya pada Kiryuu-senpai. Kiryuu-senpai...mungkin dia tahu dan bisa memberitahuku sesuatu...semoga...

.

.

Aula Moon Dorm, dua jam sebelumnya

Aidou Hanabusa dan Kain Akatsuki sedang duduk di aula Moon Dorm. Kain sedang membaca buku sedangkan Aidou sedang bermain-main dengan gelasnya. Kondisi mereka tidak terlalu ceria hari ini. Sudah dua hari ini Night Class diliburkan.

"Liburan itu membosankan, ya, Akatsuki..." gumam Aidou.

"Mau apa lagi? Dua hari lalu ada bau darah yang sangat menyengat di sekolah," jelas Akatsuki. "Kepala sekolah ingin kita menenangkan dan mengendalikan diri sebelum masuk sekolah kembali. Aku bisa memahami itu. Bau darah waktu itu benar-benar menyengat..."

Aidou menyipitkan matanya selama sesaat. Ia mengambil sebuah kotak dan mengeluarkan beberapa butir obat di dalamnya. Ia menuangkan butir-butir tersebut ke dalam air di dalam gelasnya, membuat air di dalam gelasnya berubah merah.

"Hei, Akatsuki, kamu tidak penasaran darah siapa itu?" kata Aidou.

"Tidak," jawab Kain cuek. "Ketua asrama Kiryuu sudah memerintahkan kita untuk tidak mengacuhkan dan melupakannya, maka aku sudah melupakannya,"

"Kamu enak bisa semudah itu. Kamu pasti tidak tahu darah siapa itu, kan?" balas Aidou.

"Tidak. Memangnya darah siapa itu?" tanya Kain.

Aidou mengangkat gelasnya dan menumpahkan isinya ke atas meja. Tetesan air merah itu membeku menjadi es setiap kali menyentuh permukaan meja.

"Darah itu..." Tiba-tiba seluruh air di dalam gelas Aidou membeku. "Itu darah Yuuki-chan. Darah sebanyak itu...aku rasa dia terluka parah semalam,"

Kain melirik sepupunya itu dengan tatapan sinis, "Kamu tidak kapok sudah dihukum dan ditampar oleh ketua asrama Kiryuu?"

Empat siku-siku muncul di kepala Aidou, "Tidak usah mengingatkanku soal itu!"

"Sudah menerima dua hukuman minggu ini dan kamu mau mencari masalah lagi? Kamu tidak ingat betapa marahnya Ketua asrama Kiryuu setelah ia tahu kamu mengganggu Cross Yuuki?" tegur Kain.

"Tidak usah mengingatkanku!" dengus Aidou. Lalu dia menghembuskan nafas lelah, "Aku tidak pernah melihat ketua asrama kita marah sampai seperti itu. Apa jangan-jangan dia tertarik pada Cross Yuuki?"

TOK! TOK!

Mata Kain dan Aidou langsung terpancang pada pintu depan asrama. Ada suara ketukan...dan lagi...di pagi hari...

"Siapa yang datang pagi-pagi begini?" gumam Kain.

"Entahlah, tapi aku punya firasat," jawab Aidou. "Nee, Akatsuki, bisakah kamu kembali ke kamarmu? Aku ada urusan,"

"Jangan-jangan orang dari lembaga penelitian itu lagi, ya?" tebak Kain. "Yah, baiklah. Itu urusanmu,"

Kain bangkit dari sofa dan menaiki tangga menuju kamarnya sendiri, meninggalkan Aidou sendirian di aula.

Aidou melangkah menghampiri pintu. Ia menarik kenop pintu perlahan, menampakkan sosok sang tamu yang ternyata adalah seorang gadis muda berambut pendek berpakaian seragam Day Class.

Aidou menyeringai, "Ohayou, Yuuki-chan,"

Sang tamu memandangnya kaget dan wajah tegang seakan sedang melihat hantu di depan wajahnya.

"Aidou-senpai..." ucapnya tegang.

"Ada apa pagi-pagi ke sini?" tanya Aidou ramah. "Apa kamu mau menemuiku?"

"Bu-bukan. Saya ingin menemui Kiryuu-senpai," jawab Yuuki gugup.

Seringai Aidou langsung hilang. Wajahnya berubah dingin sedingin es. Ia menyingkir dari pintu masuk.

"Ketua asrama Kiryuu ada di dalam," ujarnya. "Masuklah!"

Yuuki melangkah masuk dengan gugup ke dalam asrama Moon Dorm. Aidou menutup pintu depan di belakang Yuuki sementara gadis itu berdiri termangu di aula. Ia memperhatikan detil asrama Moon Dorm sepuasnya. Maklum, ini pertama kalinya ia masuk ke asrama Night Class ini.

"Aku akan memanggilnya, tunggu sebentar, ya," kata Aidou segera beranjak meninggalkan Yuuki.

"I-iya," jawab Yuuki masih gugup.

Baru beberapa langkah Aidou meninggalkan Yuuki, timbul niat iseng di benak Aidou untuk menganggu Yuuki sekali lagi. Ia melirik gadis itu yang masih memandangi aula dengan polosnya. Kepolosan yang menyembunyikan kegugupan yang besar. Selain itu, plester luka di lehernya itu...ada luka yang baru mulai kering yang tersembunyi di balik plester luka tersebut. Aidou bisa mencium bau darah kering dengan jelas dari leher Yuuki.

"Nee, Yuuki-chan," Aidou membalikkan tubuhnya, dan memandang Yuuki. "Kenapa dengan lehermu? Apa kamu terluka?"

Yuuki buru-buru menutupi lekukan lehernya, "Ini hanya lecet saja, kok, senpai," jawab Yuuki sembari tersenyum gugup.

"Lecet, ya?" Aidou menyeringai. Ia melangkah perlahan menghampiri Yuuki.

Aidou merasakan kegugupan yang semakin membesar dari diri Yuuki. Ini bukan kegugupan biasa. Kegugupan yang diiringi oleh ketakutan ini...mungkinkah...

"Kamu kelihatan gugup sekali, Yuuki-chan. Ada apa?" tanya Aidou seraya berhenti di hadapan Yuuki.

"Ti-tidak ada apa-apa," jawab Yuuki.

"Hm...benarkah? Aku yakin kamu berbohong," Aidou menyeringai semakin lebar. Ia mengangkat wajah Yuuki dengan satu tangan, menunjukkan lekukan leher gadis itu dengan jelasnya.

"Kamu tercium lezat, Yuuki-chan," gumam Aidou.

Ketegangan dan ketakutan Yuuki memuncak. Ia mengambil satu langkah refleks, "Lepaskan, vampir!" Yuuki menepis tangan Aidou dengan kasarnya.

Yuuki mengambil beberapa langkah mundur dari Aidou sementara pemuda itu mengibaskan tangannya dengan remeh untuk menghilangkan kebas akibat tepisan Yuuki tadi.

"Dugaanku tepat. Kamu sudah tahu semuanya, ya, Yuuki-chan?" ujar Aidou.

Yuuki tidak memberikan jawaban apapun selain pandangan tajam dari kedua matanya yang menyipit dan keningnya yang berkerut. Ia pasang posisi waspada.

"Saa, bekas taring siapa itu?"

Yuuki terbelalak kaget. Ia meraba lehernya dan baru sadar kalau plester lukanya hilang. Ia buru-buru menutup luka gigitan di lehernya.

"Oh, iya, sejak dua hari lalu, kakakmu tidak kelihatan. Apa dia yang menggigitmu?" tanya Aidou lagi.

"Senpai tahu soal Kaname nii-san?" tanya Yuuki, masih dengan sikap waspada.

"Tentu saja. Semua murid Night Class tahu siapa Kuran Kaname," jawab Aidou. "Dia pemuda malang dari keluarga vampir hunter terkenal yang harus kehilangan kemanusiaannya karena digigit oleh vampir pureblood, di hari dimana keluarganya dibunuh,"

Aidou melihat Yuuki agak terbelalak mendengar penjelasannya, "Jangan-jangan kamu tidak tahu soal itu?" cibir Aidou. "Ya, ampun...kamu ini, kan adiknya. Dasar! Rupanya kepala sekolah Kaien benar-benar melindungimu, ya,"

"Cukup basa-basinya, senpai," potong Yuuki. "Izinkan saya untuk bertemu Kiryuu-senpai,"

Aidou berubah serius sekarang, "Kenapa kamu begitu ngotot untuk bertemu ketua asrama Kiryuu?" tanya Aidou.

"Saya ingin tahu dimana Kaname nii-san sekarang berada, mungkin Kiryuu-senpai tahu. Sejak dua hari lalu dia menghilang dan tidak ada yang mau memberitahu saya dimana dia berada," jelas Yuuki. "Mungkin Kiryuu-senpai bisa memberitahu. Saya khawatir kakak saya—

"Untuk apa makhluk seperti itu dikhawatirkan? Toh, sebentar lagi kamu tidak akan berarti apapun di matanya selain makanan," cibir Aidou.

"Apa maksud senpai?"

Aidou menyeringai, "Makhluk hasil transformasi seperti dia tidak akan bertahan lama...lebih baik tidak usah dipikirkan. Tunggu saja sampai waktunya tiba,"

"Sebenarnya senpai ini bicara apa?" tanya Yuuki ketus. "Kenapa senpi bicara seolah kakak saya hanya makhluk rendahan? Senpai, kan sama saja!"

Aidou mengerutkan kening, "Sama? Aku dan makhluk seperti itu?"

Aidou mengeluarkan kekuatannya pada Yuuki, menciptakan es di sekitar kaki gadis itu dan membuatnya membeku di tempat. Yuuki melihat kedua kakinya yang membeku dengan panik.

"A-apa yang terjadi?" ujar Yuuki panik.

"Inilah perbedaan antara aku dan kakakmu," jawab Aidou. Ia kembali mengangkat wajah Yuuki tinggi-tinggi. "Apa kamu mau tahu perbedaan yang lain?"

Perlahan, Aidou menurunkan wajahnya, tepat ke lekukan leher Yuuki. Gadis itu menyerapah dalam hati, memaki dirinya sendiri yang tidak bisa bergerak karena kedua kakinya yang membeku. Yuuki bisa merasakan desah nafas Aidou di lehernya. Sekujur tubuhnya meringing ngeri membayangkan apa yang bisa terjadi.

"Aidou-senpai, berhenti sampai di situ!"

Baik Yuuki maupun Aidou terguncang oleh hawa lain yang datang menggetarkan seluruh ruangan hanya dengan aura kemarahannya saja. Yuuki merasakan dingin di kakinya menghilang. Ia buru-buru mengambil langkah mundur—kali ini lebih jauh dari sebelumnya—Ia lega saat melihat tidak ada lagi es di kakinya. Es tersebut sudah menghilang. Meski begitu, kecemasannya tidak berkurang samasekali. Ia dan Aidou sama-sama memandang ke ujung anak tangga besar di aula yang menghubungkan aula depan dengan lantai atas tempat kamar para siswa-siswi Night Class.

Seorang pemuda berambut perak dalam balutan kemeja hitam sekolah yang dibiarkan terbuka di kancing pertamanya dan celana panjang putih melangkah perlahan menuruni tangga. Yuuki dan Aidou sama-sama ketakutan melihat sosok pemuda itu.

"Ketua asrama Kiryuu?" Aidou bergidik ngeri.

Kiryuu Zero terus berjalan hingga sampai ke hadapan Aidou. Matanya tak pernah lepas dari pemuda berambut pirang itu. Kedua mata tajam dan dingin bagai es itu terus terpicing padanya.

"Ketua asrama Kiryuu, aku—

PLAKK!

Yuuki tidak memalingkan matanya saat Kiryuu-senpai menampar Aidou dengan kerasnya hingga pemuda itu nyaris jatuh. Yuuki melihat darah keluar dari mulut Aidou, menunjukkan betapa keras tamparan yang diterimanya dari Kiryuu-senpai.

"Hukumanmu diperpanjang," kata Kiryuu-senpai dengan nada mutlak. "Kembali ke kamarmu dan renungkan apa yang baru saja kamu lakukan,"

Aidou tertunduk, "Saya mengerti," Tanpa banyak bicara lagi, Aidou melangkah pergi ke lantai dua, kembali ke kamarnya.

Glek! Lagi-lagi hanya tersisa Yuuki dan Kiryuu Zero sekarang. Yuuki bertanya-tanya dalam hati, kenapa dia selalu ditinggalkan berdua saja dengan Kiryuu Zero dalam kondisi hati yang buruk?

"Dan apa yang kamu lakukan di sini?" Zero melirik Yuuki dengan tatapan dinginnya yang biasa dilihat Yuuki.

"Ada yang ingin saya tanyakan pada senpai," jawab Yuuki.

"Soal apa?"

"Soal Kaname nii-san,"

Sorot mata Zero semakin dingin, "Katakan,"

"Kaname nii-san sudah dua hari ini menghilang. Apa senpai tahu dimana dia?" tanya Yuuki. "Maaf saya menanyakan hal ini pada senpai, habisnya...kepala sekolah tidak mau memberitahu apapun pada saya,"

"Maka sebaiknya kamu tidak mencoba untuk mencari tahu. Kepala sekolah sudah berbuat benar dengan tidak memberitahu apapun padamu," jawab Zero. "Dia sedang berusaha menjauhkanmu dari makhluk berbahaya itu,"

"Jangan sebut kakakku seperti itu!" hardik Yuuki spontan. "Kenapa kalian semua...bahkan senpai sendiri...menyebut kakakku seolah-olah dia hanya makhluk rendahan? Apa kalian merasa—

"Karena aku sadar aku ini lebih rendah dari dia," tukas Zero.

Yuuki terbelalak kaget, "Senpai..."

"Aku sudah kehilangan kosa kata yang tepat untuk menggambarkan betapa rendahnya makhluk sepertiku. Aku hanya bisa menggambarkannya dengan kata monster, rendahan, atau berbahaya," jelas Zero.

Mata Yuuki membulat saat melihat gurat-gurat kesedihan tampak di mata Zero, membuat kebekuan di matanya retak dan menampakkan sedikit bagian dari dirinya yang lain yang hanya dilihat Yuuki pada saat-saat tertentu saja. Membuat ekspresi kejamnya beberapa hari lalu...seolah hanya salah satu ilusinya yang lain saja.

"Lantas..." Zero mengembalikan topik, "hanya itu yang ingin kamu tanyakan sampai kamu memberanikan dirimu datang ke sarang monster seperti ini?"

"Ah, ehm...iya,"

"Kalau aku memberitahumu, memangnya apa yang mau kamu lakukan? Menyelamatkan kakakmu?" tanya Zero.

"Kalau ia terancam? Tentu saja,"

"Meski dia sudah menyerangmu?" tanya Zero lagi. "Aku yakin rasa sakit itu masih membayangimu sampai sekarang,"

Pertanyaan itu menyentak Yuuki. Ia jadi teringat kembali rasa sakit yang ia rasakan dua hari lalu. Itu rasa sakit yang buruk dan kalau bisa ia tidak ingin mengalaminya lagi.

Tapi, kalau begitu...artinya ia takut untuk melakukan sesuatu.

"Iya," jawab Yuuki berusaha memantapkan hatinya. "Meskipun dia sudah menyerang saya. Bagaimanapun dia tetap kakak saya,"

"Kamu mau melakukan apapun untuk menyelamatkannya?" tanya Zero lagi.

"Iya,"

"Meski itu perbuatan nekat dan mengancam nyawamu?"

"Iya," Suara Yuuki terdengar semakin mantap dari waktu ke waktu.

Zero mendengus, "Kepala sekolah melarangku untuk memberitahu informasi apapun padamu, jadi aku tidak akan memberitahumu,"

'Otou-san? Lagi-lagi otou-san?' pikir Yuuki tak percaya.

"Kiryuu-senpai, tolong beritahu saya. Sekali ini saja saya minta tolong pada senpai. Onegaishimasu!" Yuuki membungkuk dalam-dalam di hadapan Zero, memohon dengan seluruh keberaniannya. "Saya benar-benar takut...kalau Kaname nii-san..."

Yuuki tidak berani meneruskan kata-katanya. Ada begitu banyak pikiran-pikiran menakutkan yang menggelayuti pikirannya.

"Tetap tidak bisa," jawab Kiryuu-senpai dengan nada mutlak.

Yuuki tidak kunjung bangun, "Onegaishimasu!"

"Berapa kalipun kamu memohon, aku tidak akan berubah pikiran," kata Zero dengan dinginnya.

Meski sudah menerima jawaban mutlak itu dua kali, Yuuki tidak kungjung bangun. Ia masih berharap Kiryuu-senpai mau berubah pikiran. Namun sudah beberapa menit ia menunggu, tak ada jawaban ia dapat. Yuuki menggenggam kepalan tangannya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih.

'Kenapa aku terus memohon? Percuma saja...' pikir Yuuki. 'Kiryuu-senpai tidak akan berubah pikiran,'

"Daripada terus memohon seperti orang tidak berguna begitu..." kata Kiryuu-senpai. "Kalau aku jadi kamu, aku akan pergi ke bangunan tua di belakang sekolah sekarang juga," kata Zero.

Kalimat itu menyentak Yuuki, membuat kedua matanya membulat.

Yuuki tahu bangunan mana yang dimaksud oleh Zero. Hanya ada satu bangunan tua di belakang sekolah yang terletak di dekat kendang kuda; bangunan yang sekilas nampak seperti bekas rumah yang sudah ditinggalkan. Bangunan itu memang jarang dikunjungi oleh siswa-siswi karena sudah kelihatan lapuk. Siswa-siswi takut bangunan akan rubuh tiba-tiba saat mereka ada di dalamnya.

Mungkinkah di dalam bangunan itu...

"Kiryuu-sen—

Ketika Yuuki bangkit berdiri tegap kembali, ia hanya menemui udara kosong di hadapannya. Tak ada jejak-jejak seorang pemuda pernah berada di sana bersamanya.

"Kiryuu-senpai...?" Yuuki melihat-lihat sekeliling, mencari keberadaan pemuda itu tapi tak kunjung ditemukannya.

'Maksud Kiryuu-senpai berkata seperti itu...mungkinkah...' Yuuki menerka-nerka. 'Mungkinkah ia mau membantuku?'

Seulas senyum terkembang di wajah Yuuki. Ia membungkuk sekali lagi.

"Arigatou, senpai," Sesaat kemudian Yuuki kembali tegap berdiri.

Tanpa buang-buang waktu, Yuuki bergegas pergi meninggalkan aula asrama Moon Dorm. Ia berlari keluar dengan arah yang pasti. Namun tanpa Yuuki sadari, ada seseorang yang bersembunyi di balik dinding dengan kedua tangan mengepal keras.

.

.

Yuuki berlari ke area belakang sekolah yang sepi. Tidak ada seorang pun selain dirinya di sana. Ia pergi melewati kandang kuda dan menyusup di balik semak dan pepohonan. Kemudian, di area terpencil di dalam area sekolah, ia menemukan sebuah rumah tua yang nyaris roboh berdiri dalam kondisi yang menyedihkan tak ubahnya binatang sekarat. Rumah itu tampak tak terawat dengan banyak retakan di dinding, jendela yang hanya tersisa kusennya saja dan pintu yang sudah nyaris copot dari engselnya. Rasanya, tiupan angin saja bisa langsung merobohkan bangunan tersebut.

Yuuki melangkah perlahan mendekati rumah tua tersebut dengan mengumpulkan segenap keberanian dan kesiapan dirinya. Dengan hati-hati ia melewati pintu depan dan melangkah masuk ke dalam rumah tersebut. Suasana apek, lembab, dan bau debu langsung menyengat hidungnya. Siapapun tidak akan betah berlama-lama di dalam sana, tetapi Yuuki sudah membulatkan tekadnya. Ia mencoba untuk tidak mundur.

Yuuki mengedarkan pandangannya ke segala penjuru berharap menemukann sesuatu. Tetapi yang dilihatnya hanyalah perabot usang dan puing-puing saja. Tak ada manusia selain dirinya di ruangan itu.

'Apa Kaname nii-san benar-benar ada di sini?' pikir Yuuki ragu.

Yuuki terus melangkah lebih jauh ke dalam hingga...

TOK!

Secara reflek Yuuki menunduk menatap lantai. Kenapa tiba-tiba suara lantai berubah? Yuuki memperhatikan lebih seksama dan melihat lantai tempat dia berdiri punya gagang di salah satu sisinya.

'Ini pintu,' pikir Yuuki terkejut.

Yuuki beranjak dari lantai itu dan membuka pintu yang tak pernah diketahuinya ada tersebut. Ternyata tidak dikunci. Betapa terkejutnya Yuuki saat ia melihat di balik pintu itu ada jajaran anak tangga yang menuju ke jauh ke bawah tanah. Pintu rahasia ini menuntunnya ke sebuah jalan rahasia.

'Kemana jalan ini akan membawaku?' pikir Yuuki penasaran. Dugaan-dugaan muncul di dalam kepalanya.

Perlahan Yuuki masuk ke jalan rahasia tersebut. Ia memperhatikan langkahnya baik-baik agar tidak terpeleset. Tangga itu menuntunnya jauh ke bawah dan berakhir di hadapan sebuah pintu besi seperti pintu-pintu gerbang penjara.

Melihat betapa kokohnya pintu besi itu, tiba-tiba saja sekujur tubuh Yuuki merinding. Ia berfirasat apapun yang ditempatkan di balik pintu tersebut, kalau tidak berharga pastilah berbahaya.

Yuuki mendekati pintu tersebut. Ia memperhatikan pintu itu dan tak menemukan lubang kunci. Yuuki memegang kenopnya dan menariknya ke bawah. Yuuki terkejut karena pintunya bisa dibuka.

Gadis itu menelan ludah dengan gugup. Ia mencoba mempersiapkan dirinya untuk apapun yang mungkin akan dihadapinya di balik pintu ini. Yuuki mengambil satu langkah masuk dan membuka pintu lebih lebar.

Kedua mata Yuuki langsung terbelalak dengan shoknya saat melihat ada seseorang di dalam ruangan itu; seorang pemuda berambut gelap dalam balutan kemeja putih dan celana panjang hitam, tergeletak lemah di lantai dalam keadaan kedua tangan terbelenggu rantai yang terpasang ke dinding.

"Kaname nii-san!"

.

.

Ups...Cliffhanger, deh ;-p

Hehehe...silahkan tunggu updetan selanjutnya, ya.

Dan...owh, untuk sudut pandang, author mungkin akan melakukan perubahan. Habis...author merasa nyaman menggunakan sudut pandang orang ke-3.

Baiklah, please R&R?