Preview chapter sebelumnya...
"Hmph, ini bukannya berarti aku peduli atau apa nanodayo, tapi kau ini benar-benar orang yang aneh"
"Tunggu, Akashi-san!"
"Berhenti melakukannya. Mulai sekarang, kau tidak boleh datang kesini lagi"
"Seriracchi?! Kau kenapa ssu?"
"Maaf. Aku tidak akan datang ke sini lagi.."
"Ara, Seira-chan kah?"
"Terima kasih, baasan. Haaaah~ belakangan ini aku merasa kelelahan sekali~"
'..pemuda itu sebenarnya menaruh perhatian yang besar kepadamu'
"Itu karena kau tidak menaati peraturan sekolah untuk langsung pulang ke rumah"
"Akashi-san melihatnya?"
Holaaaa minna~
Oke, langsung saja saya akan memberitahukan apa kejutan yang saya maksud kemarin(?)
Jadi, kejutannya adalah...
Jang jaaaaaang~! Ini adalah chapter terakhirnya 'Unspoken Love' ssu!
Eiiiit.. tunggu dulu, jangan lemparin saya dengan gunting-gunting itu. Nanti dibawah saya akan menjelaskan kenapa saya mengatakan bahwa ini adalah chapter terakhirnya~ :D
Se~No! Happy reading ssu~
Hari ini adalah hari dimana selesainya ujian tengah semester bagi seluruh angkatan di Teikou Academy. Hari ini bertepatan juga dengan sudah sekitar dua minggu Seira tidak bertemu dengan Kiseki no Sedai. Maklum, ia memfokuskan diri untuk ujian kali ini.
Ujian sudah berakhir. Sekarang tinggal menunggu saja kalau-kalau ada mata pelajaran yang remedial. Seira sih tidak perlu pusing memikirkan remedial, semua mapel ujian yang diikutinya pasti lulus dengan nilai yang memuaskan—itu kata Yukari.
Sebenarnya, untuk mengisi waktu luang dalam seminggu ini Seira berencana ingin menemui anggota Kiseki no Sedai. Kangen rasanya. Ia kan sudah dekat dengan mereka semua, wajar saja Seira merasa kehilangan saat ia dilarang datang ke gym.
Temui. Tidak. Temui. Tidak. Temui. Tidak..
Seira bingung untuk menentukan pilihan yang akan ia ambil. Apakah ia membiarkan dirinya terancam bahaya gunting yang dipastikan akan menghujaninya demi menghilangkan rasa rindunya ataukan ia memilih untuk menjaga keselamatan diri tapi ia akan terus-menerus dilanda rasa rindu?
Hm.. rasanya pilihan kedua bukan ide yang baik. Oke, Seira memilih pilihannya yang pertama. Mungkin saja ini sudah waktunya ia untuk kembali berhadapan dengan sang kapten Tim Basket Teikou Academy itu.
Seira melirik tas yang sedari tadi ia genggam di tangan kanannya. Ia sudah membawa beberapa kue dari rumahnya. Mungkin memang benar, ia sudah berniat dari awal untuk menemui mereka semua hari ini.
"SEIRACCHI!"
Teriakan dari Kise lah yang pertama kali ia dengar saat melangkah masuk ke dalam gedung. Disusul oleh teriakan Momoi dan tatapan terkejut dari anggota lainnya. Kuroko dan Akashi tidak termasuk. Kenapa? Pertama, karena wajah Kuroko minim ekspresi. Kedua, Akashi sedang tidak berada di dalam gedung olahraga.
Pelukan maut dari Kise dan Momoi menjadi hadiah pertama yang Seira terima. Jujur saja ia sangat senang dan lega mendapat respon seperti itu.
"Akhirnya Seira datang ke sini~" ujar Momoi yang tengah memeluk Seira.
"Iya ssu! Kami semua merindukan Seiracchi!" tambah Kise. Pemuda satu ini terlihat begitu antusias serta bersemangat.
"Tidak. Tidak semuanya nanodayo" komentar Midorima. Pemuda hijau itu membenarkan letak kacamatanya sambil mendelik tajam ke Kise.
"Heee~ Midorimacchi terlalu tsundere untuk mengakuinya ssu~"
"Aku tidak tsundere nanodayo!"
Seira tertawa kecil mendengar percakapan antara Kise dan Midorima. Benar, inilah yang ia rindukan. Semua canda tawa yang ia hanya dapatkan disini dari para pemuda berambut pelangi beserta sang manager cantiknya.
"Hentikan semua ini nanodayo! Dan Seira, lebih baik sekarang kau menjelaskan masalahmu waktu itu dengan Akashi nanodayo!"
"Heee?"
Kelopak mata Seira melebar mendengarnya. Kenapa tiba-tiba diungkit masalah ini lagi? Dan kenapa Midorima lagi yang memulainya?
"Benar yang Midorin katakan Seira. Mungkin saja kami semua bisa membantu" kata Momoi. Gadis itu menepuk pundak Seira pelan diiringi senyuman kecil.
Wajah Seira tertunduk. Menceritakan masalahnya ya..
"Sejak Seira-chin bertengkar dengan Aka-chin waktu itu, hampir setiap hari gunting Aka-chin selalu melayang"
Sang Center pun ambil suara dalam percakapan ini. Pertahanan Seira yang semula tidak mau memberitahukan alasan pribadinya dalam masalah Akashi, kini mulai runtuh. Semuanya jadi menderita karena perdebatannya dengan Akashi waktu itu.
Dengan satu hembusan nafas panjang, akhirnya Seira memutuskan untuk menceritakannya. Yang lainnya pun bersiap mendengarkannya dengan serius—untuk Murasakibara, Aomine, dan Midorima diragukan keseriusannya.
"Aku bertengkar dengan Akashi-san karena aku memaksanya untuk melepaskan topengnya itu.."
"Huh? Topeng? Memangnya Akashi memakai topeng?"
"Bukan topeng yang seperti itu, Aomine-san" Seira menatap tajam Aomine yang memotong pembicaraannya. "Topeng dalam artian lain. Maksudnya, aku memaksa Akashi-san untuk menunjukan dirinya yang asli"
"Jadi maksud Seira, Akashi-kun yang sekarang ini bukan Akashi-kun yang asli?" tanya Momoi. Seira mengangguk singkat untuk menjawabnya.
"Darimana Seiracchi tahu hal itu ssu?"
"Karena aku sama sepertinya"
"Sama?"
"Iya. Sebenarnya aku ini putri dari pemilik perusahaan Yume Group. Aku mengalami dan juga merasakan apa yang Akashi alami selama ini. Semua peraturan-peraturan yang diberikan oleh tousan sejak aku masih kecil, hilangnya kebebasanku, dan kesiapanku untuk menjadi calon pewaris perusahaan.. semua itu aku alami. Akashi-san juga. Hanya saja, aku memilih jalan yang berbeda dengan Akashi-san"
"Apa maksudmu dengan jalan yang berbeda nanodayo? I-ini bukan berarti aku penasaran atau apa nanodayo!"
Midorima memalingkan wajahnya—menolak untuk bertatap mata dengan sang pencerita. Seira sempat tersenyum kecil melihat kelakuan tsundere-nya Midorima sebelum melanjutkan penjelasannya.
"Aku memilih untuk kabur dari semua itu, sedangkan Akashi-san memilih untuk menerimanya. Dia menerima semua tugas dan peraturan yang ditetapkan oleh ayahnya"
Jeda waktu sejenak. Yang lain masih serius mendengarkan.
"Oleh karena itu, melihat Akashi-san yang sekarang ini rasanya.. rasanya aku seperti melihat diriku yang seandainya tidak kabur waktu itu. Terkurung dalam sangkar yang tiap harinya terus memberikan tekanan. Begitu rapuh sampai-sampai tidak mampu mengepakkan sayap dengan bebas. Untuk itu.."
Air mata yang tadinya menumpuk di pelupuk mata Seira kini mulai berjatuhan.
"Aku ingin membantunya. Aku ingin menyelamatkannya. Aku ingin melihat Akashi-san bebas menunjukan ekspresinya maupun perasaannya.."
"Seira.."
Momoi mendekap Seira sambil sesekali mengelus-ngelus punggungnya. Jari-jemarinya menghapus air mata yang mengalir di kedua pipi Seira.
"Aku hanya ingin membantunya. Aku hanya ingin ia merasa bebas..."
Isak tangis Seira mulai terdengar ke seisi gedung olahraga. Ya, dikarenakan kondisi gedung hanya diisi oleh Kiseki no Sedai serta keenam orang yang disana sedang mendengarkan penjelasan Seira—meski diselingi dengan bunyi kunyahan Murasakibara—, suara tangisan Seira terdengar jelas bagi siapapun yang berada disana.
"Ini pertama kalinya aku melihat Seiracchi menangis ssu. Apa hal ini sangat membebaninya ssu?" tanya Kise kepada Kuroko. Sesekali iris madunya menatap Seira yang tengah menumpahkan semua air matanya yang selama ini ia tahan di pundak Momoi.
"Mungkin saja, Kise-kun" balas Kuroko singkat plus wajah datarnya. Tiba-tiba saja terputar di pikirannya memori saat ia masih TK.
-flashback-
"Ceila-can cedang menunggu ciapa?" tanya Kuroko kecil pada Seira yang berdiri di gerbang TK. Dilihatnya sedari tadi, Seira terus menatap ke sekeliling TK.
"Ceila cedang menunggu baacan" balas Seira. Ia menatap temannya yang bersurai biru langit sambil terus cemberut.
"Bukan menunggu ayah dan ibu Ceila-can?"
"Bukan, Teccan. Ceila tinggal dengan baacan. Ceila tidak tinggal dengan oltu Ceila. Makanya Ceila menunggu baacan"
-end flashback-
"Seira-san tinggal di rumah obaasan kan sewaktu kecil?" tanya Kuroko.
Seira menatap iris biru langit teman kecilnya perlahan. "Iya. Tapi sekarang aku sudah tinggal bersama orangtuaku". Sesekali masih terdengar isak tangis Seira meskipun kini tangisannya mulai mereda.
"Jadi masalah yang tersisa tinggal Akashi saja ya" gumam Aomine.
"Akashi..."
Semuanya menoleh ke arah Midorima saat mendengar Midorima mengucapkan nama Akashi dengan intonasi yang aneh.
"Ada apa dengan Akashicchi, Midorimacchi?"
Bukannya menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Kise, Midorima malah mengarahkan tangannya untuk menunjuk pintu masuk gedung. Disitulah mereka semua baru sadar bahwa Akashi sudah lama berdiri disana memperhatikan mereka.
Akashi hanya menyeringai kecil melihat reaksi rekan setimnya sekaligus Momoi yang terkejut seperti melihat hantu—Seira tidak termasuk karena ia masih mengatur tangisannya. Mereka pikir Akashi ini hantu apa?!
Perlahan, Akashi mulai melangkahkan kakinya mendekati Seira yang terduduk disamping Momoi.
"Akashi-kun, ini—"
"Diam, Tetsuya"
Tap.. Tap.. Tap...
Jarak diantara Akashi dan Seira semakin mendekat. Seira mulai pasrah. Mungkin saja gunting Akashi akan melukainya lebih parah dibandingkan sebelumnya. Gadis bermarga Akari itu hanya menundukkan wajahnya menghadap lantai gym. Pasrah atas apa yang akan Akashi lakukan nanti kepadanya. Anggota yang lain juga pasrah. Beberapa diantara mereka mulai memperkirakan apa yang akan terjadi.
PUK
Diluar dugaan mereka semua—termasuk Seira sendiri—, Akashi malah meletakkan tangan kanannya diatas kepala Seira. Kemudian ia menggerak-gerakkan tangannya untuk mengacak-ngacak rambut Seira pelan.
"Berhenti menangis"
Seira mendongakkan wajahnya perlahan saat mendengar perkataan—yang mungkin baginya adalah perintah—dari Akashi.
"Anak pintar.." lanjut Akashi. Pemuda itu masih mengacak-ngacak helaian rambut Seira saat melihatnya sudah berhenti menangis.
Beberapa saat kemudian, Akashi kembali berdiri—sebelumnya ia membungkuk saat mengacak-ngacak rambut Seira. Pemuda bersurai merah cerah itu berbalik dan berjalan menuju pintu gym. Yang lainnya hanya bisa menghela nafas panjang.
"Akashi-san.."
Akashi menoleh kan kepalanya sedikit mendengar Seira memanggil namanya. Perlahan, iris heterokom-nya mulai menangkap sosok Seira kini tengah membungkukkan badannya dalam posisi duduk. Kening gadis itu sekarang sudah menyentuh lantai gym.
"Aku minta maaf atas perbuatanku sebelumnya. Aku hanya—"
"Aku mengerti. Lagipula, Seira..."
Akashi menhentikan perkataannya. Rekan setimnya mulai penasaran apa yang akan dikatakan oleh Akashi. Sementara Seira sendiri mendongakkan wajahnya untuk melihat apa yang dilakukan oleh Akashi sekarang.
"Tidak ada salahnya bukan untuk membebaskan diri sesekali?"
BRUSHH~
Angin yang masuk melalui pintu gedung membuat rambut merah Akashi bergoyang. Cape Teikou Academy yang ia pakai juga melambai-lambai karenanya. Angin di musim gugur memang indah. Hebusan angin tadi membuat beberapa helai daun dari pohon yang ada di depan gedung olahraga berguguran tepat dibelakang Akashi.
Namun, bukan pemandangan dari daun-daun tersebutlah yang menarik perhatian Seira. Memang, itu salah satu yang membuatnya melebarkan kelopak matanya. Tapi hal yang justru membuat Seira terkesima itu karena saat daun-daun berguguran di belakang Akashi, sang kapten sedang menatapnya dengan seulas senyuman.
Ya, seulas senyuman.
Senyuman Akashi yang pertama Seira lihat.
Mungkin bukan hanya Seira melainkan juga Kiseki no Sedai.
Padahal, baru saja beberapa menit yang lalu tangisan Seira berhenti dikarenakan perintah dari Akashi, tetapi sekarang air matanya kembali menuruni kedua pipi Seira. Gadis itu sangat bersyukur sekarang. Lega serta bahagia kini memenuhi perasaannya saat ini.
Syukurlah, usahanya selama ini tidak sia-sia.
Ternyata tanpa Seira ketahui semenjak insiden perdebatannya waktu itu, secara perlahan topeng Akashi mulai luntur. Pemuda itu hanya tidak tahu harus menunjukkan dirinya serta perasaannya—yang selama ini selalu tertahankan—atau tidak. Karakter keras dan dinginnya selama ini adalah hasil dari bimbingan yang diberikan oleh tousan-nya sejak kecil.
"Ah ya, Seira.." Akashi melirik Seira yang masih diam di posisinya akibat senyumannya tadi. Seira hanya melemparkan tatapan penuh tanya untuk membalasnya. Lidahnya masih kelu untuk mengeluarkan sepatah kata pun.
"Kau putri dari pemilik Yume Group kan?"
"I-iya?"
Seira bingung karena tiba-tiba Akashi menanyakan hal tersebut. Ada apa?
"Sejak lama perusahaan tousan bekerja sama dengan perusahaan itu. Nanti malam, aku beserta orang tuaku akan berkunjung ke rumah dari pemilik Yume Group. Itu berarti rumah yang akan dikunjungi keluargaku adalah rumahmu kan?"
Kedua mata Akashi menatap lurus ke arah Seira. Seira sendiri malah terkejut dan baru menyadari bahwa selama ini ternyata keluarganya berhubungan dengan keluarga Akashi.
"Iya. Memangnya ada keperluan apa?"
"Hm, keperluan apa ya..." Akashi memasang ekspresi seolah-olah ia lupa apa tujuan keluarganya ingin mengunjungi keluarga Seira.
Seira dan yang lainnya menatap Akashi dengan penuh rasa penasaran. Apa keperluan keluarga Akashi ya?
"Ah, untuk melamarmu mungkin?"
"Oh.. begit—APAAA?!"
Semuanya terkecuali Akashi terkejut bukan main atas perkataan Akashi. Bahkan Kuroko yang pada dasarnya minim ekspresi itu sempat menunjukkan ekspresi terkejutnya walau hanya dalam hitungan detik. Murasakibara yang biasanya tidak memperdulikan hal lain selain makanan kini menjatuhkan bungkus snack yang ia pegang. Midorima juga terkejut hanya saja ia menutupinya dengan sifat tsundere akut miliknya. Sementara itu Aomine, Kise, dan Momoi berteriak histeris yang menambah efek dramatisasi dari perkataan Akashi.
Wajah Seira sendiri sudah memanas dan merah. Apa-apaan maksud Akashi itu? Ia kan masih kelas 2 SMA! Jangan-jangan selama ini kedua orang tuanya menyembunyikan suatu hal dari Seira.
"Kalian semua bodoh sekali mempercayai hal itu, terutama kau Seira. Tentu saja orang tuaku datang berkunjung untuk membahas bisnis perusahaan" kata Akashi.
Kali ini wajah Seira lebih memerah dibandingkan tadi. Jadi Akashi menipunya? Tapi kenapa seperti itu? Itu sama sekali tidak lucu! Itu kan sama saja seperti Akashi mempermainkan perasaannya.
Mungkin.
Memangnya kapan sih Akashi pernah memainkan perasaan seorang perempuan? Mungkin Seira-nya yang terlalu naif karena perkataan seperti itu saja sudah mampu membuanya blushing berat.
Tapi siapa juga sih yang tidak blushing kalau mendapat kata-kata seperti itu dari seorang Seijuurou Akashi.
"Hi.."
"Hm?"
Akashi melirik Seira yang menundukkan wajahnya dan juga mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Hidoi! Mou, Akashi-san me.. me.." Seira makin mengeraskan kepalan tangannya seolah-olah ia sedang menahan emosinya yang siap meledak sekarang juga.
"AKASHI-SAN MENYEBALKAN!" teriak Seira yang kemudian langsung berlari menjauh dari tempat perkara kejadian. Momoi dan Kise berlari mengejar. Aomine tertawa melihat Seira yang ditipu oleh Akashi seperti itu. Midorima hanya membenarkan letak kacamatanya dan Murasakibara kembali memakan snacknya.
Sementara itu Akashi hanya tersenyum kecil melihat Seira yang berlari menjauh sambil mengomel-ngomel hal yang tak jelas tentang dirinya. Kemudian sang kapten menyadari keberadaan Kuroko yang melangkah mendekatinya.
"Ada apa, Tetsuya?"
"Kenapa Akashi-kun tidak mengatakan yang sebenarnya?"
Sebelah alis mata Akashi terangkat mendengarnya.
"Apa maksudmu?"
"Aku tahu kalau Akashi-kun mengatakan hal yang sebenarnya tentang keluarga Akashi-kun yang ingin membicarakan masalah perusahaan dengan keluarga Seira-san. Tetapi kenapa Akashi-kun tidak mengatakan bagaimana perasaan Akashi-kun yang sebenarnya terhadap Seira-san?"
Akashi kembali tersenyum kecil. Tidak biasanya pemain bayangan Kiseki no Sedai ini banyak bicara.
Sebelum menjawab pertanyaan Kuroko, Akashi melemparkan pandangannya sebentar ke arah Seira yang sekarang sedang curhat ke Momoi dan Kise. Tatapan matanya melembut melihat si gadis beriris ruby itu.
"Bisa seperti ini terus saja sudah cukup untuk sekarang ini, Tetsuya.." jawab Akashi. Kuroko ikut mengalihkan penglihatannya ke objek yang menjadi tujuan tatapan Akashi. Teman kecilnya itu mungkin sudah benar-benar meruntuhkan topeng dari sang kapten.
"Hai. Aku mengerti maksudmu, Akashi-kun..."
-owari-
Baiklah sesuai janji saya diatas, saya akan menjelaskan kepada kalian kenapa ini merupakan chapter terakhir dari Unspoken Love.
Jadi alasan pertama saya menamatkannya disini dengan ending yang sangat menggantung seperti itu karena judul ffnya. Kenapa judul ffnya? Di scene ending saat Kuroko bertanya kepada Akashi itu sebenarnya adalah scene cadangan karena Akashi menolak memakai scene aslinya. Seperti inilah scene yang aslinya...
Kuroko: "Kenapa Akashi-kun tidak mengatakan yang sebenarnya?"
Akashi: "Apa maksudmu?"
Kuroko: "Aku tahu kalau Akashi-kun mengatakan hal yang sebenarnya tentang keluarga Akashi-kun yang ingin membicarakan masalah perusahaan dengan keluarga Seira-san. Tetapi kenapa Akashi-kun tidak mengatakan bagaimana perasaan Akashi-kun yang sebenarnya terhadap Seira-san?"
Akashi : "Itu karena judul dari cerita ini adalah Unspoken Love, Tetsuya. Jika aku mengatakan perasaanku yang sebenarnya maka judulnya menjadi tidak cocok"
Awalnya seperti itu scene-nya. Tapi, Akashi mengancam saya akan menghujani saya dengan gunting selama 7 hari 7 malam kalau tidak diganti. Maka dari itu scennya berubah menjadi seperti itu.
Yang kedua, setelah tau bahwa hubungan diantara Seira dengan Akashi masih menggantung dan tidak jelas seperti ini maka dari itu saya berniat membuat antara omake panjaaaaang atau sequel berchapter. Untuk itu saya minta bantuan dari kalian semua! Mohon pendapat kalian ya, lebih milih omake panjaaaang atau sequel berchapter? Tolong bantuan pendapatnya ya~
Soalnya, saya sudah mempersiapkan 2 alur yang berbeda untuk itu. Jadi pilihan dari kalian semuanya lah yang menentukan nasib hubungan Akashi dan Seira!
Hm, chapter ini saya update kilat karena saya punya firasat kalau mulai minggu depan tugas saya semakin banyak. Jadi begitulah, saya update ini sekarang. Semoga chapter terakhir ini kalian suka yaaaa!
Oke deh!
Special Thanks to:
enjoytea3
UseMyImagination
Haruna Tachikawa
loliconkawaii
Yuki Kineshi
Guest
cannary kin
4titude4ever
Nisa Piko
ScarletBlood04
Akibahara Hisui
ChizuGawa
Zeze95
babanana
baka-nyan4
IoDwi
Terima kasih juga buat seorang sahabatku serta teman sekolahku yang udah jadi silent readers di ff ku yang ini! Saya juga berterima kasih kepada kalian, para silent readers! Terima kasih sudah mendukung Unspoken Love sampai sejauh ini~ *bows*
Antara omake atau sequel nya itu saya akan publish satu bulan dari sekarang. Setelah pendapat dari kalian masuk lalu saya hitung yang terbanyaknya, maka saya akan langsung ketik alurnya.
Sekian dari saya. Sampai jumpa lagi diantara 'omake' atau 'sequel' dari Unspoken Love!
Jaa, minna! Arigatou gozaimasu!
