Disclaimer: Tite Kubo.
Warning: AU, OOC (maybe), typo(s).
Rate: T
Pair: Ggio Vega and Suì Fēng.
Genre: Adventure, maybe crime, and maybe romance.
Edited by spiralcandy.
Ensnare's Fate
Chapter 6
DOR!
Bersamaan dengan meluncurnya selongsong peluru dari pistol Soifon, Loly langsung membungkukkan tubuhnya. Loly terkekeh. "Kaukira baru berapa lama aku berlatih untuk menghindari selongsong peluru?" tanya Loly.
Soifon mendengus, senjata tajam di tangannya pun sudah mulai memanjang. Sepasang kaki kecil itu langsung berlari dan mengayunkan tangan kanannya.
TRING!
Kedua gadis manis itu mulai bertarung. Loly tidak terlihat kesulitan sama sekali, walaupun ia mengenakan kimono yang otomatis memperkecil lingkup serangannya. Tapi itu bukan masalah yang besar.
Soifon mengangkat kakinya dan menendang Loly, tapi gadis itu menekuk kakinya dan menendang kaki Soifon dengan lututnya. Gerakkan Soifon terhenti, Loly menggunakan kesempatan itu untuk membuat trademark-nya di lengan Soifon.
Loly mengangkat tangannya dan bersiap mengayunkan belatinya. Belati yang harusnya menancap di lengan Soifon itu tertahan di permukaan. Loly memiringkan kepalanya lalu menyeringai.
Saat menyadari benda berwarna emas itu melindungi tangan Soifon. Kaki Soifon yang masih mengudara ia gerakkan ke kiri dan menghantam wajah Loly hingga gadis itu tersungkur.
Tanpa membuang waktu, Soifon segera berlari untuk mendekati Loly yang masih tergeletak di tempatnya.
DOR!
Langkahnya langsung terhenti saat mendengar suara tembak yang berasal dari belakang tubuhnya. "Akh!" erang Soifon saat selongsong peluru itu menyerempet perutnya.
Soifon memegangi tepian perutnya yang mulai mengeluarkan darah dan menembus baju serta mantelnya. Soifon memutar kepalanya dan menatap seseorang perempuan berambut pirang dengan bola mata emerald-nya yang berdiri tak jauh darinya.
Perempuan itu melangkahkan kakinya mendekati Soifon, tangannya dengan aktif memutar pistol di tangannya yang semakin memperkuat bukti bahwa dialah yang menembak Soifon—walau tembakannya meleset.
Tembakannya meleset? Tidak, tembakan itu sengaja dibuat meleset. Soifon menggerakkan bola matanya ke kanan saat menyadari Loly telah berdiri dari posisinya.
Suara heels yang ditimbulkan dari sepatu mereka masing-masing, seolah menjadi melodi pengantar kematian Soifon. Dua lawan satu itu mustahil, walau Soifon adalah kapten klub karate sekalipun.
Yang bisa Soifon lakukan sekarang adalah memilih: ingin dibunuh oleh perempuan berambut pirang itu atau perempuan ber-kimono yang tadi dia tolong. Cairan merah itu mulai menetes ke aspal, padahal tangan Soifon masih setia memegangi lukanya, berusaha untuk menghentikan pendarahannya.
Tapi tampaknya, darah yang keluar terlalu banyak. Menoly menarik kerah baju Soifon hingga memperkecil jarak kepala mereka. "Yang boleh melukai dia hanya aku," desisnya
BOUGH!
Dengan pistol silver itu, Menoly memukul wajah Soifon sebagai balasan karena tadi gadis itu menendang wajah Loly. Pukulan barusan keras, terlihat darah yang mulai mengalir dari hidungnya.
Soifon mengatupkan sepasang bola matanya, dia sudah tak peduli lagi jika kedua perempuan itu mencabik-cabik tubuhnya. Semakin lama, sepasang kelopak matanya semakin enggan untuk terbuka.
Dan tak lama kegelapan pun mulai menyambutnya. Dia pingsan.
Menoly melepaskan cengkramannya dan menjatuhkan tubuh Soifon ke aspal. Lalu, sebuah jentikkan dari Loly dan segerombolan pria berbadan kekar langsung menghampiri mereka lalu mengangkut tubuh Soifon.
Dan kedua gadis itu masuk ke dalam mobil yang telah menunggu mereka di ujung jalan.
xXxXx
KRIIIING!
Seorang wanita ber-kimono menjulurkan tangannya dan mengambil gagang telepon di dekatnya. "Halo," sapanya. Tak lama suara berdehem terdengar dari speaker telepon itu. "Ah, Kyoraku-san," tebak Unohana.
"Unohana-san, bisa kaudatang ke Okinawa sekarang?" tanya Kyoraku. Unohana terdiam sejenak dan memperhatikan pintu shoji di depannya. "Dan jemput, Soifon-san yang mungkin, sedang terluka di sana," sambung Kyoraku.
Unohana memejamkan mata sejenak dan menghela napas. "Baik, aku akan menjemputnya," ucap Unohana lalu menutup telepon itu.
"Isane," panggil Unohana pelan. Dan seseorang yang berdiri di depan pintu shoji itu segera masuk ke dalam ruangan Unohana. "Aku akan ke Okinawa sekarang, persiapkan semuanya," perintah Unohana.
Gadis berambut silver itu membungkukkan badan. "Baik, Unohana-sama," jawabnya dan kembali keluar dari ruangan itu.
xXxXx
Sebuah mobil limosin berhenti di depan gerbang sebuah kastil bergaya tradisional di Okinawa. Seorang pria berjalan mendekati mobil itu dan membukakan pintu di bagian belakang mobil itu.
Saat pintu itu terbuka, seorang gadis ber-kimono turun dan disusul dengan kembarannya yang berambut blonde pendek. "Okaerinasaimasen, Loly-sama to Menoly-sama," sambut pria itu sambil membungkukkan badannya.
"Bawa gadis itu ke kamarku," perintah Loly dan segera masuk ke dalam kastil. Kedua perempuan itu menyusuri koridor kastil yang masih sangat tradisional. Gin memang tidak memerintahkan mereka untuk merenovasi bangunan itu.
Menoly memutar kepalanya untuk mengamati halaman kastil yang sedang mereka lewati. Menoly menyipitkan matanya saat melihat seorang pemuda sedang berdiri di tepi kolam sambil melemparkan kerikil yang ada di tangannya.
Tanpa sadar, Menoly telah menghentikan langkahnya. Loly berbalik dan menatap Menoly. "Menoly," panggil Loly. Menoly mengerjapkan matanya dan melirik Loly sekilas.
"Kau masuk saja duluan," ucapnya dan segera berlari menghampiri pemuda yang tak lain adalah Tesla. Loly memahami maksudnya dan segera berjalan menuju kamarnya.
Menoly berjalan perlahan menuju Tesla yang memunggunginya berusaha agar pemuda itu tidak menyadari kehadirannya. "Apa yang kalian lakukan pada Soifon?" tanya Tesla.
Menoly menghela napas dan berjalan cepat ke samping pemuda itu. "Hanya membuatnya diam," ucap Menoly. Tesla mengerti maksud 'membuat diam' yang baru saja Menoly katakan.
"Kenapa kau bisa ada di sini? Bukankah seharusnya kau sedang mengawal Apache?" tanya Menoly. Memang aneh, jika melihat Tesla berkeliaran di kastil yang bahkan tidak ada tuannya di dalamnya.
"Hanya mengecek keadaan. Kau tahu, Ggio akan datang ke sini," jawab Tesla sambil melemparkan krikil terakhir yang ada di tangannya. "Baiklah, aku kembali ke kamarku dulu, Menoly...-sama," pamitnya dengan menekan kata –sama.
Menoly menggigit bibir bawahnya saat memandangi punggung Tesla yang semakin menjauh. Mereka sama-sama tahu, bahwa hubungan mereka tidak terlalu baik. Bukan, bukan hubungan antara majikan dan bawahan, melainkan hubungan sebagai mantan kekasih.
Hubungan yang tidak mungkin bertahan lama karena perbedaan status. Dan mereka juga sama-sama tahu, bahwa mereka masih menyukai satu sama lain. Dan hari ini adalah pertemuan pertama mereka setelah dua tahun sejak mereka memutuskan hubungan mereka.
"Tunggu!" perintah Menoly. Tesla menghentikan langkahnya tapi dia belum memutar badannya untuk menatap iris emerald milik gadis yang masih sangat ia cintai itu.
"Tatap aku," perintah Menoly lagi. Tesla bergeming dan juga tidak mengucapkan satu kata pun. "Aku memerintahkanmu untuk berbalik dan menatapku, Tesla Lindocruz," desis Menoly.
Tesla berbalik. "Apakah kau begitu membenciku?" tanya Menoly dengan suara yang mulai bergetar. Terang saja, dia mengharapkan Tesla akan tetap tersenyum hangat kepadanya walaupun mereka bukan lagi sepasang kekasih.
"Padahal kau yang menolak untuk menjadi pengawalku," sambung Menoly. Ya, semua berawal ketika Tesla menolak tawaran Menoly untuk menjadi pengawalnya dan memilih Apache untuk menjadi tuannya. Begitulah akhir dari hubungan mereka.
Memang tidak ada yang mengatakan dengan jelas bahwa hubungan mereka berakhir, tapi tindakan Tesla yang memilih menjauh darinya sudah lebih dari cukup.
Perlahan, pelupuk mata Menoly mulai penuh akan air mata yang bersiap untuk meluncur turun ke pipinya.
Tesla masih membungkam mulutnya dan melangkah mendekati Menoly. Tesla menjulurkan tangannya untuk menyentuh rambut Menoly dan mengelusnya seperti dulu. Namun saat sedikit lagi tangan itu menyentuh puncak kepala Menoly—
PLAK!
—seseorang menepis tangannya. Tesla menggelindingkan bola matanya ke kiri dan menatap tajam seorang pemuda berambut pirang pucat panjang dan berdiri di samping Menoly.
Menoly memutar kepalanya ke belakang. "Yylfordt," ucap Menoly. Pemuda itu tidak mengabaikan ucapan Menoly dan balas menatap tajam Tesla.
"Dilarang menyentuh seseorang yang bukan tuanmu, terlebih dia adalah pemimpin yang sedang bertugas di tempat itu. Baca lagi bukumu, Lindocruz," ujar Yylfordt dan membungkukkan badannya di hadapan Menoly. "Nona, kita kedatangan tamu," info Yylfordt.
Pemuda yang ditunjuk Menoly sebagai pengawalnya setelah Tesla itu mengulurkan tangannya. Menoly melirik Tesla yang terlihat menggeram marah. Tanpa meninggalkan sepatah kata pun Tesla berbalik dan meninggalkan mereka berdua.
"Nona," panggil Yylfordt. Menoly menoleh dan menyambut uluran tangan itu. Yylfordt pun menuntun Menoly menuju ruangannya. Menoly hanya mengatupkan kelopak matanya sejenak dan berusaha mengeringkan air mata yang belum sempat terjatuh itu.
"Nona, tamu kita adalah... Ggio Vega-sama," ucap pemuda itu. Menoly terdiam, dan detik berikutnya gadis itu menyeringai.
"Kautemui dia dulu, aku akan berganti baju sebentar," perintah Menoly dan menarik tangannya dari genggaman Yylfordt.
xXxXx
Soifon membuka kelopak matanya dengan perlahan. Semuanya masih terasa buram di matanya. Soifon mengerjapkan matanya beberapa kali dan saat itulah dia baru tersadar.
"Di mana aku?" gumam Soifon kaget dan langsung menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Dia mengamati kelambu yang menutupi tempat tidur berukuran king size itu.
Lalu, pandangan matanya beralih ke sekeliling ruangan itu. Ruangan yang dipenuhi dengan kaca di sekelilingnya. "Kau sudah sadar, rupanya," ujar seseorang yang sudah berdiri di belakang Soifon. Gadis berkepang itu memutar kepalanya dan bertemu pandang dengan iris pink orang itu, Loly.
"Tenang, kau belum mati, kok," lanjutnya sambil terkekeh. Loly meringsut turun dari kasur itu dan berjalan ke tengah ruangan. "Aku dengar kau mencari sebuah benda peninggalan klanmu."
Jemari lentik Loly mulai menekan sebuah remote dan tiba-tiba lantai—yang hanya berjarak sepuluh langkah dari Loly—berlubang dan muncul sebuah tabung yang mengurung sebuah kalung.
"Apa yang kaucari benda itu?" tanya Loly sambil mengarahkan jari telunjuknya ke tabung itu. Soifon menyipitkan matanya dan menyibakkan kelambu yang menganggu pandangan matanya.
Sepasang bola mata abu itu langsung terbelalak. Iya, itulah benda berikutnya, lambang klan-nya tercetak indah di tengah-tengah kalung itu. Soifon melangkah turun dari kasur itu dan berjalan menuju tabung itu.
Langkahnya sedikit terseok karena luka di perutnya yang belum menutup. Loly pun tidak tinggal diam, dan ikut mendekati tabung itu. Soifon semakin mempercepat langkahnya.
Tapi, Loly telah berdiri di samping tabung itu. "Kau menginginkannya?" tanya Loly sambil menyeringai. Tangannya ia kepalkan dan angkat tinggi-tinggi.
DUK!
PRANG!
Kaca yang mengurung kalung itu hancur begitu saja. Tetes demi tetes darah pun mulai mengalir turun dari tangan Loly yang terluka akibat menghancurkan kaca itu. Tangannya terjulur dan mengambil kalung itu.
"Rebut benda ini dariku," tantang Loly dan mengalungkan kalung itu di lehernya. Tangannya meraih busur panah yang terletak tak jauh darinya. Loly mengarahkan anak panahnya ke kepala Soifon.
SYUUUUT!
Soifon terpaku di tempatnya.
xXxXx
"Di mana Soifon?" tanya Ggio saat Menoly memasuki ruangan itu. Menoly belum merespon dan berjalan mendekati Ggio, lalu dia melirik Yylfordt yang tengah terkapar tak sadarkan diri di sudut ruangan.
"Berikan aku satu alasan kenapa aku harus memberitahumu?" tanya Menoly dengan sebelah alis yang terangkat. Ggio menyiapkan senjata tajamnya.
Sudah dari dulu, dia ingin bertarung dengan gadis itu. Gadis yang sering meremehkannya karena dia lebih tua dan gadis yang pernah mengajarinya bagaimana caranya menembak.
"Aku akan membuatmu memberitahukannya kepadaku," sumpah Ggio dan langsung menyerang Menoly. Tesla mengamati pertarungan Ggio dan Menoly dari balik pintu yang tadi dilewati Menoly.
Awalnya, pertarungan itu terlihat seimbang. Tapi semakin lama Menoly semakin terdesak. Ggio menjulurkan tangannya bersiap menusuk perut Menoly dengan senjatanya, tapi Menoly langsung melompat ke samping dan menendang kaki Ggio.
Tendangan itu tidak kuat, tapi yang menyebalkan adalah heels dari sepatu Menoly yang mengenai tulang kering Ggio hingga membuat pemuda itu mengambil langkah mundur. Ggio berdecak, inilah yang paling ia benci dari bertarung dengan perempuan.
Menoly mengambil pistol yang tergantung manis di pinggangnya. Tanpa ragu-ragu Menoly mengarahkan ujung pistol itu ke kepala Ggio. Pemuda bermata emas itu pun mengeluarkan pistolnya.
DOR!
Menoly menembak lebih dulu. Ggio hanya menggeser kepalanya sedikit dan peluru itu melewati wajahnya dan menembus dinding sebelahnya. Tembakan berikutnya Menoly lancarkan dengan lebih cepat.
Ggio sedikit kewalahan dalam menghindarinya dan mencari tempat bersembunyi untuk sementara. Ggio mengamati ruangan itu yang sedikit aneh. Ruangan itu terlihat sedikit berantakan dengan reruntuhan pasca kedua klan itu bertarung.
Ggio menyeringai. Dengan merunduk Ggio berlari ke sebuah reruntuhan yang cukup untuk menutupi tubuhnya. Ggio mengintip Menoly yang memunggunginya. Ggio mengarahkan pistolnya.
DOR!
Menoly langsung memutar kepalanya, dan seharusnya dia tidak melakukan hal itu. Saat memutar kepalanya, tangannya yang memegang pistol terangkat dan bersiap untuk menembak Ggio.
DOR! SIING!
Peluru itu menghempaskan pistol Menoly. Ggio keluar dari persembunyiannya dengan terus mengarahkan pistolnya ke kepala Menoly. Pemenang telah ditentukan.
"Katakan di mana Soifon?" tanya Ggio tajam. Menoly mengambil langkah mundur berusaha untuk mengambil katana yang tergantung rapi di sudut ruangan. Tapi, Ggio tidak mengizinkannya, sebagai peringatan, Ggio kembali menembakan peluru yang melewati kepala Menoly dengan mulus.
"Jawab aku atau berikutnya kepalamu," ancam Ggio. Menoly yang paling tahu keakuratan tembakan Ggio, cepat dan tepat sasaran. Saat situasi seperti ini, Menoly menyesal pernah mengajarkan pemuda itu menembak.
DOR!
Sebuah peluru menembus lengan Menoly. Gadis itu meringis dan menyentuh lengannya. Menoly pun menyandarkan tubuhnya di dinding belakangnya. Tapi dia tetap bungkam dan tidak ingin memberitahukannya kepada Ggio.
"Kau keras kepala, ya, Menoly," ujar Ggio sambil memamerkan seringainya. Menoly terbelalak dan saat itu dia tahu Ggio telah mendapatkan ingatannya kembali.
DOR!
Menoly memejamkan matanya, setidaknya Ggio yang membunuhnya. Nama pemuda itu masuk dalam deretan kematian yang Menoly inginkan walau pada urutan terakhir. Tapi, tak apalah.
SIING!
Menoly membuka matanya saat mendengar bunyi barusan, seorang pemuda berdiri di depannya dengan wakizashi di tangan kanan—yang tampaknya, baru saja menghalau peluru itu menembus perutnya.
"Soifon, ada di ruangan Loly di ujung jalan ini dan Anda akan langsung menemukannya," tunjuk Tesla. Ggio langsung berbalik dan menuju arah yang diberitahu oleh Tesla.
Setelah itu Tesla berbalik dan menatap wajah Menoly yang mulai basah oleh keringat. Lengannya tak hentinya mengeluarkan darah. Kalau dibiarkan, Menoly bisa kehabisan darah.
Tesla berjalan mendekat dan menggendong gadis itu. Lalu, membawanya menuju ruang kesehatan yang memang disediakan di setiap kastil.
"Kau dilarang menyentuhku," bisik Menoly. Tampaknya tenaganya sudah terkuras habis hingga untuk membentak pemuda itu saja sulit.
"Aku bukan pengawalmu yang tidak berani membantah perintahmu," jawab Tesla tanpa menatap iris emerald gadis itu. Menoly hanya mengukir sebuah senyum dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Tesla lalu memejamkan mata.
Tesla hanya tidak ingin menjadi pengawal yang harus selalu menuruti perintah majikannya. Tidak untuk Menoly. Tidak akan.
xXxXx
PRANG!
Ruangan yang penuh kaca itu mulai hancur berantakan. Berkali-kali kaca yang mengelilingi ruangan itu pecah karena anak panah Loly yang berhasil dihindari oleh Soifon.
"Hosh... hosh..." Soifon mengelap peluh yang ada di dahinya. Dia mulai kelelahan. Keahliannya adalah pertarungan jarak dekat, sementara Loly selalu membuat jarak dengan Soifon.
Belum lagi, Soifon harus mengatasi anak panah-anak panah Loly yang merepotkan. "Sudah mulai kelelahan?" tanya Loly dengan seringai di wajahnya. Soifon menggeram dan kembali berlari ke arah Loly.
Tiba-tiba terdengar suara dari earphone yang dikenakan Loly. Gadis itu menelengkan kepalanya dan bola matanya terbelalak. "Menoly-sama tertembak di lengannya," lapor seseorang di seberang earphone itu.
Loly menundukkan kepalanya dan menghindari tendangan yang dilancarkan oleh Soifon. Lalu di melompat ke belakang dan mengambil anak panah yang terjejer rapi di atas meja di sudut ruangan.
Loly mengambil sebuah anak panah dan mengarahkannya ke kepala Soifon. "Gomenne, aku harus segera menyelesaikan ini," ucap Loly dengan tatapan yang cukup serius.
Tanpa basa-basi Loly langsung menembakkan anak panahnya ke perut Soifon. Anak panah itu menyerempet perut Soifon, hingga luka itu kembali terbuka. Soifon meringis, tapi dia harus mendapatkan kalung itu. Dengan menahan rasa sakit di perutnya Soifon terus berlari mendekati Loly.
Loly mengambil gelas kaca di dekatnya dan melemparnya ke udara. Detik berikutnya dengan gampang dia melempar belati yang tersimpan di kantungnya dan memecahkan gelas kaca itu.
Membuat serpihan kaca itu berterbangan di mana-mana. Soifon langsung melindungi kepalanya agar tidak terkena serpihan kaca itu. Loly kembali menyiapkan anak panahnya.
Dan saat Soifon membuka matanya, Loly sudah bersiap untuk melepaskan anak panah itu. "Kekasihmu, melukai Menoly. Kau harus menanggung perbuatannya," desis Loly tajam.
Dan tanpa ragu, Loly melepaskan anak panah itu. Soifon terpaku, bola mata abunya merefleksikan dengan sempurna anak panah yang semakin mendekat ke arahnya. Dan dengan manisnya, anak panah itu menembus lengan Soifon.
"Akh," erang Soifon. Darah di lengannya dengan cepat mengalir turun ke tangannya dan menetes di atas serpihan kaca di bawahnya. Tubuh Soifon mulai kehilangan keseimbangannya dan terjatuh dengan menekuk kedua lututnya.
"Game over," tandas Loly sambil menyeringai dan menjatuhkan busurnya. Tangannya bergerak menyusuri lehernya dan menarik kalung itu. Lalu Loly melangkahkan kakinya dan mendekati Soifon.
Tangannya mencengkram kerah baju Soifon, dan menjatuhkan kalung itu ke hadapannya. Setelah itu, dia menyentuh anak panah yang masih berada di lengan Soifon.
Tanpa rasa takut dan bersalah, Loly menarik anak panah itu dari lengan Soifon. "Akh!" gadis itu mengerang lagi. Loly mengatupkan mata saat darah dari lengan Soifon bermuncratan keluar dan mengenai wajahnya.
BRAK!
Loly menelengkan kepalanya saat melihat Ggio berdiri di depan pintu. "Apa yang kaulakukan padanya?" tanya Ggio. Loly hanya terkekeh dan menjilati darah Soifon yang menempel di anak panah itu.
"Membalas apa yang kaulakukan pada Menoly," ujar Loly tenang dan segera melompat ke belakang. "Pergilah, begitu kata Gin-sama. Terima kasih sudah menemani kami bermain," sambung Loly dan mengibaskan tangannya.
Ggio menghampiri Soifon dan menggendongnya. Ggio berbalik lalu bersiap menuju pintu keluar. Soifon menatap Loly yang melambaikan tangannya. Tiba-tiba bibir mungil itu terbuka dan mengucapkan sesuatu tanpa suara.
Soifon membulatkan matanya saat mengerti apa maksud ucapan Loly.
"Dia adalah musuhmu yang paling utama."
xXxXx
Ggio masih menggendong Soifon hingga keluar kastil. Soifon memejamkan mata dan menggelengkan kepalanya pelan saat mengingat perkataan Loly.
Lalu, dia meremas kemeja Ggio. Harus. Dia harus percaya pada sosok yang menggendongnya. "Aku percaya. Aku percaya padamu," jawab Soifon tiba-tiba. Dia tidak boleh mendengarkan perkataan Loly. Tidak boleh.
Ggio menatap dingin puncak kepala Soifon dan menghela napas. "Kalau begitu, percayalah padaku sampai akhir," ujar Ggio dingin. Pemuda itu menghentikan langkahnya saat sebuah mobil limosin berhenti di depan mereka.
Seorang wanita dengan paras keibuan dan rambutnya yang dikepang di depan turun dari mobil itu. Kimono panjang nan cantiknya menjuntai indah saat wanita itu melangkahkan kakinya untuk mendekati Soifon dan Ggio.
"Aku Unohana Retsu, penasihat klan Shinigami," ucapnya lalu mengeluarkan sebuah badge yang menunjukkan identitasnya. "Aku menjemput kalian untuk dibawa ke Osaka," lanjut Unohana dan mempersilakan mereka masuk ke dalam mobil itu.
Soifon melirik badge di tangan Unohana dan mengangguk. Lalu, Ggio langsung membawa gadis itu ke dalam mobil tersebut.
xXxXx
Tokyo, pukul 22.00
"Halo," sapa Urahara saat telepon di ruangannya berdering.
"Unohana-san telah tiba di Okinawa dan akan segera menjemput mereka berdua," info seseorang dari seberang telepon, Kyoraku.
"Ah, iya, terima kasih Kyoraku-san," ucap Urahara dan meletakkan gagang telepon itu kembali. Tangannya mengambil secangkir kopi di sudut ruangan dan mulai menyesapnya.
"Aku harap, ingatan Vega-san belum kembali hingga saat ini," harap Urahara dan memandangi sebuah pigura yang di dalamnya berisi dirinya dan seorang perempuan beriris emas yang merupakan pemimpin tertinggi klan Shinigami saat itu, Yoruichi Shihouin.
To Be Continued.
A/N: Yo-ho kawan, update lagi hihih menurut kalian Unohana itu bekerja sebagai apasih? humh, humh? Selain penasihat klan shinigami tentunya gyahahaha menurut kalian apa? Menurut kawan-kawan Soifon dan Ggio bakal pisah gak? hihhih
yaks segitu aja, sekali lagi makasih buat spiralcandy ^^
aku doakan nem-mu 40.00
dan yang terakhir, review?
