Author Note: Update-update~. Please review!!!

Waiting to Dead

Chapter 6 : Almost Running Out of Time

Semenjak hari itu, Roxas, saudara kembarnya Sora selalu datang mengunjunginya. Dia tidak datag sendirian, dia bersama temannya yang bernama Axel. Dia memiliki rambut merah panjang dan spike. Dia cukup aneh bagiku dan sedikit humoris. Dia suka bercanda dan meceritakan sesuatu yang lucu-lucu. Sayang, Sora tidak tertawa mendengarkan candaannya. Dia hanya tersenyum seperti biasa mendengar candaan Axel.

Tetapi belakangan aku sering melihat dia tersenyum karena saudara kembarnya selalu dating mengunjunginya. Tetapi karena saudaranya sering dating, aku dan Sora mulai jarang berbicara satu sama lain. Mereka berdua selalu mengajak Sora membicarakan sesuatu dan aku hanya bisa mendengarkannya saja tampa ikut berbicara dengan Sora.

Mereka berdua selalu menyemangati Sora dan selalu mengatakan dia pasti sembuh. Sora hanya bias tersenyum sedih mendengarkannya. Belakangan ini, Sora terlihat selalu lemas dan lelah sekali, padahal dia jarang bergerak ataupun melakukan apa-apa. Bahkan jika dia dalam posisi duduk, dia merasa lelah juga. Maka sejak dari itu, dia selalu berbaring di kasurnya tampa melakukan apa-apa…

"Hey Sora, sudah mau makan malam?" Tanya Roxas pada Sora yang terlihat lelah.

"Hm…" kata Sora terlihat lelah.

"Mau makan pencuci mulut juga???" Tanya Roxas lagi.

"Hum!" jawab Sora sedikit semangat.

"Um… mau chocolate, ice cream, ataukah pudding?" tanyanya lagi.

"Um, chocolate ice cream…" Sora mengatakannya sambil menatap Roxas dengan senyuman.

"baiklah, tunggu sebentar ya Sora." Kata Roxas. "Hey Axel, ayo kita pergi makan malam dulu." Katanya mengajaknya untuk pergi kekantin dan merekapun pergi meninggalkan ruangan ini.

Setelah mereka pergi, Sora menatapku. "Hey Riku…" Dia mencoba mengajakku berbicara.

"Hum?" jawabku sambil menatapnya.

"…kurasa, waktuku sudah hamper habis…" kata Sora sambil sedikit tersenyum padaku.

Keringat jatuh dari wajahku ini. Kurasa, memang hanya dirinya sendiri yang mengetaui kondisi tubuhnya dengan pasti. Aku dan para dokter lain hanya bias mengira-ngira kondisinya, tidak bisa memastikannya secara pasti. Hanya dirinya sendirilah yang mengetaui sisa hidupnya sendiri…

"Mengapa kau diam saja Riku?" Sora terlihat heran saat aku terdiam.

"Maaf…" aku meminta maaf padanya.

Dia menjadi heran mendengar kata-kataku, setelah itu dia tertawa sedikit beberapa saat setelah dia terheran.

"Mengapa kau tiba-tiba minta maaf?" katanya heran sambil tertawa.

"Karena aku tidak dapat berbuat apa-apa untuk menolongmu…" kataku bersedih.

Dia langsung terdiam mendengarkan kata-kataku, lalu dia menghela napas. "Tidak apa-apa Riku. Ini bukanlah salahmu, mungkin ini sudah nasibku dan tak ada yang bisa diperbuat untuk mengubahnya…" katanya sambil menatapiku. "…hidup ini sangatlah singkat, bahkan lebih singkat dari yng kita duga." Katanya sambil memejamkan matanya sejenak dan membukanya lagi untuk menatapku.

"Sora, aku…" aku ingin mengatakan sesuatu, tetapi pintu kamar ini terbuka dan Roxas dan Axel masuk kekamar ini.

"ini dia makananmu Sora." Kata Roxas sambil meletakkan makanannya diatas kasurnya.

"thank you…" kata Sora.

Sora berusaha bangun dan membuat posisi duduk. Aku segera membantunya karena dia terlihat kesusahan membuat posisi duduk. Dia selalu kesusahan membuat posisi duduk sejak dia mulai merasa lelah.

Sora lalu mengambil makanannya dan mulai makan secara perlahan. Setelah dia selasai memakan makan malamnya, dia mengambil pencuci mulut.

"Hum~ dingin dan manis~" katanya sambil memakan chocolate ice creamnya.

Setelah dia menghabiskannya, dia berusaha berbaring lagi dan aku membantunya berbaring. Roxas dan Axel mengajaknya berbicara lagi dan aku memberikannya obat yang akan diminumnya hari ini. Setelah dia meminumnya, aku memutuskan untuk keluar, membiarkan dia berbicara dengan saudara kembarnya dan juga teman saudara kembarnya.

Aku langsung menghela napas setelah aku keluar dari kamarnya. "Tinggal beberapa hari lagi umurnya…" kataku cemas sekali sambil menutup mata. Kubuka mataku dan kutatap lantai dan kusentuh dinding sambil mengkepalkan tanganku. "Sial…" kataku sedih. "padahal, aku kira aku dapat menyelamatkannya, ternyata tidak!" kataku sedikit teriak. "Mengapa?! Mengapa aku tidak bisa menyelamatkan orang yang kusayangi?!"

Air mataku sedikit keluar, tetapi segera kuhapus…

To Be Continued…

Author Note: tinggal satu atau dua chapter lagi….