orangestrawberry15: setelah beriburibu tahun, aku kembali...

Ren, Rei, Mikan: grrrrrr...

orangestrawberry15: *gemeterr*

Ren, Rei, Mikan: kemana ajaaaaa?

orangestrawberry15: ahahaha ^^" sibuuuk

Ren, Rei, Mikan: grrrr...

orangestrawberry15: Bleach belongs to Tite Kubo, not me. The song lyric is belong to Alter Bridge, not me. RnR, please? *kabuuuur*


Chapter Five

Broken Heart, Flashback, and Red Ribbon

"Aku pulaaang!" teriak Ichigo sambil melepas sepatunya di genkan, lalu menaruhnya di rak sepatu. Tidak ada serangan yang biasa dari 'ayah bodohnya' itu. Rumahnya terlihat sepi, Ichigo celingak-celinguk kebingungan. Dimana semua orang?

"Karin! Yuzu! Apa mereka belum pulang dari sekolah?" Ichigo bicara sendiri. "Pak Tuaa!"

"Ichi-nii! Berhenti memanggil Ayah seperti itu!" Yuzu tiba-tiba muncul dari pintu belakang, membawa keranjang berisi setumpuk pakaian kotor.

"Oh, kukira tidak ada orang. Mana si Pak Tua dan Karin?"

"Mereka pergi membeli stok obat, persediaan kita sudah hampir habis."

"Giliranmu mencuci, ya Yuzu? Perlu kubantu?" tawar Ichigo. Ia membuka kulkas dan menenggak air dingin langsung dari botol.

"Tidak perlu. Aku ambil baju kotor dari kamarmu ya, Ichi-nii!" teriak Yuzu yang sudah naik ke atas. Ichigo berteriak mengiyakan lalu duduk di depan TV. Ia mengganti-ganti channel TV, bosan. Pikirannya melayang ke Rukia tanpa diinginkannya. Ia menutupi matanya dengan lengan, merasa tertekan oleh perasaannya sendiri.

Rukia...nama itu membuka kembali lukanya. Gadis yang mengubah hidupnya. Tapi gadis itu punya masa lalu lebih rumit dari yang ia ketahui. Rukia mengenalnya dengan baik, tapi ia tidak pernah benar-benar mengenal Rukia. Awalnya, ia tidak keberatan saat Rukia memutuskan untuk menetap di Seiretei, tapi begitu ia mendengar alasannya, ia terluka—cemburu.

~fbs~

"Besok kau pulang, Ichigo?" tanya Rukia. Angin membelai wajahnya dan memainkan rambutnya yang hitam. Ichigo menoleh ke arahnya lalu berkata,

"Ya, kau ikut?" Ichigo setengah berharap Rukia akan menjawab ya, tapi ia tahu terlalu banyak yang akan ditinggalkan Rukia jika ia tinggal di dunia nyata.

"Awalnya aku memang mau tinggal beberapa saat, sekalian mengambil alih tugas menjaga Karakura dari Kurumadani Sennosuke itu," Ichigo terkejut, hatinya meluap gembira, "Tapi…yah, aku tidak bisa pergi ternyata," Rukia meringis, ekspresinya gembira seakan baru saja mendapat boneka kelinci super besar.

"Kenapa?" tanya Ichigo, harapannya runtuh.

"Well,err…yah, Renji memintaku untuk tinggal. Bahkan ia meminta tugasku dialihkan ke sini secara pribadi ke Kapten Ukitake," Rukia tertawa kecil. "Aku…aku tidak bisa menolak kalau dia bilang begitu."

Ichigo tertegun, rasanya seperti dibekukan dalam es oleh Hyorinmaru. Tapi ia memalsukan senyum dan berkata,

"Waw, semakin dekat saja kau dengan dia," Rukia menengadah dan tersenyum. Matanya terpejam menikmati hembusan angin. Rukia tidak pernah terlihat segembira ini sebelumnya.

"Kurasa ia akan menjagamu dengan baik," Ichigo memaksakan diri untuk melanjutkan, "Bilang pada Kapten Ukitake, biar aku yang menggantikan Kurumadani-san."

"Benarkah? Kau tidak keberatan?" tanya Rukia, tidak menyadari ekspresi suram di mata Ichigo. "Baiklah, aku akan laporkan ke Kapten!"

~fbe~

"Ichi-nii!" teriakan Yuzu dari atas membuyarkan lamunannya. Terdengar suara berisik saat Yuzu turun dengan terburu-buru.

"Ada apa, Yuzu?"

"Sudah kubilang berkali-kali, kan Ichii-nii! Jangan masukkan baju kotor ke dalam lemari! Seragam musim gugurmu belum dicuci sejak tahun lalu!" kata Yuzu sambil menunjukkan seragam abu-abu Ichigo. Ichigo merebutnya dari tangan Yuzu.

"Sudah dicuci kok!" Ichigo membolak-balik seragamnya, dan mencium baunya. "Hahaha, iya…belum dicuci ternyata. Maaf, Yuzu," Ichigo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Sudahlah, tidak apa-apa. sini biar aku cuci," Yuzu mengambil kembali seragam Ichigo, dan menambahkannya ke tumpukan baju dalam keranjang yang dibawanya. Sehelai pita merah jatuh dari kantung kemeja seragam Ichigo dan jatuh ke lantai.

"Hey, Yuzu," kata Ichigo memungut pita itu dari lantai. Yuzu berbalik, "Punyamu?"

"Bukan. Aku kan tidak suka merah. Mungkin punya Karin...tapi Karin tidak pernah memakai pita, tuh," ujar Yuzu. "Punya temannya Ichi-nii mungkin?"

"Mungkin..." jawab Ichigo ragu.

Yuzu menghilang di balik pintu belakang. Ichigo berbaring di sofa, mengangkat pita itu di atas kepalanya. Punya siapa? pikir Ichigo. Inoue tidak pakai pita, apalagi Tatsuki...bagaimana bisa pita ini ada dalam kantung seragam musim gugurku?

Tiba-tiba kepala Ichigo dihantam vertigo seperti tempo hari. Ia memegang kepalanya yang seakan mau pecah. Potongan-potongan kejadian kembali berkelebat di dalam kepala Ichigo. Pita merah itu jatuh ke wajahnya. Pita itu beraroma segar seperti udara dingin musim gugur, dan manis seperti sirup maple.

"Waa!" Gadis itu berlari ke kaca etalase toko.

"Ada apa?"

"Sudah kuduga, ini tidak bagus!" Ia mematut diri di depan kaca, "Kuning tidak cocok denganku!"

"Hey, lupakan itu!" bentak Ichigo.

"Errgh…" Ichigo meremas rambutnya. Gelombang vertigo yang lebih besar menimpanya. Ia tidak tahu apa yang terjadi padanya. Pita itu bergesekan dengan pipinya saat ia bergerak. Terasa sangat lembut di kulitnya. "Arrgh..." erang Ichigo lagi.

"Hey, pita itu..."

"Oh? Kau sadar?" Gadis itu turun dari kursi, melipat kedua tangannya ke belakang kepala dan meringis, "Merah lebih cocok untukku, kan?"

Rasanya seperti genderang yang tidak henti-hentinya berdebum di dalam kepalanya. Ichigo bangkit dan duduk, meraih pita itu. Tapi sakit kepala itu kembali datang.

"Aku mau bayar pita yang ini," Ichigo meletakkan sehelai pita di meja kasir. Pramuniaga wanita itu tersenyum manis dan bertanya,

"Hadiah untuk pacarmu, ya?"

"B-Bukan!" kata Ichigo setengah malu, setengah kesal. Ia bisa merasakan pipinya memanas.

"Mau kubungkus kado?"

"Ti-tidak perlu! Aku sedang buru-buru!" Pramuniaga itu tertawa kecil dan beralih ke mesin kasir. Ichigo menggeram kesal ke gadis yang menunggu di belakangnya.

"Nii-san?" sebuah suara mengagetkan Ichigo. Karin berdiri di hadapannya dengan tatapan cemas. Vertigonya hilang mendadak. "Kau baik-baik saja?"

"Oh, kau sudah pulang Karin?" Ichigo menegakkan duduknya. "Ya, aku baik-baik saja."

"Kau terlihat tidak sehat, Nii-san. Kau yakin baik-baik saja?"

"Ya…apa ini punyamu, Karin?" Ichigo mengangkat pita ke arah Karin.

"Bukan. Aku kan tidak pernah pakai pita," jawab Karin. "Sebaiknya kau berbaring dulu, Nii-san. Kau terlihat pucat."

"Baiklah," Ichigo beranjak ke kamarnya.

"Akan kubawakan makan malamnya ke kamarmu," seru Karin saat Ichigo mencapai pintu kamar.

Ichigo menjatuhkan diri ke tempat tidur dan langsung menyesalinya, kepalanya berteriak memprotes karena benturan lembut itu. Ia berbaring, mengangkat pita itu, dan memperhatikannya lekat-lekat. Ia menunggu gelombang vertigo lagi. Tapi tidak ada satupun yang datang. Ia menyerah dan menjatuhkan tangannya ke depan wajah.

Apa itu tadi? pikir Ichigo bingung. Flashback? Tapi aku tidak ingat pernah mengalaminya. De ja vu? Tapi soal apa? Ichigo mengerang frustasi dan memutuskan akan memikirkannya nanti. Ia menyimpan pita itu di kantung celananya, lalu tertidur.


"Ichigo! Ichigo! Ichigooo! Bangun, Ichigoo!" suara berisik membangunkan Ichigo. Sebuah boneka singa gepeng memukul-mukulkan tangannya yang empuk ke muka Ichigo. Dengan enggan Ichigo bangun dan duduk, memiting si boneka dengan tangannya.

"Diam, Kon! Kau mengganggu tidurku!" Kon duduk di depan Ichigo, bersedekap.

"Kau pulang saat aku tidur, dan kau tidak membangunkanku!"

"Memangnya harus?" Ichigo menguap lebar.

"Kau tidak tahu betapa membosankannya di dalam boneka sepertiku! Dulu masih bisa kutolerir saat Nee-chan masih di sini! Tapi sekarang? Nee-chan sudah pergi! Kenapa kau tidak membawa Nee-chan pulang bersamamu, bodoh?" omel Kon.

"Oh, diamlah Kon. Kau selalu membicarakan hal yang sama setiap hari! Kau membuatku stres, kau tahu?" nada suara Ichigo meninggi.

"H-Hey, kenapa kau jadi sensitif begini, Ichigo?" Kon gugup, tidak menduga reaksi Ichigo akan semarah itu. "Aku kan hanya ingin bersenang-senang sekali-kali. Kau tidak pernah mengajakku kemanapun. Menurutmu bagaimana rasanya kalau kau jadi aku?"

Ichigo memijat keningnya, frustasi. "Maaf Kon, moodku buruk sekali hari ini... aku tidak bermaksud membentakmu tadi."

"Ya sudah. Tidak apa-apa, Ichigo. Mungkin kau butuh menenangkan diri, kau terlihat kurang sehat," kata Kon. Ia melompat turun dari tempat tidur Ichigo dan mendekati radio. "Lebih baik kau mendengarkan musik untuk menenangkan pikiranmu," Kon menekan tombol tuner. Sebuah lagu lembut terdengar.

Thanks for all you've done, I've missed you for so long

I can't believe you're gone, you still live in me

I feel you in the wind, you guide me constantly

I've never knew what it was to be alone, no

Cause you were always there for me

You were always home waiting

And now I come home and I miss your face so

Smiling down on me, I close my eyes to see

And I know, you're a part of me, and it's your song that sets me free

I sing it while I feel I can't hold on, I sing tonight cause it comforts me

"Matikan Kon!" seru Ichigo tiba-tiba. Sial! pikir Ichigo. Lagu ini malah membuatnya makin frustasi, karena mengingatkannya pada Rukia.

"Kenapa?" protes Kon. "Lagunya kan bagus!"

I carry the things that remind me of you

In loving memory of the one that was so true

You were as kind as you could be

And even though you're gone you still mean the world to me

I've never knew what it was to be alone, no

Cause you were always there for me

You were always home waiting but now I come home and it's not the same, no

It feels empty and alone, I can't believe you're gone

"Matikan Kon! Atau ganti frekuensinya!" perintah Ichigo, tapi Kon tidak menggubris. Ia malah mengeraskan volumenya. Ichigo menggeram kesal dan membenamkan kepalanya ke bantal.

And I know, you're a part of me, and it's your song that sets me free

I sing it while I feel I can't hold on, I sing tonight 'cause it comforts me

I'm glad he set you free from sorrow, I'll still love you more tomorrow

And you will…

Tukk! Ichigo menekan tombol radionya dengan kasar. Kon baru akan memprotes saat ia melihat raut wajah Ichigo yang kesal luar biasa.

"Aku pergi!" seru Ichigo. Nada kesal dan marah masih terdengar dari suaranya. Ia membuka pintu dengan kasar.

"Kau mau kemana Ichi-nii?" tanya Karin yang sudah berdiri di depan Ichigo membawa sebaki makan malam untuk kakaknya itu. "Kau belum makan dan ganti baju."

"Ah, Karin..." Ichigo terkejut melihat adiknya berdiri di depan kamarnya. "Aku mau mencari udara segar sebentar. Makan malamnya nanti saja sesudah aku...AW!" Karin menginjak kaki Ichigo sekuat tenaga.

"Ganti baju dan makan dulu, baru kau boleh pergi!" perintah Karin. "Tadi sore kau terlihat pucat sekali! Kau harus makan!"

"Ba-baiklah…" kata Ichigo patuh.

Udara malam yang dingin membelai pipi Ichigo, membuatnya bergidik sedikit. Ia berjalan menjauhi rumahnya, berusaha menenangkan hatinya. Ia teringat sesuatu, lalu dengan malas mengeluarkan handphonenya dan menghubungi Uryuu.

"Hey Ishida, aku boleh minta tolong?" katanya, setengah tidak enak.

"Ya, malam ini saja. Maaf merepotkan, terima kasih," Ichigo menutup teleponnya.

"Wah wah, bolos dari tugas nih, Ichigo?" sebuah suara mengagetkan Ichigo, Ichigo berbalik.

"Shirosaki?"


orangestrawberry15: i've got nothing to say...