SACRIFICE

Cast : All member EXO

Support Cast : Member Suju, Shinee, B.A.P

Genre : Romance, Fantasy

Rate : T

Author: Kim Jong Soo 1214

Disclamer: Saya akui bahwa EXO itu cuma milik Tuhan YME, Orang tua, dan SM Ent. Saya cuma minjem nama doang untuk kepentingan cerita. Tidak ada plagiat sama sekali,karna fic ini murni dari hasil pemikiran author.

Warning : YAOI (boyxboy), Typo (s), alur gaje, abal.

Summary:

Benarkah kau memelukku? Benarkah kau mulai menerimaku? Tapi mengapa aku ragu padamu? Apakah ini benar dari hatimu? Atau kau sama saja dengan mereka? Tunjukan padaku. Tunjukkan bahwa kau benar-benar menganggapku ada dihatimu...

.

.

.

Kim Jong Soo 1214

.

.

.

Present

.

.

.

Preview

"Mianhae, aku..." Jongin menggantung perkatannya. Mata merah dan tajam miliknya perlahan menghilang begitu juga bulu-bulu halus disetiap jengkal tubuhnya. Dan ekornya pun menghilang dengan cepat. Kyungsoo mendudukkan dirinya saat menyadari perubahan wujud Jongin.

"Aku membencimu!"

.

.

Chapter 6

.

.

Mata bulat Kyungsoo menatap tajam wajah Jongin. Sedangkan Jongin hanya terpaku memandang Kyungsoo. Entahlah, bagaimana harus menjelaskan situasi apa ini. Disatu sisi Jongin merasa bersalah saat Ia mencium Kyungsoo, tapi Ia juga tak bisa menghindari perasaannya sendiri. Desiran aneh yang mengatakan bahwa Kyungsoo adalah bagian dari hatinya. Disisi lain Kyungsoo merasa ini tidak adil. Bagaimana mungkin Ia dicium oleh namjachingu dari Luhan. Walaupun tak dapat dipungkiri bahwa Kyungsoo juga menikmati pagutan lembut itu. Tapi Kyungsoo juga masih punya rasa sebal jika diperlakukan seperti ini. Bayangkan bagaimana perasaannmu jika kau berada diposisi Kyungsoo? Sakit? Tentu!

"Kyung.." kata Jongin ragu-ragu. Wajah yang biasanya tegas dan angkuh berubah dengan cepat menampakkan wajah penuh penyesalan. Memandang bagaimana mata bulat milik Kyungsoo berkaca-kaca membuat hatinya terluka. Rasa menyesalnya semakin bertambah saat Kyungsoo mencoba kuat didepannya. Padahal Jongin tau bahwa Kyungsoo itu makluk rapuh.

Kyungsoo merasakan sesuatu yang hangat menjalar disetiap sendi tubuhnya saat Jongin memanggil namanya dengan lembut. Apa yang sebenarnya terjadi? Ingin sekali rasanya Kyungsoo membenci Jongin mengingat bagaimana perlakuannya selama ini. Mengingat bagaimana Jongin menolak perjodohan ini dan merasa Ia menjadi makluk yang tidak dihargai dimata Jongin. Tapi menjadi memuakkan saat perasaanya sendiri menginginkan Jongin. Sekali lagi, ingin sekali Kyungsoo menendang Jongin jauh-jauh dari sini. Melihat bagaimana wajah Jongin berubah sendu membuatnya kehilangan kontrol dirinya. Haruskah Ia mencoba dengan Jongin? Tapi bagaimana dengan Luhan? Oh ayolah, bagaimanapun juga Kyungsoo masih memiliki hati.

"Aku membencimu, Jongin!" mata basah Kyungsoo semakin menyalang saat mengucapkan kalimat itu. Aura disekitarnya berubah samar. Jongin tercekat merasakan perubahan aura dari Kyungsoo yang begitu tiba-tiba.

"Mianhae" hanya satu kata itu. Hanya itu yang bisa Jongin ucapkan. Katakanlah Ia brengsek sekarang. Keegoisan yang bersarang didalam hatinya membutakan semuanya. Ia buta bagaimana Kyungsoo begitu mencintainya walaupun Ia sendiri juga mengetahui hal itu.

"Kau anggap apa aku?" kata Kyungsoo menahan emosinya. Nadanya sedikir bergetar, matanya memanas. Basah dengan bendungan air mata yang sekuat tenaga Ia tahan. Aura disekitarnya berubah semakin pekat.

"Ak-aku..." sungguh, pertanyaan ini membuatnya sesak, dan perih secara bersamaan. Bagaimana bisa Jongin menjawabnya? Bagaimana?

"Kau tidak bisa menjawab? Tentu saja, karena hanya Luhan yang ada dihatimu" kata Kyungsoo datar. Senyum meremehkan tercetak dibibirnya. Sedangkan aura Kyungsoo yang tadinya pekat, kini perlahan menghilang. Jongin sebenarnya bingung dengan keadaan ini. Ia semakin khawatir saat melihat mata basah Kyungsoo.

"Ini tidak ada hubungannya dengan Luhan, Kyung" jawab Jongin lirih. Hanya satu yang ada diotaknya, MENYESAL.

"Benarkah? Lalu apa arti ciuman tadi? Kau merendahkanku, Jongin!" nada Kyungsoo mengeras membuat Jongin menatap Kyungsoo lekat.

"Aku tidak merendahkanmu. Aku hanya menuruti kata hatiku" bela Jongin.

"Begitukah? Lalu apa kata hatimu?!" Skakmat! Jongin memainkan bola matanya. Berpikir jawaban apa yang harus Ia keluarkan. Apa ia harus berkata bahwa Ia menginginkan Kyungsoo? Ini gila!

"Aku tidak tahu! Itu terlintas begitu saja!" jawab Jongin tegas,Ia sendiri bingung harus menjawab apa. Dan tentu saja jawaban dari Jongin membuat pertahanan Kyungsoo runtuh seketika.

"Keluarlah. Aku ingin istirahat" nada Kyungsoo melemah. Kepalanya menunduk berusaha menyembunyikan mata basahnya dari Jongin. Sedangkan Jongin mendelik mendengar perkataan Kyungsoo. Apa dia baru saja mengusir Pangeran Ord?

"Aku tidak mau!" jawab Jongin tegas. Matanya menatap lekat wajah Kyungsoo yang masih menunduk.

"Keluarlah, Jongin. Aku lelah" kata Kyungsoo lesu. Suaranya bergetar. Sangat terlihat bagaimana Ia menahan isakan yang berusaha mendobrak tenggorokannya.

"Aku akan menemanimu"

Deg

Kyungsoo mendongakkan kepalanya, menatap tidak percaya pada namja berkulit tan itu.

"Apa yang kau mau, Jongin? Kau merasa kasihan padaku karena aku hanya hidup dengan sebelah jantungku? Atau kau ingin memanfaatkan kekuatanku sama seperti mereka?! Mereka hanya tau aku ini sebagai kunci perdamaian antara Negaraku dan Negaramu! Mereka tidak pernah tau bagaimana perasaanku! Apa itu juga termasuk kau?!" baiklah, emosi Kyungsoo meledak sekarang, senyum getir tersungging diwajah manisnya. Auranya berubah sangat pekat.

"Tidak,Kyung. Aku tidak pernah berfikir seperti itu. Aku tau aku salah karena selama ini telah menyakitimu. Tapi percayalah, aku sama sekali tidak berpikiran seperti itu" jawab Jongin jujur. Pandangan mata keduanya bertemu.

"Pergilah kau brengsek!" Kyungsoo sedikit berteriak membuat Jongin tersentak dibuatnya. Bagaimana bisa Jongin melihat Kyungsoo seperti ini lagi, ini adalah raut kecewa dari wajah manis Kyungsoo untuknya. Untuk kesekian kalinya.

"Aku akan memutuskan Luhan!" kata Jongin tegas. Mata tajamnya memandang Kyungsoo penuh dengan keyakinan. Yah, memang itu yang seharusnya Ia lakukan. Bagaimanapun Kyungsoo adalah calon tunangannya. Dan keberadaan Luhan sangat mengganggu hubungan mereka.

Kyungsoo mendelik mendengar pernyataan Jongin. Apa yang harus ia katakan? Apa ia harus merasa senang dengan pernyataan Jongin? atau Ia harus merasa sedih? Mata bulat Kyungsoo masih menatap tak percaya pada namja yang masih setia duduk disampingnya. Memandangnya lekat, menyelami mata tajam itu untuk mencari kebohongan disana. Entahlah, Kyungsoo tak menemukan apapun. Aura Jongin menutupi semuanya. Tunggu, apa benar ini aura Jongin? atau malah auranya sendiri yang membuatnya kehilangan kendali atas dirinya?

Jongin mendekatkan tubuhnya pada Kyungsoo saat menyadari namja manis itu masih diam terpaku dengan pipi gembilnya yang mulai basah. Meraih tubuh mungilnya dan mengarahkan kepalanya pada dada bidangnya.

"Mianhae" kata Jongin lirih. Kyungsoo masih terpaku dengan perlakuan Jongin yang tiba-tiba. Apa Jongin mulai menerima keberadaannya? Apa Jongin mulai mencintainya? Entahlah, ini begitu membingungkan. Satu isakan kecil menggema diruang itu. Isakan perih dari Kyungsoo.

Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata berwarna ungu yang tengah mengawasi mereka. Berdiri dengan tenang dibalik pintu kamar Kyungsoo. Tanpa menimbulkan suara, sesosok itu berjalan menjauh.

.

.

.

Shindong bergerak gelisah didalam rumahnya. Berjalan mondar-mandir memikirkan sesuatu tentang anak satu-satunya, Luhan. Bagaimana tidak, Luhan seperti memiliki aura yang berbeda. Tapi bagaimana mungkin sesuatu 'itu' terjadi pada Luhan karena setahunya Luhan tidak pernah mengunjungi 'tempat' aneh itu. Tapi dari mana Luhan memiliki aura itu? Pertanyaan-pertanyaan aneh mulai merajai otaknya. Ini sungguh diluar dugaan.

Sebenarnya bukan hanya kemarin, namun beberapa tahun terakhir ini Shindong merasakan bahwa sesuatu terjadi pada Luhan. Hanya saja Shindong sedikit mengabaikannya karena aura itu hanya sedikit tercium oleh hidungnya. Setelah merasakan aura itu semakin mengental, tiba-tiba saja Ia merasa khawatir.

Namja bertubuh gempal itu menerawang ingatannya. Memainkan bola matanya berusaha menyusun kepingan-kepingan memori yang tersimpan rapi diotakknya.

"Mungkinkah?" gumamnya

Dengan langkah cepat Ia berjalan memasuki kamarnya. Tangannya meraih sebuah kotak berbahan kayu yang tersimpan rapi didalam meja nakasnya. Kotak kayu itu terbungkus berlapis-lapis kain berwarna cokelat yang sudah lusuh. Sangat menjelaskan sudah berada lama kotak itu tersimpan disana.

Dadanya berdetak dua kali lebih cepat saat menyingkap satu persatu kain lusuh itu, menampilkan bagian atas kotak kayu dengan ukiran rumit menghiasi setiap sisinya. Shindong menarik napasnya dalam dan mengeluarkannya dengan kasar. Perlahan tangan kokohnya membuka kotak itu. Sangat hati-hati seolah kotak itu adalah sebuah kaca yang jika disentuh sedikit keras akan pecah. Kotak telah terbuka, menampilkan cahaya yang begitu terang didalamnya. Cahaya berwarna kuning mengarah kejingga. Sangat terang hingga membuat Shindong menutup matanya denga lengannya. Setelah cahaya terang itu perlahan memudar, maka terlihatlah sebuah kristal bening berwarna kuning. Ukurannya sekitar kepalan tangan orang dewasa. Shindong tersenyum, membentuk pipi bulatnya.

"Syukurlah, ternyata masih tersimpan ini" gumamnya rendah

.

.

.

Jongin masih diposisinya, terbaring dengan Kyungsoo berada dipelukannya. Sebenarnya Kyungsoo sudah tertidur sedari tadi karena kelelahan menangis. Hanya saja Jongin merasa tidak rela jika Ia harus melepaskan pelukannya pada Kyungsoo. Dan disinilah Ia sekarang, menemani Kyungsoo tidur hingga dengkuran halus keluar dari namja manis itu,membuat Jongin tersenyum samar. Oke,Jongin akui jika perasaan ini sangat menyenangkan. Begitu hangat,lembut,dan menenangkan perasaannya.

Tangan kokoh Jongin masih setia mengelus hangat punggung Kyungsoo hingga sebuah suara menginterupsi pendengarannya.

"Jongin" panggil suara itu yang tak lain adalah Kris. Jongin menolehkan pandangannya kearah pintu dimana Kris sedang berdiri disana dengan tatapan yang sulit diartikan. Tanpa dijelaskanpun Jongin tau apa maksud Kis. Dengan lembut Jongin melepas pelukannya dengan Kyungsoo. Perlahan bangkit berusaha agar Kyungsoo tidak terganggu oleh gerakannya. Menarik selimut Kyungsoo hingga menutupi bagian dadanya,kemudian barulah Ia berjalan kearah Kris. Kris yang sedari tadi melihat bagaimana Jongin memperlakukan Kyungsoo mengernyit tidak suka.

"Ada apa?" tanya Jongin setelah berada diluar kamar Kyungsoo dengan Kris yang berdiri didepannya. Menatap nyalang mata Jogin, bisa ditebak perang dunia ke2 akan segera berlangsung.

"Kau tau apa yang sedang kau lakukan,Jongin?" tanya Kris datar dan dingin.

Jongin menatap wajah tegas Kris. Mata tajamnya mengarah pada mata elang Kris. Tidak ada rasa takut sama sekali diantara keduanya, sangat menunjukkan bagaimana kedua Putra Mahkota ini memiliki kekuatan yang sama.

"Aku tau" jawabnya singkat.

"Kami telah membicarakan ini saat kau berada dikamar Kyungsoo tadi" Kris menjeda perkataannya. Melipat kedua tangannya didepan dadanya "Sepertinya pertunanganmu memang harus ditunda" lanjutnya. Jongin terdiam. Sepertinya Ia tidak keget dengan perkataan Kris.

"Raja Joonmyun, Raja Ryewook, Appa, dan juga para petinggi memberikanmu waktu menyelesaikan masalah duniamu dengan Luhan" kata Kris dingin

"Aku memang berniat seperti itu" Jongin menyeringai. Sepertinya Ia memang tidak keberatan melepas Luhan begitu Ia merasakan bahwa Kyungsoo lah yang seharusnya menjadi miliknya.

"Terimakasih telah memberikanku waktu" lanjut Jogin. Menyunggingkan sedikit senyum sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan Kris.

.

.

.

"Sepertinya kau akan menggelar pestamu, Siwon" seorang namja dengan perawakan kekar dan mata tajam menginterupsi telinga Siwon. Menyeringai lebar saat mendapati Siwon yang membelalakkan matanya karena kaget.

"Kau!" kata Siwon berusaha tetap menetralkan auranya.

"Apa auraku tak terbaca olehmu? Hah...sepertinya aku bisa mengalahkanmu setelah ini" ucap namja kekar ikut seduktif. Mendekati Siwon yang tengah berdiri dibalkon Kastil megah miliknya.

"Begitukah? Jangan percaya diri dulu, bocah" Siwon menyeingai, menampilkan wajah tegasnya.

"Bukankah sudah jelas. Kau mulai tak bisa membaca auraku! Tidak menutup kemungkinan bahwa aku bisa memenggal kepalamu kapan saja" tawa lebar terdengar saat kalimat terakhir itu diucapkan.

"Brengsek kau! Kau lupa bahwa aku tak terkalahkan?" kata Siwon dengan seringaian lebar.

"Hahaha...aku tidak lupa. Untuk itu aku datang untuk mengalahkanmu" tawanya semakin lebar membuat auranya sedikit terbaca oleh indera Siwon. Tidak terlalu pekat tapi cukup menunjukkan seberapa kuat makluk berbadan kekar ini.

"Kalau begitu besiaplah untuk menjalani masa pengasinganmu lagi, Bang Yongguk" seringaian Siwon menjadi semakin lebar saat mendapati mata Yongguk-namja kekar itu melebar.

"Itu tidak akan pernah terjadi lagi Siwon. Aku sudah menyempunakan energi ku" kata Yongguk percaya diri.

"Haha...benarkah? Sepertinya aku memang harus mencoba seberapa besar kekuatanmu sekarang" Siwon berjalan mendekati Yongguk dengan kedua tangannya yang terlentang.

"Apa kabar sahabatku. Selamat datang kembali" lanjut Siwon dengan mendaratkan kedua tangan kekarnya untuk memeluk Yongguk,sahabatnya. Dengan senag hati Yongguk membalas pelukan yang sudah lama tidak Ia rasakan selama diengasingan.

"Seperti yang kau lihat. Aku jauh lebih baik dari pada dulu" jawab Yongguk sambil melepaskan pelukan itu, memperlihatkan bagaimana penampilannya sekarang. Setelan jubah berwarna gelap yang menampakkan bagaimana menyeramkannya makluk dengan badan kekar ini.

"Haha...yah kelihatannya seperti itu. Aku rasa kau telah siap membalaskan dendamnu" seringaian dibibir Siwon melebar setelah ucapannya berakhir bahkan seringaian itu hampir mirip seperti senyuman. Yah. Siwon bisa tersenyum bahkan tertawa saat bersama Yongguk,sahabatnya. Bagaimanapun juga Yongguk sangat berperan dengan keadaan yang tercipta antara Zrash dan Ord sekarang. Dan dialah yang menyebabkan 'sesuatu' itu terjadi.

Mata Yongguk tiba-tiba berkilat terang saat Siwon membahas masa lalunya. Ingatannya menerawang dimana Ia dengan perjuangan penuh berada dipengasingan. Tanpa seorangpun yang mau mendekatinya, menyapanya, bahkan menganggapnya sampah diantara serigala liar. Berada dipengasingan sungguh menyiksanya. Dan sekaranglah saat yang tepat untuk membalas apa yang telah Ia rasakan selama berpuluh-puluh tahun ini.

"Aku akan selalu siap saat waktu itu telah tiba. Kita hanya perlu menunggu bulan purnana merah bukan?" kata Yongguk mantab. Kepalanya Ia dongakkan, melihat langit malam yang gelap tanpa cahaya bintang satupun. Benar-benar pas dengan suasana hatinya saat ini.

Siwon menyeringai menatap sahabatnya itu. Pikiran-pikiran tentang bagaimana rencananya akan berhasil saat Yongguk berada dipihakknya terasa semakin menggelitik otaknya. Rasa percaya diri akan sebuah kemenangan begitu menghantuinya. Yah,hanya satu. Sebuah kemenangan.

"Aku memiliki mainan baru jika kau ingin tau" dengan segera Yongguk menoleh kearah Siwon. Menatap mata Siwon dengan sebuah pertanyaan besar. Bagaimana tidak, jika Siwon berkata 'mainan' maka itu artinya adalah benar-benar mainan.

"Aku harap mainanmu benar-benar akan menguntungkan kita" kata Yongguk sambil memicingkan alisnya.

"Yah,akan sangat menguntungkan jika kita memegang sebuah 'kunci' bukan?" seringaian dengan kilatan mata tajam milik Siwon membuat Yongguk tertawa lebar. Oke, ini menarik. Siwon tidak pernah seantusias ini dalam menghadapi musuh-musuhnya. Tapi ini berbeda. Ia rasa Siwon memang akan bisa membuat dunia terbalik suatu saat nanti.

.

.

.

Namja manis dengan mata bening mirip rusa tengah berjalan melalui lorong sekolah. Jam istirahat memang sudah berbunyi, hanya saja namja manis itu enggan menuju kantin sekolah dan lebih memilih pergi keperpustakaan untuk meminjam buku. Sebenarnya bukan itu tujuan sebenarnya. Ia hanya ingin menenangkan pikirannya karena merasa pikirannya melayang kemana-mana. Terlalu banyak pertanyaan diotaknya. Bagaimana tidak, sudah 4 hari Ia tidak melihat namjachingunya Jongin. Tidak mendapat kabar, tidak bertemu, bahkan Jongin tidak masuk sekolah.

Setelah kejadian waktu itu, dimana Kyungsoo yang tiba-tiba berubah menjadi sesosok berbulu dengan mata biru cerah. Sangat menyeramkan menurut Luhan. Yah,selama ini Luhan melihat Kyungsoo sebagai seorang namja manis yang dingin dan tertutup. Bahkan Kyungsoo hanya memiliki dua teman yang sama aneh dengan dirinya. Siapa lagi kalau bukan Sehun dan Chanyeol.

Luhan mendudukkan tubuh rampingnya disalah satu bangku dipojok perpustakaan setelah mengambil sebuah buku dengan asal. Ia merasa lelah dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal dihatinya. Ia ingin bertanya pada Jongin tentang siapa sebenarnya Kyungsoo, hanya saja Jongin juga tidak terlihat batang hidungnya sama sekali. Bahkan Kris yang Luhan tau sebagai kakak dari Kyungsoo juga tidak masuk sekolah 4 hari ini. Ah tidak, Kyungsoo, Chanyeol, dan Sehun juga tidak terlihat sama sekali. Ada apa dengan mereka sebenarnya? Kenapa mereka seperti hilang ditelan bumi sejak kejadian waktu itu? Tunggu, apa mereka menyembunyikan sesuatu? Mengapa mereka tidak terlihat takut atau kaget saat melihat Kyungsoo dengan wujud menyeramkan seperti itu?

"Aarrggg!" erang Luhan frustasi. Ia mengacak rambutnya dengan kasar. Sunggguh,pikiran-pikiran ini sangat mengganggunya. Bahkan Ia harus rela sulit tidur selama 4 hari ini karena terlalu banyak pertanyaan diotaknya.

"Sedang memikirkan sesuatu?" tanya sebuah suara. Lembut,membuat indera pendengarannya tau siapa orang yang telah memanggilnya tanpa harus menolehkan kepalanya.

"Hemm" satu deheman mewakili jawabannya.

"Tentang Kyungsoo?" tanya namja itu. Hanya menebak,tapi tebakkannya seratus persen benar. Luhan dengan cepat menolehkan kepalanya kesumber suara itu. Sesosok namja mungil dengan bibir tipis yang telah duduk disebelahnya menampakkan senyumnya.

"Bagaimana kau tau apa yang aku pikirkan, Baekhyun?" tanya Luhan antusias.

"Sudah bisa ditebak dari wajahmu" Baekhyun tersenyum penuh arti membuat Luhan menautkan kedua alisnya bingung.

"Tunggu, apa kau juga mengetahuinya?" tanya Luhan sedikit berbisik. Bagaimanapun juga ini adalah hal yang sangat rahasia menurutnya.

Baekhyun mengannguk dan tentu saja hal itu membuat Luhan membelalakkan matanya. Sungguh, bagaimana Baekhyun mengetahui ini tanpa memberitahunya. Padahal mereka kan sahabat. Yah, dalam anggapan Luhan tentunya, karena Baekhyun hanya menganggap Luhan teman biasa selama dibumi. Kalian ingat Baekhyun bukan? Baekhyun adalah tangan kanan dari Kerajaan Ord. Dia juga masih berada dalam masa 'petualangannya' bersama Tao, tangan kanan kerajaan Zrash.

"Kau percaya adanya Dewa,bukan?" tanya Baekhyun dengan nada serius. Menampakkan kilatan mata yang aneh menurut Luhan. Luhan terpaku dengan perubahan yang ditunjukkan Baekhyun. Iapun mengangguk ragu menjawab pertanyaan namja manis disebelahnya ini.

"Bagus. Jadi kau akan paham jika aku jelaskan dengan cepat" kata Baekhyun melanjutkan. Luhan masih terbengong tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Baekhyun. Tentu saja, tiba-tiba saja Baekhyun menghampirinya dan berkata bahwa dia tau sesuatu tentang Kyungsoo, dan sekarang dia membicarakan tentang dewa. Apa maksudnya ini?

"Kau tau bahwa Jongin telah dijodohkan dengan Kyungsoo oleh Dewa? Jongin sekarang dalam masa sulit, Luhan. Dia harus berjuang untuk sesuatu yang sangat besar. Hanya dengan menikah dengan Kyungsoo maka Ia akan bisa menyelamatkan sesuatu itu dari kehancuran. Dan karena kehadiranmu diantara mereka, Jongin merasa kesulitan sekarang. Kau merubah takdirnya. Jadi aku harap kau bisa melepaskan Jongin demi jagad raya ini Luhan" Baekhyun menjelaskannya dengan sangat cepat. Tatapan mata serius yang terpancar dari manik bening milik Baekhyunpun membuat Luhan terpaku, mencoba mencerna setiap kalimat yang mendarat dipendengarannya.

"Aku tau bahwa kau memiliki sesuatu keistimewaan dalam dirimu, maka dari itu aku berani berkata seperti ini padamu" lanjut Baekhyun semakin membuat Luhat terbengong tak mengerti.

"A-apa mak-maksudmu? Ak-aku berada diatara Jongin dan Kyungsoo?" tanya Luhan sambil tergagap. Baekhyun mengangguk.

"Ap-apa maksudnya aku memiliki sesuatu keistimewaan"

"Luhan, suatu saat kau juga akan terlibat dengan ini semua. Kau harus mulai mempersiapkan dirimu. Dewa sendirilah yang akan memilihmu" Baekhyun mengakhiri ucapannya dengan senyum manis dibibirnya. Sedangkan Luhan masih tetap diam terpaku, memandang kepergian Baekhyun dengan pikiran yang semakin melayang kekamana-mana. Oh ayolah, apa Ia harus rela tidak tidur selamanya setelah ini? Semakin banyak pertanyaan dikepalanya. Dan apa tadi Baekhyun bilang? Dia yang mempersulit keadaan Jongin dan Kyungsoo dalam menyelamatkan jagad raya? Hah,yang benar saja. Biacara apa si Baekyun itu sebenarnya. Kenapa tata bahasa yang Ia pakai sangat berat.

"AARRGGGHHH!" Luhan mengerang frustasi, bahkan ini jauh lebuh frustasi dari yang tadi.

.

.

.

"Kau merasa baik?" tanya namja tiang listrik pada sahabatnya yang baru saja membuka matanya.

Namja itu masih diposisi terbaringnya. Matanya masih terasa sangat berat. Ia mencoba mendudukkan tubuhnya diatas ranjang. Ah,rasanya semua tulangnya serasa berceceran didalam sana. Ia meringis merasakan bagian tulang belakangnya yang terasa memar, ah bahkan memang sudah benar-benar memar.

"Kau sudah 3 hari tertidur setelah Yixing memberimu obat,kau ingat?" kata Chanyeol si namja tiang listrik. Sedangkan Sehun, sahabatnya yang baru saja terbangun mencoba mengingat kejadian sebelum Ia berhibernasi sementaranya. Matanya mengedar diseluruh ruangan, dan baru Ia sadari bahwa Ia tidur dikamar Kyungsoo.

"Em" jawabnya singkat setelah Ia mengingat semuanya. Yah Ia tidak akan lupa bagaimana Jongin dan Kris menendang perutnya hingga Ia membentur tembok Kastil Kerajaan Zrash dengan sangat keras membuat tulang belakangnya terasa remuk.

"Apa itu masih sakit" tanya Chanyeol mendekati ranjang Sehun sambil membawa sepiring daging dengan sedikit darah segar disana, sangat menjelaskan bahwa ini adalah daging buruan yang masih segar, bukan daging yang dibeli dari supermarket.

"Bagaimana keadaan Kyungsoo?" tanya Sehun mengacuhkan pertanyaan Chanyeol.

"Yak! Kau ini tidak sopan sekali. Aku sedang menghawatirkanmu bodoh! Kenapa kau malah bertanya Kyungsoo?" kata Chanyeol sewot. Sangat menunjukkan kepribadian yang jauh dari kata 'pantas' sebagai penerus Kerajaan Xiand.

"Itu tidak penting. Yang penting adalah Kyungsoo. Bagaimana keadaannya?" tanya Sehun dengan penekanan disetiap katanya membuat Chanyeol mendengus sebal.

"Dia baik-baik saja. Dan dia tidak berada dibumi sekarang. Sepertinya Raja Minho sedikit memberi perlindungan ekstra untuk Kyungsoo mengingat bagaimana Siwon waktu itu. Dan juga perubahan Kyungsoo yang semakin tak terbaca" jelas Chanyeol. Ia menyodorkan sepiring daging untuk Sehun yang hanya ditatap oleh namja itu.

"Aku akan menemuinya" ucapnya mengacuhkan potongan daging segar yang disodorkan oleh Chanyeol.

"Yak! Kau ini benar-benar bodoh! Bagaimana kau akan menemuinya jika kau tidak makan!" kata Chanyeol sedikit berteriak saat melihat tubuh Sehun yang menghilang diantara angin yang ia ciptakan untuk membawa tubuhnya menuju Zrash.

"Aishh...dasar bodoh!" gerutu Chanyeol sambil memandang sepiring daging yang masih Ia pegang.

.

.

.

TBC

.

.

.

Ini kependekan gak? Alurnya terlalu maksa ya? Abisnya bikinnya pas tengah malem gegara kebangun mimpiin EXO yang mau konser The Lost Planet di Indonesia ntar Februari *nggakNyambung

Kira-kira readers ada yang penasaran sama Shindong? Jawaban di chap kemaren belum ada yang bener loh :D

Itu si aBang Yongguk muncul ditengah-tengah, ada yang bisa nebak apa masa lalunya sampe dia diasingkan?

Terus si Luhan udah dikasih kode tuh sama Baekhyun.

Chap ini sengaja dibuat untuk menguak misteri kedua Kerajaan itu loh.

Mianhae ya, moment-nya Kaisoo belom banyak karena tuntutan cerita, hehe...

Review nya dong readers buat penyemangat JongSoo. Kritik dan saran akan diterima dengan baik kok :D

Terimakasih buat yang PM JongSoo nanyain kelanjutan Fic nya, Terimakasih juga yang terus anteng menanti kelanjutan fic ini, haha JongSoo seneng banget dah. Pan JongSoo masih Author baru, jadi suka senyum-senyum sendiri kalo baca review dari kalian XD Sekali lagi Gomawo, ne? Buat Silent readers juga terimakasih

18 Januari 2016