Brother
.
HUNHAN
E
.
Suara dentingan sendok dan piring saling beradu tanpa iringan kata tiap mulut penghuni meja makan. 4 orang atau sebut saja keluarga kecil itu focus pada kunyahan masing-masing tanpa saling melirik atau berniat memecah kecanggungan yang ada.
Beberapa saat kemudian, salah satu dari mereka selesi. Ia menegakan tubuh menatap 3 orang lainnya yang masih sibuk mengunyah dan mulai merasa tidak nyaman akan suasana akwoard ini. Kepalanya menoleh pada pemuda yang duduk disisi kanan meja makan
"ah, Luhan. Kau tidak ingin makan lagi?" Ia menatap pemuda berambut light blonde bernama Luhan yang tengah meneguk airnya.
Luhan meletakan gelasnya menatap lelaki yang baru saja bertanya "ani, appa. Aku sudah kenyang." Dan seulas senyum tercetak dikedua sudut bibir Luhan. Lelaki paruh baya di ujung meja menghela napas dan menggeleng melihat putranya.
"kau harus makan yang banyak, lihat, tubuhmu sangat kurus. Apa selama kami pergi kau tidak makan sama sekali?" lelaki paruh baya itu beralih menatap pemuda yang duduk di sebelah Luhan, berniat membandingkan mereka namun nyatanya "hhh… kalian berdua sama saja." dan Luhan hanya kembali tersenyum saat sang ayah berkata demikian
"baiklah," sang ayah menatap wanita paruh baya yang duduk di samping kirinya "chagiya~" wanita itu berhenti mengunyah menoleh pada sang suami "kau sudah selesai?" dengan cepat wanita itu meneguk airnya dan mengangguk.
Pasangan suami istri sebut saja mereka Suho dan Lay beranjak dari duuduknya meninggalkan dua anak laki-laki mereka dimeja makan. Luhan hanya menggeleng melihat ayah dan ibunya yang sangat harmonis sebelum mereka kembali membawa koper besar. Hal itu tak menjadi kejutan lagi bagi Luhan atau pemuda yang duduk disampingnya. Mereka tau apa yang akan dikatakan orang tua mereka setelahnya
"appa dan eomma akan berangkat ke China siang ini." Suho mengelus kepala Luhan yang masih duduk dimeja makan menunggu pemuda disampingnya selesai. Saat Suho berkata demikian, Luhan hanya menunggu kalimat berapa lama mereka meninggalkannya
"mungkin, appa dan eomma akan disana berbulan-bulan. Maaf, kami tidak bisa menemani kalian selama beberapa bulan kedepan." Sebuah kecupan mendarat didahi Luhan begitupun dengan pemuda disampingnya yang sibuk mengunyah. Lay berpesan untuk menjaga kesehatan dan hubungi mereka jika ada apa-apa sebelum mengajak pergi suaminya meninggalkan dua pemuda itu.
"pergi saja, siapa yang perduli dengan kalian!" gumam pemuda yang duduk disamping Luhan mendengar debeman pintu depan terkunci. Luhan menatap pemuda yang tak lain adalah adiknya dan tersenyum lembut
"Sehun-ah, kau tidak boleh seperti itu." Luhan mengusap kepala Sehun "bagaimanapun eomma dan appa bekerja untuk kita." Sehun hanya diam sebelum meletakan sendoknya di atas piring dan meneguk air. Ia lalu menatap Luhan yang duduk disampingnya
"arrayo. Aku juga tidak perduli." Ia tersenyum pada Luhan "kajja, hyung. Tepati janjimu." Lanjut Sehun bersemangat membuat Luhan kembali tersenyum dan mengangguk mengikuti adiknya yang berjalan menaiki tangga menuju kamar mereka.
.
.
.
"kau mengerti?" Sehun tampak berpikir menatap buku soal diatas meja belajar. Ia lalu mendongak menatap kakaknya yang lebih dulu menghela napas mengerti Sehun tak paham sama sekali dengan apa yang dijelaskan Luhan.
"baiklah, aku akan mengerjakannya. Tapi, kau janji harus mempelajari dan memahaminya." Luhan menguap saat menyelesaikan kalimat itu dan Sehun mengangguk.
Luhan dan Sehun adalah kakak beradik dengan selisih usia 4 tahun. Luhan yang lebih tua dari Sehun kini duduk di bangku kelas 2 senior high school. Sedangkan Sehun sendiri masih duduk di bangku kelas 2 junior high school
Luhan adalah tipe ideal seorang kakak. Teman-teman Sehun sangat iri pada Sehun yang memilki Luhan sebagai kakaknya. Ia kakak yang lembut, pintar, tampan, pengertian dan selalu mengalah untuk Sehun. Luhan selalu membantu dan mengajari Sehun dalam hal apapun membuat Sehun seakan tak membutuhkan siapa-siapa lagi kalau ada Luhan disisinya
Seperti saat ini. Sehun sama sekali tak mengerti dengan soal matematika dan meminta Luhan mengajarinya, Sehun bangga memiliki kakak seorang pemegang rekor olimpiade matematika dan fisika sekorea, bahkan manacanegara. Hal itu membuatnya lebih mudah mendapat bimbingan untuk pelajaran merepotkan itu, hanya saja, belajar dengan Luhan tak membuat Sehun focus pada apa yang dijelaskan kakaknya
Ia memang melihat buku dan sesekali mengangguk mendengar ucapan Luhan. Namun, pikirannya tak pernah focus pada apa yang mereka lakukan. Ia hanya focus pada mahkluk ciptaan Tuhan yang menurutnya sangat sempurna dan berpikir beruntungnya ia karna mahkluk itu selalu ada didekatnya setiap hari.
Waktu menunjukan pukul 11 malam dan Luhan terlihat beberapa kali menguap sambil menulis jawaban soal dibuku Sehun. Mereka tak perlu khawatir ketahuan guru matematika Sehun karna mereka punya tulisan yang sama.
Bagaimana tidak? Waktu kecil, Luhanlah yang mengajari Sehun menulis saat orang tua mereka sibuk dengan tumpukan-tumpukan berkas hingga tak punya waktu untuk sekedar mengajari Sehun menulis atau bahkan berjalan saat usianya 1 setengah tahun.
Dulu, masih ada nenek mereka yang menemani kakak beradik itu melakukan banyak hal. Namun, diusia Luhan yang ke-10 tahun, nenek mereka meninggal dan mereka belajar hidup mandiri saat Suho dan Lay tidak dirumah beminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Pernah juga mereka ditinggal selama setahun
Saat itu usia Sehun masih 8 tahun dan Luhan 12 tahun namun harus hidup mandiri dengan uang yang dikirim orang tua mereka. Luhan sebagai kakak merasa bertanggung jawab atas adiknya tak tau harus berbuat apa saat mendapati Sehun ditengah guyuran hujan sepulang sekolah dikelilingi segerombolan anak berseragam SMP terlihat menendang-nendang Sehun dan mengeluarkan isi tasnya hingga basah oleh genangan air hujan.
Luhan yang waktu itu berada dalam bis meminta supir berhenti. Ia berlari menerobos hujan menghampiri adiknya yang menangis dan memeluknya. Anak-anak berseragam SMP itu tertawa dan menarik Luhan lalu mendorongnya jatuh kegenangan air kotor membuat seragam Luhan ikut kotor.
Mereka lalu menarik paksa tas ransel Luhan dan mengeluarkan semua isinya mengambil dompet Luhan. Luhan memberontak, ia melawan dan coba merebut dompet yang berisikan biyaya hidupnya dan Sehun selama orang tua mereka diluar negeri.
Namun, hal itu membuat gerombolan anak SMP itu marah dan menghajar Luhan hingga babag belur. Sehun yang melihat kakaknya seperti itu hanya bisa terduduk digenangan air hujan menangis sekencang-kencangnya sampai gerombolan itu pergi meninggalkan Luhan yang terlantang diatas tanah penuh luka.
Sehun berlari menghampiri Luhan sambil menangis. Ia mengira Luhan sudah mati karna Luhan tak membuka matanya dan banyak darah ditubuh kakanya itu. Ia memeluk Luhan menggoyang-goyang tubuh Luhan agar bangun namun sang kakak tak juga memberi respon membuat tangis Sehun semakin kencang.
Tak lama kemudian. Seorang wanita paruh baya dengan payung menghampiri mereka. Sehun menceritakan kejadiannya dan wanita paruh baya itu memanggil orang-orang untuk membawanya Luhan kerumah sakit namun Sehun menolak dan berkata kakaknya tidak suka rumah sakit maka mereka membawa Luhan pulang kerumah.
Luhan sakit selama 3 hari dan Sehun hanya bisa melakukan apa yang bisa ia lakukan. Ia tak masuk sekolah untuk menemani Luhan, ia hanya minum air putih sama seperti Luhan karna ia tak tau harus membeli makanan dengan apa. Ia menggantikan baju Luhan dan memeluknya saat tidur, memberi kehangatan dan ketenangan dalam tidur kakaknya.
Sehun bahkan tak perduli dengan demamnya dikala itu. Ia kedinginan, namun mengetahui Luhan disampingnya membuat Sehun bersemangat dan merasa kuat, tubuh Luhan membuatnya hangat dan lebih baik.
Sejak saat itu. Sehun merasa Luhan adalah segalanya. Ia tak membutuhkan orang tua yang selalu meninggalkannya. Dan sejak saat itu pula, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan selalu melindungi Luhan dan tak akan membiarkannya jatuh sakit seperti waktu itu.
Sehun tersenyum mengingat masa lalunya bersama Luhan melihat sang kakak yang tertidur diatas meja belajar setelah selesai dengan semua soal-soal Sehun. Wajah tidur Luhan berkali-kali lipat lebih menawan membuat Sehun tak bisa menahan diri untuk tak menyentuh wajah sang kakak, menelusuri pahatan mahkluk sempurna ciptaan Tuhan dihadapannya.
"hyung, kau tau, aku merasa hidupku sangat sempurna." ucapnya membelai lembut rambut Luhan sebelum beranjak dari duduknya mengangkat tubuh Luhan kekasur mereka karna tak tega melihat Luhan lebih lama tidur dengan posisi seperti itu.
"jaljjayo, hyung." Ucapnya mengecup puncuk kepala Luhan dan mematikan lampu diatas nakas lalu berbalik untuk mendekap tubuh Luhan.
.
.
.
"hyung,"
"hmm?"
"kenapa kau tidak pernah bercerita soal pacarmu?"
Pertanyaan Sehun membuat Luhan menoleh menatap pemuda yang tengah berbaring diatas rumput atap rumah mereka. Ia sedikit berpikir kenapa adiknya bertanya seperti itu dan akhirnya ia memilih untuk ikut berbaring disebelah Sehun
"karna aku tak punya pacar. Jadi, aku tak penah bercerita soal mereka." Sehun menolehkan kepalanya kesamping menatap Luhan dengan salah satu alis terangkat
"tidak mungkin, hyung pasti bohong." Luhan menoleh hingga tatapan mereka bertemu "tidak mungkin mahkluk sesempurna dirimu tak punya perjalanan cinta sedikitpun." Luhan tertawa ringan mendengar penuturan Sehun. Ia lalu menjitak kepala Sehun membuat Sehun mengeluh protes
"apa menurutmu aku seperti itu?" Sehun mengangguk "tidak ada yang sempurna Sehun-ah. Semua mahkluk hidup itu punya kekurangan." Tangan Luhan terulur sedikit menyingkirkan helain rambut yang menutupi mata Sehun
"eum, tapi. Tidak mungkin kau tak pernah mendapat pernyataan cinta atau tak memiliki orang yang kau suka." Luhan tersenyum dan mengubah posisinya terlantang diatas rumput menatap langit.
"kau benar. Tapi, itu bukan hal penting untuk diceritakan." Tangan Sehun terangkat memeluk Luhan menarik saudaranya itu lebih dekat kearahhnya
"ceritakan, aku ingin mendengarnya, hyung~" rengek Sehun membuat Luhan tertawa menepuk-nepuk lengan Sehun yang melingkar diperutnya
"baiklah, kau mau aku mulai darimana?" Luhan sedikit menoleh menatap Sehun namun langsung berpaling lagi saat medapati wajah Sehun yang terlampau dekat denganya, nyaris membuat mereka berciuman.
"eum, berapa banyak pernyataan cinta yang kau dapat?" Luhan mengerutkan alis tampak berpikir "apa lebih banyak dari yang kubayangkan? Atau, lebih banyak dari pernyataan cinta yang kudapat?" selidik Sehun tak sabar menunggu jawaban Luhan
"eumm,,, mungkin lebih banyak dari yang kau dapatkan." Sehun melepas pelukannya dan sedikit mengangkat tubuhnya mengahadap Luhan sambil menumpukan kepala diatas telapak tangan yang sikutnya menempel diatas rumput
"hhh.. itu hanya karna hyung hidup lebih lama dariku. Lihat saja saat aku lulus nanti, aku akan mengalahkan rekormu."tutur Sehun percaya diri membuat Luhan tertawa "lalu, apa alasanmu menolak mereka semua? Apa kau punya orang yang kau sukai?" tanya Sehun lagi. Luhan kembali berpikir sebelum beralih menghadap Sehun
"sebelum itu, kau sendiri, kenapa menolak mereka semua?"
Karna kau hyung. Karna aku memilikimu hingga tak membutuhkan mereka lagi
"aku masih JHS, hyung. Aku belum ingin menjalin hubungan seperti itu." Luhan berdecak dan meringis. Ia merubah posisi duduk diatas rumput dan mengacak rambut Sehun
"Sehunie masih kecil rupanya."
"benarkah?" Sehun bangkit memposisikan dirinya duduk disamping Luhan "tapi, dilihat dari fisik. Kaulah yang kecil disini hyung." Luhan kembali menjitak kepala Sehun
"itu karna kau makan sangat banyak, bodoh!"
"tapi, saat menghadiri pesta perusahaan. Hyung juga makan dengan banyak."
"tapi tidak setiap hari sepertimu!." Luhan menunjuk wajah Sehun
"hyung bahkan bisa menghabiskan semua menu yang disajikan saat menghadiri pesta resmi." Luhan menatap Sehun dengan tajam
"yeah, aku tidak akan menyangkal."
Dan akhirnya Luhan akan selalu mengalah membuat Sehun menginginkan kebersamaan ini selamanya.
.
.
.
Sehun berdiri didepan gerbang sekolah Luhan. Sesekali ia melongokan kepalanya melihat kedalam mencari siluet Luhan, namun 15 menit ia berdiri tak juga mendapati bayangan Luhan membuatnya tak sabar dan ingin masuk kesana namun terlalu sungkan melihat penjaga sekolah yang bertengger di post dekat gerbang.
Ia lalu merogoh saku celana mengambil ponselnya untuk menghubungi Luhan namun tak mendapat jawaban. Siswa siswi sekolah Luhan sudah banyak yang keluar namun kakaknya belum juga keluar membuat Sehun sedikit khawatir
Iapun memilih bertanya pada gerombolan siswi yang ingin lewat. Namun, bukannya dapat jawaban, ia malah mendapat pekikan yang memekakan telinga membuat Sehun menutup kedua telinganya.
"KYAAAA… KYEOPTA.!..."dan setelahnya ia mendapat cubitan dari noona-noona gila itu. Benar-benar kurang beruntung atau ia yang salah bertanya. Kapok bertanya pada yeoja, ia memilih bertanya pada seorang namja yang ingin lewat didepannya
"Luhan? Tadi kulihat dia bersama Kris diatap."
Sehun beterimakasih lalu berjalan masuk halaman sekolah Luhan sedikit membungkuk saat melewati 2 orang penjaga sekolah. Namun, 2 orang penjaga itu sepertinya tak menghiraukan Sehun dan malah sibuk dengan obrolan mereka.
.
.
.
Sepanjang jalan. Sehun terus bertanya pada siswa siswi yang ia lewati dimana jalan keatap gedung dan ia harus merelakan kedua pipinya memerah saat bertanya pada seorang siswi karna mereka akan langsung mencubit atau menciumnya tanpa izin. Sehun tidak tau kalau siswi SHS seperti itu.
Apa mereka juga melakukannya pada Luhan?
Ah, memikirnya membuat Sehun makin khwatir.
Sehun sampai diatap gedung namun tak menemukan apa-apa. Tempat itu kosong dan begitu tenang membuat Sehun berpikir bahwa dirinya baru saja ditipu oleh siswa tadi. Ia hendak berbalik pergi namun tiba-tiba suara benda jatuh dari dalam gudang kecil yang ada diekat pintu atap mengurungkan niatnya.
Sebenarnya Sehun tak perduli. Namun, rasa penasarannya jauh lebih tinggi membuat kedua kaki jenjangnya melangkah mendekati pintu gudang dan sedikit mendorongnya namun tak bisa. Pintu itu terkunci
"hahaha… Tak ada yang pernah menolaku. Jangan harap kau akan kulepaskan setelah menolaku dengan alasan bodoh itu!"
Alis Sehun berkerut. Seseorang berbicara dari dalam gudang membuat Sehun makin pensaran
"sekarang, berbaring dan nikmatilah. Kau akan menyukainya, Luhan sayang~ ohh~"
Sehun yang penasaran langsung tercengang mendengar nama Luhan. Hal itu membuatnya melangkah mencari sesuatu yang dapat membobol pintu. Ia yakin, sesuatu yang buruk pasti tengah orang itu lakukan pada kakaknya.
Sehun berlari mengambil sebuah batu disudut atap dan kembali ke gudang memukul-mukulkan batu itu kepenyangga pintu membuat orang didalam gudanag bertanya dan memaki Sehun yang mengganggunya.
Sehun membuang batu itu merasa percuma dan menggunakan tubuhnya untuk mendobrak pintu. Orang didalam sana semakin memakinya namun beberapa detik kemudian hanya terdengar suara pekikan tertahan yang Sehun yakini adalah suara Luhan hingga dobrakan ke 7 barulah pintu terbuka memperlihatkan Luhan yang terbaring diatas meja dengan pakaian beranatakan, kaki dan tangannya terikat serta mulutnya dibekap kain, tak lupa seorang pemuda yang duduk mengangkang diatas tubuh Luhan.
Sehun geram, ia marah melihat Luhan diperlakukan seperti itu. Tangannya mengeepal dan dengan cepat ia berjalan kearah Luhan yang menagis tanpa suara lalu menarik pemuda yang ada diatas tubuhnya dan melayangkan tinju dirahangnya membuat pemuda itu terhuyung jatuh kelantai.
"brengsek!" geram pemuda bernama Kris yang bangkit hendak menghajar Sehun namun Sehun yang sudah dikuasai amarah berbalik menghajar Kris membabi buta hingga pemuda itu terbaring tak sadarkan diri.
Seakan belum puas. Sehun terus menghajarnya hingga teriakan Luhan yang sudah berhasil melepas bekapan kain dimulutnya menyadarkan Sehun.
Pemuda itu langsung berlari menghampiri Luhan yang menangis. Ia lalu memeluk sang kakak dengan erat sebelum melepas ikatan di kaki dan tangannya.
"gwenchana..uljjima.. aku disini hyung shh…" Sehun mengelus kepala Luhan agar pemuda itu tenang dan menghentikan tangisnya.
"Sehun-ah, ayo pulang." Ucap Luhan disela tangisnya. Sehun hanya mengangguk membawa Luhan keluar gudang dan hendak menuruni tangga. Namun, melihat penampilan Luhan yang berantakan, Sehun berhenti dianak tangga membuat Luhan heran.
Sehun menatap Luhan dan merapikan penampilan Luhan. Saat mengancingkan kameja Luhan. Sehun melihat banyak tanda merah didada dan leher Luhan membuat Sehun mati-matian menahan diri agar tak berbalik keatap dan membunuh Kris.
Tiba-tiba Luhan menahan tangan Sehun yang tengah mengancingkan kamejanya membuat Sehun bertanya.
"maaf." Luhan menunduk dan Sehun tak mengerti "maaf karna tak bisa jadi hyung yang baik. Aku hanya bisa merepotkanmu." Sehun dapat melihat tubuh Luhan kembali bergetar membuat Sehun mengepalkan kedua tangannya. Ia bersumpah jika bertemu Kris lagi, ia akan membunuh pemuda itu.
Sehun hendak menyentuh Luhan namun pemuda yang lebih tua darinya itu menjauh membuat Sehun bertanya-tanya "hyung tidak pantas kau sentuh, Sehun-ah. Hyung kotor." Betapa mencolosnya hati Sehun mendengar Luhan berkata demikian.
Seberapa jauh pemuda bernama Kris itu menyentuhmu, hyung?
"kalau begitu, ayo kita pulang dan membersihkan dirimu, hyung." Luhan mendongak dan menggeleng. Sehun dapat melihat tumpahan air mata mengalir dikedua pipi tirus Luhan yang sering dibelainya
"tidak akan bersih Sehun-ah. Mau mandi seperti apapun tidak akan bersih,"
Sehun berjalan mendekati Luhan namun Luhan kembali mundur, hanya saja kali ini Sehun tak gentar dan terus maju hingga Luhan tak bisa mundur lagi dan membiarkan Sehun mengenggelamkannya dalam pelukan hangat pemuda itu.
.
.
.
"tidak mau hilang, tidak mau hilang Sehun-ah.." Luhan menagis didalam bathub sambil menggosok-gosok kasar dada dan lehernya dimana Kris membuat banyak tanda disana. Sehun yang duduk dipinggir bathub melihat Luhan seperti itu hanya bisa memutar otak kalau cara menghilangkan yang Sehun maksud bukan seperti itu.
Hal seperti itu malah membuat kulit Luhan iritasi. Sehunpun menahan tangan Luhan yang terus menggosok dadanya dengan brutal. Luhan mendongak menatap Sehun dengan mata yang membengkak karna menagis
"berhenti hyung. Itu akan percuma." Tangis Luhan semakin keras. Sehun menghela napas, ia lalu berdiri dan membuka bajunya sebelum ikut masuk kedalam bathub
"Sehun-ah, jangan mandi di air yang sama denganku. Nanti kau kotor." Ucap Luhan coba mendorong adiknya agar keluar dari bathub namun Sehun tak mengindahkan dan malah menahan tangan Luhan yang coba mendorongnya
"tidak hyung, kau tenang saja. Aku akan membersihkanmu." Luhan berhenti menangis dan menatap Sehun bingung
"apa Kris juga menciumu?" Luhan tak tau apa maksud Sehun namun ia mengangguk "apa… dia sampai.. eum… memasukimu?" tanya Sehun lagi dan Luhan menggeleng. "dia menyentuh…" Sehun menunjuk daerah pribadi Luhan membuat Luhan mengikuti arah telunjuk Sehun sebelum mengangguk lagi dan entah kenapa Sehun langsung menahan napas.
"dia bahkan memasukannya kemulutnya." Sehun membulatkan mata mendengar penuturan Luhan. "aku kotor Sehun-ah.." Luhan kembali menangis, Sehun tersadar dan merengkuh tubuh Luhan dalam dekapannya.
"sshh… uljjima hyung. Aku akan membersihkanmu. Kau mengizinkanku membersihkanmukan?" Luhan mendongakan kepalanya menatap Sehun dan mengangguk. Ia bukan orang bodoh, ayolah, ia lebih pintar dari Sehun, ia tau membersihkan yang dimaksud Sehun tapi, acara mengusap-usap kulit dengan kasar tadi hanya pura-pura saja karna ia tak yakin Sehun akan melakukan 'pembersihan' seperti itu. Namun nyatanya? Sehun yang menawarkan diri lebih dulu
/
.
.
"shhh… ahh~ Se-Sehun-ah.." Luhan menutup mulut untuk menelan ludah sebelum mulutnya kembali terbuka untuk meneruskan kalimatnya
"mem-membersih ahh..ahh..kanhh.. ugh~.." Luhan mencengkram sprei tempat tidur mereka dengan kuat
"membersihhkanhh… akh.. tidakh..akh..akhahrus akuhh.. mnh~ ya-yang dib ah.. wahkanhh~~" ucap Luhan susah payah menuntasan kalimatnya sebelum menggantinya lagi dengan desahan penuh. Sementara Sehun yang sibuk dengan tugasnya hanya tersenyum sambil mengusap dahi Luhan yang berkeringat.
"bukankah, argghh… bukankah biasanya ugh~ hyung selalu mengalah?" ujar Sehun sedikit pekikan saat tangan Luhan yang menggengam sprei tempat tidur berpindah meremas pinggangnya.
Luhan tak menjawab. Ia hanya memejamkan mata menikmati benda tumpul Sehun yang menghujam titik kenikmatannya berkali-kali. Padahal, darei cerita Luhan. Kris tidak melakukan yang seperti itu.. (-_-) ah, sudahalah. Itu urusan mereka
.
.
Epilog~
"maaf, aku tidak bisa."
"wae?" pemuda yang lebih pendek mendongak
"aku… aku menyukai orang lain." pemuda yang lebih tinggi menggertakan giginya tak terima. Tangannya terkepal menandakan ia sedang marah
"siapa? Siapa orang yang membuatmu menolaku?"
"dia….." pemuda yang lebih pendek menunduk dengan suara lirihnya "adiku."
END
Ell note :
Terimakasih buat yang bersedia mau baca FF nista nan datar ini.
