Naruto ©Masashi Kishimoto

Story ©Hitsune Rika

.

Sasuke / Sakura

Sai /Utakata / Gaara / Neji / Sasori / Hinata

.

Humor GAGAL [Garing Gaje Lol(?)] / Rated T

.

DLDR! OOC parah / AU / typo(s) / bahasa semi-baku-gak-baku / cerita suka-suka-gue / dkk(?)

Warning:
1. Ada sedikit perubahan bahasa dari aku - kamu/kau jadi gua/gue - lu.
2. Agak panjang dan membosankan.
3. Mungkin sedikit berbeda?

.

Aku menggas mobilku dengan cukup tenang. Kulirik jam digital di atas dashboard, masih pukul satu lewat empat lima. Lagi pula rumah Sakura cuman tinggal beberapa meter lagi kok, jadi santai aja lah~

Nah, tuh dia rumahnya, yang ada mobil sport putih tulangnya.

Wait.

Mobil sport...

...putih tulang?

Itu bukannya mobil si jangkung sialan ya?

Ngapain dia ke rumah Sa—

Ahaaaaanjrit! Keduluan lagi njirr!

Aku bergegas memarkirkan mobilku tepat di samping mobil putih sialan itu. Oke, maafkan aku mobil, ini salah pemilikmu yang sialan itu!

Aku menekan bel rumah beberapa kali, hingga terdengar derap kaki yang mendekat. Pintu terbuka, dan tampaklah makhluk menyeramkan itu.

Oke, bukannya melebihkan, tapi Utakata memang menyeramkan, rambut coklatnya itu menutupi tigaperempat bagian wajahnya.

Plis ini masih jam dua kurang.

"Mau ngapain lu kesini?"

Sewot banget dia nanyanya. Selow ae mas bro. Harusnya saya yang nanya, situ ngapain di rumah calon pacar saya?

"Bukan urusan lu, mana Sakura?"

"Ya bukan urusan lu juga dia ada di mana. Pulang sono."

Sialan nih cowok.

"Demi uttaran yang kapan tamatnya, bukan urusan lu juga kali gua mau pulang apa kagak. Rumah, rumah Sakura, bukan rumah elu."

Aku membuang nafas gusar. Kutinju pundak jangkung sialan itu, menghantarkan perasaan dendamku bekas pukulan Neji, Gaara, Sai, dan Sasori tadi, sekalian menyuruhnya minggir agar aku lebih leluasa melihat ke dalam rumah Sakura. "SAKURA! OY, SAKURA! KELUAR WOI!" —dan lebih bebas memanggilnya.

"GAK USAH PAKE NINJU SEGALA, NYET! SAKIT TAU GAK! LU MAU NGAJAK TAWURAN?!"

Ganggu aja sih nih makhluk.

"Sorry, nyet, bukan urusan gua." Aku tersenyum nista sebentar kearahnya, sebelum kembali mencondongkan tubuhku ke dalam pintu. "OI SAKURA! KELUAR KAGAK?!"

"GUA GAK PUNYA UTANG SAMA RENTENIR!"

Nah akhirnya keluar juga.

Eh gak.

Cuman suaranya yang keluar, orangnya gak ada.

"KELUAR LU—"

"WOI JANGAN RUSUH DI KOMPLEKS INI, MAU SAYA LAPORIN PAK RT?!-un."

Perkataanku seketika diinterupsi oleh suara ibu-ibu di seberang jalan. Ibu-ibu itu tengah memegang tablet sambil pasang wajah sangar. Setengah wajahnya tertutupi oleh surai blonde panjang miliknya.

Apa lagi ngetren ya rambut panjang nyampe nutupin muka?

Au ah.

Aku melongo sesaat. Tapi kemudian karena refleks, aku malah ikut berteriak.

"BAPAK RT LAGI LIBURAN KE TEMPAT BAPAKNYA!"

"KOK TAU SIH?-un."

"PAK RT ITU BAPAK SAYA, BU!"

Hening seketika.

Iya, aku anak Pak RT Fugaku, kenapa? Masalah?!

"BODO AMAT!-un. POKOKNYA JANGAN RIBUT! SAYA LAGI SERU NONTON UTTARAN!-un. LAGIAN SAYA MASIH DUA PULUH TAHUN! JANGAN PANGGIL SAYA IBU! SAYA INI LAKI-LAKI!"

"ELAH, IBU KAN—ANJIR ABANG DEIDARA! JANGAN-JANGAN ABANG YANG PINJEMIN KASET DRESS-UP SAMA ABANG ITACHI?!"

Shit, jadi ikutan kebawa emosi kan. Tarik nafas, Sasuke—

"LUPAKAN. LAGIAN APA SERUNYA TUH SINETRON SIH? ISINYA ICHA TAPASYA ICHA TAPASYA TUNG TARAAA TTUNG TARAAA."

—baru teriak lagi.

"IIIIII UTTARAAAANNN! JANGAN KACANGIN GUA, NYET! LU HARUSNYA WAR SAMA GUA! BUKAN SAMA DIA!"

Apaan sih nih jangkung?! Ganggu aja!

"DIEM LU BOCAH SIALAN! DEBAT GUA SAMA ADEK ITACHI BELUM SELESAI!-un. GUA GAK SUKA FILM KESUKAAN GUA DIEJEK!"

Hueeeekk! Kesukaan? Tobatlah!

"EMANG APA SERUNYA SIH TUH SINETRON? TUNG TARAAA TUNG TARAAA. UDAH, GUA MAU PULANG AJA!"

Bodo amat sama Sakura, aku udah gak kuat! Abang gak bisa diginiin, dek!

Aku kembali menuju mobilku dengan langkah besar, ku buka kasar pintunya, dan kubanting kemudian. Dasar kampret tuh kunti. Yang satu suka Uttaran yang satu suka ngambil calon orang. Cih!

Aku menggas mobilku menuju arah pulang. Bodo amat sama polisi tidur di depan gang, pe—

DUG!

"Adaw!"

"Aw!"

Sakit! Asdfghjkl! Kampret tuh polisi tidur, perasaan masih duapuluh meter lagi. Sialan.

Eh tunggu bentar, tadi suara siapa, ya?

Ah setan, mungkin.

DUG!

"Aw!"

POLISI TIDUR SIALAN! KENAPA ADA LAGI?! SETAN PALA GUA!

Itu suara siapa lagi?! Aku nabrak polisi beneran?! Tapi suaranya kek cewek, sih.

Jangan-jangan... setan beneran?

Haaa!

DUG!

"AW! SASUKE LU BISA NYETIR KAGAK, SIH?! UDAH TIGA POLISI TIDUR YANG LU TABRAK, SETAN! JIDAT GUE MAKIN LEBAR KALO KEK GINI!"

Wait.

Ini... efek tiga kali kejedot kali ya?

Kok denger suara Sakura ya?

"OI SASUKE, DENGER KAGAK? TUH ADA SATU LAGI DI DEPAN, A—"

DUG!

"SIALAN LU SASUKE!"

Aku menghentikan mobilku ke pinggiran segera. Kepalaku sudah cukup berputar-putar. Suruh Sai datang ke sini aja kali ya, lagian rumahku tinggal satu kali belokan. Sepertinya empat kali kejedot bikin halusinasi.

"Oi, Sasuke? Lu baik-baik aja?"

Njir, Sakura-nya jadi nyata banget.

"Ah, Sakura~ gua suka sama lu. Gak, gua cinta sama lu, Sakura..."

"A—a, S-sasuke, keknya l-lu mabuk, deh."

"Gak kok, Sakura."

"S-sasuke, bentar, g-gua manggil S—"

Aku menyatukan bibirku dengan bibirnya. Lagipula aku yakin ini cuman dalam mimpi. Tapi entah kenapa rasanya nyata sekali, lembut dan manis. Aku melepaskannya setelah hampir satu menit. Ah~ wajahnya Sakura memerah,

"Kawaii!"

"Eh?

Eh?

Eh?"

Wajahnya kini berubah jadi bingung, kyaaaa, imut banget!

Ah~ sialan, jadi ngantuk. Grrrhh...

SWITCH INTO 3rd POV

"Sai, halo? Eh iya, gua ama Sasuke udah di belokan depan rumah Sasori nih. Jemput sini coba."

"Lah, kenapa? Nanggung amat."

"Sasuke keknya mabuk habis kejedot empat kali. Keknya dia gak nyadar kalo dia nyetir lewat rumah Sasori, bukan lewat rumah Naruto."

"Lah? Emang apa bedanya lewat depan rumah Naruto ama Sasori?"

"Kan kalo lewat rumah Sasori ada empat polisi tidur, kalo lewat rumah Naruto kan cuman satu doang."

"Yaudahlah, Neji otw tuh."

"Oke kalo gitu. Dah yak."

Sakura menutup telfonnya. Ia yang tadi duduk di jok belakang kini berpindah ke jok di sebelah Sasuke. Ditatapnya dalam-dalam wajah damai yang kini tampak mengeluarkan suara dengkuran halus itu. Tangannya tergerak mengusap rahang tegas Sasuke. Ia lantas tersenyum.

"Sasuke, kamu suka sama Hinata 'kan? Maafin aku yang udah suka sama kamu ya. Aku janji bakal move on, kok. Jujur aja aku sengaja kabur dari Utakata buat ngabisin waktu terakhir aku sama kalian berlima. Iya, kalian, kamu, Sai, Neji, Sasori, sama Gaara. Tiga bulan lagi kita lulus 'kan, ya? Tapi maaf, Sasuke, aku bakal pindah ke Ame bulan depan. Kakek bakal jodohin aku sama cucu temennya di sana. Lucu ya? Aku harap kata-kata kamu tadi gak bohong. Aku seneng, Sasuke, akhirnya kamu bales cinta aku. Tapi— ahsudahlah, kok kek lagi main sinetron gini."

Sakura menyeka liquid bening yang mulai berjatuhan entah sejak kapan. Ia tertawa garing dengan sendirinya. Tangannya ia lepaskan dari wajah Sasuke. Sakura kemudian membuka mobil dan turun untuk memanggil Neji yang tampak celingukkan kira-kira limabelas meter di depan Sasuke memarkir mobilnya.

"Ji! Di sini woy!"

Neji yang tadi menengok ke kanan memutar kepalanya ke arah kiri di mana Sakura berada. Mana di-slowmotion, rambut panjangnya jadi beterbangan berkilauan persis iklan shampo. Aha, iya, gak lucu. Dah, lah, bye.

"Eh, Sak, emang lu gak bisa nyetir ya?"

"Eh bener juga, gak kepikiran gue, Ji. Tapi ahsudahlah, lagian gue gak bisa pindahin tubuhnya Sasuke."

Neji gak bales lagi. Ia langsung membuka pintu tempat pengemudi, memindahkan Sasuke ke jok belakang, lantas ia sendiri duduk di jok pengemudi. Sementara Sakura, gadis itu sudah standby di jok penumpang sebelah Neji.

Tak menunggu lama, Neji langsung menggas mobil, membawa mereka kembali ke kediaman Uchiha.

BACK TO SASUSIDE

Hoaaamm...

Ah, di mana–heh, siapa yang memindahkan aku ke kamar?

Hah~ jadi semua itu tadi cuman mimpi. Baca chat SaiSaku, pergi jemput Sakura, debat Uttaran sama Deidara, nabrak polisi tidur, nyium Saku—

Ntar deh, nih kok benjolannya nyata?

Njirr, jangan bilang—

"Eh, Sasuke, dah sadar lu?"

Gaara dateng bareng hpnya, ia melangkah masuk dengan mata yang tetap fokus ke layar hp. Gimana caranya coba.

"Eh, ini dah jam berapa?"

"Oh, jam 5 sore, napa? Tenang, Sakura udah ada di sini, kok."

"Hah? Siapa yang jemput?"

"Lu kejedot ampe amnesia, ya? Lu yang jemput dia, coeg."

Hah? Gaara mabuk ya?

"Tadi gue ketemu dia ae gak sempat, gimana caranya coba."

"Lu gak usah sok amnesia deh, Sasuke, lu udah nyium Sakura juga, kan?"

Sasori muncul dari balik pintu.

Nyium... Sakura?

Jadi tadi nyata?

"Lu juga bilang suka sama dia, ciiee."

Neji ikut nimbrung.

Seriusan? Beneran? Aku?

"Lu kejedot ae udah mabuk, apalagi kalo minum. Dah ah, patah hati gue, huehuehue."

Anime-tears membanjiri muka Sasori.

Beneran? Plis?

"Lah, Sakura-nya mana? Sai mana?"

"Lagi pacara—sabar, Sasuke, sabar, gak kok, mereka cuman lagi beli makanan di depan komplek. Biasa ae mukanya."

Genggamanku terhenti di udara. Neji nyengir dan bersembunyi di punggung Gaara.

"Apaan coba, gue cuman mau nangkep nyamuk." Aku membuang muka ke arah yang berlawanan dari tempat di mana ada Gaara, Neji, dan Sasori.

"Gak usah pake acara tsundere-tsundere-an lagi, Sas, ditikung temen mpos lu." Gaara sok nyeramahin dengan mata yang masih fokus pada layar hpnya.

Ditikung temen?

"MAKSUD LU APAAN, RA?"

"Kita juga suka sama Sakura, Sas, ya tapi kan kita tau dia sukanya sama elu. Ya udah lah kita nyerah."

Neji bersandar di pintu, ia menghela nafas.

Plis? Mereka juga? Anjay, ga nyadar kalo mereka juga suka sama Sakura.

Heh? Juga? Aku 'kan tidak suka sama Sak—

Iya, iya! Aku suka sama Sakura juga! Gak usah melotot gitu, deh!

"Tapi lu harus waspada, Sas. Sai katanya udah move on dari Ino, loh."

Gaara masih fokus pada hpnya. Plis dia niat ngajak ngomong apa kagak sih?

"Lah, terus apa hubungannya?"

"Katanya dia suka sama siapa gitu. Kalo gue sih nebak ya sama Sakura lah." Neji kembali mendekat ke pinggir ranjang.

Hell. Jangan bilang Sai nikung? Gak. Gak mungkin kan, ya. Di antara empat makhluk gak jadi ini, Sai yang paling deket sama gue, abis itu baru Gaara, terus Sasori sama Neji.

"Gue juga nebaknya Sakura." Gaara nyahut lagi.

"Gue juga. Soalnya tadi kan dia keliatan banget pengen jemput Sakura. Pas Sakura nelpon juga, dia langsung siap-siap, tapi keduluan Neji yang otw ke tempat elu pingsan." Sasori mengurut-urut ujung hidungnya sok mikir.

Aku diam. Diingat-ingat, benar juga, kurasa kalo sekedar sahabat, Sai dan Sakura terlalu dekat.

Apa jangan-jangan? Nein! No! Tidak!

Aku menggeleng kuat. Kenapa jadi gini?

"Sabar ae, Sas. Kami dukung lu, kok."

Gaara lepasin pandangannya dari hp, dia mempuk-puk pundakku pelan. Heleh, tumben.

"Gak, gue dukung Sai, maap."

Sasori masang wajah songong. Seakan ngajakin perang. Kampret, temen apa temen?!

"Kalo gue netral. Mending gua dukung Sakura sama gue, buahahaha. Gak, tapi beneran. Gue gak dukung siapa-siapa."

Neji senyum nista, lantas keluar dari ruangan sambil jinjit-jinjit gak jelas.

"Gue #TeamSasuke!" Gaara angkat tinggi-tinggi tangannya sambil megang spanduk bertuliskan namaku dan Sakura. Njirr, kapan dia bikinnya? Tapi leh ugha tuh.

"Gue #TeamSai!"

Sasori juga megang spanduk, bertuliskan nama Sai dan Sakura. Ini juga kapan dia bikinnya? Iyuh, jelek banget sih, hah!

"Karepmu ae lah. Gue gak peduli Sai suka ama Sakura atau sebaliknya atau apa. Kalo Sakura move on dari gue, ya bagus dong?"

Ya, emang bagus 'kan kalo dia move on? Aku gak peduli lagi. Masa bodo sama penikung. Ambil aja sana!

"Halah, lu, Sas! Jangan nyerah, lah! Sia-sia gue dukung lu!" Gaara masang deathglare. Aku mengangguk-angguk refleks. Bener juga, kasian Gaara yang udah bela-belain bikin spanduk buat ngedukung gue.

"Oke, tapi ini demi lu, ya, bukan berarti gue mau."

"KALO MAU JUJUR AJA, SAS, GUE GAPLOK JUGA LU!"

"IYA, IYA! MAKASIH UDAH DUKUNG GUE! GUE BAKAL MERJUANGIN, OKE?!"

"Bagus. Sekarang kita harus mulai bikin strategi. Sasori, pergi sana lu. Bantuin Sai bikin strategi buat ngelawan Sasuke. Hush! Hush!" Ekspresi Gaara berubah seratus delapan puluh derajat. Dia mendorong Sasori keluar dari ruanganku.

"Cih, gue juga gamau lama-lama di sini. Bhay!"

Sasori ngebanting pintu.

Gaara kembali ke samping ranjang sambil menyodorkan hpnya. Aku mengambil hp yang diulurkannya lantas mengernyit, Gaara pasang senyum nista.

"Saa… ayo dapatkan Sakura!"

~fin~

A/N

Apa ini? Astaghfirullah 😂🔫

Maapkeun Hitsu, ini efek baper/?.gg

Ch ini cukup panjang, apa kependekan ya? Tapi tetep kurang ngefeel keknya ;_; makin banyak salahnya nih, huee TT maap maap. Ampuni Hitsu, ampun :"

Pokoknya makasih ae bagi yang masih nunggu dan masih mau baca, makasih banyak :"

Salam poker face,

Hitsune!