Chapter 6

~ Joseon ~

Luhan side*

Luhan terkejut saat sebuah sinar tiba-tiba menyorot ke arahnya. Reflek ia menutupi matanya dengan lengan karena silau. Ia melirik Sehun juga melakukan hal yg sama dengannya. Kemudian entah apa yg terjadi, seseorang tiba-tiba menabraknya dan mendorongnya hingga ia terhuyung lalu jatuh ke sungai. Ia sempat menoleh ke arah Sehun untuk meminta tolong, tapi dilihatnya ada seseorang lagi yg juga menabrak Sehun.

Sebelum terjatuh, ia sempat menoleh sekilas melihat siapa yg menabraknya. Ia yakin yg menabraknya adalah seorang gadis, walau keadaan cukup gelap karena gerhana, ia tetap dapat melihat sekilas kalau itu memang seorang gadis. Namun belum sempat ia memandang lebih jelas lagi, ia sudah terjatuh ke sungai bersama gadis itu. Sehun pun juga. Dan saat didalam air pun Luhan langsung mencari-cari gadis itu. Dilihatnya gadis itu seolah akan tenggelam. Buru-buru ia menarik gadis itu ke atas.

Setelah berhasil naik keatas Luhan membopong gadis itu dan pandangan matanya tak lepas dari wajah gadis dalam gendongannya. Gerhana telah usai, jadi ia bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas. Sedangkan yg digendong, terkejut mendapati dirinya digendong seorang pria asing yg tak dikenalnya. Bahkan pria itu menatap dirinya terus menerus, yg ia sendiripun balas menatap. Gadis itu adalah Xiumin.

Luhan tak bisa lebih kaget lagi saat ia melihat wajah Xiumin secara utuh. Menurutnya, Xiumin tidak hanya cantik, namun sangat sempurna. Belum pernah dilihatnya gadis seperti yg ada dihadapannya sekarang ini. Bahkan menurutnya, pasti Xiumin itu bukan berasal dari sini, karena ia belum pernah melihatnya dimanapun selama ia berkelana keliling desa diam-diam tanpa sepengetahuan orang-orang di istana. Segala sesuatu yg dipakainya pun sangat aneh. Apalagi bentuk tas yg dibawanya, berbeda dengan yg biasa dipakai oleh para pengelana dari desanya.

Luhan dan Xiumin masih terus saling menatap dengan berbagai pertanyaan muncul di pikiran masing-masing, tanpa ada satu katapun yg keluar dari mulut mereka. Luhan memang sudah menurunkan Xiumin dari gendongannya tapi tangannya belum lepas dari pinggang Xiumin. Xiumin pun mulai ketakutan, ia berusaha melepaskan rangkulan tangan Luhan dipinggangnya karena mulai merasa tidak nyaman dengan posisi mereka saat ini. Namun Luhan tak peduli, ia tak mau melepaskan rangkulannya dan malah menatap Xiumin dengan semakin intens.

Kemudian acara saling tatap itu terganggu oleh suara teriakan seorang gadis lain dari belakangnya.

Luhan menoleh, seketika Xiumin melepaskan diri dari Luhan dan langsung berlari mendekati gadis lain itu yg tak lain dan tak bukan adalah adiknya, Kai. Luhan bingung dengan Xiumin yg tiba-tiba langsung berlari kepada gadis itu. 'Mungkin gadis disana itu temannya' pikir Luhan.

Sehun side*

Sehun memandangi gadis dihadapannya dengan ekspresi yg sama seperti Luhan. Sebelum jatuh ke sungai tadi, ia masih ingat dengan jelas, bagaimana kagetnya ia tiba-tiba ditabrak oleh seseorang hingga mereka terjatuh bersama. Ia pun melihat dengan jelas yg menabrak dirinya dan Luhan adalah seorang gadis. Yg lebih mengherankan adalah mereka berdua keluar dari dalam gua bercahaya itu. Ini sungguh aneh, pikir Sehun.

Sehun tak bisa berpikir lebih jernih lagi saat mereka berempat terjatuh ke sungai. Di dalam air, Sehun tanpa sadar mencari-cari gadis itu. Matanya terbelalak melihat gadis itu ternyata tak bisa berenang, ia menggapai-gapai ke segala arah. Sehun segera mendekatinya dan menariknya keatas. Ia sampai lebih dulu ke pinggir sungai sepertinya, karena ia tidak melihat Luhan. Dilihatnya gadis itu rupanya pingsan, Sehun mau tak mau harus membopongnya. Lalu ia membaringkan gadis itu dipinggir sungai.

Sehun berusaha untuk tidak melirik wajah gadis itu, namun matanya tidak menurutinya dan malah menelusuri tiap inchi wajah dari gadis itu. 'Gadis ini manis juga' pikir Sehun. Kulitnya memang tidak putih bersih seperti kebanyakan gadis lainnya, namun bagi Sehun, justru hal itulah yg membuat ia tertarik untuk terus menatapnya. Sehun telah terpesona, ia tanpa sadar mengembangkan senyumnya.

Gadis itu adalah Kai.

Kegiatan asyiknya terinterupsi sebuah suara, Sehun pun waspada. Ternyata itu Luhan yg juga sedang membopong seorang gadis. Ia lega, lalu Sehun memutuskan untuk membangunkan gadis dihadapannya ini.

Tapi ia tak tau bagaimana caranya, Sehun mencoba menepuk-nepuk pipi Kai. Dan Kai tersadar seraya terbatuk-batuk sambil memegang dadanya, ia mencoba untuk duduk dan tentu saja Sehun reflek mengulurkan tangannya untuk membantu Kai bangun. Tapi...

XiuKai side*

Kai kaget saat mendapati seorang mengulurkan tangan padanya. Pria yg berada disebelahnya itu juga menatap aneh pada dirinya. Kai melonjak terbangun dan berteriak kencang sambil mendorong pria itu minggir.

"Kai, kau tak apa?" Xiumin berlari mendekati Kai dengan cemas, ikut berjongkok disamping Kai dan membantunya berdiri. Sedangkan Kai yg sedari tadi masih menatap Sehun, kemudian mengalihkan pandangannya pada kakaknya. Kai menggelengkan kepalanya, lalu melirik ke arah Sehun lagi.

"Kak, kita dimana sekarang? Aku belum pernah kemari sebelumnya. Apa di Seoul masih ada tempat seperti ini?" Kai dan Xiumin memandang ke sekelilingnya.

Xiumin pun sama tak taunya dengan Kai.

"Coba kita hubungi seseorang dan meminta pertolongan," usul Xiumin.

Mereka mengeluarkan hp dan,

"Ah..aku lupa, kita kan baru saja terjatuh ke sungai, pasti mati," mereka berdua terdiam, bingung tak tau mesti bagaimana.

Xiukai menoleh ke arah dua orang pria dibelakang mereka. Luhan dan Sehun berdiri bersebelahan, larut dalam pikiran mereka masing-masing, namun pandangan mereka tak lepas dari Xiukai.

Sehun saat ini lupa dengan niat awalnya mencari tau ramalan tentang gerhana, sedangkan Luhan sendiri juga lupa pada janjinya untuk segera pulang ke istana.

XiuKai pun bergidik ditatap seperti itu. Tiba-tiba Xiumin mendapat ide.

"Kai, bagaimana kalau kita meminta tolong pada mereka saja?" Xiumin mengedikkan kepalanya kearah Luhan dan Sehun.

"Tapi kak, aku merasa aneh dengan mereka. Sedari tadi mereka terus saja menatap kita. Aku ngeri. Dan coba saja lihat pakaian mereka, aneh kan? Apa mungkin mereka sedang syuting drama didaerah sini? Mungkin saja mereka artisnya? Wah, kalau mereka menuntut kita karena mencoba mencelakakan mereka tadi bagaimana kak? Atau mungkin juga mereka orang jahat atau buronan yg sedang dalam pelarian dan supaya tak dikenali mereka memakai pakaian seperti itu," Kai mulai berfantasi dengan liar.

"Ya..ya..Kai, pakai otakmu, kau kebanyakan nonton drama sih. Jadi begitu, kan.

Oke, mulai besok kakak melarangmu nonton drama."

Xiumin menoyor kepala Kai. Kai merengut.

"Kita tak boleh menduga-duga hal buruk seperti itu, yg mungkin belum tentu benar. Tidak baik, Kai. Jadi, bagaimana kalau kita mencoba bertanya saja? Siapa tau mereka bisa membantu kita."

"Tapi kak, aku tetap tidak yakin. Aku agak takut dengan cara mereka menatap kita. Lihat saja tuh,"

Kai menggamit lengan kakaknya dan Xiumin melirik sedikit.

Ia terbelalak, yg dikatakan Kai ternyata benar. Tapi bagaimanapun juga selain mereka tak ada orang lain yg bisa dimintai pertolongan. Mereka pun mulai kedinginan karena pakaian mereka basah.

Dengan agak takut ia menggandeng Kai erat, lalu memberanikan diri mendekati Luhan dan Sehun.

"Mm..maaf, apa boleh kami bertanya, kami sedang berada dimana ya sekarang? Sepertinya kami sedang tersesat, dan bolehkah kami meminta tolong pada anda berdua untuk menghubungi kantor polisi?"

Xiumin bertanya dengan hati-hati, berusaha bersikap sesopan mungkin.

Luhan dan Sehun yg masih berada di dunia pikiran mereka, diam saja tak menanggapi. Xiumin dan Kai yg mulanya menunduk, mulai mendongakkan kepalanya menatap Sehun dan Luhan dengan heran. Xiumin melambaikan tangannya ke wajah Luhan, membuat Luhan tersadar dari lamunannya.

Luhan merasa malu karena kedapatan melamun, berdehem keras membuat Sehun juga ikut tersadar dari lamunannya.

Mereka berubah salah tingkah sendiri. XiuKai pun bingung, 'ada apa dengan mereka berdua?'

"Ehem..maaf aku tak mendengar apa yg kalian katakan tadi, bisa kalian ulangi?" tanya Luhan sambil nyengir.

Sehun menyenggolnya, Luhan menoleh dan memberi tatapan bingung pada Sehun. Sedangkan Sehun sendiri geleng-geleng kepala, kakaknya memang tak tau malu.

Xiumin dan Kai saling pandang,

"Eh, begini,kami rasa kami tersesat karena seseorang mengejar-ngejar kami. Tadi kami kira ada gempa atau semacamnya, makanya kami berusaha menyelamatkan diri keluar dari dalam gua lalu yah, kami menabrak kalian,dan," Xiumin tak melanjutkan kata-katanya karena bingung bagaimana mau melanjutkannya.

"Ah, mungkin kalian bingung, perkenalkan dulu, namaku Kai dan ini kakakku namanya Xiumin," Kai tersenyum sambil mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri.

Xiumin lalu menarik tangan Kai, ia berbisik,

"Kenapa kau malah menyebutkan nama kita, mereka ini mencurigakan, kau tak boleh sembarangan memberitahu mereka."

Kai melirik ke arah Sehun Luhan yg kini sedang menatap mereka penasaran.

"Tenanglah kak, tak apa, kita setidaknya harus bersikap baik jika ingin meminta tolong." Kai balas berbisik.

Ia mendekat lagi kearah Sehun Luhan, kali ini ia menyeret kakaknya juga dan menyuruhnya untuk ikut memperkenalkan diri seperti dirinya.

Xiumin mendengus, tapi ia tetap melakukannya. Diulurkan tangannya, tapi Luhan dan Sehun hanya menatap mereka bingung, tak tau bagaimana harus membalas. Kai merasa gemas karena Luhan dan Sehun hanya diam saja, lalu tanpa malu ia menarik tangan Sehun dan menjabatnya, ia pun melakukannya pada kakaknya dan Luhan juga.

"Jadi, siapa nama kalian?" tanya Kai polos.

Luhan dan Sehun gelagapan, kemudian saling pandang. Sehun memberi isyarat supaya Luhan memperkenalkan dirinya lebih dulu.

"Ah..iya. Perkenalkan namaku Wu Luhan, aku adalah putra dari Raja Wu Yifan dan Ratu Wu Junmyeon. Dan dia adalah saudara kembarku, namanya Wu Sehun."

Luhan membungkukkan badannya dengan hormat, begitu juga Sehun.

Dan reaksi XiuKai,

"Raja?"

"Ratu?"

"Saudara kembar?"

Mereka bertanya dengan ekspresi bodoh tercetak diwajah mereka. HunHan menganggukkan kepala mereka.

"Tunggu, apa aku tak salah dengar?" Xiumin shock.

"Eh, maaf, tapi kami sedang tak bisa bercanda. Kami sedang kesusahan dan kebingungan. Jadi, bisakah kalian lebih serius sedikit saja?" Kai tak percaya dengan apa yg barusan didengarnya.

"Kami sangat serius, kami menjawab apa yg kalian tanyakan. Dan kami bisa menolong kalian," jawab Luhan.

Xiukai saling pandang, sepakat menganggap dua pria itu gila.

Xiumin memijit kepalanya,

"Eumm, maaf sebelumnya tapi yg kami dengar barusan sepertinya bukan hal yg baik untuk dijadikan lelucon. Mereka dulu adalah raja dan ratu yg dihormati, jika seseorang mendengar lelucon kalian itu, kalian bisa dipenjara."

Luhan mencoba menjelaskan bahwa yg dikatakannya tadi itu bukan lelucon. Ia memang adalah anak Raja dan Ratu Wu, ia bisa membuktikannya saat itu juga.

Tetap saja XiuKai tak percaya, ia mengatakan bahwa Raja Wu itu hidup 400 tahun yg lalu, jadi susah untuk membuktikan kebenaran kata-kata Luhan.

Luhan dan Sehun gantian melongo.

'400 tahun yg lalu?' batin mereka.

"Iya, jangan kira kami ini bisa dibodohi dengan modus semacam itu. Kami tak akan percaya." Kai menimpali perkataan kakaknya.

"Apa maksut kalian dengan 400 tahun yg lalu? Ayah dan ibuku masih hidup dan mereka ada diistana sekarang." Luhan bingung.

"Maaf kami tetap tidak percaya." Xiumin berubah sinis, dan memutuskan untuk mencari pertolongan lain saja. Ia merasa dua pria itu adalah pasien gila yg melarikan diri dari rumah sakit.

"Kami akan pergi mencari pertolongan dari orang lain saja. Dan terima kasih tadi sudah mau menolong kami dari sungai. Permisi, ayo Kai." Xiumin bergegas menarik adiknya pergi.

"Tunggu," Sehun menahan tangan Kai.

"Ini sangat berbahaya, hutan disini sangat luas, kalian bisa saja diserang oleh binatang buas."

"Terima kasih peringatannya, tapi kami lebih tak mau mati konyol kedinginan disini." jawab Xiumin.

"Kami bisa membantu.."

Belum lagi Luhan selesai dengan perkataannya. Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda, sepertinya sekelompok orang sedang mendekat ke arah mereka. Luhan melirik ke arah Sehun, dan dibalas anggukan.

"Hyung, aku rasa mereka menemukanmu. Bagaimana?"

"Aku tak bisa pulang sekarang." Luhan berpikir sejenak, lalu secepat kilat ia menarik tangan Xiumin yg masih berdiri mematung, mencoba mencerna hal yg dikatakan Luhan. Ia semakin bingung karena Luhan tiba-tiba menarik tangannya. Sehun pun melakukan hal yg sama pada Kai. Namun Xiukai tetap saja pasrah mengikuti HunHan.

Mereka terus berlari, Luhan mendengar derap kaki kuda semakin mendekat ke arah mereka. Ia menoleh pada Xiumin yang nampak kelelahan. Luhan mulai mencemaskan Xiumin, sambil berlari matanya menelusuri seluruh hutan, bermaksut mencari tempat untuk bersembunyi.

"Hyung! Kemarilah cepat!"

Luhan mengangguk dan menarik Xiumin masuk kedalam semak yg rupanya dibalik semak itu adalah pintu gua.

"Apa? Kenapa harus gua lagi sih?" Kai sepertinya enggan bersembunyi didalam gua, lagi.

"Kita tak punya pilihan lain. Ini tempat yg aman, mereka tak akan tau." Sehun menyahut.

"Bagaimana kau tau? Apa kau yg membuatnya?" tanya Kai sinis, bermaksut menyindir.

"Iya" jawab Sehun singkat. Kai melongo mendengar jawaban Sehun.

"Aku tak percaya," Kai mendengus.

"Itu terserah padamu," Sehun tak kalah sinis. Kai mengedikkan bahunya acuh.

Luhan dan Sehun menjauhkan diri dari XiuKai, mereka mendiskusikan sesuatu.

Sehun tiba-tiba berkata pada Luhan bahwa ia mengingat sesuatu tentang ramalan buku kuno itu.

Sehun ingat hal yg dikatakan Luhan terakhir kali sebelum jatuh ialah petunjuk tentang datangnya utusan Dewa Bulan yg akan turun ketika bulan bertemu matahari ( gerhana ).

"Hyung, menurutmu apa dewa bulan benar-benar mengutus muridnya untuk turun kebumi?" Sehun masih penasaran.

"Entahlah, itu kan cuma ramalan, belum tentu benar juga kan." Luhan menerawang mencoba mengingat apa yg terjadi ketika gerhana tadi.

Ia memejamkan matanya, mencoba berpikir. Gerhana, gua, cahaya, dua orang gadis, dan mereka terjatuh. Ia membelalakan matanya, paham.

"Hun, utusan dewa bulan yg kau tunggu sudah datang," Sehun mengernyitkan dahinya tak mengerti.

Luhan menoleh kearah Xiukai yg memperhatikan mereka berdiskusi.

Sehunpun paham.

"Hyung, mungkinkah orang-orang itu tau jika kita sedang mencari petunjuk tentang ramalan kuno? Aku yakin mereka juga sudah lama tahu. Dan mereka tak mau bersusah payah mencari, jadi mereka sengaja mengikuti kita sedari dipondok tadi. Membiarkan kita menemui utusan dewa itu terlebih dahulu kemudian membawa mereka ketika ada kesempatan."

Luhan pun paham sekarang kenapa ayahandanya mencoba mengadakan upacara itu bersamaan, rupanya ayahandanya ingin mencegah para pengkhianat licik itu mengetahui petunjuk dari ramalan itu.

Luhan merasa bersalah pada ayahandanya. Ia mendekat ke arah Xiumin, lalu menatapnya tajam. Xiumin reflek mundur kebelakang, balas menatap Luhan dengan takut.

"Nona, aku mohon dengarkan perkataanku baik-baik, aku Calon Putra Mahkota Luhan dan adikku Pangeran Sehun, memberi hormat kepada kalian berdua, Sang Utusan Dewa Bulan. Mulai hari ini, detik ini, dengan disaksikan langit, matahari dan bumi, mengucapkan sumpah akan mengabdi, menjaga dan melindungi kalian dengan segenap jiwa raga dan juga nyawa kami."

Luhan dan Sehun berlutut dihadapan mereka seraya mengucapkan ikrar.

Xiukai melongo mendengar hal yg barusan dikatakan HunHan. Mereka shock dan kehabisan kata-kata.

- Di istana -

Raja tengah gusar setelah membaca surat dari putranya. Ia membatin, bagaimana anaknya begitu gegabah mengambil keputusan tanpa mengatakan terlebih dahulu padanya ataupun pamannya. Ia tau pasti kepergian putranya telah diikuti orang-orang suruhan penasihat Choi. Ia juga tau penasihat Choi juga mengincar utusan dewa bulan yg diramalkan akan datang disaat gerhana.

Sial, seharusnya dia menceritakan hal ini pada putranya sedari dulu. Ia menyesal terlalu mencemaskan putranya sendiri. Ia hanya takut kehilangan putranya untuk yg kedua kalinya suatu hari ini. Karena ia tau jika sedari lahir kedua putranya memang telah ditakdirkan menjadi seorang ksatria matahari setelah melihat tanda lahir dipundak mereka. Ia sangat bahagia sekaligus bangga pada awalnya. Namun setelah ia tau tentang mitos anak kembar, ia berubah sedih. Ia tetap tak menyerah dengan mitos konyol itu, maka dari itu ia merencanakan rencana pelarian salah satu putranya. Hanya saja seseorang rupanya telah berkhianat, dan ia merasa hancur karena gagal melindungi salah satu putranya sekaligus sang ksatria matahari.

"Yang Mulia, hamba mohon berhentilah berjalan mondar-mandir seperti itu. Hamba juga tau Yang Mulia mencemaskan Pangeran. Tapi sabarlah sebentar. Ia sudah berjanji akan pulang segera." Ratu dengan sabar menenangkan Raja yg sedang cemas luar biasa.

Raja hanya membalas dengan gumaman. Ini sudah lewat masa gerhana, tapi putranya tak kunjung menampakkan diri. Pikiran liar terus terlintas didalam kepala sang raja. Ia selalu meremas-remas tangannya jika sedang cemas.

Bagaimana jika putranya benar-benar bertemu utusan dewa bulan, anaknya akan berada dalam bahaya. Ia sendiri memang sengaja tak menyuruh prajurit-prajuritnya untuk menjemput putranya. Karena ia yakin putranya akan paham apapun alasannya. Dan yg pasti orang-orang utusan penasihat Choi tak akan bisa dengan mudah melacak keberadaan putranya, jika ia hanya sendirian. Raja merasa sudah saatnya membiarkan putranya menjaga dirinya sendiri.

- Kediaman Penasihat Choi

"Ayah, aku sudah melakukan apa yg kau perintahkan. Bisakah kali ini biarkan aku dan cucumu hidup dengan tenang?" putri penasihat Choi berkata dengan nada marah yg tertahan.

Sementara penasehat Choi sendiri hanya menyeringai, tak mempedulikan protes dari putrinya.

"Kau adalah putriku, sampai kapanpun kau dan putramu itu tak akan pernah bisa hidup dengan tenang."

Tangan putri penasehat Choi mengepal di pangkuannya. Dengan perasaan marah, ia keluar dari kamar ayahnya. Ia benar-benar benci harus menjadi alat dari seorang ayah yg licik.

Ia tak habis pikir, sebenarnya apa yg diincar ayahnya selama ini? Sehingga melakukan hal yg jahat kepada orang lain bahkan pada putrinya sendiri.

Tidak! Kepada putrinya saja ia tak pernah benar-benar memandang, apalagi terhadap orang-orang yg menghalangi keinginannya, ia tak akan segan-segan menyingkirkannya.

Masih tercetak dengan jelas apa yg dikatakan ayahnya 26 tahun yg lalu. Mana mungkin ia melupakannya.

Saat itu adalah pertama kalinya ia mengenal cinta sesungguhnya dari seseorang yg benar-benar ia cintai. Kala itu ia merasakan kebahagiaan yg tak pernah ia dapatkan dari kedua orang tuanya. Ibunya telah meninggal saat ia berusia 6 tahun, dan ayahnya, ia bahkan tak pernah bertemu dengannya. Hanya sesekali saja. Itupun hanya sebentar dan setelah itu ayahnya akan pergi lagi.

Ia selalu iri dengan teman-teman sebayanya yg selalu bisa menghabiskan waktu bersama semua anggota keluarga mereka. Hingga ia bertemu dengan pria yg dicintainya itu. Setiap hari ia diam-diam akan menemui pria itu di pinggir hutan, dan menghabiskan banyak waktu bersama. Namun bodohnya ia tak tau jika selama ini orang suruhan ayahnya selalu mengawasinya dan memberitahukan semua hal yg dilakukannya pada ayahnya.

Suatu hari ia dipanggil oleh ayahnya dan ia terkejut disana sudah ada seseorang yg begitu dikenalnya, yakni kekasihnya sendiri.

Ayahnya sangat marah padanya karena ia berani menjalin kasih bersama seorang pria yg miskin. Tapi ia tak peduli, ia merasa marah pada ayahnya karena telah mengusik kehidupan pribadinya. Ayahnya pun sangat membenci kekasihnya, ia tau itu namun tetap tak peduli.

Hingga puncaknya, ia tak tau bahwa ia telah dijebak oleh ayahnya sendiri supaya ia bisa dinikahkan dengan raja. Ayahnya mengatakan akan membuat kekasihnya dan semua keluarganya celaka jika ia tak menuruti kata-kata ayahnya. Maka dengan bodohnya ia menuruti kata-kata ayahnya. Dan setelah 1tahun kemudian ia mendengar kabar 1keluarga petani tewas mengenaskan didalam rumah mereka. Saat itulah ia sadar sedari awal tak seharusnya ia menuruti kemauan ayahnya. Seharusnya ia menolaknya. Seharusnya ia...

Dia menghela nafas, menangis mengingat peristiwa itu.

"Ayah, kau harus tau satu hal. Aku adalah putrimu, aku juga bisa melakukan hal yg lebih mengerikan kepadamu melebihi semua hal yg kau lakukan padaku. Akan kupastikan kau mendapatkan balasan yg sangat menyakitkan dariku, karena kau membuatku serasa hidup dineraka. Dan semua orang yg juga menyakitiku dan putraku, tak akan kumaafkan mereka semua dengan mudah."

Ia bersumpah pada dirinya sendiri dengan persasaan dendam yg membara.

Xiuhan / Hunkai side*

"Kalian berdua gila,"

"Tak masuk akal,"

"Apa itu Dewa Bulan?"

"Aku rasa kepala kalian terbentur sewaktu jatuh ke sungai tadi."

Xiumin dan Kai menertawakan Luhan dan Sehun yg berbicara, menurut mereka, hal yg konyol dan tak masuk akal.

Luhan dan Sehun berdiri dari posisi berlututnya, kemudian saling pandang. Heran dengan reaksi dari Xiukai.

"Maaf dan terima kasih sebelumnya, tapi lebih baik kami pergi saja, dan aku minta kalian tak mengikuti kami." Xiumin berkata dengan nada yg tak bisa dibantah. Ia menarik lengan Kai keluar dari gua itu.

Ia bersumpah seumur hidupnya tak akan pernah mau masuk kedalam gua lagi.

Sehun baru akan mencegah, namun dicegah oleh Luhan.

"Hyung, kenapa kau menahanku? Diluar sana sangat berbahaya. Aku takut terjadi sesuatu pada mereka,"

"Kita ikuti mereka tapi diam-diam saja jangan terlalu dekat. Kita lihat dulu apa yg terjadi," usul Luhan.

Sehun mengangguk.

Mereka berdua lalu mengikuti mereka dengan tetap waspada.

Xiukai side*

Mereka berdua terus berjalan menelusuri hutan tanpa arah. Hanya berjalan lurus saja. Mereka berdua berjalan bergandengan tangan. Takut kehilangan satu sama lain.

Dan dari kejauhan, mereka melihat sebuah rombongan membawa tandu. Xiukai heran kenapa dijaman serba canggih seperti sekarang ini, masih saja ada yg naik tandu. Pakaian yg dikenakan merekapun sangat aneh. Karena menurut mereka itu pakaian kuno yg biasa dipakai di drama-drama saeguk yg mereka tonton. Mereka mau tak mau merasa geli dan terkikik tertahan, apa mereka kurang kerjaan sehingga mereka semua harus memakai pakaian tradisional itu.

Seorang pengawal mendengar sesuatu, lalu menghentikan perjalanan. Ia waspada, sambil terus menelisik seluruh bagian dari hutan ini. Xiukai langsung terdiam dan bersembunyi. Tapi mereka sempat melihat tatapan mata mengerikan dari pengawal itu.

Mereka berdebar, menahan nafas menanti dengan tegang. Mereka tak berani membuat suara sekecil apapun, apalagi hanya untuk sekedar mengintip. Tangan mereka bertaut.

Untunglah seekor kelinci melompat keluar dari semak-semak mengalihkan perhatian pengawal itu. Kemudian mereka mendengar langkah kaki menjauh dari sana dan suara rombongan bergerak menjauh. Barulah mereka menghela nafas lega.

"Kak, apa itu tadi? Tatapan mata orang itu sungguh mengerikan, aku ngeri," Kai memecah keheningan.

"Entahlah, kakak merasa ada yg aneh disini. Firasatku mengatakan kita tak seharusnya berada disini," Xiumin mencemaskan diri mereka sekarang.

Lalu Kai mengusulkan untuk meneruskan perjalanan mereka. Namun ia sendiri juga merasa ada yg aneh dengan tempat ini. Ia tidak melihat adanya rumah penduduk sedari tadi. Mereka hanya berjalan mengikuti jalan setapak yg tadi dilalui rombongan bertandu. Selama sekitar 30 menit mereka berjalan, akhirnya sampai dipinggir desa. Mata mereka terbelalak takjub, mulut mereka menganga melihat pemandangan yg tertampang dihadapan mereka.

Reflek Xiumin menarik adiknya ketempat yg agak tersembunyi.

- Xiumin side*

"Kai, kau melihatnya?" Kai mengangguk.

"Ini jelas bukan di Seoul, kita berada di suatu tempat yg berbeda," Xiumin shock, nada suaranya agak bergetar. Ia melirik Kai yg sama terguncangnya dengan dirinya.

"Bagaimana ini sekarang?" ia bingung sendiri.

Ia melihat pakaian yg dikenakan dirinya dan Kai, jika mereka nekat masuk ke desa dengan pakaian seperti ini, mereka akan dianggap orang aneh. Xiumin bingung harus berbuat apa.

Kai sendiri memperhatikan kakaknya yg gelisah sedari tadi.

"Kak, bagaimana, apa kita meneruskan perjalanan atau kita kembali saja pada dua pria aneh dihutan tadi?" Xiumin diam memikirkan sesuatu.

Ia tak tau mesti berbuat apa, hingga tiba-tiba seseorang menutupi dirinya dengan sebuah kain. Ia dan adiknya menoleh, rupanya itu Luhan dan Sehun yg melakukannya. Xiumin menatap Luhan heran. Sedangkan Luhan tersenyum saraya berkata," Kau harus menutupi tubuhmu, pakaianmu itu sangat tipis."

Dan Luhan berbisik ditelinganya," dan aku bahkan bisa melihat kulitmu."

Luhan terkekeh dan berbalik pergi.

Xiumin blank, matanya mengedip-ngedip lucu, mencoba mencerna apa yg dikatakan Luhan barusan. Dan saat ia menyadari, sudah terlambat untuk merasa malu, dasar sialan, umpatnya. Wajahnya memerah.

Kai kaget saat seseorang tiba-tiba mengalungkan sebuah kain ke tubuhnya. Rupanya Sehun yg melakukannya.

"Kau harusnya memakai pakaian yg lebih tebal. Supaya jika sewaktu-waktu basah tidak tembus pandang. Dan kusarankan kau jangan melepaskan kain yg kuberikan itu, mataku lama-lama bisa rusak melihat pemandangan itu."

Sehun menyeringai, berjalan menjauh menyusul kakaknya.

Kai menganga mendengar perkataan Sehun barusan. Sehun baru saja mengejek tubuhnya. Lalu tersadar, jika Sehun bisa berkata seperti itu, berarti, dia sedari tadi memperhatikan, haaah, tangan Kai reflek mengeratkan kain itu ke seluruh tubuhnya.

Xiuhan/Hunkai side*

"Hei,tunggu dulu," Xiumin berlari menyusul Luhan dan Sehun, dibelakangnya Kai mengikuti.

"Ada apa? Bukannya kalian tak butuh kami," Luhan mencibir, ia bermaksut menggoda Xiumin.

"Iya, bahkan adikmu ini menganggap kami gila." kata Sehun sinis, ia bermaksut ikut menggoda Kai. Dan Kai balas mendelik kepada Sehun.

Xiumin memperucutkan bibirnya kesal. Lalu menghela nafas.

"Iya..iya baiklah, kami berdua meminta maaf. Kami tadi tidak mau mendengarkan kalian, sekali lagi kami meminta maaf."

Luhan dan Sehun tersenyum menang, dan berbalik.

"Baiklah, kami terima permintaan maaf kalian kalau begitu..." Luhan berhanti sejenak.

"Selamat datang di Hanyang."

TBC*

A/n : aaah...ff apa ini, ceritanya makin ngaco. Duh maaf bgt ya author apdetnya lama. Chap ini tadinya ga sepanjang ini. Tapi mudah-mudahan para readers suka.

Maaf lagi kalo dichap sebelumnya masih banyak typo.

Author malu hehehe

Makasih juga yg udah nyempetin diri buat review. Kalian bikin aku makin semangat buat nerusin ff ini.

Semoga semua tetap suka baca ff ini sampe end.

Selamat membaca dan jangan lupa review ya..pliiis..

Sarange *