Disclaimer: Kuroko no Basuke belongs to Fujimaki Tadatoshi

gem name mostly taken from My-Otome (belongs to Sunrise studio)

Author sama sekali tidak mengambil keuntungan dari fic ini :)


-KnB-


Dengan senyum yang jauh berbeda yang dia tujukan pada Aomine, Akashi menoleh merespon panggilan Kuroko. "Kulihat kau semakin kuat, Tetsuya, kau memang selalu melebihi apa yang kuharapkan. Apa bisa kau dan Daiki menahan Hougyoku Juu di arah jam sebelas dan dua?"

"Sisanya?" Kuroko membagi dua keenam cakramnya mengitari Hogyoku Juu yang dimaksud Akashi tapi dia masih memberi raut bingung dengan yang direncanakan Akashi untuk mendiamkan Hougyoku Juu dengan jumlah banyak dihadapan mereka.

Kali ini senyum yang mampu membuat bulu kuduk berdiri diberikan Akashi. "Kenapa masih menanyakannya, Tetsuya." Lima bola api kecil dimunculkan di atas jari-jari tangan kirinya. "Shakurenki." Rubah putih itu juga membuat bola api sama di ujung ekor-ekornya. Para Hougyoku Juu yang semula bertindak buas sekarang seperti hewan kecil yang sudah tidak bisa kabur dari predatornya saat pijar api yang tak mencapai sepuluh centimeter itu muncul, insting mereka mengatakan dibalik pijar kecil itu ada kekuatan yang melebihi mereka.

"Aku tidak akan memaafkan apa pun yang sudah menyakiti Tetsuya. Hanguskan mereka." Dengan satu perintah itu bola-bola api berterbangan menuju seluruh Hougyokuu Juu yang berlarian pergi mengikuti insting menyelamatkan diri tapi bola itu tidak ingin mengecewakan perintah yang sudah diberikan, semua Hougyoku Juu terus dikejar, dan saat bola api itu menyentuh sedikit saja bagian tubuh Hougyoku Juu api membakar habis, hanya menyisakan gem yang berjatuhan ke tanah.

Akashi mengambil salah satu gem yang terjatuh tak jauh dari kakinya. Menggunakan penglihatan dari mata kirinya, Akashi memperhatikan ryuumyaku yang terus mengalir di dalam gem. Aliran hitam-keunguan yang dilihatnya membuatnya menaikkan satu alis bingung.

"Aah...membosankan." Decak Haizaki kesal, tidak ada lagi Hougyoku Juu tersisa yang menandakan tugasnya kali ini selesai. Suaranya menyadarkan Aomine yang baru saja selesai menarik cakarnya dari Hougyoku Juu terakhir, Akashi yang mengamati gem, dan Kuroko yang memanggil kembali cakramnya bahwa dia masih di sana. "Aku ingin menghadapi kalian, tapi kehadiran tuan muda Akashi di luar rencanaku, jadi kurasa cukup sekian pertunjukannya, masih banyak hal yang harus kulakukan." Tambahnya penuh dengan sarkasme. Dia mengambil satu Isou Seki yang disimpan di kantong celana dan melemparnya ke bawah, menciptakan sebuah portal seperti riak air di udara. "Kuharap Ryouta cepat sembuh." Sindirnya sebelum meloncat memasuki portal di bawahnya.

Aomine dan Kuroko terdiam kaget dengan cara Haizaki meninggalkan tempat itu, memang bukan menggunakan ryuumyaku, lagipula tidak mungkin Haizaki bisa. Perpindahan ryuumyaku membutuhkan bantuan Tsukaima, tepatnya secara teori hanya Hougyoku Juu yang bisa melalui ryuumyaku. Manusia tidak bisa karena fisik mereka tidak di desain mendapat terpaan langsung ryuumyaku secara terus menerus dalam jumlah sangat besar, satu-satunya hal yang membuat manusia menjadi mungkin melewati ryuumyaku hanya pelindung yang diciptakan Tsukaima, tanpa itu tubuh manusia akan hancur. Karena perlindungan Tsukaima juga, perpindahan ryuumnyaku menjadi hak eksklusif pengguna gem asli, gem buatan tidak memiliki Tsukaima didalamnya. Gem yang terletak di anting kanan Haizaki jelas gem buatan, antar Tsukaima bisa merasakan satu sama lain, dan ketiga Tsukaima yang dimiliki Genkei di sana memastikannya, gem Haizaki hanya gem kosong tanpa penghuni. Cara Haizaki berpindah dan Isou Seki yang digunakannya tadi...hanya ada satu kemungkinan yang terpikir di benak Kuroko dan Aomine. Pertanyaan itu sudah di ujung lidah mereka tapi sudut mata Kuroko menangkap hal lain yang jauh lebih penting dari sekedar menanyakan pertanyaan, itu bisa dilakukan lain kali.

"Akashi-kun!" Seru Kuroko panik, memegangi tubuh Kise yang sudah dijalari noda hitam mencapai leher. Tidak ada lagi teriakan sakit tapi raut wajahnya sudah menyuarakan seberapa besar rasa sakit yang harus ditahan. Akashi bisa melihat ada aliran hitam-keunguan di dalam Kise yang mengalir hingga leher, pekat, sama seperti aliran gem yang tergeletak di tanah.

"Shakurenki, kembali." Perintah Akashi yang bergegas menghampiri Kise. Sosok rubah Shakurenki perlahan menjadi transparan menyisakan gem merah yang melayang menuju genggaman Akashi. "Ini akan sangat sakit, Ryouta." Diletakkan gem di genggamannya ke leher Kise yang belum terkena noda hitam, setelah berpendar beberapa kali gem Akashi memunculkan lingkaran api, tidak membakar kulit leher Kise tapi mampu menghentikan pergerakan noda hitam merambat lebih jauh. Tentu saja dari teriak kesakitan Kise teknik ini sangat menyakitkan.

"Daiki, panggil Satsuki ke kediamanku di Kyoto, ada banyak penyembuh terbaik di sana, kemampuan Satsuki bisa mempercepat kondisi."

"Satsuki tidak bisa menggunakan perpindahan ryuumyaku sejauh itu." Tolak Aomine.

"Jika sendiri, tapi kalau kau membantunya aku yakin Tokyo-Kyoto bisa dilewati Satsuki, atau kau mau membahayakan nyawa Ryouta." Tidak perlu kilatan berbahaya di kedua manik berbeda warna Akashi untuk membuat Aomine menggeretakkan gigi. Menggunakan keselamatan Kise sebagai ancaman, tentu saja tidak perlu dikatakan mana yang menjadi prioritas Aomine. Segera Aomine membuat selubung bola biru tua sebelum masuk ke dalam ryuumyaku.

"Aku yakin mendapat dua orang tambahan tidak akan merepotkan Sairikou." Tambah Akashi pada Kuroko.

Seulas senyum menjadi jawaban Kuroko. "Kalau aku tidak bisa, itu hanya akan menjatuhkan nama mentor keduaku di pelatihan." Selubung bola putih berasal dari anting Kuroko menyelimuti tiga pemuda di sana, membawa mereka ke dalam aliran seperti aurora dengan berbagai warna. Saat bola pelindung Sairikou mengangkat mereka keluar dari aliran, mereka tak lagi di Tokyo dan tengah berdiri di depan rumah besar bergaya Jepang kuno dengan beberapa pelayan yang juga mengenakan kimono.

"Seijuurou-sama, semua permintaan anda sudah disiapkan." Ucap salah satu pelayan tak lupa membungkukkan badan saat berbicara dengan tuan muda tempatnya bekerja.

Akashi hanya mengangguk tanda dia mendengarkan tapi tidak memberi perintah lain, dia tetap diam di tempat sampai Aomine muncul bersama Momoi selang beberapa detik.

"Bawa Ryouta ke ruang yang sudah disiapkan. Satsuki, aku tidak memanggilmu kemari untuk fokus pada penyembuhan Ryouta, gunakan Pemberianmu untuk mengamati apa yang menyerang Ryouta." Perintah Akashi.

Aomine hanya memutar mata sambil mengangkat badan Kise di gendongannya. Seperti inilah seorang Akashi Seijuurou, setiap kalimat yang dia keluarkan seakan perintah tanpa menerima penolakan. Yah, semua Genkei sudah terbiasa menghadapi ini, sekarang jauh lebih baik daripada saat pelatihan karena mereka tidak perlu menghadapi Akashi setiap hari, ah...tambahkan Kuroko, dibalik poker facenya dia juga bisa seperti iblis kecil akibat pengaruh mentor tidak resminya atau sering disebut mentor kedua saat pelatihan yang tak lain dan tak bukan Akashi itu sendiri. Tapi tentu saja, tidak semua orang hanya memiliki sifat buruk, Akashi juga dengan caranya sendiri selalu memperhatikan orang-orang di dekatnya, seperti sekarang. Memang merepotkan harus membawa Kise ke Kyoto tapi ucapan Akashi ada benarnya, banyak Madoushi penyembuh terbaik berada di ibukota lama Jepang, dan banyak dari mereka di bawah naungan nama Akashi. Tanpa perintah dari sang tuan muda tidak mungkin semua penyembuh itu segera berkumpul dengan cepat.

Setelah meletakkan Kise di ruangan yang di maksud, Aomine diusir keluar, hanya bisa menunggu di luar. Diam bersandar pada tiang kayu dan berusaha menulikan telinga dari teriak kesakitan di dalam ruangan. Seharusnya dia mengiyakan ajakan Kise saat model itu menelepon dia ada pemotretan di Tokyo, tapi Aomine dengan malasnya menolak. Lagi-lagi dia membuat Kise dalam bahaya.

"Kise-kun tidak akan suka kalau Aomine-kun menyalahkan diri lagi."

Suara Kuroko membuyarkan lamunan Aomine dan perlahan dia mengangkat kepala ke sosok Kuroko yang mengenakan kimono merah maron yang berdiri di depannya.

"Tetsu...kimono merah tidak cocok untukmu." Ucapan yang langsung membuat wajah Kuroko tertekuk kesal. "Tapi aku tidak bisa menyalahkan, Akashi terkenal bukan dengan sifat suka berbaginya." Aomine menyeringai usil yang semakin memancing kekesalan terlihat jelas di wajah Kuroko. "Ucapanmu tadi Tetsu, aku masih merasa salahku yang tidak menerima tawaran Kise sampai dia seperti ini tapi kali akan kubayar dengan mendengar semua ocehannya."

Kuroko sempat akan menyela pada paruh pertama ucapan Aomine, tapi segera diurungkan setelah apa yang dikatakan setelahnya. Ini yang Kuroko harapkan, Aomine tak lagi menjauh karena rasa bersalah. Wajar jika manusia merasa bersalah tapi jika sampai menjauh apalagi orang itu sangat dekat hanya akan melukai kedua belah pihak. Belum habis pikiran Kuroko, dia dikejutkan dengan sepasang lengan yang memeluknya dari samping. Semula dia mengira Akashi tapi lengan ini lebih besar dari Akashi dan terakhir yang dia ingat Akashi sudah mengganti bajunya dengan kimono juga sementara lengan yang memeluknya mengenakan jas abu-abu.

"Niisama?" Tanya Kuroko heran pada orang yang memeluknya mendadak. Kuroko tidak heran bagaimana Mayuzumi bisa masuk ke kediaman Akashi dengan mudah, kakaknya sudah menjadi tamu rutin di rumah ini sejak tahun ajaran baru karena...yah, katakan saja satu-dan-lain-hal-yang-terkadang-bukan-urusan-antar-Madoushi, dia heran darimana kakaknya tahu sekarang dia berada di Kyoto padahal dia belum sempat menghubungi Mayuzumi, takut mengganggu di tengah latihan basket. "Darimana niisama tahu aku di sini?"

"Koshourai merasakan keberadaan Sairikou jadi kupikir kau di tempat ini."

Kuroko menatap gem biru gelap di anting berangka hexagram yang dikenakan Mayuzumi tanpa berkomentar lagi. Kalau Tsukaima kakaknya yang memberitahu apa boleh buat.

"Dan kau memang tidak cocok dengan merah." Mayuzumi menambahkan dan dengan sengaja mengabaikan orang lain yang baru saja bergabung di sana. "Tetsuya lebih cocok warna abu-abu."

Senyum penuh racun terkembang di bibir Akashi. Baru saja dia selesai mengganti bajunya dengan kimono ungu dan menyusul Kuroko, satu dari sedikit orang yang masuk dalam daftar 'minimalkan kontak' sudah muncul memeluk 'Tetsuyanya'. "Abu-abu akan membuat rambut biru Tetsuya tidak mencolok."

Kalau bisa Aomine tidak ingin berada di tempatnya bersandar saat ini, menghilang secepatnya, tidak perlu terjebak di tengah pertengkaran singa dan serigala. Dari pengalaman dia tahu salah bicara sedikit saja nyawanya akan dibawa ke ujung papan dengan hiu lapar menunggu di bawah dan dia tidak mau pengalaman menyeramkan itu terulang lagi. Memang tidak pernah sampai saling beradu sihir tapi tetap saja harus melihat dua orang yang saling memberikan senyum beracun dengan ucapan yang tak kalah menusuk, itu termasuk seram. Sampai detik ini Aomine masih heran bagaimana bisa Kuroko tetap memasang wajah datar saat kakaknya dan Akashi bertengkar mengenai dirinya, bahkan tak jarang sambil terus menyesap vanilla milkshake.

"Tapi Tetsuya memang tidak perlu mencolok." Mayuzumi mendekatkan Kuroko ke dirinya. "Kalian sendiri mengatakan Tetsuya cukup seperti bayangan."

"Memang dan terima kasih sudah menjadi bayangan untuk Rakuzan meski pada kenyataannya Pemberianmu berkebalikan dari Tetsuya, Chihiro-san." Ucap Akashi yang terang-terangan menunjukkan sarkasme di suaranya.

"Aa, tentu saja aku tidak keberatan menjadi bayangan tim Rakuzan. Aku harus menjaga agar Tetsuya tidak berubah pikiran untuk pindah sekolah, cukup aku saja yang berada di Kyoto, berada di Tokyo juga berarti dia tidak perlu repot-repot mengurus seorang bocah yang tidak mau berbagi." Balas Mayuzumi yang tidak mau kalah.

"Berbagi? Kurasa aneh seorang kakak yang sangat posesif pada adiknya mengatakan itu."

Ya. Mayuzumi memang pribadi yang mirip seperti adiknya, pendiam dan tidak banyak menunjukkan ekspresi, tapi tetap saja tidak mungkin ada dua orang yang memiliki pribadi sama persis, perbedaan antara Mayuzumi dan adiknya terlihat dari rasa milkshake favorit, pemilihan genre novel mereka, cara pandang terhadap tim, dan perbedaan terbesar, Mayuzumi Chihiro adalah seorang brother complex. Complex bukan dalam artian 'menyukai adiknya' tapi 'sangat menjaga hingga nyaris tidak mengizinkan siapa pun di dekat adiknya, bahkan teman adiknya sendiri'. Kuroko sendiri tidak pernah memprotes perlakuan kakaknya, tahu betul apa yang menyebabkan Mayuzumi seperti ini.

Yang mengetahui tentang 'fakta kecil' ini hanyalah para Genkei yang memang selalu menjadi target Mayuzumi saat mereka masih dalam pelatihan, bahkan masih hingga sekarang dengan intensitas lebih rendah. Memang karena perbedaan area pelatihan Mayuzumi tidak bisa sering memeriksa kondisi Kuroko, tapi tiap ada waktu, sesedikit apa pun, selalu dia gunakan untuk mengunjungi adiknya, dan jika dia sudah berada di tempat Kuroko, para Genkei tidak akan bisa mendekati anggota terkecil itu dari radius sepuluh meter (yang bisa lebih tergantung dari mood Mayuzumi) atau mata mereka bisa buta sementara akibat flashbang sihir. Hebatnya hanya satu orang yang tidak pernah takut dan nekad mendekati Kuroko tepat di depan mata Mayuzumi, tentu sudah bisa ditebak siapa orang itu.

"Wajar saja seorang kakak menjaga adiknya dari gangguan, terutama dari serangga pengganggu yang sangat susah disingkirkan." Mayuzumi sengaja memberi penekanan pada kata terakhirnya.

"Sepertinya kita memiliki definisi berbeda pada kata 'mengganggu', Chihiro-san."

"Niisama, sesak." Kuroko yang sejak tadi diam akhirnya bersuara dengan wajah datar meski tidak ada sangkut pautnya dengan pembicaraan yang terjadi. Mendengar keluhan adiknya tentu saja Mayuzumi segera mengabulkan, tangan yang memeluk Kuroko dilepaskannya. "Apa Rakuzan tidak ada latihan basket hari ini?"

"Dibatalkan." Jawab Mayuzumi yang membuat Akashi sedikit bingung, dia yakin tidak pernah memberi perintah untuk membatalkan latihan selama dia absen. "Hayama absen sakit sejak kemarin, Nebuya tidak bisa datang karena ada urusan mendadak, Mibuchi terkilir saat pelajaran olahraga, dan ada rapat OSIS, karena hampir semua reguler tidak bisa hadir wakil memutuskan membatalkan latihan hari ini."

Akashi mengangguk mengerti alasan pembatalan latihan hari ini, tidak akan efektif jika tetap dilakukan tanpa kehadiran kapten ataupun wakil, pelatih mereka sendiri tidak bisa berbuat banyak tanpa saran dari Akashi.

"Momoi-san, bagaimana?" Tanya Kuroko begitu melihat Momoi keluar dari balik shoji dengan ekspresi lelah sampai untuk beberapa saat bahkan tidak sadar Kuroko tengah mengajaknya bicara.

"Ah, maaf Tetsu-kun, hanya sedikit lelah. Untuk mengamati apa yang berada di dalam Ki-chan aku harus menggunakan kemampuan Kyuukentou hingga ukuran mikroskopik, kepalaku sedikit pusing." Dan memang wajah Momoi pucat saat itu, jalannya mulai terhuyung, dan hampir terjatuh. Kuroko hendak menangkap Momoi tapi sebuah tangan sudah mendahuluinya. "Dai-chan..."

"Jadi bagaimana kondisi si bodoh di dalam sekarang?" Tanya Aomine.

"Nyawanya sudah tidak terancam tapi masih banyak yang harus diamati. Sekarang Ki-chan masih tertidur, kurasa dua jam lagi akan terbangun." Momoi menjelaskan seraya membenarkan kembali posisinya dan melepas ikat rambut yang semula mengikat rambutnya dalam kuncir kuda.

"Apa kondisinya setelah sadar nanti cukup kuat untuk menjawab pertanyaan?" Tanya Akashi.

Perasaan buruk menyelimuti Momoi saat akan menjawab ini. Dia merasa jika memberi jawaban jujur Kise akan dalam masalah, tapi dia juga tahu tidak ada gunanya berbohong di depan seorang Akashi. "Kurasa iya..." Jawabnya jujur yang setelahnya segera membuat bisikan kecil, "maaf, Dai-chan". Tidak ada pilihan lain, Kise akan melihat sebuah neraka kecil begitu sadar.


"Itu benar Akashicchi...setelah itu aku tidak sadar..."

Kise benar-benar ingin meratapi nasibnya hari ini, pemotretannya terpaksa diulang karena staf tidak sengaja menghilangkan memori kamera, bertemu dengan Haizaki yang sampai membuatnya nyaris berhadapan dengan dewa kematian, sekarang begitu sadar Akashi sudah menjejalinya dengan berbagai pertanyaan, dan cara Akashi bertanya nyaris tidak ada perbedaan dengan menginterogasi penjahat, lengkap dengan tatapan penuh ancaman yang membuatnya seperti hewan buruan yang sudah dipojokkan. Kamisama, kesalahan apa yang sudah dia buat sampai berbagai nasib buruk bergantian mendatanginya.

"Kau benar-benar tidak tahu apa yang Haizaki masukkan?" Tanya Akashi memastikan.

Kise menggeleng kuat, dia benar-benar ingin menangis sekarang.

"Sama sekali tidak...ah, tapi sebelum kondisiku seperti itu Shougo-kun sepertinya memasukkan gem ke luka di pergelanganku." Kise menjulurkan lengan kirinya, menunjukkan satu-satunya bekas luka sayatan tipis yang masih tersisa, tanda ada percampuran energi sihir kuat di luka itu.

Para penyembuh memang menemukan sebuah gem di lokasi luka yang sama, tapi mereka mengatakan gem itu hanya gem buatan yang bahkan sudah tidak berfungsi. Akashi sendiri juga sudah memastikan kebenarannya tapi ada hal lain dari gem itu yang menarik perhatiannya. Struktur gem itu berbeda dari gem buatan yang dibuat oleh pemerintah.

"Akashi! Jangan menginterogasinya lebih dari ini! Dia masih harus istirahat!" Suara lantang Aomine terdengar jelas dari balik shoji. "Mayuzumi-san, lepas!"

"Aominecchi?"

"Berterimakasihlah padanya, Ryouta. Dia yang menolongmu. Besok kutanyakan beberapa hal lain." Akashi membuka shoji dimana Aomine yang masih ditahan Mayuzumi sudah menyambut. Tahu urusan Akashi sudah selesai, Mayuzumi melepas Aomine tanpa menunggu isyarat ataupun perintah. Aomine juga tidak membuang waktu untuk berganti dengan Akashi melihat kondisi Kise, tentu saja tanpa harus menginterogasi sampai pemuda pirang itu meringkuk di sudut kamar.

"Tetsuya?" Tanya Akashi.

Mayuzumi menunjuk kamar lain di kanannya. Dari pintu shoji yang dibiarkan terbuka lebar mereka bisa melihat Momoi tengah menyembuhkan luka di pelipis kiri Kuroko. Perlahan luka yang sudah beberapa tahun tersembunyi di balik surai biru Kuroko menghilang hingga tidak terlihat sama sekali.

"Bagaimana, Tetsu-kun?" Momoi menunjukkan hasil kerjanya melalui kaca.

Kuroko mengangguk setuju dengan hasil kerja Momoi, sama sekali tidak akan ada yang percaya jika dia mengatakan pernah ada luka besar di pelipisnya. "Terima kasih, Momoi-san."

"Sama sekali tidak, aku senang Tetsu-kun akhirnya memintaku menghilangkan bekas luka itu." Balas Momoi cepat. "Apa artinya Tetsu-kun tidak butuh pengingat lagi?"

"Ya. Kurasa Aomine-kun mulai berubah, sudah waktunya bekas luka ini menghilang juga." Jawab Kuroko dihiasi seulas senyum.

"Kerja yang bagus Satsuki." Akashi berjalan masuk ke dalam ruangan, tangannya menyusuri pelipis kiri Kuroko beberapa kali lalu memberikan sebuah ciuman di sana. Momoi nyaris dibuat pingsan melihatnya sementara sudut bibir Mayuzumi terangkat diikuti munculnya empat siku-siku di dahi.

Beruntung suara 'Akachin' dari ujung lorong menghindarkan sebuah pertengkaran terjadi lagi. Akashi harus menyambut tamu yang memang dia perintahkan datang secepat mungkin ke tempatnya.

"Akachin...menggunakan ryuumyaku dari Akita ke Kyoto melelahkan." Keluh Murasakibara sambil membuka bungkus snack. "Kenapa aku harus ke Kyoto, lewat telepon saja bisa kan. Aku masih ada latihan."

"Dengan Shinigami, Himuro Tatsuya. Aku tahu dia murid pindahan Yosen dan dengan cepat menjadi reguler tim basket sekolahmu, Atsushi. Bisa jelaskan kenapa? Aku menyuruhmu menyelesaikan masalah Shinigami secepatnya."

Snack di tangan bukan lagi hal menarik bagi Murasakibara. Dia hanya diam menunduk membalas tatapan Akashi, mengatakan bagaimana emosinya sekarang, amarah. Dari semua Genkei, Murasakibaralah yang selalu menurut pada Akashi, tapi dia juga yang pertama kali melawan Akashi. Akashi bisa mengendalikan Pemberiannya, Emperor Eye, sepenuhnya akibat perseteruan yang pernah terjadi di antara mereka. Setelah itu Murasakibara tak lagi membantah Akashi tapi bukan berarti hal sama tak akan pernah terulang.

Benar saja, saat Murasakibara kembali berbicara nadanya mencerminkan bagaimana buruk apa yang dia rasakan sekarang, Akashi mengungkit sebuah topik yang berbahaya. "Murochin sendiri yang memilih Yosen dan bergabung ke tim basket, aku tidak ikut campur. Tentang Shinigami, Akachin tidak pernah memberi batas waktu. Kapan aku akan menyelesaikan masalah Shinigami aku sendiri yang menentukan."

"Memang aku tidak memberi batas waktu tapi 'secepatnya', kurasa kau paham maksudku, Atsushi."

"Shinigami, Murochin, aku yang mengurusnya."

"Dia tidak mengingatmu."

Akashi sudah mengatakan hal di luar batas. Hembusan angin kuat mengarah menujunya dan hanya dengan angin itu bisa membuat luka di pipi kanannya. Akashi tidak terlihat kaget atau apa pun, hanya menyentuh lukanya, tapi ketenangan yang sudah berada di ujung tanduk ini tidak bertahan lama saat seringai terbentuk di bibir Genkei pemilik elemen api itu.

"Sebisa mungkin hentikan dia mengambil gem asli dari Madoushi lain dan kuberi waktu hingga musim gugur untuk menangkapnya, lebih dari itu aku sendiri yang akan turun tangan. Kau tidak suka kalah kan, Atsushi." Ancamnya final penuh dengan keseriusan, bantahan lebih dari ini tidak akan diterima. Murasakibara hanya bisa mengangguk di bawah tekanan Akashi. "Cukup membahas Shinigami. Atsushi, apa kau pernah bertemu dengan Shougo setelah itu?"

Murasakibara menggeleng. "Tidak...tapi beberapa kali aku mendengar Murochin berbicara dengan seseorang di telepon dan menyebut nama Haizaki dan tentang kesepakatan."

Akashi dengan cepat memproses semua informasi yang dia dapat ini. Dia sudah kehilangan banyak data yang bisa diperoleh langsung di tempat karena kepergiannya satu bulan menjadi perwakilan konferensi, sekarang dia harus bisa menarik garis antar informasi yang didapatnya melalui ucapan.

"Kesepakatan? Berarti dia dan Shougo tidak bisa dikatakan bekerja pada orang yang sama." Guman Akashi.

"Apa maksudnya Akashi-kun? Himuro-san bekerja dengan orang lain?" Tanya Kuroko.

"Bukan, mereka bekerja dengan orang yang sama tapi untuk Himuro Tatsuya kurasa bukan dalam lingkup 'atasan-bawahan'. Aku masih memikirkan 'kesepakatan' yang dikatakan Atsushi tadi." Akashi meletakkan jarinya di dagu dan menggumankan hal-hal lain, terbenam dalam pemikirannya.

"Akashi-kun." Kuroko menepuk pundak Akashi pelan. "Masih ada yang ingin kutanyakan tentang Kise-kun."

Mungkin jika yang mengganggu Akashi bukan Kuroko, orang itu pasti sudah mendapat ultimatum dari raja iblis tapi Kuroko justru mendapat tatapan penuh pengertian. "Panggil Daiki. Dia juga perlu mengetahui ini."

Dalam beberapa menit dengan berat hati Aomine meninggalkan Kise dan masuk ke ruangan tempat Akashi dan lain menunggu. Akashi, Mayuzumi, Kuroko, Momoi, Murasakibara sudah mendahuluinya di ruangan itu, duduk melingkari meja. Aomine mengambil satu-satunya tempat tersisa, di seberang Kuroko yang diapit Akashi dan Mayuzumi.

"Sayang sekali Shintarou tidak bisa datang tapi bisa kuberitahu lain waktu. Daiki, apa kau tahu bagaimana Madoushi memunculkan sihirnya?"

"Hah? Tentu saja aku tahu, aku tidak sebodoh itu. Tubuh Madoushi mengambil ryuumyaku lalu oleh gem diubah menjadi elemen." Jawab Aomine separuh tersindir Akashi meragukan pengetahuannya tapi tidak berani diutarakan terang-terangan, dia masih menyukai hidupnya.

Akashi memberi anggukan. Apa yang dikatakan Aomine memang benar, aliran energi Madoushi berbeda dari manusia karena tubuh Madoushi secara terus-menerus mengambil ryuumyaku tentunya dalam jumlah sangat sedikit dibanding ryuumyaku yang terus mengalir di seluruh Bumi, hal yang tidak mungkin dilakukan manusia biasa. Karena aliran ryuumyaku ini juga membuat Madoushi tidak mungkin memunculkan Menreiki tidak peduli sebesar apa pun perasaan yang meluap, ryuumyaku di dalam tubuh mereka tidak mengizinkan itu. Aliran ryuumyaku di dalam tubuh Madoushi bisa dikatakan energi yang masih mentah untuk itu dibutuhkan gem untuk mengolah ryuumyaku menjadi bentuk energi sesuai dengan elemen yang sesuai dengan penggunanya atau lebih dikenal dengan sihir. Secara teori memang bukan gem yang mengubah ryuumyaku tapi Tsukaima di dalam gem yang seiring waktu fungsi Tsukaima mulai diganti oleh gem buatan dengan alasan keamanan.

"Aliran ryuumyaku di dalam tubuh Madoushi sangat vital, nyawa bagi kita, lalu bagaimana jika aliran vital ini rusak." Ucap Akashi serius membuat semua terdiam. Mereka semua Madoushi, tak butuh waktu lama untuk paham kengerian dari ucapan Akashi.

Dan Aomine yang pertama paham maksud lain Akashi dalam perkataannya. Dia tidak ingin percaya apa yang dipikirkan. "Akashi...kau tidak akan mengatakan..."

Tapi justru Momoi yang membuka suara. "Maaf Dai-chan, aku juga tidak ingin percaya...tapi sudah berkali-kali kuperiksa, aliran ryuumyaku Ki-chan hampir semuanya rusak. Apa pun yang Haizaki berikan itu sangat berbahaya. Sampai sekarang aku dan lainnya masih berusaha mencari tahu apa yang merusak aliran ryuumyaku Ki-chan tapi belum memberi hasil. Nyawanya memang tidak terancam...tapi butuh waktu dua hingga tiga bulan sampai kondisinya pulih sempurna dan bisa melakukan tugas sebagai Madoushi."

"Jangan bercanda!" Marah Aomine juga berdiri cepat. "Batas lapar Tsukaima paling lama hanya satu bulan itu saja sudah berbahaya! Kiyogiku bisa memakan emosi Kise!"

"Untuk itu Daiki, aku sudah mengatasinya. Aku sudah meminta cabang Kanagawa untuk meniadakan kuota yang harus Ryouta berikan sampai dia pulih," Akashi mengangkat tangan memberi tanda pada Aomine agar tidak memotong ucapannya karena Aomine sudah terlihat akan melakukan itu. "dan ya, aku tahu Kiyogiku tetap harus diberi makan, untuk itu kau yang harus melakukannya Daiki." Sebuah jeda diambil Akashi sebelum melanjutkan ucapannya diikuti seulas senyum yang menjadi pertanda buruk, sangat buruk bagi Aomine. "Sampai Ryouta pulih kau yang akan menyuplai jatah makanan Kiyogiku beserta set latihan yang diperpanjang satu bulan lagi dan semua menu dilipatgandakan. Perlu kutambahkan kuota berburumu untuk satu bulan kedepan tiga kali lipat lebih banyak."

Bola mata Aomine nyaris meloncat keluar dari rongganya mendengar apa yang baru saja dia dengar. Apa tidak ada dokter di dekat sini yang bisa memeriksa telinganya, dia pasti salah dengar, pasti. Mungkin sekarang dia masih tidur dan bermimpi, saat bangun nanti Akashi tidak akan mengatakan hal yang sama seperti sekarang. Hukumannya terlalu kejam! Dia hanya sedikit lengah, Kuroko juga tidak terluka parah, kenapa Akashi menjatuhi hukuman seperti ini! Kamisama, ini tidak adil!

"Akan kupastikan sendiri kau melakukan semuanya, Daiki."

Aomine yakin dia baru saja melihat sosok iblis di belakang Akashi yang tersenyum manis padanya.


-KnB-


A/N:

karena sudah chap 6, waktunya membahas beberapa istilah di fic ini =3 *dibanting reader gara2 lama banget jelasinnya*

Pemberian: seperti namanya, Pemberian kemampuan spesial yang diberikan Tsukaima untuk pemegangnya, tiap individu berbeda meski mereka pernah memegang gem yang sama

perpindahan ryuumyaku: menggunakan aliran ryuumyaku untuk berpindah tempat dan metode ini sangat cepat nyaris seperti teleportasi tapi juga berbahaya. Pelindung yang terlalu kuat tidak bisa mengalir di ryuumyaku, terlalu lemah bisa hancur, hanya Madoushi berpengalaman saja yang berani memakai metode ini apalagi digunakan dalam jarak jauh.

dan ya, Madoushi memang mengambil ryuumyaku ke dalam badan mereka tapi jumlahnya sangat sedikit, kurang dari 0,0...% dari ryuumyaku Bumi, sementara di aliran jumlah ryuumyaku terlalu banyak untuk ditampung tubuh manusia.

Ryuumyaku di dalam Madoushi sendiri masih butuh 'konverter' untuk jadi sihir, di sini jadi tugas untuk Tsukaima awalnya, lalu dikembangkan gem buatan tanpa Tsukaima di dalamnya, hanya konverter ryuumyaku menjadi sihir dan penyimpan senjata (note: salah satu bahan utama gem buatan topeng Menreiki karena itu Madoushi diberi kuota berburu). Karena hanya imitiasi, kekuatan gem buatan tidak sebanding dengan gem asli dan rentan rusak juga harus diganti tiap beberapa waktu.

Untuk rumah Akashi, di manga memang rumahnya bergaya Barat tapi di sini jadi Jepang kuno karena saya mau memberi kesan 'mempertahankan tradisi dan kebanggaan keluarga'

Lalu Mayuyu, jangan hajar saya di sini dia jadi brocon *kabur* ini kebutuhan cerita... m(_ _)m tapi soal Mayuyu juga suka milkshake itu cuma headcanon dari berbagai gambar di Tumblr (banyak yg gambar Mayuyu suka milkshake cokelat).

(Akashi sebenarnya manggil Mayuzumi hanya 'Chihiro' tapi karena hubungannya dengan Kuroko bisa jadi taruhan, mau gak mau dia 'sedikit' sopan ke Mayuyu dengan tambahan 'san')