Netherlands mengernyit. Kenangan berdarah lima tahun lalu melintas cepat di otaknya bagaikan kereta api yang tak dapat dihentikan karena remnya sudah blong. Oh, kenangan yang menyenangkan untuk Netherlands; kenangan yang memuakkan untuk kedua adiknya.
Lima tahun lalu, di rumah mewahnya, Netherlands menggenggam dua pisau belati, di ikat pinggangnya terdapat revolver berisi lima peluru―satu peluru sudah menembus dahi ibunya, mencabut nyawa ibunya seketika itu juga. Ayahnya yang saat itu masih hidup berlutut di hadapan Netherlands, memohon-mohon agar dia diampuni. Dalam suasana remang-remang, wajah ayahnya yang dipenuhi dengan keriput dan kerutan karena termakan usia serta darah sang istri memenuhi wajahnya terlihat menyedihkan. Namun, bagi Netherlands wajah berkeriput itu adalah topeng palsu yang sudah menempel dengan daging dan tulang, menyembunyikan rasa egoisme milik ayahnya.
"Kumohon, Neth, jangan lakukan hal seperti ini kepada Ayah!" sang ayah memohon. "Jangan kotori kepribadianmu ini―kepribadian yang dicontoh oleh adik-adikmu―dengan suatu pembunuhan! Jangan lupakan bagaimana pentingnya peranku dalam hidupmu, Netherlands. Jangan lupakan!"
Netherlands hanya menjawab perkataan ayahnya dengan keheningan. Mata mereka beradu: yang satu ingin mencabut nyawa seseorang, yang satu lagi ingin nyawanya terselamatkan.
"Tolong, Neth―"
Kalimatnya terpotong karena satu gerakan cepat Netherlands. Lelaki muda itu menusuk jantung ayahnya dengan dua pisau sekaligus, darah menyembur keluar dengan cepat. Saat badan almarhum ayahnya terkulai di atas lantai dengan genangan darah sebagai alas, Netherlands menatap mata ayahnya yang masih terbuka, senyum kecil tersungging di wajahnya. "Maaf, Ayah. Tapi, ini salahmu sendiri karena sudah mengajariku cara bertarung. Dan, hei, aku benar-benar berterimakasih karena sudah mengajariku. Sangat berguna untukku, seperti sekarang ini."
Netherlands mengambil dua pisaunya dan membersihkannya dengan tisu. Dia membersihkan pisaunya sampai tisu meresap semua cairan darah. Saat itu juga, Luxe muncul di ambang pintu kamar tidur milik orangtuanya dan menjerit. Kemudian Belgie muncul setelah mendengar jeritan Luxe. Belgie menutup mulutnya, menahan hasratnya untuk berteriak dan memilih untuk memeluk Luxe, yang sudah meraung-raung meminta orangtuanya kembali hidup. Netherlands menerima tatapan kecewa bercampur marah milik Belgie dengan sebuah lambaian perpisahan.
"Oh, hai, Belgie. Kau sudah melihat mayat mereka? Ya, aku yang membunuh mereka karena perbuatan mereka. Dan, tolong jangan pernah mencariku karena aku bukan lagi kakak yang baik untuk kalian berdua. Adieu."
Netherlands pun melompat dari lantai dua melalui jendela.
Setelah tiga hari melarikan diri dari rumahnya, gerombolan Pengawas memergokinya membeli majalah di sebuah toko buku. Saat itu, Netherlands menyesal telah membeli di toko buku yang terletak di dekat pelabuhan. Pengawas-Pengawas sering mengawas di sana berhubung di pelabuhan tersebut hanya satu-satunya jalan yang tersedia menuju Dusk Palace, sebutan untuk Istana Kerajaan Barat karena desain istananya mengangkat desain gothik dan berwarna kelabu, sehingga terkadang tak terlihat saat malam hari. Pulau di mana Dusk Palace berdiri disebut juga Dusk. Namun, Netherlands memberi julukan Pulau Dusk menjadi Inferno―Neraka.
Kemudian, Netherlands divonis lima puluh tahun penjara. Namun, di tahun keduanya berada di penjara, dia berhasil kabur dari penjaranya. Dia pun menjadi buronan selama tiga tahun. Tiga tahun yang menyenangkan, sampai akhirnya dia kembali ke Inferno, tepat di penjara tempat ia mendekam tiga tahun lalu.
"Tiga tahun, eh? Lama juga," kata Netherlands. "Jadi, Antonio, apa yang kauinginkan? Aku yakin ada sesuatu yang ingin kaubicarakan denganku. Mungkin tentang hukumanku."
Antonio menggeleng. "Hei, hei, hei. Jangan terburu-buru! Kita ini sudah tak bertemu selama tiga tahun, dan aku merindukan saat-saat itu. Jadi, mari kita berbincang-bincang. Mari kita lihat... Bagaimana kalau kita bicarakan dulu tentang adikmu, Belgie?"
Netherlands mengernyit. "Oh, please... jangan bicarakan dia. Aku benar-benar depresi saat Belgie memilih untuk menjadi istrimu. Dia memang wanita jalang."
Salah satu Pengawas menembak tanah tepat di samping paha Netherlands.
Netherlands mendongak, menatap wajah muram Antonio. "Walaupun dia wanita jalang, aku tetap mencintainya, kakak ipar," Antonio menekankan. "Aku tak akan menggunakannya untuk kepentinganku sendiri. Meskipun dia adalah umpan yang berharga untuk menarikmu keluar dari lubang persembunyianmu, aku tak akan memanfaatkannya, Aku akan melindunginya dari tangan jahanammu itu."
Netherlands meludah ke tanah. "Omong kosong."
"Tak percaya? Ya, sudah. Yang penting aku sudah memberitahumu, kakak ipar." Antonio nyengir saat melihat kerucut di wajah Netherlands. "Yakin tak mau membicarakan Belgie? Luxe juga?"
Netherlands menggeleng. Entah mengapa dia memilih untuk diam daripada meladeni Ketua sialan yang menjadi adik iparnya selama setahun terakhir.
"Hmmm, benar-benar seorang kakak yang tak baik. Tak ingin mengetahui kabar adik-adiknya sendiri. Kasihan Belgie dan Luxe," komentar Antonio.
Memang, Netherlands membenarkan dalam hati.
"Baiklah... jika ini maumu, Netherlands, aku akan masuk ke pokok permasalahan," kata Antonio.
Netherlands mengangguk. Ini jauh lebih baik daripada berbicara basa-basi. Persetan dengan basa-basi.
"Kau yang membunuh Arthur Kirkland di hutan salju, bukan?" Antonio bertanya, menjalinkan kedua tangan di belakang punggung.
Netherlands mengernyit lagi. Interogasi. Dia menginterogasiku. Mengejutkan. Namun dia tak mengelak dari pertanyaan Antonio; itu adalah sebuah kenyataan dan Netherlands tak punya alasan untuk mengelak. Netherlands mengangguk. "Ya, aku membunuhnya secara terpaksa; dia menembakiku. Untung saja badanku tak ditembus oleh peluru timah."
"Langkah yang salah untuk diambil, Netherlands. Tiap kali kau membunuh seseorang, kau akan meninggalkan jejak dan hanya butuh sedikit waktu bagiku untuk menemukanmu."
Netherlands mendengus. "Tentu saja. Buktinya kau sudah menangkapku."
"Baiklah, kita lanjut dulu perbincangan kita. Kau juga yang membunuh Esther, 'kan?"
Netherlands mengangkat alis. "Esther?"
"Gadis di kereta api. Kau ingat?"
"Ah, si gadis Pengawas," kata Netherlands, mengingat-ingat detik-detik saat ia mencabut nyawa gadis malang tersebut. "Ya, aku mengingatnya. Umurnya masih muda tapi sudah menjadi mesin pembunuh manusia. Dia beruntung karena aku sudah mengambil penderitaannya." Netherlands terdiam. "Oh, sudah seharusnya. Tak mungkin hanya ada seorang Pengawas yang mengejarku. Pasti ada seorang lagi, bukan, yang mengawasiku di kereta api itu?"
Antonio bertepuk tangan. "Bravo! Kau benar sekali: seseorang itu adalah masinis."
"Tak perlu bertepuk tangan."
"Tak masalah bagiku." Antonio mengangkat bahu. Dia kembali menjalinkan tangan di belakang punggung, kemudian cengiran di wajahnya menghilang. "Aku akan menanyakan sesuatu, Netherlands."
"Bilang saja. Jangan membuang waktumu, Ketua. Aku yakin kau mempunyai kesibukan tersendiri."
Antonio tak mengacuhkan perkataan Netherlands. "Apakah kau ingin mendapatkan, atau paling tidak menemui adik-adikmu?"
Netherlands terdiam. Hah? Menemui Luxe dan Belgie? Memangnya mereka mau bertemu denganku setelah aku membunuh Ayah dan Ibu? Netherlands merasa bingung. Terkadang, dia membutuhkan seseorang untuk diajaknya bicara, dan terkadang ia juga merindukan saat-saat keluarganya masih utuh, gelak tawa memenuhi rumah mereka, walaupun terkadang mereka―dia dan Belgie―sering bertengkar. Kalau boleh jujur, pertanyaan atau tawaran Antonio cukup menggiurkan. "Ya, aku pikir begitu." Netherlands mengembuskan napas. "Rasanya aneh sekali mendengar kau berbicara mengenai keluargaku."
"Tepat sekali. Kau memang cocok menjadi wakilku." Antonio menyeringai. "Aku ingin bernegoisasi denganmu. Nyawa seseorang dengan nyawa seseorang. Bagaimana menurutmu? Tertarik?"
"Nyawa siapa yang kau maksudkan?"
"Oh, tentu saja perempuan yang kau dekati selama ini! Pelukis itu!"
※
walking on air
six – bullshit, bullshit, and bullshit
※
Malay menatap sekelilingnya dengan kewaspadaan tinggi. Dalam pegangannya, ada penggiling adonan yang terbuat dari kayu; Malay memegang penggiling adonan itu seperti memegang tongkat kasti. Kalung keberuntungannya juga sudah menggantung di leher.
Tingkat kewaspadaannya meningkat saat dia merasa ada seseorang mengawasinya dengan tatapan yang menusuk-nusuk. Jadi, dia mengambil kalung keberuntungannya dan menggenggamnya erat-erat, berharap keberuntungan sedang menghampirinya. Dia pun menonton televisi seakan-akan tak terjadi apa-apa. Kemudian, tingkat kewaspadaannya meningkat lagi saat mendengar jelas suara dentingan kaca di kamar Nesia. Dia pun berjinjit ke dapur, mengambil langkah-langkah kecil agar dia tak menimbulkan suara dan mendatangkan bahaya baginya. Saat mengetahui bahwa tak ada seorang pun yang berada di dapur, dia segera mengambil penggiling adonan dan berlari tunggang-langgang ke ruang tamu, kembali menonton televisi dan berusaha bersikap seperti tak ada yang terjadi.
Malay menarik napas. Oke, Malay, jangan takut. Kau ini laki-laki, jangan takut hanya karena suara dentingan kaca. Mengerti? Malay mengangguk. Mengerti.
Malay mengambil remote televisi, menyalakannya dan mulai menonton.
Lalu, seseorang membanting pintu. Hal itu membuat Malay refleks berlari ke arah pintu dan memukul-mukul kepala seseorang itu dengan penggiling adonannya tanpa melihat siapa orang tersebut. "Jangan kira aku bisa kalah karena badanku kecil, penyusup brengsek!" sembur Malay.
"Siapa yang kaubilang 'penyusup brengsek', hah? !"
Malay berhenti memukul saat mendengar suara kakaknya. "Nesia?"
"Siapa lagi?" Nesia menyahut marah sambil menyambar penggiling adonan dari tangan adiknya.
Malay bergidik. "Ups, salah orang."
Nesia segera menjitak kepala Malay. "Maksudmu apa, hah?"
"Tidak, tidak! Hanya saja aku mengira ada seseorang yang sedang menyusup ke rumah kita."
"Dan mengapa kau bisa berpikiran seperti itu?"
"Karena aku mendengar suara dentingan kaca... Dan, tolonglah jangan membuat wajah seperti itu! Itu menyebalkan!" Malay berteriak saat melihat Nesia memasang wajah yang seakan-akan mengatakan bahwa perkataannya itu hanya bohong belaka.
"Masalahnya, Dik, di sini Jalan Pelangi. Dan karena ini Jalan Pelangi, tak akan ada seseorang yang berani masuk ke sini," Nesia berkata. "Apa kau pernah mendengar kalau para kriminal pernah beraksi di sini? Tidak, bukan?"
"Baiklah, aku memang tidak pernah mendengar kalau kriminal-kriminal itu pernah melakukan kejahatan di sini. Tapi, itu tidak berarti kalau di sini tak akan pernah terjadi kejahatan." Malay merengut.
"Itu hanya perasaanmu saja." Nesia melirik ke arah jam dinding. Dia menepuk kepalanya kemudian berbalik lagi menghadapi sang adik. "Aku harus pergi."
Malay mengangkat alis. "Pergi?"
"Yep. Aku harus pergi ke rumah sakit. Mor tiba-tiba saja pingsan dan tak ada wali sehingga aku yang harus mengurus administrasi... dan pembayaran rumah sakit." Dia melihat Malay membuka mulut. "Tenang saja. Aku akan memotong gajinya untuk beberapa bulan."
Malay segera menutup mulutnya; dia tak perlu mengatakan apa-apa lagi. Dia membiarkan kakaknya berjalan melewatinya menuju kamarnya untuk mengambil pakaian dalam, kardigan hitam, celana selutut berwarna merah serta kaus putih bergambar burung garuda. Malay melipat tangan, bersandar di pintu seraya melihat kakaknya memasukkan semua pakaiannya beserta dompet ke dalam tas ransel batik. "Mau menginap, ya?"
Nesia mengangguk tanpa suara, masih sibuk dengan tas ranselnya.
"Sampai kapan menginapnya?" Malay bertanya lagi.
"Lusa," jawab Nesia singkat. "Mungkin lebih. Dokter mengatakan bahwa dia mungkin pingsan selama beberapa hari. Setelah bangun dia akan diperiksa lagi oleh paramedis untuk mengetahui secara lebih jelas apa yang menyebabkan dia pingsan." Nesia bangkit dan menyandang ranselnya. "Jadi, bisa jaga rumah dulu, selama beberapa hari?"
"Tapi, Pura dan Ru datang ke sini besok! Mereka pasti mencarimu. Apa kau tak mau bertemu dengan mereka?"
"Aku ingin, tapi, aku harus merawat Mor―dia satu-satunya pegawai di galeriku," kata Nesia.
"Baiklah," Malay mendesah, sebuah kerutan muncul di dahi, kecewa. "Tapi, kau harus mampir besok. Masih ada pekerjaan yang belum kaukerjakan."
Nesia mengerjapkan mata, kemudian mengacak-acak rambut Malay. "Tenang saja, aku masih berniat untuk membuat kulit biskuit." Nesia nyengir. "Baiklah, aku harus pergi."
Malay tak menjawab. Dia tetap berdiri di tempatnya dengan tangan terlipat di depan dada sementara Nesia berjalan keluar dari rumah. Malay sempat menghela napas sebelum berjalan ke dapur. Dia mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih, meneguk, membiarkan cairan itu meluncur turun di kerongkongannya. Saat dia mengambil satu tegukan lagi, dia menyadari ada seorang lelaki imut tengah duduk di meja makan, menyesap teh dalam cangkir keramik dengan gerakan anggun. Lelaki itu mendongak, menatapi Malay dengan mata birunya, dan melambai, memasang senyum kecil yang terkesan ramah.
"Ah, Malay. Apa kabar?" tanya lelaki itu.
"Siapa kau?" tanya Malay, memasang kuda-kuda yang dia pelajari dari film. "Mau apa kau di sini?"
Lelaki itu bangkit, cangkir keramik masih berada di tangannya. "Ah, ya... tak sopan jika aku mengetahui namamu, tapi kau tak mengetahui namaku," kata lelaki itu. "Namaku Luxembourg, dan aku di sini untuk menjagamu."
Sudah kubilang ada seorang penyusup, Nes. Ada penyusup di rumah kita, pikir Malay dalam hati, keringat dingin mengucur di pelipisnya.
※
Nesia berlari secepat mungkin ke rumah sakit. Dia merasa bersalah karena meninggalkan Malay di rumah, tapi dia yakin bahwa dia baik-baik saja, aman di dalam rumah mereka yang nyaman. Nesia berlari melewati orang-orang yang sepertinya baru saja pulang dari aktivitas yang melelahkan. Sudah petang, pikir Nesia sembari mendongak menatapi langit jingga keunguan, sinar mentari terlihat samar ditutupi gedung, seberkas warna biru malam yang pekat mulai muncul untuk mengambil alih langit.
Dia kembali memusatkan pandangan ke jalanan, berlari dengan langkah-langkah kecil. Lampu jalan mulai menyala, menerangi jalanan, padahal matahari belum tenggelam juga. Matanya silau saat lampu jalan menyala, sehingga dia mengerjapkan mata berulang kali untuk menyesuaikan diri. Sayangnya, setelah menyesuaikan diri dengan cahaya lampu jalan, Nesia menabrak seorang perempuan, membuat perempuan yang ia tabrak terjatuh.
"Maaf!" Nesia berseru, mengulurkan tangan. "Anda tak apa-apa?"
Perempuan yang ia tabrak menyambut uluran tangan Nesia. Setelah bangkit, dia menyapu debu dan pasir dari roknya. "Ya, aku tak apa-apa," kata perempuan tersebut. "Dan permintaan maaf diterima. Lain kali hati-hati saat berjalan. Kau tak mau 'kan kejadian seperti ini terulang lagi?"
Nesia mengangguk malu. "Baik."
Perempuan itu melenggang pergi. Nesia menatapi siluet punggung perempuan itu sebelum menghilang ditelan keramaian. Perempuan itu cantik. Rambutnya pendek dan bergelombang, bandana hijau menghiasi rambut cokelatnya. Tubuhnya juga sepertinya proporsional. Dari cara berbicaranya tadi, perempuan itu termasuk kategori orang yang ramah. Nesia juga sempat melihat sesuatu berkilauan di jari manisnya. Mungkin cincin pernikahan. Lelaki yang beruntung.
Nesia menggeleng kepala, memarahi dirinya sendiri karena melamun di tengah jalan. Tanpa buang waktu lagi, dia berlari menuju rumah sakit.
.
.
.
Sayang, aku sudah menemuinya. Nesia Raya itu cantik sekali―cantiknya sama persis dengan foto yang kudapat dari internet. Aku tak percaya bahwa aku menginginkannya sebagai adik iparku. Tapi, tolong, buat dia bernegoisasi denganmu. Aku tak ingin membunuh sekarang ini...Tapi, hal itu tak mungkin, ya? Kalau Netherlands tidak mau bernegoisasi, aku harus membunuh Nesia dan Luxe akan membunuh adiknya... itu tugasku, bukan?
~Belgie
Belgie menggigit bibirnya. Tangannya gemetar saat menekan tombol untuk mengirim pesan kepada Antonio. Dia tak ingin melakukan hal ini.
※
Netherlands mengernyitkan dahi. "Ini bukanlah negoisasi, Antonio. Ini pemaksaan!"
"Oh, ayolah. Terima saja. Semua ini aku atur agar kau bisa bertemu dengan Belgie dan Luxe," kata Antonio. "Bunuh saja adik pelukis itu. Atau..."
"Atau apa? !" Netherlands mendesak.
"Belgie akan membunuh pelukis itu. Luxe akan membunuh adiknya. Dan aku akan membunuh mereka berdua. Hanya karena Belgie sudah menjadi istriku dan Luxe sudah menjadi adikku, aku tak akan segan membunuh mereka berdua," Antonio menjawab. "Terima atau tidak?"
Netherlands terdiam. Senyum pahit muncul di wajahnya. Tampaknya dia harus melakukan hal itu. "Aku tak punya pilihan lain, eh?"
"Ya, kau memang tak punya pilihan lain." Antonio menyeringai puas, senang dengan keputusan Netherlands.. Dia pun menoleh ke arah seorang Pengawas. "Siapkan pesawat. Kita pergi ke Tenggara," perintahnya.
disclaimer: Hetalia – Axis Powers © Hidekaz Himaruya
a/n: dan, cerita ini tetap gaje -_- maaf kalo memusingkan. Boleh dibilang ini dibuat secara terburu-buru karena kakak saya mau pake laptop saya buat ngedit foto :p yah, tapi senang juga sih, habis nonton Inception sama Time of EVE XDD
music: Stay with You – capsule
,_ _,
[o_o]
/(_ _)\
