Memory 2:

Dan Satoru salah mengira. Mereka adalah para Assassin yang dilatih untuk memburu para Templar. Koichirou mengintip lewat jendela dan menyiapkan segala sesuatu untuk membunuh para Assassin.

"Sial! Mereka ke sini!" geram Koichirou

"Grandmaster. Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Ichi-san.

"Bawa pin itu dan keluar dari sini. Aku yang hentikan mereka!" perintah Satoru.

"Jangan, Master Satoru. Kau tidak boleh mati!"

"Ini perintah, Koichirou. Jika tidak, manuscript dan box itu akan jatuh ke tangan mereka. Apa kau tidak ingin hal itu terjadi?! Sebagai grandmaster, aku perintahkan Koichirou untuk melindungi para member Templar dari serangan Assassins sampai mati."

Koichirou memejamkan sejenak. Kemudian, dia mengangguk tegas.

"Semuanya! Ayo keluar dari sini!"

"Ok! Master Satoru, jangan mati iya!" ujar Mayumi.

"Tentu saja. Aku tidak akan mati di sini. Masih ada yang harus aku selesaikan." Kata Satoru tersenyum.

Mereka meninggalkan satoru sendirian di apartemen Ichi-san. Seketika, Mayumi terlihat khawatir terjadi sesuatu pada Satoru.

"Ku mohon, jangan sampai dia mati. May the Father of Understanding guide us." Kata Mayumi berdoa dalam hati.

Satoru bersiap menggunakan pedang dan pisau katana. Para tentara mendobrak pintunya dan menembak dengan menggunakan AK-47. Satoru merunduk dan menembak dengan hidden gun tepat ke mata kakinya. Tentara tersebut berteriak kesakitan, dan tentara lainnya menodongkan pistol ke kepala Satoru.

"Jangan bergerak!" teriak tentara kedua.

Satoru tersenyum dan menancapkan hidden blade ke pergelangan tangannya dan tangan kanan Satoru menusuk ke leher tentara kedua. Kaget karena serangannya, Tentara ketiga menembak cepat ke Satoru, namun dia menggunakan tubuh tentara kedua sebagai perisai. Kemudian, Satoru mendorong tubuh tentara kedua hingga ketiga tersungkur ke lantai, dan dia menusuk tepat ke jantung tentara tersebut.

Tentara keempat terkejut, tetapi ditembak duluan oleh Satoru. Tepat mengenai di kepalanya. Satoru mengisi ulang, dan melompat dari lantai 6 (untungnya dia tidak mati). Dia melakukan aba-aba untuk mendarat sambil berlari zig zag ke tentara kelima dan keenam. Dia hanya menggunakan pisau listrik. Tentara kelima melempar granat dan tentara keenam menembak ke bawah supaya Satoru terjepit. Namun, dugaannya salah. Karena dia dilatih oleh Assassins dan Knight yang bergabung dengan Templar Order, dia sudah paham gerakan musuh. Dia memutarbalikkan tubuh dari arah kiri sambil menendang ke bagian wajah tentara keenam. Tentara kelima hanya bengong, dan berusaha untuk menembaknya dengan cepat. Namun sayang, Grandmaster tersebut melempar pisau listrik tepat di lehernya hingga tewas.

Pertarungan cukup mudah bagi Satoru. Namun, dia menganggap pertarungan ini bukanlah awal dari akhir. Melainkan dia semakin waspada dengan para Assassins. Dia khawatir jika pin tersebut jatuh ke tangan mereka. Dia tidak bisa memaafkan dirinya jika sampai itu terjadi.

Beberapa menit kemudian, muncul 3 mobil sambil menembak dengan SMG. Satoru langsung berlari kencang dari serangan tembakan.

"Tch! Mereka masih belum menyerah juga!" ujar Satoru dalam hati.

Saat itulah, Satoru memiliki ide, yaitu memasang jebakan dan bersiap menyerang. Anehnya, musuh tidak menuju kemari. Satoru heran, dan langsung menemui ke tempat kejadian. Ternyata 3 mobil tersebut hancur terbelah. Satoru melihat sekilas ada benas di depannya, dan ternyata ada orang yang berdiri mengenakan outfit Templar. Hanya saja, dia mengenakan Black Templar. Berbaju hitam dilengkapi hoodie dan gas mask di mulutnya. Dia menoleh ke belakang.

"May the Father of Understanding guide us, Grandmaster Satoru. Aku S17," ujar pria yang bernama S17. Lalu, saat awan mengepul di sekelilingnya, dia menghilang begitu saja.

Satoru bingung. Dia bertanya-tanya siapa sebenarnya pria itu? Dan apa tujuannya? Tetapi yang jelas dia ingat hanya satu. Pria itu adalah member Templar Order, dan cara tarungnya sama persis.

"Tidak salah lagi. Dia dilatih oleh Grandmaster, Otto Reinshdalt."