Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto.

Warning : OOC, AU, Shounen Ai, YAOI, typo(s), etc DON'T LIKE DON'T READ!


D E S T I N Y

-Chapter 6: Fiance or First Love?-


Naruto terlihat mengetuk-ngetuk pelan meja kayu di hadapannya sambil sesekali melirik ke arah jam tangan yang terpasang di tangan kirinya. Ia juga terlihat mengerutu kecil sambil menyesap secangkir black coffee yang tersaji di atas mejanya. Menggerutu kepada orang yang memaksa bertemu dengannya saat jam makan siang di sebuah restoran tidak jauh dari kantornya.

Mata biru pria berambut pirang itu menyusuri keadaan restoran yang sedang ramai-ramainya. Ia mengutuki dirinya sendiri mengapa ia tidak memesan tempat di restoran Italia langganannya di mana tempat itu merupakan tempat yang tenang dan tidak berisik seperti ini.

"Ke mana perginya dia? Tidak tahukah kalau hari ini aku sangat sibuk?" gumam Naruto pada dirinya sendiri. Kembali, mata birunya menatap ke arah pintu masuk restoran itu berharap orang yang ditunggunya segera muncul. Tapi setelah lima menit lebih orang itu tidak juga muncul, Naruto mendecak kesal. Diraihnya PDA miliknya yang tergeletak begitu saja di atas meja restoran. Selama beberapa saat, ia hanya berkutat dengan benda ditangannya itu.

Ia mendengus kesal membaca agendanya selama dua hari ke depan. Ada rapat dengan bagian personalia di kantor. Belum lagi ada undangan makan malam dari salah satu kolega bisnisnya. Serta beberapa pertemuan kecil membahas beberapa kerja-sama dengan pihak-pihak lain.

Padahal ia baru kemarin sampai di Amerika. Tapi, kesibukannya di kantor membuatnya tidak bisa bersantai barang satu hari-pun. Hari ini saja tidak berbeda dengan hari-hari sibuknya yang biasa. Ia harus memeriksa dan menandatangani dokumen-dokumen yang bertumpuk di ruangannya. Padahal, ia baru empat hari pergi ke Jepang. Tidak terbayang kalau sampai ia sebulan berada di sana.

Jepang...

Ingatan Naruto kembali kepada hari-harinya di Negeri itu. Di mana ia bertemu dengan orang itu lagi. Di mana perasaannya sering bimbang saat bersama dengan Sasuke. Naruto sering berpikir apa saat ini takdir tengah mempermainkan hidupnya?

"Naruto..."

Panggilan seseorag membuat Naruto mendongakkan kepalanya menatap siapa yang baru saja memanggilnya. Ia terkejut saat melihat seorang wanita berpakaian rapi tengah berdiri di sampingnya sambil tersenyum. Lagi-lagi Naruto harus mengakui kalau saat ini Takdir memang sedang mempermainkannya.

"Sakura..." bisik Naruto.

"Ternyata memang kau. Aku sempat ragu apakah aku harus menyapamu atau tidak. Kebetulan aku sedang mengurus beberapa hal di New York. Tidak kusangka kalau aku akan bertemu denganmu di tempat ini."

Tanpa menunggu Naruto mempersilahkannya duduk, wanita berambut merah jambu itu mengambil tempat duduk di hadapan Naruto dan meletakkan tas putih miliknya di kursi kosong di sampingnya. Ia juga sempat memanggil seorang pelayan dan memesan secangkir ice coffee dan seporsi salad buah.

Naruto yang melihat Sakura sedang berkutat dengan ponsel miliknya hanya mendengus pelan. Ia sama sekali tidak mempunyai janji bertemu dengan wanita itu. Ia sedang menunggu seseorang tapi kenapa malah bertemu dengannya?

"Maaf aku seenaknya saja duduk di sini. Aku tidak melihat meja kosong selain di sini. Apa kau keberatan, Naruto?" tanya Sakura.

"Tidak," jawab Naruto pendek sambil menyesap kembali minumannya.

"...Sudah lama sekali aku tidak melihatmu. Sepuluh tahun tidak bertemu, kau terlihat berbeda sekali Naruto. Kau menjadi lebih... tampan dan dewasa," kata Sakura memulai percakapan di antara mereka.

Naruto tidak berkomentar. Memang tidak ada yang patut ia komentari mengingat ia sedang tidak dalam keadaan ingin berbincang-bincang dengan wanita yang duduk di hadapannya.

"...Apa kau masih marah padaku, Naruto?" tanya Sakura lagi. Pesanannya sudah tiba beberapa saat yang lalu. Diminumnya pelan minuman yang dipesannya. Udara di New York yang sedang tidak bagus tidak menghalangi wanita itu untuk menikmati ice coffee pesanannya.

"Apa perlu ditanyakan lagi?"

Naruto berbalik bertanya. Kali ini pria berambut pirang itu lebih memilih menatap pemandangan di luar jendela restoran itu. Terlihat, beberapa pejalan kaki tengah menikmati suasana mendung hari itu dengan berjalan-jalan santai di jalan berbatu di salah satu sudut 5th Avenue New York City.

Sakura menghela nafasnya. Tidak menyangka kalau pria di hadapannya itu masih mengingat kejadian yang terjadi sepuluh tahun silam. Memang, saat itu salahnyalah Naruto sampai membencinya seperti sekarang. Salahnyalah karena menyebabkan kesalahpahaman di antara dua orang yang sangat berarti di hidupnya itu.

"Bisakah aku menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi saat itu?" pinta Sakura. Ia meremas pelan kedua tangannya yang tertumpuk di atas meja. Hilanglah sudah niatnya untuk menikmati makan siangnya yang sangat tertunda.

"Tidak ada yang perlu dijelaskan, Sakura," kata Naruto. "Walaupun kau menjelaskan semuanya pun, sama sekali tidak akan merubah apa-apa. Aku sudah punya kehidupanku sendiri di sini. Masa-masa itu semua, hanyalah sebuah masa lalu untukku."

"Tapi tidak bagi Sasuke-kun. Ia masih belum melupakan semuanya, Naruto. Ia masih belum melupakanmu. Kaulah satu-satunya orang yang ia cintai," ujar wanita itu cepat.

"Aku tidak peduli..."

"Cobalah untuk sedikit peduli..."

"Saku-"

"Itu semua kesalahanku," potong Sakura cepat. Ia menunduk memandang meja kayu berwarna putih di hadapannya. "Akulah yang mencium Sasuke-kun. Bukan sebaliknya..."


Flashback...

"Sampai kapan kau mau merahasiakan hal ini dari Naruto, Sasuke-kun?" tanya Sakura kepada pemuda di hadapannya.

"Hn,"

"Sasuke-kun..."

"Sudahlah, Sakura. Ini urusanku, kau tidak perlu memikirkannya."

"Tapi tetap saja Naruto harus tahu," desaknya. Ia sudah tidak tahan lagi harus menyembunyikan tentang pertunangan yang direncanakan kedua orang tuanya itu. Apalagi mengingat kalau tunangannya itu saat ini sedang menjalin hubungan dengan sahabatnya. Setidaknya biarkan Naruto tahu agar ia tidak berpikir kalau mereka mengkhianatinya.

"Akan kupikirkan cara memberitahunya nanti,"

Sakura menghela nafasnya menanggapi sikap cuek dan seenaknya dari Uchiha Sasuke itu. Memang benar, ia sangat berterima kasih karena Sasuke mau menyetujui pertunangan ini untuk membantu masalah keuangan perusahaan keluarganya. Tapi kalau sampai menyembunyikan ini dari Naruto? Sakura sama sekali tidak sanggup.

"...Kita hentikan saja kepura-puraan ini," kata Sakura. "Aku tidak sanggup, Sasuke-kun. Cepat atau lambat kita memang harus mengatakannya pada orang tua kita. Aku tidak bisa lagi seperti ini mengingat kita harus membohongi Naruto."

"Kau yakin? Lalu bagaimana dengan perusahaan keluargamu? Kalian sedang mengalami kesulitan keuangan yang tidak bisa diremehkan begitu saja,"

Sakura tersenyum lembut ke arah Sasuke. "Kami akan mencoba mencari cara lain. Aku akan lebih sedih kalau sampai aku menyakiti sahabatku,"

Sasuke tampak menimbang-nimbang sebentar. Harus ia akui, ia pun sangat tidak nyaman dengan pertunangan ini. Yang ia cintai itu adalah Naruto, bukan gadis di hadapannya saat ini.

"Terserah padamu saja..."

"Terima kasih, Sasuke-kun,"

"Hn,"

"Hei, jangan memasang ekspresi seperti itu. Kami akan baik-baik saja. Terima kasih sudah mau membantuku," kata Sakura sembari menepuk pelan bahu Sasuke. Perlahan, ia mendekatkan wajahnya dengan wajah putih pucat Sasuke.

"Terima kasih banyak, Sasuke-kun," bisik Sakura sembari menempelkan bibirnya ke bibir pemuda di hadapannya. Hanya kecupan singkat sebagai tanda terima kasihnya kepada pemuda itu.

'Semoga kau bahagia dengan Naruto,' batinnya.

"Sa-Sasuke..."

End of Flashback


"Aku tahu aku salah karena mencium Sasuke-kun. Tapi kulakukan semua itu hanya karena rasa terima kasihku. Tidak kusangka kalau kau akan melihatnya. Maafkan aku, Naruto..." bisik Sakura. Ia tetap menunduk menolak menatap Naruto. Ia benar-benar merasa bersalah kepada pria dihadapannya itu.

Naruto sendiri hanya memandang wanita yang kini bahunya bergetar dengan tatapan yang sulit diartikan.

'Sakura..." panggil Naruto.

Sakura mendongakkan kepalanya. Mata hijaunya yang sedikit basah karena air mata memandang ke arah mata biru milik pria di hadapannya. Ia harap, dengan apa yang ia ceritakan barusan setidaknya bisa memperbaiki kesalahpahaman yang terjadi pada dua orang itu.

Tangan tan Naruto terulur ke arah wajah Sakura. Diusapnya pelan setetes air mata yang keluar dari sudut mata wanita itu.

"Jangan menangis..." ujarnya kepada wanita itu.

Sakura yang agaknya terkejut karena sikap Naruto hanya bisa mematung diam. Ia tidak bisa menebak apakah pria itu masih marah atau tidak.

"Na-Naruto..."

Naruto tidak menjawab. Ia menarik kembali tangannya yang terulur lalu menopangkan dagunya sembari menatap kembali ke arah luar kaca restoran.

"Kau tahu Sakura," kata Naruto. "Aku juga mendengar penjelasan yang sama dari Sasuke. Penjelasan mengenai pertunangan yang orang tua kalian rencanakan. Mungkin aku yang dulu akan bersorak gembira karena mendengar pertunangan kalian itu ternyata sudah dibatalkan. Tapi aku bukanlah Naruto yang dulu. Aku sudah berubah. Begitu juga denganmu dan Sasuke. Kita itu tumbuh dan berkembang seiring berjalannya waktu."

"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, Naruto."

Naruto terkekeh pelan yang jelas membuat Sakura menautkan kedua alisnya.

"Sudah kukatakan aku ini sudah berubah dari Naruto yang dulu kau kenal. Aku berterima kasih karena kau sudah mau menjelaskan kejadian sepuluh tahun yang lalu. Tapi semua itu tidak akan merubah keadaan kita saat ini, Sakura."

Naruto berhenti sebentar hanya untuk menyesap kopi miliknya. Ia mengernyit karena mendapati kopinya sudah dingin sehingga akhirnya ia memesan secangkir kopi lagi.

"...Hubunganku dan Sasuke sudah berakhir sepuluh tahun yang lalu. Walau apapun yang terjadi, kami tidak akan bersama lagi,"

"Tapi kau masih mencintainya, `kan? Matamu tidak bisa berbohong."

Naruto tersenyum miris. Dialihkannya pandangannya ke arah Sakura yang sedang menatapnya; meminta penjelasan.

"Mencintainya? Aku... aku memang masih mencintainya. Hal itu jelas tidak bisa kupungkiri lagi. Aku masih merasakan bagaimana jatungku yang berdetak kencang dan perasaan nyaman yang kurasakan saat aku bersamanya. Yah, walaupun selama ini perasaanku itu tertutupi dengan rasa kesal dan marahku padanya. Tapi aku sadar, aku memang masih mencintainya."

"Lalu apa masalahnya? Kalian saling mencintai. Kau tidak berpikir untuk melepaskan orang yang kau sayangi karena orang-orang menolak mengakui hubungan kalian `kan?"

"Aku..."

"Naruto!"

Suara seruan seorang wanita memaksa kedua orang itu menghentikan pembicaraan mereka. Bukan hanya mereka berdua, tapi hampir semua pengunjung restoran itu kini menatap heran ke arah seorang wanita muda yang berdiri di ambang pintu restoran itu. Ia menatap dengan tajam ke arah Naruto kemudian dengan kesal berjalan ke arah meja kedua orang itu.

"Aku memintamu untuk menungguku di sini. Tapi kenapa kau malah mengobrol dengan seorang wanita? Siapa dia, Naruto?" tanya wanita berambut pirang cerah itu. Mata lavender pucatnya menatap tajam ke arah Sakura dan membuat wanita itu tampak tidak nyaman.

"Dia teman SMA-ku. Kebetulan kami bertemu di sini," kata Naruto santai mengacuhkan kemarahan wanita yang kini berdiri di sampingnya sambil menenteng beberapa tas yang dari merk yang tercetak di bagian depan tas-tas tersebut, bisa dipastikan semua tas-tas itu isinya adalah pakaian.

"Teman?" ulang wanita itu. "Aku tidak pernah melihat temanmu ini sebelumnya."

"Ah, perkenalkan. Aku Haruno Sakura. Kami memang tidak pernah bertemu sejak sepuluh tahun yang lalu. Aku lebih sering menghabiskan waktuku di Perancis. Makanya kami jarang bertemu," kata Sakura sembari mengulurkan tangannya ke arah wanita di sampingnya.

Dengan susah payah, wanita itu membalas uluran tangan Sakura.

"Aku Shion. Maafkan sikap tidak sopanku barusan," kata wanita itu. Ia kemudian meletakkan tas-tas belanjaannya itu di dekat kaki Naruto kemudian mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang masih kosong di samping pria berambut pirang itu. Sambil menyilangkan tangannya di depan dada, ia memandang Naruto.

"Sudah lama?" tanya wanita itu.

"Cukup lama sehingga aku bisa menghabiskan tiga buah pizza ukuran besar hanya dengan menunggumu di sini," jawab Naruto. Kembali, ia menyesap kopi pesanannya menghiraukan wanita yang duduk di sampingnya kini sedang menatap kesal padanya. Salahnya sendiri sampai membuatnya menunggu satu jam lebih.

Sakura menatap heran ke arah kedua orang yang duduk di depannya. Bagaimana wanita bernama Shion itu merangkul lengan Naruto dan merajuk meminta maaf karena membuat pria itu membatalkan beberapa jadwalnya hari ini hanya untuk menunggu wanita itu.

"Maaf..." panggil Sakura yang langsung mendapat perhatian dari kedua orang di hadapannya itu. "Apa hubungan kalian berdua?"

Shion menepuk pelan dahinya menyadari kesalahan yang sepertinya tidak sengaja ia lakukan. Sementara Naruto, ia hanya mengalihkan pandangannya ke arah lain menolak menatap Sakura.

"Naruto belum menceritakan padamu tentangku?" tanya Shion yang dijawab dengan gelengan pelan dari Sakura. "Pantas. Perkenalkan sekali lagi. Aku Shion, tunangannya."

.

.

.

"Sepertinya temanmu itu terkejut sekali saat tahu kalau kita sudah bertunangan," kata Shion sesampainya mereka di apartemen tempat tinggal Naruto di wilayah Washington. Pusat pemerintahan Amerika Serikat. Wanita berambut pirang itu merebahkan dirinya di tempat tidur milik Naruto dengan tas-tas belanjaan miliknya yang berserakan di samping tempat tidur tersebut.

Ia benar-benar lelah karena seharian tadi ia menghabiskan waktunya untuk berkeliling New York, memborong pakaian-pakaian di toko-toko di kota itu. Sudah lama sekali ia tidak berbelanja sepuasnya mengingat kesibukan yang dijalaninya sebagai seorang pengacara.

"Naruto, kau dengar aku?" tanyanya kepada pria itu. Ia bangun dari tempat tidur. Terkejut saat melihat Naruto tengah membaringkan dirinya di sofa panjang di ruangan yang sama dengannya.

Melepaskan sepatu hak tinggi yang dipakainya, Shion berjalan pelan mendekati Naruto. Ia kemudian mendudukkan dirinya di samping pria berambut pirang itu.

"Kau kenapa? Sejak keluar dari restoran tadi kau lebih banyak diam. Kau juga tidak menolak untuk kuajak berbelanja," kata Shion sambil memainkan helaian rambut pirang pria itu.

"Aku hanya sedikit lelah, Shion," kata Naruto. Perlahan, ia menyingkirkan tangan Shion yang memainkan rambutnya dan mulai memejamkan matanya.

"Jangan berbohong. Aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu,"

"Haahhh~ terserah padamu saja," kata Naruto bosan.

Shion mendengus pelan melihat kelakuan Naruto. Ia mendekatkan wajahnya ke depan wajah kecokelatan pria itu. Jemari putihnya bergerak membelai tiga garis halus di pipi kanan pria itu.

"Shion, hentikan..." kata Naruto yang merasa terganggu. Ia masih memejamkan matanya berusaha untuk tidur.

Tapi bukannya menuruti apa yang Naruto katakan, wanita itu semakin mendekatkan wajahnya ke telinga Naruto dan meniupkan udara ke sekitar telinga dan leher pria itu.

"Kau serius ingin aku menghentikannya?" bisik wanita itu tepat di telinga Naruto. Naruto tidak menjawab.

Lagi-lagi Shion mendengus melihat tidak adanya reaksi yang ia harapkan dari Naruto. Dengan cepat, ia menarik dagu pria itu dan mencium bibirnya dengan ciuman yang kasar. Naruto yang secara tiba-tiba diserang seperti itu awalnya tidak bereaksi. Ia hanya diam tidak membalas saat lidah Shion mengajaknya bergerak bersama. Tapi lama kelamaan, akhirnya ia mengalah juga dan mulai mengikuti permainan wanita itu.

Lidah kedua orang itu saling bertarung satu sama lain. Meneteskan saliva-saliva dari sudut bibir kedua orang itu. Shion mendorong pelan bahu bidang Naruto hanya untuk mendapatkan pasokan udara karena sedari tadi paru-parunya sudah berteriak kencang meminta udara. Naruto mengalah, ia menarik pelan kepalanya.

"Padahal kau yang mulai duluan," kata Naruto tersenyum sinis ke arah Shion.

"Shut up, Naruto!" bentak wanita itu.

Shion kembali mendekatkan wajahnya ke arah Naruto. Kali ini bukan bibir pria itu yang menjadi incarannya. Jemari lentik miliknya perlahan membuka kancing kemeja biru muda yang dipakai Naruto berniat menyerang sesuatu yang ada di sana.

Tapi, mata lavender pucat miliknya membelalak tidak percaya saat keempat kancing kemeja itu telah terlepas. Di balik kemeja itu, ia melihat dengan jelas beberapa bekas kissmark yang masih sangat baru. Ia menatap tajam ke arah Naruto.

"Shit!" umpat Naruto saat ia sadar apa yang baru saja dilihat oleh Shion. Dengan cepat ia mengancing kembali kemejanya.

"Tidak perlu kau tutupi-pun aku sudah melihat semuanya. Siapa yang menandaimu seperti itu? Sekretaris-mu itukah? Aku tidak menyangka kau akan berselingkuh di belakangku, Naruto," kata Shion dengan nada dingin.

"Hinata-chan tidak ada hubungannya dengan ini, Shion," jawab Naruto sambil mendorong pelan tubuh wanita itu dan kemudian berdiri. Dirapikannya kembali pakaiannya yang sedikit acak-acakan.

"Lalu siapa? Dari yang kulihat, kau pasti melakukan hal yang lebih dari itu. Ya `kan? Siapa wanita yang beruntung yang baru saja kau tiduri itu?"

"Tidak ada seorang wanita pun, Shion!" bentak Naruto. Hilang sudah kesabarannya menghadapi wanita itu. Ia sudah cukup pusing dengan masalah di kantornya. Dan sekarang mendengar wanita itu menuduhkan yang tidak-tidak kepada Hinata yang tidak ada hubungannya dengan semua ini membuatnya kesal.

"Tidak ada? Kalau bukan wanita, lalu siapa lagi? Oh..."

Shion menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia menatap pria yang kini berdiri membelakanginya itu dengan tatapan horor menyadari apa yang baru saja melintas dipikirannya.

"Ja-Jadi berita yang kudengar itu benar? KAU BERHUBUNGAN DENGAN SEORANG LAKI-LAKI?" teriaknya. "How could you do that to me, Naruto!"

"Shion!" teriak Naruto. Ia membalikkan tubuhnya sehingga bisa berhadapan langsung dengan wanita itu.

"Ini bukan seperti yang kau duga,"

"Di mananya yang tidak seperti yang aku duga, Naruto! Kau pikir selama kau di Jepang aku tidak tahu apa yang terjadi? Aku membacanya, Naruto. Membaca gosip mengenai hubunganmu dengan laki-laki Uchiha itu. Aku mencoba percaya kalau semua itu hanya gosip belaka. Tapi sekarang, kurasa berita itu memang benar!"

Naruto membelalakkan matanya mendengar apa yang baru saja dikatakan Shion. Wanita itu mengetahui berita tentangnya sewaktu di Jepang. Apa kedua orang tuanya juga tahu? Tapi kalau mereka sudah tahu, mengapa mereka tidak mengatakan apa-apa padanya saat kemarin ia menyempatkan diri pulang ke rumah orang tuanya sekembalinya ia dari Jepang?

"Ji-san dan Ba-san belum mendengarnya kalau itu yang kau pikirkan saat ini. Aku melihat beritanya dari artikel di salah satu situs yang biasa aku kunjungi. Aku tahu kau pasti melakukan sesuatu sehingga berita itu tidak menyebar sampai ke sini."

Naruto tidak menjawab. Ia hanya menatap wanita yang kini berjalan ke arahnya dengan tatapan heran. Shion adalah orang yang Naruto tahu seorang wanita cerdas dan sedikit ambisius. Apakah belum sampainya berita itu ke telinga kedua orang tuanya juga karena wanita itu?

"Aku tidak menyangka kau tega berbuat seperti ini padaku, Naruto. Setelah tiga tahun kita bertunangan, apakah kau masih belum bisa mencintaiku? Apakah tidak ada sedikitpun tempat di hatimu untukku?" kata Shion sambil menatap mata biru Naruto.

"Aku..."

"Aku tidak ingin mendengar jawabanmu sekarang, Naruto. Lebih baik kau pikirkan saja dahulu. Pikirkan baik-baik mana yang akan kau pilih. Aku atau laki-laki dari keluarga Uchiha itu. Aku harap apa yang kau pilih nantinya tidak akan membuatmu menyesal,"

Shion mengecup pelan pipi kanan Naruto kemudian beranjak meninggalkan apartemen milik pria itu. Saat Naruto hendak membantunya membawa barang-barang serta mengantar wanita itu pulang ke rumahnya, Shion menolaknya mentah-mentah. Saat ini, ia juga ingin sendiri dulu. Mungkin ini lebih baik bagi mereka saat ini.

"Hubungi saja aku kalau kau sudah memutuskan apa pilihanmu. Tetap bersamaku atau lebih memilih bersama laki-laki itu semuanya ada di tanganmu," kata Shion lalu menghilang di balik pintu apartemen Naruto.

Lagi-lagi, umpatan keluar dari bibir pria itu. Ia benar-benar mengutuki dirinya dan masalah yang baru saja datang padanya. Hanya dalam waktu empat hari saja, hidupnya yang biasanya nyaman dan tenang kini sudah kacau seperti ini. Pria berambut pirang itu melangkahkan kakinya ke arah sebuah bar kecil yang ada di apartemennya. Diraihnya sebotol tequilla yang terpajang di rak bar tersebut dan meminum isinya langsung dari botol. Ia sama sekali tidak mempedulikan perutnya yang masih kosong karena belum sempat makan sejak tadi siang.

Cairan berwarna kekuningan itu mengalir ke kerongkongannya dan perlahan mulai membuatnya nyaman. Sekali lagi ia meneguk minuman beralkohol itu. Terus seperti itu sampai isi dalam botol tersebut hanya tersisa setengahnya. Ia melipat kedua tangannya kemudian membenamkan kepalanya pada meja di hadapannya. Mungkin karena pengaruh minuman, membuat pikirannya saat ini lebih ringan. Kembali ia ingin meneguk minuman itu sebelum suara bel mengalun diruangan itu.

Mendengus kesal kepada pengganggu yang baru saja menekan bel pintu apartemennya, Naruto berjalan dengan sedikit limbung ke arah pintu apartemen-nya. Diputarnya kunci pintu itu dan perlahan membuka pintu berwarna hitam dengan pinggiran emas itu. Mata birunya menatap tidak percaya ke arah tamu yang datang menemuinya malam-malam begini.

"Sa-Sasuke? Apa yang kau... mengapa kau bisa ada di sini?" kata Naruto dengan nada tidak percaya. Apakah karena pengaruh alkohol-kah sehingga membuatnya berhalusinasi melihat Sasuke berdiri di hadapannya saat ini? Tapi sepertinya ia baru minum sedikit. Setengah botol tequilla tidak cukup kuat untuk membuatnya mabuk. Kalau begitu, Sasuke yang di hadapannya saat ini adalah sosok nyata?

"Kau mau membiarkan tamu-mu terus-terusan berdiri di depan pintu seperti ini, Naruto? Aku rasa itu sangat tidak sopan."

Naruto mengerjap-ngerjapkan matanya sebentar berusaha untuk kembali fokus. Dengan sedikit kikuk, ia menyingkir dari depan pintu apartemennya untuk mempersilahkan Sasuke masuk ke dalam.

"Ba-Bagaimana kau tahu alamatku?" tanya Naruto sambil mengajak pria berambut raven itu masuk ke ruang tamu miliknya. Ia mempersilahkan Sasuke untuk duduk di salah satu kursi yang tersedia.

Sasuke tidak menjawab. Mata onyx-nya tidak henti-hentinya memandang ke arah sosok Naruto yang berjalan ke arah sebuah ruangan dengan sedikit limbung. Sasuke sadar kalau pria itu dalam keadaan setengah mabuk karena dari tubuhnya tercium aroma alkohol. Lagipula, Naruto yang biasanya pastinya tidak akan membiarkan Sasuke masuk ke dalam apartemennya begitu saja. Apalagi mengingat terakhir kali mereka bertemu, mereka berpisah dalam keadaan yang sangat tidak baik.

Tidak lama kemudian, Naruto kembali dengan menbawa beberapa kaleng minuman di pangkuannya. Diserahkannya sebuah kaleng kopi dingin kepada Sasuke kemudian mendudukkan dirinya di samping pria itu. Naruto menyandarkan dirinya pada sandaran sofa. Tangan tan-nya meraih sebuah remote yang tergeletak di atas meja di depannya dan mulai menyalakan televisi besar di ruangan itu dengan volume yang kecil.

"...Kau belum menjawab pertanyaanku, Sasuke," kata Naruto tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi yang saat ini sedang menyiarkan siaran langsung sepak bola. Sesekali, ia meneguk kopi dingin dari kalengnya. Berharap sedikit mengurangi reaksi yang ditimbulkan oleh minuman beralkohol yang tadi diminumnya. Ia sadar kalau ia tidak boleh mabuk saat Sasuke berada di sini.

"Shikamaru yang memberitahuku saat aku tidak bisa menemukanmu di hotel tempatmu menginap. Aku memaksanya untuk mengatakan di mana alamat tempat tinggalmu di D.C."

"Begitu, lalu apa tujuanmu menemuiku? Bukankah aku pernah mengatakan kalau aku ingin kau tidak mendekatiku? Sudah cukup masalah yang ditimbulkan karena pertemuan kita ini, Sasuke."

"Aku tahu. Tapi aku sama sekali tidak berniat untuk melepasmu kali ini, Naruto. Aku sangat menyesali apa yang tidak bisa kulakukan sepuluh tahun yang lalu sehingga membuatmu meninggalkanku. Dan kali ini, aku tidak akan melakukan hal yang sama untuk yang kedua kalinya."

Naruto menghela nafasnya. Diteguknya kopi dingin di tangannya sampai habis lalu membuka sebuah kaleng lagi.

"Sudah terlambat untuk berkata seperti itu, Sasuke."

Sasuke memandang Naruto dengan ekspresi datar miliknya. Ia sedikit tidak mengerti apa yang dimaksudkan pria di sampingnya itu.

"Ya Sasuke," kata Naruto. Kali ini ia berpikir untuk menatap pria itu. "Sudah terlambat kalau kau ingin memintaku bersama denganmu karena saat ini aku sudah bertunangan dengan seseorang. Seorang wanita lebih tepatnya."

"Jangan bercanda, Naruto," desis Sasuke sambil mencengkram erat lengan pria berambut pirang itu.

"Apa aku terlihat sedang bercanda?" tanya Naruto. "Apa aku terlihat sedang bercanda untuk urusan seperti itu? Tidak, Sasuke. Semua itu memang benar. Aku sudah bertunangan dengan seseorang sejak tiga tahun yang lalu. Memang hanya pihak keluarga kami saja yang tahu tentang hal ini. Kami memang sengaja tidak memberitakannya secara terang-terangan. Apa gunanya?"

"Apa kau mencintainya?" tanya Sasuke. Ia sedikit terkejut saat mendengar apa yang dikatakan pria itu padanya. Apakah ini karma karena dulu ia juga merahasiakan pertunangannya dengan Sakura?

Naruto perlu waktu selama beberapa saat untuk menjawab pertanyaan Sasuke itu.

"Aku sedang mencoba untuk mencintainya..." gumamnya pelan namun Sasuke masih bisa mendengar gumaman itu dengan jelas.

Selama beberapa saat, kedua pria itu hanya diam membisu satu sama lain. Hanya terdengar suara pelan dari arah televisi yang menyala serta suara detak jam di dinding ruangan itu. Kedua orang di ruangan itu sibuk dengan pikirannya masing-masing. Naruto yang sibuk dengan apa yang ia dan Shion bicarakan tadi dan Sasuke yang sibuk dengan apa yang Naruto katakan barusan. Apa memang tidak ada jalan bagi kisah cinta mereka untuk berakhir bahagia? Mengapa selalu saja ada hal yang menghalangi mereka?

"...Ini sudah malam. Lebih baik aku kembali ke hotel saja," kata Sasuke tiba-tiba sambil melirik ke arah jam dinding di ruangan itu. Sudah hampir tengah malam.

Lewat sudut matanya, Naruto melihat Sasuke bengun dari sofa tempatnya duduk. Sedikit ragu menggelayuti pikirannya saat melihat pria itu berjalan ke arah pintu apartemennya. Apakah ia harus menahan Sasuke untuk tetap di sini atau membiarkannya pergi begitu saja padahal ia sudah jauh-jauh datang dari Jepang untuk menemuinya? Bukankah sejak tadi ia memang mengharapkan kedatangan sosok itu?

"Tu-Tunggu, Sasuke!" panggil Naruto sembari berlari ke arah Sasuke yang sudah bersiap-siap meninggalkan apartemen Naruto.

"Ada apa?" tanya Sasuke dengan nada datarnya yang biasa.

"Err..."

Sasuke menautkan alisnya tanda tidak mengerti dengan apa yang ingin dikatakan pria yang berdiri di hadapannya itu. Ia mendengus kecil saat melihat Naruto tidak juga berniat melanjutkan perkataannya.

"Naruto..."

Naruto mendongakkan kepalanya mendengar panggilan dari Sasuke. Ia menatap heran ke arah Sasuke saat pria itu memandangnya. Harus ia akui, jantungnya kembali berpacu tidak terkendali saat ia memandangi sepasang bola mata sekelam malam itu. Dengan cepat, ia memalingkan wajahnya ke arah dinding berwarna putih di sampingnya.

"Boleh aku bertanya padamu sebelum aku pergi, Naruto?" tanya Sasuke. "Kalau kau sedang mencoba mencintai wanita yang merupakan tunanganmu itu, apa itu berarti kalau saat ini kau sedang mencintai seseorang?"

Naruto tidak menjawab. Ia ragu apakah harus menjawabnya atau tidak.

"Apakah aku boleh berpikir sedikit egois kalau kau masih mencintaiku? Kumohon jawab aku, Naruto. Jawab pertanyaanku. Kalau memang aku sudah tidak punya tempat lagi di hatimu, mungkin lebih baik ka-"

"Jangan berkata seenaknya seperti itu, Sasuke!" bentak Naruto. Kali ini, pria berambut pirang itu menatap Sasuke dengan tatapan tajam. Entah mengapa, kata-kata Sasuke barusan yang terdengar sangat putus asa seperti itu membuatnya marah. Ya, marah. Apakah marah karena begitu mudahnya pria itu menyerah? Menyerah pada keadaan yang menekan mereka?

"Kalau begitu jawab pertanyaanku, Naruto!"

Sasuke menarik pelan lengan pria itu sehingga membuatnya mendekat ke arahnya. Tangan kanan Sasuke bergerak membelai lembut wajah Naruto sehingga membuatnya memejamkan matanya. Naruto merasa sangat nyaman saat tangan putih pucat itu menyentuhnya.

"Katakan kalau kau mencintaiku, Naruto," bisik Sasuke.

Naruto memejamkan matanya sejenak. Tangan tan miliknya balas menggenggam jemari milik Sasuke yang kini mengelus salah satu pipinya. Ia kemudian membuka matanya lalu memandang lekat ke arah kedua bola mata Sasuke.

"Aku mencintaimu, Sasuke. Selalu..."


-To Be Continued-


Review`s Reply:

Matsuo Emi: Tunangannya Naruto udah terjawab kan? Makasih reviewnya...

diana 'dobe-chan' males login: Hai juga diana... mau difave? Silahkan kok, saia ga ngelarang *plak!* makasih reviewnya ya...

Kiryuu: Sudah saia update. Mudah-mudahan sudah kilat *Kiryuu: masih lama!* #pundung# makasih reviewnya Kiryuu...

Micon: Ini sudah diupdate. Makasih reviewnya...

Namikaze Hanaan mles login: Kamu benar. Tunangan Naru emang si Shion itu. Buat lemon lagi? ga janji ya, buat lemon yang kemarin saja saia perlu berusaha setengah mati buat nyelesaiinnya. Benar dah, susah sekali... *pasrah* makasih reviewnya ya...

Dark Dobe: Ini sudah saia update. Kali ini ga lama seperti kemarin kan? Tunangan Naru udah muncul tuh. Makasih reviewnya ya...

mizoecchi: pertama kali review fic Lemon? Maaf untuk typo-nya. Saia nyelesaiin fic ini pas baru bangun. Mata masih setengah merem, makanya banyak typo yang bertebaran*ga ada yang nanya!* Makasih untuk reviewnya...

So, mind to review?

*pundung di pojokan*