Disclaimer

Naruto © Masashi Kishimoto

Pairings

SakuHina! #plak! Katanya No Yuri? Iye-iye, XD maksudnya NaruSaku dan SasuHina

Rated

T

Genre

Romance

Warnings

AU, OoC, typo/misstypo (s), gaje, abal, garing, EYD ancur, cerita pasaran, slight humor dikiiiit, dan sederet kekurangan lainnya.

..

.

No Yuri

.

..

...

Dung.

Duk.

Duk.

Bola basket itu bergulir pelan setelah sekali menghantam dinding ring dan beberapa kali memantul di lantai. Naruto tidak berusaha mengejarnya, setelah beberapa kali ia berusaha memasukkan bola itu dan gagal, membuatnya malas untuk melakukan hal yang sama sekali lagi. Pemuda blonde itu memilih untuk duduk dengan kedua lutut sedikit ditekuk dan kedua tangannya di belakang untuk menyangga tubuhnya.

"Payah,"

Naruto menoleh sesaat ke belakangnya. Dilihatnya seorang gadis yang akhir-akhir ini selalu terbayang di benaknya sedang berjalan pelan kearahnya. Senyum meremehkan terukir di wajah cantiknya.

Naruto mengalihkan pandangannya kearah lain seraya merebahkan tubuhnya diatas lantai gedung yang digunakan khusus untuk berolahraga itu. Kedua tangannya yang tadi menyangga tubuhnya kini terlipat untuk ia gunakan sebagai bantalan kepalanya.

Tidak lama kemudian, sebuah buku terulur kearahnya. Pemuda itu mendongak. Alis matanya terangkat sebelah.

"Dari Kiba," ujar Sakura saat melihat ekspresi bertanya terukir di wajah tan itu.

Naruto mengambil buku tersebut kemudian meletakkannya di atas dadanya yang dilapisi kaos putih polos. "Thanks, Sakura-chan."

Sakura mengangguk sebelum akhirnya ikut duduk di sebelah Naruto. Diperhatikannya Naruto yang sedang menatap langit-langit gedung olahraga sebelum akhirnya ikut mengalihkan pandangannya kearah yang sama. Kening gadis itu berkerut ketika melihat Naruto yang begitu serius memperhatikan. Seakan-akan disana ada sebuah fenomena alam yang sangat langka yang sedang terjadi.

"Apa menariknya?"

Naruto menoleh. "Hah?"

"Langit-langit itu?"

"Oh,"

Kening Sakura kembali berkerut keheranan. Tidak biasanya pemuda itu irit bicara seperti ini.

"Kau ada masalah?"

"..."

"Naruto?"

Pemuda berambut pirang itu menoleh sesaat sebelum akhirnya terkekeh geli. "Kau mengkhawatirkanku, Sakura-chan?"

Sakura melemparkan pandangannya kearah lain untuk menyembunyikan wajahnya yang tiba-tiba memerah. "Tidak. A-aku hanya bertanya. Apa salahnya?"

Naruto hanya tersenyum geli melihatnya. Tapi, tiba-tiba pemuda itu bangkit dari posisi rebahannya. Membuat Sakura sedikit kaget karenanya. Diputarnya posisi duduknya menjadi berhadapan dengan Sakura.

"Oh ya, Sakura-chan, bagaimana dengan gosip itu?"

Sakura terdiam sejenak, berpikir, sebelum akhirnya teringat dengan kejadian beberapa bulan yang lalu. Gosip yang membuatnya 'terikat' dengan pemuda di hadapannya ini. "Entahlah, akhir-akhir ini aku sudah tidak mendengarnya lagi."

Naruto mengangguk-anggukkan kepalanya.

Sakura melirik pemuda di sebelahnya sebelum akhirnya membuka suara. "Memangnya kenapa?"

"Tidak, aku hanya berpikir, kalau gosip itu sudah tidak ada lagi, mungkin kita bisa mengakhiri ini semua."

Sakura tak lantas menjawab. Ia terdiam sesaat sebelum akhirnya tersenyum. "Benar juga."

Naruto mengangguk seraya tersenyum lebar. "Tapi, sebelum itu.." Safir biru itu menunjuk bola basket yang tergeletak tidak jauh dari tiang ring lewat pandangan matanya.

"Bagaimana kalau kita 'main' dulu?"

Kini ganti Sakura yang menatap Naruto dengan sejumlah tanda tanya di benaknya.

-Det-

Uap panas yang mengepul itu mengenai sebagian wajah Naruto yang terlihat sangat bersemangat. Wajah tan itu terlihat mengeluarkan sedikit keringat di pelipisnya. Naruto mematahkan sumpitnya menjadi dua sebelum akhirnya menggunakannya.

"Itadakimasu!" ucapnya semangat sambil menyumpit mie ramen yang baru diantarkan oleh pelayan beberapa menit yang lalu. "Awwh!" Pemuda itu langsung meringis ketika lidahnya bertemu dengan mie ramen yang masih panas.

"Makanya, pelan-pelan, Baka."

Naruto tidak menanggapi apa-apa. Pemuda itu terlalu sibuk mengipasi lidahnya yang masih terasa panas.

Sakura terkekeh geli. "Baka." ujarnya sambil mengambil segelas air putih di atas meja kemudian menyerahkannya pada pemuda itu.

Naruto menerima segelas air putih itu dan meminumnya pelan-pelan untuk mengurangi rasa panas yang masih terasa di lidahnya. Pemuda itu menghela napas lega saat dirasanya rasa panas di lidahnya sudah mulai berkurang.

"Kau seperti orang yang tidak pernah melihat ramen saja, Naruto."

Naruto nyengir. "Aku memang sudah lama tidak makan ramen disini."

"Sudah lama?" Sakura merasa janggal. "Apa kau pernah kesini sebelumnya?"

Naruto mengangguk seraya mengunyah. "Awhu.."

"Habiskan dulu!" Sakura menggeleng pelan melihat kebiasaan buruk pemuda blonde itu. Setelah itu, disumpitnya mie ramennya, ditiupnya sebentar agar tidak terlalu panas, kemudian disuapkannya kedalam mulutnya. Benar, mie ramen ini enak sekali seperti apa yang dibilang Naruto padanya.

"Bagaimana? benar 'kan apa yang kukatakan tentang mie ramen disini?" Naruto tersenyum lebar sebelum akhirnya kembali menyumpit mie ramennya.

Sakura mengangguk mengiyakan.

"Jadi, kapan kau pernah ke konoha?"

"Aku dilahirkan dan dibesarkan di Konoha, Sakura-chan. Tapi, sepuluh tahun lalu, sejak kedua orangtuaku meninggal, aku pindah ikut Kakek dan Nenekku."

"Oh, maaf, Naruto."

Alis itu terangkat sebelah seraya menatap bingung kearah Sakura. " Maaf untuk apa?"

"Soal kedua orangtuamu. Aku tidak tahu kalau..."

"Tidak apa-apa, Sakura-chan. Kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu." Naruto menatap Sakura sembari tersenyum sebelum akhirnya menghabiskan ramen di mangkuknya yang sudah tinggal sedikit.

Sakura terdiam sambil menatap pemuda itu. Entah apa yang ada dipikirannya. Tapi, yang jelas, ia tidak menyangka sama sekali kalau pemuda di sebelahnya ini mempunyai masa kecil yang kelam. Tumbuh besar tanpa kasih sayang kedua orangtua itu sama sekali tidak menyenangkan. Sakura tidak bisa membayangkan kalau apa yang terjadi pada Naruto itu terjadi padanya. Ia yakin, ia tidak akan setegar Naruto yang bisa mengatakan semua itu dengan sebuah senyuman.

"Sakura-chan? Ada apa?"

Sakura mengerjap pelan, kemudian mengalihkan pandangannya kearah ramen di mangkuknya yang masih tersisa setengah porsi.

"Hey, Naruto."

"Hmm,"

"Bagaimana menurutmu Itachi-nii?"

Naruto tidak langsung menjawab. Pemuda itu diam sejenak seraya mengangkat sebelah alisnya. Bingung.

"Apanya?"

Sakura memutar bola matanya. "Yaah, entahlah.. Mungkin kau bisa ceritakan padaku Itachi-nii itu orang yang seperti apa."

Naruto mengangkat mangkuk ramennya untuk meneguk habis kuah mi ramen yang masih tersisa di mangkuk tersebut. "Kenapa bertanya padaku? Kau bisa menanyakannya pada Sasuke."

"Naruto, kau tau kalau aku tidak terlalu akrab dengan Sasuke. Nanti dia mengira aku, yah.. aku memang menyukainya sih.."

"Kau menyukai Teme, Sakura-chan?"

"Bukan, Sasuke. Tapi, Itachi-nii!"

"Eh? Kau menyukai Itachi-nii?"

Sakura mengangguk. Wajah cantik itu sedikit merona karenanya.

"Tapi, Sakura-chan, Kau baru bertemu dengannya sekali."

"Memangnya kenapa kalau sekali? Itu bukan berarti aku tidak bisa suka padanya kan?" Sakura menghela napas sejenak. "Lagipula, apa kau tidak pernah mendengar istilah jatuh cinta pada pandangan pertama?"

"Tentu saja pernah!"

"Kalau begitu, langsung jawab saja apa susahnya, Naruto!"

"Oke! Itachi-nii orangnya baik dan keren. Jenius seperti Sasuke. Dan dia tipe laki-laki idaman setiap wanita. Bagaimana, puas?"

Sakura mengernyit tidak suka mendengar jawaban Naruto yang sepertinya tidak ikhlas.

"Apa-apaan itu? Aku juga tau itu. Tapi.."

"Tapi, apa, Sakura-chan? Kau ingin aku menjawab apa lagi?"

Sakura mendengus. Ia tidak mengira kalau Naruto mempunyai sifat keras kepala seperti ini. berdebat hanya karena masalah sepele seperti ini benar-benar membuatnya tidak habis pikir. Apa yang ada di pikiran pemuda itu sih?

"Sudahlah, lupakan saja pertanyaanku tadi. Anggap saja aku tidak pernah bertanya apa-apa."

-Det-

Sebuah reality show yang sedang berlangsung di televisi berukuran 14 inchi milik keluarga besar Hyuuga menyita perhatian Hanabi. Jangan salah, reality show ini bukan ajang pencarian jodoh ataupun keluarga yang hilang. Bukan juga games-games tidak penting yang biasa diikuti oleh para publik figur. Sebuah acara yang menunjukkan tentang kehidupan para hewan liar di yang hidup di berbagai negara. Dan saat ini, acara itu sedang membahas tingkah lucu Panda liar yang mereka temukan terpisah dari induknya.

"Sumimasen!"

Hanabi mendengus kesal ketika saat-saat santainya harus terganggu karena ada tamu.

"Sumimasen!"

Dengan terpaksa, gadis berusia 14 tahun itu berjalan menuju pintu utama kediaman Hyuuga. Setelah sampai, baru dibukanya pintu.

Sesaat Hanabi terpaku karena melihat seorang laki-laki berambut merah marun berdiri di depannya. Mata itu.. apakah sekarang masih musim ber-ghotic ria? atau ah.. Hanabi jadi teringat dengan acara yang tadi sedang ditontonnya.

"Maaf mengganggu, aku ingin bertemu Hinata."

Tanpa basa-basi, Gaara langsung mengutarakan maksud kedatangannya saat ini. Namun, bukannya lekas memanggil Hinata untuknya, gadis Hyuuga didepannya ini justru terdiam sendiri.

"Hey, Kau baik-baik saja?"

Mendengar pertanyaan untuknya, Hanabi langsung tersadar dari lamunannya yang tidak jelas.

"Tunggu, Akan kupanggilkan sekarang."

Tanpa menunggu respon apa-apa dari Gaara, Hanabi langsung masuk kedalam rumahnya untuk memanggilkan sang kakak.

-Det-

Cklek.

Sakura yang baru saja selesai mandi sehabis dari kedai ramen bersama Naruto langsung berjalan ke balkon kamarnya. Angin sore yang terasa menyejukkan menerpa sebagian kulitnya yang masih sedikit lemab karena sehabis mandi.

Gadis itu diam bersama pikirannya yang memutar ulang kejadian tadi siang. Saat itu mungkin akan menjadi yang terakhir kalinya untuknya dan Naruto. Sakura lagi-lagi terdiam sendiri. Entah kenapa pikirannya terasa penuh dengan berbagai macam hal, tapi ia sendiri tidak tau apa saja yang sedang ia pikirkan.

Sakura berjalan masuk kekamarnya sebelum akhirnya menghela napas. Diusapkannya handuk yang masih menggantung di lehernya ke rambut pink-nya yang masih sedikit basah.

Melihat beberapa buah buku yang berserakan di meja belajarnya, Sakura langsung teringat dengan ujian kenaikan kelas yang akan dihadapinya lusa. Gadis itu berjalan pelan kearah meja belajarnya kemudian duduk di kursi belajarnya. Dirapikannya meja belajarnya sejenak. Sakura kembali terdiam. Pandangannya tiba-tiba beralih ke ponselnya yang ada di meja tersebut. Dibukanya kunci layarnya kemudian Sakura kembali meletakkan ponsel itu di tempat semula saat dilihatnya tidak ada satu pemberitahuan apapun yang ia terima.

Merasa sedikit bosan, Sakura menumpukan dagunya ke atas meja belajarnya. Seketika pandangannya beralih ke sebuah kotak yang berisikan aksesoris yang ia punya. Dibukanya kotak itu dan emerald gadis itu terpaku pada sebuah liontin bermata kupu-kupu yang diberikan Naruto dulu.

Setelah merasa cukup lama memandangi liontin itu, Sakura lekas menyimpannya kembali ke kotaknya. Sakura bangkit dari duduknya kemudian pergi meninggalkan kamarnya.

-Det-

"Ini,"

Hinata mendongak seraya menerima satu waffle es krim rasa vanilla dari Gaara. "T-terimakasih, Gaara-san."

"Hn,"

Gaara menyenderkan dirinya di sebuah batang pohon mapple. Sedangkan Hinata duduk bersandar di sisi sebelahnya. Sejenak keheningan mendominasi diantara kedua muda-mudi itu.

Hinata menikmati es krim vanila yang diberikan Gaara secara cuma-cuma padanya. Gadis itu diam. Lavendernya melirik diam-diam kearah Gaara yang masih sibuk sendiri dengan es krim vanila dan ponsel pintarnya. Hinata menghela napas. Sebenarnya untuk apa Gaara membawanya kesini?

Hinata tidak sadar kalau helaan napasnya tadi berhasil menarik perhatian Gaara. Dimasukkannya ponselnya ke saku celananya, kemudian pemuda itu merubah posisinya menjadi duduk.

"Kenapa? Bosan?"

Sebenarnya sih Hinata pengen bilang iya, tapi gadis itu enggan. Ia takut salah ngomong. "T-tidak,"

Gaara menaikkan sebelah alisnya. Ia mungkin tau kalau Hinata berbohong padanya. Hal itu jelas terlihat di wajah Hinata. Tapi, Gaara diam saja. Ia malas membahasnya. Tiba-tiba Jade itu terpaku dengan sesuatu yang mengganggu wajah Hinata. Pemuda itu terkekeh pelan.

Hinata langsung menoleh ketika didengarnya Gaara yang sedang tertawa sendiri. Gadis berambut Indigo itu mengernyit keheranan. "A-ada apa, Gaara-san?

"Dasar, kau itu seperti anak kecil saja."

"Eh?"

Gaara mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya kemudian mengulurkannya pada Hinata yang masih berwajah bingung. "Ada es krim di bibir atasmu."

Wajah Hinata memerah malu. "A-arigatou," Diambilnya sapu tangan itu kemudian disapukannya ke bibirnya yang ada noda es krim. "Maaf, Gaara-san."

"Untuk apa?"

"Aku akan mengembalikan sapu tanganmu nanti."

"Tidak perlu, buatmu saja. Lagipula, sebentar lagi aku akan pulang ke Suna. Jadi, anggap saja itu kenang-kenangan dariku."

"Terimakasih. Tapi, kenapa mendadak?"

"Kau lupa? Minggu depankan sudah ujian."

Hinata baru ingat hal itu. Gadis itu pun menunduk sambil menikmati es krim-nya yang masih tersisa sedikit lagi. "Gomen,"

"Hn, Tidak perlu minta maaf."

Lavender Hinata beralih pandang ke arah danau kecil yang ada di depan mereka. Gadis itu tersentak saat kedua matanya menangkap sosok sesuatu yang sedang kesulitan di tengah danau. Hinata segera bangkit dan berlari mendekat hingga membuat Gaara terkejut. Tidak lama kemudian, Hinata berpaling dengan wajah pucat kearahnya.

"Gaara-san, Anjing itu hampir tenggelam!"

-Det-

Hinata berjalan pelan sambil membawa dua buah handuk kering dan sepasang baju kering milik kakak sepupunya yang sedang kuliah di luar daerah Konoha, Neji, kearah Gaara yang saat ini sedang duduk di beranda samping rumahnya bersama seekor anak anjing yang tadi hampir tenggelam di danau. Gaara menerima sebuah handuk dari Hinata kemudian menggunakannya untuk mengeringkan seluruh tubuhnya. Sedangkan Hinata memangku anak anjing itu kemudian mengeringkan seluruh tubuhnya dengan handuk yang satunya.

"Maaf, gara-gara aku minta tolong Gaara-san jadi basah kuyup seperti ini. A-aku-"

"Hn, Tidak perlu minta maaf. Itu bukan salahmu."

Meskipun begitu, Hinata semakin merasa tak enak. "Tapi, Gaara-san..."

"Sudahlah, Hinata. Ngomong-ngomong, baju itu untukku?" Gaara melirik baju yang masih terlipat rapi di sebelah Hinata. Seakan baru ingat, Hinata langsung mengangguk cepat dan memberikan baju itu pada Gaara. Beruntung, kakak sepupunya, Neji masih meninggalkan beberapa pasang baju disini untuk berjaga-jaga.

"Silakan, Gaara-san. T-toiletnya ada di sebelah kanan di ujung koridor."

"Hn, terimakasih."

-Det-

Naruto mengusapkan handuknya ke rambut pirangnya yang masih basah. Pemuda itu menghela napas pelan saat tidak melihat seorangpun di rumahnya. Naruto baru ingat, kalau tadi Kakeknya, Jiraiya pergi keluar sampai nanti malam, entah kemana.

Safir itu tiba-tiba terpaku pada sebuah foto keluarga yang memotret ia bersama ayah dan ibunya. Dan foto itu diambil dulu saat ia dan Sasuke bersama teman satu tim mereka memenangkan kejuaraan basket nasional. Naruto tiba-tiba teringat kata-kata sang ibu dahulu.

'Naruto, nanti kalau sudah besar, carilah kekasih yang seperti ibu.'

Naruto tersenyum. "Aku sudah menemukannya, bu."

-Det-

"Sasuke,"

Sasuke menoleh sebentar kearah Itachi sebelum akhirnya kembali menatap keluar tidak peduli. Itachi merengut. Ia sedikit tidak terima saat sang adik kesayangannya mengacuhkannya.

"Ada apa?"

"Tidak, hanya ingin melihat adik tersayangku saja." Itachi tersenyum geli melihat wajah sang adik. "Sepertinya kau sedang galau, Sasuke."

"Sok tau."

Itachi terkekeh pelan namun langsung berhenti saat Sasuke memberikan death glare-nya. Tapi, tetap saja putra sulung Uchiha Fugaku itu mengulum senyuman sebagai gantinya. Ayolah, kapan lagi ia bisa melihat seorang Sasuke galau.

"Lebih baik pergi kalau hanya ingin menertawakanku, Baka Aniki."

Itachi berdeham. Sepertinya sudah cukup menertawakan otouto-nya. "Aku hanya ingin bilang jangan sampai lupa undang temanmu juga, ya."

"Hn,"

Itachi menghela napas melihat respon dingin itu. Ternyata sifat Sasuke benar-benar bagai pinang dibelah dua dengan ayah mereka.

"Sasuke,"

"Hn,"

"Kau belum menembak Hinata-chan?"

Bagai tersedak sesuatu, Sasuke langsung batuk-batuk tidak jelas. Wajahnya juga memerah. Itachi kontan tertawa geli melihat respon sang adik yang ternyata cukup polos.

"Haah, Kupikir kau sudah melakukannya."

"Tch, bukan urusanmu."

"Dingin sekali, Sasuke. Aku kan hanya ingin mendukungmu sebagai kakak yang baik." Itachi jeda sejenak. "Biar kutebak, kau pasti punya saingan. Bukan begitu, Sasuke?"

"Sudah kubilang, jangan mengurusi urusanku!"

Itachi memasang pose a la detektif yang sedang berpikir. "Hm, Jadi itu benar.."

Sasuke kembali diam. Wajahnya masih merah, namun tidak semerah tadi. Ia juga sudah malas meladeni kakak semata wayangnya itu. Percayalah, bermain kata dengan Itachi itu adalah hal paling menyebalkan di dunia. Setidaknya, itu menurut pendapat pribadinya.

"Dengar, kalau kau benar-benar menyukai Hinata-chan, kau harus bilang padanya."

"…"

"Sasuke, kalau kau tak segera melakukannya, dia pasti akan direbut oleh orang lain."

"…"

"Sasuke, kau dengar kan?"

Sasuke mendengus. "Iya, aku dengar, cerewet."

Itachi tersenyum. Sebelah tangannya kemudian mengusap pelan rambut Sasuke.

"Anak pintar."

..

.

To Be Continued

*Ngeliriktulisansendiri*

Apa-apaan ini? *pundung*

Maaf, author sedang galau. Mohon dimaklumi kalau chapter ini sangat mengecewakan. Sudah telat update berbulan-bulan, ceritanya nggak jelas begini lagi. Hah, maaf sudah mengecewakan. #watdepak

Okeh, author mau balas repiu dulu..

naMIKAze nara : Salam kenal jugaa! suka fic abal ini.. Duh, sayang banget, interaksi ShikaIno-nya ga bakal nambah, tapi ada kemajuan kok.. ikutin aja terus ya!

Nino : Hehe, makasih :) sori banget baru bisa apdet hari ini, semoga kamu masih ingat sama fict ini.. hehe

Chooteisha Yori : Gomeeen! chap ini apdetnya lama banget, semoga nggak mengecewakan kamu.. yosh, rela menanti fic ini lagi? :)

Neerval-Li : Iya, naru vs Ita-koi.. tapi, bentar aja kok. soalnya aku ga tahan nyiksa ayang Naru lama-lama.. muehehe.. yosh, ini udah apdet! Gomen, lamaa! *ojigi*

Moku-chan : Jangankan Moku-chan, aku juga mau kok sma mereka.. hohoho

Finestabc : Aaaa.. gomen apdetnya lamaa! Semoga suka chap ini! :)) *ojigi*

Reina Murayama : Maaf ga bisa apdet cepet dan interaksi Narusaku-nya kayaknya nggaj terlalu banyak di chap ini.. semoga tidak mengecewakan.. *pundung*

Anne Garbo : Gomen baru bisa apdet sekarang Anne-san.. :( Semoga kamu juga suka sama chap ini.. :)))

Mamoka : Huhu.. semoga kamu puas juga baca chap ke 6 ini.. :))

gui gui M.I.T : Aaa.. guiguuii.. repiumu panjang bangeeett..! Sori, apdetnya lama.. guigui tau sndiri kn apa alasannyaa.. hehe.. Tenang, tenang.. Ita-koi cuma nongol bntar kok.. aku ga tega nyelipin org ketiga buat Narusaku.. huhu.. trus, buat org ketiga dr pihak cewek, tadinya pngen pake Karin, tapi ga jadiii.. lain kali aja deh yaa.. *puppy eyes* ohya, watty itu artinya wattpad. Situs buat baca novel. kurang lebih kayak Ffn juga.. :)

Mendokusai144 : Haha.. iyaa.. Ita-koi cuma numpang lewat juga kok.. xD yosh, ini udah apdeet!

Lily Purple Lily : Udah apdet, maaf kalo chap ini bikin kamu kecewa.. tapi, semoga ttp berniat buat baca lagi.. :))

Magentaalleth : Makasih repiunya say! ini udah apdet.. :)) Ah ya, kita lanjut cuap2 dibelakang aja yaa!

Oke, sekedar informasi, di chapter ketujuh fic ini akan berakhir. Akhirnya, setelah sekian lama fic ini akan tamat juga. Pada awal pembuatannya, sih masih belum ditentukan akan selesai berapa chapter, tapi setelah dipikir-pikir, lebih cepat selesai lebih baik. #smile

Dan terima kasih sudah mau membaca (dan menunggu) fic ini sampai sejauh ini, jika ada uneg-uneg bisa dilimpahkan ke kotak review di bawah ini.

Big Hugs,

Coccoon.