(U/N: Dianjurkan untuk membaca kembali chapt kemarin, karena Ucchan yakin hampir semua readerdeul disini udah lupa sama jalan ceritanya! Terima kasih!^_^)b *author ngaret*/plak)

:::

Siwon memegangi kepalanya yang digeplak sandal. "Kenapa kalian memukulku sih?! Aku 'kan hanya mengatakan kebenaran!"

EunHae meliriknya malas. Lalu kembali memfokuskan pandangan mereka kelayar TV.

"Kalau kau tidak mau nonton, tidak usah nonton. Kau mengganggu, kuda." Kyuhyun selalu dengan kata-kata pedasnya. Sepertinya dia sudah terlalu lama berteman dengan Kim Gura.

Yesung cemberut. "Kyunnie! Kau kasar sekali pada Wonnie! Dia hyungmu!" marah Yesung sambil menjewer telinga Kyuhyun.

"Aw, aw, aw, iya iya, aku minta maaf, hyung!" rintih Kyuhyun sambil berupaya melepas jeweran Yesung. "Dan berhentilah memanggilnya Wonnie!"

Yesung memiringkan kepalanya polos. "Wae?"

Kyuhyun yang gemas memilih mencubit pipi Yesung. "Karena kau milikku hyuuuunggg!"

Yesung meronta dan melepas paksa cubitan Kyuhyun. "Appo! Kau jahat!" marah Yesung sambil menabok kepala Kyuhyun.

"Kau pikir jeweranmu tidak sakit hyung?" ledek Kyuhyun kesal.

Yesung mempoutkan bibirnya. "Umm... mian…" Yesung tidak melanjutkan kata-katanya, ia memilih mengalungkan lengannya dileher Kyuhyun, dan menenggelamkan wajahnya diceruk leher Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum, Yesung sangat menggemaskan saat ini. Seandainya saja dia hanya berdua dengan namja kura-kura ini… sudah dia serang dari tadi!

Tangan Kyuhyun terangkat dan membelai surai Yesung sayang. "Gwenchana hyung… jeweranmu tidak sakit kok." Kyuhyun meraih tangan Yesung dan menciumnya. "Tanganmu saja kecil begini." Ternyata belum hilang keevilannya.

"Yak!" bentak Yesung kesal.

"Saranghaeyo, hyungie~!" Kyuhyun mencium hidung Yesung, membuat sang hyung mati kutu.

Yesung mengeratkan pelukannya dengan wajah memerah. "Umm~ nado… tapi kau harus menghormati hyungmu, arra?"

"Arraseo~!" balas Kyuhyun sambil mencium daun telinga Yesung. sepertinya tidak benar-benar mendengarkan nasihat Yesung.

Donghae menatap keduanya kesal. Kesal karena Yesung seakan melupakannya. "Hyuuuuungggggg…" panggilnya, bak anak anjing yang meminta kasih sayang. Tapi sayangnya Kyuhyun sudah terlebih dahulu menutup kedua telinga Yesung.

Donghae cemberut.

"Ck, dasar! Kalian benar-benar manusia mesum!" omel Siwon sambil mengambil tempat duduk disamping Shindong.

EunHae, Heechul dan Shindong menatapnya bosan. "Bilang saja kalau kau ingin nonton, Siwon ah." Heechul menggelengkan kepalanya.

Siwon tergagap. "A-ani! Aku tidak menontonnya!" bantahnya sambil memfokuskan matanya kelayar televisi.

"Hahahah." Sungmin ketawa garing. "Lalu matamu kemana tuh?"

Siwon mencebikkan bibirnya.

"Sudahlah. Kita lanjutkan saja menontonnya!" lerai Shindong.

Mereka pun kembali (berusaha) fokus menonton film.

:::

UCCHAN MEMPERSEMBAHKAN:

CHANCE TO BE WITH U

Chapter 6: My Story Part 3


RATED: M! (Bagian filmnya NCnya gak frontal sih…/plak)


MAIN PAIR: KyuSung, MinWook(Sakitnya tuh disini!/plak)


OtherPair: KyuMin, YeWook


Genre: Silahkan tentukan sendiri, karena author sendiri bingung milihnya!^^/plak/


Disclaimer: God, Parents, SM, ELF. Except Yesungie! HE'S MINE! #PLAK


Warn!: Gaje, OOC, angst lucu(?), tidak mengikuti EYD dengan baik, Typo (maybe), alur ngebut, BDSM(kayaknya?), BL!, dsb.


U/N: Ucchan mau ngasih tahu kalau disela2 cerita akan ada komentar para member! Mian kalo ada yang gak suka!TMT


DLDR!

:::

KEEP STRONG UNTIL THE END!


Sei menggenggam tangan Rei yang terbaring diranjang yang terletak dikamarnya. "… Rei… ada yang sakit…?" tanya Sei lembut.

Napas Rei memburu. Sementara bibirnya yang pucat tak hentinya bergetar. "Hhh… Re… baik-baik… saja…" bisiknya sambil tersenyum tipis.

Tak ayal air mata mulai mengucur turun dari sudut mata Sei. "Gomen ne… aku tidak bisa membawamu kerumah sakit…" Sungguh, Sei ingin membawa Rei kerumah sakit, namun biayanya sangat mahal hingga Sei terpaksa membawa pulang Rei. Kini dia menyesal, karena hanya bisa berdiri disini, melihat adiknya yang tengah menderita.

Rei terkekeh. "Tidak… apa-apa… Re… lebih suka… disini…" bisiknya terbata.

Sei menatapnya. Firasatnya mengatakan Rei akan segera pergi meninggalkannya. Sei menggeleng. "… Jangan tinggalkan aku, Rei…"

Rei tersenyum. "… Hari ini… adalah hari ulang… tahun… terbaik Re…" bisiknya, tak menjawab permintaan Sei. "… Hari ini Re berumur… 17 tahun… Re… sudah dewasa… tapi masih merepot… kan nii chan…"

Sei sontak menggeleng. "Kau sama sekali tidak merepotkanku! Aku sangat… sangat mencintaimu…" bisiknya lirih. "… Aku benar-benar mencintaimu…"

Rei tersenyum simpul. "… Aku… juga menyayangimu…"

DEG

Sei menggigit bibir bawahnya mendengar balasan Rei.

… Sayang.

Bukan cinta.

Kurasa itu sudah cukup menjelaskan. Perasaannya selama ini memang hanya bertepuk sebelah tangan.


-Meanwhile…

CPROOTT

"Hhh… hhh… hhh…" Yuu memejamkan mata dengan napas tersengal. Merasakan sakit dibagian selatannya.

… Juga dihatinya.

"T-tuanhh… mudah…" lirihnya.

Kiriyo perlahan mengeluarkan juniornya dari dalam hole Yuu. "… Keluar dari kamarku, Watase. Kau kupecat."

DEG

Kata-kata dingin Kiriyo seakan menghujam tubuhnya dengan sangat keras. Bahkan lebih sakit dibandingkan yang dialaminya tadi.

"T-tuan muda…" lirihnya lagi dengan suara bergetar. Diremasnya seprai ranjang milik Kiriyo yang sudah penuh noda hasil percintaan mereka, ia berusaha menahan perih yang seakan memenuhi perutnya hingga membuatnya benar-benar mual.

Ah… Yuu harus mengoreksinya. Bukan percintaan –karena dia tahu Kiriyo sama sekali tidak mencintainya.

It's just… having sex. Nothing more.

"Aku tak mau melihatmu lagi. Segera pergi dari rumahku."

Yuu menunduk. Menatap kosong kearah lantai kamar. "… Saya mengerti, tuan…"

Kiriyo turun dari tempat tidur, dan melangkah menuju kamar mandi.

Meninggalkan Yuu yang masih terdiam. Ia menguatkan cengkraman jemarinya diseprai. "… Maafkan saya… tuan muda…"

"…"

BLAM

:::

"KAU JAHAT SEKALI KYU! DASAR MAGNAE KURANG AJAR! KAU MELUKAI YESUNG HYUNGKUUU!"

Itulah teriakan penuh emosi sang ikan milik Super Junior.

Donghae yang merupakan tipe namja sensitif, langsung memarahi Kyuhyun yang dianggapnya melukai Yesung yang notabenenya merupakan hyung kesayangannya.

Eunhyuk hanya menghela napas. Kalau sudah mengenai cinta, ikan disampingnya ini benar-benar tidak tahu mana kisah fiksi, dan mana kisah nyata. Semua pemeran tokoh jahat akan langsung dimakinya. Dia bahkan pernah menggampar tokoh antagonis yang dilihatnya disinetron saat kebetulan bertemu dengannya disuatu acara.

Eunhyuk juga heran kenapa dia bisa mencintai namja macam ini.

"Dasar seme melankolis." Celetuk Shindong, dan langsung mendapat deathglare gratis dari Donghae.

"Hhh… aku benci drama." Keluh Heechul. Ia melirik Leeteuk yang sudah tertidur. "Yak, kalian lanjutkan saja nontonnya. Aku dan Leeteuk akan tidur." Katanya, lalu menyeret Leeteuk yang masih tertidur kedalam kamar. "Ceritakan endingnya padaku nanti. Tapi aku berani bertaruh diendingnya KyuSung akan bahagia. Klise. Dasar film zaman sekarang. Tidak ada bagus-bagusnya."

BLAM

'Sadis.' Batin semuanya tepat setelah Heechul membanting pintu kamar.

"CHO KYUHYUUUN!" si namja Choi ikutan nimbrung. "Tuhan membenci hambanya yang membuat orang lain sakit hati! Apalagi kau sudah merampas keperawanannya! Setelah melakukan hal hina itu, kau malah mengusirnya?! Dasar iblis! Tuhan akan mengutukmu!"

"Hentikan ceramahmu, kuda! Kau membuat telingaku gatal!" teriak Heechul dari dalam kamar.

Kyuhyun memutar matanya imajiner. "Itu hanya akting, Ma hyung. Lagipula…" ia mengeratkan pelukannya pada Yesung. "Aku sangat mencintai Yeye hyungie~!"

Yesung tersenyum manis dengan pipinya yang sudah memerah. "U-uhm~! Nado Kyu…" ia mencium pipi kiri Kyuhyun sekilas, lalu kembali menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah didada Kyuhyun.

Kyuhyun hendak menyerang Yesung, tapi Donghae sudah menyempil diantara keduanya. "Tenang Yeye hyung! Hae sang pangeran akan menyelamatkanmu dari iblis itu~!"

Chu~

Eunhyuk memface palm dirinya sendiri saat melihat Kyuhyun sudah mengeluarkan aura iblisnya. Entah Donghae yang sudah terlalu banyak menonton film princess, atau memang Donghae itu namja yang kelewat babbo. Eunhyuk sudah tidak tahu lagi. Dalam hati Eunhyuk mengingatkan dirinya, agar membatasi film Disney yang Donghae tonton.

… Dan sebaiknya dia menyembunyikan CD Titanic milik namjachingunya itu.

Donghae tersenyum gembira setelah berhasil mengecup pipi chubby Yesung. "Hihihi~! Hm? Kyu? Apa yang kau laku- KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

"Waa! Kyu! Lepaskan pisau dapurku!"

"Dan mau apa kau dengan talenan itu?!"

"Y-yak! Lepaskan Donghae! Waaa!"

"HYUKKIEEEEEEEEE~~~!(T0T)"

*adegan sensor*

(Proses pembuatan sashimi)

:::

Yuu segera berpakaian, menoleh sejenak kearah pintu kamar mandi Kiriyo sebelum akhirnya benar-benar pergi dari rumah itu.

Yuu berencana akan kembali kedesanya dan membantu pamannya berkebun. Dia tidak membawa uang sama sekali, tapi dia bisa meminjam uang dari sahabatnya yang tinggal tidak jauh dari sini.

"Yuu kun?" Yuu menoleh, dan langsung tersenyum melihat Sei yang berlari kearahnya. "Ah, Sei san. Ada yang bisa saya bantu?

"Tolong kemari sebentar!" tanpa menunggu jawaban Yuu, Sei sudah menarik lengannya dan menyeretnya menuju rumahnya dan Rei.

:

:

Yuu menatap sedih Rei yang tampak kesakitan. "Narukami san…" bisiknya lirih. "Cepatlah sembuh… aku dan kakakmu mengkhawatirkanmu…"

Rei tersenyum tipis dengan bibirnya yang sudah memucat. "N-ne… aku akan… berusaha…"

Sei yang berdiri tak jauh dibelakangnya hanya menatap pemandangan didepannya miris. Rei tampak lebih tenang dengan keberadaan Yuu disampingnya.

'… Ternyata memang tidak ada tempat untukku…'

Baru saja Sei hendak melangkah pergi, Yuu sudah menahannya. "Sei san…"

Sei menoleh dengan sedikit berat hati. "H-hai?"

Yuu menoleh kearah Rei, lalu memberikan senyuman lembutnya. "Bisakah kita berdua bicara? Maksudku…" Yuu kembali menoleh kearah Sei. "… Hanya berdua."

Sei menatap Yuu. "… Boleh…"

:

:

Yuu membawa Sei kehalaman belakang rumah kakak beradik itu.

Yuu tersenyum. "Aku… akan pergi…" mulainya.

Sei menatapnya bingung. "Pergi…? Kemana?"

"Jauh. Aku akan pergi jauh."

"Tapi bagaimana dengan Kiriyo-"

"Tuan muda akan baik-baik saja tanpaku." Potong Yuu cepat. Hatinya sakit saat mendengar nama tuan mudanya itu disebut. "Aku tidak penting untuknya." Yuu tersenyum.

"Yuu san-"

"… Tapi dia mencintaimu."

Sei menatapnya. Masih tidak mengerti.

"Hanya kamu… satu-satunya yang bisa membuatnya tersenyum." Yuu menghela napas, lalu berusaha tersenyum. Ya, ini untuk kebahagiaan tuan mudanya. Untuk tuan mudanya. Tuan muda yang sangat dicintainya.

"… Aku punya saran untukmu… dan semoga kau mau melaksanakannya."

:

:

Kiriyo diam. Menatap langit kamarnya. Perutnya menjerit minta diisi, tapi kakinya terlalu malas untuk sekedar beranjak dari ranjangnya ini. Hari sudah beranjak malam, terhitung telah 3 jam sejak terakhir dia melihat Yuu.

"…"

… Benarkah Yuu sudah pergi? Benarkah Yuu sudah meninggalkannya?

Tatapan Kiriyo menyendu. Lagi. semua orang selalu meninggalkannya. Tak ada yang benar-benar mencintainya. Semuanya. Ayahnya, ibunya, Yuu. Bahkan Sei.

Tak ada yang mencintainya.

Untuk apa uang sebanyak ini, jika hanya memberimu kesepian? Kesepian yang tidak akan pernah sembuh. Sungguh, kalau bisa, Kiriyo rela menukar semua hartanya dengan kebahagiaan.

Semuanya.

Ting tong~

Kiriyo berdecak kesal. Dipaksakannya tubuhnya untuk bangun.

Ketika membuka pintu rumahnya, ia terkejut karena mendapati Seilah yang mengetuk pintu.

"Ah… Sei… ada yang bisa kubantu?" tanya Kiriyo ragu.

Sei memandang kosong kearah lantai rumah. "… Apakah kau masih mencintaiku…?"

Kiriyo terdiam. Diperhatikannya wajah Sei yang benar-benar pucat. Sepertinya ada masalah. "… Uhm… ya… aku masih mencintaimu…" jawab Kiriyo jujur.

Sei mengangkat wajahnya, menatap lurus kearah Kiriyo. "… Aku juga… mencintaimu."

Kiriyo menatap Sei tak percaya. Tadi malam Sei menolaknya, kenapa sekarang Sei malah mengatakan bahwa dia mencintai Kiriyo? "Benarkah?"

Sei mengangguk perlahan. Tangannya terkepal, dan bahunya gemetar.

:

:

Dia menangis.

:

:

"… Aku mencintaimu."

:

:

Yuu memandangi pemandangan dari jendela kereta. Digenggamannya terdapat foto masa kecilnya dengan Kiriyo. Dimana mereka masih bisa tertawa bersama.

Sebuah senyuman miris tercetak diwajahnya. Tuan mudanya pasti akan bahagia dengan Sei. Rei juga pasti bisa sembuh. Yuu tahu Rei anak yang kuat.

'… Aishiteru, tuan muda… terima kasih untuk segalanya…' Yuu memejamkan matanya. Memorinya memutar kembali kenangannya dengan Kiriyo.


"Halo! Namamu Watase Yuu ya? Salam kenaaalll~~!"

"Yuu chan? Dimana bibi Yumi? Loh? Kenapa kau menangis? Yuu chaan~! Jangan menangis!"

"Jangan menangis… bibi Yumi pasti sudah bahagia disurga! Bibi Yumi pasti akan bertemu dengan ibuku!"

"Yuu chan! Lihat! Bunga ini untukmu! Untukmu yang sangat cantik~!"

"Aku kesepian, tapi karena ada Yuu chan disini, aku merasa lebih baik! Jangan pernah tinggalkan aku!"

"Lihat lihat, Yuu chan! Kau akan cocok sekali memakai pakaian maid ini! Ayo dicoba!"

"Wuaah~! Ternyata kau memang cantik sekali~! Kau putriku~!"

"Aku janji, akan selalu melindungi putriku yang cantik, dan akan selalu menyayanginya!"

"AYAH?! AYAH?!"

"BERISIK! SURGA?! AYAHKU MASIH HIDUP!"

"… Jangan dekati aku, Watase."

"… Kenapa kau masih disini…? Kenapa kau tidak meninggalkanku?"

"Janji…? Lupakan. Itu dulu. Saat kita masih kecil. Tinggalkan aku."


Yuu membuka kembali matanya. Liquid bening itu mulai menetes jatuh dari sudut matanya.

"… Yoshi… kun…"

:::

"Mwo? Kau yakin itu Kyuhyun? Kenapa pas kecil dia imut begitu?" protes Donghae yang sudah berantakkan akibat amukan magnae mereka. "Harusnya mereka mencari anak kecil yang mukanya evil! Harus kuprotes nanti!" Donghae mencak-mencak.

Kyuhyun tidak mengacuhkan Donghae, dia tetap sibuk melumat habis bibir manis Yesung. Yesung yang sedikit kewalahan pun hanya bisa mendesah pelan.

Sungmin mengirim deathglare kekeduanya sambil tetap menutup telinga Ryeowook, seakan berkata 'GET A ROOM YOU TWO!'. Untung saja Ryeowook tidak melihat keduanya.

Shindong menghela napas. "Kenapa filmnya rumit sekali sih?" gerutunya. "Iya 'kan, Siwon? Siwon?" Shindong menoleh kearah Siwon. Dan yang didapatinya adalah Siwon yang sudah berlumuran air mata.

"Kasihan Yesung hyung! Diperlakukan seperti itu! hiks hiks! HYUUUNGGG!" Siwon melompat kearah KyuSung, dan langsung disambut oleh tendangan kaki kiri Kyuhyun. "YAK! MAGNAE EVIL! DASAR TAK SOPAN!"

"SENTUH YESUNGKU SEDIKIT SAJA, DAN KAU AKAN HANCUR, KUDA!"

"APA KATAMU?! KAU-"

"BERISIIIK!" pekik Heechul dari dalam kamar. "SEKALI LAGI KALIAN BERISIK, AKAN KUHANCURKAN KALIAN!"

Semua langsung mingkem. Semua kembali fokus menonton film, selain KyuSung yang masih sibuk bermesraan tentu saja.

:::


-1 Year Later…

"Rei…! Hiks… Rei…!"

Kiriyo menatap pemandangan didepannya dengan pandangan kosong.

"Bangun, Rei…! Jangan tinggalkan kakak…! Kakak mohon…! Bangun…! Bangun…!"

Kiriyo tidak merasakan apapun, tidak sedih, tidak kecewa, tidak pula cemburu saat melihat istrinya memeluk dan menciumi wajah orang lain –walau orang itu adiknya sekalipun.

"Aishiteru… honto ni… aishiteruyo, Re… Re… aishiteru… aku tidak mencintainya… aku hanya mencintaimu…! Onegai…! Bangunlah…!"

… Entah kenapa… hanya kosong.

:

:

Sepulang dari pemakaman, Sei mengajak Kiriyo berbicara.

"… Aku ingin kita cerai."

"…" Kiriyo diam. Tidak merasakan sedih, terkejut, atau apapun itu. … Kosong.

"Aku rasa kau sudah tahu. Aku menikahimu hampir setahun ini, semata-mata agar kau membiayai rumah sakit adikku."

"…"

"Kau berhak marah. Kau boleh memukulku juga." Sei memejamkan matanya. "Tapi aku sudah tidak bisa bersamamu. Karena aku… hanya mencintai adikku saja… dan dia sudah pergi sekarang. Aku sudah tidak punya alasan untuk bersama denganmu."

Kiriyo mengangguk. "… Aku mengerti."

Sei menatapnya tak percaya. Begitu saja? Kiriyo tidak memakinya? "K-kau tidak marah?"

"Entah…" Kiriyo menatap Sei kosong. "… Aku tidak merasakan apa-apa."

Sei memandangnya miris. Selama ini Sei sudah memperhatikan Kiriyo. Namja itu tak tampak bahagia walau sudah menikah dengannya. Seperti ada sesuatu yang hilang dari kehidupan Kiriyo. Dan Sei tahu apa itu.

"… Apa kau tahu siapa yang… mengusulkan agar aku menerima cintamu…?"

Kiriyo diam. Menatap Sei tak mengerti.

"Yuu-san lah yang memintaku."

Entah kenapa hati Kiriyo berdesir menyakitkan saat mendengar penjelasan Sei.

"Yuu-sanlah yang meminta agar aku mau menerimamu."

"…"

"… Dia sangat mencintaimu. Aku tahu itu."


FLASHBACK: ON


"… Aku punya saran untukmu… dan semoga kau mau melaksanakannya."

Sei mengernyit. "Saran apa?"

Yuu menatap manik Sei yakin. "Terima cinta tuan muda!"

Sei membelalak. "Apa?! Kau gila?! Tidak! Aku tidak mencintainya!" tolak Sei.

Yuu tersenyum. "Tapi jika kau menerima tuan muda, dia pasti akan dengan senang hati mengobati penyakit Rei san."

DEG

Sei menegang. Kata-kata Yuu telak mengenai ulu hatinya.

"Aku tahu tidak seharusnya aku berbicara begini, maafkan aku." Yuu membungkuk sedikit. "Tapi tolong pikirkan lagi. Rei sangat membutuhkanmu, Sei san."

"… T-tapi… kalau aku membohonginya, sama saja aku melukainya…"

Yuu tersenyum ambigu. "… Aku pergi dulu, Sei san. Tolong berhati-hatilah, dan semoga Narukami san cepat sembuh." Ia meluruskan posturnya, dan melangkah hendak pergi, namun suara Sei menghentikannya.

"Kenapa kau melakukan ini?"

Yuu diam sejenak. Namun ia berbalik, dan memberikan sebuah senyuman yang sangat indah.

Namun Sei tahu. Ada luka disana.

"Itu karena… aku sangat mencintai Tuan muda."


FLASHBACK: OFF


Kiriyo tetap terdiam. Bahkan saat Sei melenggang pergipun, dia tidak mencegahnya. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri.

Yuu…

Watase Yuu…

Apa yang spesial dinama itu…?

… Ah… nama itu spesial.

… Karena itu adalah namanya.

"… Tuan muda…"

"… Terima kasih untuk segalanya."

"… Aishiteruyo."

:

:

Ciit

Mobil berwarna merah jambu itu berhenti ditepi jalan. Sang pengemudi turun, dan melihat kearah tebing curam dihadapannya. Sangat tinggi… dia yakin jika dia jatuh dari sini, maka ia akan langsung mati.

… Ya. Dia ingin mati.

"… Rei…" suaranya lirih, memecah keheningan malam. Tak diindahkannya kabut dan lolongan anjing liar disekitarnya. Ia mendongak, menatap langit malam, melihat betapa sang bulan bersinar terang, namun jutaan bintang tertutupi oleh kelamnya malam. "…"

… Bolehkah dia… menyusul adiknya…?


FLASHBACK: ON


"Nii… chan… Re… mau dibawa… kemana…?" lirih Rei dengan napas putus-putus.

Sei tersenyum. "… Rumah sakit. Kau akan sembuh, Rei! Kau akan sembuh!" ia menggenggam tangan sang adik erat.

Rei menatapnya. "… Nii chan…?"

"Ne?"

Tangannya perlahan terulur, dan menyentuh sudut mata Sei. "… Kenapa kau menangis?"

Sei Cuma diam, senyuman tetap terukir diwajahnya. Dia tidak bisa memberitahu Rei soal pernikahannya dengan Kiriyo. Entah, Sei hanya merasa tidak ingin memberitahukannya.

"Kau akan sembuh…" Sei mengganti topik pembicaraan. "Saat kau sembuh nanti, aku akan membawamu ketaman bermain! Sama seperti dulu saat kita masih kecil!"

"Honto… ni…?" Rei tersenyum tipis. "Re… senang…"

"… Arigatou… nii chan…"

:

:

"Rei… kau baik-baik saja… kau akan baik-baik saja…!" Sei menggenggam tangan Rei frustasi.

Rei yang terbaring diranjang rumah sakit hanya mampu tersenyum tipis. "… Nii… chan… ari… gatou… untuk segalanya…"

"Jangan bicara begitu! Kau akan sembuh! Aku janji! Kita akan ketaman bermain kan? Kau akan menemaniku bermain komidi putar kan? Kita akan makan permen kapas, kesukaanmu! Kau ingat?" air mata mulai tergenang disudut mata Sei.

Rei menatapnya. "Nii… chan… menangis lagi…"

"A-aku tidak menangis!" Sei buru-buru menyeka kasar air matanya. "Lihat? Lihat? Aku tidak menangis, Rei!"

Bibirnya membiru, namun senyuman tak pernah hilang dari wajahnya. "… Kenapa… nii chan tidak… pernah cerita… soal pernikahan… nii chan…?"

Sei menggigit bibirnya. "Rei… tenang… jangan bicara dulu! Dia akan sembuh 'kan, Dok? Dia akan sembuh 'kan?!"

Dokter yang berada disebelah Sei hanya menunduk, tak mampu menjawab.

Sei menatapnya tak percaya. "Tenang Rei! Aku akan membawamu kedokter yang lebih bagus! Kita akan-"

"Aku ingin… melihat nii chan… dengan tuksedo…" Rei membalas genggaman tangan Sei, walau lemah. "… Sama… seperti tahun lalu… diulang tahun… Re…"

Sei menatapnya pilu. "A-aku akan pakai tuksedo! Kita akan merayakan ulang tahunmu besok, ne! Nii chan akan menghias rumah sakit ini agar meriah! Dan kau juga bisa meniup lilin, dan memotong kue! Aku akan mengundang semua teman-temanmu dan-"

"Apakah… Nii chan… akan mengundang… Yuu kun… juga…?"

DEG

"Sudah lama… Re tidak… melihat Yuu… kun…" bisik Rei lagi. "Re… merindu… kannya…"

Sei memaksakan dirinya tersenyum. "T-tentu… aku akan mengundangnya… dia pasti dat-"

"Nii chan…" potong Rei. "Aku… bahagia…"

"… Rei…"

"Nii chan… sangat menyayangi… ku…" Rei perlahan memejamkan matanya. "… Ai… shite… ru…"

"Aku juga! Aku sangat mencintaimu! Rei! Aku benar-benar mencintaimu! Karena itu jangan tinggalkan aku!"

"… Nii chan… aku… mengantuk…" bisiknya lirih dengan kedua mata yang telah tertutup rapat.

"Tidak! Jangan tidur! Buka matamu, Rei! Rei! Kau dengar aku?! Aishiteruyo! Bangun! Kumohon bangun!"

"…"

TIIITTT

Sei tak percaya dengan pendengarannya. Itu bukan suara alat pacu jantung kan? Reinya masih hidup 'kan?! Reinya masih disini 'kan?!

"Rei…! Hiks… Rei…!" Sei bangkit, dan memeluk tubuh sang adik yang sudah dingin.

"Bangun, Rei…! Jangan tinggalkan kakak…! Kakak mohon…! Bangun…! Bangun…!" sakit mulai menghujam hati Sei. Dia tidak mau Rei pergi. Banyak hal yang belum dilakukannya untuk Rei.

Rei tidak bisa meninggalkannya seperti ini…

Tidak…

Tidak seperti ini.

"Aishiteru… honto ni… aishiteruyo, Re… Re… aishiteru…"


FLASHBACK: OFF


Jika Sei pikirkan kembali, dia sangat menyesal. Seandainya sedari dulu dia menyatakan perasaannya pada Rei, apa yang akan terjadi…?

Walau Rei menolaknya sekalipun, setidaknya Sei tidak akan merasa terbebani seperti ini. Tidak akan semenyesal ini. Seandainya Sei lebih egois sedikit…

"Aishiteru…"

Kini ia hanya bisa berbicara pada dinginnya malam. Sendiri. Tanpa Rei disisinya.

Menyesal…

Sangat menyesal…

"Nii chan…"

Sei sontak menatap lurus kedepan, dan terkejut melihat sosok Rei yang berdiri tak jauh didepannya. "R-Rei?!"

"Aishiteru, Nii chan…" Rei tersenyum manis. "… Re kedinginan…"

"R-Rei…"

"Nii chan… temani Re… Re tidak mau sendirian disini…" Rei memeluk dirinya sendiri. "… Dingin, nii chan…"

Sei maju selangkah, tetap menatap Rei tak percaya. "Rei…"

"Kemari, nii chan… temani Re…" Rei menyodorkan tangannya, tetap memberi Sei senyuman manisnya. "Aishiteru, nii chan… kemarilah…"

Sei melangkah semakin maju, tak menghiraukan jurang dibawahnya. Matanya lurus menatap sepasang manik kecokelatan milik sang adik. "Rei…" ia meraih tangan Rei, kemudian menggenggamnya erat.

Rei tersenyum, dan dalam satu hentakan, menariknya.

Sei menengadah, menatap bulan yang terus mengikutinya, meski puncak tebing semakin lama semakin meninggalkannya. Satu yang dia yakin pasti.

Dia akan mati. Gravitasi bumi terus menariknya, jauh kebawah.

Tapi dia bahagia.

'Kita akan bertemu, Rei… aku akan menemanimu… dan berjanji aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi…'

"Rei…" Sei tersenyum tulus. "… Aishiteru… yo."

BUAKH

:::

Semua speechless memandangi adegan yang terpampang. Sei jatuh kedasar jurang yang penuh kabut dan langsung hilang ditelan kelamnya malam. Hanya terdengar suara benturan keras, dan kemudian terdengar musik latar yang sangat menyayat hati.

"… Apa dia mati…?" tanya Donghae salting.

Sungmin mendengus. "Ya, dia mati." Jawabnya jutek.

"D-dan… itu tadi… hantunya Ryeowook…?"

Ryeowook mengangguk. "Aku dicerita itu sudah mati, jadi yah… kau benar. Itu hantuku!"

Donghae langsung melompat kepelukan Eunhyuk. "HANTUUUUU!"

Eunhyuk menghela napas. Kenapa semenya babbo begini…? "Itu hanya film, ikan babbo!"

"Aku tidak babbo, Hyukkie!" marah Donghae.

"Kau memang babbo!" balas Eunhyuk tak mau kalah.

"Apaaa? Artinya kau yang mau pacaran denganku lebih babbo lagi dong!"

"What?! Aku tidak babbo! Kau yang babbo!"

"Kau!"

"Kau!"

"Kaauuuuu!"

"Ka-"

Krieet

"…"

EunHae mingkem saat merasakan aura hitam dari arah belakang mereka. Mereka menoleh, dan yang mereka lihat, mampu membuat jantung mereka berhenti berdetak.

… Kim Heechul disana… menggunakan piyama pink bermotif mawarnya… dengan cambuk 'cantik' ditangannya… belum juga ekspresi setannya…

"Eh, terus bagaimana dengan Yesung hyung? Apa dia tidak akan muncul lagi?" tanya Shindong heran –tak mengacuhkan EunHae couple yang sedang menghadapi malaikat kematian(?).

Siwon mengangguk. "Apa kau sudah tidak muncul lagi, hyung?"

"Aku- eph!"

Kyuhyun membungkam bibir Yesung dengan ciuman ganasnya.

"E-engh~ Kyuh…! Ah! b-banyakh… orang… hnh…!" Yesung semakin kewalahan.

Sungmin dan Shindong sudah melindungi kepolosan Ryeowook, sementara Siwon hanya menatap bosan kearah Kyuhyun. "Kapan kau akan menjawabnya?"

Kyuhyun baru melepas ciumannya saat Yesung sudah hampir kehabisan napas. "Jawabannya~…" Kyuhyun tersenyum misterius.

"Nee?"

"Ada dichapter depan~! Sekaligus chapter terakhir! Nantikan ya readerdeul~!" Kyuhyun mengedipkan matanya genit kearah para reader.(?)

Donghae dan Eunhyuk cengo. "Readerdeul? Siapa? Chapter? Apa maksudmu?"

"Aku belum selesai dengan kalian, bocah pengganggu tidur orang!"

"Hyaaaa!"

Siwon menghela napas. "Kyuhyun memang sudah semakin tidak waras…"

Dan diamini oleh Shindong dan Sungmin.

:::

FIN~/PLAK

Eh salah, maksudnya,

TBC~!XD

NYAHAHAH! UCCHAN UPDATEE! UCCHAN UPDATE OUT OF NOWHERE!*mendadak gila*/plak

Anyway… baru abis lebaran nih~(?)! angpao?/digampar

Okeh! Ucchan terprovokasi(?) buat update karena temen2 diFB! Nyahahah!8D semoga suka! Mian telat banget! Sebenarnya chap ini seharusnya Ucchan update bersama FF MLFU n L'Amour Et La Haine kemarin! Tapi kelupaan!/plak N mian kalo chap ini jelek neTwT)b!/plak

BIG THANKS TO:

Lyflink97:::Mylovelyyeye:::kim rose:::Kim Yeclouds:::Hyemi Han:::Kim Raein:::yesung ukeku:::Kim YeHyun:::kim:::bay05:::Jiji Park:::Kyutiesung:::AuraKim:::deraelf:::CloudSparkyuLove:::vthree turtlegyu:::ranimaharsi:::kys134:::olla:::kim kyusung:::Jeremy kim84:::KaraKyuSungReal:::sweetyYeollie:::Albino's Deer:::hlyeyenpls:::CSYaegykyusung:::Guest

Gomawo buat reviewnya! Ucchan akan lebih berusaha!X3 n gomawo buat reviewerdeul yang baru datang(?)! semoga gak bosan-bosan review!XD/plak

Btw, cepat sembuh, Yemma... jangan memaksakan diri... ELF tidak mau kehilangan suaramu! TmT get well soon, mom!/plak

N buat yang minta NC KyuSung, ada dichap depan ne!XD dasar mesum~~:3/digampar

Yosh! Ucchan mau ngilang lagi! Bye!

Singkat kata,

Review Please?*wink*/plak