Chapter 5: Oblivion

"Never let the meaning of your love light escape to the dark nothingness of oblivion."

― Sorin Cerin, Wisdom Collection: The Book of Wisdom

~oOo~

Luhan tidak begitu menyukai sarapan pagi ini.

Ia terbangun dan menatap pantulan dirinya di cermin dan berpikir sangat lama, sehingga ketika ia tersadar dari lamunannya, Luhan baru menyadari bahwa ia telah terduduk di depan cermin selama 30 menit. Ia bergegas untuk mandi, berpikir bahwa ia sudah telat untuk sarapan, dan berlari di sepanjang lorong. Membuka pintu ruang makan sambil terengah-engah, hanya untuk mendapatkan Sehun yang sedang duduk sambil menyantap sarapannya dengan semangat.

"Dimana yang lain?" tanya Luhan sambil duduk dikursinya.

Sehun mengangkat bahunya, "belum bangun, sepertinya."

Luhan melirik jam dinding yang tertempel di sebelah barat ruangan, "sudah jam 7 dan mereka belum bangun?"

"Mereka bisa menjadi pemalas juga kadang-kadang."

Luhan tidak membalas perkataan Sehun, karena perutnya sudah berteriak ingin di isi. Ia mengambil 2 lembar roti panggang dari rak roti dan mengolesinya dengan selai, Sehun menyodorkan poci teh yang langsung di terima dengan semangat oleh Luhan. Tidak ada sarapan yang lebih baik selain secangkir teh di pagi hari.

"Bagaimana latihanmu kemarin?" Sehun bertanya, dan Luhan terkejut ketika lelaki arogan itu peduli dengan latihannya kemarin. Hentikan pemikiran konyolmu, Sehun hanya berusaha untuk ramah tamah, batinnya menjerit.

"Um, baik?" Luhan bingung harus menjawab apa, karena masih syok akan pertanyaan Sehun yang tiba-tiba.

Sehun nampak fokus dengan makanannya sebelum membalas lagi, "latihan pertama memang sulit, kalau kau serius, kau dapat menguasai kekuatanmu dengan mudah."

"Tidak semudah memahami semua ini," Luhan menghela nafas, tanpa sadar bahwa ia telah mengeluh kepada Sehun.

Sehun menatap Luhan dengan alis di angkat, heran akan sikap Luhan yang seperti ini. Namun sebenarnya, Sehun mengerti perasaan lelaki itu, bingung akan jati dirimu sendiri, seakan-akan dunia telah mengkhianatimu. Luhan yang sadar bahwa ia sedang di perhatikan oleh Sehun, segera menyibukkan dirinya dengan roti panggangnya, berusaha mengabaikan eksistensi Sehun di ruangan itu. Tetapi semua itu sia-sia, karena ada sesuatu yang mendorongnya untuk membalas tatapan Sehun, ia berkali-kali berusaha untuk menahan pandangannya agar tetap tertuju kepada roti di hadapannya, namun matanya berkhianat dan akhirnya Luhan membalas tatapan Sehun.

Indah. Satu kata yang melambangkat mata Sehun. Bagi Luhan, mata Sehun bagaikan berlian hitam yang dipoles berkali-kali hingga mengkilap. Sehun menatapnya dengan sorot mata yang seakan-akan menarik Luhan agar terjebak di dalam hitam mata Sehun. Pandangan Sehun sulit untuk dimengerti Luhan, namun pada akhirnya Sehun memutuskan kontak mata mereka sambil tertawa, dan Luhan merasakan kekecewaan membuncah di dadanya hingga terasa ngilu, dan ia merutuki dirinya sendiri karena merasakan hal seperti itu.

"Lanjutkan saja sarapanmu." Katanya sambil menuangkan teh ke cangkirnya.

Tepat ketika Sehun selesai mengucapkan kalimat itu, pintu ruang makan terbuka kembali dan muncullah Baekhyun, Chanyeol, dan Lay. Baekhyun dengan rambutnya yang basah, Chanyeol dengan cengiran bodohnya, dan Lay dengan lesung pipinya.

"Rajin sekali kalian bangun sepagi ini," Chanyeol berkata sambil menguap.

"Hanya demi menguasai telur dan muffin pagi hari ini." Ujar Sehun sambil memasukkan sepotong muffin ke dalam mulutnya.

Lay memperhatikan meja dengan pandangan tidak suka, "kau sudah menghabiskan hampir setengah dari muffin kita? Et tu, brute!"

"Masih banyak roti panggang dan bacon yang tersisa." Sehun mengangkat bahunya santai.

"Aku butuh susu." Baekhyun berkata sambil matanya mencari-cari susu di meja, namun pergerakkan matanya terhenti ketika ia melihat Sehun menyodorkan secawan susu kehadapannya. Baekhyun tersenyum berterima kasih kepada Sehun, dan dibalas dengan senyuman kecil dari lelaki itu. Luhan lagi-lagi merasakan ada hal yang mengganjal di antara Sehun dan Baekhyun. Ia tidak tahu apa dan bagaimana cara menjelaskannya.

Suho dan Kai masuk ke ruang makan beberapa menit kemudian. Suho terlihat segar sementara Kai masih menguap berkali-kali. Luhan tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari rambut Kai yang berantakkan, ia harus menahan dirinya sendiri agar tidak melompat dan menata rambut biru gelap itu. Suho segera duduk di ujung meja sesudah ia menghampiri Lay dan mengelus kepala lelaki itu dengan penuh perasaan sambil tersenyum.

Luhan membelakkan matanya melihat interaksi di antara Suho dan Lay, ia dengan cepat menatap Sehun untuk bertanya, dan di balas dengan senyuman penuh arti dari lelaki itu. Luhan merona, namun ia mengerti apa jawaban Sehun, Suho dan Lay memang berkencan.

"Aku sudah melihat pesan yang berada di taman," kata Kai memecah keheningan, "Suho hyung, kau harus hati-hati, pesan itu jelas-jelas di tujukkan kepadamu."

Suho menggeleng pelan, "aku punya firasat pesan itu bukan untukku. Memang tertulis 'Pangeran' di situ, namun kita semua tahu aku bukan satu-satunya Pangeran di sini, kan?"

Luhan bisa melihat tubuh Kai menegang, pemuda tan itu menatap Sehun yang duduk di seberangnya. Namun Sehun masih sibuk dengan sarapannya, lelaki itu sepertinya tidak peduli dengan apa yang dikatakan Kai ataupun Suho.

"Pesan itu bukan untuk Kai juga kan?" Chanyeol berkata ragu, Baekhyun di sebelahnya tersenyum resah lalu menggenggam tangan Chanyeol, bermaksud untuk menenangkan dirinya sendiri.

"Jangan melemahkan pertahanan kalian, kita tidak tahu siapa Pangeran yang di maksud, namun tidak ada salahnya kan untuk berjaga-jaga?" ujar Lay.

"Pesan apa?" Luhan baru menyadari bahwa ia tidak tahu apa-apa mengenai pesan yang mereka bahas.

Baekhyun menoleh kepada Luhan, "pesan yang tertinggal di halaman depan semalam, bertuliskan 'Tunggu aku, Pangeran.' Entah itu di tujukan untuk Suho atau Kai atau—"

"Siapapun yang meninggalkan pesan itu pasti mengenal kita semua, sebaiknya jangan terlalu sering berhubungan dengan orang luar." Sehun tiba-tiba memotong perkataan Baekhyun, piring sarapannya sudah kosong sekarang, nampaknya ia sudah selesai dengan sarapannya.

"Tapi aku perlu kembali ke flat lamaku," Luhan mengeluarkan protes, "kau tahu aku tidak mungkin selamanya tinggal di sini."

"Luhan, sayang, kau diperbolehkan tinggal di sini selama apapun yang kau mau. Lebih tepatnya, lebih baik kau tinggal di sini bersama kami. Kau seorang Exology sekarang, dan tidak orang selain kami yang tahu akan hal itu. Kau tidak bisa lagi tinggal di antara kaum darah merah dan menyembunyikan kekuatanmu, jika mereka mengetahui kalau kau adalah seorang Exology, itu akan menjadi akhir dari hidupmu." Kata Lay, tangannya menyentuh tangan Luhan dengan ringan.

Suho menatap Luhan, "kau adalah sesuatu yang berbeda, aku tidak menjanjikan keselamatanmu di luar sana. Kau boleh kembali ke flat mu setidaknya setelah kita menemukan asal usulmu dan kau sudah berhasil mengendalikan kekuatanmu."

Semua orang di ruangan itu menatap Luhan, dan Luhan merasa canggung di tatap seintens itu oleh orang banyak, ia tidak terbiasa menjadi pusat perhatian. Namun nampaknya di rumah ini ia akan menjadi pusat perhatian untuk jangka waktu yang panjang.

Luhan menghela nafas, "tapi setidaknya boleh kah aku mengunjungi flat ku untuk mengambil beberapa barang? Yah, kau tahu, barang-barang untuk memberiku rasa nyaman di sini."

"Ah, ya tentu saja, namun kau tidak boleh pergi sendiri," Suho melirik ke arah Kai dan Sehun, "Kai? Sehun?"

"Aku saja," Sehun berujar, "kebetulan aku harus membeli beberapa barang di kota."

Luhan menahan nafasnya ketika ide menghabiskan waktu seharian bersama Sehun terlintas di pikirannya.

"Aku ada janji dengan seorang kenalan." Ujar Kai.

"Sudah di putuskan kalau begitu, kalian bisa berangkat nanti siang." Suho berkata final. Namun tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan seorang lelaki tinggi memasuki ruangan dengan tergesa-gesa, ia membungkuk hormat kepada Suho lalu membisikkan sesuatu ke telinga lelaki itu.

Ekspresi Suho terlihat kaget sebelum ia berkata, "izinkan mereka masuk." Lalu lelaki tinggi tadi segera bergegas untuk keluar ruangan dan pintu tertutup di belakangnya.

"Ada apa? Siapa yang datang?" tanya Lay.

Suho menatap mereka dengan resah, "jaga sikap kalian. Ada tamu yang datang ke sini."

"Yang benar saja!" Sehun mengerang, "sarapan indah kita di ganggu oleh orang lain."

"Jaga muffin mu, Hun. Siapa tahu tamu kita menyukai muffin juga." Kai menyeringai.

Pintu terbuka lagi, Luhan menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang datang. Ia terkejut ketika melihat sesosok wanita cantik yang familiar, wanita itu mengenakan gaun berwarna putih gading yang elegan, dan sebuah mahkota tersemat di kepalanya yang menandakan bahwa ia adalah seorang ratu. Luhan sangat mengenal wanita ini, ia selalu melihat wanita ini dulu ketika ia berkunjung ke rumah neneknya di wilayah utara Midgard, Arda.

"Ratu Sooyeon," Suho berdiri untuk menyambut wanita itu, "suatu kehormatan bagi saya untuk menerima Anda menjadi tamu di sini."

"Pangeran Junmyeon," Ratu Sooyeon menunduk untuk memberi hormat kepada Suho, meskipun ia adalah seorang Ratu, namun Suho tetap saja memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingnya. "Tidak usah mempersilahkan aku untuk duduk, aku hanya datang untuk berkunjung cepat kesini."

Suho duduk kembali di kursinya, "jadi, apa yang membawa Anda untuk berkunjung ke sini?"

Ratu Sooyeon memasang senyum dingin, "kemarin utusan ayahmu datang untuk memberikan undangan kepadaku, kau tahu apa isi undangannya?" ia berjalan untuk mendekati Suho dan melemparkan sebuah kertas tebal ke meja makan.

Di luar dugaan, Suho tidak mengambil undangan itu, "undangan untuk menyambut Raja Helian, aku tahu."

Luhan bisa mendengar Sehun mengeluarkan suara tercekat dari tenggorokannya, sontak itu membuat Kai dan Baekhyun menoleh kearahnya dengan raut wajah tegang. Ratu Sooyeon sepertinya mendengar Sehun dan ia menoleh ke arah pemuda itu, "Ah! Kau masih di sini rupanya." Lalu pandangannya beralih kepada Kai, "Kau juga masih di sini, eh? Kim Jongin? Tidak merindukan ayahmu?"

"Kau tidak harus peduli apakah aku merindukan ayahku atau tidak," suara Kai terdengar dingin.

"Masih dingin seperti biasa, tidak berubah sama sekali, eh?" Ratu Sooyeon melirik ke arah Kai dengan masam, dibalas dengan sorot mata penuh kebencian oleh Kai. Luhan mengira sepertinya mereka memiliki sejarah yang buruk.

"Kembali ke topik pembicaraan," Suho berkata tajam, "maksud kedatangan Anda kesini apa, Yang Mulia Ratu Utara? Kita berdua sama-sama tahu kalau aku tidak begitu menyukai untuk ikut campur urusan kerajaan, jadi jika kau ingin mengetahui informasi apapun dariku, itu tidak akan berhasil."

Ratu Sooyeon melambaikan tangannya, "aku ke sini bukan untuk itu. Aku ke sini untuk menawarkan sesuatu kepadamu," ia tersenyum misterius lalu melanjutkan. "Kemarin malam, salah satu pengawalku menemukan sesuatu yang mengejutkan di halaman istanaku. Kau tahu itu apa? Sebuah tulisan. Tulisan yang aku yakin ditujukan untukku karena disitu tertulis 'TUNGGU AKU, RATU.""

Suho tertegun, namun dengan cepat ia dapat menyembunyikannya, "dan apa yang kau inginkan?"

"Bantuanmu, tentu saja." Ratu Sooyeon menoleh ke arah Sehun, "hanya sensor yang dimiliki oleh kau yang bisa melacak siapa pelaku teror ini. Aku ingin kau mencari tahu mengenai teror ini untukku, sebagai gantinya aku akan memberikan dukunganku kepada kalian."

Bibir Sehun berkedut masam, "kupikir adikmu bisa melakukannya untukmu."

"Jangan membawa-bawa Soojung kedalam urusan ini!" Ratu Sooyeon memekik, "tidak akan kubiarkan kau—"

"Masa lalu ya masa lalu," Sehun menyenderkan badannya ke kursi, "jangan membawa-bawa konflik masa lalu ke masa sekarang." Ia menyeringai ke arah Kai yang juga balik menyeringai ke arahnya.

Ratu Sooyeon nampaknya sedang berusaha untuk tidak meledakkan amarahnya di ruang makan, "kau harus membantuku." Wanita itu menyomot satu muffin dari piring Sehun, "dukunganku akan sangat berguna bagi kalian nanti." Dengan itu, Ratu Sooyeon melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruang makan, meninggalkan para lelaki yang terduduk di meja makan dalam diam.

Luhan dapat melihat raut wajah tiap-tiap orang berbeda-beda, Suho hanya menghela nafas pasrah sementara Lay menggenggam tangannya penuh perhatian, seakan-akan ia sedang menguatkan Suho dengan kekuatan healingnya. Chanyeol terlihat kaku, Baekhyun melirik Sehun dengan ragu, Kai dengan raut wajah jengkelnya, dan Sehun yang cemberut sambil menatap piringnya.

"Muffin-ku berkurang satu," ujar Sehun sedih.

Kai mendengus, "sudah ku duga tamu kita menyukai muffin."

~oOo~

Jalanan di kota sangat ramai hingga rasanya Luhan ingin meledak saking tidak sabarnya.

Suho telah mengizinkannya untuk kembali ke flat lamanya di kota—dengan di dampingi Sehun—untuk mengambil beberapa barang-barang pribadi yang tidak bisa ia tinggali begitu saja. Karena jarak ke kota dari rumah Suho agak jauh, jadi mereka terpaksa menaiki kereta kuda milik Suho sampai ke perbatasan kota, awalnya Sehun ingin mereka tetap melanjutkan perjalanan dengan kereta kuda, namun Luhan teringat jika kaum darah merah tidak begitu menyukai kereta kuda yang biasanya dimiliki oleh kaum Exology. Jadi, mereka terpaksa untuk jalan kaki menuju flat Luhan yang berada di tengah-tengah kota.

Perjalanan mereka sangat canggung, mulut Luhan gatal ingin bertanya ini itu kepada Sehun, namun pemuda itu terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri. Sehun yang awalnya berjalan beberapa langkah di depan Luhan, memelankan langkahnya untuk memberi tahu Luhan bahwa mereka sedang melewati patung monumen Raja Haneul yang memiliki kekuatan telekinetik, sama seperti Luhan. Lalu ia juga menjelaskan peristiwa ketika Raja itu mendepak kaum Helian dari Midgard untuk pergi dan membangun alam sendiri beratus-ratus tahun yang lalu.

"Aku tidak mengerti dengan hubungan parabatai di antara kau dan Kai," Luhan berkata ketika Sehun sudah selesai dengan kisah Raja Haneul-nya. "Maksud dari 'hubungan persaudaraan yang lebih kuat daripada hubungan apapun.' Apa maksudnya itu?"

Sehun mengangkat bahunya, "parabatai itu, yah, singkatnya, apa yang kurasakan akan Kai rasakan juga, jika ada sesuatu yang menyakitiku, Kai akan merasakannya juga, jika aku tenggelam, meskipun Kai berada di daratan ia akan merasa seperti sedang tenggelam juga, jika ada anak panah yang menuju ke arahku, Kai harus menghadangnya, begitu pula sebaliknya."

"Kalian terdengar seperti saling mencintai," Luhan bergumam.

Sehun tertawa singkat, "parabatai tidak diperbolehkan untuk saling mencintai, itu melanggar etika. Kita ini adalah satu jiwa dalam dua raga, kita akan merasa lebih kuat berkali-kali lipat jika bertarung bersisian." Mereka berbelok ke arah kiri, orang-orang nampak tidak sebanyak di jalan utama tadi, Luhan bisa bernapas dengan lega sekarang.

"Kalian nampaknya memiliki hubungan yang tidak baik dengan Ratu Utara." Luhan berkata sambil memiringkan tubuhnya agar tidak bersenggolan dengan pejalan kaki lain.

"Sebenarnya, hanya hubunganku dan Ratu Utara saja yang tidak baik. Kai bersikap menjengkelkan di hadapan Ratu Utara karena ia parabataiku, karena sudah pasti ia berada di pihakku."

"Apa yang telah kau lakukan?"

Sehun menyeringai, ia membalikkan badannya agar menatap Luhan, "kau banyak bertanya, ya?"

Luhan mengedikkan bahunya, "kau tidak bisa menyalahkan rasa keingin tahuan seseorang."

Sehun melompat kecil untuk menghindari genangan air, lalu ia mengulurkan tangannya agar bisa membantu Luhan untuk melompat juga, satu gerakan sopan yang membuat jantung Luhan jungkir balik di tempatnya. "Bisa di bilang, aku telah melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan bagi sang Ratu kepada adiknya." Sehun berhenti untuk bertanya kepada Luhan, "yang mana bangunan flatmu?"

Luhan menunjuk sebuah gedung cokelat tinggi di ujung jalan, "gedung itu."

Sehun mengangguk sebelum melanjutkan langkahnya lagi, Luhan harus berlari kecil agar bisa menyamakan langkah mereka. "Apa yang kau lakukan kepada adik Ratu Utara?"

Sehun melirik Luhan dari ujung matanya sebelum menjawab, "Soojung itu perempuan yang naif dan ceroboh. Dulu orang tuanya menjodohkan dirinya dengan Kai—saat itu mereka bahkan belum pernah bertemu satu sama lain—namun Soojung malah menyukaiku. Tentu saja, siapa yang berani menolak pesonaku?" Sehun berkata dengan bangga.

Luhan menggigit bibir bawahnya ketika mengetahui fakta kalau Kai pernah di jodohkan dengan adik Ratu Utara, namun Sehun tetap melanjutkan ceritanya tanpa memperhatikan perubahan ekspresi Luhan. "Aku ingat saat itu di Istana sedang merayakan perayaan 1 July. Raja Siwon mengundang seluruh kerabatnya untuk menghadiri pesta pribadi di dalam istana. Ayah Kai, Raja Idris, datang membawa Kai yang masih berumur 13 tahun saat itu, bahkan Lay ikut bersama mereka. Begitu pula ayah Soojung, Raja Arda, yang saat itu masih berkuasa. Soojung bahkan baru pertama kali berjumpa denganku dan dia sudah berani menyatakan perasaannya kepadaku, tepat setelah ayahnya dan ayah Kai mengumumkan perjodohan mereka." Ujar Sehun.

"Aku menganggap ucapannya merupakan sesuatu yang konyol, jadi aku berteriak kepada semua orang yang menghadiri pesta itu bahwa Soojung menyukaiku dan baru saja menyatakan perasaannya kepadaku."

Luhan menatap Sehun dengan pandangan horor, "kau bercanda!"

Namun Sehun hanya menyeringai, "kau harus lihat bagaimana ekspresi Soojung ketika ia mengetahui bahwa pernyataan cintanya telah aku bocorkan ke semua orang. Jadi yang gadis itu lakukan adalah menangis dan berlari keluar ruangan. Ayah dan Ibunya bergegas mengejar Soojung, sementara orang tua Kai mengerjap bingung, Kai tersenyum kepadaku—dan semenjak saat itu kami menjadi dekat!—lalu tiba-tiba seorang perempuan yang lebih tua berjalan ke arahku dan berusaha untuk meninjuku di hadapan semua orang."

"Tentu saja Ratu Sooyeon marah karena kau telah mempermalukan adiknya dihadapan banyak orang." Luhan mendesah.

Sehun mengedikkan bahunya cuek, "sayangnya ia gagal meninjuku, aku tidak mau menyakiti perempuan, namun jika perempuan itu menyebalkan maka aku tidak segan lagi untuk membalasnya. Jadi, yang ku lakukan adalah menerbangkan Sooyeon ke udara dengan kekuatan anginku, dan membiarkannya melayang-layang di atas sana, menjerit-jerit seperti maniak sampai kedua orang tuanya datang untuk menyelamatkannya." Sehun tertawa renyah, "perjodohan Kai dan Soojung akhirnya dibatalkan, aku dan Kai menjadi dekat dan kami akhirnya sering berlatih bersama dan ketika kami berumur 15 tahun, Kai memintaku untuk menjadi parabatainya, dan aku menerimanya. Sepertinya aku harus berterima kasih kepada Soojung untuk hal itu."

Luhan menatap Sehun dengan tidak percaya, "kau…" ia kehilangan kata-kata. "Benar-benar…"

"Keren, aku tahu." Sehun berhenti secara mendadak, dan tanpa sadar mereka sekarang sudah berdiri di depan pintu masuk gedung flat Luhan. "Ayo masuk."

Luhan membimbing jalan mereka untuk memasuki gedung flatnya. Rasanya sudah bertahun-tahun ia tidak kembali ke sini, semuanya masih terlihat sama seperti ketika terakhir kali ia memasuki gedung ini. Cat temboknya yang terkelupas, anak tangga yang dilapisi dengan karpet merah, bau asap tembakau dimana-mana, semua ini terasa seperti rumah.

"Sepertinya tempat ini sangat nyaman untuk di tinggali." Ujar Sehun sambil mengedarkan pandangannya.

Luhan mulai menaiki anak tangga yang warna merah karpetnya sudah mulai usang, Sehun dengan diam mengikutinya dari belakang,"you have no idea."

Mereka menaiki anak tangga satu persatu dengan pelan, suara-suara seperti dentuman musik, orang tertawa-tawa, hingga suara televisi yang dinyalakan keras-keras mewarnai perjalanan mereka menuju kamar Luhan. Sehun mengernyit ketika melewati satu kamar yang menyetel musik dengan volume maximum.

"Aku tidak mengerti mengapa kaum darah merah menyukai modernisasi." Komentar Sehun, "modernisasi menghapus budaya lama."

"Yah, kami kan tidak memiliki kekuatan super seperti kaum Exology untuk mempermudah pekerjaan kami." Luhan terdiam sebentar ketika menyadari bahwa ia salah bicara. "Maksudku, mereka."

Sehun menyeringai, "masih belum bisa melupakan identitas lama, hm?"

Luhan memutar matanya jengkel, "selama 24 tahun aku tumbuh sembari mempercayai fakta bahwa aku adalah kaum darah merah, sulit untuk melepaskannya begitu saja." Luhan berhenti di sebuah kamar dengan nomor 520, pintu cokelat tuanya terlihat lebih kusam daripada terakhir kali Luhan melihatnya, ia memasukkan kunci dan memutar knop pintu dan di suguhi dengan pemandangan ruangan yang familiar, kamarnya.

"Hmmm…" Tanpa seizin pemiliknya, Sehun berjalan mengitari flat Luhan dengan pandangan menilai. "Seperti dugaanku, benar-benar nyaman untuk di tinggali."

Luhan berjalan menuju dapur lalu mengambil sebuah gelas dan menuangkan air ke dalamnya, "kau Exology pertama yang bilang bahwa flatku ini nyaman untuk di tinggali." Ia meminum airnya.

"Benarkah? Jadi sebelum ini, pernah ada Exology yang mendatangi flatmu juga?" tanya Sehun.

Luhan mengangguk lalu menghitung dengan jarinya, "Jiho pernah mengunjungi flatku sekali dan ia berkata bahwa kamar ini terlalu kecil. Ahra, pemilik flat ini bahkan juga berkata bahwa kamar ini tidak layak untuk di tinggali. Lalu, Ilhoon pernah berkata—"

"Tunggu," Sehun menyela perkataan Luhan, "siapa katamu tadi? Ilhoon? Jung Ilhoon?"

Luhan mengangguk, "ya, Jung Ilhoon. Dia temanku."

Melihat ekspresi kaget Sehun, Luhan mulai bertanya-tanya apakah Sehun mengenal Ilhoon, atau Ilhoon pernah memiliki masalah dengan Sehun mengingat Ilhoon adalah seorang Exology yang sangat suka berkeliaran kesana-kemari mencari masalah. Namun, Luhan terlonjak ketika pergelangan tangannya di genggam oleh Sehun dan wajah lelaki itu hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya.

"Katakan kepadaku semua hal yang kau ketahui mengenai Ilhoon," dari jarak sedekat ini Luhan bisa merasakan hembusan nafas lelaki yang lebih muda darinya itu, membuat ia merinding sendiri.

"A-aku hanya tahu dia seorang Exology, tapi ia tidak memberitahuku apa kekuatannya dan asal-usul keluarganya. Aku pertama kali mengenalnya ketika Jiho memperkenalkannya kepadaku sebagai teman dekatnya. Hanya itu." Luhan menelan ludahnya dengan gugup melihat mata Sehun yang berkilat.

Sehun akhirnya menjauhkan dirinya dari Luhan, dan itu membuat Luhan menghela nafas lega diam-diam, "Jiho? Woo Jiho?" Tanya Sehun, Luhan mengangguk.

Sehun nampaknya berpikir sebentar sebelum mendorong Luhan keluar dari dapur, "ambil semua barang yang kau butuhkan, setelah ini kita akan pergi mendatangi Woo Jiho."

~oOo~

saya tau ini ngaret parah...