Tittle : I Know [Areo].
Rate : T.
Genre : Romance, Hurt/Comfort, Angst, Friendship.
Pair : KiJoon, XeJoon, P-Joon, HanJoo, P-Nissi.
Disclaimer : Stardom Entertainment.
Author : Skinner Jeon.
Warning : BL, DLDR, Yaoi, Bisa jadi Incest, Miss Typo(s), AU, OOC, Crack Pair, RnR.
Chapter 6 : Grimmest Willies.
Hojoon menggenggam erat lengan Hyosang ketika Sehyuk selesai berpamitan.
" Hyung, tolong jangan katakan pada orang lain jika aku punya Nyctalopia." Kata Hojoon sedikit kesal.
" Wae?."
" Aku tidak mau dibantu oleh orang-orang baru lagi. Cukup orang yang sekarang tau saja yang membantuku. Jangan katakan itu pada teman-teman baruku. Aku tidak ingin terlihat lemah." Kata Hojoon.
" Kami semua tidak mengasihanimu, kami benar-benar ingin membantu, Hojoon-ah…" kata Hyosang sambil masuk ke dalam rumah menuntun adiknya dengan hati-hati.
" Jika ingin membantu, biarlah aku melakukan semua sendirian." Kata Hojoon tegas. Hyosang hanya terdiam sambil mendudukkan Hojoon di kursi.
" Hojoon-ah… kenapa kau tidak menggunakan tongkatmu lagi saat kau mulai tidak bisa melihat tadi? Mwoyanikka? Kau bilang kau ingin berjalan sendiri dengan tongkat?." Kata Hyosang sambil mengobati lutut Hojoon yang luka bahkan luka yang kemarin masih belum sembuh benar.
" Aku tidak mau Sehyuk hyung tau." Jawab Hojoon.
" Lalu bagaimana kau bisa melihat?." Tanya Hyosang.
" Aku mendengarkan suara langkahnya, jika aku berusaha untuk tetap berjalan di sebelahnya, aku tidak butuh tongkat. Dan aku selalu mendengar suaramu memanggilku hyung. Kau selalu ada disana membuatku mengerti arah untuk pulang. Walaupun terkadang aku masih terjatuh, tapi aku ingin terus melihat." Kata Hojoon.
Hyosang tersenyum resah, dia senang menjadi orang yang menyambut dan menunggu Hojoon. Tetapi dia juga sedih, adiknya ingin sekali bisa terus melihat, tetapi kenapa takdir mengambil penglihatan adiknya sedikit demi sedikit, dan akhirnya Hojoon akan buta total.
Melihat adiknya berusaha untuk menikmati waktu yang sedikit itu, Hyosang benar-benar tidak sanggup. Dia tau Hojoon tidak sekuat yang terlihat, Hyosang tidak tau lagi harus melakukan apa untuk adiknya.
.
.
.
.
.
.
Seo ahjussi dengan perlahan membuka pintu kamar milik Jiho. Dilihatnya Jiho tidak ada disana. Dia baru saja mengecek ke basement, tapi Jiho juga tidak ada disana.
" Haish… kemana anak itu pergi?." Gerutunya.
Dia tau jika dia menelfon Jiho, pasti akan berakhir dengan ponsel Jiho tidak aktif. Sebenarnya Seo ahjussi sangat mengerti perasaan Jiho yang harus kembali ke Korea. Hanya saja dia tidak bisa berbuat banyak selain mengawasi Jiho dengan baik.
Seo ahjussi kembali ke keluar rumah yang memiliki taman yang lumayan luas itu, menunggu Jiho. Dilihatnya sudah pukul 2 malam, dia belum merasa letih untuk menunggu Jiho. 30 menit kemudian dia mendengar suara berisik dari arah pagar rumah. Dia melihat Jiho yang berusaha memanjat masuk melewati pagar.
Seo ahjussi tersenyum kecil lalu masuk ke rumah, dengan cepat dia pergi ke dapur dan mengambil beberapa kue hangat dan susu panas. Dia segera menaruhnya di kamar Jiho dengan rapi. Lalu dia segera pergi untuk istirahat.
Jiho baru saja berhasil melewati pagar, dan segera berjalan ke tangga yang ia taruh di luar jendela kamarnya agar dia bisa keluar masuk tanpa ketahuan.
" Haish… pagar rumah ini terlalu tinggi… kenapa ayah memilih pagar seperti itu?." Gerutu Jiho sambil memasuki jendelanya.
Dia tertegun melihat hidangan kecil di mejanya. " Dasar!." Gumamnya sambil menghela nafas panjang. Dia melepas kaosnya yang sudah sedikit kotor dan melemparnya sembarangan, sambil berjalan ke depan lemari dan mencari satu kaos untuk ia kenakan saat tidur. Lalu dia duduk di tempat tidur sambil memandang makanan di mejanya.
" Aku tidak mengharapkan dia terus memperlakukanku seperti ini…" gumamnya. Lalu dia segera mengambil cookies yang masih hangat itu dan segera meminum habis susunya. Dia menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur, dan perlahan matanya mulai merasa kantuk, dan diapun tertidur.
Keesokkan paginya kembali Jiho mendengar suara Seo ahjussi yang membangunkannya tanpa henti, membuatnya harus segera bangun agar menghentikan orang itu terus bicara. Jiho berencana untuk mengajak Hojoon pergi hari ini. Terakhir kali kunjungannya kemari dia belum melihat Dakgalbi.
Dia segera bersiap setelah selesai mandi dan segera mengenakan seragamnya dengan baik, dia melihat pantulan dirinya di depan cermin. Tampak sempurna. Detik berikutnya pintu kamarnya terbuka dengan sedikit kencang dan terlihat Seo ahjussi datang dengan sedikit terburu, seperti kebiasaannya di pagi hari yang menyiapkan segala sesuatunya. Ketika Seo ahjussi masuk dia terkejut dan terdiam melihat Jiho.
" Museuniriya?." Tanya Jiho agak ketus karena dia sedikit kaget karena kedatangan Seo ahjussi.
" A… aniya. Tumben kau sudah siap?." Tanya Seo ahjussi.
" Bukannya ahjussi sendiri yang membangunkanku tadi?." Gerutu Jiho.
" Tapi ini baru jam 6. Biasanya kau masih bermalas-malasan." Katanya.
Jiho terkejut dan langsung melihat ke arah jam dinding yang memang baru menunjukkan pukul 6 pagi. Dan sekolah dimulai pukul setengah 8. Dia tidak menyadari seberapa dia bersemangat ke sekolah untuk menemui Hojoon lagi.
" A… aku hari ini sangat malas mendengar ocehanmu yang membuat telingaku berdengung. Jadi aku ingin bersiap dan main-main dulu." Kilah Jiho cepat.
" Setidaknya ada kemajuan kau berteman dengan Hojoon." Sahut Seo ahjussi sambil berjalan keluar dari kamar Jiho.
" Ya! dasar ahjussi nggak jelas!." Cerca Jiho.
Kata-kata Seo ahjussi benar-benar membuatnya bertanya-tanya mengenai Hojoon. Jiho sendiri tidak memungkiri jika dia sangat senang jika bertemu Hojoon. Entah kenapa sekarang dia selalu ingin terus bertemu dengan Hojoon dan menghabiskan banyak waktu dengannya.
" Tidak mungkin jika aku menyukai Hojoon…" gumamnya bingung.
Setelah dia selesai bersiap, Jiho memutuskan untuk berangkat sekolah. Dia mengelus kepala Dakgalbi ketika dia hendak keluar dari rumah. " Tunggu aku pulang ne…" katanya sambil menggeletik punggung Dakgalbi.
" Mobilnya sudah siap, Jiho." Kata Seo ahjussi.
" Shireo! Aku tidak mau naik mobil!." Kata Jiho cepat.
" Heish… kau pasti akan main-main dan akan terlambat masuk sekolah! Cepat masuk ke mobil!." Kata Seo ahjussi.
" Shireo! Pokoknya kau tidak mau. Seperti anak kecil saja! Jangan buat malu aku di depan siswa di sekolah! Aku mau naik bus saja!." Kesal Jiho lalu segera berjalan ke luar rumah sebelum dia berdebat panjang dengan Seo ahjussi.
" Dasar anak itu…" gerutu Seo ahjussi. " Apa yang harus kulaporkan pada ayahnya jika kelakuannya masih saja tidak berubah…" lanjutnya sambil kembali masuk ke dalam rumah bersama Dakgalbi.
Diam-diam Jiho menoleh ke belakang memastikan tidak ada satupun bodyguard yang mengikutinya atuapun mobil yang akan menjemputnya dengan Seo ahjussi yang memaksanya untuk diantar dengan mobil.
" Sepertinya sudah aman…" gumam Jiho senang.
Jiho berbelok ke arah blok rumah Hojoon. Entah kenapa dentuman jantungnya benar-benar diluar batas normal, dan dia tidak bisa menghentikan senyuman yang terlukis di wajahnya sepanjang jalan. Wajah Hojoon teringat dengan sangat jelas di angan Jiho hingga dia tidak bisa memikirkan hal lain selain Hojoon.
Langkah kakinya mulai melamban ketika dia sudah hampir sampai. " Sial! Aku jadi seperti penguntit saja." Gerutunya.
" Tidak, tidak… aku harus terlihat cool! Jadi aku tidak perlu berangkat bersamanya, toh nanti di sekolah juga bertemu…" katanya bingung sambil berbalik dan berhenti setelah beberapa langkah.
" Aku sudah terlanjut kesini. Pura-pura lewat saja. Pura-pura tidak tau, dia pasti tidak mengira aku ingin berangkat bersamanya." Katanya sambil berjalan ke arah rumah Hojoon lagi.
" Tidak! Tidak! Ini masih terlalu pagi. Dia pasti masih sarapan atau masih bersiap-siap… aku pasti ketahuan kalau sedang menunggunya…" kata Jiho sambil berebalik arah.
" Sial! Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku benar-benar bertingkah menjijikkan seperti remaja yang jatuh cinta saja!." Kesalnya.
Tiba-tiba ada yang menepuk bahunya, dan itu membuat Jiho tersentak. " Ya!."
" Shin Jiho? Kenapa kau berada di jalan pagi-pagi?." Kata Byungjoo yang ternyata menepuknya. Dia bersama Hansol, sepertinya ingin menyusul Hojoon ke sekolah. Jiho dengan cepat memasang wajah tegasnya lagi, menutupi wajahnya yang tadi sudah terlihat ingin meletus itu.
" Kau tidak lihat aku mau berangkat sekolah?." Gerutu Jiho.
" Sekolah arah kesana." Kata Byungjoo sambil menunjuk jalan di belakangnya. " Kalau kesana ke rumah Hojoon." Lanjutnya sambil menunjuk arah depan.
" A… aku tadi lupa ada buku yang tertinggal, jadi aku hendak mengambilnya lagi ke rumah." Kilah Jiho.
" Kukira kau akan menjemput Hojoon berangkat sekolah." Sahut Hansol yang juga ikut memojokkannya tanpa sengaja. Jantungnya berasa dicubit setiap perkataan Byungjoo dan Hansol memang benar adanya.
" Iya. Kau mau menjemput Hojoon juga?." Tanya Byungjoo.
" Kau perhatian sekali ya pada Hojoon." Celetuk Hansol.
" Kau harus tahan dengan Hyosang hyung jika ke rumahnya." Sahut Byungjoo.
Celetukkan mereka benar-benar tidak memberi Jiho waktu untuk menjawab dan berkilah, sehingga Jiho bingung harus bicara apa.
" Tu… tunggu… aku tidak—"
" Sudahlah cepat. Hojoon pasti sudah menunggu." Kata Hansol sambil menarik Jiho.
Byungjoo terlihat tidak suka dengan Jiho yang sekarang jadi sangat dekat dengan Hojoon. " Hey! Jiho, jika kau melakukan sesuatu yang buruk pada Hojoon, aku akan menghajarmu!." Gerutu Byungjoo.
" Memangnya kenapa aku harus berbuat jahat padanya?." Sangkal Jiho.
" Pokoknya kalau kau macam-macam, kau tidak akan selamat." Sahut Byungjoo.
" Byungjoo benar. Kakak-kakak Hojoon sangat protektif, jika kau melukai Hojoon sedikit saja, kau bisa habis nanti." Tambah Hansol.
" Hey, hey… kalian ini terlihat mencurigaiku begitu. Memangnya aku terlihat seperti orang jahat?." Kesal Jiho.
" Memang iya." Jawab Byungjoo dan Hansol berbarengan.
" Heish… aku tidak akan menjahati Hojoon, jadi kalian tidak perlu khawatir." Gerutu Jiho.
Ketika mereka sampai di rumah Hojoon, Jiho benar-benar terlihat sangat kikuk, karena ini pertamakalinya dia masuk ke rumah Hojoon secara mendadak, jika tidak karena Byungjoo dan Hansol dia tidak akan terlihat seperti orang bodoh begini.
" Oh kau pasti teman baru Hojoon itu kan?." Sambut Taeyang dengan ramah.
Jiho mengangguk sopan. " Gaurae. Shin Jiho imnida." Kata Jiho.
" Masuklah. Hojoon sudah hampir siap." Kata Taeyang.
" Terimakasih hyung."
Tiba-tiba Hyosang datang. " Ya! neo! Apa yang kau lakukan disini eoh?!." Sambar Hyosang cepat pada Jiho.
" Hyosangie! Shikkeureo! Biarkan dia masuk!." Seru Taeyang.
" Tapi hyung—"
" Aku akan marah jika kau memperlakukan tamu seperti itu lagi. Kembalilah ke kamarmu dan bersiaplah kerja." Potong Taeyang cepat.
" Heish… Areo!." Kesal Hyosang. " Awas ya kalau kau membuat Hojoon terlambat pulang." Ancam Hyosang pada Jiho.
" Jin Hyosang!." Panggil Taeyang lagi mencoba menghentikan ke-over protectif-annya.
" Ck! Iya iya hyung! Aku ke atas sekarang!."
" Hyosang hyung benar-benar galak pada orang baru." Kata Byungjoo sambil tertawa.
" Kau harus sering terlihat olehnya agar tidak di ancam terus." Tambah Hansol.
" Heish… dia saja yang aneh. Bukan aku yang asing." Timpal Jiho.
Tak lama setelah itu Hojoon datang menghampiri mereka di ruang tamu. " Eo! Wasseo?. Aku sudah hampir siap." Katanya.
Senyum Jiho langsung terkembang ketika melihat wajah Hojoon. " Kau juga ada disini juga Jiho-ssi?." Tanya Hojoon.
" N… nde… tadi aku lewat untuk berangkat, tapi bertemu dengan Byungjoo dan Hansol, lalu mereka mengajakku menjemputmu juga." Kata Jiho. Dia tidak perlu memikirkan drama untuk beralasan karena ada Byungjoo dan Hansol.
" Oh jadi begitu. Kalian ada yang ingin sarapan dulu?." Tanya Hojoon.
" Tid—"
" Na!." seru Hansol dan Byungjoo bersamaan sambil mengangkat tangan mereka dengan cepat, membuat Jiho terkejut.
Hojoon tertawa kecil. " Deurowa. Kita sarapan bersama." Kata Hojoon.
Byungjoo dan Hansol dengan bersemangat menuju ruang makan, Jiho mengikuti dengan pelan sambil menahan senyumnya yang semakin melebar saja. Jiho merasa senang merasakan kehangatan suasana di rumah Hojon yang tak pernah ia rasakan dimanapun.
" Taeyang hyung, aku berangkat dulu." Kata Hyosang yang baru turun.
" Nde. Hati-hati di jalan." Sahut Taeyang.
Setelah Hyosang pergi, Jiho sedikit lebih lega karena tidak ada orang yang akan memarahinya atau mengusirnya.
" Taeyang hyung, kau terlihat sibuk sekali?." Tanya Hansol sambil sedikit melihat ke arah Taeyang yang sibuk tak jauh dari tempat mereka makan.
" Aku akan ke Busan lagi besok." Jawabnya.
" Wae? Ke Busan lagi?." Tanya Byungjoo.
" Nde. Halmeoni-ku sedang sakit, jadi aku ingin membantu ahjumma disana untuk beberapa hari."
" Sebenarnya aku ingin ikut kesana dengan Hyosang hyung juga." Kata Hojoon.
" Hojoon harus sekolah, dan Hyosang harus bekerja, jadi biar aku saja yang kesana. Lagipula saudara-saudara di Busan juga tau jika sekarang kita hanya tinggal bertiga di Seoul karena appa sedang tidak disini." Kata Taeyang.
" Benar juga ya… pasti bingung jika ada banyak saudara yang harus dikunjungi." Kata Hansol.
" Aku akan segera kembali kok. Aku juga tidak bisa membiarkan Hyosang berada disini hanya dengan Hojoon, bisa-bisa Hojoon tidak boleh kemana-mana." Kata Taeyang.
" Aku pasti bisa melawan Hyosang hyung." Kata Hojoon.
" Hyosang hyung benar-benar over protective. Aku masih ingat dulu ketika baru kenal dengan Hojoon, dia sangat-sangat menyebalkan." Keluh Byungjoo.
" Jadi kalian juga pernah kena dampak brother complex-nya?." Ejek Jiho.
" Nde. Tapi sekarang aku senang dia percaya padaku." Sahut Byungjoo.
" Jika kalian sudah sarapan cepatlah berangkat, nanti kalian terlambat." Kata Taeyang.
" Arasseo hyung. Aku sudah selesai kok." Sahut Hojoon.
" Baiklah ayo berangkat." Kata Jiho.
Taeyang mengantar mereka sampai ke depan rumah. Jiho melihat ada sedikit kekhawatiran di wajah Taeyang ketika melihat Hojoon pergi. Dia tidak tahu seperti apa keluarga Hojoon, meski dia merasa Taeyang jauh lebih baik dari pada Hyosang, tapi dia bisa melihat Taeyang juga masih sangat mengkhawatirkan Hojoon.
' Sebenarnya apa yang di khawatirkan kedua kakaknya dari Hojoon?.' Batin Jiho.
" Hojoon-ah, apa nanti kau akan menemui sunbaenim itu lagi?." Tanya Hansol.
" Molla. Aku ingin bertemu dengannya sebenarnya. Tapi kurasa dia sibuk latihan." Kata Hojoon.
" Benar juga. Memangnya kau tidak ingin melihatnya bertanding?." Tanya Byungjoo.
" Tentu saja aku ingin. Tapi aku tidak berani datang tiba-tiba begitu." Sahut Hojoon.
" Memangnya kau ingin bertemu siapa?." Tanya Jiho.
Hojoon tersenyum kecil. " Seseorang yang kusukai." Jawab Hojoon.
Seketika itu Jiho merasa sangat terkejut, dia tidak mengira Hojoon sudah memiliki orang yang ia sukai. Jiho mencoba melukis sebuah senyum kecil di bibirnya menanggapi hal itu.
" Nuguji?." Tanya Jiho.
" Dia dulu seniorku, sekarang dia satu universitas dengan Taeyang hyung. Dia pemain baseball." Jawab Hojoon.
" Jadi, kau sudah menyukainya sejak lama ya?." Tanya Jiho.
" Geurae."
" Kau harus ikut membantunya Jiho-ya. Kau kan sekarang teman Hojoon." Kata Byungjoo.
" Heish… dia tidak harus membantuku. Lagipula ini kan urusanku, aku tidak ingin merepotkan orang lain kok." Kata Hojoon.
" Tapi jika kau ingin bantuan, aku pasti akan membantumu." Kata Jiho.
" Gomapta. Tapi kurasa tidak untuk yang ini." Kata Hojoon sambil tersenyum.
' Heish… eottohke? Baru saja aku merasakan jatuh cinta, dan dia sudah mempunyai orang yang dia sukai…'
.
.
.
.
" Hey, kau marah padaku?." Tanya Taeyang ketika dia melihat Sehyuk terlihat murung ketika mereka makan di kantin kampus.
" Kau akan pergi ke Busan. Mana bisa aku senang." Gerutu Sehyuk.
" Heish… aku tidak pergi selamanya kan?." Kata Taeyang sambil tersenyum kecil.
" Aku benar-benar dalam mood yang buruk." Kata Sehyuk.
" Fokuslah berlatih. Besok kau sudah turnamen kan?."
" Coach bilang hari ini tidak ada latihan. Kemarin sudah latihan sampai malam, jadi hari ini hanya untuk istirahat saja." Kata Sehyuk.
" Bagaimana jika kau ajak Hojoon pergi hari ini?." Tanya Taeyang yang langsung membuat raut wajah Sehyuk makin kesal.
" Shireo! Aku benar-benar sedang tidak ingin bertemu dengannya. Aku sedang badmood. Bisa-bisa dia kujadikan pelampiasan." Tolak Sehyuk.
" Apa karena aku?." Tanya Taeyang.
" Nde. Neo ttaemune." Jawab Sehyuk.
" Mianhae. Aku benar-benar tidak bisa datang besok. Aku yakin kau bisa melakukan yang terbaik di pertandingan. Aku benar-benar tidak menghendaki ini. Aku tidak ingin kau menyakiti Hojoon karena aku." Kata Taeyang.
" Kau janji kan kita akan pergi berdua setelah kembali dari Busan?." Tanya Sehyuk.
" Iya aku janji. Aku sudah bilang berkali-kali padamu. Aku tidak akan bohong." Kata Taeyang.
Sehyuk menghela nafas panjang, meskipun begitu, dia tetap tidak ingin pergi dengan Hojoon. Dia tidak ingin bersama Hojoon, dia hanya ingin bersama Taeyang.
" Aku tau berat bagimu berpura-pura untuk menyukai Hojoon. Tapi—"
" Aku tau. Aku tau kau merasa bersalah karena ini, aku juga tau kau terpaksa melakukan ini untuk adikmu, aku tau kita punya perjanjian, aku tau aku harus menepati janjiku, aku juga tau aku harus meyakinkan Hyosang agar dia melepas Hojoon, dan aku juga tau kalau aku harus bisa melindungi Hojoon dan membahagiakannya." Potong Sehyuk. " Aku hanya ingin mengeluh sejenak. Tidak bermaksud apa-apa." Tambahnya.
Taeyang tersenyum kecil. " Aku tau seberapapun beratnya masalah yang menimpamu, kau selalu akan melakukan apa yang harus kau lakukan." Kata Taeyang.
" Mana bisa aku mengecewakan kepercayaanmu padaku itu." Gerutunya.
" Bagaimana jika nanti kau akan jatuh cinta pada Hojoon? Apa yang akan kau lakukan?." Tanya Taeyang.
" Molla. Aku tidak pernah berfikiran seperti itu, dan tidak terlalu ingin memikirkannya, yang pasti aku akan mengejarmu, Kim Taeyang." Jawab Sehyuk.
" Selalu begitu. Kemungkinan apapun bisa terjadi. Kau kan tidak akan tau kondisi dan perasaanmu di masa depan nanti akan seperti apa." Kata Taeyang.
" Itu urusan nanti jika hal itu benar-benar terjadi. Karena sekarang aku belum merasakannya, jadi aku tidak mau memikirkannya."
" Kau sangat-sangat keras kepala." Kata Taeyang sambil tersenyum.
" Seperti kau tidak saja…" gumam Sehyuk.
" Kau tidak perlu mengajak Hojoon untuk ke pertandingan. Ajak saja dia keluar sebentar sepulang dia sekolah nanti. Hojoon anak yang mudah disenangkan, itu sudah cukup untuknya." Kata Taeyang.
" Areo. Aku akan pergi dengannya nanti." Kata Sehyuk.
" Gumawo, Sehyukie." Kata Taeyang.
' Karena semua ini kulakukan untuk kebahagiaanmu saja, Taeyangie…'
.
.
.
" Hojoon-ah, ayo kita ke kantin." Ajak Byungjoo ketika bel istirahat berdering.
" Aku tidak lapar, kau saja dengan Hansol." Kata Hojoon.
" Waeyo?." Tanya Byungjoo bingung.
" Aku sedikit pusing saja. Mungkin migraine." Jawab Hojoon sambil memijat kepala bagian kanannya.
" Kau butuh ku ambilkan obat dari ruang kesehatan?." Tanya Byungjoo.
" Aniya. Ini Cuma pusing biasa kok. Aku sedang malas kemana-mana." Jawab Hojoon.
" Baiklah, kutinggal dulu ya." kata Byungjoo.
Setelah Byungjoo dan Hansol keluar dari kelas, Jiho menghampirinya. " Kau tidak ikut mereka?." Tanya Jiho.
" Aniya. Aku sedang malas."
" Apa kau bisa temani aku keluar sebentar?." Tanya Jiho.
" Jiho-ya, aku sedikit pusing, bagaimana jika istirahat kedua saja?."
" Nde. Jika kau butuh bantuan bilang saja padaku." Kata Jiho yang tidak ingin memaksa melihat wajah Hojoon yang memang terlihat sedang tidak bersemangat.
Hojoon membuka buku catatannya, mengalihkan rasa sakitnya dengan mengerjakan beberapa soal dari mata pelajaran yang dia sukai. " Ya ampun… mataku yang sebelah kanan nyeri sekali… semoga tidak ada yang perlu dikhawatirkan…" gumamnya resah.
Ketika pelajaran di mulai lagi, Hojoon benar-benar tidak bisa fokus, nyeri di kepala bagian kanannya benar-benar membuatnya sangat kesal.
" Jeon Hojoon, apa kau baik-baik saja? Jika mengantuk kau bisa mencuci muka dulu." Tegur seonsaengnim.
" Seonsaeng, boleh aku minta ijin ke ruang kesehatan saja?." Tanya Hojoon.
" Baiklah. Jika sudah lebih baik kembalilah. Kau sangat pucat." Kata seonsaengnim.
" Terimakasih."
Byungjoo dan Hansol terlihat khawatir pada Hojoon, begitu juga Jiho. " Hojoon kenapa?." Gumam Hansol.
" Nanti kita tanyakan, tapi jangan terlihat begitu mengkhawatirkannya. Kau tau kan, Hojoon malah akan kesal kalau banyak orang yang mengkhawatirkannya." Kata Byungjoo.
" Tapi jika sesuatu terjadi padanya?."
" Hojoon pasti tau apa yang harus dia lakukan. Sudahlah, biar nanti saja kita tanyakan padanya." Kata Byungjoo.
Setelah 4 jam pelajaran selesai, Byungjoo dan Hansol segera pergi ke ruang kesehatan. Mereka melihat Hojoon sedang tidur di salah satu tempat tidur. " Hojoon-ah?." Panggil Hansol pelan.
" Hey Jeon Hojoon?." Panggil Byungjoo sambil mengguncang bahu Hojoon pelan.
" Apa dia benar-benar sangat mengantuk sampai tidak bangun-bangun?." Gumam Hansol.
" Tapi dia terlihat lebih baik dari sebelumnya ketika di kelas tadi." Kata Byungjoo.
" Mungkin dia memang benar-benar mengantuk." Sahut Hansol.
" Apa kita biarkan saja sampai dia bangun sendiri?." Tanya Byungjoo.
" Tapi, aku tidak mau meninggalkannya sendirian disini." Kata Hansol.
" Hojoon pasti baik-baik saja. Nanti setelah dia bangun, kita baru Tanya kondisinya. Jika dia memang sakit, kita harus segera memulangkannya." Kata Byungjoo.
Tiba-tiba seseorang datang ke ruang kesehatan. " Jiho?." Tanya Byungjoo bingung.
" Mwohae?." Tanya Hansol.
" Aku ingin tau apa Hojoon baik-baik saja atau tidak." Kata Jiho.
" Dia sedang tidur dengan sangat pulas." Sahut Byungjoo.
" Apa dia tidur? Tidak sedang sakit kan?." Tanya Jiho memastikan.
Byungjoo menyentuh dahi Hojoon dengan pelan. " Ani. Dia tidak demam ataupun sedang panas. Dia baik-baik saja, mungkin dia sedang lelah saja." Kata Byungjoo.
" Syukurlah kalau begitu."
" Biarkan saja dia tidur, jangan dibangunkan. Nanti kita akan jemput setelah pulang sekolah." Kata Byungjoo.
" Aku akan disini sampai pulang sekolah. Aku ingin bolos." Kata Jiho.
" Bolos? Tapi jika seonsaengnim tau?."
" Tidak akan. Sudah kalian pergi saja sana."
" Awas ya jika sesuatu terjadi pada Hojoon." Ancam Byungjoo.
" Hey, aku tidak akan berbuat apapun, kau jadi seperti Hyosang saja." Gerutu Jiho.
" Baiklah. Kami pergi dulu."
.
.
.
Menjelang jam pelajaran terakhir, Hojoon terbangun dan dia melihat Jiho ada disana sedang mendengarkan musik dengan headphone-nya.
" Ya ampun, aku ketiduran." Kata Hojoon.
Jiho segera melepas headphone-nya, dan terdengar samar-samar lagu yang diputar dengan volume keras itu.
" Kau sudah bangun?."
" Nde. Ini jam berapa? Aku tidur terlalu lama." Katanya.
" Sudah hampir pulang sekolah. Apa kau sudah lebih baik?." Tanya Jiho lagi.
" Nde. Aku sudah jauh lebih baik dari sebelumnya."
" Kau kenapa tadi?."
" Hanya migraine. Aku tidak tahan, jadi aku memutuskan untuk istirahat disini saja."
" Tunggu saja sampai bel pulang, nanti Byungjoo dan Hansol akan datang membawa barang-barangmu."
" Kau sendiri apa yang kau lakukan disini?." Tanya Hojoon bingung.
" Aku bolos. Aku sedang malas sekali hari ini." Jawab Jiho.
" Kau tidak boleh melakukannya lain kali." Kata Hojoon pelan.
Hojoon merasa sedikit lega karena nyeri di mata dan kepalanya sudah menghilang. Dia tidak perlu mengatakannya pada Taeyang.
" Ngomong-ngomong tentang sunbaenim yang kau sukai itu, siapa namanya?." Tanya Jiho.
" Namanya—"
" Hojoon-aaaahh!." Seru Byungjoo dan Hansol tiba-tiba ketika mereka masuk ke ruang kesehatan dengan buru-buru.
" Heish… jangan teriak-teriak disini." Kata Hojoon.
" Apa kau sudah baikan? Apa kau masih sakit? Apa Jiho melakukan sesuatu padamu?." Tanya Byungjoo.
" Heish… kau sendiri yang bilang untuk tidak terlalu khawatir…" gumam Hansol malas.
" Nde, aku sudah baik-baik saja, kalian tidak perlu sekhawatir itu. Aku juga baru saja bangun kok." Kata Hojoon.
" Syukurlah tidak ada yang terjadi padamu." Kata Hansol.
" Kalau begitu, ayo kita pulang." Kata Byungjoo sambil memberikan tas Hojoon.
Jiho terlihat memandang kesal ke arah Byungjoo dan Hansol yang mengganggu percakapannya dengan Hojoon.
" Bagaimana jika kita mampir untuk makan ramyun di dekat kompleks rumah?." Tanya Byungjoo.
" Ramyun! Aku mau!." Seru Hansol bersemangat.
" Boleh saja. Aku juga sangat lapar hari ini." Sahut Hojoon.
" Ayo Jiho-ya. Kau mau ikut tidak?." Tanya Hansol.
" Nde. Terserah kalian saja." Sahut Jiho sambil berjalan mengikuti mereka.
" Mungkin kita bisa ajak Taeyang hyung sebelum dia pergi ke Busan besok." Kata Byungjoo.
" Kurasa dia masih ada di kampus sekarang." Kata Hojoon.
" Benar juga sih. Sebenarnya aku lebih suka makan ramyun bareng Taeyang hyung, karena dia yang selalu traktir." Kata Byungjoo.
" Heish… kau ini." Gerutu Hansol.
Ketika mereka sampai di depan gerbang sekolah, Byungjoo terkejut melihat Sehyuk ada disana menunggu Hojoon.
" Ho… Hojoon-ah! Lihat! Itu Sehyuk sunbae!." Seru Byungjoo sambil menunjuk tempat Sehyuk berdiri.
Hojoon terlihat terkejut melihat Sehyuk ada disana. " Kenapa dia ada disitu?." Tanya Hojoon.
" Dia pasti ingin menemuimu!." Kata Hansol senang.
Jiho yang mendengar percakapan itu akhirnya ikut ingin tau siapa yang ditunjuk oleh Byungjoo, dan dia amat terkejut melihat Sehyuk ada disana. Entah kenapa amarahnya kembali terasa.
" Palli! Hampiri dia." Kata Byungjoo sambil mendorong Hojoon.
" Kalian kenal dengannya?." Tanya Jiho pada Byungjoo dan Hansol.
" Tentu saja. Dia adalah orang yang disukai oleh Hojoon. Aku senang mereka sudah mulai dekat sekarang." Jawab Byungjoo.
" Benar. Sudah lama Hojoon menyukainya." Kata Hansol.
Saat itu rasanya Jiho benar-benar tidak rela jika Hojoon harus bersama Sehyuk, orang yang paling ia benci di dunia ini. Meski dia tidak bisa mendapatkan Hojoon, dia tidak ingin melihat Hojoon harus bersama Sehyuk. Siapapun saja boleh memiliki Hojoon tapi tidak untuk Sehyuk.
" Apa kau yakin orang itu akan menyukai Hojoon? Apa kalian yakin dia akan bisa melindungi Hojoon?." Tanya Jiho tidak suka.
" Tentu dia akan melakukannya. Untuk apa dia mendekati Hojoon jika dia tidak menyukainya? Selama ini Sehyuk sunbae sudah memperhatikan Hojoon dengan baik kok." Sahut Hansol.
" Kenapa kau terlihat tidak suka dengannya?." Gumam Byungjoo.
" Tidak! Aku tidak bisa membiarkannya!." Geram Jiho.
Byungjoo dan Hansol terlihat bingung dengan sikap Jiho yang tiba-tiba menjadi aneh. Jiho semakin kesal ketika melihat Sehyuk yang memperlakukan Hojoon layaknya kekasihnya.
" Jiho-ya… kau kenapa?." Tanya Byungjoo pelan. Tiba-tiba Jiho berjalan menuju ke tempat Sehyuk dan Hojoon. Membuat Byungjoo dan Hansol khawatir.
" Ya!." seru Jiho sambil menarik lengan Hojoon menjauhi Sehyuk. Sedangkan Hojoon sendiri tampak terkejut melihat Jiho yang tiba-tiba menariknya. Begitupula Sehyuk yang tidak mengira akan bertemu dengan Jiho disana.
" Ji… Jiho-ya… apa yang kau lakukan?." Tanya Hojoon bingung.
.
.
.
.
.:: To Be Continued ::.
.
.
.
.
