Cantarella
By: Kei Tsukiyomi
.
.
.
Author's Note: Terinspirasi dari film The Little Mermaid karya Hans Christian Andersen dan ff di fandom Naruto yang udah lama banget saya baca dan sekarang udah pasti lupa judulnya.
Silahkan mendengarkan lagu easy listening favorite kalian untuk menemani membaca ff ini. :3
Cantarella artinya "Obsesi terhadap cinta"
Warning: AU, OOC, GS Hyuk! Merman Donghae! Typos, dll DLDR!
Pair: Haehyuk
Disclaimer: You Know Yunho(?) lah :v
.
.
.
.
All I ask is if
This is my last night with you
Hold me like I'm more than just a friend
Give me a memory I can use
Take me by the hand while we do
What lovers do
It matters how this end
Cause what if I never love again?
(Adelle- all I ask)
.
.
Ditinggalkan dan meninggalkan mana yang lebih menyakitkan?
Yang manapun akan meninggalkan rasa sakit yang sama.
Jadi apa yang akan kau pilih?
.
.
Iris hitam itu menatap nyalang setiap sudut yang terlihat. Mempertajam penglihatan ke segala arah. Woobin berenang ke cela-cela tempat yang terjangkau. Tidak ada. Hyukjae tidak ada. Sekelilingnya hanya ada ikan-ikan kecil dan juga terumbu karang serta anemone yang menari-nari. Woobin tidak percaya, Hyukjae baru saja jatuh, dan saat Woobin mencarinya Hyukjae sudah lenyap. Ini mustahil! Apa yang menabrak Hyukjae tadi adalah ikan besar dan membawa Hyukjae pergi? Tidak! Tidak bisa! Woobin harus segera mencarinya. Woobin tidak mau terjadi hal tak diinginkan pada Hyukjae. Lelaki dengan rambut hitam itu kembali ke daratan. Dia tidak bisa mencari sendirian, dia harus meminta bantuan.
Tunggu aku, Hyukjae.
.
.
.
Seluruh badannya terasa dingin. Seperti terendam dalam air. Tapi dalam dinginnya ada sebentuk kehangatan yang melingkupi. Seperti dipeluk hangat. Dengan perlahan kelopak mata dengan satu lipatan itu terbuka. Hyukjae mengerang rendah karena kepalanya terasa sedikit sakit.
"Hyukie…" panggilan itu terdengar begitu lembut, Hyukjae menoleh mendapati Donghae tengah menatapnya dengan pandangan tak biasa. Rengkuhan di tubuhnya mengerat seiring Donghae mempersempit jarak yang ada. Mencium seluruh permukaan wajah Hyukjae.
"Hae?" Hyukjae masih belum mengerti kenapa dia bisa berada dengan Donghae. Dia berusaha mengingat kejadian sebelumnya. Bukankah dia bersama Woobin? Dan lelaki itu membuat emosinya menggelegak keluar karena ambisi egoisnya. Hyukjae tersentak, bangun dari posisinya yang tengah berbaring. Menatap Donghae yang juga menatapnya.
"Hae… ini di mana?" tanyanya dengan suara ragu setengah penasaran. Iris hitamnya mengedar memperhatikan sekitar. Seperti tidak asing. Pilar bermotif relief duyung itu… Jangan bilang…
"Kau berada di Kerajaanku." Ucapan Donghae yang terkesan datar itu sukses membuat Hyukjae terbelalak. Jadi Hyukjae sekarang berada di dalam laut?! Tanpa sadar tubuhnya beringsut mundur dan pergerakan itu membuat Donghae mengernyit tak suka.
"Hyukjae…"
"Kenapa kau membawaku ke sini, Hae?" Donghae tidak langsung menjawab, duyung itu memaku oniksnya. Mengulurkan tangannya meraih gadisnya ke dalam rengkuhannya yang posesif. Tak membiarkannya lepas. Hyukjae tampak bingung dengan reaksi Donghae tapi tidak bicara apa-apa, membiarkan tubuhnya dilingkupi kehangatan pelukan Donghae.
"Jangan pergi, Hyukie. Jangan tinggalkan aku, kumohon."
"Hae, apa-"
"Aku mendengarnya, saat laki-laki itu mengatakan kau akan pergi besok." Rengkuhannya mengerat, Donghae benar-benar tak berniat melepaskan Hyukjae. Gadis itu melebarkan bola mata dengan debar jantung yang berdebar resah. Donghae sudah mendengarnya, dan yang membuatnya resah adalah kenyataan Donghae mengetahui semua itu dari oranglain, bukan dari dirinya sendiri. Sekarang apa yang harus dia katakan?
"Hae… kalau kau membawaku ke sini teman-temanku akan mencariku. Apa Woobin melihat wujudmu?"
"Jangan sebut nama lelaki lain di depanku, Hyukjae!" Hyukjae diam, mengelus punggung telanjang Donghae. Dia mengerti Donghae tidak menyukai Woobin, begitupun dengan dirinya.
"Donghae dengarkan aku, membawaku ke Kerajaanmu sangat beresiko, para manusia pasti akan membahayakan kalian. Biarkan aku kembali, Hae."
"Tidak!" hyukjae menghela nafas. Mau tak mau dia harus menjelaskan semuanya pada Donghae dan memberinya pengertian.
"Hae, aku… aku ke pulau ini dalam rangka liburan dari pekerjaanku yang sungguh membuat penat. Atasanku memberi kami libur 3 hari, dan hari ini adalah hari terakhir. Aku dan teman-temanku harus kembali besok." Donghae menggeram rendah di telinganya tanda penolakan apa yang diucapkan Hyukjae. Gadis itu mengambil nafas panjang sebelum lanjut berbicara.
"Kumohon ijinkan aku pergi, Hae. Liburanku sudah selesai. Orangtuaku juga pasti merindukanku.
"Tidak!" sekarang atau tidak. Hyukjae kembali mengambil nafas dalam.
"Beri aku waktu untuk memikirkan semuanya. Kau dan aku… berbeda, Hae." Kalimat yang dikumandangkan dengan lirih itu menohok hati Donghae. Menusuk langsung ke inti hidupnya. Onyx di depannya berkaca-kaca, siap menumpahkan Kristal bening. Sejujurnya Hyukjae tidak mau mengeluarkan kalimat menyakitkan hati seperti tadi, hanya saja keadaan yang memaksa. Mereka harus mengambil keputusan tegas. Dia tidak bisa menggantungkan perasaan Donghae tanpa kepastian. Itu akan melukai Donghae, juga dirinya. Apapun yang dilakukan tidak akan bisa mempersatukan dua dunia yang berbeda. Akan ada yang meninggalkan dan ditinggalkan. Yang manapun terasa menyakitkan. Jemari lentik Hyukjae terulur menyentuh wajah Donghae dan mengelusnya lembut. Donghae memejamkan matanya, meresapi kehangatan yang diterima. Menggenggam tangan Hyukjae dan menciuminya. Dia tahu ini akan terjadi. Selama ini Donghae selalu berusaha mengabaikan kenyataan yang terpampang di depan mata. Asal Hyukjae tetap bersamanya maka semua akan baik-baik saja. Tapi ternyata tidak bisa. Hyukjaenya ingin berpisah darinya. Hyukjaenya ingin pergi darinya. Apa yang bisa Donghae lakukan jika itu semua permintaan dari sang terkasih?
"Hae, aku hanya meminta waktu. Jika aku sudah mendapat keputusan, aku akan kembali menemuimu. Percaya padaku." Hyukjae juga tidak mau mengambil resiko bangsa duyung diketahui oleh para manusia. Kalau Donghae terus bersamanya hanya menunggu waktu hingga celah itu terbuka. Suatu saat pasti ada yang menyadarinya. Hyukjae tidak mau itu terjadi. Hyukjae tidak mau Donghae terluka hanya karenanya. Hyukjae harus segera pergi dan membuat keputusan.
Donghae menggeram rendah, tanpa basa-basi mencium Hyukjae dengan menggebu-gebu. Memeluk Hyukjae dengan erat hingga tubuh mereka menempel. Donghae meraup bibir mungil itu. Mendorong tubuh ramping Hyukjae hingga terbaring di ranjangnya. Gadis itu hanya mampu mengerang dengan ciuman Donghae yang begitu menuntut. Menghisap bibir bawah dan atas secara bergantian. Dan saat Donghae menjilat bibirnya meminta ijin masuk, Hyukjae mengijinkannya.
"Berjanjilah kau akan kembali padaku, Hyukjae. Berjanjilah kau akan kembali." Hazel dan onyx bertemu. Merefleksikan kesakitan yang sama. Hyukjae mengangguk pelan.
"Aku pasti kembali untuk memberi jawabanku." Dan setelahnya Donghae kembali mencium Hyukjaenya.
.
.
.
"Ini sudah malam, Hyukjae belum ditemukan. Kau yakin Hyukjae tidak sedang bersama kekasihnya?" Sungmin bertanya skeptis pada Woobin di sampingnya yang berwajah gusar. Siwon dan Chansung juga menanyakan hal yang sama. Tadi siang Woobin dengan beringas memberitahu mereka jika Hyukjae terjatuh ke laut dan menghilang, membuat semua menjadi panik dan mulai mencari Hyukjae hingga larut malam seperti ini. Tapi mereka tidak menemukan apa-apa. Tidak ada saksi mata lainnya. Jadi mereka mulai ragu akan kebenaran apa yang Woobin bicarakan.
"Aku bersumpah, Sungmin! Aku melihatnya sendiri."
"Tapi sedaritadi kita berputar-putar tidak ada Hyukjae. Mungkin saja kan Hyukjae sedang bersama kekasihnya."
"Hentikan mengatakan kalau laki-laki asing itu kekasih Hyukjae. Dia bukan siapa-siapa!"
"Kau yang bukan siapa-siapa, Woobin! Hentikan kegilaanmu itu! Hyukjae tidak mencintaimu, dia bukan milikmu! Bisakah kau hentikan semua kelakuanmu? Semua itu tidak hanya membuat Hyukjae muak, tapi juga yang melihatnya. Ayo pergi, Siwon, Chansung. Kita hanya membuang-buang waktu untuk meladeni orang tak tahu diri itu." Sungmin sudah habis kesabaran. Bagaimanapun dia melihat sendiri bagaimana mengganggunya Woobin. Kasihan Hyukjae harus terus menerus meladeni sikap kekanakkan dan egois Woobin. Sungmin menghentakkan kaki terlalu keras tanda bahwa dia begitu kesal. Siwon dan Chansung sepaham dengan Sungmin. Walau mereka juga menyukai Hyukjae tapi bukan berarti melakukan segala cara untuk mendapatkan gadis itu dan mengorbankan kebahagiaan sang gadis. Itu egois. Siwon dan Chansung tidak mengelak jika mereka juga merasa sakit saat mengetahui Hyukjae mencintai lelaki lain, tapi melihat gadis itu tersenyum bahagia sudah membuat mereka tersenyum tulus. Asalkan Hyukjae bahagia, mereka juga ikut bahagia.
"Tunggu, kita harus mencari Hyukjae!" teriakan Woobin hanya dianggap angin lalu oleh tiga temannya. Woobin mengerang frustasi dan mengacak-acak rambutnya. Dia harus menemukan Hyukjae! Lelaki itu melangkah berlawanan arah dari Sungmin. Kembali mencari Hyukjae.
.
.
.
Hyukjae mengelus-elus kepala Donghae yang tidur di pelukannya. Setelah puas mencumbunya dengan ciuman yang begitu menuntut, Donghae memenjarakannya dalam pelukannya. Tidur dengan gadisnya di sisinya. Hyukjae memperkirakan sekarang mungkin sudah sangat larut. Sejujurnya dia mengkhawatirkan teman-temannya, mungkin saja mereka sekarang sedang mencarinya. Tapi Hyukjae tidak bisa pergi, tidak saat Donghae masih tertidur dan belum mau melepaskannya. Lagipula Hyukjae juga masih ingin berada dalam pelukan Donghae. Hyukjae butuh untuk merasakan kehangatan Donghae sebelum berpisah nanti.
"Aku mencintaimu, Hae," bisiknya di telinga Donghae kemudian menutup matanya. Memutuskan tidur di pelukan kekasih hatinya.
.
.
.
Hari masih begitu pagi. Matahari bahkan belum menampakkan wujudnya.
Di sinilah Hyukjae, di ruangan Kerajaan, di hadapan ibu Donghae yang menatapnya sedih. Dia sudah mengetahui semuanya.
"Aku pasti akan merindukanmu, Hyukjae sayang." Ibu Donghae memeluknya erat. Bagaikan seorang ibu yang akan berpisah dari anaknya, pelukan itu terasa hangat dan menyakitkan secara bersamaan. Iris hitam Hyukjae berkaca-kaca. Membalas pelukannya tak kalah erat.
"Maafkan aku," bisiknya lirih.
"Kau tidak salah, sayang. Kau pasti memikirkan semuanya dengan matang. Pakai terus kalung mutiara itu. Kalau kau merindukan kami, kau bisa datang kembali ke sini." Yang bisa Hyukjae lakukan hanyalah mengangguk pelan. Tak tahu harus berbicara apa. Ibu Donghae melepas pelukannya, mengusap airmata Hyukjae yang mengalir.
"Kau tahu? Airmata itu sangat berharga bagi duyung. Jangan menangis, sayang." Donghae menggenggam tangannya, mengusap airmatanya dan mencium kedua matanya yang tertutup.
"Jangan menangis, Hyukie."
"Ya."
"Donghae antarkan Hyukjae pulang, kau sudah membawanya dari kemarin, teman-temannya pasti khawatir." Dengan berat hati Donghae meyanggupi. Menarik tangan Hyukjae dan membawanya pergi setelah mengucapkan perpisahan pada ibunya.
.
.
.
Hari masih sangat pagi, Woobin terus mencari Hyukjae tak kenal lelah sendirian. Semua tempat telah ia datangi, bahkan dia terus menyelam mencari keberadaan gadis itu tapi hasilnya nihil. Hyukjae seperti lenyap. Tak ada di manapun. Semua itu mulai membuatnya frustasi. Lelaki itu duduk di bawah pohon mengistirahatkan tubuhnya yang lelah sekaligus menjernihkan pikirannya yang kalut. Kira-kira di mana Hyukjae? Woobin terus berpikir hingga satu tempat terlintas di benaknya. Ah mungkin saja. Hanya tempat itu yang belum dicarinya. Di batu karang tempat Hyukjae bersama lelaki asing itu dulu. Dia beranjak dan segera pergi menuju batu karang. Semoga saja dia bisa mendapat petunjuk di sana.
.
Batu karang itu sudah terlihat, Woobin mempercepat langkahnya ingin segera sampai. Tapi langkahnya terhenti saat samar-samar melihat sesuatu di sana. Woobin diam seraya menajamkan penglihatannya kemudian membelalakan matanya. Tidak salah kakinya melangkah ke tempat ini. Ke batu karang yang biasa disinggahi Hyukjae dan laki-laki itu, Woobin menolak menyebutnya sebagai kekasih Hyukjae. Di sana, di atas batu karang itu tampak Hyukjae yang terduduk dengan tubuh yang basah kuyup. Tampak sekali dia baru saja naik. Dia mengambil nafas lega. Hyukjaenya baik-baik saja, syukurlah. Baru saja Woobin ingin berlari mendekatinya tapi langkahnya terhenti begitu mendapati objek lain bersama gadis manis itu. Seorang lelaki yang sebagian tubuhnya masih terendam di laut. Mengelus wajah Hyukjae dengan penuh perhatian. Tangan Woobin terkepal begitu mengenali siapa itu. Lagi-lagi lelaki itu! Apa dia yang menyelamatkan Hyukjae? Tidak bisa dibiarkan! Woobin ingin melanjutkan langkahnya tapi kembali terhenti saat pemandangan tak biasa tertangkap indra penglihatannya. Iris hitamnya membulat sempurna. Mulutnya sedikit terbuka karena begitu terkejut. Laki-laki berstatus kekasih Hyukjae itu naik ke permukaan dan yang membuat Woobin terbelalak adalah lelaki itu… mempunyai ekor ikan! Woobin mengusap matanya berulangkali memastikan bahwa dia tidak sedang berhalusinasi. Tapi tidak. Lelaki itu nyata mempunyai ekor ikan. Ya Tuhan, apa makhluk mitos bernama duyung itu benar-benar ada? Woobin merogoh kantung celananya untuk mengambil foto luar biasa itu tapi dia mengerang kesal karena ingat dia tidak membawa ponsel. Woobin bersembunyi di belakang batu karang yang lain agar tak terlihat oleh Hyukjae dan laki-laki itu. Memperhatikkan dengan seksama. Woobin kembali dibuat terperangah saat ekor itu dikibaskan dan muncul sepasang kaki manusia. Lelaki itu memeluk Hyukjae dan menciumi wajah dan bibirnya. Woobin berusaha kuat agar tak berlari dan memukul lelaki itu karena berani menyentuh Hyukjae. Dan yang membuat hatinya panas adalah kenyataan bahwa Hyukjae menerima semua sentuhan itu. Woobin menyeringai berbahaya. Sebuah rencana sudah tersusun di otaknya.
Well Hyukjae kupastikan kau akan berpisah dengan monster itu!
.
.
.
Langit di senja hari sangatlah cantik. Burung-burung nampak mengepak-ngepakkan sayapnya dan berkicau bersahut-sahutan. Seharusnya dia menikmati pemandangan indah itu, tapi tidak. Hyukjae terlihat muram. Tidak seperti biasanya. Hingga membuat teman-temannya khawatir. Sungmin menyentuh bahunya.
"Hyukie kau tidak apa-apa?" Hyukjae tidak menjawab, hanya terus tertunduk. Sungmin menatap Siwon dan Chansung tapi mereka tidak tau harus berbuat apa? Hyukjae terus seperti itu saat kembali ke vila pagi hari. Tidak mengatakan apa-apa saat teman-temannya bertanya ke mana dia pergi seharian kemarin. Dia hanya bergumam "Donghae" secara terus menerus. Benar dugaan Sungmin, Hyukjae pasti bersama kekasihnya. Melihat Hyukjae yang begitu murung Sungmin berpikir mungkin mereka bertengkar atau terjadi hal yang tidak menyenangkan lainnya.
"Apa kau sakit? Kalau begitu ayo naik ke kapal, istirahat." Tidak ada jawaban semakin membuat Sungmin cemas.
"Apa… kau bertengkar dengan kekasihmu? Di mana dia? Dia tidak mengantarmu?" mendengar itu mata Hyukjae berkaca-kaca.
"Donghae…"
"Apa?"
"Donghae…" dan isakan itu terdengar. Sungmin yang tidak tega langsung merengkuh tubuh sahabatnya. Mengelus punggungnya. Hyukjae pasti sedih berpisah dengan kekasihnya. Tapi yang membuat Sungmin bingung adalah kenapa Hyukjae terlihat begitu sedih seakan mereka akan berpisah selamanya. Bukankah kekasih Hyukjae bisa menyusul mereka ke Seoul? Sungmin menggelengkan kepalanya, sekarang dia harus menghibur Hyukjae. Kapal pesiar yang akan membawa mereka pulang sudah terpampang di depan mata. Sebenarnya sudah sejak pagi kapal itu datang. Membuat Sungmin, Siwon, dan Chansung terheran karena setahu mereka jadwal kepulangan mereka itu sore hari. Tapi melihat seringai Woobin mereka paham. Pasti lelaki gila itu yang menyusunnya. Kondisi Hyukjae yang lemah dan terus murung membuat Sungmin mengambil keputusan bahwa keberangkatan mereka tetap pada jadwal semula, yaitu sore hari. Dan di sinilah mereka. Berdiri di depan kapal karena waktu menunjukkan pukul 17.15 KST. Waktu mereka pulang.
"Ayo Hyukie, istirahat di dalam saja." Hyukjae menurut walau langkahnya terasa berat. Berulangkali ia menoleh ke batu karang tempatnya dan Donghae bertemu. Berharap Donghae akan muncul. Tapi harapan tinggal harapan. Setelah mengantarnya pulang tadi pagi dan menciumnya, berbisik bahwa dia akan terus menunggu kedatangan Hyukjae, Donghae langsung pergi. Tak terlihat lagi.
Donghae, aku merindukanmu…
.
.
Hyukjae mencengkram besi penyangga di dek kapal. Iris hitamnya menerawang melihat lautan. Kapal pesiar yang dinaikinya sudah mulai bergerak perlahan. Memisahkannya dengan daratan. Memisahkanya dari Donghae. Dia menutup mata. Semilir angin menyapu tubuhnya, membelai wajahnya, membuat helai rambutnya bergoyang.
"Donghae maafkan aku," lirihnya yang bisa didengar olehnya sendiri. Meresapi rasa sakit yang menjalar. Setelah sampai nanti dia harus segera membuat keputusan.
Begitu membuka mata, Hyukjae terdiam melihat siluet ekor berwarna biru yang nampak ke permukaan.
"Donghae," panggilnya pelan. Hyukjae berlari ke dek belakang hanya untuk memperjelas penglihatannya. Benar, itu Donghae. Donghaenya berenang menyusulnya. Mengantarnya pergi. Untungnya dek belakang ini begitu sepi, jadi tidak ada yang memperhatikannya. Beberapa kali mata mereka bertemu hanya untuk menambah kesakitan mereka. Kecepatan knot kapal bertambah, semakin memperluas jarak mereka. Hyukjae mengulurkan tangannya dan melambai pada Donghae. Ada senyum pahit yang tersemat dari wajah cantiknya.
"Saranghae, Donghae."
Aku menunggumu, Hyukjae. Gadis itu mengangguk pelan mendengar bisikan Donghae di telinganya. Ya, Hyukjae pasti kembali setelah membuat keputusan.
Woobin memperhatikan dari jauh. Dia tahu Hyukjae pasti melihat monster itu. Dia mendengus untuk kemudian menyeringai.
"Kau tidak akan bertemu dengannya lagi, Hyukjae dan aku akan untung besar." Kekehan kejam itu terdengar. Dalam genggamannya ada ponsel putih yang baru saja digunakannya untuk mengirim informasi pada seseorang. Informasi yang akan menghancurkan segalanya.
.
.
.
"Duyung?"
"Ya, sajangnim. Woobin-ssi mengirim informasi kalau dia menemukan bukti kalau duyung itu benar-benar ada. Kalau apa yang dia bicarakan adalah kebenaran kita akan untung besar, sajangnim."
"Kita tunggu Woobin kembali untuk menginterogasinya dan kalau benar, kita segera berangkat untuk memburu duyung itu."
.
.
To Be Continued
Tadinya mau publish nanti sekalian rampungin ff saya yang lain juga (yang tentu masih lama), jadi Super Junior comeback saya ikutan kambek gitu wkwk *siapakamu*
Tapi karena takut kelamaan dan gak enak sama readers yang nungguin ini ff (itupun kalau ada) jadi publish sekarang aja hehe…
Semoga chapter ini gak aneh ya.
Silahkan tinggalkan review jika ingin ff ini dilanjut. Oh, jangan cuma "next" ya, hargailah saya. Terimakasih
