Tittle: Blooming in Kitchen

Pairing: ChanSoo (Chanyeol-Kyungsoo)

Other pairing: temukan didalamnya

Genre: romance, teenagers, with a little bit comedy

Rate: T

Part 6

ChanSoo

.

.

.

.

.

"kenapa dengan kakimu?" kaget Myungjoo ketika Yifan membawa adiknya pulang. Kyungsoo berada dalam gendongannya. Sebenarnya Kyungsoo masih blank atas apa yang tadi terjadi di dapur.

"hanya kecelakaan kecil di dapur.." jawab Kyungsoo.

"dimana kamarmu?" tanya Yifan.

"tidak apa-apa... turunkan aku. Kau pulang saja, hyung"

"sini, biar aku yang antar dia" tubuh Kyungsoo berpindah tangan pada Myungjoo. "maafkan aku, Myung... aku lalai" kata Yifan. Entah kenapa sejak kejadian di dapur tadi, dia tidak tersenyum sama sekali. Kyungsoo tau Yifan merasa kesal karena gelang yang dia berikan hampir sama dengan gelang yang Chanyeol berikan. Apa lagi Kyungsoo ternyata memakai dua-duanya, meski sudah mati-matian menyembunyikan gelang dari Chanyeol.

"ah, tidak apa-apa... tidak setiap saat juga kau harus mengawasi Kyungsoo. kau bukan baby sitternya. Lagi pula pasti anak ini yang ceroboh"

Kyungsoo sebenarnya ingin menjitak Myungjoo. Tapi kata-kata Myungjoo ada benarnya juga. Dia ceroboh, dia bodoh. Ah, dia sangat malu tadi ketika Chanyeol memijat kakinya. Pria itu membuat jantungnya berdetak 2 kali lebih cepat.

"selamat malam, Kyung..." Kyungsoo tersadar dari lamunannya ketika Yifan mengusap kepalanya lembut, kemudian pergi.

Myungjoo mengantar Kyungsoo ke kamarnya. Ia mendudukan Kyungsoo di pinggir ranjang dan dia sendiri memeriksa kaki adiknya. "apa yang terjadi sebenarnya?"

"aku mengangkat karung tepung... ku pikir karung itu tidak perlu diangkat dua orang" jawab Kyungsoo masih dengan matanya yang membulat lucu.

"tapi jadi begini kan akhirnya? 2 minggu lagi kau masuk sekolah... jangan ceroboh lagi, atau kau akan mengalami yang lebih parah dari ini"

"hyung, jariku bahkan sudah tersayat pisau berkali-kali di dapur.. sudahlah, aku baik-baik saja. lebih baik kau keluar!" Kyungsoo mendorong tubuh Myungjoo. Akhirnya pria itu keluar dari kamar Kyungsoo.

Kyungsoo memeluk boneka kucingnya yang diberikan oleh Yifan. Dia teringat di dapur tadi... sungguh bodoh. Dia meraba kaki kanannya yang tadi dipijat Chanyeol. Tangan besar itu menyentuh kakinya, dan hal pertama yang Kyungsoo rasakan adalah kehangatan.

Ia memegang gelang itu... Chanyeol pikir dia membuang gelang tersebut.

"aku tidak mungkin membuang kado ulang tahun dari orang lain..." Kyungsoo menatap sayu gelang itu. jantungnya berdetak kencang lagi ketika wajah Chanyeol muncul dalam benaknya.

"kado... darimu.."

ChanSoo

"kau masih belum menghubungi Jongin?" Kyungsoo menutup buku komiknya. Sehun hanya sibuk memakan anggur yang ada di meja nakas di samping ranjang Kyungsoo. hari ini dia ke rumah Kyungsoo untuk sekedar menenangkan pikiran. Tao terus saja menghubunginya karena dia pikir Sehun mulai membalas perasaannya. Ini semua karena kejadian di pantai waktu itu.

"tidak. Biarkan saja... aku masih malas"

"wah, sejak kapan kalian berdua jadi bertengkar? Biasanya sudah seperti kembar siam"

"kali ini aku ingin sedikit jauh darinya.." Sehun menunduk. Tetap saja, dalam hatinya dia membutuhkan Jongin. Jongin yang selalu bercanda dan tertawa bersamanya.

"iya sih.. sebelumnya aku tidak pernah melihat dia segenit itu pada wanita. Bisa saja dia benar-benar suka pada Krystal"

"iya. Dia memang menyukainya... aku yakin itu" kata Sehun mengangguk-angguk.

"kau menyukainya ya?"

Mata Sehun membulat, kenapa Kyungsoo bisa menebak begitu? "aku tidak menyukai Jongin!" sergahnya buru-buru.

Kyungsoo menaikan kedua alisnya heran. "maksudku, kau menyukai Krystal ya? Memangnya aku bertanya kau menyukai Jongin? Bukan, Sehun.."

Sehun menganga. Dia salah tingkah... oh, ternyata Kyungsoo bertanya soal Krystal. "tidak.. aku tidak menyukai Krystal"

"atau jangan-jangan kau menyukai Jiyeon?"

"Jiyeon? Bukankah dia sudah bersama Myungjoo hyung?" Kyungsoo menggedikan bahunya. "entahlah.. sepertinya hubungan mereka tidak berhasil. Myungjoo hyung tidak membicarakan dia lagi"

"oh begitu..."

"jadi, sebenarnya kau menyukai siapa?" tanya Kyungsoo makin penasaran.

"apa sih? Aku tidak menyukai siapapun!" meskipun begitu, Kyungsoo sudah tau Sehun menyukai Jongin. Lihat saja tadi, Sehun salah menanggapi pertanyaan darinya.

"lihat, Tao terus menghubungiku! Ini lebih-lebihan dari sebelumnya..." Sehun memperlihatkan layar ponselnya ke hadapan Kyungsoo. terdapat panggilan dari Tao.

"siapa suruh kau tiba-tiba jadi baik padanya saat di pantai... kenapa kau waktu itu mengajak dia bermain air? Tao mungkin yakin kau sudah mulai menyukainya juga"

"salahku juga sih.. tapi waktu itu..." Sehun menghentikan ocehannya sebelum dia keceplosan lagi.

"sudahlah, aku berdoa semoga kau dan dia bisa berbaikan"

"eh, ini apa? Manisnya.." Sehun meraih tangan kiri Kyungsoo, gelang itu menyita perhatian Sehun. "ini.. kau beli di pantai?"

"tidak. Aku tidak membelinya.. ini kado ulang tahun dari Yifan hyung"

"woah... apa kau dan dia berpacaran sekarang?"

"tidak. Kenapa kau menyimpulkan begitu?" Sehun terkekeh. Dia meraih buku matematika Kyungsoo diatas meja belajar, lalu mulai mengisi soal-soal yang Kyungsoo belum isi.

"dia juga memberikanku ini" Kyungsoo memeluk boneka kucing dari Yifan.

"beruntung sekali kau.. Yifan hyung kan tampan" Sehun hanya menoleh sebentar, lalu kembali berkutat dengan buku matematika Kyungsoo.

"menurutku tidak juga..." Kyungsoo memainkan boneka itu. Sehun melirik gelang di kaki Kyungsoo.

"kalau tidak pacaran, Yifan hyung tidak mungkin memberimu tiga kado sekaligus"

"apa? Oh, itu... bukan darinya" ucap Kyungsoo agak lemas. Sehun menaikan sebelah alisnya. "lalu, itu dari siapa? Minah? Dia kan juga memberimu kado"

"bukan dari Minah juga... Minah memberiku kotak musik.." tunjuk Kyungsoo pada sebuah kotak musik berwarna coklat diatas meja belajarnya.

"oh.. jadi, itu dari siapa?"

"seseorang..." jawabnya tidak yakin. "...spesial?" tanya Sehun lagi.

"...spesial" Kyungsoo mengangguk.

.

.

.

.

.

Kyungsoo masuk ke kedai. Masih sepi seperti biasa... tapi dia melihat dua orang yang sedang duduk di kursi pelanggan. Yang satunya itu Luhan, tapi yang satu lagi dia tidak tau namun pria itu sungguh cantik. Senyumnya menawan sekali.

Kulitnya putih, rambutnya yang hazzelnut, dan tingginya yang sepertinya tidak jauh dari Kyungsoo. terlihat Luhan sungguh lekat menatapnya.

"selamat siang hyung.." sapa Kyungsoo pada Luhan. Luhan tersadar dari dunianya dan menjawab salam Kyungsoo.

"selamat siang, Kyung.. oh, kenalkan. Dia Byun Baekhyun, temanku"

Pria bernama Baekhyun itu mendekati Kyungsoo dan membungkuk. "hai, salam kenal" ucapnya dengan senyum ceria. Lihat eyesmile itu.. membuatnya makin terlihat cantik.

"hai, salam kenal juga... aku Do Kyungsoo"

"Kyungsoo, kata Luhan.. kau koki disini. Berarti kau sering membuat kue dengan Chanyeol kan? pasti kalian keren sekali"

"ah? Eum.. iya" Kyungsoo tersenyum tidak enak, sedangkan Baekhyun tertawa.

"aku sahabat Chanyeol. Apa Chanyeol tidak pernah cerita?" Kyungsoo menggeleng. "nah, sekarang kau sudah tau kan?"

Pintu kedai terbuka, lalu terlihat Chanyeol yang langsung melotot kaget melihat Baekhyun disini. Apa Luhan yang mengajaknya? Tapi bukankah kemarin Luhan sudah di tolak olehnya?

"Yeollie!" Baekhyun menghampiri Chanyeol.

"Baekhyun... Kau tau darimana aku bekerja disini?"

"dari Luhan. Dia yang memberitauku.." Chanyeol melirik Luhan geram. Luhan hanya membalas tatapannya, tapi tidak bicara apapun. mana mungkin dia tidak menjawab pertanyaan Baekhyun soal dimana Chanyeol bekerja... dia tidak tega. Kalau sudah cinta memang begitu.

Kyungsoo yang tidak tau apa-apa akhirnya kabur ke dapur. Dia mengganti baju dan iseng-iseng berlatih mengocok adonan, sepertinya kemampuan dia akhir-akhir ini semakin membaik karena Chanyeol sudah jarang memakinya.

Dia melirik ke jendela, terlihat Chanyeol yang berbicara dengan ekspresi dingin pada Baekhyun lalu melangkah ke dapur sedangkan Baekhyun keluar dari kedai, Luhan mengikutinya. Apa yang terjadi?

Chanyeol masuk ke dapur sambil menghela napas. "apa yang sedang kau lakukan? Bukankah kakimu masih sakit?"

"hanya tertimpa karung terigu.. dipijat sedikit pasti sembuh. Kemarin kan aku sudah istirahat sehari" Kyungsoo tersenyum. Chanyeol Cuma diam lalu kemudian dia memegang tangan Kyungsoo yang sedang mengocok.

"lemaskan tanganmu.. jangan begitu. Nanti jarimu lecet. Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu" Chanyeol ke ruang ganti, sedangkan Kyungsoo masih membulatkan matanya karena genggaman Chanyeol tadi. Lagi-lagi jantungnya merespon exstream.

Chanyeol kembali dan meraih wadah yang Kyungsoo pegang. "jika mengocok, jangan terlalu di tekan dan jangan dipaksa. Lembut namun cepat... lihat"

Kyungsoo memperhatikan tangan Chanyeol, tapi Chanyeol malah memperhatikan wajahnya.

"hei, apa harus mengambang begitu? Tapi bukankah tidak akan larut semua?" hening. Kyungsoo tidak mendengar jawaban dari Chanyeol, lalu dia mendongak... Chanyeol tertangkap basah menatapnya tajam. Kyungsoo tertegun... apa yang harus dia lakukan? Dia jadi salah tingkah.

Chanyeol masih mengocok, tapi matanya terus kearah Kyungsoo. Kyungsoo mengambil wadah yang masih bersih dan menutupi wajahnya, lalu dia mencolek krim coklat dengan telunjuknya dan menyentuh hidung Chanyeol dengan krim itu.

"kenapa kau menatapku begitu, bodoh!" Kyungsoo meletakkan wadah itu kembali. Chanyeol berhenti mengocok dan membersihkan krim itu dari hidungnya.

"hahahaha... kau sungguh lucu. Makanya jangan menatapku begitu" Kyungsoo jadi tertawa melihat wajah lucu Chanyeol. Chanyeol mendengus dan menjitak kepala Kyungsoo.

"aduh!" Kyungsoo mengusap-usap kepalanya.

"aduk seperti yang aku lakukan tadi!" Chanyeol juga terlihat salah tingkah, tapi dia menutupi dengan wajah kesalnya.

"baiklah.." ucap Kyungsoo. dia tersenyum-senyum... entah kenapa tatapan Chanyeol yang tajam tadi itu seperti ingin menyampaikan sesuatu. Atau memang sudah sampai? Karena rasanya banyak sekali kupu-kupu yang menggelitik perut Kyungsoo.

"Park Chanyeol, kemari!" teriak Luhan dari depan pintu. Chanyeol menghela napasnya dan menghampiri Luhan. Kyungsoo ingin menjadi penguping beberapa menit... jadi, dia bersembunyi dibelakang pintu untuk mendengar apa yang mereka bicarakan.

"besok Baekhyun memintamu datang, kenapa kau tidak bisa?" Luhan memprotes. Terlihat sekali dia sangat menyayangi pria bernama Baekhyun itu.

"aku tidak bisa... kau saja yang datang, wakilkan aku"

"kau sahabatnya, berhenti munafik dan balas perasaannya!"

"itulah ocehan orang yang di tolak Baekhyun padaku. Mereka menyuruhku membahagiakan Baekhyun, padahal dalam hati mereka sungguh ada rasa cemburu"

Luhan diam.

"kau yang seharusnya berhenti munafik, Lu. Sekarang aku katakan padamu... aku tidak menyukai Baekhyun. Aku memang sayang padanya, tapi aku tidak pernah berniat menjadikannya kekasihku"

"tapi yang dicintainya itu kau, Park Chanyeol"

"aku akan benar-benar benci padamu jika kau menyerah sebelum perang..."

"perang itu sudah berlangsung berkali-kali dan hasilnya selalu sama... aku kalah!"

"tidak, perang yang sebenarnya baru akan dimulai, Luhan.."

Kyungsoo mengerutkan kening. Apa maksud Chanyeol? Dia maklum, kan dia memang tidak mengerti situasi antara Luhan dan Chanyeol apa lagi sepertinya masalah yang mereka bicarakan inilah yang membuat Luhan badmood sejak dua hari yang lalu.

"haaii.. selamat siang! Yifan mengirim pesan padaku, katanya dia akan datang terlambat. Hei, kalian kenapa lagi? Sudahlah, siang-siang begini bukan waktunya untuk bertengkar. Aku punya tiket nonton drama musikal... ada dua, aku kan tidak suka drama musikal. Jadi sepertinya akan ku berikan pada salah satu dari kalian. Nah, Chanyeol... ini"

Dua orang yang tengah berdebat bengong menatap Yixing yang baru datang langsung bicara panjang lebar dengan polosnya sampai Luhan ingin meninju pipinya itu. apa lagi Chanyeol, dia ingin meledak rasanya karena Yixing seenaknya menaruh dua tiket itu di telapak tangannya.

"kau nonton dengan Kyungsoo ya! Dia suka drama musikal. Iya kan, Kyung? Aku tau dari Yifan!" teriak Yixing meminta persetujuan Kyungsoo di dapur. Kyungsoo menaikan kedua alisnya, hah? Yifan kenapa harus memberi tau Yixing kalau dia suka drama musikal? Aduh, ini akan hancur!

Jadi, Kyungsoo hanya mengangguk dalam diam. Yixing mengedipkan sebelah matanya pada Luhan, yakin sekali rencananya akan berhasil, tapi sayang Yixing sedang dalam situasi yang salah. Luhan meninggalkannya begitu saja.

"nah, baik-baik lah dengan Kyungsoo" Yixing menepuk pundak Chanyeol kemudian pergi.

Kyungsoo menegak, kembali salah tingkah dan berlatih mengocok lagi. Sampai Chanyeol masuk dan memberikan tiket itu padanya.

"ini.. nonton lah dengan siapapun. Aku tidak mau"

Kyungsoo mengerti. Memang tidak akan mungkin...

ChanSoo

Kyungsoo pulang dengan biasa saja, karena memang yang terjadi hari ini tidak perlu di sesalkan dan di sedih-sedihkan. Dia hanya memandang keluar kaca jendela mobil Yifan yang melaju dengan kecepatan sedang. Yifan sendiri juga diam...

"kau lapar?" tanya Yifan yang mungkin hanya basa-basi.

"tidak. Aku tidak lapar.."

"atau kau mau beli charamel macchiato dulu?" tanyanya lagi ketika melewati sebuah kafe. Kyungsoo menggeleng.

"tidak, terimakasih hyung..."

Kalau di pikir-pikir, memendam sesuatu itu tidak enak.. jadilah Yifan memutuskan untuk bertanya secara to the point.

"kapan Chanyeol memberimu kado ulang tahun?" Kyungsoo terkejut, tapi dia berusaha tenang.

"waktu di pantai"

Padahal ketika di toko, Chanyeol bertengkar dengan Yixing karena tidak peduli akan ulang tahun Kyungsoo. lalu tiba-tiba berubah pikiran, apa ada tujuan tertentu?

Dan akhirnya Yifan memilih diam. Sampai dia mengantar Kyungsoo dan mengecup keningnya seperti biasa, lalu kembali pulang dengan perasaan kalut.

Kyungsoo melihat mobil yang asing di teras rumahnya. Dia masuk ke dalam dengan penasaran, kemudian dia sumringah melihat ibunya yang sudah pulang dari Jepang bersama seorang pria.

"ibu! Kenapa tidak menghubungiku kalau mau pulang?" ibunya berdiri dan memeluk putra bungsunya.

"maaf ya, ibu mau memberimu kejutan..." Myungjoo Cuma tersenyum. Dia sendiri juga rindu pada ibunya.

"bagaimana kabarmu? Apa sudah jadi koki yang hebat sekarang?" ibunya tertawa, sungguh cantik. Tidak berubah dari 5 tahun yang lalu meski umurnya bertambah, Kyungsoo juga jadi ikut tertawa.

"belum, bu... masih jadi asisten dapur. Hehehe"

"tapi dia tetap koki terbaik di rumah ini, bu" sahut Myungjoo. "nah, kenalkan.. ini paman Siyoon" pria yang sejak tadi hanya duduk kini berdiri untuk menyambut Kyungsoo. Kyungsoo menebak-nebak siapa orang ini. Ibunya pergi 3 tahun ke negara orang dan kini pulang membawa seseorang.

"salam kenal.. aku Jung Siyoon. Teman ibumu"

"teman?" tanya Kyungsoo. Ibunya tersenyum lagi.

"iya, dia teman ibu..." Myungjoo di belakang sana sudah diam saja. dia tidak mau bicara, tapi dia tau Kyungsoo mulai curiga. "dia yang mengantar ibu pulang... kau harus kenal baik dengannya" senyum ibunya berubah menjadi senyum yang kurang enak.

"harus kenal baik? Dia pacar ibu?" tanya Kyungsoo yang memang tidak suka basa-basi.

"Kyungsoo..."

"ibu bilang, ibu mencintai ayah sampai kapanpun karena ayah juga begitu pada ibu.. lalu kenapa ibu punya pacar lagi? Ibu mengkhianati ayah!"

"Kyungsoo!" tegur Myungjoo yang mulai mendekat. "kau ini kenapa? Sopan sedikit pada teman ibu!"

"diam kau, mesum! Ayah sudah meninggal dan ibu malah punya pacar lagi... berarti ibu sudah tidak mencintai ayah!"

Ibu Kyungsoo hanya diam. Lalu Kyungsoo berlari sekuat tenaga keluar dari rumahnya.. sungguh keterlaluan, ayahnya sudah meninggalkan mereka karena penyakit yang berat. Lalu sekarang ibunya malah memiliki pria lain yang baru. Lalu bagaimana nasib ayahnya?

Myungjoo berdecak. Dia berlari mengejar Kyungsoo, tapi dia kehilangan adiknya itu... "larinya cepat sekali. sial!"

Myungjoo menghubungi teman-teman Kyungsoo untuk bantu mencari. Dia pun kembali berlari untuk menemukan adiknya.

.

.

.

.

.

Chanyeol bersiap-siap untuk pulang. Dia sudah meletakkan karung-karung tepung di gudang.. kalau menyuruh Kyungsoo, anak itu bisa mengalami kecelakaan lagi. Terdengar seperti suara pintu yang dibuka. Chanyeol menoleh dan melihat Kyungsoo yang berjalan ke dapur.

Dia mengerutkan kening melihat Kyungsoo yang datang-datang dengan napas terengah dan hidung memerah. "kau belum pulang? Pantas pintu kedai belum di kunci.." katanya di sela mengatur napas.

Chanyeol hanya mengangguk, tapi dia melihat napas Kyungsoo justru makin memburu.. seperti ingin mengeluarkan sesuatu. "ada apa?" tanyanya kemudian.

Kyungsoo masih diam, namun perlahan-lahan dia mulai terisak... dan akhirnya menangis dengan kencang.

Chanyeol melotot. Anak ini kenapa? "hei, pendek.. kau kenapa? Jangan menangis! Nanti aku di kira berbuat macam-macam padamu!" Chanyeol mengguncang pelan pundaknya. Dia sedikit panik dalam keadaan begini.

"C-Chanyeol hyung.." isaknya memanggil Chanyeol dengan nama asli. Ini berarti hal yang serius, Chanyeol akhirnya memeluk Kyungsoo erat. Kyungsoo menangis di dadanya.. pria itu mengusap pelan punggung Kyungsoo.

Kyungsoo mencengkram lengan jaket Chanyeol dengan erat, sampai buku-buku jarinya memutih.

5 menit berlalu dan mereka masih dengan posisi yang sama, Perlahan juga tangis Kyungsoo mereda. Chanyeol dalam diam melepas pelukannya dan menghapus air mata Kyungsoo dengan kedua ibu jarinya.

Kyungsoo bisa melihat wajah tampan Chanyeol yang terlihat lembut dari sedekat ini, Chanyeol pun bisa melihat mata bulat Kyungsoo yang bertambah bulat karena sembab. Chanyeol menuntun Kyungsoo untuk duduk di kursi, tapi Kyungsoo malah duduk di lantai dan bersandar pada dinding. Akhirnya Chanyeol duduk di sebelahnya.

Mereka diam untuk 6 menit lamanya. Pandangan Kyungsoo terlihat kosong ke arah depan, sedangkan Chanyeol hanya menunggu sampai anak itu mau bicara.

"ayahku meninggal 5 tahun yang lalu... dia menderita kanker otak. Kami meng-ikhlaskan kepergiannya, walaupun aku yang paling berat untuk melepas. Aku terlalu sayang pada ayah. Aku terlalu bahagia melihatnya membimbing kami bersama ibu... malam ini ibuku pulang dari Jepang dan membawa pacarnya yang baru..." Kyungsoo menghentikan kalimatnya. Chanyeol melihat setitik air kembali jatuh dari mata Kyungsoo lalu menetes ke bawah.

"ku pikir orang yang saling mencintai tidak boleh berpisah hanya karena kematian... cinta itu bukan kah masih ada? Untuk apa mereka mengikrarkan janji suci, jika salah satu meninggal lalu yang satunya memiliki seseorang lagi?"

Satu yang Chanyeol pikirkan saat ini, Kyungsoo memiliki hati yang sungguh murni. Dia seperti kertas yang sulit untuk di nodai sedikit saja... pikirannya tentang sesuatu sungguh lah polos. Jika sudah begitu, maka akan begitu lah menurutnya. Tidak bisa berubah.

"ayah pasti sangat sakit hati disana.. ayah pasti melihatku yang begitu kecewa, ayah pasti marah melihat ibu yang bersama orang lain sekarang"

Entah kenapa Chanyeol merasa kesal melihat Kyungsoo menangis. Dia benci air mata itu mengotori wajah Kyungsoo yang biasa tersenyum lembut.. lagi pula, anak ini sedang tidak sadar bahwa dia mengeluarkan isi hatinya pada seseorang yang selama ini bertengkar dengannya. Kyungsoo pasti sungguh kalut saat ini.

"hyung.. apa kau juga berpikir seperti apa yang aku pikirkan?" tanya Kyungsoo menatap Chanyeol dengan deraian air mata di wajahnya, kemudian Chanyeol balas menatap mata itu. dia hanya ingin menenangkan Kyungsoo saat ini, itu saja.

"yang aku tau.. cinta tidak bisa seperti jika kau memakan kue, kau bisa memakan kue lain yang jenis dan rasanya juga sama. Cinta itu akan berbeda di setiap rasa, sentuhan, dan wujudnya"

Kyungsoo diam, dia mencerna kata-kata Chanyeol barusan. Itu benar, dan dia mengalaminya sekarang. dia baru saja sadar! Pipinya memerah... jantungnya berdegup lagi.

"hyung.. aku.."

Chanyeol tanpa banyak bicara lagi langsung menghapus setitik air yang akan jatuh kembali dari mata Kyungsoo. Dia menarik leher mungil Kyungsoo dengan genggaman tangan besarnya.. menyatukan bibir mereka, dan merasakan kehangatan satu sama lain.

Kyungsoo terkejut awalnya.. tapi dia sungguh sangat menyukai kehangatan dari pria menyebalkan itu, jadi perlahan dia memejamkan matanya seperti apa yang Chanyeol lakukan saat ini. Dengan berani Chanyeol menggerakan bibirnya mengulum bibir Kyungsoo yang sama tebal dengan bibirnya. Kuluman yang lembut hingga Kyungsoo tergoda untuk membalas. Jujur saja, ini yang pertama baginya...

Yifan gagal mencuri ciuman pertamanya tempo hari. Justru pria yang selama ini selalu memakinya lah yang mencuri ciuman pertamanya... pria menyebalkan yang membuatnya nyaman akhir-akhir ini. Park Chanyeol.

Dengan lembut Kyungsoo menarik kerah jaket Chanyeol dengan kedua tangannya. Membuat ciuman mereka menjadi intens dan makin menjadi saja.. Chanyeol menggerakan lidahnya membelai bibir Kyungsoo hingga terbuka, memberinya kesempatan untuk masuk.. mengeksplorasi mulut mungil itu dengan bebasnya.

Kyungsoo merasakan geli di langit-langit mulutnya karena lidah Chanyeol yang bermain disana. saliva menetes dari sudut bibir Kyungsoo dan akhirnya membuat Chanyeol berhenti.. mereka melepas tautan itu.

Keduanya mengambil napas sebanyak-banyaknya. Kyungsoo sudah merah padam, dan Chanyeol seperti sudah melakukan hal yang selama ini mati-matian dia tepis.

Tapi Kyungsoo sudah sangat tidak bisa menahan perasaannya. Dia benar-benar suka kehangatan yang Chanyeol berikan, kini dia mencium Chanyeol lebih dulu.. membuat pria itu kaget, tapi kemudian mengerti kekalutan dalam diri Kyungsoo. Dia hanya ingin menenangkan Kyungsoo, itu saja.

.

.

.

TBC

Apa ini? Kenapa gue jadi melankolis begini? mau di rubah tapi sayang... udah manteb sekali bahasanya menurut gue. bodo deh. Thanks for the reviews^^