Halo~ halo~ ada yang kangen sama saya? Gaada ya...yaudah deh.. *pundung*.

E-etto..Yosh, dimulai cerita ini~ kisah Gumiya mau dapetin Miku assik~

Walau puasa tetap semangat, Yosh!


Rika miyake present

Miku Miku Love

Disclaimer: Vocaloid bukan punya saya~

Mohon maaf atas semua kesalahanku *^*


6. Hello, cousin! Part 2

Normal POV:

"Miku-chann!" Lagi-lagi, orang itu berteriak memanggil nama Miku. Suaranya sangat nyaring, Miku yakin orang ini pasti perempuan.

"R-Rin?"seru Miku. Lalu, tiba-tiba sekelebat bayangan bewarna honeyblonde lewat dan menabrak Miku sehingga Miku jatuh ke lantai.

"I-Itai!"seru Miku seraya mengelus kepalanya. Miku memperhatikan 'makhluk' yang menabraknya itu.

"M-Miku-chan."Suaranya terdengar lirih dan bergetar.

"Are?Suara laki-laki?"gumam Miku.

"Aw!"Seru Miku saat mendapati sentilan di dahinya. Miku kini tengah mengelus kepala dan dahinya yang terasa sakit.

"T-tentu saja aku laki-laki!"serunya 'makhluk' honeyblonde itu seraya berdiri.

"L-Len?!"Miku terbelalak kaget. Merasa di tatapi, Len pun mengalihkan tatapannya dengan rona kemerahan di pipinya.

"K-kenapa kamu disini?"Tanya Miku. Miku baru sadar dari rambut hingga ujung kaki Len basah semua.

Len menggaruk-garuk kepalanya, "Eh, aku.."

Miku memiringkan kepalanya tanda tak mengerti. "Doushite desuka(kenapa)?"tanya Miku.

"Kau tahu Mikuo dan Gumi, kan?"tanya Len. Miku mengangguk pelan.

"Kemarin, mereka mencari kalian berdua."ujar Len datar seraya menatap kearah Gumiya. Gumiya hanya mendecih pelan.

"Hei, Len. Lanjutkan."kata Miku.

"Mereka mencari kalian ke rumah kami." ujar Len. "Eh, lebih tepatnya Mikuo. Karena, Gumi-san hanya diam saja. Mikuo pun panik karena tidak bisa menemukan kalian. Lalu, Rin menenangkan Mikuo dan menawarkan Mikuo dan Gumi untuk menginap di rumah kami. Rin bilang, siapa tahu kalian akan ke rumah kami."

Len tertawa sebentar lalu melanjutkan cerita, "Tentu saja, aku tahu itu hanya akal-akalan Rin agar bisa berdua dengan Mikuo. Rin selalu menyediakan makanan untuk Mikuo, menenangkannya, mengajak ngobrol dan begitulah. Hingga, Mikuo sendiri lupa bahwa ia sedang mencarimu."

DEG..

Miku merasakan dadanya sakit sekali. Rasanya, hatinya hancur berkeping-keping. Miku menahan rasa sakit itu dengan meringis pelan.

"Yah, lalu sore ini aku disuruh Rin agar mencari kalian berdua di rumah Hatsune ini. Dan ta-da! Kalian ada disini."kata Len. "Kau sungguh merepotkan, Megpoid-san. "ucap Len seraya menatap tajam Gumiya.

Selama seperkian detik, Gumiya dan Len terus memberikan tatapan tajam. Lalu, Len menatap kearah Miku. Len baru sadar gadis itu diam saja dari tadi.

"M-Miku?"tanya Len khawatir setelah melihat Miku meringis pelan seraya menyentuh dadanya. "Kau tidak apa-apa?"tanya Len seraya mendekat.

"Itai tokoro ga doko desuka?(bagian mana yang sakit?)"tanya Len seraya menatap Miku.

"a...watashi ha daijoubu desu(aku gak papa, kok)"kata Miku cepat seraya me-maksakan seulas senyuman.

"Tentu saja kau kenapa-kenapa. Tadi sih, kau childish banget pakai 'acara' menabrak Miku segala."kata Gumiya seraya mendekat kearah Miku.

"Gomen nasai, tadi aku terlalu bergembira."ujar Len pelan seraya menunduk.

"Gembira?"tanya Gumiya seraya menaikkan salah satu alisnya.

"Karena berhasil menemukan Miku."ujar bocah shota itu seraya menyerigai dan menggaruk belakang kepalanya.

Doki..

"Len..bajumu basah.."kata Miku pelan. Len menatap kearah Miku seraya meringis pelan.

"E-etto..tadi aku berjalan kesini, tapi tiba-tiba hujan. Aku tak bawa payung, daripada stuck di jalanan jadi aku nekat berlari kesini."kata Len.

Zrassh!

Tiba-tiba, hujan turun dengan deras. Miku bangkit dari duduknya seraya tersenyum kearah Len.

"Aku ambilkan baju Mikuo, kau bisa pinjam dulu. Kau bisa masuk angin nanti kalau bajumu basah semua seperti itu."kata Miku.

Karena disenyumin oleh Miku, Len lagi-lagi menampilkan rona pink di wajahnya. "Ah! Tidak usah repot-repot."

"Benar kata Len, itu merepotkan. Sudahlah Miku, tidak usah dipinjamkan. Dia juga gamau kok."cibir Gumiya seraya menatap Len.

"Tondo mo arimasen..(ah, sama sekali tidak.)" ujar Miku seraya menarik Len. Yang ditarik hanya ber-eh ria.

"Huh, dasar shota!" cibir Gumiya sambil melipat tangannya di depan dadanya. Ia melirik kearah Len yang tangannya ditarik Miku menuju kamar Mikuo.

"Are? Chotto Matte, KAMAR?!"seru Gumiya. Gumiya pun mengikuti Miku dan Len agar tidak terjadi 'sesuatu' yang salah.


Normal pov:

"Nah, ini dia!"seru Miku seraya mengeluarkan kaus berlengan panjang bewarna kuning berbahan wol dan celana panjang hitam.

"E-eh. Arigatou, Miku-chan. Aku jadi Merepotkan sekali."kata Len. Miku menggelengkan kepalanya lalu tersenyum.

"iie, douitashimashite(sama-sama)!Sama sekali tidak merepotkan. Nah, kalau kau mau memakai kamar mandi bisa pakai punya kakakku, disitu."kata Miku seraya menunjuk kearah kamar mandi. Len mengangguk lagi.

"Honto ni arigato gozaimasta(benar-benar makasih)! Miku-chan!" Seru bocah shota tersebut seraya menunduk dalam-dalam. Miku hanya tertawa lalu tersenyum. Miku berbalik hendak pergi, namun di tahan oleh Len.

"Eh?"tanya Miku.

"Sebagai terimakasihku."kata Len seraya mengecup pipi Miku. Seketika, wajah Miku memerah dan memanas.

"Dah, Michi."Len pun masuk ke kamar mandi sebelum di pukul Gumiya.

"E-eh?!"seru Miku. "Michi?"gumam Miku.


Gumiya Pov:

Aku keluar dari kamar mandi. Sebuah kaus lengan panjang berbahan wol berwarna hijau, celana panjang hitam sekarang sedang kupakai. Aku duduk diatas kasur seraya sesekali mengeringkan rabutku yang basah karena habis keramas.

"Ah menyebalkan, kenapa si kuning itu harus kerumah ini?"pikir Gumiya seraya menghela napas panjang.

"Eh..kalau tidak ada si kuning itu..hanya ada aku dan Miku?!"pikir Gumiya, seketika wajahnya memanas.

"Uh, mikir apa sih aku.."gumam Gumiya

'Tok,tok..'

"Gumo-kun? Aku boleh masuk?"tanya Miku. Aku mengangguk, lalu sadar bahwa Miku tidak bisa melihatnya.

"Masuklah."ujarku pelan.

"Eh,Gumo-kun. Ada yang ingin kubicarakan." Kata Miku. Aku menatap Miku seraya menaikkan salah satu alisku. Miku kini sedang memakai pajamas bewarna pink dengan gambar siluet kucing bewarna putih, merah dan hitam. Rambut teal Miku dibiarkan terurai dan tersisir rapi. Miku pun terlihat cantik dengan model rambut seperti itu. Oh tunggu sebentar, ia memang cantik dengan segala tatanan rambut.

Saat mengetahui Aku memperhatikannya, wajah Miku memanas. "Eh, e-etto.."

"Hm?"tanyaku.

"I-itu.." lalu Miku pun menghela napas panjang. "Soal..sunset.."

Jantungku rasanya berdebar cepat sekali. Seperti terkena serangan jantung mendadak.

"Soal itu.." aku menghela napas. "Aku tidak bisa bilang. Tidak ada sunset hari ini." ujarku datar.

"Eh?!" seru Miku. Miku kemudian menunduk seraya meremas ujung bajunya, "Naru hodo(Oh, begitu)."suara Miku sangat pelan, lebih mirip bergumam daripada berbicara.

"Kamu nanti juga akan tahu."kataku seraya menepuk kepalanya.

"Uh, Gumo-kun! Sok misterius!"seru Miku seraya menjulurkan lidah. Aku tertawa.

"Mou(geez)! Ayolah, Gumoo-Kuun..beritahu aku.."serunya seraya memeluk lenganku. Aku tertawa.

"Nanti itu kapan?!"tanya Miku seraya memberi penekanan pada kata 'nanti'.

"Biarin! Biar kau bisa penasaran."ujarku seraya menjulurkan lidah. Miku mengerut seraya menatap sengit kearahku.

"Hidoi! Gumo-kun Jahaaatt!"seru Miku. Miku segera menerjangku dan mengelitiki diatas kasur.

"Cie, Miku-chan penasaran.."ujarku.

'tok..tok..'

"Eh?/Eh?!" kami bertiga terdiam di posisi kami. Miku berada di atasku, aku ada di bawahnya, dan Len yang berada di belakang pintu.

"I-ini bukan seperti yang kau pikirkan!"seru Miku cepat seraya berlari kearah Len dengan wajah merah.

"Oh?"Lalu, Len menyerigai. "Yah, aku yakin Miku tidak akan berbuat seperti itu. Tidak seperti otak mesum itu."kata Len seraya melirik tajam kearahku.

"Dasar bocah shota itu!"gumamku

"Siapa yang kau bilang otak mesum, dasar bocah dungu shota!"teriakku. Len berbalik menatapku seraya memberikan tatapan tertajamnya. Aku tak kalah membalaskan tatapannya.

"Ya tentu saja kau, baka(idiot)! Sudah bodoh, otak mesum, tidak bisa mendengar dengan baik lagi!"seru Len. Aku mendecih.

"Sebaiknya kau berkaca sebelum mengejek orang!"

"Apa katamu?! Berani kau?"

"Beranilah! Memangnya kau yang payah?!"

"Kau yang payah! kelakuanmu saja seperti cewek!" "Bahkan, Miku sempat mengiramu bahwa kamu Rin yang sepertinya saudara kembar perempuanmu"

Diejek seperti itu, Len makin kesal,"Keledai otak mesum!"

"Kepala pisang!"

"Yamete yo(berhenti)!" teriak Miku seraya menatap kearahku dan Len. Kami berdua menatap Miku.

"Hentikan.."ujar Miku pelan. Lalu menatap kearah kami berdua.

"Kalian benar-benar kekanak-kanakkan! Dewasalah sedikit! Kalau mau lanjutkan bertengkar, cepat lakukan!"seru Miku seraya meninggalkan kamar.

"Gara-gara kau!"kataku mengeram kearah Len. Len mendecih pelan.

Aku mengikuti Miku yang berjalan penuh amarah ke arah dapur.

"Miku.."ujarku seraya menarik siku Miku.

"Apa?!"tanya Miku seraya memberikan death glare kearahku. Jujur, Miku terlihat sangat menyeramkan.

"Cepat! Apa yang kau mau katakan?!"tanya Miku.

"M-Miku.."ujar Len yang muncul disampingku dengan gugup.

"Kami minta maaf."kata Len.

"Permintaan maaf ditolak."ucap Miku.

"Hah?!"seru Len dan aku.

"Oh tunggu, Len kau kumaafkan. karena sudah meminta maaf duluan."kata Miku sambil lalu. Aku mengernyit menatap Len, ia terlihat mati-matian berusaha untuk tidak mengatakan 'yes' dengan kencang.

"Bagaimana dengan ku?"tanyaku pasrah.

"Ehm."Miku berdehem sebentar, lalu melirik kearahku,"Memangnya, kau siapa?"

Jdeer.!

Author: Dengan seperti itulah Gumiya berakhir ngenes.


Miku Pov:

"Aku gak bermaksud begini.."ujarku pelan seraya mengambil bahan-bahan untuk memasak.

Flashback on

"Miku.."ujar Gumiya seraya menarik siku milliku. Aku kesal sekali.

"Apa?!"tanyaku seraya memberikan death glare kearah Gumiya. Gumiya berjalan beberapa langkah kebelakang dengan takut-takut.

"Cepat! Apa yang mau kau katakan?!"tanyaku. Ah, sebenarnya aku memang tidak berniat menyakitinya.

"M-Miku.."ujar Len yang muncul disamping Gumiya dengan gugup.

"Kami minta maaf."kata Len.

"Permintaan maaf ditolak."ucapku tegas. Yah, mereka juga butuh pelajaran.

"Hah?"teriak Gumiya dan Len.

"Oh tunggu, Len kau kumaafkan. karena sudah meminta maaf duluan."kataku sambil lalu.

"Bagaimana dengan ku?"tanya Gumiya

"Ehm."Aku berdehem sebentar, lalu melirik kearah Gumiya,"Memangnya, kau siapa?"

Flashback off

"Haah.."kataku seraya mentap kearah kulkas. Pikiranku melayang entah kemana.

"Sebenarnya, memang sih. Aku tahu, aku orangnya langsung memaafkan orang lain. Gumiya juga sudah kumaafkan. Tapi, aku jadi enggak enak ngomong kaya gitu.."gumamku

"Michi, mau kubantu?"tanya seseorang.

"Waakh!"teriakku.

"Berisik sekali.."desis orang tersebut aku menatap kerah orang tersebut. Berharap itu Gumiya. Oh bukan, itu Len.

"Kau hampir membuatku serangan jantung!"kataku seraya melirik tajam kearah Len. Ia hanya meringis.

"Aku bantu. Kau masak apa?"tanya Len.

"U-uh.. kayaknya ayam panggang lemon."kataku seraya menyiapkan bahan-bahan.

"Ok..tenang saja, aku tahu cara memasak kok! Jadi aku tidak akan merepotkanmu.."

Selama beberapa saat hanya ada suara beberapa kali pintu kulkas di buka dan ditutup, suara mencincang, membuka plastik.

"Len?"tanyaku. Yang ditanya hanya mendengungkan suaranya.

"E-etto..Bagaimana Gumiya?"tanyaku seraya fokus memotong motong sayuran.

"M-hm. Dia baik-baik saja.."kata Len.

Aku mendesah berkepanjangan.

"Sudahlah, nanti kalian kan bisa akrab lagi. Tapi, kali ini sebaiknya kalian berjauhan dulu agar nggak menambah masalah.."usul Len.

"Harus ya?"tanyaku seraya menerawang kedepan. Len mengangguk.

"Sankyou."ucapku pelan.

"Untuk apa?"tanya Len.

"Memberikan saran."kataku. Len tersenyum lembut.

"Nee, Miku-chan.. Tidak apa-apa. Kalau kau mau minta nasihat datang saja padaku."kata Len seraya menepuk pundakku. Aku hanya mendecih.

"Baiklah, Pakar 'penyelasaian masalah'"kataku seraya memberi penekanan pada kata penyelesaian masalah. Len hanya tertawa.

"Oi, jangan ketawa mulu. Itu ayamnya nanti gosong!"teriakku panik. Len buru-buru mematikan kompor dan mendesah lega.

"Untung saja.."kata Len lega.

"Untung apanya? Tadi hampir gosong, Len!"kataku seraya mendecih. Len hanya tertawa.

"Ah, tapi pasti masih enak kok!"seru Len.

Aku hanya mendecih pelan. Sesaat, aku melirik kearah bocah shota itu. Ia terlihat menyerigai. Aneh, apa yang ia rencanakan?


Normal Pov:

Miku memperhatikan Gumiya yang berjalan kearah meja makan dengan lesu. Gumiya sempat melirik Miku, Miku namun segera mengabaikannya.

"Itadakimasu.."Suara Len lah yang paling kencang. Sementara, Gumiya dan Miku terlihat tidak mau makan.

"Hei, Hei. Makanan ini bisa mubazir, tahu!"seru Len. Len menatap kearah Gumiya dan Miku. Berhasil! sesaat Len mengingat apa yang ia perbuat.. Tadi, Len menyuruh Gumiya agar menjauhi Miku agar mereka bisa berbaikan. Lalu, Len menyuruh Miku agar menjauhi Gumiya.

"Ternyata, mereka gampang dibodohi."pikir Len seraya menyerigai.

"Cerewet."desis Gumiya dan Miku.

"Hei, Michi. Makan."ujar Len seraya menatap Miku.

"Tidak mau."kata Miku.

"Makan." Kata Len. "Aaaa~"

"Apa-apaan! Aku bisa makan sendiri!"kata Miku seraya blushing.

"Kalau kau bisa makan sendiri, kenapa kau tidak makan dari tadi?"tanya Len.

Skakmat.

"Sial."gumam Miku.

"Len, dia bisa makan sendiri."Sahut Gumiya dingin. "Jangan terus menggodanya."

"Kenapa kau menimbrung?"tanya Miku tajam.

"Aku membelamu, baka."

"Aku tak butuh pembelaan darimu."

"Terserah aku mau ngomong apa. Mau bela kamu atau mau nggak bela kamu. Memangnya kau yang mengatur?"

"Tentu saja! Ini kan rumahku."

"Ini bukan rumahmu! Ini rumah orang tuamu—dan kau pasti berharap ini punyamu – ."

"Tapi tetap saja milikku."

"Bukan."

"Ten—"

"Tadi kau yang menyebut kami childish padahal kau sendiri juga bertengkar dengan alien hijau itu."kata Len memotong kata-kata Miku.

"Habisnya, dia menyebalkan!"seru Miku.

"Apa? Kau kali yang lebih menyebalkan!"kata Gumiya.

"Sudah cukup."kata Len. Miku dan Gumiya membisu.

"Miku, maafkan saja Gumiya."kata Len.

"Eh?"tanya Miku.

"Kau membelaku!"seru Gumiya senang, "Padahal kukira kau menghasut Miku. Kan kau tahulah, kita bersaing di kompetisi ini."

Miku terdiam. Oh ya, Gumiya kan bertujuan datang untuk berkomptisi agar menjadi jodohnya Miku.

"Tidak. Kalau kalian berantem malah kalian lebih dekat. Makanya kulerai."kata Len kalem.

"Huh, ternyata."kata Gumiya seraya mendecih.

"Michi. Maafkan dia."kata Len.

"Jangan maafkan aku."kata Gumiya. Lho? "E-eh. Maksudku, kau boleh memaafkanku. Tapi bukan karena perintah Len."kata Gumiya.

"Aku memafkanmu karena bukan perintah Len."kata Miku segera.

"Arigatou, Miku!" seru Gumiya kesenangan.

"Aku tidak membelamu. Tadi, aku menuruti Len. Sekarang, aku menuruti perkataanmu dong."kata Miku.

"Adil."gumam Len.

"Gimana kalau kita bikin kompetisi? Umm, Yang menang—"kata Miku.

"Jadi jodohmu?"sela Len dan Gumiya

"Ettoo..tidak. Karena kalau jadi jodohku, banyak sekali kandidatnya.."ucap Miku seraya menggaruk pipinya.

"Eh, secara gak sadar dia sombong..."gumam Len dan Gumiya.

"Aku punya usul!"seru Len seraya tersenyum.

"Eh?"tanya Miku.

"Gimana kalau yang menang diberi pelukan hangat dan sweater rajutanmu sendiri? Dan oh ya, kompetisinya ditentukan dengan cara membuat lagu!"seru Len.

"Great! Brilliant!"Seru Gumiya. Sementara, Miku masih bengong.

"Hei, Michi. Gimana pendapatmu?"tanya Len.

"Heh?Michi?!"seru Gumiya seraya melotot kearah Len.

"Nani? tak boleh? itu panggilan kesukaanku ke Miku. "kata Len acuh.

"Etto..Sepertinya tidak buruk."kata Miku seraya blushing. Ia membayangkan harus memeluk salah satu dari mereka berdua dan membuatkan sweater. Yaampun.. "Kuberi waktu...umm, 20 menit."lanjut Miku.


20 menit kemudian..

"Ada yang sudah selesai?"tanya Miku seraya melirik kedua pemuda yang sibuk berkelut dengan kertas dan pensil. Miku terkikik geli.

"Heh,kalian kenapa se-serius ini sih?"kata Miku seraya tertawa kecil.

"Kalau kita bisa dapat cintamu jadi harus diperjuangkan dengan serius kan?"tanya Gumiya dan Len. Miku langsung blushing.

"E-eh.."kata Miku gugup. "Oh ya. Kubuatkan kalian berdua kopi. Mocha untuk Len, dan Latte untuk Gumiya."kata Miku seraya tersenyum.

"Eh?"tanya Mereka berdua. Miku hanya tersenyum lembut.

"Tidak apa-apa. Ini untuk menambah semangat!"seru Miku seraya mengangkat tangannya di udara. Len dan Gumiya tertawa kecil.

Gumiya memperhatikan Lattenya. Ia tahu, Miku tidak suka kopi ia lebih suka teh dan sesuatu yang manis. Lalu...kenapa dia repot-repot membuat sesuatu yang ia benci? Blush!

"Gumo-kun?"tanya Miku heran saat melihat Gumiya blushing. "Mukamu merah..Kau demam?"tanya Miku seraya mendekat dan menempelkan telapak tangannya di dahi Gumiya.

Wajah Gumiya semakin merah sekali, sementara Len hanya menatap datar kearah mereka berdua. "Kau penyebab dia tambah panas, Michi."kata Len.

"Eh? Benarkah?"tanya Miku seraya menampilkan muka innocent. Len tertawa.

"Polos sekali kau."kata Len seraya menyentil dahi Miku. Terdengar desisan 'aw' dari Miku yang kini cemberut.

"Hee, Lenny. Sudah selesai?"tanya Miku. Len hampir tersedak mendengar panggilannya.

"Jangan mengikuti saudara perempuanku! Aku jadi merasa shota kalau kau menganggilku begitu!" serunya seraya blushing.

"Hee.. kau kan shota."kata Miku. Len mendecih pelan.

"Aku sudah selesai."kata Len. Lalu ia melanjutkan, "Kau bisa bantu aku kan? Mainkan sesuai nada ini menggunakan piano."ujar Len. Miku mengernyit heran menatap kertas yang hanya berisi not balok tanpa lirik.

"Hee, liriknya gaada!"kata Miku.

"Liriknya rahasia."kata Len seraya menjulurkan lidah kearah Miku.

Miku berjalan kearah grand piano warisan dari kakeknya yang dulu mendapat gelar 'Master' dalam piano. Hmm, tentu saja Miku masih ingat. Ia waktu itu masih berumur 12 tahun dan ia melihat kakeknya dengan lihai bermain piano, saat itu Miku sedang menghadiri pertunjukan perdana kakeknya. Yang pertama dan terkahir. Nama kakeknya, Mioku Hatsune. Ia mengajarkan Miku piano dari umur 4 tahun. Mioku meninggal saat Miku menginjak umur 15 tahun dan ia sendiri umur 60 tahun. Tepatnya, satu tahun yang lalu. Tentu saja, kepergian kakeknya membuat Miku sangat bersedih—apalagi kakeknya sudah seperti ayah keduanya – . Dengan pelan, Miku mengelus tuts piano bewarna hitam tersebut. Setiap ia menyentuh tutsnya, Miku merasakan kakeknya sedang mengawasinya dan tersenyum kearahnya. Lalu, setiap Miku duduk di kursi untuk bermain piano tersebut, Miku merasakan tangannya ringan seperti tangannya di genggam orang lain pada saat ia bermain piano. Seperti, kakeknya membantunya bermain piano agar selalu berakhir sempurna.

"Miku?"tanya Len saat melihat Miku bergeming seraya terus mengelus tuts piano.

"Ah? Gomen ne. "kata Miku pelan seraya menghapus air matanya.

"Kau tak apa?"tanya Len khawatir. Miku mengangguk. Len tersenyum tenang seraya mengelus air mata Miku dari pipinya. Miku mendongak menatap Len.

"Aku sudah tahu dari Mikuo." Kata Len. Gumiya mendatangi mereka berdua dan merangkul Miku.

"Miku-chan! Ganbatte!"serunya seraya tersenyum lembut.

"Lenny, Gumo-kun.. Sankyou!"kataku seraya tersenyum mereka semua tertawa.

"Ok, kumainkan."ujarku. Aku segera menekan tuts lagu sesuai dengan yang ada di kertas lagu tersebut. Len bersiap siap dengan gitarnya.

"I'm glad I could love you from the start."
Is what I'll sing to the sky.

Looking for a place where I can launch
my compressed dream, I left the town.
Turning the power off on an incoming call.
A burning fuse no one can stop.

If the end of the world
Was here right now,
I'd ditch everything
and the two of us would be together forever.

Like a Fire Flower
So I won't get put out
My sparks will fly and I'll launch my dream.
"I'm glad I didn't fall in love with you from the start."
Was the lie that followed.

Unfamiliar scenery, forced expressions,
All very different from a colourful festival.
A voice repeating "Do your best." on the answering machine
Seems like the fuse was put out with tears.

If the beginning of the universe
was that kiss,
the starry sky
Like a Fire Flower
So you can find it easily
Matching thunder, I'll blast my dream.
"I'm glad I didn't fall in love with you from the start."
Looks it's been be fragments of the miracle we scattered.

In birth and maturation,
We scatter.
In shape and appearance,
We vary.

Male and female
We're mismatching.
Even then,

If If our lives were sparklers,
For the sunflowers we'll illuminate for an instant...our hearts could merge...

Like a Fire Flower
Please wait 'til the day
When we can bloom spectacularly in the night sky.
"I'm glad I could love you from the start."
Is what I'll sing to the sky.

Miku terdiam di depan pianonya. Sementara, Len tersenyum lembut.

"Aku menuangkan perasaanku ke lagu ini.."kata Len seraya tertawa lalu tersenyum tipis.

"Lagumu...bagus.."kata Miku seraya menunduk agar Len tidak melihat wajah memerahnya sekarang. Lagunya benar benar membuat Miku malu sekali seperti ada kupu kupu yang ribut bertebangan di perutnya.

"Giliranku."kata Gumiya seraya tersenyum kearah Miku.

"Eh, Len. Kau bisa bantu aku dengan gitar bass?"tanya Gumiya. Len selama beberapa detik tampak menampilkan wajah tidak mau namun akhirnya ia menghela napas lalu mengangguk.

I want to see you, I want to see you now, but, I don't have the courage to express my love
There's no point in reaching my hand for, I think I don't like the world like this

I want to see you, I want to see you even if it's a fake, but, that's not enough, I want to express my love
But, as I wish upon the stars, nothing seems to be solved

The one-way red thread of fate, today I'll tie it to you again
Though I told myself it was not surprising even if my wish would not come true
I knew I just couldn't, I couldn't lie to myself and my heart is filled with you

Without asking you, I fell for you. I'm to blame for it, so I won't ask you anything
Just seeing your figure, watching your gestures and hearing your voice are enough for me
Cause, you know, since I fell in love, those alone have made me feel uneasy
Having you all for myself is too much to ask, isn't it?

Is it destiny? I'm confusing myself, thinking that way. As I've never experienced something like this
It might change rapidly, maybe I don't hate the world

Since that day, I haven't almost cared about others, but you
The more I love you, the more I can't give up on love

I dare to solve the difficult question, it can't be helped
It would take time a little, but, there's no time limit on love, right?
I'm not crying at all. I haven't even given up yet
I knew I just couldn't, I couldn't lie to myself and my heart is filled with you

Without asking you, I fell for you. I'm sorry, but, I can't stop loving you
When it comes to this, I want to tell you that I love you to make sure of it
Cause, you know, love should be free, right? I don't need to back away from it any longer
Though I'm still in one-sided love, someday I want to tell it to you

Till we meet and see each other and I tell you I love you, no one knows what will happen
I want to close the distance little by little, so I can go in front of you

Without asking you, I chose the goal as I like. This is "the answer" I provided by myself
Someday I want to hand in it to you

Someday I want to tell the love I decided to you

Miku terdiam sebentar sementara Gumiya nyengir.

"Sudah kubilang..kau akan tahu jawabannya."ujar Gumiya.

"Sunset?"kata Miku seraya terkesiap. Gumiya mengangguk. Ternyata, Gumiya ingin mengatakan perasaan suka kepada Miku. Memikirkan hal itu, Miku jadi blushing dan malu sendiri.

"Eh, entah kenapa lagunya seperti dibuat sama cewek.."sindir Len. Gumiya dan Len pun langsung bertatapan sengit.

"Miku. Manakah yang lebih bagus?"tanya Gumiya dan Len yang masih bertatapan sengit.

"E-eh.. Kalian.."kata Miku seraya menggaruk kepalanya, "Bagus dua-duanya.."ujar Miku

"Michi..Pilihlah salah satu. Itu tidak terlalu sulit bukan? Karena jelas punyaku lebih bagus.."kata Len. Baru saja Gumiya ingin menjawab namun dipotong Miku.

"Begini saja, kalian buat 1 lagu lagi tapi ini kalian berdua bekerja sama membuatnya... setelah itu aku akan memberikan jawabannya."kata Miku. Len dan Gumiya menghela napas pelan lalu mengangguk.

"Kami butuh waktu lagi."kata Len. Miku melirik kearah jam yang terpajang di dinding.

"Ok, jam 12 malam nanti kuumumkan."kata Miku sambil melihat ini baru jam 10.

"2 Jam? Lama sekali!"kata Len dan Gumiya, Miku tertawa.

Miku memperhatikan Gumiya dan Len yang sibuk membuat lagu. Ia tertawa kecil, Miku kemudian membaca majalahnya kembali. Sebenarnya, Miku lebih menyukai lagu Gumiya. Lagu yang menjadi jawaban atas perkataan 'sunset' Gumiya tadi pagi. Namun, Miku entah kenapa memang tidak bisa memilihnya..ia masih terlalu bingung dan takut menyakiti hati Len.


40 menit kemudian..

Gumiya menyanyikan bagiannya,

Once upon a time, a very long time ago

There was a close pair,siblings of high nobility

The rest i'll leave omited

Lalu Len menyela(sebenernya bukan menyela sih, tapi lebih sekarang menjadi bagiannya)

"Do It properly!"

The princess calls out "Ascend to the throne! Ready, set, go!"

I humbly accept the challenge with knife and fork

Lalu sekarang giliran Gumiya menyanyikan bagiannya,

After all, we are burgeois

Splendid, utterly splendid aristocrats, yes we are

Bow down, ignorant commoners.

This viceroy shall show your mistakes!

Len pun menyanyikan gilirannya,

Hey, wait wait, yet again you try to bluff

Like you can see through them as you please.

Lalu Gumiya menyerigai dan menyanyikan bagiannya,

Okay, okay, yes, yes

It is as my brother commands! (Lol)

Len pun menyanyikan gilirannya,

Argh, i'm so annoyed! I'm seriously so annoyed!

At this impertinent attitude towards me

With a war cry sound the gong!

With an outbreak fights, it's a proclamation of war.

Gumiya pun melanjutkan,

I cause mischief, I get carried away with it,

C'mon, c'mon, with an agitating style,

For buying at this "special bargain sale."

Thank you for your patronage, you lose!

(ssha!)

Len pun menyanyikan bagiannya.

I decide with crude retreat

And a agitating strategy

A candy and a candy to show my brotherly dignity

Sparks scatter, both of us eye to eye

Who do you think i am!

Take that! I am the rulebook!

I'm not incompetent i'm not sitting on the fence

It' s just that i don't have any courage

Now, now, everyone, may i borrow your hand?

Gumiya menyanyikan bagiannya,

It's only natural that i am calm and composed

I cheat by nature

Oh no, glittering lives start

Look, everyone, our family lineage is serious military strength

Yes, i won the argument. Yes, i won the argument. Yes, i won the argument.

I'm receiving it, the V- sign

Yei! (v^―゜)

Len pun melanjutkan seraya menyerigai.

Okay, okay, yes, yes

Have a gold star for a job, well done.

Mereka pun melanjutkan hingga selesai. Miku hanya bisa tertawa ringan.

"It's very good song. Interesting."kata Miku seraya bertepuk tangan. Len dan Gumiya hanya tertawa ringan.

"Jadi, siapa yang menang?"tanya Len dan Gumiya.

"Um, tidak ada!"kata Miku seraya tersenyum ceria dan tertawa lebar. Beberapa detik kemudian, Miku sudah terkapar di tanah sambil terus di serang oleh serangan kelitik oleh Len dan Gumiya.

"Matte matte!"kata Miku seraya mengelap air matanya yang keluar karena geli. Miku menghela napas lalu berbicara, "Pemenangnya adalah..."

BRAKK!

"Mikuuu!" teriak orang itu seraya memeluk Miku. Seketika, Miku jatuh ke lantai. Hee, hari ini Miku sering banget jatoh -"

"Miku! Kamu nggak apa-apa kan? Nggak ada yang sakit? Nggak ada yang luka? Kamu nggak di apa-apain kan?" seretetan pertanyaan keluar dari mulut laki-laki tersebut.

Miku terkesiap melihat makhluk bewarna teal itu tiba-tiba memeluknya.

" Kamu nggak apa-apa kan? Nggak ada yang sakit? Nggak ada yang luka? Kamu nggak di apa-apain kan?" seretetan pertanyaan keluar dari mulut laki-laki tersebut.

Miku terkesiap melihat makhluk bewarna teal itu tiba-tiba memeluknya.

"Onii-chan... perfume scent.."gumam Miku saat tiba-tiba wangi parfum kesukaan kakaknya menyeruak.

"Miku.."bisik kakaknya dengan lembut.

"A-akhirnya.." kata Mikuo dengan suara bergetar "Aku menemukanmu! Huaaa~"kata Mikuo seraya menangis.

"H-hah.."Miku melihat kelakuan kakaknya yang aneh.

"S-seandainya.. Miku hilang.. siapa yang akan memanggil Onii-chan lagi padakuu?"tanya Mikuo dramatis. Miku, Gumiya, Len sweat drop. Sementara, Gumi dan Rin—yang baru datang—terkesiap.

"Etto..."Miku hendak berbicara sesuatu. Namun, kakaknya melepaskan pelukannya hingga posisi Miku sekarang berada di bawah kakaknya sementara Mikuo berada di atasnya. Mikuo memegang wajah Miku seraya terus memperhatikannya dan tersenyum.

"A-aku mencoba untuk tidak kangen denganmu. Berpikir positif bahwa kamu pasti baik-baik saja, Miku..."kata Mikuo seraya menghela napas, lalu tersenyum kembali, "Tapi memikirkanmu bersama orang asing di rumah ini sendiri.. aku jadi khawatir. Dan akhirnya, aku tidak bisa tidak kangen denganmu dan menghawatirkanmu.."kata Mikuo seraya membelai wajah Miku.

DOKI,DOKI,DOKI...

Miku terkesiap. Semua orang di ruangan itu menahan napas. Kata-kata itu...mirip pernyataan cinta!

Miku wajahnya memerah semua. Sementara itu, Tadinya Mikuo yang sedang menatap Miku sambil tersenyum segera menyadari perkataanya dan segera pula ia duduk di sebelah Miku.

"B-bukan! I-itu.. bukan pernyataan cinta.. i-itu—"kata Mikuo gelagapan. Semuanya menyelidiki dengan tatapan tajam, sementara Mikuo kalang kabut menjelaskan.

"Onii-chan love atau Brother love ,kan?"tanya Gumiya seraya tertawa kecil. "atau sering kita sebut Sister Complex"kata Gumiya.

Mikuo hanya menunduk. Sementara, Miku masih speechless dengan wajah merona.

"Well, aku juga memilikinya, kok. Jadi aku tahu apa rasanya.."kata Gumiya.

"E-eh?!"tanya semua orang yang berada di dalam tempat kejadian tersebut.

"Yah, Siscon ku sepertinya ke Gumi."kata Gumiya seraya menatap Gumi. Seketika, wajah Gumi melongo dan merona.

Miku tersenyum, Ia tahu.. Gumi memang menyukai Gumiya.. Namun, Gumi tidak pernah bisa menyatakan perasannya kepada Gumiya. Namun, Gumiya sendiri lebih menganggap Gumi adalah lebih ke adiknya dan menyayanginya sebagai 'sister'.

"T-tentu saja! Aku menganggap Gumi sebagai adik sendiri.."kata Gumiya.

JLEB!

Gumi merasakan dadanya nyeri seakan ditusuk oleh panah dan hancur berkeping keping. Tadinya, ia seperti melayang diangkasa bahkan seakan ada kupu-kupu bertebangan ribut di perutnya. Namun, sekarang ia seperti terhempas ke tanah dan ditikam oleh panah yang runcing dan beracun. Ayo, kita mengheningkan cipta untuk hatinya Gumi yang hancur..

"hahaha.. ngenes banget lo!" teriak seseorang dari atas. Gumi mengadah keatasnya, tempat orang berambut hitam itu sedang tertawa jahat menatapnya.

"Sialan kau, Author. Author Rika, kenapa kau...buat aku jadi brother-sister zone!"kata Gumi seraya berancang-ancang untuk melemparkan sendalnya.

"Lagian salah sendiri sok banget. Gw bikin lo sakit mampus lo."kata suara diatasnya. Gumi merengut kesal.

"G-gumi..siapa yang kau ajak bicara?"tanya Mikuo heran.

"Masa kamu nggak tahu Rika miyake? Itu lhoo..Dia itu kan suka maling sendal saat semuanya lagi shalat tarawih."kata Gumiya.

"Oh ya, gw kenal. Rika miyake kan?"tanya Miku . "Mikuo, dia kan hampir pernah nyolong sendal milikmu."

"Iya, sendal gw juga pernah dicolong waktu itu.."kata Len.

"Sialann.."desis suara dari atas. "Gw dikatain maling sendal.."

"Eh, teman-teman, sebaiknya jangan bicarain dia.. nanti kita dinistain.."bisik Gumi.

"Aku heran kenapa dia bisa jadi author.."bisik Miku.

Suara tersebut dengan segera mengambil golok dan mengasahnya, rupanya ia sekarang menjadi Yandere.

"wahahaha~"serunya

^Oke, abaikan yang diatas Minna~ Authornya lagi puyeng lupa minum P***dol.

"Gu-Gumi-chan.."Rin menghampiri Gumi dan merangkulnya. Walaupun baru sehari, Gumi sudah dekat dengan Rin karena Gumi meceritakan segala perasaanya tersebut.

"Gumi?"tanya Gumiya heran. "K-kau kenapa?"tanya Gumiya heran. Gumi menatap Gumiya dengan pandangan 'kenapa-kamu-nggak-peka-peka' namun, ia me-paksakan seulas senyum.

"Daijoubu. Aku tidak apa-apa."kata Gumi. Gumiya menghela panas.

"Michi...Jawabannya apa..?"tanya Len. Miku terdiam sebentar lalu tersenyum.

"Jawabannya kalian berdua pemenangnya!"seru Miku seraya memeluk Gumiya dan Len.

"H-hah?!"tanya mereka berdua. Miku tersenyum lalu memberikan mereka berdua kecupan di pipi. Miku tersenyum lebar.

"Nah, hadiah sweaternya aku akan buat segera~"kata Miku seraya tersenyum dan berlari masuk ke kamarnya. Suasananya hening sebentar, mereka semua masih speechless.

Miku menatap tajam kearah Len dan Gumiya. Mikuo hendak menghajar Len dan Gumiya.

"KYAAA! Mikuo-kun! Hentikaan~!"seru Rin dan Gumiya

Bug!Bug!bug!

Len dan Gumiya pun berakhir ngenes terkapar di lantai dengan babak belur..


Skip Time..

Miku Pov:

"G-Gumo-kun. Kalian berdua sudah mau pergi?"Tanyaku. Gumi dan Gumiya mengangguk.

"Kami akan datang kembali kalau sudah ada hasilnya."kata Gumi.

"Kami?"tanya Gumi sengit.

"Kau tidak ikut? Kalau kesini kan kau bisa melihat Hatsune-kun."kata Gumiya.

"A-apa?!"kata Gumi seraya memerah. Aku tertawa.

"Kuberitahu Kuo-nii, lho!"kataku menggodanya. Gumiya tertawa sementara Gumi memerah.

"A-apa-apaan!"kata Gumi seraya mengalihkan pandangan kearah lain agar wajah meronanya tidak terlihat. Aku dan Gumiya makin keras ketawanya.

"Eh? Beritahu aku apa?"tanya suara bass tepat di telingaku. Aku berbalik.

"Kyaaaa!"teriakku dan Gumi.

"Heh, berisik sekali.."kata Mikuo. Lalu, kemudian ia tersenyum.

"Hatsune-san! Berhentilah muncul seperti itu! Kalau aku kena serangan jantung, kau yang akan menebusnya!"seru Gumi seraya menunduk namun menjuk tepat kearah wajah Mikuo. Heh, Gumi ternyata sedang blushing. Mikuo tertawa saat melihat 'tsundere-gumi'.( Oh ya, Miku itu sedikit himedere, tsundere dan deredere)

"Kalian sudah siap?"tanya Mikuo mengalihkan suasana.

Gumiya dan Gumi mengangguk.

"Have a nice trip!"seruku. Gumiya menggaguk sementara Gumi mendekat dan memelukku.

"Sankyou.."bisiknya. Aku tersenyum lalu menepuk punggungnya. Gumi pun melepaskan pelukannya lalu berbalik dan berlari kearah Gumiya. Sebelumnya, ia sempat menjulurkan lidah kearah Mikuo. Lalu, gantian Gumiya menghampiri Mikuo dan saling melemparkan pandangan benci—yang tentunya main-main—lalu segera ber-tos ria.

"Semoga kau selamat, bro."kata Mikuo. Gumiya terkekeh geli. Lalu, Gumiya menatapku.

"Miku-chan. Arigatou atas sweaternya.. bagus sekali."kata Gumiya seraya memandang sweater hijau berbahan wol. Dan juga, ada tambahan sarung tangan bewarna hijau.

"Nee, Gumo-kun. Sama-sama."kataku seraya tersenyum. Gumiya memeluknya dan memberikan kecupan di pipi. Sebelum itu, ia membisikkan suatu kata.

"Pilih aku, Miku-koi."bisik Gumiya. Miku segera blushing.

"Daah~"seru Gumiya. Ia lari agar tidak dikejar Mikuo. Kami melambaikan tangan sebelum taxi membawa mereka munuju pemberhentian pertama sebelum mereka terbang jauh, airport.

"Nah, Miku-chan. Ayo masuk."ajak Mikuo seraya menepuk kepalaku.

"Mau main video game?"tanya Mikuo seraya menarik lenganku. Aku tertawa.

"ii yo...(boleh)"seruku.

"Aku menunggumu kembali, Gumo-kun" pikirku seraya melihat langit biru. Aku sudah tidak siap menunggu yang selanjutnya!


Hallooo.. selesai juga chapter 6 atau part 2 nya Gumiya x Miku. Entah kenapa, ini membutuhkan 2 hari buat chap ini. Padahal, biasanya cuma 1 hari doang. Mungkin karena lagi agak buntu ide+lagi mager. Yeaay, Len akhirnya banyak bicara di chap ini! Oh ya, Gumiya ngeselin banget ya selalu bikin Len sama Miku gemes hahaha. Disini ada slight Gumiya x Miku(main chapter 5,6 pair), Miku x len(Len cuma gangguin hubungan Gumiya sama Miku gitu..), Miku x Mikuo(saudaraa~ Mikuo punya siscon berlebihan!) Mikuo x Gumi( Forbidden crush. Nanti jadi Incest lho -") Rin x Mikuo(misinya sama kaya Len), Gumi x Gumiya(temen masa kecil). Heleh, disini Mikuo sama Miku laris banget yaa~

Ditunggu chapter selanjutnya yang melibatkan 'guru' dan adegan sekolah! Susah juga menyeimbangkan waktu apalagi ada fic satu lagi yang baru 2 chapter yaitu Fate meeting. Jadi, mohon maaf ya agak telat updatenya Jaa~ mata ne!

Note: Makasih Satsuki21as atas follow dan favoritenya aku belum baca fic mu. Nanti pasti kureview!

Arigatous .1! atas favoritenya!


Credit song:

1.Fire flower- Len kagamine

Halyosy

English translation:

2.Nanka renai- GUMI( difficult love)

Takanon

English translation:

3.Childish war/ Children war- Len kagamine and Rin kagamine( memang sih yang nyanyiin Rin sama Len. Tapi anggap aja deh, Gumiya gantiin posisi Rin di lagu ini)

Giga-P

English translation:


Indah 605

Sudah kujelaskan di PM ya ^^ Arigatou setiap updateku selalu di revieww.. kamulah yang bikin aku selalu semangat hahaha! Mana nih ficmu? ku tunggu lho ^^

Hotarinsuga

Huaa~ emang beneer chapter 1 benar benar rusak paraah aballl hahaha.. Makasih ya, udah review ^^ terimakasih ceritaku dibilang bagus. Ceritamu juga bagus koo~sayangnya selesainya cepet banget *^*. Oh ya, Bikin fic baru ya! *ngarep*

Sarah maula.1

Siaapp!