Title : Love Summer Desire
Cast : Wu Yifan / Kris, Kim Joon Myun / Suho and Other Cast, KrisHo Pair.
Rating : T aja
Genre : Romance, Drama, yaoi
Length : Chaptered
Warning! : typo(s), EYD berantakan, author abal-abal, de el el… /deep bow/
.
.
.
UWOO... *lambailambai
Apa kabar semuaaa? Haha, maaf ya, nunggu Rae Yoo sampai lumutan. Rae Yoo lagi dalam keadaan drop nih, habisnya setelah pentas seni, tekanan darah rendahku langsung jatuh banget, dan enggak bisa ada di depan laptop lama-lama… huweee *nangis gulung-gulung *peluk Kris. MIAN ! u.u
Tapi sekarang syukur Rae Yoo udah sembuh, meskipun belum sembuh total, Rae Yoo sudah bisa buka PC dan ngelanjutin ff ini. Liburan ini Rae Yoo enggak punya jadwal buat kemana-mana, jadi mungkin Rae Yoo bisa update lebih cepat (mungkin) (semoga saja).
Maka dari itu, Rae Yoo mengucapkan maaf sebesar besarnya atas keterlambatan update u.u dan terima kasih yang sudah mereview (maaf enggak bisa membalasnya ) serta bagi semua yang setia membaca ini ff..
So…
Enjoy !
.
/bow/
.
.
[Chapter 6]
.
Suho membuka matanya dan mendapati Kris ada di sampingnya tengah tertidur dengan tenang dengan selimut yang menutupi hampir sampai wajahnya. Suho melirik jam dan menghela nafas panjang. Ini masih pagi dan rasanya dia tidak perlu membangunkan Kris. Biarlah si tiang berjalan itu tidur. Suho akan membangunkannya kalau matahari sudah tinggi. Dengan cepat, Suho menyibak selimut sampai menutupi wajah Kris yang sampai sekarang tidak merasa terganggu sedikitpun.
Suho turun dari tempat tidur dan menghadap kearah cermin dan mendapati wajah bangun tidurnya yang berantakan seperti biasa. Suho memutuskan untuk menuju kamar mandi dan mencuci muka serta menggosok gigi. Hampir sekitar 15 menit kemudian Suho kembali ke ranjangnya dan mendapati Kris yang masih tidur dengan tenang.
"Ya… kau tidak mau bangun?" ucap Suho sendirian sambil memandangi tubuh Kris yang terbalut selimutnya "Kriss"
Maunya Suho tidak berniat membangunkan Kris. namun, entah kenapa Suho kini tergoda untuk melakukannya.
"Bangunn" tangan kecilnya kini mulai menarik selimut bed cover yang hangat tersebut. Membuat Kris menggeliat tidak nyaman dan Suho mendecak keras.
"Ya… ironaa"
"Tunggu sebentar" Kris menjawab dengan mata terpejam dan dia membalik tubuhnya dan kini membelakangi Suho "…ini masih sangat pagi"
Dengan bibir cemberut Suho menendang tempat tidur sampai bergoyang lalu kaki kecilnya itu melangkah ke luar kamar dan menuju dapur untuk mengambil segelas susu dari dalam kulkas. Tidak ada pekerjaan memang membuatnya bosan. Entah kenapa, Suho menjadi malas melakukan apapun kalau ada Kris di sampingnya. Sebelumnya Suho tak pernah seperti ini, tapi sejak Kris ada disampingnya, Suho merasa ingin selalu ada di samping Kris, bermanja-manja padanya dan menikmati setiap sentuhan lembutnya.
Gelas yang tadinya berisi susu segar itu kini sudah mulai menipis. Suho membuka kulkas dan mengambil beberapa buah.
"Oh, apa aku makan banyak akhir-akhir ini? Bahan makananku cepat sekali habis" gumamnya sambil mengaduk-aduk isi kulkasnya yang mulai kosong.
"Kurasa aku harus belanja lagi nantinya" Suho menutup pintu kulkas lalu berbalik dan memotong-motong buah pisang serta strawberry dan meletakkannya di 2 buah mangkuk kecil.
"YA! Kriss… iroonaaaa" teriaknya dari dapur.
Oke. Ini aneh.
Bahkan terlalu aneh untuk seorang Kim Joon Myun.
Suho yang sehari-hari biasa saja sendirian dan terkesan menikmati kesendiriannya kini mendadak takut. Suho yang biasa menyendiri dan tak suka orang lain mencampuri urusannya, kini menjadi takut. Suho ingin Kris saat ini, berharap pria itu bangun dan menggenggam tangannya lembut, menyandarkan kepalanya pada pundak Kris yang tegap.
Untuk kali pertama ini Suho menyadari…
Perkataan orang lain tentang cinta itu menakutkan memang benar.
Cinta..
Sebuah hal yang kecil dan abstrak mampu mengubah orang lain sekecil apapun, mampu membuatnya berbeda dan merasakan hal yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya, bisa membuat jantung berdegup kencang dan akal sehat tidak berfungsi.
Suho jadi ingat perkataan temannya, Hoya.
Cinta dan gila memang tipis bedanya, jadi susah membedakan antara keduanya.
"Ah… aku benar-benar sudah tidak waras" batin Suho sambil terus memotong pisang menjadi bulatan kecil.
"YA KRISS PALLII IROONAAA" teriaknya keras dan Kris hanya menjawab dengan lenguhan panjang dari dalam kamar.
Suho melangkahkan kakinya ke kamar setelah mencuci tangannya.
"Krisss… apa kau tidak pernah bangun pagi?! Iroonaa" rengek Suho sambil menarik salah satu lengan Kris dengan Kris dengan kedua tangannya.
"Eumm"
Hanya itu jawaban dari manusia tiang yang tidur ini. malah sekarang dia menggeiatkan tubuhnya dan asyik menarik kembali selimutnya. Menelusup lebih dalam.
"Kriss-a… iroonaa" rengek Suho kembali dan cemberut parah menghadap wajah Kris yang matanya masih terpejam.
"Ada apa?" tanya Kris seraya menyipitkan mata. Ah, akhirnya dia terbangun juga.
"Ironna" balas Suho.
"Jangan bilang kau mau mengusirku" ucap Kris dengan suara seraknya.
Suho menggeleng "Temani aku di dapur"
Kris mengernyit heran "Aigoo, keu kenapa? Sakit?"
Tangan lebar dan keras itu kini menelusuri kulit wajah Suho yang lembut dan berhenti di dahinya. Suho memejamkan matanya sebentar karena dia sungguh menyukai sentuhan ini.
"Ani.."
"Kalau begitu biarkan aku tidur sebentar lagi.." Kris menjauhkan tangannya dan kini dia menutup matanya lagi membuat Suho kesal.
"Krisss" Suho kini menangkup kedua pipi Kris dengan tangannya yang lembut "Kau menyebalkan"
Kris tiba-tiba membuka matanya saat dia merasakan bibirnya menyentuh sesuatu.
"Ironaa… palli" Suho menjauhkan wajahnya sambil cemberut.
"Apa yang kau lakukan tadi?" tanya Kris.
Kali ini Suho berusaha menggoda "Aigoo, kau tidak merasakannya?"
Kris bangun dan duduk di ranjang empuk itu, di depan tubuh Suho yang terlihat kecil di matanya. selain kecil, juga sangat imut.
"Kau menciumku?" tanya Kris.
"Menurutmu?"
Suho tertawa kecil dan kini menarik tangan Kris dan keduanya berdiri di atas lantai kamar yang cukup dingin.
"Cepat cuci muka dan gosok gigi. Nafasmu bau!" perintah Suho cepat dan dia membalik tubuh Kris lalu mendorongnya agar menuju kamar mandi.
"Ya! Darimana kau tahu?"
Suho mendorong Kris lebih keras "Aku merasakannya saat aku menciummu tadi"
Kris terkekeh "Aish, lepaskan tanganmu aku bisa masuk kamar mandi sendiri. Kau kembali saja ke dapur"
Pintu kamar mandipun ditutup dan Suho kembali menuju dapur.
.
.
"Kurasa aku akan betah tinggal bersamamu"
Ujar Kris sambil mengamati Suho yang sedang asyik menuangkan madu ke atas mangkuk kecil berisi pisang dan strawberry itu.
"Kau akan menghabisakan bahan makananku Kris. Kulkasku kosong dalam sekejap" dengus Suho.
"Kau ini… pagi-pagi sudah membangunkanku dan sekarang marah-marah.. bersikaplah sedikit romantis padaku" Kris membalas dengan cibiran.
"Kris, menurutmu aku gendut tidak?" tanya Suho mengalihkan pembicaraan
"Gendut apanya? Kau bahkan kecil begitu"
Suho merengut "Aku pikir bahan makananku habis gara-gara aku banyak makan dan aku jadi gendut" jawab Suho.
"Pinggangmu saja kecil. Bagian mana dari tubuhmu yang bisa dibilang gendut?"
"Jinjja?"
Kris kini menarik pergelangan tangan Suho dan membandingkan telapak tangan Suho yang kecil dengan tangannya yang lebar dan kuat.
"Bahkan tanganku lebih besar dari milikmu, kau masih sebut dirimu itu gendut?"
Suho mengangguk-angguk "Ah, baiklah… aku akan belanja nanti"
Kris melepaskan pegangannya dan membiarkan Suho menyiapkan makanan. Kemudian, Suho menyodorkan sebuah mangkuk kecil kehadapan Kris.
"Mwo ya?"
"Tidak bisakah kau lihat? Itu makanan!" balas Suho.
"Benda lengket apa ini? lem?" tanya Kris sambil mengaduk-aduk isi mangkuk tersebut.
"Enak saja kau bilang lem! Itu pisang dan strawberry aku tambah madu dan yogurt, hanya itu yang aku punya di kulkas jadi makan saja" dengus Suho.
"Baru kali ini aku makan makanan seperti ini. seperti biasa, kalau kau masak bentuknya mengerikan!" cibir Kris membuat Suho melototkan pandangannya lalu memukul pundak Kris dengan kedua tangannya berulang kali.
"YA! Appoo" teriak Kris "Kau mau membunuhku? Kenapa setiap mau makan kau galak sekalii?" pekik Kris sambil berusaha menghindar.
"Ya ya, aku memang mau membunuhmu, jadi kau pilih mana? Aku panggang di dalam oven atau kumasukkan freezer biar membeku?" bentak Suho.
"Ya! Jahat sekali… kau akan menyesal kalau aku mati nantinya!" Kris menyunggingkan senyum evil miliknya sambil memandang Suho remeh.
"Satu-satunya yang aku sesali saat ini adalah kenapa aku bisa bertemu namja aneh sepertimu!"
"Kau harusnya bersyukur bertemu denganku" jawab Kris seraya menepuk dadanya bangga "Tidak ada seorang lagi yang persis denganku di dunia ini"
"Tidak ada yang perlu aku syukuri saat ini. Aku lebih bersyukur kalau kau lebih baik cepat makan dan tidak banyak berkomentar!"
Kris terkekeh mendapati Suho yang terlihat sangat manis saat marah. Tangan lebarnya kini menarik pinggang ramping Suho dan mendudukkannya di atas pangkuannya. Membuat Suho memekik kaget.
"Aigoo… kalau kau marah kau jadi lekas tua"
"Biar saja. Kalau aku cepat tua apa pedulimu?" dengus Suho kesal.
"Ya! Aku kekasihmu tentu saja aku peduli" jawab Kris seraya mengeratkan pelukannya di pinggang Suho dan menghirup bau yang keluar dari leher putih itu.
"Kekasih? Kekasih dari mana? Kau bahkan tidak pernah memintaku jadi kekasihmu sebelumnya" jawab Suho disertai hentakan kecil pada kakinya "Jangan mimpi"
Kris terdiam. Kalau dipikir benar juga ucapan Suho. Kris memang tidak pernah meminta Suho jadi kekasihnya, mereka berdua hanya mengangkapkan perasaan saling menyukai dan mencintai saja. Tidak ada ucapan 'apa kau mau jadi kekasihku?' muncul dari mulut Kris.
"Lepaskan aku, aku mau buat daftar belanja" tubuh kecil itu kini memberontak dalam pelukan Kris. Berusaha turun dari pangkuan Kris yang sebenarnya nyaman.
Kris menurunkan Suho dan kini dia tengah mengusir rasa bosan dengan bermain dengan gelas dan sendok yang tergeletak di meja makan, mengetuk-ngetuknya seperti orang idiot.
"Daripada kau tidak punya pekerjaan lain dan terlihat seperti orang aneh, lebih baik kau cuci piring sana!" perintah Suho.
"Ya! Apa aku pembantumu? Aku tidak mau!" tolak Kris mentah-mentah.
"Kau menumpang disini, jangan banyak bicara atau aku akan menendangmu keluar" Suho melemparkan death glare dan menuding Kris dengan pensilnya.
Kris mengerucutkan bibir, lagi-lagi dia menyerah kalau Suho sudah mengancamnya dengan ucapan akan mengusirnya dari apartemen ini. Ya ampun, kalau begitu selamanya Kris akan kalah jika berdebat dengan Suho.
"Ish, pabbo" dengus Kris seraya bangkit dari duduknya dan menuju washtafel tempat berbagai peralatan dapur yang kotor berserakan.
"Kau bilang apa tadi?" tanya Suho sambil memicingkan mata.
"Pabbo" ulang Kris dan Suho langsung meloncat dan mengacak-acak rambut pirang namja yang lebih tinggi darinya itu.
"Kau bilang apa barusan? Ulangi lagi maka aku akan memasukkanmu ke oven sekarang juga! dasar menyebalkan!" teriak Suho sambil terus membuat rambut Kris berantakan.
"Kau yang menyebalkan, ya! Appo… hentikan!"
Kris kini menahan lengan Suho dan menggendong namja yang lebih kecil darinya ini. Mendudukkannya di cabinet dapur dan memenjarakannya di antara kedua lengannya.
"Ya y.. ya! Mau apa kau?" tanya Suho gugup "Ini masih pagi dan jangan melakukan hal aneh padaku atau aku akan menelepon 911"
"Cih, bagaimana bisa kau meneleponnya? Kau ada diantaraku sekarang!"
Suho menelan ludahnya gugup. Ya Tuhan, Tuan Wu ini sungguh sangat menyebalkan. Kenapa dia selalu mengancam Suho dengan cara seperti ini, ini jau lebih parah daripada Suho mengancam Kris akan menendangnya keluar. Ini melelahkan karena bisa membuatnya senam jantung selama berada dalam posisi seperti ini.
Kris memiringkan kepalanya dan mencium bibir Suho lembut sebentar saja. Karena Kris tidak ingin dia malah ketagihan dan akan melakukan lebih dari ini.
"Mwo ya!" salak Suho galak setelah Kris menciumnya. Badannya masih betah di antara lengan Kris karena naga china itu tidak membiarkannya kabur sedikitpun.
"Aku tahu kau akan menyerah dengan ini!" kekeh Kris seraya mencubit gemas hidung Suho.
"Ish" dengusan kecil itu terdengar saat Suho menoleh ke arah lain dan berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Mianhe, kau boleh lanjutkan kegiatanmu barusan!" Kris mencium pipi putih nan lembut itu lalu melepaskan kurungannya dan mengangkat tubuh Suho membuatnya turun dari cabinet dapur.
Suho memegangi pipinya yang kini sukses memerah dalam sekejap. Perlahan dia tersenyum dan menahan lengan Kris sebelum pemuda itu berbalik dan melanjutkan pekerjaannya mencuci piring. Suho menarik Kris dengan sekuat kenaga karena tubuh Kris sangat besar dan berat, menyudutkannya di dekat kulkas dan berjinjit lalu menciumnya.
Ah, Suho berusaha agresif sekarang. Namun seagresif apapun Suho itu akan masih kalah dengan Kris yang selalu mendominansi disetiap permainannya dengan Suho.
Tangan mungil itu kini melingkari leher Kris dan si pemuda yang lebih tinggi meresponnya dengan melingkarkan tangannya di pinggang Suho yang kelewat ramping seperti perempuan. Jika kalian lihat, mereka berdua ini memang aneh, baru beberapa menit yang lalu mereka bertengkar dan saling mengancam satu sama lain. Dan kini mereka berdua berciuman penuh passion, dan… rupanya Suho sehabis ini harus segera mandi untuk menghilangkan bekas kemerahan yang kini timbul di lehernya, tak perlu kau tanya dan aku jelaskan itu perbuatan siapa. Rasanya otak Suho dan Kris perlu diperiksakan sekarang juga.
.
.
"Ting tong"
Tak perlu diberitahu, Kris dan Suho sudah tahu itu suara bel yang mengganggu kegiatan mereka. Tapi, Suho dengan cepat melepaskan ciumannya dan berbalik lalu membuka pintu rumahnya.
Sesosok pria berambut hitam berkulit tan tersenyum dari balik pintu dengan membawa sebuah tas di tangannya. Mata Suho membulat dan tersenyum senang.
"JONG IN-AA!" teriaknya dan langsung memeluk pemuda yang lebih tinggi darinya ini, namun tidak setinggi Kris.
"Anyyeong!" sapa Kai. Kai balas memeluk Suho dan tersenyum "Bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik! Kau sudah pulang dari rumah nenekmu? Cepat sekali!" tanya Suho seraya melepaskan pelukannya dan menepuk pundak tegap Kai.
"Aigoo, kau tidak senang aku pulang lebih awal?" tanya Kai sambil berpura-pura cemberut.
"Bukan begitu, katanya kau akan pergi lama, jadi aku khawatir kalau-kalau ada sesuatu yang buruk terjadi dan menyebabkanmu pulang cepat" jelas Suho.
"Nenekku mengajakku ke Jepang untuk liburan. Jadi nanti sore aku mau ke Incheon untuk berangkat. Hehe, liburanku belum berakhir begitu saja. Kau sendiri? Hari ini kenapa tidak bekerja? Sakit?" tanya Kai heran "Aku perlu menjagamu hari ini?"
Suho menggeleng "Tidak usah, aku bukan sakit. Café tempatku bekerja sedang tutup jadi aku tidak punya pekerjaan selain belanja hari ini"
"Ah!" Kai teringat sesuatu "Ngomong-ngomong soal belanja, nenekku menitupkan banyak sayuran padamu. Panen tahun ini berhasil dan nenek membaginya padamu"
Kai menyerahkan bungkusan yang berisi banyak sekali sayuran. Mulai wortel, lobak, tomat, sawi dan lain-lain.
"Jinjja? Ah, gomawo. Sampaikan juga terima kasihku pada nenekmu. Aku jadi merasa tidak enak" Suho menggaruk tengkuknya sendiri sambil tersenyum .
Kai tersenyum kecil, lalu kemudian senyumannya berubah. Dia mengernyit mendapati sesuatu yang aneh pada sahabatnya itu.
"Suho-a, tunggu!" Kai menahan pergelangan tangan Suho membuat si kecil itu mengerjapkan matanya heran.
"Wae?" tanyanya heran.
Kai masih mengernyit "Kau sudah punya pacar?" tanya Kai dan kini membuat Suho hampir tersedak ludahnya sendiri.
"Mwo?" Suho tergagap "A.. apa maksudmu?"
Tangan Kai yang lebih besar dari miliknya kini menyentuh leher putih Suho dan menyingkap kerahnya menampakkan bekas kemerahan yang cukup pekat.
"Siapa yang menciummu?" tanya Kai dengan tatapan menyelidik membuat Suho gugup, segugup dia ditatap Kris dengan mata elangnya.
"Anii" Suho berusaha mengelak dan membenarkan letak kerahnya, menyembunyikan bekas kemerahan itu dan menata rambutnya yang berantakan dengan salah tingkah.
"Aigoo, Suho-ku sudah tidak polos lagi rupanya" ejek Kai dengan cengiran menyebalkan seperti biasanya.
Suho menggeleng keras-keras dan berusaha mengalihkan pembicaraan "Kau mau minum teh? Aku tau kau lelah. Ayo masuk"
Kai mengangguk sambil terkikik pelan.
Dan saat Suho membawa Kai masuk ke apartemennya menuju ruang makan. Aigoo… Suho ingin mencekik diri sendiri karena dia lupa Kris masih ada di dapur (yang menyatu dengan ruang makan) tengah sibuk mencuci piring dengan tangan berbalut sarung tangan karet. Dan Kai bisa berfikir macam-macam kalau melihat ini.
Kai baru saja ingin bertanya siapa pemuda yang tengah mencuci piring di sana namun Kris sudah berbalik dan menatap kai dengan tatapan horror.
"Siapa dia?" tanya Kai dan Kris bersamaan dan saling menunjuk.
Suho menggigit bibir "Teman"
Kris dan Kai sama-sama mengernyit.
"Oh, teman. Untuk apa dia mencuci piring ditempatmu pagi-pagi begini?" tanya Kai mengeluarkan suara seperti biasa namun bisa membuat Suho gugup tidak karuan. Dalam hati Kai tertawa pelan karena dia bisa menggoda temannya ini. Menarik, menarik.
"Kau sendiri untuk apa pagi-pagi datang kemari?" tanya Kris tidak senang. Ah ah, si naga china ini mulai cemburu rupanya, melihat Suho membawa masuk namja lain ke dalam apartemennya.
"Setidaknya aku datang dan tidak mencuci piring!" jawaban Kai membuat Kris melontarkan death glare mengerikan dan ditanggapi Kai dengan cengiran konyol.
"Ya! Mau aku mencuci piring atau apapun itu tidak penting, mau apa kau datang kemari?"
Ya ampun, sekarang Kris sudah berlagak seperti si tuan pemilik rumah.
"Aku bertemu dengan temanku, memang kau siapa? Apa rumah ini sudah beralih pemilik?" tanya Kai dengan heran.
"Oh ya, namaku Kim Jong In, kau bisa memanggilku Kai" Kai tersenyum kecil dan Kris membalasnya dengan tatapan dingin.
"Aku tidak tanya namamu!"
Kris merasa mengetahui nama pemuda ini tidak penting, namanya hanya penting untuk dia ingat untuk menjauhkan dia dari Suho-nya.
Suho menggigit bibir. Dia rasa perang dingin akan terjadi. Sebenarnya hanya Kris yang tidak suka dengan kehadiran Kai, Kai sendiri merasa tidak masalah, mau Suho tinggal serumah dengan orang lain itu tidak masalah baginya yang penting Suho baik-baik saja.
"YA! Kris" Suho membentak Kris keras dan memukul lengannya dengan gemas. Dia kesal karena Kris telah berperilaku tidak sopan pada kai yang notabene berstatus sebagai teman baiknya.
"Ah, jadi namamu Kris… kau tidak terlihat seperti orang korea? Biar kutebak, kau orang Amerika ya?" tanya Kai dan ini membuat Kris semakin ingin melemparkan Kai keluar jendela apartemen Suho.
"Itu bukan urusanmu" jawab Kris dingin.
"Jadi, Suho-a, dia benar temanmu?" tanya Kai sambil menuding Kris "Sepertinya kami bisa berteman juga."
Dan Kris membatin dalam hati tidak rela enak saja aku berteman denganmu.
"Ah, ya ya, dia temanku, dia membantuku membersihkan apartemen karena aku akhir-akhir ini sangat sibuk" balas Suho dan berusaha tersenyum seperti biasa.
Kris kini menatap Suho "Apa yang kau maksud dengan teman? Aku kekasihmu!"
Suho mendelikkan matanya dan kini menatap Kai yang tampak bingung dengan ucapan keduanya.
"Ah, jadi yang mana yang benar?" tanya Kai menggoda sahabatnya. Oh, lama-lama ini menyenangkan juga untuk dilakukan. Otak kai mulai terkontaminasi serbuk-serbuk virus evil milik Kyuhyun, kakak kandungnya sendiri.
"Teman"
"Kekasih"
Kai makin bingung namun dilain sisi dia makin bersemangat menggoda Suho.
Suho menoleh ka arah Kris dan melemparkan telepati 'diam-dan-jangan-bicara-macam-macam' Kris memutar bola matanya jengah 'aku-tidak-mau'
"Teman Kai, kita berdua cuma teman, hehe" ucap Suho seraya tertawa hambar yang dibuat-buat.
"Kita bahkan berciuman tadi, teman darimananya?" tanya Kris dan kini sontak membuat mata bening Suho membulat dan dia menyikut pinggang Kris. Tak tahan rasanya suho ingin segera menyekap mulut Kris.
Kai hanya diam sambil menutup mulutnya, tak tahan dengan tawanya sendiri yang seakan mau keluar. Aigoo, mereka berdua pasangan yang lucu.
"Kau jangan bercanda!" Suho berbisik keras "Jangan hiraukan dia Kai, dia mungkin mabuk setelah semalaman begadang sambil minum soju"
Kris mendelik menangkap kebohongan Suho "Apanya yang mabuk? Semalam kita tidur bersama!"
Duak!
Kris merasakan perih saat Suho menginjak sekaligus menendang kakinya dengan keras melontarkan pandangan 'apa-yang-kau-bicarakan?'
"Oh, Suho-ya, sepertinya ucapan kekasihmu ini benar. Kau buruk sekali kalau berbohong!"
Dan ucapan kai berusan seperti mengulitinya. Dia benar-benar kalah. Ya Tuhan!
"Kau mau teh, atau kopi?" tanya Suho sambil mengalihkan pembicaraan.
"Kurasa aku tidak punya waktu, aku harus kembali untuk mengemasih barangku di rumah. Dan aku rasa aku telah menganggu kalian. Kau tahu Suho-a, tidak sopan kalau aku mengganggu orang yang tengah melakukan hal privasi" ucap Kai dengan cengirannya.
Suho mengedipkan matanya cepat "Aku merasa tidak terganggu. Lagipula aku tidak melakukan hal privasi atau apapun itu"
Kai terkekeh "Bukan kau yang terganggu, tapi dia!" jemari Kai menunjuk Kris yang berdiri dengan masam sambil bersandar pada cabinet dapur "Sudah ah, aku pulang dulu. Kalau aku sudah pulang dari Jepang, kau harus mentraktirku makan sushi ya…"
Suho mengusap wajahnya sendiri yang kini memerah "YA! KAI!"
"Oh ya, jangan lupa, kalau mau melakukan sesuatu yang lebih privasi aku sarankan untuk mengunci pintu dan menutup jendela serta gordennya. Kau tahu kan, disini banyak anak kecil! Jangan sampai mereka melihatmu!"
Suho mendelik gemas "YA! Kau kira otakku mesum seperti milikmu! Dasar!"
Kai tertawa-tawa dan kini dia melangkah ke luar kamar apartemen Suho "Dah! Anyyeong! Jangan lupa pesanku tadi!"
Pintu ditutup dan Kris langsung menyidang Suho saat itu juga.
"Apa?" tanya Suho kesal "Kau senang mempermalukanku di depan Kai?"
"Ya! Siapa yang kau lebih sukai sebenarnya! Aku atau dia?" tanya Kris. Aaa, cemburu rupanya sudah menyelimuti aura Kris.
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau cemburu padaku?" tanya Suho menggoda. Kris rasanya panas sampai ke ubun-ubun.
"Ya! Kim Joon Myun!" Kris mengagetkan Suho dengan suara bassnya.
Suho kini malah tertawa dan menggelitik dagu Kris dengan gemas "Kenapa? Kau tidak suka aku punya teman seperti Kai"
Kris mengangguk "Ya, aku tidak suka"
"Aigoo, itu terserahku Wu Yi Fan, dia sahabatku dari kecil" tangan mungilnya masih saja menggelitiki dagu Kris yang dibalas dengan cemberut oleh pria bermata tajam itu.
"Dia punya wajah yang mesum" cibir Kris. dan Suho tertawa keras setelahnya.
"Kau tidak pernah bercermin ya? Wajahmu lebih mesum dari Kai!"
Dan ini sama sekali tidak memperbaiki mood Kris yang sudah rusak di pagi hari.
"Aish, aku benar-benar tidak menyukainya" dengus Kris.
Suho kini mengusap telapak tangan Kris yang lebar "Jagan dipikirkan, kau lucu sekali saat marah!"
Kris menatap tajam mata Suho "Kenapa kau juga menyebutku hanya temanmu, kita punya hubungan lebih dari teman"
"Jinjja?" Suho pura-pura terkejut "Kapan kau memintaku jadi pacarmu hah?"
Kris mendekap tubuh mungil Suho "Sekarang. Aku memintamu, kau mau jadi pacarku kan? Jangan buat cemburu lagi"
Suho tertawa "Kalau aku tidak mau bagaimana?" tanyanya balik.
Kris melepaskan pelukannya "YA!" teriaknya kesal.
"Kau memintaku kan? Jadi aku hanya punya pilihan! Ya atau tidak. Itu terserahku mau menjawab apa"
"Kau pernah mengatakan mencintaiku sebelumnya!" Kris mempotkan bibirnya. Makan apa Suho hari ini hingga dia berubah menyebalkan seperti ini?
"Kau bahkan tidur denganku, menciumku dan kencan denganku!" lanjut Kris dengan suara beratnya yang terdengar lebih keras.
"Kai juga pernah melakukannya denganku"
Satu kalimat ini membuat Kris terkejut "MWO?"
Suho tertawa keras sekarang "Aku bercanda! Aigoo, kau benar-benar sangat lucu kalau marah"
"Ini tidak lucu Kim Joon Myun!" teriak Kris "Kalau sebelum Kai datang tadi aku membuatmu kesal nyatanya kau sekarang membuatku kesal juga!"
Suho mendadak memeluk tubuh Kris dan melingkarkan tangannya ke pinggang Kris dan menenggelamkan kepalanya di dada bidang Kris yang sangat nyaman.
"Mian" ucapnya.
"Ya! Sebenarnya ada apa denganmu? Aku curiga kau benar-benar sakit!"
Suho menggeleng "Tidak! Aku memang berniat mengejaimu saja tadi! kau marah?"
Kris cemberut dan mengacak rambut Suho "Tak usah aku jawab kau pasti sudah tau"
Kris bisa merasakan Suho tertawa di dalam dekapannya "Mian mian"
"Aku bahkan masih cemburu denganmu meskipun kau sudah berkata begitu. Baru kali ini aku menemukan orang yang lebih menyebalkan dari Chanyeol!"
Suho mendongak "Siapa Chanyeol"
Sebuah smirk terbentuk di bibir Kris "Bagaimana kalau itu pacarku?"
Bibir merah milik Suho kini mengerucut sebal "YA!"
"Makanya jangan membuatku cemburu"Kris tertawa dan kini mengusap kepala Suho "Bukan. Dia bukan pacarku, dia temanku, bisa juga dibilang sahabatku"
"Jinjja? Hanya teman?"
"Kenapa? Tidak percaya? Jangan dipikirkan, dia sudah punya pacar. Lagipula dia menyebalkan begitu mana mungkin aku mau pacaran dengannya" jawab Kris.
"Aku menyebalkan, kenapa kau menyukaiku?" tanya Suho.
Kris bergumam tak jelas "Kau pengecualian" ucapnya karena tak menemukan jawaban yang tepat "Kembali ke pertanyaan awalku, apa kau mau jadi kekasihku? Kali ini jawab yang serius"
Suho melepaskan pelukannya lalu menangkup pipi Kris dan menekankan bibirnya sendiri pada bibir Kris selama beberapa saat sebelum dia melepasnya.
"Apa itu jawaban?" tanya Kris.
Suho mengangguk "Terserah kau mengartikannya apa"
Kris merentangkan tangannya dan memeluk Suho yang dengan senang hati menghambur ke pelukannya.
"Aku anggap itu sebagai 'iya'" ucap Kris "Saranghae…"
Suho mengangguk kecil seraya tersenyum.
"Nado…"
.
.
.
Malam hari Kris da Suho menghabiskan waktu dengan menonton TV. Suho terlalu lelah bekerja beberapa hari sebelumnya hingga dia tidak pernah dengar kabar berita. Sedangkan Kris, jangan tanya dia. Hidupnya yang datar membuat dia tidak terlalu memperhatikan berita.
"Kris? terima kasih sudah menemaniku belanja tadi" Suho membuka kulkas dan meletakkan beberapa butir telur kedalamnya.
"Gwaenchanha" jawab Kris sambil mematikan TV. Dia bosan menonton dan kini malah menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.
"Kau lapar tidak? Aku punya roti dan coklat di kulkas" tawar Suho dan Kris menjawabnya dengan menggeleng kecil "Aku kenyang setelah makan ddoppokki tadi"
"Sepertinya kau suka sekali disini, dasar!"
Kris terkekeh pelan "Aku menyukainya karena bersamamu"
"Kau menggodaku eoh? Sayang sekali aku sudah kebal dengan rayuanmu!"
Tawa ringan muncul dari bibir Kris.
"Kau akan kembali ke rumahmu kapan? Apa eommamu tidak khawatir?" tanya Suho sambil mendekati Kris.
"Ah, eomma?" Kris menerawang langit-langit apartemen dan menghentikan tawanya.
Suho berdiri di depan Kris sebelum akhirnya tangan Kris menariknya untuk duduk di pangkuannya. Seperti biasa dan Suho spontan akan menyandarkan kepalanya di dada Kris sambil sesekali tangannya mengusap lembut lengan Kris.
"Aku tidak punya eomma"
Suho terdiam "Tidak mungkin, apa orang tuamu bercerai?" tanya Suho lagi.
Kali ini Kris cukup lama menjawab. Dan Suho jadi merasa tidak enak karena mengungkit hal yang privasi dari seorang Kris "Kau tidak perlu menjawabnya jika itu membuatmu tidak nyaman. Mianhe"
Kris mengecup singkat kepala Suho "Aku tidak bisa terus menutupi ini. jadi aku rasa aku bisa menceritakannya padamu"
Suho mendongak menatap Kris dengan mata imutnya "Tidak apa-apa?"
Kris mengangguk "Meskipun sebenarnya aku tidak mau mengungkitnya lagi, kurasa ini tidak apa-apa kalau aku cerita padamu"
Suho mengelus lengan kekar Kris dan mengecup punggung tangannya.
"Eommaku pergi dari rumah" jelas Kris dan itu membuat Suho terkejut "… dia berselingkuh dengan pria lain saat usiaku 9 tahun"
Suho diam saja dan tidak bertanya, membiarkan Kris melanjutkan ceritanya "Eomma yang selalu sibuk dengan pekerjaannya dan tiba-tiba menghilang bersama orang lain, bukankah itu menjengkelkan?"
Kris menghela nafas panjang "Kau tahu, Suho-a, alasan kenapa aku suka tidur denganmu, memasak bersamamu, jalan-jalan bersamamu dan menggandeng tanganmu? Itu karena aku tidak pernah melakukannya sebelumnya. Aku tidak punya eomma maupun appa yang sudi melakukan hal ini padaku. Alasan aku selalu merasa nyaman ketika ada di dekatmu dan kau menyentuhku dengan tangan lembutmu adalah karena aku tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya. Dan aku menyadari kalau rasanya sangat menyenangkan"
"Aku marah dengan eomma karena dia yang tidak pernah memperhatikanku dan tiba-tiba hilang lalu meninggalkanku sendirian. Membiarkanku dan tidak pernah kembali, eomma yang tidak pernah memberikan sebuah ciuman sebelum tidur maupun tidak pernah memasak sarapan untukku, membuatku iri dengan orang lain yang punya eomma… iri karena mereka pernah merasakan sentuhan lembut seorang eomma dalam hidupnya"
Suho memeluk Kris lebih erat. Bodoh. Suho merasa bodoh karena dia sekarang menangis dan tidak bisa menghibur Kris. dia merasa berslah sekarang.
"Aku benci eommaku sendiri yang tidak pernah ada untukku, ketika aku bangun yang aku lihat hanyalah ruangan kamarku yang luas dan kosong… setiap aku ke dapur aku hanya menemukan Sekertaris Lee bersama para pembantuku yang lain. Dan sejak usiaku 9 tahun itu, aku menyadari kalau aku memang tidak pernah punya eomma"
"Kriss" Suho mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan isakannya di dada Kris dan Suho bisa merasakan nafas Kris yang berat menceritakan itu semua. Suho juga bisa merasakan kalau sebuah tangan membelai punggungnya dan menepuknya.
Apa ini? kau memang bodoh Kim Joon Myun, seharusnya kau yang menghibur Kris! Pabboo!
Batin Suho berkata keras namun dari mulutnya tidak keluar apapun.
"Aku muak dengan keluargaku, dengan eomma dan dengan appa juga… aku benci Appa karena setelah tahu eomma sudah pergi kenapa dia tidak menghiburku, kenapa dia tidak berusaha mencari istrinya dan menenangkanku yang seharian menangis di kamar mandi? Kenapa dia bisa santai bekerja? Aku muak dengan apa yang terjadi padaku Joon Myun-a, ini semua menyebalkan! Aku juga sadar mulai saat itu, kalau sesungguhnya aku juga tidak punya appa, aku tidak punya apapun,membuatku tidak percaya akan keluarga konyolku sendiri. Ini semua membuat batinku tersiksa setiap hari"
"Kriss, hentikan! Jangan lanjutkan ceritamu, aku mohon" Suho mendongak mendapati Kris yang mulai meneteskan air mata tapi tidak terisak.
"Mianhe, aku sebenarnya tidak mau kau terseret masalah keluargaku. Tapi aku sungguh mencintaimu… aku sungguh..."
Suho mencium bibir yang bergetar itu menggenggam tangan Kris kuat-kuat dan melepaskan ciumannya beberapa saat setelahnya "Jangan menangis, kau punya aku"
Tangan lembut seperti tepung itu kini menghapus air mata yang turun di pipi Kris.
"Apa menyenangkan punya eomma dan appa? Bagaimana rasanya mempunyai keluarga yang bahagia?" tanya Kris "Aku tidak pernah tahu rasanya"
Suho menghela nafasnya panjang "Kriss… mian, telah membuatmu menceritakan ini! jangan lanjutkan kalau itu bisa melukai hatimu"
Dengan gemetar, Kris mendekap tubuh mungil itu, merasa beruntung karena akhirnya dia punya seorang yang bisa dia gunakan sebagai tempat bersandar.
"Aku kira Tuhan tidak adil hanya padaku, kukira orang yang paling menyedihkan hanya aku" isak Suho sambil menggenggam tangan Kris erat-erat. Dia ingat kedua orang tuanya yang sudah meninggal.
"Kau tidak usah menceritakannya padaku. Aku tidak ingin kau menangis lebih dari ini. aku menjadi merasa bersalah padamu" ucap Kris namun Suho malah menggeleng.
"Kau sudah berbagi cerita denganku, kini aku harus membagi ceritaku padamu"
Suho menyamankan duduknya dalam pangkuan Kris dan kini dia mulai bercerita "Orang tuaku meninggal saat aku kelas 3 SMP. Saat itu aku mengkuti lomba final olahraga tae kwon do"
Kris mengusap lengan Suho membuat Suho semakin nyaman ada dalam pangkuan Kris "Mereka terkena kecelakaan beruntun dan langsung meninggal di tempat. Hari itu aku menangis karena aku kehilangan mereka untuk selamanya, aku menyalahkan Tuhan karena Beliau telah mengambil orang yang aku cintai"
"Tapi setidaknya kau pernah merasakan cinta mereka" ucap Kris datar.
Suho mengangguk "Aku baru menyadari kalau menangis tidak berguna. Aku hanya ingat pesan terakhir kedua orang tuaku sebelum mereka meninggal. Pesan yang mereka sampaikan sebelum aku tidur. Eomma dan appaku berkata 'Joon Myun-a, seperti apapun keadaan dunia ini, kau harus terus hidup dan berjuang, kalau eomma dan appa sudah tidak ada di sisi Joon Myun, maka Joon Myun harus hidup. Hiduplah untuk eomma dan appa dan temui kami dengan bangga saat kau sudah berhasil nanti, hiduplah dengan bahagia, apapun yang terjadi, hiduplah dengan damai' hanya itu yang aku pegang sampai sekarang"
Suho merasa air matanya akan menetes lagi namun dia menahannya "Sejak saat itu, aku hanya ingin hidup. Hidup untuk mewujudkan keinginan appa dan eomma, aku tak percaya pada cinta setelah kematian mereka. Aku tidak percaya itu semua karena aku telah kehilangan 2 orang yang berharga" isak Suho.
Tangan putih nan mungil itu kini menelusuri wajah Kris, mungusapnya lembut dan berusaha tersenyum.
"Tapi itu semua berubah karena aku bertemu denganmu"
Kris menghapus air mata Suho dengan lembut "Aku juga merasakan hal yang sama denganmu"
Untuk beberapa saat mereka berdua saling terdiam dan mengatur nafas, merasakan cinta masing-masing saat kedua tangan itu bertautan erat.
"Kriss-a, gomawo" lirih Suho "Sudah membuatku percaya akan cinta"
Kris mengangguk "Aku yang harusnya lebih banyak berterima kasih padamu"
Suho menatap manik mata Kris dalam dengan iris coklatnya "Huh?"
Tangan kekar itu kembali mendekap erat Suho dan berbisik tepat di telinga kecil itu membuat Suho sedikit merinding.
"Terima kasih…"
.
.
"… karena telah memberiku sebuah alasan untuk hidup"
.
.
.
.
TBC
.
.
HEYAAAA ! *larilari (?)
Ini ff makin gaje ya? Aduh aduh, tapi kan Rae Yoo udah update jadi gak papa dong ;D *bruak *dilempar sandal
Masalah konflik masih Rae Yoo rahasiain, kan enggak seru kalau diceritain. Hehe, tapi mungkin konfliknya enggak wow-dasyat-cetar gitu, hehehe..
Oh ya, selamat natal… bagi yang merayakannya, maaf telat. Terima kasih bagi yang sudah bersedia lumutan gegara nungguin ini ff.. yang memfollow dan favorite, yang ngereview juga, siders juga semua deh! Mumumumuuuu….. :***
Sampai jumpa di chapter depan..
Salam Krisho *lempar banner Krisho *lempar dollar juga…
DADAAHHH…
SARANGHAE ! 3
/deep bow/
.
.
Sung Rae Yoo ^^
