Author's :
Ini saya taruh note di awal biar waktu kalian selesai baca chap ini gak kehilangan feels.
Sedikit cerita ya. Jadi, kemarin teman saya habis dari Korea. Dan dia sempet nongkrong di kafe depan BigHit. Dia nongkrong lama banget, kalo ga salah dari jam 11 sampe jam 6-an gitu.
Nah kan, sekitar sore gitu ada member keluar dari gedung BigHit. Dan itu SUGA sama Jimin;)
—duh, bayangin aja, dia ketemu mereka di jarak sedeket itu:')
Saya yang diceritain aja rasanya udah mau jempling :')
Udah, ah, selamat membaca ya kalian;)
.
.
Aiko Shimazaki present
SUGA
.
a BTS fanfiction
.
.
Kim Namjoon sudah jarang bertemu dengan Yoongi maupun Hoseok selama seminggu ini. Ia bahkan tidak lagi main ke studio Yoongi, dan lelaki itu pernah sekali mengiriminya pesan, menanyakan bagaimana baiknya lagu yang sudah dibuat Namjoon atas nama RM tersebut. Tentu saja Namjoon berkata bahwa ia akan mengedarkan itu, entah kapan dan bagaimana.
Ini semua karena Namjoon sudah berhasil mendapatkan pekerjaan di perusahaan, Kim Corp. Seminggu ini Namjoon berusaha memberikan kesan yang baik bagi pegawai lainnya.
"Ya, Hoseok?" Namjoon mengangkat panggilan dari Hoseok. Hari ini adalah akhir pekan, Namjoon berniat menghabiskan hari dengan berkencan bersama tunangannya sebelum teringat bahwa Yoongi sudah meminta untuk bertemu hari ini sejak seminggu lalu.
Namjoon mengerutkan kening ketika Hoseok menyuruhnya datang ke restoran milik tunangan Namjoon. Yah, bukan masalah besar sebenarnya, ia senang-senang saja disuruh bertemu dengan tunangannya. Namun, Namjoon bahkan disuruh memesankan meja atas nama SUGA.
"Kemana Yoongi?" tanya Namjoon. Oh, ayolah, apa benar-benar harus dia yang memesankan meja untuk Yoongi?
"Bersama Jungkook," jawab Hoseok di seberang sana. "Keponakanmu itu benar-benar sedang manja-manjanya. Lain kali jangan biarkan dia berlibur kemari."
Namjoon hampir tertawa, namun ditahannya dan diganti dengan dengusan geli. "Dia bukan keponakan," jawab Namjoon, "dia sepupu tunanganku."
"Sama saja!"
"Jadi, kemana perginya Jungkookie dan Yoongi?"
"Tidak tahu. Sepertinya Jungkook ingin diantarkan ke suatu tempat."
"Baiklah, aku akan memesankan mejanya. Untuk jam berapa?"
"Bagaimana kalau sekalian makan malam?"
"Uh, itu akan susah, Hoseok. Kecuali kalau kau mau mengambil lantai teratas, dimana hanya ada aku dan—"
"Baik. Aku tahu restoran kalian sangat ramai di jam-jam seperti itu, dan mungkin reservasi sudah penuh. Ini akhir pekan, aku lupa." Hoseok memotong ucapan Namjoon di ujung sana, "Kalau begitu sore saja. Tapi aku tidak bisa lama. Karena kelasku dan Jimin ada di sore ini. Seharusnya sekarang kita berangkat. Tapi Yoongi malah dihadang Jungkook."
"Apa kau juga akan datang?" tanya Namjoon.
"Uh, ya, tentu. Kenapa tidak?"
Namjoon mendengus. "Tidak apa-apa. Aku hanya bertanya."
Namjoon mematikan sambungan, kemudian ia beralih menelepon kekasihnya.
.
.
Akhir pekan. Jimin memilih tidak mengambil kelas apapun hari ini. Dan Jimin sudah menghabiskan lebih dari setengah hari hanya untuk bercermin dan menggonti-ganti pakaiannya.
Taehyung sedang mengerjakan tugas di kamar Jimin, sesekali ia memerhatikan bagaimana ricuhnya Jimin menilai bayangannya sendiri di depan cermin dan juga bagaimana kerasnya ia membanting pakaian-pakaian yang dianggapnya gagal.
"Tae, bagaimana dengan ini?" Jimin berbicara untuk mengalihkan perhatian Taehyung dari laptop yang berada di pangkuannya.
Taehyung menoleh dan mendapati Jimin mengenakan kemeja putih tipis berlengan pendek dan celana jeans. Terlihat biasa, memang. Rambut merah mudanya disisir sedemikian rupa hingga menampilkan dahinya. Taehyung mengagumi rupa Jimin dalam hati, kemudian ia berdecak setuju.
"Itu saja."
Jimin memberengut. "Tidakkah ini terlalu biasa—maksudku, ini SUGA, Tae. Haruskah aku memakai pakaian yang lebih baik?"
"Tidak," kata Taehyung santai, "itu sudah sangat bagus, Jiminie."
Jimin memutar kedua bola matanya. Kemudian ia melirik layar laptop yang bersinar terang. "Tugas yang mana itu, Tae?"
"Ah, ini, yang presentasi. Kau bersama Taemin, kan?"
Jimin mencoba mengingat-ingat sejenak sebelum menjerit histeris. "Astaga, aku lupa! Bagaimana ini? Kapan harus selesai?"
"Minggu depan," jawab Taehyung santai.
Dan itu membuat Jimin mendesah lega. "Masih minggu depan rupanya. Huh, mengagetkanku saja," gerutunya kesal. Jimin beralih menatap cermin lagi lalu tersenyum senang. Oke, sepertinya ia akan memakai baju ini saja.
"Omong-omong, Jim. Kau berangkat jam berapa?"
Jimin melirik jam dinding yang dipasang di kamarnya. "Entahlah, Hoseok-hyung berkata bahwa ia akan menjemputku."
Taehyung mengangguk mengerti. "Lalu setelah itu kau ada kelas, kan?"
Jimin mengangguk. Agak sedih sebenarnya. Ia hanya diberi waktu yang sedikit untuk bertemu dengan SUGA.
"Lalu, Tae," Jimin beralih lagi pada Taehyung yang sudah menyibukkan diri kembali pada laptopnya, "apa kau akan tetap di sini selama aku pergi?"
"Kurasa tidak. Aku akan pulang setelah kau pergi."
Jimin mengangguk mengerti. Ia mendudukkan diri di bagian kasur yang kosong dan ikut memandang layar laptop. Diam-diam menyontek hasil pekerjaan Taehyung.
.
.
Hoseok menjemputnya jam tiga sore. Padahal kelas mereka akan mulai di jam empat sore. Jimin hanya tersenyum dan terus-terusan meyakinkan diri bahwa tidak apa-apa, tidak apa-apa. Jimin tidak boleh egois, SUGA pasti punya kesibukan sendiri.
Jimin terus-terusan mencengkram seatbelt-nya dengan harapan hal itu bisa mengurangi rasa gugupnya yang berlebihan. Jimin bukan orang yang pintar bicara, ia canggung setengah mati. Ia sama sekali tidak membayangkan hal-hal apa saja yang harus ia bicarakan. Jimin senang dan gusar di saat yang sama.
Hoseok yang melihat itu hanya bisa terkekeh tanpa suara. Lelaki itu terus-terusan mengulum senyum dibalik kemudi. Entahlah, melihat Jimin yang seperti ini membuatnya senang. Lucu memang.
Ia merasa sedikit menyesal karena hanya bisa memberikan waktu yang singkat bagi Jimin untuk bertemu dengan SUGA. Satu jam itu sudah termasuk perjalanan mereka dari rumah Jimin ke restoran, dan dari restoran ke studio. Maka waktu total Jimin berbincang bisa-bisa kurang dari tiga puluh menit.
"Hyung," pangil Jimin lirih. "Bagaimana—bagaimana kalau SUGA tidak menyukaiku?"
"Apa dia memiliki alasan untuk menyukaimu, Jimin-ah?" Hoseok berkata dengan nada geli.
Jimin merasa malu. Ia sadar bahwa pertanyaannya salah. "Bukan!" seru Jimin terlampau cepat. "Maksudku, bagaimana kalau dia membenciku karena sudah mengganggu jadwalnya?"
Hoseok tidak bisa menahan tawa gemasnya. Astaga, Jimin sekarang sedang mengerucutkan bibir lucu. Memangnya dia perempuan apa? Kenapa pakai acara ngambek sok imut segala seperti itu?
"Tidak, Jimin-ah. Dia yang meminta bertemu denganmu, ingat?"
"Benar?"
"Benar."
Jimin menghempaskan punggungnya keras ke sandaran kursi. Ia menarik napas kuat dan menghembuskannya begitu saja. "Ya Tuhan, aku gugup sekali..."
Hoseok melajukan mobilnya hingga sampai pada sebuah restoran terkenal. Jimin tahu restoran ini karena ibunya kerap mengeluhkan kalau sulit sekali melakukan reservasi di sana. Restoran ini selalu penuh.
Jimin keluar dari mobil dan berdecak kagum. Restoran buka di jam-jam tertentu, di jam makan siang, dan makan malam. Sepertinya SUGA benar-benar orang yang luar biasa hingga ia diberi perkecualian untuk melakukan reservasi di jam-jam sore seperti ini.
Hoseok dan Jimin melangkah masuk bersamaan. Namun baru selangkah melewati pintu masuk, ponsel Hoseok berdering nyaring, hal itu membuat keduanya berhenti melangkah.
Hoseok mengangkat panggilan itu dan memberi isyarat pada Jimin untuk pergi mendahuluinya. Hoseok juga beralih pada seorang pelayan, meminta tolong padanya untuk menunjukkan Jimin dimana SUGA sudah menunggu mereka.
"Mari saya antarkan, Sir."
Jimin bisa merasakan rasa percaya dirinya ambruk hingga menyentuh titik terendah hanya karena pelayan itu memanggilnya Sir—entahlah, Jimin merasa ia tidak pantas akan apapun sekarang. Terlebih, ia semakin merasa bahwa ia tidak pantas bertemu dengan SUGA. Apalagi Hoseok meninggalkannya sendiri seperti ini. Astaga.
Jimin berjalan mengikuti si pelayan tanpa banyak bicara. Ia menggigit bibirnya beberapa kali. Dan mencoba mengatur napas, karena Jimin beberapa kali lupa bahwa bernapas adalah kebutuhan, ia kerap menahan napasnya.
Si pelayan mengantarkannya pada meja di tengah ruangan. Di sana sudah ditempati oleh seorang laki-laki. Dan Jimin hampir memekik ketika lelaki itu menoleh ke arahnya.
"Park Jimin?"
.
.
Jimin sudah duduk manis. Ia mengulum senyum dan berusaha menahan diri untuk tidak bersikap bodoh. Ada sepasang gelas berisi anggur mahal di hadapannya. Entahlah, Jimin tidak berminat untuk menyentuhnya, ia menegaknya sekali hanya untuk formalitas.
"Namaku Kim Namjoon," lelaki itu memperkenalkan diri, "senang bertemu denganmu."
Jimin tersenyum lebar. Ia bisa mengenali lelaki itu. Namjoon adalah seseorang yang ia tabrak tempo hari di sebuah pesta. Namun, sepertinya Namjoon tidak mengingatnya—atau mungkin ia hanya tidak mau membahasnya? Entahlah, Jimin tidak tahu. "Saya Park Jimin. Dan uh—senang bertemu juga dengan Anda, umm—"
"Namjoon. Kau bisa memanggilku Namjoon."
"Namjoon-ssi."
Namjoon terlihat senang akan panggilan itu. Ia tersenyum kecil. "Maafkan temanku, dia datang terlambat hari ini."
Jimin terdiam. Teman? Uh, apakah teman yang Namjoon maksud itu adalah orang yang selama ini membantunya dalam membuat lagu?
"Apa teman yang Anda maksud itu adalah orang yang selalu membantu Anda dalam membuat lagu?"
"Kau mengetahuinya?" Namjoon terlihat terkejut. Ia mencondongkan tubuhnya dan menatap Jimin dengan penuh minat.
Jimin semakin gugup. "Uh, Hoseok-hyung pernah bercerita." Ia menatap Namjoon dengan tatapan tidak yakin. "Uh, ya, saya sangat suka dengan lagu-lagu buatan Anda."
"Kau pernah mendengar laguku?" Namjoon terlihat terkejut. "Oh, apa kau mengenal Rap Monster?"
Jimin mengangguk. "Teman saya penggemar berat Rap Monster. Minggu kemarin adalah konser terakhirnya, benar?"
"Kau benar!" seru Namjoon puas.
Jimin kemudian terdiam malu. Ia tidak tahu SUGA-nya mengenal Rap Monster. Mereka terdiam beberapa saat sebelum akhirnya terdengar langkah kaki terburu-buru dari arah pintu masuk.
"Apa aku terlambat?" Jimin menolehkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang, dan kemudian ia merasa menyesal karena sudah menoleh.
Karena Min Yoongi berdiri di sana.
Dadanya bergemuruh kencang, dan tanpa sadar rahangnya mengeras. Kebencian seolah mengumpul di salah satu sudut hatinya, dan ia merasa serba salah. Jimin tidak tahu kalau dunia bisa sesempit ini. Kenapa Min Yoongi bisa ada di sini?
Jimin kemudian berdiri dan menundukkan badannya demi formalitas. Tidak berlangsung lama karena ia segera mengangkat tubuhnya dan mendudukkan diri lagi.
"Kau tidak terlambat, Yoongi-ah."
Jimin mengulum senyum ketika Namjoon meliriknya untuk memastikan keadaannya, tidak sulit. Jimin rasanya sudah lebih dari terbiasa untuk berpura-pura. "Salam kenal, nama saya—"
Yoongi yang baru saja duduk di sebelah Namjoon buru-buru menyela. "Aku tahu. Kau Park Jimin."
Namjoon yang melihat tingkah Yoongi melotot tidak suka. "Hei, jaga sopan santunmu."
Yoongi mencibir. Ia memerhatikan Jimin dari puncak kepala hingga ujung kaki. Jimin ternyata sampai repot-repot menata rambutnya, padahal Yoongi lebih suka dengan rambut Jimin yang jatuh menutupi dahi. Lalu—sial, apa lelaki merah muda itu harus mengenakan kemeja putih? Yoongi yang melihat itu hanya bisa menelan ludah gugup, ia tidak tahu bahwa seseorang bisa seseksi ini hanya dengan mengenakan kemeja putih berlengan pendek.
Jimin yang melihat Namjoon memarahi Yoongi hanya tersenyum lebar tanpa bicara apa-apa, tidak tahu mengapa tapi ia merasa rasa kesalnya sedikit terangkat karena Namjoon memarahi Yoongi seperti itu. Senyuman Jimin itu malah membuat Yoongi kembali merasa risih.
"Apa ada hal penting yang masih harus kau sampaikan?"
"Uh—tidak. Saya sudah cukup senang dengan bertemu dengan SUGA-ssi. Terima kasih karena sudah mau repot-repot datang kemari, Namjoon-ssi dan Yoongi-ssi."
"Hyung," ujar Yoongi, membuat Jimin melempar tatapan tidak paham kepadanga, "panggil kami dengan sebutan hyung."
Jimin mengangguk kecil. Tidak berminat menyulut perdebatan dengan menolak perintah Yoongi, meskipun ia jengkel setengah mati dengan pria itu. "Baiklah, Hyung."
Dan hal itu membuat Yoongi tersenyum puas. "Kau tidak ingin meminta tanda tangan?"
Jimin tersentak dengan pertanyaan mendadak yang diluncurkan Yoongi. Entahlah, nada suara Yoongi benar-benar terkesan menyindir. Ia merasa tidak enak hanya dengan mendengar Yoongi bertanya seperti itu. "Uh, tidak. Saya tidak membawa kertas apapun."
"Bocah aneh," ketus Yoongi. "Sungguh, untuk apa kau bertemu dengan kami kalau begitu?"
"Hanya ingin." Jimin meringis. Rasanya, ia mulai paham bagaimana sikap Yoongi. Pria itu suka asal ceplos, bahkan lebih parah dari Taehyung. "Uh, saya bukan maniak. Saya benar-benar suka lagu-lagu SUGA karena komposisinya yang sangat bagus. Bahkan saya suka sebelum saya tahu bahwa semua lagu favorit saya adalah lagu yang dibuat oleh SUGA."
Yoongi mengangkat alis. Diam-diam menahan senyuman lebar yang gatal ingin terukir di bibirnya.
"Jimin-ah!" suara Hoseok yang berteriak kencang seakan-akan menggema di ruangan. "Uh, mdaafkan aku. Sepertinya kalian sedang seru-serunya berbincang, ya?"
Jimin berdiri dari duduknya dan menghadap Hoseok. "Tidak apa-apa, Hyung," ujar Jimin, "ada apa, Hyung?"
Hoseok tersenyum lembut karena ia merasa senang Jimin bisa bersikap maklum dan menghormatinya seperti ini. "Sudah satu jam."
Jimin terlihat terkejut. Ia tidak tahu bahwa waktu bisa berputar secepat ini. Ia menatap Namjoon dan Yoongi secara bergantian kemudian menunduk. "Terima kasih atas waktunya."
Kemudian Jimin beralih pada Hoseok. "Ayo, Hyung."
"Jimin."
Ketiga orang langsung melempar pandangan pada sang pembuka suara. Ini sangat aneh, karena yang baru saja menahan Jimin untuk tetap tinggal adalah Yoongi. Min Yoongi yang itu.
"Ada apa?" tanya Jimin hati-hati. Karena jujur saja, ia sedikit takut dengan Yoongi. Walaupun ia sudah membulatkan tekad untuk melupakan hal-hal yang sudah terjadi di antara mereka.
"Tidak jadi."
Aneh, batin Jimin. Namun ia tidak mengambil pusing dan memilih berjalan bersama Hoseok menuju pintu keluar.
.
.
Malam harinya, Jimin sudah lelah sekali. Ia segera mandi dan berbaring di atas tempat tidur. Ibunya belum pulang, tumben sekali. Mungkin wanita itu sedang lembur mengejar deadline.
Jimin menimang-nimang, ia memang lelah namun tidak mengantuk. Maka dari itu, ia mengambil ponselnya dan mulai memainkan benda tersebut.
Jimin membuka aplikasi chatting, membuka kontaknya dan mencari mangsa yang bisa ia spam malam ini. Dan nama Taehyung muncul begitu saja, ia baru saja mengirimi Jimin pesan, mengingatkan untuk makan malam.
Uh, baiknya sahabatnya satu ini.
Tanpa berpikir panjang, Jimin segera menelepon Taehyung. Sebenarnya ia ingin video call, tapi urung karena ia sedang tidak ingin melihat wajah lelaki itu.
Taehyung menjawab panggilannya cepat sekali. "Halo, Jim?"
"Taehyungie~"
"Oh, apa ada hal baik? Sukses, kan, bertemu dengan SUGA nya?"
Jimin terkikik. "Sukses, dong. Dia orang yang hebat. Ramah sekali. Baik hati juga. Hehehe."
Taehyung tentu ikut senang mendengar Jimin berbicara dengan nada bahagia seperti itu. "Itu bagus, Jiminie."
Jimin semakin senang. Ia suka bagaimana Taehyung ikut senang akan dirinya. "Aku takut sekali kalau ia menolak bertemu denganku. Hoseok-hyung dulu pernah mengatakan bahwa ia enggan menemuiku. Tapi tiba-tiba ia mau menemuiku begitu saja. Aneh, kan?"
Taehyung di sana berdecak. "Tidak aneh," katanya, "kurasa mereka baru saja mendapat hidayah untuk menemuimu, makanya seperti itu."
Jimin tergelak dalam tawa. Taehyung dan pikiran anehnya mulai berulah.
"Omong-omong, kau tahu siapa nama aslinya?" tanya Taehyung antusias.
"Kim Namjoon," jawab Jimin tak kalah antusias, ia hampir menjerit ketika menjawab pertanyaan Taehyung tersebut. "Nama asli SUGA adalah Kim Namjoon."
.
.
to be continued.
