Halo assalamualaikum readerssss~~~

Haduh maaf saya sekarang update rada lamaan. Kerana banyak tugas dikampus huhu *curhat lagi* saya kembali dengan 'am i?' Chap 6 ! ayo ayo dibaca~ kkk and selalu saya katakan DONT BE SILENT READERS okay? Review kalian terkadang menginspirasi saya untuk melanjutkan cerita ini dan membuat saya semakin semangat melanjutkannya hehe. Okelah cekidot

HAPPY READING

WARNING BOYS LOVE

DISLIKE? KLICK 'BACK' BUTTON

LIKE? SCROLL KEBAWAH(?)

.

.

.

Menginap? Biar ku perjelas, aku tidur bersama Chanyeol? satu kamar? Diranjang yang sama?

"baiklah. Kerjakan dulu sampai benar." Chanyeol hanyalah mahasiswa yang tidak lebih pintar dariku. Maksutku dia butuh dua kali penjelasan agar benar-benar mengerti. Tidur satu ranjang dengan chanyeol adalah hal yang mustahil.

"jangan menyesal dengan keputusanmu, Byun Baekhyun. Kkk" oh dia menarik salah satu sudut bibirnya. Meski tidak semengerikan 'Si Dewa Menyeringai' tapi itu cukup menjijikan.

Chanyeol dengan fokus yang tinggi berkutat dengan soal yang aku berikan. Keningnya berkerut. Alisnya bertaut. Dengan gemas dia menggigit bibirnya. Iris matanya bergerak dari kiri ke kanan atas ke bawah. Membolak-balik kertas dengan banyak angka didalamnya. Aku terkikik dalam hati. Jarang sekali aku melihat Chanyeol seserius ini. Aku memungut handphone disamping kakiku. Membuka kamera dan mengarahkannya ke Chanyeol. memotretnya diam-diam.

"sudah!" Chanyeol menyerahkan dua lembar kertas padaku. Cengiran bodoh menempel dibawah hidungnya.

Aku memeriksa hasilnya. Dengan teliti aku menghitung deretan angka yang Chanyeol buat. Aha!

"ini. kau membuat kesalahan disini." Aku menunjuk tiga angka. Melingkarinya dengan spidol merah. "kau seharusnya menambahnya. Bukan mengalinya. Bodoh." Aku memukul kening chanyeol pelan dengan spidol ditanganku.

"hanya kesalahan kecil. Tapi aku mengerti cara mengerjakannya." Chanyeol membela diri.

"tetap saja salah ya salah. Jadi kesepakatan dibatalkan." Aku membereskan semua alat tulis. Memasukkannya kedalam ranselku. Chanyeol tiba-tiba berdiri berkancak pinggang.

"bagaimana bisa seperti itu?!" aku mendongak. Chanyeol tinggi sekali dari sini. "kau tetap harus menginap disini. Denganku. Disana." Chanyeol menunjuk ranjangnya. Apa? Ranjang? Berdua?

"aku dan kau? Tidur bersama? Lebih baik aku pulang."

"siapa yang akan mengantarmu pulang? Aku lelah." Chanyeol berjalan santai ke arah tempat tidurnya. Berbaring dengan santainya. "ahh..nyamannya. kau tidak menginginkannya? Ini sudah larut."

"tidak. Kalau begitu aku pulang sendiri saja." Aku menggendong ranselku. Membalik badan hendak membuka pintu.

"hey! Baekki. Tunggu! Ini sudah hampir jam 11. Sangat berbahaya pulang sendirian untuk laki-laki kecil dan imut seperti mu. Nanti kalau ada paman-paman yang nakal dan hendak memperkosamu bagaimana?" oh Chanyeol paman-paman akan lebih tertarik dengan perempuan dari pada aku. "menginaplah disini. Sekali saja. Besok kan hari libur. Kau bisa menghubungi orang tuamu. Besok aku akan mengantarmu pulang."

"mereka akan khawatir."

"kumohon. Apa salahnya tidur satu ranjang denganku? Kita sama-sama laki-laki 'kan?" benar juga. Kenapa aku harus berpikiran macam-macam. "kau bilang kau normal." Ya! tentu saja aku normal.

"baiklah."

Aku duduk ditepi ranjang. Sedangkan Chanyeol kini sedang memilihkan kaos tipis dan celan pendek untukku. Tidak banyak yang aku lakukan hanya menunggu Chanyeol menyerahkan baju lalu psegera pergi tidur.

"mandi lah jika kau ingin. Dan pakai ini" aku menerima t-shirt hijau dengan kerah V yang kebesaran bahkan setelah aku memakai celana pendek pun terlihat seperti aku tidak memakainya. "maaf jika ukurannya tidak sesuai. Tubuhmu yang terlalu kecil kkk"

Aku membuka keran air hangat. Pancuran air dari shower menyentuh kulit kepalaku. Rasanya seperti dipijat-pijat. Membasuh tubuhku dengan sabun yang sama dengan Chanyeol. aku tidak terlalu mengerti aroma apa ini tapi sangat harum dan..memabukkan?

"oh hangat dan harum" aku mendongak memejamkan mata. bayangan Chanyeol datang dalam pikiranku. Saat dia memasangkan sabuk pengaman, menungguku selama aku latihan, memberikan air minum setelah aku selesai latihan, mengantarku pulang setiap hari dan aku menerimanya dengan senang hati. Sikap yang ia tunjukan selama ini apa tidak berlebihan? Aku rasa Chanyeol sudah terlalu baik padaku. Dan apa yang sudah aku berikan padanya? Kejutan ulang tahun? Hanya satu hal yang aku lakukan untuknya dari sekian kebaikan yang telah chanyeol lakukan untukku.

Tok tok tok

"Baekki jangan lama-lama mandinya. Cepat keluar nanti kau sakit."

"ah ya. sebentar." Aku menarik handuk. Mengusap seluruh tubuhku dengan lembut lalu memakai baju Chanyeol. Baju Chanyeol...rasanya seperti dipeluk oleh Chanyeol.. "arhhh pikiran kotor macam apa ini!" aku membentur kan keningku kepintu.

"Baekki? Kau oke?" aku membuka pintu.

"ya. ayo tidur."

11.03

Kami tidur bersebelahan. Saling memunggugi. Tubuhku rasanya kaku. Sangat canggung seranjang dengan orang yang pernah menyatakan cinta padamu.

"Baek, apa kau sudah tidur?"

"belum." Aku merasakan pergerakan dibalik punggungku.

"aku juga." Aku diam. apa lagi yang perlu dibicarakan? "kau dan Minah semakin akrab." Lagi-lagi masalah ini.

"ya. karena kami akan pentas bersama."

"bukan itu. Kalian benar-benar akrab dalam hal yang lain. Diluar PS" aku membalik badan. Bertemu mata dengan Chanyeol. Ya tuhan ini terlalu dekat! Pipiku memanas. Darah mengalir deras kesana, merubah warna pipiku. Beruntung lampu kamar dimatikan.

"aku pikir tidak seperti itu."

"apa kau menyukainya? Minah gadis yang cantik, baik, pintar dan suaranya bagus. Sama sepertimu."

"aku tidak cantik, Yeol." Chanyeol terkekeh.

"jawab pertanyaanku."

"entahlah. Bisa jadi iya."

"apa kau tidak ingin mencobanya?" Chanyeol bergumam. Tidak jelas.

"apa?"

"apa kau tidak ingin mencoba?"

"mencoba? Apa?"

"mencintaiku? " alisku terangkat. Mata bulan sabitku kini menjadi purnama. "kau selalu mengatakan bahwa kau laki-laki normal. Tapi kau selalu menerima semua perlakuan yang aku berikan padamu. Apa kau tidak menyadarinya? Semua yang aku lakukan padamu selama ini karena aku berharap kau akan memiliki perasaan yang sama padaku suatu hari nanti. Dan hingga sekarang aku menunggunya, menunggumu apa kau benar-benar laki-laki yang normal atau bukan. Minah, dia selalu menempel dilenganmu, merajuk seperti kekasihmu. Jika kau benar-benar laki-laki yang normal rasakan pasti ada getaran dalam hatimu. Seperti kau menyukainya atau menikmati setiap sentuhan Minah, semacam itu. Apa kau merasakannya, Baekhyun?" Ya tuhan..aku harus apa.

"aku akan membuktikan bahwa aku laki-laki normal. Tunggu hingga aku mendapatkan Minah menjadi kekasihku. Dan mulai saat itu juga berhentilah menyukaiku dan kembalilah pada yejin. Aku yakin dia masih sangat menyayangimu."

"lupakan Yejin. Ini tentang kita, Baekhyun." Chanyeol membentakku? "Kau boleh saja berusaha untuk meyakinkan orang lain bahwa kau laki-laki normal. Tapi bisakah kau berusaha untuk mencintai ku juga? Aku rasa tidak adil jika hanya kau membuktikan satu kemungkinan."

"bagaimana aku bisa mencintaimu sedangkan aku normal?"

"berhenti mengucapkan 'normal' kau belum membuktikannya,Baekhyun."

Sialan.

"ikutlah kemanapun aku pergi. Hanya tujuh hari. Setelah tujuh hari kau boleh memutuskan. Jika kau tetap tidak menginginkanku, aku akan mundur."

"Tujuh hari. Teralu lama."

"baiklah. 5 hari."

"sepakat. Dan aku akan mendapatkan Minah kurang dari 5 hari." Satu sudut bibir Chanyeol terangkat. Meremehkanku? Oh lihat saja.

"ayo berjuang, Byun Baekhyun."

"selamat malam, Chanyeol."


Terasa beberapa kali getaran di dekat kepalaku. Aku berusaha membuka mata. meraba disekitar bantal mencari handphone ku untuk mematikan kiriku naik keatas. Meraih handphone yang letaknya jauh dari jangkauan tanganku. Ketika aku berbalik, wajah Chanyeol tepat didepan hidungku. Tangannya yang lumayan kekar melingkar luwes dipinggangku. Rambutnya yang berantakan dan permukaan kulit wajahnya yang berminyak mengalihkan gerakan tanganku kepipinya. Menyentuh sudut bibirnya membuat darah dalam jantungku dipompa dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Mataku melebar, semakin melebar bersamaan dengan gerakan tanganku yang membelai permukaan bibirnya dari ujung ke ujung. Ini seperti ucapan selamat pagi terindah yang pernah aku dapatkan selain dari ibuku.

"nghh...pagi, Baekki." Chanyeol mengusap wajahnya. Menguap lalu tersenyum padaku tanpa membuka kedua matanya. Aku buru-buru menarik tanganku.

"hm..pagi Chanyeol. tidurmu nyenyak?"

"tentu saja. Karena ada kau." Chanyeol membuka matanya. Masih dengan senyuman dibibirnya. "hari ini libur. Kau ada kegiatan?"

"sebenarnya iya. Aku, Minah dan D.O akan latihan hari ini."

"lagi-lagi dia. Jam berapa? Aku antar ya? setelah itu kita pergi ketaman bermain."

"jam 11. Baiklah." Aku menyingkirkan tangan Chanyeol pelan. Mengambil posisi duduk. "Yeol, perjanjian kita dimulai hari ini?"

"ya. lebih cepat lebih baik." Chanyeol menyusul duduk disampingku lalu berbisik ditelingaku. "have a nice day, Baekki."

Chu~~

Chanyeol mencium pipi kiriku! Sialan aku kaku. Tubuhku terlalu lambat untuk merespon 'menolak' sedangkan dia sudah masuk ke kamar mandi dengan senyum lebar yang menggantung dikedua telingannya.


01.45

Chanyeol dan Kai duduk dikursi penonton. Kalian sudah pasti tahu apa yang mereka lakukan. Sedangkan aku dan Minah diatas panggung dengan satu piano besar yang sibuk dimainkan oleh D.O.

Aku melirik Minah. Mengamati penampilannya dari atas kebawah kembali lagi keatas. Dress soft pink dengan bando menghias rambut hitamnya yang tergerai membuat penampilannya semakin menggemaskan. Poni depan yang menutup dahinya semakin memberi kesan imut pada dirinya. Akhir-akhir ini Minah terlihat lebih cantik dari biasanya. Entah hanya perasaanku atau memang benar Minah berdandan untuk seseorang. Minah benar-benar gadis yang sempurna menurutku. Cantik, pintar, imut, suaranya indah,dan ramah laki-laki mana yang menolak berkencan dengannya. Kecuali dia homoseksual. Hmm kau tahu yang aku maksut.

"kau terlihat lebih cantik dari biasanya hari ini, Minah." Aku memberi dua jempol padanya.

"oh kau menyadarinya, Baekhyun oppa? Kkk terimakasih. Bagaimana menurutmu D.O?" Minah...apa dia lebih tertarik dengan D.O?

"apa?oh maaf aku tidak memperhatikan kalian." Minah mengerucutkan bibirnya lucu.

"bagaimana penampilan ku hari ini?" tanya Minah sumringah.

"oh. Cantik. Seperti biasanya." D.O tersenyum lalu kembali dengan piano didepannya.

Ya tuhan D.O benar-benar tidak mengerti cara menyenangkan hati perempuan.


16.29

Aku dan Chanyeol sedang di komedi putar sekarang. Sebelum ini kami sudah menaiki beberapa wahana permainan. Mungkin satu wahana lagi sudah cukup.

"Chanyeol setelah ini aku ingin naik yang besar itu." Aku menunjuk bianglala yang berputar pelan.

"baiklah. Setelah kuda ini berhenti kita naik bianglala itu." Chanyeol menunggangi kuda emas buatan yang bergerak naik turun sedangkan aku duduk manis diatas kereta labu tepat dibelakang kuda emas chanyeol dengan permen kapas ditangan kiriku.

"ayo. Saatnya naik bianglala." Chanyeol turun dari kudanya yang kini sudah diam. menggenggam tanganku dan menarikku keluar dari kereta labu mini yang seharusnya untuk anak umur 10 tahun ini. oh aku seperti seorang Cinderella.

"kau menyukainya?" Chanyeol menggandeng tanganku masuk kesalah satu gondola.

"ya. aku baru pertama kali naik bianglala."

"benarkah? Kemari." Chanyeol menepuk tempat duduk yang kosong disampingnya. Menarik pergelangan tanganku. Aku jatuh terduduk tepat disebelahnya.

"ya. dulu saat aku masih kecil. Aku selalu ingin naik ini bersama ibu dan ayahku. Tapi ibu selalu menolak karena ibu takut dengan ketinggian. Jadi aku ikut takut mendengar kekhawatiran ibu." Chanyeol tertawa. Memeluk pinggangku erat. Pundakku bersentuhan dengan dadanya. Oh pipiku menghangat seketika.

"sekarang tidak perlu takut. Aku disampingmu." Oh senyuman ini lagi.

Aku sibuk memotret pemandangan dari atas gondola dengan kamera handphoneku. Akan ku pamerkan foto ini pada ibu bila sudah dirumah nanti. Ah pasti ibuku akan iri.

"Baek," aku menoleh.

"apa?"

"aku mencintaimu." Aku tersenyum. Mengusap kepala Chanyeol pelan lalu kembali pada kameraku. "katakan sesuatu, Baek." Aku Chanyeol.

"apa yang harus aku katakan, Yeol? Aku juga mencintaimu? Kau bilang aku belum membuktikan bahwa aku normal atau tidak bukan? tunggu hingga hari Rabu tepat dimalam natal. Mari kita bertemu, dan kau akan mendapatkan jawabannya."


23 Des 13 : 10.10 di auditorium tanpa Chanyeol dan Kai

"D.O lima hari lagi kita bertiga akan tampil kkk aku tidak sabar~" Minah duduk dibangku yang sama dengan D.O di bangku piano yang kecil. Oh ini akan semakin sulit mendapatkan Minah dari yang aku bayangkan.

"duduklah disini, Minah. Disana terlalu sempit untuk berdua. Kemari duduk disampingku."

"tidak ingin."

Oh sial aku dicampakkan.

"benar. Lebih baik kau duduk disamping Baekhyun hyung. Aku sedikit terganggu terus terang." Minah cemberut. Semakin hari Minah semakin agresif pada D.O dan D.O semakin hari semakin banyak bercak merah dilehernya. Apa itu? Bekas gigitan nyamuk? Alergi? Entahlah.

"hey, D.O apa itu yang ada dilehermu?" D.O tersentak. Meraba seluruh lehernya.

"dimana?"

"Merah-merah dilehermu. Apaitu?" Minah mendekat padanya. Mengamati dengan seksama setiap tanda merah yang berada dileher D.O

"oh astaga! Apakah ini perbuatan kekasihmu, D.O? perempuanmu bermain kasar sekali sepertinya."

Permainan? Kasar? Perempuan?

"kau bermain apa D.O? kenapa perempuan bermain kasar?"

"yaampun, Baekhyun oppa. Kau ini kelewat polos atau bagaimana? Ini namanya kissmark. Bekas ciuman dari seesorang. Benar begitu, D.O-ssi? Kkk siapa perempuan itu? Ah aku iri padanya."

"kekasihku...dia Kai."

"apa?!"

"dia gay, Minah." aku menyela pembicaraan mereka. Duduk dengan santai dan meragangkan ototku pada sandaran kursi.

"jangan bercanda."

"kau tidak percaya? Kita bisa buktikan setelah latihan kita selesai." Aku menyeringai. Lebih tepatnya mencoba untuk menyeringai.

12.07

"sayang aku di auditorium sekarang."

"..."

" tunggu."

D.O sedang menerima telpon dari seseorang. mendengar kata 'sayang' didalamnya tentu saja itu telpon dari 'si dewa menyeringai'.

"oppa, apa Kai dan D.O benar-benar sepasang...gay?" Raut wajah Minah nampak ragu. Dia berbisik ditelingaku. Dan tidak sampai limat menit Kai muncul dari pintu keluar. Berjalan dengan seringaian yang tak lepas dari bibirnya. Matanyna seperti elang saat melihat D.O yang malu-malu.

"halo sayang. Sudah lama menunggu?" Kai mengecup bekas merah di leher D.O. Minah menarik ujung bajuku. "Kau bersikap baik hari ini kan?" Kai melirik ke arah Minah. Oh cinta segitiga yang tidak normal. "hai Baekhyun." Kai mengedipkan sebelah matanya kearahku. Aku terkekeh. "dan kau yang bersembunyi dibalik Baekhyun, hai juga." Sapa Kai pada Minah.

"h-hai" Minah tergagap"

"aku dan pacarku ini pulang duluan ya. oh ya Baekhyun, Chanyeol menunggumu di gazebo biasa."

"baiklah. Hati-hati kalian."

18.47

Sudah lama tidak merebahkan punggungku diranjang seawal ini. dua minggu terakhir aku lebih sering menghabiskan waktu latihan bersama Minah dan D.O. aku menggapai handphone atas kepala ku. Membuka kuncinya. Oh dua pesan dari Chanyeol.

From : Chanyeol

17.20

Hai. Apa yang sedang kau lakukan? Aku sedang melihat televisi bersama Lay hyung. Kami melihat tayangan dunia binatang. Mengulas tentang kucing, dia sangat imut. Sama seperti mu kkk ^^

Aku terkekeh. Membuka satu lagi pesan dari Chanyeol.

From : Chanyeol

18.36

Apa kau sudah makan malam? dengan apa kau makan hari ini?

To : Chanyeol

18.48

Baru saja menyelesaikan makan malam dengan orang tua ku. Apa aku perlu mengatakan semua yang aku makan hari ini?

Aku menekan tombol kirim. Pandangan ku menerawang jauh ke atap kamarku. tidak sampai dua menit Handphoneku bergetar.

From : Chanyeol

18.49

Oh akhirnya kau membalas pesanku. Tentu saja kau harus mengatakannya. Kau perlu banyak makan nasi agar kau tumbuh lebih tinggi.

Selalu membahas kekuranganku. Chanyeol yang menyebalkan. Dan bodoh tentu saja.

To : Chanyeol

18.49

Bisakah kau berhenti membahas tinggi badan? Aku sangat sensitif dengan itu. Dan malam ini aku makan banyak nasi karena ibu berhasil memasak dengan lezat.

Kembali aku menekan tombol kirim. Beberapa detik kemudian layar handphoneku menyala. Pesan dari minah. Apa malam-malam seperti ini harus kembali latihan lagi?

From : Bang Minah

18.49

Baekhyun oppa, bisa kita bertemu? Ada hal yang perlu aku bicarakan denganmu. –Minah

Hal? Pentingkah?

To : Bang Minah

18.50

Apa kita akan membicarakan tentang pementasan? Tidak bisakah dikampus saja?

Handphone ku bergetar dua kali. Dua pesan masuk bersamaan.

From : Chanyeol

18.51

Syukurlah. Kau bisa istirahat total malam ini. kau tidak ingin tahu apa yang sedang aku lakukan? Atau apa yang sudah aku makan? Kkk

Aku menekan tombol balas. Tersenyum membaca balsan dari Chanyeol.

To : Chanyeol

18.51

Baiklah. Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah makan malam? seberapa banyak kau makan malam ini? kkk

Beralih ke membuka pesan darinya

From : Bang Minah

18.51

Tidak. Bisa kita bertemu saja? Aku tidak bisa menahan lagi.

Menahan? Apa yang akan Minah lakukan padaku? Oh pikiranku kemana-mana. Saat itu juga handphone ku bergetar. Mungkin balasan chanyeol.

To : Bang Minah

18.52

Tentu. Dimana kita akan bertemu? Kau kirim saja alamatnya

From : Chanyeol

18.51

Aku sedang memeluk guling. Membayangkan bahwa guling ini adalah dirimu. Tapi tenang saja fantasi ku masih terkontrol(?) kkk aku makan sedikit malam ini. tidak terlalu berselera. Bisa kau suapi aku? :P

Aku tertawa. Chanyeol benar-benar tahu caranya merubah mood seseorang

To : Chanyeol

18.53

Apa yang kau pikirkan pada guling itu? Kkk tentu aku bisa. Tapi sayangnya aku tidak sedang bersama mu. Yeol, aku harus pergi sekarang. Minah mengirim pesan mengajakku untuk bertemu disuatu tempat. Aku akan mengirimkan pesan lagi nanti. Sampai jumpa.


aku membukan kunci layar handphoneku. Ada dua pesan tertinggal. Minah mengirimkan alamat sebuah cafe dan satu lagi pesan dari Chanyeol

From : Chanyeol

18.53

Kemana kau akan pergi? Bisakah aku mengetahuinya?

Tidak. Kau akan mengacaukan kencanku dengan Minah, Chanyeol.

To : Chanyeol

19.23

Maaf, Yeol. Aku pikir aku dan Minah juga perlu privasi. Kau tahu maksutku 'kan? Aku akan mengirim pesan nanti. Bye

Aku pikir ini adalah waktu yang tepat untuk menarik perhatian Minah. Tidak ada salahnya aku berpakaian lebih keren dari biasanya. Rambutku aku tata serapi mungkin tapi tetap terlihat trendy. Aku jambul poniku yang biasanya turun menutup seluruh dahiku. dengan begini aku semakin manly.

"Baekhyun oppa!" suara Minah melengking ditelinga kiriku. Aku menoleh. Dia duduk dipojok dengan rambut yang berantakan. aku mendekat.

"oh ya ampun, Minah. Kau nampak buruk dengan gaya rambut barumu."

"berhenti meledekku, Oppa! Kau tidak mengerti perasaanku!." Oh dia membentakku?

"hey, ada apa denganmu? Kau bisa cerita padaku." Minah merakik lenganku mendekat. Aku terduduk tepat disampingnya. Mataku membulat. Minah memeluk lenganku, terisak kecil didadaku.

"oppa bagaimana ini.." Minah mengambil nafas. "aku belum pernah sekalipun tertarik dengan laki-laki. Tapi kenapa setelah aku menemukan laki-laki yang menurutku sempurna justru aku bertemu dengan D.O yang bahkan tidak tertarik pada perempuan." Minah menarik-narik ujung baju lenganku. Tersedu-sedu mengingat kejadian tadi siang. "apa aku salah mencintai seseorang?"

Apa Minah baru saja bertanya tentang pendapatku? Bahkan aku sama sekali tidak memiliki pengalaman percintaan.

"sejauh mana hubungan mereka, oppa?" haruskah aku mengatakan D.O bergerak agresif diatas paha Kai dengan gerakan yang sensual seperti yang aku lihat malam itu?

"hubungan mereka?hm...aku kurang begitu mengetahuinya."

"sejauh yang kau tahu saja, oppa..." Minah tampak frustasi. Kelopak matanya sembab. Separah itukah rasanya patah hati?

"haruskah aku mengatakkannya? Ngg malam itu aku pernah melihat mereka berciuman didepan umum lalu mereka menghilang entah kemana."

"hueeeee~!" oh ya tuhan apa aku salah bicara? "kau hiks kenapa tidak menghentikan mereka? Hikss apa kau tidak merasa risih melihatnya? Jika kau normal seharusnya kau tidak melihatnya oppaaa hikkss" siapa juga yang mau melihat adegan menjijikan seperi itu "atau jangan-jangan kau juga sama seperti mereka? Bukankah kalian berteman? Aku melihat kalian sering berkumpul dengan yang lain di gazebo itu. Kalian...mendirikan komunitas gay?"

Oh sialan Bang Minah

.

.

.

TADAAAMMM TBC gimana? Mau Chap 7? Mau? REVIEW DULU YA CINTAAHH :B

BIG THANKS UNTUK APRESIASI KALIAN 3

sweetyYeollie, CussonsBaekBy, BaconEgg, ChlaraCassie jihyunbyun ShinJiWoo920202 LevesqueXavier Nada Lim AnjarW dewo1804 baekhyunaa Happybacon aiiu d'freaky SyJessi22 Lian Park Ohthehun Novey

MAAF BANGET BUAT YANG UDAH REVIEW TAPI GA KECANTUM NAMANYA. SAYA SELALU DAN SELALU MENGUCAPKAN TERIMAKASIH KE SELURUH REVIEWERS YANG UDAH BELA-BELAIN KOMEN TAPI KEMARIN ENTAH KENAPA PAS SAYA UDAH KETIK SEMUA NAMA KALIAN TERUS SAYA POST NAMA KALIAN KEPOTONG SENDIRI HUEEE SAYA SEDIH KAN ADA REVIEWERS YANG ENVY.. SAYA JADI GA ENAK HUHU. JANGAN KAPOK YA REVIEWERSKU TERSAYANG 3