Red Cake

Park Woojin x Park Jihoon

.

.

.

.

Deru napas memburu, menghentak-hentak, berderu keras mengiringi tautan uap yang menghambur dari lubang hidungnya.

Bulir-bulir keringat jatuh tanpa aba, memaksa kesadaran dari seorang pemuda, Park Jihoon.

"Mimpi itu lagi..."

Gumamnya ditengah lengang suasana kamar.

Matanya melirik pada jam yang tertempel di dinding. 01.23 dini hari.

Jihoon menghela napas panjang, kenapa selalu dijam ini dia terbangun?

Krieet!

Fokusnya teralih seketika.

Menatap was-was pada sudut kamar gelap sebab tiada penerangan disana.

Degup jantung begitu saja bergemuruh, memacu detakan-detakan kasar kala aura disekitarnya kian berbeda.

Dingin...

Hampa...

Brak!!

Jihoon meringsut, tumpukan lutut didepan dada dan memeluknya.

Jihoon sadar jika bunyi benturan itu berasal dari jendela kamar yang dihantam benda tak kasat mata.

Rasa takut tidak bisa Jihoon tampik saat kursi dekat jendela bergeser tanpa dirasa.

Pelan-pelan…

…timbulkan decitan nyaring dari gesekan lantai marmer dengan kayu kering.

"Park Jihoon~"

Bisikkan seorang laki-laki mengudara.

Bersuara berat seolah sedang terhimpit berton-ton bebatuan.

"S-siapa disana?!"

Gugup dan takut, begitulah nada yang mengalun keluar dari kerongkongannya.

"Toloong~"

Deg...

Deg...

Deg...

Bukan hanya sekali, tapi sudah berkali-kali suara itu datang.

Tengah malam, tepat ketika Jihoon mulai dapat terlelap.

Rintihan,

raungan,

nyanyian,

bahkan tangisan,

tiada pernah terlewat dari kehidupan Park Jihoon selama tiga tahun belakangan.

Jihoon bahkan sudah tidak ingat kapan terakhir kali dirinya berinteraksi dengan orang-orang.

Jihoon menjadi lebih tertutup sejak gangguanitu datang.

"S-siapa kau?!"

Jihoon tanya, ketika kursi tadi tiba-tiba ada disamping ranjangnya.

"Kau harus bertanggung jawab, Park Jihoon~"

Jihoon panik sebab kursi itu mulai bergoyang.

Menimbulkan nada gemuruh yang begitu memekikkan, menautkan benang-benag ketakutan diantara remang suasana kamar.

"Jangan ganggu aku!"

"Bukan aku, tapi kau!"

"A-aku?"

Srak!

Kursi kayu itu bergeser tiba-tiba, mengerat pada permukaan lantai sebelum condong kearah tubuh Jihoon.

"Kau melupakanku?"

Jihoon rasa lehernya tercekik seiring debuman keras menghentak lantai kamar.

Sesak, seolah menyumbat peredaran oksigen pada gelembung paru-parunya.

"Aku tidak mengenalmu!"

Jihoon jawab meski dengan suara serak.

"Benarkah!"

Lengkingan itu menguar, menimbulkan gaung yang mengerikan.

"Haruskah aku mengingatkanmu kembali?"

Jihoon tidak menjawab, dirinya sibuk melepaskan cekikan dari udara yang menyelubunginya.

Tangannya meraba, dan tersentak begitu ia rasa sebuah tangan besar melingkar disana.

Tangan kasar,

namun rapuh.

Tangan siapa ini?

"Pergi!"

Jihoon teriak mencoba menahan sesak pada dadanya.

"Aku akan pergi- bersamamu..."

Jihoon melebarkan mata.

Cekikan pada lehernya kian menguat, memaksa tangannya menyentuh permukaan tangan kasar disana.

Jihoon memejamkan mata sekali, berusaha menguasai diri.

Dengan sisa energi yang ada dalam nadi, Jihoon mengeluarkan kemampuannya.

Sebuah sinar keemasan muncul pelan-pelan, tepat diantara lingkar pergelangannya.

Semula cahayanya ringan, namun menjadi panas begitu ia sentuh tangan kasar pada lehernya.

Brak!!

Jihoon terperanjat sebab kursi kayu disamping ranjangnya lerlempar kedinding, menimbulkan retakkan rinci ditiap jejaknya.

Pelan-pelan retakan itu jatuh, satu-satu, hingga terlihat sebuah kerangka tulang belulang disana.

Astaga!

Jihoon lupa jika dirinya menyimpan tubuh Woojin dibalik dinding batu bata.

Pantas saja dia terus menganggunya.

.

.

.

.

.

Saya bukan indigo, serius!

Tapi ga' tau kenapa hidup saya itu penuh dengan hal-hal menyeramkan.

Entah itu datang dalam mimpi, atau de javu dari masa lalu.

Kadang 'mereka' tiba-tiba hadir tapi saya yang ga sadar.

Tidur disebelah saya dengan suara napas yang jelas terdengar.

Padahal saya ingat betul, saya sedang tidur sendirian.

Out of topic sih, saya cuma pingin berbagi cerita dibalik fiksi horor ini tercipta *plak! :D

Oiya, fic ini pernah saya post sebelumnya dengan cast Meanie..

Jadi kalau sudah pernah ada yang baca, ya dibaca lagi aja ga papa :D

.

.

.

.

.

Omake

"Jihoon-ah... aku pulang."

Woojin teriak kencang begitu tubuhnya menyembul dari balik pintu.

"Sudah pulang?"

Jihoon sambut dengan ceria.

"Pesananmu."

Woojin mengangkat dua bungkus kantung plastik ditangannya.

Jihoon menatap sumringah, membuat bening maniknya semakin berkilauan senang.

"Kau bisa membuat Red Cake dengan ini."

Woojin menyerahkan kantung plastiknya, dan Jihoon tidak bisa untuk tidak tertawa.

"Pacarku benar-benar yang terbaik." Pujinya.

Jihoon buru-buru periksa isinya, satu-persatu ia absen dengan teliti.

Melihat wajah manis itu sedang serius, Woojin tersenyum gemas.

"Woojin-ah…"

"Eng?

"Pewarna alaminya mana?"

"Apa tidak ada?"

Jihoon mengangguk.

"Tidak bisakah diganti dengan pewarna lain?"

"Harus pakai pewarna alami, kalau tidak ada pewarna alami, warna kue nya tidak akan bagus, Woojin."

Jihoon mengerucutkan bibir.

"Lalu harus bagaimana? Apa perlu kubelikan pewarna alaminya?"

Woojin menyentuh pipi Jihoon pelan, namun gelengan yang ia dapatkan.

Mata bulat itu menatap lamat-lamat, kemudian tersenyum tanpa sebab.

"Tidak perlu, aku tahu dimana aku bisa mendapatkan pewarna alaminya."

.

.

.

.

.

"Selesai!"

Jihoon tersenyum riang sebab kuenya sudah selesai dibuat.

Jihoon mencicipi sedikit kemudian bergumam lirih.

"Seperti dugaanku, ini enak. Terimakasih Woojin."

Mata Jihoon melirik kesudut dapur,

Pada tubuh Woojin yang terduduk disebuah kursi kayu.

Dengan tangan menggantung kebawah,

dan lelehan pekat merah mengalir kearah toples kaca dari ujung jari-jarinya dalam keadaan tak bernyawa.

.

.

.

.

END

.

.

.

.

Seperti yang sudah disebutkan diawal, kumpulan fiksi PINK SAUSAGES ini memiliki banyak genre, mulai dari romance, sad, happy, fantasy, dan horror.

Berikan review dan tanggapan jika kalian ingin memberi saran maupun kritik ntuk karya saya.

Oiya, saya upload ff ini juga di wattpad.

Kalian bisa search kimkaisoomeanie untuk menikmati PINK SAUSAGES lebih banyak, karena tidak semua yang saya upload di wattpad saya upload juga di ffn.

Terimakasih…