Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
'Hengenjizai no Magical Star' (Title Song) © Granrodeo
Hengenjizai no Magical Star (Fic) and OC(s) © Furi Shirogane.
.
.
.
Warn: OOC, OC(s), AU, Typo(s), Oreshi!Akashi. Long chapter!
AkaKuro (Main)
KagaKuro
And other pairings.
.
.
.
O tanishimi kudasai!
Chapter 6: Ingatlah untuk Tidur 8 Jam Sehari!
Kaki berselimut sandal kelinci gontai menapaki lantai. Membendung kuapan lebar, matanya dikucek-kucek untuk mengusir kantuk.
Agak terhuyung, Tetsuya bergerak menuju dapur. Mau mengais kulkas dan mencari dosis hariannya yang berwujud susu sapi segar rasa vanila. Kalau biasanya orang meneguk kopi sebagai stimulan, Tetsuya malah minum susu. Meski hanya segumul laktosa, efeknya sepadan dengan kafein. Sama-sama manjur untuk membuatnya melek.
"Master Tetsuya, selamat pagi," Kanazawa Kanae menyapa dari balik kounter. Gadis ber-kimono tosca itu sedang sibuk membolak-balik pancake di atas teflon. Aroma gurih-manis dari adonan yang didadar menguar seantero ruangan.
"Selamat pagi, Kanae-san." Tetsuya mengabsen penghuni kulkas. Manik aqua bergulir acak mencari kemasan karton bergambar sapi. Wajahnya mengkerut pada jajaran kotak susu berperisa coklat. Harusnya masih tersisa satu. Harta karun vanilanya ditemukan di sesi sayuran tengah mendua dengan sekaleng bir.
"Kanae-san, tahu di mana Nii-sama?" Tetsuya bertanya seraya menyodok bolongan karton dengan sedotan. Melihat bir kalengan tadi, si baby blue jadi kepikiran kakaknya. Baru ingat alasannya terjaga adalah karena kedinginan, tidak lagi didekap—dijadikan guling—oleh si putra pertama.
Semalam Tetsuya menyusup ke kamar kakaknya. Berbekal selimut tebal dan sandal bulu berkuping panjang, ia melakukan migrasi. Ishiya yang sedang memilah berkas perusahaan nyaris terlonjak saat pintu kamarnya menjeblak sendiri. Tidak ada angin, fenomena poltergeist apalagi tuyul. Hanya Tetsuya yang berhawa kelewat tipis sedang berjalan setengah ngelindur.
"Master Ishiya sedang berada di halaman." Si maid memberikan informasi dengan bonus senyum lima jari. Perempuan berambut light-brown itu sumrigah melihat kepala Tetsuya yang bombastis dipermainkan bantal dan kasur.
Bed-hair biru bergoyang naik-turun dibawa anggukan. Tetsuya angkat kaki usai menghaturkan ucapan terima kasih. Sambil mengulum sedotan, remaja yang masih memakai piyama itu menyeberangi area living room menuju halaman.
"Nii-sama, ohayou." Tetsuya pilih duduk di undak-undakan teras. Enggan menjejak rerumputan yang lembab oleh gelayut embun. Tidak rela kalau sungut kelinci di ujung selopnya jadi kotor.
"Pagi." Ishiya menoleh dari balik bahu. Tangan menekan tuas pada selang penyemprot. Sepetak tanaman herba bergoyang ringan didorong debit air. "Tumben jam segini sudah bangun."
"Itu karena Nii-sama curang." Tetsuya menggembungkan pipi sambil menyeruput susu. Ngambek sekalipun, gurat ekspresi masih absen dari parasnya yang manis. "Aku ditinggal seorang diri. Kan dingin."
"Aku sudah pamit sebelum pergi," Ishiya berceletuk santai sambil pindah lahan. Selanjutnya hendak memanjakan kumpulan bunga lili yang bernaung di bawah kanopi magnolia. "Tetsuya tidak mau bangun. Hanya ngulet, lalu tengkurap dengan pantat nungging."
Wajah sedatar pantat panci dihujani kedutan miris. Aibnya telah terekspos di lahan terbuka. Nama baik Tetsuya tercemar. Martabatnya tercoreng oleh kebiasaan candid yang tak mungkin dikendalikan secara sadar.
"Tahu gitu kenapa tidak dibangunkan?"
Manik hitam mengerling skeptis pada warna biru muda. "Ogah. Bisa habis berjam-jam kalau mau membangunkan setan kasur sepertimu."
Kerutan di sekitar mata cerulean menebal drastis. Bahkan untuk mencoba pun kakaknya tidak sudi. Si bungsu manyun. Susu putih disedot kalap hingga melengekingkan nada seruput yang tajam. Karena ngambek, persediaan terakhir yang sedianya mau dihemat-hemat, malah langsung raib sekali hisap.
Kotak gambar sapi disesap hanya tinggal udara. Tanpa susu, Tetsuya berubah moody.
Ishiya mendesah lelah. Punggung lehernya terasa gatal karena dibombardir sepasang azure. "Aku bukannya senang meninggalkanmu, Tetsuya. Hanya saja tidurmu pulas sekali. Aku tidak tega mengusiknya."
Bibir Tetsuya semakin kerucut. Gurat kesedihan mampir sejenak guna meratapi asupan pagi yang umurnya terlampau singkat. Dengan berat hati, karton susunya digepengkan agar tidak memakan ruang saat dibuang nanti.
"Apa boleh buat, semalam aku lelah sekali." Anak bungsu keluarga Kuroko terdengar merajuk.
"Kelelahan?" Ishiya berbalik perlahan. Curiga dan khawatir di-mix dalam satu pertanyaan bernada tinggi. Ada kosa kata yang kurang ia suka membaur dalam rutinitas adiknya. "Memang apa yang kau lakukan seharian kemarin?"
Kejengkelan rontok digantikan rasa tegang. Tetsuya mematung kaku. Celoteh ngasalnya telah membangitkan paranoia sang kakak.
Lirih. "Kemarin aku ada kegiatan ekstra..."
"Kegiatan apa?"
Meja situasi dibalik imajinatif. Sekarang giliran Tetsuya yang diinterogasi. Sang adik menggeliyat halus di tempatnya. Sudut bibir bergetar, pandangan berusaha mengelak dari visual pemuda berhelai arang yang berdiri antagonis.
"Tetsuya." Amarah Ishiya terendus pekat dari caranya melesatkan nama si bungsu.
Enggan bertemu mata, sepasang kelereng safir dilayangkan ke langit. Menatap butir kerlap-kerlip yang redup diguyur cahaya pagi. Tengkuknya digerayangi bentol-bentol kecil. Tetsuya meremang karena dikecup angin kering yang berhembus jalang di penghujung musim. Matahari baru mengintip di ufuk timur. Radiasi kalornya baru terpancar sehangat suam-suam kuku. Belum cukup kuat untuk memisahkan orang dari hangatnya kepompong selimut.
Tiba-tiba saja Tetsuya rindu dekapan kasurnya.
"Tetsuya, lihat aku ketika aku berbicara padamu."
Dihardik dengan intonasi demikian, Tetsuya menurut meski kalut. Meninggalkan cakrawala, sorot pandangnya perlahan diturunkan kembali ke bumi.
"Nii-sama, aku—"
Kesaksian Tetsuya dicegat oleh inhalasi tajam. Tubuhnya kaku melihat Ishiya yang menguleni tuas selang dengan beringas. Diremat-remat satu tangan seakan memeras santan kelapa. Dari jauh pun terlihat bahwa perangkat berkebun itu sudah sampai batasnya menahan siksa.
Tetsuya komat-kamit dengan raut blank.
"Bicara yang jelas, Tetsuya. Aku tidak bisa dengar."
Kuroko bungsu meneguk saliva yang ngandat di pangkal kerongkongan. "...Aku bersih-bersih gudang sekolah."
Ctak!
Besi pelatuk pada mulut penyemprot copot dari engselnya. Koloni mawar di sudut taman jadi sasaran gelonggong air yang tidak terbendung. Semak berbatang duri itu terhuyung ekstrem. Kelopaknya berguguran tragis jadi taburan di atas becek.
Tetsuya mengurut dada menyaksikan kebrutalan abangnya.
"Bagaimana bisa kau membersihkan gudang? Memang janitor? Aku menyekolahkanmu di Teiko agar terhindar dari kegiatan piket dan tetek-bengeknya. Ingat kondisimu, Tetsuya." Sentak tajam Ishiya mengiris atmosfer pagi. Tidak bermaksud menuduh, hanya geram karena hal seperti itu bisa luput dari pengawasannya.
Bocah biru gugup memijit kemasan susunya yang pipih. "Itu bukan kemauanku!" Tetsuya mengkeret dihunus sepasang obsidian yang menyipit dingin. "Aku dipaksa..."
Wajah Ishiya dibayangi mendung hitam. Tidak ngomel, tidak teriak, apalagi mencak-mencak. Diam tapi efisien. Kemarahannya seumpama kaldera gunung berapi. Tampak tenang padahal sedang menghimpun lelehan pijar yang siap meletus.
Imbisil Teiko mana yang telah berani mengeksploitasi adik semata wayangnya?
"Jelaskan semuanya," si sulung menjatuhkan perintah tegas.
Tetsuya memupuk nyali. Berharap tidak terdengar seperti sedang mengelak apalagi mengadu. Awalnya ingin bercerita dibubuh sedikit fiksi. Seolah tahu, Ishiya memicing. 'Aku tahu kalau kau berbohong'. Tetsuya kicep. Mau tidak mau, nama majikan ilegalnya dijatuhkan sebagai pelaku. Kronologi peristiwa pembedahan gudang tempo hari dijabar dengan urut.
.
.
.
"Jadi begitulah ceritanya..." Tetsuya menutup narasi dengan ujung kelincinya saling bertindih karena canggung.
Ishiya memandang si biru lekat-lekat. Geliyat tidak nyaman yang digesturkan Tetsuya tidak dianggap. Bukan tidak peduli apalagi sadis. Hanya sedang konsentrasi membaca bahasa tubuh adiknya. Ishiya diam sambil memutar keran untuk menutup semburan di ujung selang. Setelahnya, menggeledah ruang penyimpanan demi sebuah gembor plastik yang agak usang.
"Menurutku, Tetsuya juga salah." Tanpa beban, Ishiya menggaris konklusi. Mengabaikan tatap nanar dari sepasang biru lazuli, ia santai mengintip ceret penyiram dengan satu mata. Memastikan tidak ada kebocoran sebelum ditadahkan di bawah kucuran keran.
Kerut gusar melipat kerutan di atas dahi Kuroko bungsu. "Bagaimana bisa?"
"Tetsuya salah karena diam saja. Kau itu laki-laki. Punya mulut kan? Kalau memang tidak bisa datang, katakan dengan tegas. Jangan kabur seperti itu." Walaupun Ishiya juga tidak membenarkan tindakan Akashi. Akan tetapi, apa pedulinya? Yang penting adalah keterlibatan keluarga tunggalnya dalam duduk perkara.
Seluruh otot wajah berkontraksi ekstrem dalam rengut penyangkalan. Tetsuya pilih tuli sementara daripada mendengar sang kakak dengan gamblang telah menyalahkannya. "Onii-sama paham ceritaku atau tidak sih? Aku dipaksa. Tidak kabur namanya kalau dari awal saja aku tidak setuju untuk hadir."
"Tidak masalah dipaksa atau tidak. Kalau memilih pergi tanpa memberitahu itu namanya kabur."
Belah ranum dikulum resah. Tetsuya dejavu dengan kata-kata barusan. "Kenapa nii-sama malah membela Akashi-kun?"
Ishiya tidak menjawab. Yang mengisi hening hanya gemericik hujan mini dari bolongan gembor. Batangan lili di bawahnya menadah butir air serupa mutiara bening. Membuat mereka terlihat seperti artifisial yang ditenun dengan jalinan serat sutra dan batu mulia. Sayangnya mereka masih kuncup. Masih terlalu prematur untuk merekahkan sekuntum mahkota.
"Aku tidak membelanya. Untuk apa aku membela orang yang tidak kukenal. Aku hanya tidak mau Tetsuya menjadi sumber kekhawatiran orang lain."
Gembor plastiknya didaratkan asal pada karpet rumput. Mendekati teras, Ishiya merebahkan diri di sisi kanan si mungil bersurai biru kapas. Secara naluriah, tangannya mulai menyisir jilatan sapi yang mencuat di atas surai biru.
"Aku akan tetap marah Akashi Seijuurou memperlakukanmu seperti itu." Dengan satu sentakan halus, Ishiya mengangkat kepala Tetsuya. Mempertemukan kelereng sebening genangan danau dengan orb sepekat tinta. "Tapi mungkin aku akan melakukan hal yang sama seperti yang Akashi Seijuurou lakukan padamu."
"Apa—" Tetsuya dibungkam oleh tatap memperingatkan.
"Kau pantas mendapatkannya. Karena jika menjadi Akashi Seijuurou, aku ingin tahu di mana kau saat itu. Aku ingin tahu bila kau baik-baik saja. Aku ingin memastikan kalau kau tidak datang bukan karena menghindariku."
Udara yang berputar-putar mampat dalam dadanya dihembus. "Nii-sama ingin mengatakan kalau Akashi-kun benar-benar khawatir padaku...?" Bisik lirih Tetsuya dihantar angin pagi dan dibawa jauh mengembara angkasa yang mulai hangat disapa mentari.
Si sulung menghela nafas. "Aku yakin kau sendiri tahu hal itu sejak awal. Tetsuya terlalu cuek untuk bisa di-bully. Terlalu keras kepala untuk diperalat membersihkan gudang. Kalau Akashi Seijuurou sampai bisa melakukannya, itu pasti karena kau sendiri yang memberinya kesempatan."
Sepasang iris sebiru air melirik singkat. "Bukannya memberi kesempatan..." Bibir sewarna cherry blossom diulur membentuk senyum sendu. "Aku melakukannya mungkin karena tidak punya pilihan lain."
Hari itu, Tetsuya bisa melihat sesuatu di balik pantulan iris ruby. Emosi yang biasa diselubungi kabut arogansi itu membludak tidak dipagari. Bersifat abrasif serupa gelombang pantai. Pendirian Tetsuya sampai terkikis digerus rasa bersalah.
Katakan saja, mata Akashi seolah mengurai daya magis. Tetsuya sampai mematung, tidak bisa berkutik saat dibawa pergi. Mungkin ia memang tersihir, mungkin hanya mengalami syok karena dilimpahi emosi yang sedemikian gamblang oleh sepasang biner merah itu.
Tetsuya teringat ungkapan 'mata adalah jendela jiwa seseorang'. Okulus merah delima milik Akashi juga jendela namun bukan hanya jendela rumahan biasa. Penggambaran yang sesuai adalah jendela besar dengan kaca patri. Stained-glass, dirangkai artistik dari lempeng multi-warna yang membias khroma pelangi. Sangat Indah, membuat terlena bahwa kaca patri itu tidak bening. Tidak transparan. Tidak bisa diintip apa yang ada di baliknya.
Sungguh kontradiktif. Mata Akashi bukanlah jendela metafor apalagi media pemancar suara hati. Dipelototi sampai juling sekalipun tidak akan bisa menjamah isi dari kepala merah itu. Seolah mereka ada di sana hanya sebagai ornamen semata.
Akan tetapi, Tetsuya suka pada mata Akashi. Kedua bening scarlet itu adalah fitur favoritnya. Peduli amat dengan sisa penampakan fisik yang lain. Mau postur majikannya yang tegap tapi membonsai itu. Rambutnya serupa merah butir strawberry. Kulit terang dengan lekuk ligamen yang terpahat sempurna. Tidak lupa bibir seksi dan—
Plak!
Ishiya nyaris terjungkal. Kaget bukan kepalang karena melihat Tetsuya tiba-tiba menampar pipinya sendiri.
"Kau ini kenapa?" Sang kakak bertanya dengan dahi mengkerut lusuh.
Kedua telapak putih menggantung di sisi rahang. Tetsuya membeliak horor. "Gawat..."
"Hah?"
"Nii-sama, gawat!" Si biru kalap memanjat pangkuan kakaknya. Lebar kedua bahu si sulung dicengkeram ganas. Mata belo dengan shade biru langit menojos intens pada bening onyx. "Aku selingkuh!"
Tidak konek. Loading gagal. Ada masalah dengan server. Jangan salahkan Ishiya kalau ia merasa tingkat intelejensinya merosot. Berubah bego, sang kepala keluarga hanya bisa mengerjap dengan mulut melongo.
Wajah sedatar triplek itu ditekuk lucu. Maksud hati ingin terlihat serius, apa daya malah tampak merajuk. "Aku selingkuh. Aku nikung. Aku pejantan kadal. Padahal suka Kagami-kun tapi aku malah membayangkan—"
Material fantasi bertajuk Akashi Seijuurou menyembul dalam kotak imajinasi. Tetsuya mendecih tidak ikhlas. Rambutnya yang sudah rapi malah diobrak-abrik. Dalam hati mengutuk si kepala ceri dan perwujudannya yang atraktif.
Sang kakak menghela udara untuk yang kesekian kali. Ubun-ubun bertutup sutra teal dielus agar tenang. "Tetsuya, jangan lebay. Tidak ada larangan untuk mengkhayal, sekalipun kau suka pada seseorang."
Tentu tidak dilarang. Toh, Ishiya suka melihat bagaimana netra biru itu berkilau tiap kali topik Akashi Seijuurou disenggol. Suatu pemandangan yang bahkan tidak dilihatnya saat membicarakan Kagami Taiga. Sayang sekali Tetsuya tidak sadar ada pesan bisu yang diucapkan matanya sendiri.
Tetsuya berubah mellow serupa anakan anjing karena dibelai. Langsung terkulai dengan mata terpejam di belikat sang kakak. Sandman, si entitas imajiner kembali menabur pasir kantuknya. Satu kuapan lolos. Tetsuya kini terapung-apung di perbatasan antara sadar dan tidur.
Decakan melesat karena rambut adiknya kembali ruwet mengimitasi sarang walet. Bermenit-menit merapikan juntaian liar jadi sia-sia. Dengan telaten, surai biru disisir jari. Diurai satu persatu agar tidak kusut. Di tengah itu, pucuk jari Ishiya tidak sengaja membentur segaris kontur ganjil. Dari ubun-ubun, goresan itu berakhir pada pojokan dahi yang dibayangi benang-benang biru.
Wajah si raven berubah getir. Tangan dirambati tremor saat ditarik menjauh dari adiknya.
Eksistensi luka itu adalah memento dari sebuah tragedi. Pengingat seumur hidup kalau Tetsuya adalah tumbal keegoisannya di masa lalu. Bahkan setelah enam tahun berlalu, perasaan itu masih gentayangan menghantuinya.
Ishiya menempelkan pipi pada puncak kepala yang bersandar kepadanya. Kekeh pelan melesat kala mendengar dengkuran halus memburai dari si mungil bawah sana. Iris hitamnya beralih padaa kuncup lilium yang berwarna sebiru helain Tetsuya. Membisikan pesan lirih seperti pada tahun-tahun sebelumnya.
'Jangan layu sebelum mekar. Untuk kebaikan Tetsuya.'
.
******Kiseki******
.
.
Ogiwara Shigehiro bersiul-siul ceria membelah jalanan. Kontras dengan jokinya yang hepi, Si Doel sepeda onthel malah berdecit tragis saat digenjot. Si brunet tidak ambil pusing. Jeritan sumbu rodanya adalah akustik untuk menambah irama.
Tunggangannya disenderkan pohon pada emperan Kuroko residence. Tidak ketuk pintu apalagi mengucap salam. Dengan entengnya nyelonong masuk seakan yang punya rumah. Baru selangkah kakinya menginjak area masuk, Ogiwara sudah ditubruk blur warna biru terang.
Tidak baik menolak rezeki. Dengan penuh penghayatan, Ogiwara mendekap si mungil yang menghambur ke dadanya. "Ada apa, Tetsuya?" ia bertanya kalem dengan sikap seorang Arjuna.
"Shi-Shi-Shigehiro-ku-kun!" Panggilan Tetsuya berceceran tidak jelas karena panik. Enggan berpisah, pilih bergelayut bak koala pada fisik kawannya yang tegap.
Starter tim basket Teiko hanya angkat alis. Helaian biru yang menggelitik rahangnya ditepuk. Tangan yang satu menyokong pantat kawannya agar tidak merosot. "Ada apa? Apa kau bertemu hantu? Tumben kau yang gelagapan. Biasanya malah penghuni sana yang menjerit saat melihatmu." Si brunet lantas terbahak. Merasa terhibur oleh guyonannya sendiri.
Tetsuya tersinggung karena disamakan dengan kaum astral. Rahang si kepala coklat pun ia sundul penuh nafsu. "Tidak lucu, Shigehiro-kun. Aku ini sedang ketakutan."
Beruntung Ogiwara itu perkasa—hasil digodog romusha berkedok latihan basket. Diseruduk pun tidak goyah. Tetap tegak berdiri sekalipun ditebengi seonggok manusia yang langka ekspresi.
"Aku hanya bercanda. Astaga..." Ogiwara cengar-cengir menahan nyeri. "Memang apa yang—"
"Shigehiro-kun!"
Omongan si kepala coklat termutilasi. Tetsuya merenggut dagu kawannya dengan kedua tangan. Spasi di antara pucuk hidung teruntai tidak lebih dari lima senti. Entah apa makna keintiman itu dihubungkan dengan situasi mereka.
"Aku..." Saliva diteguk. Bening cerulean bergulir dalam suspense. Seakan takut ada yang membuntuti. "Aku telah... membunuh orang cabul di kamar mandi!"
Ogiwara berkedip repetitif. Sorot pandangnya terkunci pada sepasang azure. "Tetsuya?" Ingin menggaruk kepala tapi urung mengingat tangannnya sedang penuh oleh muatan.
"Ya, Shigehiro-kun?"
"Wow. Aku tidak tahu mana yang lebih fenomenal." Pucuk alis dark-brown bergandengan gelisah. Matanya sipit ketar-ketir. "Kau telah membunuh seseorang atau karena ada orang cabul di kamar mandimu..."
"Shigehiro-kun, bukan saatnya—"
"Tetsuya?! Aku dengar keributan!"
"Master Tetsuya, anda baik-baik saja?!"
Dua figur anarki muncul gerudukan dari balik pintu ruang tengah. Kanae ganas mengayun teflon seukuran empat telur ceplok seperti raket tenis. Piranti menggoreng itu siap digebukkan pada siapapun yang telah mengancam keselamatan sang majikan. Sementara itu, Ishiya hadir hanya bersenjatakan tangan kosong—itu sudah cukup mematikan, percayalah.
Si iblis hitam tengok kanan-toleh kiri mencari sumber keributan. Ishiya lantas memicing sadis pada Ogiwara yang masih berdiri pongo di muka pintu. "Oi, Shige. Jangan-jangan kau yang—"
"Bukan aku, Aniki!" Si brownie menggeleng kilat. Pelipisnya becek keringat setelah diberondong sorot mata yang haus darah.
"Onii-sama, bukan Shigehiro-kun pelakunya," Tetsuya berceletuk datar. Posisinya masih pewe menunggangi lengan sang kawan. Telunjuk menegak pada pintu kamar mandi. "Di dalam sana."
Kuroko sulung mengirim isyarat pada komplotannya. Anggukan konfirmatif dilempar balik oleh Kanae yang terlampau antusias. Perlahan, Ishiya mendorong pintu yang setengah terbuka. Langkah diayun penuh presisi, meraba presensi janggal yang menggelitik insting bertarungnya.
Menjejak area berendam, Ishiya tercekat dengan mata membulat.
Objek kegaduhan berwujud seorang bule yang terkapar tragis. Tidak ada selembar pun garmen yang terlibat. Tubuh yang menggantung lemas di pinggir bathub itu polosan seperti bayi baru lahir. Tidak ditemukan jejak perlawanan. Autopsi seadanya hanya berhasil mengidentifikasi memar seukuran kentang di area pipi.
Ishiya mengurut pelipis. Mendesah keras karena kepalanya mulai linu. Pintu kamar mandi dikatupkan penuh dukacita. Melewati Kanae yang menatapnya kepo, si raven hanya menggeleng lesu. Kakinya diayun menghampiri Ogiwara dan Tetsuya.
Sambil melesatkan tawa hambar, ia mengusap surai teal. "Kau melakukannya dengan baik, Tetsuya."
.
.
.
"Aduduh..."
Pemuda pale blonde mengerang saat pipinya dipijit handuk dingin. Hendak menyingkirkan si material penyiksa tapi tangannya sudah ditepis sebelum sampai.
"Kau ini bisa diam tidak sih? Kalau tidak dikompres, bengkakmu tidak akan menyusut." Ishiya menampar tangan yang membandel. Fabrik bersuhu rendah kembali dijatuhkan pada area yang menggunduk. "Lagipula ini salahmu. Mengagetkan Tetsuya seperti itu."
Desis tajam menyambut lahan cidera yang disundut. "Mana aku tahu adikmu akan menggunakan kamar mandi? Biasanya juga masih tidur." Pemuda berkebangsaan Inggris manyun menyuarakan pembelaan.
"Iya. Tumben anak itu bisa berpisah dari kasur sepagi ini," Ishiya ikut menimpali. Alih-alih menyayangkan, malah manggut-manggut terkesan.
Lenguh pilu lepas ke udara. Lagi-lagi karena lukanya dicocol kain sedingin es. "Aku heran bagaimana bisa tubuh mungil itu menyembunyikan daya pukul yang mengerikan."
Si bule mendadak mules. Horor saat mengenang bagaimana kepalan kecil itu menghantamnya. Ibarat lembar stereofoam yang digempur batuan granit, tulang wajahnya serasa bolong. Langsung tumbang tanpa sempat mempertahankan diri.
"Mengagumkan, bukan? Tetsuya memang tenang namun saat tersudut, dia akan bereaksi demikian. Aku yang mengasah skill-nya itu."
Celetukan bangga Ishiya mengundang tatapan aneh. Mata sewarna mendung menyipit sinis. "Apa yang telah kau lakukan pada adikmu, Kakak tolol?" Membesarkannya sebagai mesin pemukul? Mau menjadikannya champion kelas bulu?
Giliran iris sehitam malam yang memicing sengit. "Git, pakai kepalamu. Kau pikir aku akan meninggalkan Tetsuya tanpa suatu mekanisme pertahanan? Kalau terjadi sesuatu padanya bagaimana?" Ishiya berubah emosional karena dikritik. Alisnya bertautan tidak senang.
Merasa terancam, si bule angkat tangan dengan gerakan patah-patah. "Itu hanya opini, Easy. Jangan melihatku seperti it—Aduh! Easy, kau menekannya terlalu keras!"
"Dan berapa kali harus aku katakan? Namaku Ishiya, Idiot. Bukan Easy-ya." Sewot, si raven dengan sengaja menyalurkan tenaga berlebih dalam prosesi mengompresnya.
Pemuda yang lebih terang hanya bisa melesatkan rintihan sarat nestapa.
"Lucia-san..."
Panggilan lirih itu membelokkan atensi kedua dewasa yang bersidekap di atas sofa. Tetsuya memilin ujung blazer-nya di mulut ruangan. Pipi masih bersemu, kepala menghadap bumi. Wajahnya tak terlihat ditutupi anak poni.
Lucia Weissforth, si foreigner dari Inggris, berdiri menghampiri si bungsu. Sengaja membungkuk agar garis pandang mereka sejajar.
"Ada apa, Mon lapin [My bunny]?" tanya yang lebih tua tersenyum hangat. Mengabaikan kedipan bengis sang kakak saat mendengar nick-name pilihannya.
Garis pandang Tetsuya masih melantai. Bukan perkara 'perut kotak-kotak ke bawah' itu sekarang sudah dibungkus pakaian layak. Tidak telanjang sekali pun, iris biru masih sungkan bertemu.
"Lucia-san, aku ingin minta maaf." Rona ivory dirambati sapuan merah. "Maaf karena telah memukulmu dan karena telah melihat 'itu'..." Iris biru melirik samping. Suaranya mengecil saat merapal dua frasa terakhir.
Lucia tertawa renyah. Benang-benang sewarna langit diacak kegemesan. "Aku tak keberatan kok. Aku minta maaf juga karna sudah mengejutkanmu." Lelaki selundupan dari Inggris Raya itu berceloteh dengan bahasa Jepang yang amburadul.
Si mungil tersenyum tipis masih dengan wajah merona.
Menatap Tetsuya lekat-lekat, sebutir bohlam imajiner meletup di atas kepala pirang. Lengkung bibir diulur jadi senyum nakal. It's playtime.
"Hei, Lapin... boleh aku minta sesuatu?"
Tetsuya mengangguk mantap. "Tentu saja, Lucia-san. Aku akan membantumu sebisaku."
Senyum jahanam merekah. Nyaris menyesal menjadikan remaja lugu itu sebagai korban. Dagu si mungil dipagut lantas ditarik lembut agar mendekat. Hembusan nafas saling menyapa karena minimnya ruang kosong di antara mereka.
"Well... aku tidak minta banyak." Makhluk jantan yang hobi memakai jepitan rambut itu menatap lapar pada bibir Tetsuya.
Alarm biologis meraung dalam peringatan. Syaraf di kepala Tetsuya menjerit histeris minta kabur. Sayang sistem motoriknya malah membangkang. Tidak kooperatif, sukar diajak kerja sama meski kesucian pemiliknya kini terancam hilang.
"Izinkan aku merasakan bibir manismu itu dan kita impas," diucap dengan seduktif. Lucia mencicip daging ranum dengan bantalan ibu jari. Seringai culas mengembang saat mendapati belah sewarna cherry-blossom itu memang sekenyal dan selembut yang terlihat.
Tetsuya semakin pucat karena diteror tindakan asusila. Tidak peduli, kepala pirang menyelam turun. "Bagaimana orang Jepang mengatakannya?" Lucia rakus menjilati bibirnya sendiri. Mata berkilat licik seolah serigala yang menyudutkan mangsanya. "Ah ya. Itadakimas—"
JDUAK!
Bukan cumbu sensual yang didapat tapi tendangan biadab di ubun-ubun. Lucia langsung tersungkur dengan wajah menghunus lantai. Linoleum krem yang jadi lahan pendaratan seketika dirambati retakan mikroskopis.
"Hai, Tuan. Kulihat ada objek janggal menempati ruang di atas bahumu. Tolong perkenankan aku melepaskannya," Ishiya menawarkan jasa dengan senyum bisnis. Telapak kakinya beringas menjejak surai sekuning gandum yang masih beradu dengan lantai.
"Itu bukan objek janggal, Ishiya! Itu kepalaku! Kau mau melepasnya?!"
Lucia kebat-kebit di bawah sandal jepit kawannya. Berusaha bangun tapi gagal. Muka mencium bumi ditekan injakan Ishiya. Lebam belum pudar, sekarang sudah terancam akan buntung. Nihonjin—orang Jepang—benar-benar tidak bisa diajak bercanda.
"Itu tidak masalah..." Kurva bibir melengkung tampan. Dari punggung kepala, Ishiya menggeser pijakannya menuju tengkuk.
Si pirang nyaris mencedel saat lehernya dipencet. Ishiya memang tidak sungkan jika sudah menyangkut adiknya. Seenaknya sendiri, tidak mengidahkan kaidah sosial dan asas kemanusiaan. Itulah kenapa julukan 'iblis' tersemat kepadanya.
"...Idiot sepertimu tidak butuh kepala. Toh kau juga tidak pernah menggunakannya." Siluet demonik menyeringai di balik punggung. Semua masalah akan tuntas tanpa perlu turun tangan—cukup pakai kaki.
"GYAA!"
Mengabaikan keributan di belakangnya, Tetsuya menghampiri Ogiwara. Si sahabat karib tidak bersuara karena sibuk menjejalkan potongan pancake ke mulutnya. Melihat kondisi Tetsuya, pemilik jersey nomor 11 itu sukarela menyodorkan segelas susu coklat.
"Diminum dulu. Tubuhmu gemetaran tuh."
"Terima kasih." Cairan susu beriak setelah menyalur getar halus di pucuk jari. Paras telenan berubah pias karena diguncang periode pasca-trauma. "Orang western itu ternyata seram sekali, Shigehiro-kun. Aku nyaris di-sekuhara." Dengan ini, Tetsuya hilang kepercayaan pada kaum liberal dari belahan dunia barat.
Ogiwara bersimpati dalam bentuk usapan di balik punggung.
Sambil meneguk coklat cair, Tetsuya mengintip LCD besar yang menayangkan infotainment pagi—pasti maid-nya yang menguasai remote. Sedikit terhimpit tajuk gosip adalah angka 07:15 yang berkedip konstan.
"Shigehiro-kun, sudah selesai makannya? Ayo segera berangkat."
"Eh? Kau tidak sarapan dulu?" Dijawab dengan gelengan negatif, jidat Ogiwara lepek melipat kerutan. "Semalam saja kau tidak menghabiskan makanmu. Kalau tidak sarapan, kau dapat energi dari mana?"
"Ini sudah cukup." Gelas yang buram oleh sisa laktosa didaratkan pada meja. Liquid karunia sapi di dalamnya baru tandas separuh—karena bukan vanila, maka Tetsuya kurang bernafsu.
Ogiwara melempar tatap ridikulus. Tidak sepaham dengan kelakar temannya. Dia saja masih ingin tambah setelah menyaruk lima tumpuk pancake. Bisa kenyang hanya karena minuman itu tidak masuk akal.
"Hingga kulihat kau menelan sesuatu yang solid, jangan harap kita angkat kaki dari sini," hardik si surai kokoa. Tinjunya digebukkan pada muka meja sebagai penegasan. Raut deadpan Tetsuya ditampik dengan satu pelototan garang.
Ogiwara berniat jadi kepala batu. Kalau mau adu mulut, sekarang saja dia layani. Ia tidak gentar dengan diksi Tetsuya yang terkenal tidak sesantun orangnya. Tidak mudah pula tunduk oleh raut melas yang bersangkutan. Berkawan dalam kurun tahunan, membuatnya kebal. Apalagi kalau sudah menyangkut kebaikan pemilik kelereng biru langit itu, Ogiwara siap dicabik secara verbal.
Azure kembar di-rolling suntuk. "Kita bisa terlambat, Shigehiro-kun. Lihatlah sekarang sudah pukul bera—"
Tayangan televisi mencegat omongan Tetsuya. Yang menjadi fokus bukan host gosip yang membawakan narasi sambil melotot dramatis dan falsetto yang dibuat-buat. Matanya terpaku pada headline di bawah layar.
'Model Multi-Talenta, Kise Ryouta, Hiatus Dari Showbiz.'
Tampilan layar beralih pada ajang konverensi pers. Seorang pemuda berusia belasan duduk tegap dikepung lusinan mikrofon. Surai goldilocks-nya yang familiar berkilauan dihujani kepyar cahaya kamera.
'Saya sudah berencana untuk berhenti sejak lama dan meutuskan bahwa film ini adalah proyek terakhir saya.'
Suara si pirang bergaung statis dihantar speaker. Vokalnya memberat, tidak mirip priwitan nyaring yang biasa meletup tiap kali ia buka mulut. Tidak ada ekspresi konyol-merajuk yang langganan menempel di wajahnya. Dialek abal –ssu sudah dilucuti.
'Sampai kapan anda akan menjalani hiatus, Ryouta-kun?'
Kise tersenyum tipis. 'Masalah itu... Mungkin akan permanen.' Sang model seketika menoleh. Berkomunikasi melalui tatapan singkat dengan orang di sampingnya—mungkin manajer. Pria berambut tipis dengan setelan formal menggeleng tegas.
Paras rupawan Kise meredup dalam kecewa.
'Ah! maksud saya, mungkin sampai saya yakin bisa menyeimbangkan porsi modeling dengan sekolah.' Ekspresi keruh diseka senyum profesional begitu menghadap kamera. 'Karena saya tidak bisa terusan bolos. Kapten klub saya galak sekali lho. Mood-nya sedang baik saja saya dibuat lari enam lap.'
Untuk sekejap tadi, Tetsuya dapat melihat Kise Ryouta yang ia kenal hadir saat si pirang meruntuki kedisiplinan kaptennya.
Berbeda satu sama lain. Yang ada di sana bukan Kise Ryouta, si bebek kuning dari Teikou High yang terkenal hiperaktif dan bermulut toa. Sosok tampan nan charming di sana adalah 'Kise Ryouta', sang publik figur kelas atas. Penggambaran sempurna akan sosok pangeran yang diimpikan remaja Jepang.
Kise Ryouta yang tampak kesepian.
Sepasang orb emas yang berkilat sendu menyeruak dalam kepala. Proyeksi Kise yang terkekeh getir sambil memeluk dirinya sendiri menjadi primadona dalam rekam memori. Mengingatnya membuat batin Tetsuya ngilu.
Kise itu berisik, heboh, dan tukang jajah zona nyaman seseorang. Tetsuya adalah korbannya. Jenuh dan hampir malas bertemu karena asas 'personal space'-nya tidak pernah dihargai oleh si kuning. Meski begitu, Tetsuya lebih memilih gendang telinganya bolong dibor tawa cempreng Kise, dibanding miris karena harus menyaksikan si model diam dalam kesedihan.
.
******Kiseki******
.
.
Si bluenet tergesa melangkah. Tujuannya adalah mansion privat di sisi danau. Sesekali ia akan mendongak untuk mengintip tinggi matahari. Jauh dari ponsel membuatnya buta waktu. Tetsuya kesulitan menghitung durasi, berapa lama bisa keluyuran sebelum dipanggil raungan bel masuk.
Tetsuya bukan takut terlambat, hanya antipati pada omelan Ogiwara. Si choco memang agak rewel sejak peristiwa penolakan sarapan tadi pagi.
'Mau apa kau ke sarang Kiseki sepagi ini?' Tetsuya teringat betapa judes Ogiwara melontarkan tanya.
Hari ini pemuda bersurai tanah itu super-duper alot. Tidak gampang luluh. Tetsuya sampai harus memohon, alih-alih main bujuk seperti biasa. Akhirnya, tasnya ditahan sebagai jaminan. Izin diberikan tapi hanya sampai awal pelajaran pertama.
Tetsuya manut. Ikhlas mengalah daripada menyulut debat kusir. Kelingkingnya sudah dipagut dan disenandungkan janji bocah ingusan. Kalau sampai ingkar, akan dipaksa menelan seribu pancake—bukan jarum, Ogiwara tidak tega. Karena sudah sepakat, maka harus dipenuhi. Telat semenit saja, sahabatnya itu dijamin awet meracau hingga penghujung senja.
Mendengar suara aliran air, Tetsuya menambah kecepatan. Sungai kecil itu adalah post terakhir perjalanannya. Destinasi pelangi sudah di depan mata.
Baru sampai tengah jembatan, remaja berhawa transparan itu terpukul mundur. Hidungnya membentur material solid yang muncul tiba-tiba. Karena lebih ringan, Tetsuya terpental. Nyaris terjerembab pantat duluan, kalau bukan karena seseorang menarik pergelangannya.
"Tecchan? Tumben sudah sampai sini?"
"Dasar. Kalau jalan itu lihat-lihat nanodayo."
Penghalangnya bukanlah dinding ghoib, melainkan dada bidang yang nihil bantalan. Nickname aneh dan embel-embel nyentrik, 'nanodayo', itu terdengar familiar. Belum lagi jari berbungkus perban yang tadi mencegahnya jatuh.
"Uh. Takao-kun? selamat pagi." Tetsuya menggosok pucuk hidung yang terantuk. Takao Kazunari disapa duluan dengan pertimbangan tinggi badan. Garis mata mereka nyaris sejajar, tidak perlu sampai mendongak.
"Ck. Matamu itu ke mana? Makanya jangan kebanyakan melamun nanodayo."
Meski begitu, masih ada seorang lagi. Satu orang yang semampainya mengesalkan—meski masih belum sekurang ajar postur titanik si center ungu. Akan tetapi, Tetsuya adalah anak yang menjujung tata krama. Menyapa saat bertemu itu wajib. Dan kata sang kakak, kalau berbicara itu harus menatap mata pasangannya.
Karbon dioksida dihempas dalam jeda panjang. Dengan sedikit tidak rela, Tetsuya menangadah ke arah langit.
"Midorima-kun, selamat pa—"
Kelereng cerulean melebar. Tetsuya lucut ekspresi melihat pemandangan di hadapannya. Secara resmi ia menerjunkan rahang karena menganga terlalu lebar.
Sehelai wedding veil transparan berkibar lembut dijamah hembusan angin. Buntutnya panjang membelai batasan pinggul, dengan pinggiran dipagari renda bertabur sulaman payet. Pada bagian mahkota, terbaring bando dari mawar satin yang bersinar putih di bawah cahaya mentari.
Material sakral itu terlihat serasi dipadu dengan surai hijau milik Midorima Shintarou.
"—Selamat menempuh hidup baru." Salam pagi Tetsuya disunting jadi ucapan selamat khas banner pernikahan.
"Yeah! Aku bersedia!" Takao sudah menjeritkan statement persetujuan. Tanpa basa-basi langsung menggandeng Midorima bak mempelai pria memagut pasangan hidupnya.
Melihat adanya potensi skandal, spontan saja pribadi si teal menjelma jadi ibu rumah tangga. Haus gosip dan pengen kasak-kusuk. Jadian saja belum, tahu-tahu sudah menjadi pasutri. Apakah ini yang disebut sebagai hubungan dengan metode akselerasi? Pasti karena insiden.
"Selamat ya, kalian berdua. Semoga langgeng. Mau punya momongan berapa?" Tetsuya bertepuk tangan dengan zero antusiasme. Sebenarnya senang walau tidak terlukis di kontur mukanya yang flat.
"Makasih, Tecchan~" Kepala berhelai eboni digaruk malu-malu oleh yang punya. "Aduh, enaknya berapa, ya? Nanti diserahkan pada Yang Maha Kuasa saja deh."
"Jadi apakah aku harus mulai memanggil Midorima-kun dengan sebutan 'Takao-kun' juga?"
"Kalau seperti itu, nanti malah tertukar denganku..." Takao ngakak cetar seperti petasan rawit yang disulut dalam kaleng. Remaja ricek ini kelewat girang. "Bagaimana kalau 'Nyonya Takao' saja?"
"Itu ide yang bagus." Tetsuya menoleh pada Midorima. "Kalau begitu mohon bantuannya, Nyonya Takao-kun," ujarnya monoton.
"Ini lucky item nanodayo!"
Midorima akhirnya meledak. Kepulan asap membumbung dari kepalanya hingga mirip brokoli yang tengah dikukus. Kuping panas mendengar olok-olok dari juru genjot gerobaknya dan si bocah papan milik sang kapten. Kerudung pengantin itu disibak rancu namun tidak juga ditanggalkan.
Luar biasa aneh. Si kepala hijau marah tapi tidak malu berpenampilan seperti itu. Hanya berbekal argumen absurd 'ini item wejangan Oha-Asa,' kepercayaan diri pun meroket. Jadi imun dengan yang namanya malu dan pandangan miring dari masyarakat luas.
"Dan kita tidak menikah, Bakao! Berhenti berteriak seperti itu!" Midorima menyembur Takao yang masih menebar cengir gembira. Tangan disentak agar lepas dari gandengan.
"Ck. Shin-chan gak asik." Pemuda dengan poni belah lantas manyun. Jari kurusnya main toyor pada lahan kosong di wajah Midorima. Aksi pengeboran baru berhenti setelah telunjuknya ditampar oleh si empu pipi yang sewot.
"Jadi Kuroko..." Kacamata dicolek sebagai distraksi. Masih berusaha membangun wibawa meski malu tidak terkira. "Apa kau sedang menuju Rainbow House?"
Tetsuya masih terang-terangan melempar tatapan tidak sedap pada puncak kepala Midorima.
"Iya, Nyonya Taka—" Langsung disemprot laser oleh sepasang orb klorofil. Si megane senewen mendengar panggilannya. Daripada melepuh dihujam tatapan panas, Tetsuya mundur. "Iya, Midorima-kun. Aku ingin mampir dulu sebelum masuk kelas."
"Tumben pergi dengan inisiatif sendiri. Biasanya harus main 'seret-panggul-dikarungin' dulu sama Kapten Akashi baru mau," Takao berceletuk ringan dengan tangan disatukan di belakang kepala.
"Mungkin karena pada dasarnya aku memang tidak suka berada di sana." Teringat tujuannya, insan bersurai biru itu mengalihkan topik. "Ohya, Midorima-kun dan Takao-kun dari Rainbow House, kan?"
Midorima menyentili kacamatanya. Sudut bibir jatuh mengikuti gravitasi. Tampaknya masih agak ngambek usai di-bully. "Benar. Kenapa memang?"
"Apakah Kise-kun ada di sana?"
"Kise?" Si klorofil teringat pada siaran televisi yang sempat ditonton ibunya tadi pagi. "Pasti karena itu. Sayang sekali tapi hari ini Kise tidak masuk nodayo."
"Oh."
"Aku juga sudah mencoba menghubunginya sejak pagi tapi tidak dijawab. Terakhir aku bertemu dengan si kuning adalah kemarin saat latih tanding." Midorima memberi penjelasan tanpa diminta.
"Begitu ya..."
"Ciee! Shin-chan ternyata peduli~" Takao usil menciweli dagu partnernya. "Tsundere sekali. Padahal tadi ngomongnya, 'bukan urusanku Kise mau apa nanodayo'." Si elang menjiplak raut Midorima lengkap dengan tangan yang dibuat bolo-bolo sebagai kacamata.
Pipi sang wakil kapten menyala merah. Dipadukan dengan shade dedaunan di rambutnya, jadi serupa lampu lalu lintas tanpa warna kuning. "Aku tidak tsundere nanodayo!"
"Kyahahaha!"
"Jangan tertawa, Baka Takao!"
Di tengah kegaduhan duo lawak itu, Tetsuya hanya menunduk. Tidak ikut bersendau gurau, hanya adu pandang dengan ujung sepatunya. Lima belas menit ia mengarungi lahan gigantik Teiko berakhir sia-sia. Samar-samar rasa pegal di betisnya seperti mengejek. Tetsuya merugi. Sosok yang ia cari bahkan tidak hadir hari ini.
Belum juga melanggar tapi Tetsuya sudah merasa kualat pada Ogiwara.
Di saat bersamaan, bel sekolah memutuskan untuk beraksi. Melolong keras seolah ingin menegaskan kegalalannya. Batas deadline terputus. Tetsuya mendesah miris. Ceramahan si brownies sudah jernih terngiang sekalipun masih dipisah jarak puluhan meter.
"Kalau begitu aku pamit duluan, Midorima-kun, Takao-kun." Insan dengan nuansa biru pastel itu membungkuk singkat. Buru-buru berbalik tanpa menunggu respon lawan bicaranya.
Baru satu meter terlewati, Tetsuya kembali menoleh karena dipanggil.
"Kuroko, aku ingin minta tolong padamu." Midorima melangkah maju. Badannya yang semampai mengurung proporsi minimalis Tetsuya. Visual si baby blue langsung meredup. Seketika diliputi gerhana karena puncak kepala hijau itu telah memblokir matahari.
"Apa itu, Midorima-kun?" Tetsuya mundur teratur. Bermaksud kabur dari efek penumbra milik Midorima.
Mengetahui lawannya terintimidasi, si shooting guard Miragen tidak berniat memangkas jarak. "Aku ingin kau menemui Akashi. Sejak semalam dia mengurung diri di ruang kerjanya."
"Semalaman? Apa itu artinya, Akashi-kun tidak pulang?" Rasa cemas merembesi batin Tetsuya. Kedua bening turqouise-nya resah membututi guguran daun yang menumpang arus sungai. Untuk sejenak lupa kalau sudah dinanti oleh seorang sahabat.
"Begitulah." Bingkai hitam di atas mata ditowel. Midorima nge-blush lagi. Sekarang malah bertingkah dere-dere karena mengumbar perhatian berlebih pada kaptennya. "Dia menolak ketika aku minta untuk beristirahat. Aku tidak memintamu menghentikannya, hanya membawa Akashi keluar dari sana sebentar saja sudah cukup."
"Kalau Midorima-kun saja ditolak, bagaimana dengan—"
"Tenang saja, Tecchan! Kalau denganmu, Akashi-kun pasti akan menurut! After all, Tecchan kan 'ini'-nya kapten." Saat mengucap 'ini' kelingking kanan Takao berdiri jumawa.
"Ini?" Tetsuya mengimitasi gestur Takao. Jarinya yang paling mungil ditegakkan inosen. "Ini artinya apa, Takao-kun?" Kepala biru miring karena penasaran.
Pemuda bersurai kelam hanya terkekeh sok rahasia. Mulut sudah terkunci, tidak akan mengunggah fakta. Si baby blue lantas menuntut penjelasan pada Midorima. Si penangkar elang hanya menawarkan kendikan bahu. Kerutan jenuh di wajahnya gamblang berkata, 'aku tidak tahu apa yang dipikirkannya. Jangan libatkan aku nanodayo.'
Berpamitan sekali lagi, Kuroko muda itu angkat kaki. Kali ini arah jalannya berlawanan. Pandangan terkonsentrasi pada bangunan putih yang hanya tampak atapnya disembunyikan deretan pohon.
Orb sehijau daun mengikuti punggung mungil yang menghilang ditelan belokan. Agak lega karena ganjalan kecil di benaknya telah diamanatkan pada orang yang tepat.
"Yup. Singa sudah diserahkan pada pawangnya. Kalau sama Tecchan, Kapten pasti langsung jinak. Benar tidak, Shin-chan?" Karena hanya didiamkan, Takao kembali mengebor pipi si megane dengan pucuk jari. "Shin-chan, Kau mendengarku?"
Midorima menggulir emerald-nya dari balik kacamata. Fokus pandangan sepenuhnya dijatuhkan pada figur yang lebih pendek. Karena sudah dihujani atensi, Takao menarik jarinya dari peredaran.
"Nee, Shin-chan. Antar aku ke kelas dong. Telat nih. Kalau sama Shin-chan, Sensei pasti—"
Takao tidak diperkenankan berkicau sampai tuntas. Si poni kembar terdiam tatkala sesuatu yang ringan mendarat di atas kepalanya. Kelereng berwarna steel-gray digulir ke atas. Kain bening berayun riang di atas poni.
"Eh, Shin-chan? Ini lucky item-mu kan? Kok dikasihkan padaku?" Takao mengelus kerudung sakral yang melingkupi ubun-ubun. Terkesima merasakan bagaimana fabrik itu tergelincir licin melewati telapaknya.
Pemuda yang lebih asri menyundul kacamatanya dengan pucuk jari. "Kau saja yang pakai."
Tampaknya Midorima mulai sadar betapa absurd item kemujurannya hari ini. Bahkan sikap acuh tak acuh sudah tidak bisa menutupinya. Ia sadar pandangan yang terarah kepadanya terasa lebih menguliti dibanding biasa. Apalagi kalau dia jalan berdua dengan seseorang—baca; Takao.
Jadi serasa pengantin baru.
Dan masalahnya, Midorima enggan diposisikan sebagai 'mempelai wanita'. Sekalipun untuk menangkal bala dan mendongkrak peruntungan.
Takao mengambil jeda untuk mencerna situasi. Begitu tersambung, tawanya menggema nyalang ke segala penjuru. "Astaga, Shin-chan! Kau malu ya? Tumben sekali?"
Midorima hanya berdiri tegar dengan wajah serupa udang rebus. Harga dirinya ditelan bulat-bulat. Si klorofil tidak bereaksi dihujat tawa partnernya yang tiada akhir.
"Tapi, Shin-chan..." Takao mengusap air mata. Saking kerasnya diguncang erupsi kotak tawa, pemuda itu sampai menangis. "...Kalau lucky item-mu ada padaku, bagaimana denganmu? Bukannya Shin-chan tidak boleh jauh-jauh dari mereka?"
"...dariku."
Kepala hitam dicondongkan dengan kuping menghadap sumber suara. "Ngomong apa, Shin-chan? Aku tidak dengar."
Midorima memerah hingga telinga. Kesepuluh buku jarinya ditekuk bulat. Bening jamrud dilempar jauh-jauh dari lawan bicara. "Ka-Karena itu jangan jauh-jauh dariku nanodayo! Kau satu paket dengan lucky item-ku sekarang!"
Pada saat itu juga, si jangkung merampas tangan rekannya. Kedua insan itu angkat kaki dengan formasi gandengan seperti gerbong kereta. Takao menatap jari berbalut perban yang melingkar di sekitar pergelangannya. Iris perak setajam daya pandang elang itu berbinar senang.
"Aish, Shin-chan manis sekali! Aku bersedia!"
"Kita tidak menikah, Bakao!"
Pada akhirnya, Takao Kazunari membolos karena menjadi cangkang dari wedding veil keberuntungan.
.
******Kiseki******
.
.
Tetsuya mengintip dari celah kusen yang berhias kaca. Tidak ada satupun bentuk kehidupan yang tertangkap mata. Jangankan warna keemasan yang tadi ia cari. Rombongan pelangi yang konstan seliweran saja, satu pun tidak kelihatan.
"Permisi..."
Sekalipun tidak didengar, Tetsuya tetap membisikkan salam. Lounge area lewat tanpa dilirik. Langsung menyongsong ruang study di sebelah kanan perpustakaan. Tinjunya telah melayang. Niat awal ingin mengetuk namun diurungkan. Pada akhirnya, handle kuningan didorong begitu saja tanpa pengumuman.
"Ketuk pintu dulu sebelum masuk ruangan. Lain kali perbaiki sikapmu."
Langsung disambut teguran tegas. Tetsuya geming. Tidak berjengit sekalipun ditusuk intonasi tajam yang melesat bersama bariton itu.
Daun ganda berbahan kayu jati dikatupkan. Tetsuya tidak mencoba mendekat. Hanya menatap datar pada owner-nya yang dikepung lusinan kertas kerja.
"Tadinya aku akan mengetuk tapi tidak jadi. Aku yakin Akashi-kun sudah tahu aku akan masuk."
Akashi angkat kepala dengan alis menukik. Rubi dalam kurungan frame hitam memicing, melontarkan pandangan dingin. Ia tidak suka pada tanggapan Tetsuya. Tanpa bicara, garis pandangnya kembali diturunkan pada hamparan surat resmi di atas meja.
Tidak ada konversasi susulan. Keheningan menyelinap disusupi ritme gesekan pena di atas kertas. Pertemuan ujung logam dengan olahan pohon itu menimbulkan onomatope 'srek-srek-srek' bernada konstan. Nyaris statis, tanpa perubahan tempo. Seakan memang hanya itu kerjaannya sejak tadi. Menjemukan sekali.
Bening biru bergulir random memindai area. Posisi meja kerja yang memunggungi barisan jendela membuat sosok Akashi dihujani bayang-bayang redup. Ditambah sandaran kursi yang agak tinggi, tidak heran jika majikannya itu terlihat agak suram.
Namun minim pencahayaan dan tumpukan paperwork tidak bisa mengelabui Tetsuya. Sikap tubuh Akashi terlalu condong. Garis pada bahu tegap itu turun dari semestinya. Sesekali lahan di antara alis akan dipijit. Dari sini pun terlihat kalau leher dan pelipis pemuda itu basah oleh keringat.
"Akashi-kun terlihat kacau."
"Tidak ada yang tanya pendapatmu."
Tetsuya mengangkat satu alis. Suara Akashi terasa seperti ribuan jarum es saat menyambangi telinga. Dingin dan nylekit. Kepala merah bahkan tidak dinaikkan untuk sekadar bersitatap dengannya.
"Akashi-kun judes padaku."
Pena berpisah dari kertas. Bunyi gesek yang memancing kejenuhan itu lenyap. Dari balik kacamatanya, Akashi melempar tatapan ganjil pada si properti di depan pintu.
"Maaf kalau begitu. Aku sedang sibuk. Tidak punya waktu memikirkan bagaimana aku harus meladenimu hari ini," sahut si stroberi tanpa minat. Selesai bicara langsung balik bercengkerama dengan segepok kertas penting. Eksistensi Tetsuya didengus, diturunkan hingga selevel dengan partikel udara.
Tanggapan Akashi kali ini berwujud sarung tinju. Rusuk Tetsuya dihantam lalu ditinggalkan begitu saja. Terasa sesak dan berakhir dengan sensasi cenat-cenut.
Untuk pertama kalinya, pemuda teflon itu mati gaya. Otak enggan bersinergi, mulutnya kaku tidak mau bicara. Tidak bisa melawan dengan ceplosannya yang biasa. Karena Akashi di sana berbeda dengan yang kemarin. Kalau coba mendekat, Tetsuya hanya akan lecet disayat sikap apatisnya.
Helaan berat dihempas panjang-panjang. Tetsuya angkat tangan dan memilih kabur—opsi yang paling menggiurkan kalau sudah menyangkut Akashi. Perasaannya sudah tidak karuan. Campur aduk diobok-obok gusar dan rasa keki. Tubuh diputar tanpa pamit. Tidak yakin pula akan ditanggapi kalau mengucap salam perpisahan. Mending diam saja dan segera menyingkir.
Kayu kembar berpelitur redwood kembali dipisah untuk membuat jalan. Tetsuya baru setengah badan melangkahi pintu ketika vokal parau majikannya memburai.
"Kuroko, kau mau ke mana?"
Akashi sedang menilik proposal dana ketika tengkuknya meremang. Seolah ada jari tak kasat mata yang mencolek. Benak berdesir ganjil. Biner semerah darah diusir paksa dari kegiatan menyisir aktualisasi pada nominal anggaran di atas lembar putih.
Ia mendongak tepat waktu untuk menangkap si biru angkat kaki.
Tetsuya tidak melepas handle pintu. Tidak berbalik pula dan hanya menengok melewati bahu. "Mau kembali ke kelas, Akashi-kun," jawabnya miskin emosi. "Akashi-kun tampaknya sibuk sekali, aku hanya akan mengganggu."
"Kau ini bicara apa?"
Scarlet di balik kacamata melebar tidak percaya. Benarkah ia telah mengatakan bahwa Tetsuya itu mengganggu? Rasanya mustahil. Karena dalam kamus Akashi, kata 'Kuroko' dan 'mengganggu' itu kurang efektif jika disatukan. Akashi tidak akan rela jauh-jauh dari bocah biru yang jadi prioritasnya itu. Tidak mungkin juga akan secara sadar mengusir kehadirannya.
Kecuali kalau kepalanya cukup kacau.
Seperti hari ini.
Akashi mengetukan lidahnya dalam decakan. Bibir menyusul dengan melesatkan lenguh pilu. Sambil mengurut pelipis, punggungnya dihunus pada sandaran kursi yang digelayuti selembar blazer Teiko.
"Astaga. Aku tidak tahu apa yang telah merasukiku," sang kapten bergumam dengan mata terpejam. Tampaknya migren akut dan tekanan tugas telah mengambil alih kepribadiannya. Membuatnya menjadi seorang begundal yang tidak memiliki rasa empati. Akashi ingat tadi bersikap serupa pada Midorima dan Takao yang rela datang jauh-jauh untuk menengoknya.
Entah akan seburuk apa kelakuannya nanti, kalau tidak ditampar oleh kepergian Tetsuya.
"Kuroko, aku benar-benar minta maaf. Kepalaku benar-benar penat saat ini, aku tidak bisa berpikir jernih."
Meski belum hengkang dari mulut ruangan, Tetsuya sudah kembali menghadap Akashi. Seluruh atensinya kini dicurahkan pada sang owner yang terlihat nelangsa.
"Akashi-kun, istirahatlah sebentar."
"Hm?" Akashi mengintip dari satu mata. Tangan masih menempel di pojokan kening, belum tuntas mengusir pening.
"Istirahat." Insan yang lebih terang menegaskan dengan anggukan kecil. "Tidak baik kalau terus memaksa bekerja dalam kondisi seperti itu. Seperti yang kukatakan tadi, Akashi-kun terlihat kacau. Seperti akan ambruk sewaktu-waktu."
"Begitukah?" Masih berserah punggung pada sandaran kursi, Akashi terkekeh ringan. Setelah dilemaskan, barulah ia sadar betapa berat tubuhnya itu. Ototnya loyo dan pegal karena terlalu lama dipancang dalam posisi duduk.
Mungkin istirahat bukanlah pilihan yang buruk. Sekalian juga mengisi perutnya yang masih koroncongan dan hanya sempat diganjal secangkir kopi kala subuh tadi. Akashi teringat ada sepiring sandwich yang tersimpan di dapur—salah satu bentuk perhatian yang ditinggal Murasakibara dan Himuro untuknya. Sebagian adalah roti isi daging dan sisanya beroleskan selai. Variasi seimbang gurih dan manis untuk memanjakan selera. Secangkir teh hangat akan menjadi pendamping yang sempurna.
"Kalau begitu temani aku sarapan dulu, Kuroko."
"Sarapan?" Tetsuya mengulang tawaran Akashi. Wajahnya mengkerut halus dalam pertimbangan. Sudah telat sekarang malah terancam dibablaskan bolos. Kalau Ogiwara tahu pasti akan menyemburkan nafas api.
Meski begitu, Tetsuya sudah tahu apa pilihannya.
"Kau mau kan? Akan kuseduhkan teh vanila kesukaanmu itu."
Pertanyaan Akashi direspon oleh kepala teal yang naik turun setuju.
Puas dengan reaksi Tetsuya, bibir Akashi mengurai senyum. "Kalau begitu tunggulah sebentar. Aku akan menyelesaikan ini dulu." Pemuda itu luwes meraih filecase tebal yang bertengger di puncak paperwork-nya.
Mimik Tetsuya berubah dingin. Tanpa sungkan berusaha menikam kepala merah dengan intesitas glare-nya. Ia tidak percaya Akashi akan kembali mengubek-ubek sumber keletihannya dengan sikap carefree.
Workaholic? Kecanduan? Atau memang dari sananya buta dengan kondisinya sendiri?
Gas hasil respirasi dihembus panjang. Akashi bisa menebak apa isi dari kepala biru yang tengah memicing ngeri kepadanya. "Apa boleh buat, Love. Dokumen ini harus sudah ada di ruangan Kepala Sekolah sebelum tengah hari." Selusin kertas yang dikepalai kop resmi SMU Teiko dikibas sebagai bukti.
Manik cerulean digulir memutari rongga. Tetsuya hanya mendengus, malas memberi respon. Berusaha mencegah pun akan sia-sia. Lihat saja, bahkan terang-terangan ditentang pun Akashi masih keras kepala melanjut pekerjaannya. Inilah kenapa Tetsuya tidak bisa meninggalkan si scarlet sendiri.
Kalau dibujuk tidak bisa, berarti harus dipaksa.
Tetsuya memajang raut nihil ekspresi andalannya. Bunyi langkah diredam hamparan karpet berwarna marun. Pemuda berhawa transparan itu berhenti di samping meja mahogany yang sejak tadi dierami Akashi.
Lipatan tebal menyambangi dahi saat melihat keadaan sang majikan dari dekat. Optik berbingkai persegi itu tidak bisa menutupi kantung mata dan lingkaran gelap yang menaunginya. Rona Akashi juga memucat hingga pada tingkat yang mengkhawatirkan.
"Akashi-kun sedang mengerjakan apa? Sepertinya asik sekali."
Biner ruby melirik singkat pada sepasang sapphire di sisinya. "Bukan asik, Kuroko. Aku sedang serius."
Surai biru meloncat kecil karena empunya mengangguk. Tetsuya menggeser kedudukannya agar lebih mendekat. Tangan kanan mendarat di pinggir meja, satunya hinggap di sandaran kursi.
"Ini dokumen tentang apa?"
Tangan yang ada pada punggung kursi mulai bergerak naik. Jarinya menyerempet blazer Akashi yang terkulai. Sesuatu di dalam kantung jas putih itu menggelitik atensi Tetsuya. Untuk sesaat ia tergoda untuk menelisik isinya.
Tetsuya menggeleng. Sekarang bukanlah saatnya.
"Ini? Ini laporan dari para pengurus festival sekolah, Kuroko." Mata Akashi masih melekat pada deret kalimat resmi di tangannya. Tidak diangkat, takut hilang konsentrasi bila mangkir meski hanya sejenak. Ia tidak akan sempat melihat apa yang direncanakan oleh Tetsuya. "Ada ketidak cocokan antara laporan tertulis dan data lapangan. Aku harus—!"
Akashi roboh. Reguler ber-jersey empat itu langsung tersungkur ditangkap permukaan kayu yang berlapis kaca. Pukulan telak di bagian tengkuk telah merampas seluruh kesadarannya.
"Maafkan aku, Akashi-kun. Aku tidak punya pilihan lain," Tetsuya berbisik pelan. Tangan masih melayang usai mendaratkan chop di belakang leher Akashi. Melihat punggung si pemilik, rasa bersalah perlahan melilit hatinya.
Punggung kepala bersurai ceri diusap lembut. Tetsuya berinisiatif memindahkan majikannya ke media pembaringan yang lebih nyaman. Entah bagaimana, ia ingin Akashi lepas dari jerat kursi panas itu. Mungkin bisa diselonjorkan pada sofa dongker di sisi kiri ruangan. Syukur-syukur Tetsuya malah cukup perkasa untuk menggotongnya hingga ke kamar tidur di lantai dua.
Bahu yang hanya dibungkus kemeja biru itu digapai. Hendak ditegakkan agar lebih mudah dalam bermanuver. Teringat kalau Akashi masih mengenakan kacamata. Tetsuya baru akan melepas optik berlensa kembar itu ketika sekujur tubuhnya beku disiram es imajiner.
Ada sepasang rubi yang melotot garang kepadanya.
Jantung Tetsuya pindah ke bokong.
Akashi masih menguliti si objek posesi dengan tatapan belati.
"Akashi-kun, kau tidak pingsan?!" Intonasi yang biasa monoton itu menaiki tangga nada dalam jeritan. Tetsuya belingsatan mundur hingga menubruk sofa. Lututnya melemas lalu melorot bertemu lantai.
"Apa maksudmu dengan 'tidak pingsan'?" Akashi mendesis bak kucing yang buntutnya terinjak. Bermaksud bangun namun tubuh terasa lemas. Ada nyeri luar biasa yang mendera belakang lehernya. "Apa yang telah kau lakukan padaku, Kuroko?" Sang kapten memicing secara vertikal. Masih terkulai dengan pipi menempel meja.
"Mustahil," insan yang lebih mungil menghembuskan bisik tidak percaya.
Aksi Tetsuya gagal. Pukulan sampingnya tidak berhasil membunuh kesadaran Akashi. Padahal yakin telah menirukan teknik sang kakak dengan benar. Tidak mungkin salah apalagi lupa suatu langkah. Tetsuya hafal seluruh seluk-beluknya di luar kepala.
Jelas saja. Karena bagaimanapun dialah korban terbesar dari teknik yang dimaksud.
"Pasti salahnya ada pada Akashi-kun." Tetsuya berubah sewot sekaligus dongkol. "Harusnya Akashi-kun sudah tidak sadarkan diri. Akashi-kun maunya apa sih? Kok setengah-setengah?" Si baby blue menggemukkan pipinya sebagai bentuk protes.
"Oi, yang berhak marah di sini bukanlah kau." Alis semerah delima berkedut keras. Sekarang Akashi gregetan setengah mati. Tergoda untuk mencubit kedua pipi setembem manju itu tanpa belas kasihan. "Sebenarnya kau itu mau melakukan apa?"
"Mau membuat Akashi-kun tertidur selama beberapa saat," Tetsuya menjawab datar.
"Kalau begitu kuucapkan selamat, Kuroko. Karena seperti yang kau lihat, aku tidur pulas sekali." Majas sarkasme meluber deras dari mulut sang kapten Teiko.
Mengabaikan sinisme majikannya, Tetsuya merangkak mendekat. Karena berjongkok, hanya sejumput surai biru dan sepasang matanya yang tampak dari atas meja. Manik safir menyorot kritis pada sang majikan yang masih lunglai.
Poke. Poke.
Pipi pucat Akashi ditowel-towel curious. Tetsuya masih sukar menelan realita kalau usahanya gagal. Sementara itu, sang kapten bergetar hebat. Sekuat hati menahan diri untuk tidak menggigit jari mungil yang keluyuran di wajahnya.
"Hmm... Mungkin karena Akashi-kun bukan manusia kali, ya?" Juntaian surai merah dimainkan oleh telunjuk dan jempol.
"Ngaku saja, Akashi-kun. Akashi-kun ini dedemit dari goa mana? Iblis dari neraka tingkat berapa?" Tetsuya frontal mempertanyakan asal-usul majikannya. Karena setahunya tidak ada homo sapiens yang masih bisa bangun usai dihantam seperti itu.
"Kau ini ya." Sudut bibir Akashi keriting. Urat jengkel sudah terjiplak tebal di pojokan pelipis. "Kalau saja tanganku bisa bergerak, akan kuciwel, kutarik, kuuntir-untir kedua pipimu itu hingga kendor menggelambir." Kilat sadis menghampiri lensa merah.
Melepaskan rambut majikannya, Tetsuya ngepot menjauh.
Point guard Kiseki menghela udara. Menatap individu miliknya yang kini kalut menangkupi pipi—takut kena capit. Manik merah dialihkan pada menara berkas di seluruh penjuru meja. Akashi ingin menjerit dalam kepiluan. Kalau sudah begini, mustahil bisa melanjutkan tugasnya.
"Sepertinya aku memang harus istirahat." Gerutuan Akashi direspon positif oleh sepasang iris biru yang berbinar. "Kau sengaja melakukannya, ya?" Ruby kembar menyipit hingga tinggal segaris.
"Mungkin ya. Mungkin tidak, Akashi-kun."
Gas karbon hasil respirasi dihempas. Senyum keki menyembul manis di sudut bibir Akashi. "Kalau begitu bertanggung jawablah, Kuroko Tetsuya. Bantu aku. Gara-gara ulahmu pula, aku sedikit mengalami disfungsional."
"Serahkan padaku, Akashi-kun." Tetsuya segera memposisikan diri. Meski parasnya masih seekspresif jalan tol, orang bisa melihat kalau bocah itu tengah berbunga-bunga.
Akashi tersenyum maklum dengan semangat propertinya. Ikut mempersiapkan diri agar meminimalisir beban yang nanti harus ditanggung Tetsuya. "Aku mengandalkanmu, Kuroko. Aku senang kau mau—mau apa kau?" Melihat pemandangan di depannya, nada Akashi berubah sensi.
Alis biru kusut dalam kerutan. Tidak mengerti mengapa pemiliknya memasang raut sejutek itu. "Katanya Akashi-kun mau dibantu." Tetsuya kini merendah dengan satu lutut ditekuk sejajar tanah. Kedua lengan direntangkan setinggi dada. Posturnya ditegapkan rosa-rosa.
"..."
Tetsuya membusungkan dadanya yang tidak bidang. "Akashi-kun, bridal style—"
"Kubunuh kau."
Tolong dicatat. Akashi Seijuurou itu anti dengan yang namanya gendong-gendongan ala princess. Kurang gentlemen—kecuali kalau dia yang jadi pangerannya. Tidak, terima kasih. Ia lebih memilih ngesot Anyer-Panarukan daripada diboyong oleh anak manis dengan lengan setipis wafer di sana.
.
******Kiseki******
.
.
.
Di atap sekolah yang lenggang, Kagami Taiga melumat roti isinya. Mulut mengatup sehingga nihil bunyi kecapan. Tidak ada pula suara tegukan binal yang mengiringi perjalanan soda dari kaleng menuju kerongkongan. Tidak seperti biasa, hari ini si marun bersantap pagi dengan sopan.
Alasannya tidak lain tidak bukan, karena keberadaan seorang Ogiwara Shigehiro yang tengah menguarkan aura membunuh tidak jauh darinya.
"Oi, Ogiwara. Sebenarnya kau ini kenapa?"
Sebagai teammate yang teladan, Kagami berusaha mencari tahu apa yang sedang mengganggu si brunet. Siapa tahu malah bisa membuatnya kembali ceria—cengengesan—seperti sedia kala. Karena jujur saja, Kagami tidak tenang mengganyang jajanannya kalau terus-terusan diterkam hawa brutal milik pemuda coklat itu.
Air susu disiram air tuba. Niat baik Kagami ditampik oleh sekilas kerlingan garang. Si macan terkesiap. Lidahnya kepleset, lantas tanpa sengaja ikut terkunyah bersama selada dan daging ham.
"Berisik, Bakagami. Kau tidak lihat aku sedang emosi?" Ogiwara senewen tingkat dewa. Pekik pesakitan si marun pun didengusnya tanpa dilirik dua kali.
Kagami berusaha mengumpat meski sulit. Tangan bergetar menangkup area mulut dengan sebutir kesedihan menetes di pelupuk mata. Butuh obat luka tapi mustahil dicocol betadine. Baru ingat kalau punya sekaleng cola dingin. Minuman berkarbonisasi langsung lenyap sekali tegukan.
"Apa masalahmu, Ogiwawa kampwet?!" Si redhead ikutan sewot dengan mulut kelu. Bicaranya jadi cadel karena lidah masih menggelinjang kesakitan.
Ogiwara melotot. Tinjunya ganas dihantamkan pada lantai beton yang menyelimuti atap sekolah. Lahan kosong berpagar jeruji besi itu gempa sesaat
"Masalah, kau bilang?! Masalahnya itu Tetsuya!"
Melihat suasana hati temannya semakin semerawut, Kagami was-was menggeser lesehan. Spasi antar bokong kedua starter itu diurai sedikit lebih jauh. Tidak jadi marah, si macan malah keder. Takut kalau jadi sasaran gebuk setelah lantai dirasa kurang menggairahkan oleh Ogiwara.
Si surai kokoa geram mengadu giginya satu sama lain. Kali ini dinding bercat putih tempat mereka bersandar yang jadi sasaran bogem. Infrastruktur atap Teikou kembali bergetar. Kagami senang telah menjauh.
"Bilangnya tadi pergi cuma sebentar. Omong kosong! Sampai sekarang saja belum kembali. Dia itu ngapain saja, sih?! Aku kan khawatir. Sudah diajak sarapan tidak mau, malah melipir tidak masuk kelas! Maunya apa sih? Kalau di sana ada apa-apa bagaimana?! Kalau di jalan dia diculik orang bagaimana? Kalau ketemu hidung belang nanti diraep—plak!"
Cerocosan tak tentu arah itu terhenti. Ogiwara membisu dengan kepala berpaling ke sisi kanan. Iris coklat Belgia membelalak dramantis. Pipinya matang dijiplak rona kemerahan berbentuk cap lima jari plus telapaknya.
"Maaf, Kawan. Tapi aku hayus melakukannya. Kau mulai kehilangan diyimu," Kagami si algojo tampar bertutur serius. Kontras dengan rautnya yang jantan-heroik, lafal Kagami masih secadel batita yang baru tumbuh gigi.
Bagian wajahnya yang pedih diusap dengan punggung tangan. Senyum satir merekah bersama sebait tawa hampa. "Astaga. Aku nyaris mengatakan hal yang akan kusesali. Padahal kata-kata itukan doa." Ogiwara sendu menghempas udara. Tidak percaya sempat mengharapkan hal buruk terjadi pada sahabatnya.
"Terima kasih karena telah menyadarkanku, Kagami."
Kagami menepuk bahu si brunet simpatetik. "Itulah gunanya teman."
"Tentu saja." Masih mengelus pipinya, Ogiwara menatap langit. "Kagami, aku ingin bertanya satu hal."
"Katakan."
"Apa kau ada dendam padaku?"
"Huh? Memangnya ada apa?"
Alis dark brown mengejang dalam kedutan. Raut melankolis Ogiwara berubah kedongkolan. "Aku merasa 'menyadarkanku' bukanlah satu-satunya alasan." Nyut-nyut pada area bekas tamparan semakin merajalela. "Agak bengkak nih. Kalau mau membuatku sadar kurasa tidak perlu sampai segitunya."
Ditojos picingan sengit, Kagami menghindari kontak mata. Si macan tiba-tiba bersiul mencurigakan. "Itu hanya peyasaanmu saja." Padahal memang menuntut balasan atas lidahnya yang teraniaya.
Menyadari gelagat abal Kagami, pemuda bersurai lempung hanya mendengus. "Omong-omong, kau tidak masuk kelas?" Ogiwara bertanya sambil mencomot sisa sandwich yang dianggurkan si marun. Hitung-hitung sebagai ganti rugi.
"Kelasku kosong sampai nanti jam keempat. Miyaji-sensei tidak masuk, jadi belajaw sendiri." Kagami merengut rotinya digilas Ogiwara. Tidak bisa protes. Toh, dengan kondisi lidahnya mustahil juga bisa makan. "Kau sendiyi ngapain ada di sini?"
"Aku izin ke toilet pada Hyuuga-sensei," jawab si pemain nomer 11 sambil menjilati sisa mayones di ujung jari. "Tadinya mau mencari Tetsuya tapi malah bertemu denganmu—"
Menyadari sesuatu, pemuda bronis perlahan menoleh. Pandangan melekat pada si bongsor marun. Perlahan tapi pasti, bibirnya mulai melengkungkan senyum penuh makna.
Kagami mengendus firasat tidak baik. Naluri hewaninya kelabakan ditekan atmosfer ganjil di sekitar Ogiwara. Pemuda beralis cabang hendak kabur ketika dicegat, dipagari lengan di masing-masing sisi kepalanya. Si macan kini terkurung di antara dinding dan tubuh sang rekan.
"Tadi kau bilang, jam pelajaranmu kosong kan, Kagami?" Paras Ogiwara semakin ganteng karena dihiasi kurva senyum. Sayang, smiley manisnya itu malah membuat Kagami merinding ngeri. "Aku minta tolong boleh?"
"Kau ini apa-apaan sih? Jauh-jauh sana!" Kagami meringsek. Kepala diundur untuk mengulur jarak antara mukanya dan pucuk hidung Ogiwara. Tidak peduli meski harus menge-press badannya sendiri pada tembok hingga pipih.
"Kagami~ Boleh aku minta tolong?" Nada tanya Ogiwara naik turun seperti lagu. Bukan berarti mengurangi kadar teror yang dilimpahkan pada si marun.
"Ogah! Kau membuatku takut!"
"Kagami, please." Ogiwara semakin condong, Kagami semakin penyet mepet dinding. Manik bening berwarna bumi menikam lensa crimson. "Bantu aku, sekali ini saja. Kalau tidak..."
Tidak diketahui apa sambungan kalimat Ogiwara. Yang pasti, hari itu segenap warga Teiko dikejutkan oleh jerit ketakutan yang bergema seriosa dari arah atap.
.
******Kiseki******
.
.
Cangkir keramik mengetuk puncak nakas saat diletakkan. Cairan putih creamy berombak pelan dalam wadahnya. Dari tempatnya di atas ranjang, Akashi dapat mengendus aroma manis bercampur rempah yang sedikit pedas.
"Kuroko, tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan susu." Akashi terdengar setengah menggumam, setengah menggerutu. Telentang dengan tangan menutupi mata. Meski masih belum bisa bergerak leluasa, paling tidak tubuhnya sudah tidak selumpuh tadi.
Menggeser kursi ke samping kasur, Tetsuya angkat satu alis. "Ini susu jahe, Akashi-kun. Akan membuat Akashi-kun lebih enakan. Aku membuatnya dengan resep maid di rumahku." Sambil duduk, cangkir keramik yang menghangat diraih dengan dua tangan lalu disesap sedikit. "Enak lho. Akashi-kun harus mencobanya."
Akashi menghambur desahan miris. Kepala masih belum bisa diajak negosiasi. Dera pening semakin menjadi. Sekalipun harum jahe berpadu manis susu sudah mengetuk nostril dan memaksa agar dicicipi, Akashi tetap teguh.
Bukannya tidak mengapresiasi racikan Tetsuya. Hanya saja setelah peristiwa tadi, perutnya masih bergejolak labil hingga menolak dikirimi asupan.
Seperti yang diduga, proses relokasi sang kapten ke lantai dua tidaklah berjalan mulus. Fisik Tetsuya terbukti kurang mumpuni ketika harus multitasking, memapah dan mendaki di saat bersamaan. Di bidang landai saja remaja biru itu terseok. Sampai puncak tangga, kakinya berubah clumsy lalu hilang keseimbangan. Nyaris jatuh ditangkap kerasnya keramik tiga meter di bawah sana.
Akashi reflek menjangkau banister tangga. Otak sudah mengirim rantai instruksi tapi tangan tidak bereaksi. Sadar dirinya masih lumpuh, si stroberi panik. Dengan sisa tenaganya, lengan dilingkarkan di sekitar raga Tetsuya. Berniat jadi bantalan andai keduanya benar-benar jatuh.
Beruntung si biru berhasil meraih pegangan tangga di saat-saat terakhir. Mimpi buruk itu sirna. Keduanya berhasil menapaki kamar, berbekal sedikit keajaiban dan sifat keras kepala Tetsuya.
Si kepala merah mendecak. Umurnya serasa berkurang karena tragedi tadi. Akashi bahkan yakin kalau jantungnya sempat berhenti. Tidak mau hilang, kejadian tadi terus diputar oleh proyektor semu dalam kepalanya. Seolah mengejek dan mengingatkan, Akashi Seijuurou pernah menjadi orang yang lemah dan dikuasai rasa takut. Asal tahu saja, Akashi tidak takut pada rasa sakit karena akan jatuh.
Akashi takut karena tahu Tetsuya akan ikut terjatuh bersamanya. Merasa lemah karena tidak bisa melakukan apa-apa.
"Akashi-kun, kau marah?" Pertanyaan yang mengalun monoton membunuh suasana sunyi. Sepasang alis cerulean kusut dipilin rasa cemas. Cangkir merah yang asal dicomot dari dapur diputar-putar sebagai distraksi.
"Tidak," si kepala merah menanggapi singkat tanpa interest.
Kelereng icy blue masih belum beralih dari objek semula. Berharap tangan putih Akashi segera menyingkir agar tidak menutupi iris ruby-nya yang indah.
"Maaf, Akashi-kun. Seharusnya tadi aku tidak bersikeras membawa Akashi-kun ke sini." Tetsuya menatap muatan cangkir di atas pangkuannya. Merasakan hangat susu yang mulai hilang dibawa waktu.
"Tapi tetap saja, aku tidak bisa membiarkan Akashi-kun berbaring di ruang kerja. Akashi-kun itu keras kepala. Harus dijauhkan dari semua dokumen tugas itu agar bisa istirahat sepenuhnya."
"Dan apakah itu semua sepadan dengan insiden tadi, Kuroko?"
Remaja yang lebih pendek berjengit karena nada pertanyaan yang ketus. Tetsuya pikir Akashi murka karena nyaris dijatuhkan dari tangga. "Kurasa tidak..." Bibirnya kelu karena terus dikulum. Sukar dibuka untuk mengucap frasa. "Aku benar-benar menyesal."
"Hm."
"Akashi-kun marah, ya?"
Decak kesal hadir sebagai pembukaan. "Sudah kubilang, tidak."
"Akashi-kun marah." Tetsuya lirih menggumam konfirmasi.
"Kalau sudah tahu, jangan tanya lagi." Kali ini mendapat bonus sepotong dengusan.
Hembusan panjang dibuang ke udara bebas. Tetsuya menggosok pelan permukaan licin pada keramik dalam genggaman. Berusaha mengumpulkan sisa-sisa kalor agar tidak melebur di tengah suhu ruang.
"Akashi-kun, masih mau susu jahenya?"
"Letakkan saja di situ."
"Kalau tidak segera diminum nanti dingin."
"Dingin sekalipun nanti akan kuminum. Letakkan saja."
Tetsuya mengalah. Pantat cangkir kembali bertemu muka nakas. Lelah menunduk namun enggan melihat majikannya. Sorot azure diarahkan pada jendela besar di seberang ranjang tempat Akashi berbaring.
Panorama danau Teiko terbingkai oleh kusen jendela bergaya kolonial. Airnya jernih, berwarna biru turqouise bila cerah dan ocean blue di kala mendung. Angkasa yang menggantung di luar sana tidak secerah tadi pagi. Birunya berubah kelabu. Kapas-kapas gembul mulai merapatkan diri. Siap sedia menumpahkan isinya pada bumi pertiwi.
Tetsuya mendecak pelan melihat drastisnya perubahan cuaca. Ia yakin disengat panas matahari saat tadi berangkat dari rumah. Transformasi random dari cerah menjadi hujan, dingin lalu panas, memberi dampak yang buruk bagi kesehatan. Membuatnya semakin resah dengan kondisi sang majikan.
Akashi merasa aneh saat intonasi miskin nada itu tidak lagi bersuara. Suara kaki kursi yang menggaruk karpet dan gesekan halus antar fabrik menyapa pendengarannya. Tetsuya telah berdiri. Sempat terbesit kalau mungkin si baby blue muak dengan sikapnya lantas memutuskan angkat kaki.
Sang kapten baru akan mengintip, ketika tangannya sudah disingkirkan. Ada tekanan halus menjejak sisi kiri bantalnya. Ketika manik scarlet terbuka, yang pertama dilihat Akashi adalah dua kolam bening sewarna langit cerah. Wajah Kuroko Tetsuya melayang tidak kurang dari sepuluh senti di atasnya.
Oksigen macet di esofagus. Akashi tahu Tetsuya itu manis namun tidak pernah membayangkan betapa indah paras propertinya itu dilihat dari dekat. Orb besarnya yang berharga memiliki gradasi keperakan mendekati pupil. Eyelashes tebal membelai pipi pucat saat berkedip. Hidung mungil tapi tampak sempurna menggantung di tempatnya. Belah ranum berwarna peach yang seolah merayu minta dilumat.
Rentetan pikiran Akashi terputus saat sentuhan lembut menggapai pelipisnya. Tangan Tetsuya yang tidak menahan pergelangannya memulai aksi. Menyingkirkan tirai semerah tomat masak yang menghalangi dahi. Jari-jari lentik itu bergerak luwes di atas kulit mulus sang kapten.
Kepala biru turun memangkas spasi.
"Kuroko?" Akashi geming. Satu tangannya masih ditahan. Satu lagi terhimpit di balik selimut. Tidak bereaksi bukan karena tubuhnya kaku tapi karena penasaran. Hanya diam menunggu ruang di antara mereka diretas seinchi demi seinchi.
Sepasang biner biru terpejam. Dengan jarak mereka sekarang, hidung Akashi mulai penat oleh aroma manis vanila dipadu segar bunga lavender dan buah citrus. Menggulung-gulung enggan pergi. Fragrance natural Tetsuya itu perlahan membunuh kewarasannya.
Akashi rakus menjilat bibir. Andai tidak setengah lumpuh, ia pasti sudah membalik manusia di atasnya seperti pancake. Menukar posisi mereka dan menempatkan dirinya sebagai top-man.
Bibir tergelitik disapu hangat nafas Tetsuya. Mengikuti aquamarine, manik semerah delima ikut bersembunyi di balik kelopaknya. Indera visual dipadamkan. Akashi berharap dapat menghayati apa yang akan diberikan Tetsuy—
Tuk.
Sesuatu membebani dahi Akashi. Helaian sehalus sutra menggelitik area di sekitar mata. Fragran vanilla itu masih berputar-putar di sekitar hidung. Tetsuya belum bangun. Tapi kenapa bibirnya hanya nganggur sejak tadi?
"Hmm..." Dehaman Tetsuya menghantarkan resonansi ke sekujur raga Akashi. Scarlet dibuka mengintip dunia. Nyaris dicolok barisan bulu mata yang melengkung tepat di atasnya. Karena tidak lemot dan punya daya sergap yang brilian, Akashi langsung konek dengan situasi.
Masih terpejam, Tetsuya mengecek suhu tubuh Akashi. Melakukan komparasi dengan mengandalkan sensor peraba di area dahi. Setelah puas, kepala berhias helain biru itu diangkat.
"Akashi-kun tidak demam tapi badannya agak anget. Mungkin pengaruh cuaca—" Melihat raut majikannya, satu alis Tetsuya mengapung dalam tanya. "Akashi-kun, ada apa? Kelihatannya down sekali."
Dari ekspektasi berubah desperasi. Yang mengharapkan kontak bibir merasa kecil hati. "Tak apa, Kuroko. Aku hanya pusing." Sang kapten mendecih keki. Berkelit menutupi hatinya yang gondok.
Kepala Tetsuya bergulir tidak paham. Melihat ekspresi dongkol si merah, ia hanya angkat bahu. "Seperti kataku tadi, Akashi-kun agak hangat. Lebih baik tidur saja agar kondisinya tidak memburuk." Selimut krem dinaikkan hingga batasan dagu. Senyum lembut yang langka menghias wajahnya yang biasa datar.
Akashi membenamkan separuh wajah dalam kehangatan selimut. Lelah lahir dan batin setelah digonjang-ganjing oleh perilaku inosen—bebal—Tetsuya. Kelopak mata perlahan turun. Akashi sudah pasti jatuh dalam kubangan mimpi, jika bukan karena sensasi berdenging yang mendera telinganya. Seperti menahan kesadarannya agar tetap terjaga. Mengingatkan bahwa banyak tugas yang belum dirampungkan. Ada laporan yang harusnya sudah selesai—
"Berhenti memikirkan itu semua, Akashi-kun. Kau hanya akan membebani dirimu sendiri." Intonasi monotone menyuarakan perintah secara halus. Satu lensa merah mengintip Tetsuya yang duduk dengan ekspresi jenuh bercampur khawatir.
Senyum tipis mengembang di paras sang kapten. "Hei, Kuroko. Kau mau membantuku? Aku agak kesulitan tidur."
Pertanyaan Akashi ditanggapi anggukan singkat dan tatapan penuh tanya.
"Bagus. Yang perlu kau lakukan hanyalah duduk di situ dan mulai bicara."
"Huh?" Garis biru di atas mata seketika ruwet mengimitasi benang pintal. "Apa maksudnya dengan bicara, Akashi-kun?"
"Ya, maksudnya itu. Bicara. Ngomong. Berceloteh. Katakan sesuatu. Aku hanya ingin mendengar suaramu, itu saja. Kalau ditemani suara Kuroko, aku pasti langsung jatuh tertidur."
Tetsuya merasa tersinggung. Tidak percaya pemuda merah itu masih bernafsu membuatnya jengkel dalam kondisi seperti itu. "Akashi-kun, apa maksudnya dengan itu? Tidak sopan sekali. Apa suaraku segitunya menjemukan sampai membuat Akashi-kun ngantuk? Hei, Akashi-kun? Akashi-kun!"
Kekeh pendek melesat. Akashi tidak menjawab hanya konsentrasi menutup mata. Menenggelamkan diri dalam atmosfer tenang yang dihiasi getar vokal Tetsuya. Seluruh beban mental dan tanggung jawabnya lenyap dan hanya menyisakan rasa nyaman dan syahdu.
Suara Tetsuya tidak membosankan hingga membuat Akashi suntuk. Sebaliknya, suara Tetsuya adalah lullaby terbaik yang bisa mengantar Akashi tidur dan lupa pada semua masalahnya.
.
******Kiseki******
..
.
..
"Tumben Kuroko-kun tidak pesan susu vanila." Wanita paruh baya yang mengepalai kafetaria SMA Teiko tersenyum. Tangan gemuknya cekatan menginput digit nominal pada mesin kasir. "Bubur ini untuk siapa?"
"Untuk seorang teman." Tetsuya menyunggingkan senyum tipis. Sibuk menepuki lahan resapan air yang mulai meluas di bahunya. Hujan sungguh tidak sopan hari ini. Turun semena-mena tanpa gerimis dulu sebagai salam pembuka. Tetsuya yang tidak memiliki persiapan apapun lantas kelabakan mencari lahan untuk bernaung.
"Begitu kah?" Tawa khas ibu-ibu melesat di tengah sepinya kantin. Perempuan tambun berambut kecoklatan tersenyum maklum. Dengan lihai, menyodorkan kotak tisu yang berdiam di bawah laci. "Tapi sampai Kuroko-kun mau membolos, teman itu pasti sangat istmewa."
"Istimewa? Kurasa tidak. Aku hanya kebetulan saja ada di sana. Ah, terima kasih tisunya." Lembaran tipis lemas ditarik dari kawanannya yang menggulung. Tetsuya menyeka wajahnya yang basah kerontokan tetes liar dari anak poni.
"Anak muda selalu malu-malu. Kau tidak akan pernah menyadari kapan 'kebetulan' itu berubah jadi penantian." Ibu kantin mengibaskan tangan flamboyan. Bibir yang dipoles lipstik tebal menampilkan kurva ceria yang terkesan sok tahu.
Tetsuya hanya mengumbar senyum seadanya.
"Kuroko-kun, buburnya akan siap lima belas menit lagi. Silahkan ditunggu."
"Terima kasih banyak—" Remaja teal mengernyit karena ada objek janggal yang berkumpul bersama receh kembalian. "Maaf, ini..."
"Untukmu, Dear." Tangan pucat yang menyodorkan susu siap minum didorong balik. Wanita itu tersenyum ramah. "Semoga temanmu itu lekas baikan."
Manik aqua berbinar pada kotak bersampul sapi yang dihibahkan cuma-cuma. Tubuh kecil itu dilipat empat puluh lima derajat dalam kesopanan. Setelah mengucap terima kasih, Tetsuya bergerak mendekati jajaran meja makan. Hendak menikmati susu sambil menunggu pesanannya matang.
Baru setengah jalan, atensi direnggut oleh sosok tunggal yang mendobrak rusuh ke dalam kantin. Berdiri sambil mengibaskan kepala serupa kucing basah adalah Kagami Taiga yang sewot karena kehujanan.
"Kagami-ku—" Niatan untuk memanggil pujaan hatinya diurungkan. Karena pada dasarnya memang usil, maka tidak afdhol kalau kehadirannya ditunjukkan dengan cara biasa. Tersenyum, makhluk Tuhan yang hawanya paling tipis itu berjalan mengendap.
Kagami ngedumel sambil mengacak surainya agar bebas dari kubangan air. Pemuda beralis eksotis itu baru akan merogoh sapu tangan ketika ada dua telapak mungil yang hinggap di tengkuknya.
"Gyaa!" Si marun jejeritan karena lehernya dibelai sentuhan gaib. Menoleh, ia mendapati seorang Kuroko Tetsuya tengah ber-'tehe' ria dengan rautnya yang sedatar dinding. "Kuwoko temee! Jangan bikin kaget seperti itu!"
"Doumo, Kagami-kun." Tetsuya mekar serupa bebungaan peony. Tampaknya girang karena masih diberi kesempatan bertemu si objek afeksi. Alis biru lantas meroket begitu menyadari ada yang aneh dengan cara pengucapan Kagami. "Eh? Tadi... 'Kuwoko'?"
Kagami kelabakan karena ketahuan cadel. Uji coba singkat dengan menggulir lidah dalam rongga mulut. Ia meringis saat disundut rasa perih yang masih betah tidak mau pergi. "Udah biayin aja. Nanti juga hilang sendiyi." Si power forward merengut.
Tetsuya lumer. Langsung tersenyum melihat tingkah si macan favorit. Dilihat dengan kacamata nuraninya, Kagami yang sedang cadel itu tampak sangat imut. Tidak peduli wujudnya bongsor dan beringas dengan alis ganda, kalau sudah naksir apapun bisa jadi cute point.
"Kagami-kun moe sekali."
"Uyusee!" Pipi pemuda crimson merona. Ia tidak protes meski dibilang unyu. Mungkin karena sudah meleleh duluan digempur wajah manis Tetsuya yang berseri-seri. Insan yang lebih mungil terkekeh pendek. Kagami cemberut.
"Kagami-kun, kau basah kuyup." Melihat butir basah masih berjatuhan dari kepala si marun, ia sigap menarik sisa tisu yang diperolah dari Ibu Kantin. Area sekaan Tetsuya hanya bisa menjangkau sebatas pipi karena perbedaan postur yang signifikan.
"Hujan benaw-benaw kuyang ajaw hayi ini," Kagami meracau. Lagi-lagi surainya dikibas rancu agar cepat kering. Tetsuya sampai berkedip-kedip karena ikut kecipratan. "Aku sedang menuju yumah paya pelangi untuk mencayimu. Tiba-tiba saja hujan langsung tuyun deyas."
"Kagami-kun mencariku?"
"Yap. Aku dimintai tolong—dipaksa—oleh Ogiwawa." Mengingat peristiwa di atap sekolah dua jam yang lalu, Kagami merinding hebat. Rona kulitnya yang tan berubah pucat. "Dia mengancam. Katanya kalau aku menolak, dia akan melakukan hal yang tidak teyucap kepadaku..."
Tetsuya sweatdropped. Entah apa yang telah dilakukan Ogiwara sampai membuat sang pujaan hati gelagapan seperti itu. Terkadang ia tidak tahu, harus bersyukur atau meruntuki sikap over-protektifnya yang terlewat absurd. Yang pasti, si bluenet harus minta maaf pada sang sahabat karena telah membuatnya khawatir.
"Maaf, Kagami-kun. Itu semua salahku. Aku menyesal telah membuatmu repot." Tetsuya mengusap pelipis sembari melepaskan helaan lelah.
"Jangan dipikiwkan. Ogiwawa hanya mencemaskanmu. Dia tidak bewmaksud jahat." Si marun menggaruk pipinya dengan telunjuk. "Toh diancam atau tidak, aku akan tetap mencayimu," Kagami berubah nerfes. Lahan kosong di pipinya memerah dipoles semburat rona.
"Benarkah?" Bibir mungil Tetsuya merekah dalam senyum. Hatinya merasa hangat oleh perhatian sang pujaan hati. "Terima kasih banyak, Kagami-kun. Aku senang mendengarnya."
Kagami semakin salah tingkah. Jantungnya bergemuruh excited dalam kurungan rusuk. Wajah maskulin jadi sama merahnya dengan helaian liar di atas kepala. Mencari distraksi, ia teringat pada sesuatu yang tersimpan dalam kantung blazer.
"Ah ya, aku dengaw dari Ogiwawa kalau kau belum sayapan. Jadi aku belikan ini." Sebungkus roti isi coklat muncul dari balik saku. Masih terbawa atmosfer malu-malu, Kagami asal melemparkan pemberiannya.
Tetsuya maklum dengan sikap si macan. Tangannya diangkat hendak menangkap kemasan roti yang melambung rendah. Baru setengah jalan, pemuda itu memekik tajam. Pergelangan kanan didekap mendekati dada. Roti isi pemberian Kagami terabaikan begitu saja di atas lantai.
"Kuroko, kau baik-baik saja?" Kagami berseru lantang. Tanpa ragu, menarik tangan Tetsuya. "Tidak memar, tidak ada tulang yang patah juga. Sepertinya keseleo ringan." Si macan menggumam kalut sambil melakukan observasi. Saking paniknya, sampai tidak sadar cadelnya sudah sembuh. Seluruh atensi tergravitasi pada pergelangan mungil yang ia pijit-pijit untuk meredakan nyeri.
Tetsuya mendesis menahan sakit. Malah tidak sadar tangannya mendapat cidera seperti itu.
"Mungkin karena jatuh dari tangga tadi..."
Si bluenet ingat detik-detik tubuhnya hilang keseimbangan. Saat itu kepalanya kosong dan tidak bisa memikirkan apapun. Hanya membiarkan dirinya ditarik gravitasi dan pasrah menunggu rasa sakit saat menghujam tanah. Hingga pelukan erat Akashi membuatnya sadar.
Jika terjatuh, akan ada seseorang yang ikut terluka bersamanya.
Tanpa melihat, tangan diulur untuk menggapai sesuatu sebagai tumpuan. Berhasil menjangkau banister, Tetsuya masih harus menahan bobotnya dengan Akashi. Pergelangannya terforsir dalam sudut yang awkward. Sudah begitu, masih ditarik dua beban sekaligus dalam waktu bersamaan.
"Kau jatuh dari tangga?!"
Seruan Kagami dan tekanan menyakitkan di tangannya telah berhasil memecah gelembung lamunan si remaja biru. Mendongak, Tetsuya nyaris tersedak disodori ekspresi gahar si marun yang emosional.
"Tidak, aku hanya terpeleset—aduh!" Penjelasan Tetsuya dipotong nyeri tajam pada area luka. Si baby blue merintih dengan mata terpejam. Tanpa sadar berusaha menarik tangannya yang digenggam erat oleh Kagami.
Pemuda bongsor berkonsentrasi melakukan terapi urut. Mempraktekan tahapan first aid yang diterapkan klub basket pada cidera semacam ini. Kepalanya menunduk dengan alis bertautan dalam fokus. Entah dia sadar atau tidak kalau telah menyiksa Tetsuya dalam usaha pertolongan pertamanya.
"Masih sakit?" Sentuhan Kagami diperlembut. Sudah tidak memijit, lebih terasa seperti mengelus.
Tetsuya coba melenturkan tangan yang masih dikurung oleh genggaman longgar sang ace. Sudah tidak sesakit tadi, meski ada sedikit rasa ngilu tiap kali digerakkan.
"Sudah lebih baik, Kagami-kun. Terima kasih banyak."
"Syukurlah kalau begitu." Usai membuang desah lega, Kagami kembali mengkerutkan wajahnya garang. "Makanya hati-hati! Masih mending ini hanya keseleo saja, kalau tulangmu sampai mengalami frakturasi bagaimana?" Si macan ngedumel masih sambil memegang telapak Tetsuya.
Remaja sebiru es tersenyum kecil. "Kagami-kun terlalu gampang khawatir. Tenanglah, aku baik-baik saja." Tetsuya terdiam saat menyadari bahwa Kagami masih belum melepaskan tangannya. Pemuda dark-red hanya berdiri mematung sambil menatap objek dalam genggaman. Satu alis terang melayang melihat sikap aneh sang pelabuhan hati.
"Kagami-kun sedang apa?"
Kagami masih tidak menjawab. Satu set iris crimson-nya masih tidak bergerak dari tangan Tetsuya. Dipencet dan dicolek seperti butir ceri dengan hasrat ingin tahu. Pandangannya seolah mengisyaratkan kekaguman polos seorang anak yang baru saja menemukan mainan baru.
"Aku sudah tahu dari dulu tapi..." Kagami masih memainkan jari-jari lentik yang lebih pucat dengan penuh minat. "Tangan Kuroko itu kecil sekali. Memang tidak sekecil tangan cewek. Tapi untuk ukuran laki-laki... ini terlalu halus."
Kekeh geli lagi-lagi melesat. Tetsuya sumringah. Bisa dibilang mood-nya selalu berada di titik puncak bila berada di dekat Kagami. "Tanganku biasa saja, milik Kagami-kun saja yang terlalu besar dan kasar." Senyum jahil terbit di atas bibir plum. "Mirip tangan kingkong."
"Dasar kau ini..."
Kagami manyun disamakan dengan primata bongsor yang pernah membintangi film layar lebar. Mengabaikan cengiran ala kadarnya di raut si kuudere. Pemuda berserabut gradasi itu tengah melakukan perbandingan. Tangannya diberdirikan lantas dihadapkan seolah bercermin dengan telapak Tetsuya.
Perbedaan yang terlihat kontras. Kepalan Kagami yang berwarna kecoklatan dan melepuh di sana-sini hasil menggulir si karet oranye selama bertahun-tahun. Tangan putih Tetsuya berukuran lebih mungil dengan jari-jari kurus yang terlihat serasi bila dilarikan di atas tuts piano.
Dua manik merah bata berkilau sendu. Tangan yang lebih besar merenggut si kecil. Mengaitkan jari di antara celah-celah yang memang tercipta untuk diisi. Kagami merasakan debaran aneh saat melihat betapa pas tangannya bertaut dengan Tetsuya. Jari-jarinya mengerat, seolah tidak ingin melepas tempat terbaik yang telah ia dapatkan.
Jantung Tetsuya berdenyut keras hingga terasa menyakitkan. Menatap penuh harap pada tangan Kagami yang kini memagut miliknya erat. Tidak bisa digambarkan seperti apa perasaannya saat ini. Tidak bisa dijabar seberapa lama ia telah menunggu untuk bisa merasakannya.
Tetsuya geming. Jari yang lebih mungil belum merespon. Berkedut lemah tapi tidak mengunci tautan dari sisinya. Bukannya tidak senang bergandengan tangan dengan sang pujaan hati namun karena masih ada ganjalan yang menghalangi.
Kagami Taiga belum jadi miliknya. Perasaan yang terbendung ini belum sempat ia sampaikan pula. Jika ingin momen seperti ini terjadi lagi di kemudian hari, Tetsuya harus berani mengambil tindakan.
Tautan tangan keduanya diretas paksa dari pihak Tetsuya. Kagami mencelos tapi tidak bereaksi.
"Maaf, Kagami-kun. Aku..." Tetsuya tidak tahu bagaimana harus bersikap melihat kilas kecewa pada sepasang kelereng merah itu. "A-Ada sesuatu yang harus kulakukan." Remaja bersurai cotton-blue menghindari tatapan mata.
Kagami menggaruk punggung kepalanya canggung. Ikut melarikan pandang pada jendela besar yang berbaris di dinding barat kantin. "Ti-Tidak apa-apa, Kuroko. Maaf juga aku sudah terbawa suasana." Si power forward tertawa garing. Hanya bisa mengumbar cengiran terpaksa untuk mencairkan suasana.
Bibir Tetsuya membingkai senyum getir. Inginnya ikut tertawa lepas lalu berkata semuanya akan baik-baik saja. Tapi apa boleh buat. Ia harus menyelesaikan sesuatu. Masih ada miliknya yang menunggu untuk diambil kembali.
"Kalau begitu aku duluan, Kagami-kun." Tetsuya sudah akan beranjak saat lengannya ditahan. Menoleh, tekad pemuda itu hampir hancur saat melihat bagaimana Kagami menatapnya. "Kagami-kun?"
Kagami tidak mengerti tindakannya sendiri. Mungkin tidak menyadari bila sesungguhnya tidak rela ditinggal pergi. Terkejut, cengkramannya pada Tetsuya dilepas. "Na-Nanti kita akan bertemu di MajiBa, kan?" Karena bingung, si macan melontarkan hal pertama yang terlintas di kepalanya.
Tetsuya menatap tegel marmer yang masih bersih dari rajaman sepatu siswa. Dahi dihiasi kerutan saat berpikir. "Aku tidak tahu, Kagami-kun. Mungkin tidak. Aku tidak tahu berapa lama harus berurusan dengannya karena ini."
Kagami terdiam. Untuk pertama kalinya, Tetsuya menolak ajakannya untuk menghabiskan waktu bersama. "Begitu ya..."
'Dengannya siapa yang kaumaksud? Orang yang kau sukai itu? Kau akan menemuinya?' Semua pertanyaan itu telah menggantung di ujung lidah. Ada satu nama yang tercetus saat coba menerka siapa orang yang dimaksud—seseorang yang juga memiliki warna merah. Namun Kagami memilih diam. Tampak belum siap mengetahui jawabannya.
Kepala bersurai biru permen melempar anggukan singkat. Tidak mau membuang waktu, Tetsuya segera angkat kaki. Tepat di muka pintu, ia berbalik. Kedua tangannya terkepal. Tetsuya sudah bertekad.
"Kagami-kun!"
"Ya?"
Tetsuya menyesap udara banyak-banyak lalu membuangnya dalam satu hembusan. "Tunggu aku, Kagami-kun! Setelah ini ada yang ingin kukatakan padamu!"
Tidak menunggu jawaban apalagi sempat melihat seperti apa raut Kagami saat itu. Si biru langsung berlari menyibak tirai hujan. Berpayung seadanya dengan lengan, sosok Tetsuya menghilang ditelan jarak pandang yang buram oleh guyuran dari langit.
Kagami hanya bisa menatap punggung mungil itu menjauh. Tangan besarnya setengah terangkat seolah ingin menggapai. Ada perasaan jelek yang tidak ia suka tengah mencakar sudut hatinya.
"Mau mengatakan apa? Mau laporan kalau sudah jadian dengan Aka—maksudku, orang yang dia suka itu?" Kagami merengut. Sandwich coklat yang sempat terlupakan diraih. Butuh pelarian, roti gandum beroles nutella pun jadi objek pelampiasan.
"...Kuroko itu ternyata sadis juga."
.
.
.
Sementara itu, seorang staf kafetaria tengah berdiri mahfum sambil memboyong semangkuk bubur. Rautnya ditekuk sumringah. Hendak menyerahkan pesanan tapi tidak jadi. Lebih memilih melihat drama secara langsung. Akhirnya ia hanya mematung saja sampai sang konsumen pergi.
"Dasar anak muda zaman sekarang."
Tawa khas ibu-ibu kembali membelah sepinya kantin di jam pelajaran sekolah.
.
******Kiseki******
.
.
.
Pintu ruang study dijeblak hingga daun kayunya terpelanting membentur dinding. Tetes basah yang berjatuhan dari tubuhnya menciptakan bercak gelap pada karpet. Suara ketukan hujan dan gema langkah kaki menjadi alunan tunggal yang mengisi kesunyian mansion.
Tetsuya meraih garmen putih dengan emblem kanji Teikou yang tersampir pada sandaran kursi. Tangannya gemetar. Entah karena suhu tubuh yang terus menurun atau karena antipati. Jemari menelisik celah bukaan pada saku. Nafas tercekat saat membentur material tipis yang terbuat dari kertas.
Terbit dari kantung blazer sang kapten adalah amplop biru yang familiar. Kondisinya masih sama. Tidak ada satupun sudut yang terlipat, kerutan kusut atau tinta yang memburai. Si love letter tidak berubah sedikitpun sejak Tetsuya pertama kali menulisnya. Seolah sepucuk perasaanya itu benar-benar dijaga dengan baik.
Gumpalan udara yang tertahan dalam tenggorokan dilepas dalam hembusan panjang. Tetsuya menatap nanar pada surat cintanya. Ada suatu perasaan ganjil yang menyeruak dalam hati. Apa yang ia lakukan ini terasa salah. Seperti mencuri meski apa yang diambil adalah miliknya sejak awal.
Tetsuya enggan bertindak seperti ini tapi lebih tidak mau menunggu hingga Akashi mengembalikannya.
Sebenarnya keberadaan surat ini tidak akan memberi pengaruh jika Tetsuya sudah teguh untuk menyatakan perasaannya pada Kagami. Mau disandera atau tidak, tidak akan berdampak ketika mereka sudah bersama. Namun surat ini adalah rantai belenggu. Sebuah simbol. Tetsuya tidak bisa melangkah maju jika masih ada keterlibatan Akashi dalam hidupnya.
Tekadnya sudah ditempa. Rantai itu harus dimusnahkan saat ini juga.
Bibir bawah dikulum resah. Sebagian dari diri Tetsuya merasa berat hati. Ada lubang besar yang menganga di lubuk hatinya. Karena dengan kembalinya si surat, Tetsuya tidak memiliki alasan lagi untuk menjejakan kaki di bangunan ini. Tidak punya urusan lagi untuk bercengkerama dengan para Kiseki.
Tidak perlu lagi menemui Akashi.
Menghela nafas berat, garmen yang pekat oleh aroma majikannya didekap. Membiarkan kuar segar mint bercampur teh dan rempah yang tidak terdefinisi memenuhi inderanya. Mencari sedikit kehangatan untuk tubuhnya yang dingin oleh sentuhan hujan.
"Sampai di sini saja, Akashi-kun..." bisiknya diredam fabrik putih yang nihil noda. Berusaha mematri sedikit memoria kesehariannya dengan si kepala merah. Mungkin Tetsuya akan merindukannya suatu hari nanti. "Andai tidak bertemu seperti ini, aku akan dengan senang hati berteman denganmu."
"Apa yang sedang kau lakukan?!"
Keheningan dan suasana mellow diinterupsi oleh presensi tambahan. Tetsuya terhenyak mendapati seseorang tengah menatapnya tajam dari arah pintu.
"Maaf, anda siapa? Tempat ini seharusnya tidak bisa dimasuki oleh sembarang individu." Masih mendekap blazer Akashi, pemuda teal bertanya pelan. Suratnya diamankan terlebih dahulu bersama kotak susu dalam lindungan saku. Iris biru besarnya menyipit pada siswa bersurai hitam yang masih berdiri diam di mulut ruangan.
"Harusnya aku yang bertanya padamu. Kau ini siapa? Kenapa bisa ada di sini?" Si pendatang baru berjalan mendekat. Manik hitamnya menelesuri sosok Tetsuya lekat-lekat. Rautnya yang waspada berubah cerah seolah mengenali. "Aha! Aku tahu siapa kau. Kau Kuroko Tetsuya kan?"
Tetsuya mengkerutkan alis. Heran bagaimana identitasnya dikenali oleh individu yang termasuk 'asing'. "Benar sekali. Bagaimana anda bisa tahu?" Tanpa sadar ia mundur sedikit menjauhi pemuda yang lebih tinggi.
"Well, pertama izinkan aku mengenalkan diriku. Namaku Nijimura Shuuzou. Aku mengenal semua orang yang ada di sekitar Seijuurou."
"Nijimura Shuuzou? Wakil Ketua OSIS dan Wakil kapten tim basket?" Tetsuya heran apa tujuan figur penting ini menapak rumah pelangi. Bagaimana pula ia menyebut nama depan majikannya dengan begitu santai. "Salam kenal kalau begitu Nijimura-senpai. Maaf tidak langsung mengenali senpai."
"Salam kenal juga, Kuroko-kun." Nijimura tertawa dan langsung menyongsong meja kerja yang dihuni puluhan dokumen. "Bagaimana keseharianmu dengan Seijuurou?"
"Seijuurou?" Segaris alis biru mengudara. Meski sudah berkenalan, Tetsuya tetap was-was dalam kondisi siaga.
"Kau pasti aneh mendengarku memanggilnya seperti itu. asal kau tahu saja, aku dan Seijuurou masih satu kerabat. Bisa dibilang aku adalah kakak sepupunya." Nijimura bertutur sambil memilah tumpukan dokumen.
Jas Teiko milik Akashi dikembalikan pada tempatnya di punggung kursi. Sebagian dari garmen putih itu lembab karena menyerap basah dari tubuh Tetsuya. Melihat seperangkat kertas kerja diseleksi, si junior kelas satu melontarkan tanya, "Nijimura-senpai sedang apa?"
"Sedang meringankan pekerjaan Seijuurou. Di saat seperti ini, dia pasti sedang kebanjiran tugas." Segepok lembaran berkas telah berpindah tangan. Nijimura bermaksud mengambil beberapa yang mungkin bisa ia kerjakan.
Tetsuya mengangguk paham. Baru ingat pada eksistensi sejilid kertas kerja yang tadi begitu ingin dirampungkan oleh Akashi.
"Maaf, Senpai. Sebenarnya ada suatu berkas yang harus selesai siang ini. Aku tidak bermaksud membebankannya pada Nijimura-senpai tapi aku harap anda mau menggantikan Akashi-kun mengerjakannya."
"Masa? Yang mana?"
"Yang disatukan dalam bendel warna merah." Sang kouhai ikut menggeledah area kerja. Mencari sampul plastik tebal sewarna surai majikannya. "Tidak ada. Aku yakin tadi ditinggal Akashi-kun di sini."
Sang wakil ketua ikut membolak-balik kumpulan kertas penting yang menutupi rupa meja. "Aku tidak melihat apapun yang warna merah. Memang apa isinya?"
"Entahlah. Tentang laporan dari panitia bunkasai atau semacamnya."
"Heh? Bagaimana bisa berkas itu ditangani oleh Seijuurou? Maruk amat. Serahkan saja pada divisinya kan beres." Nijimura mulai ngedumel dengan bibir maju. Tidak habis pikir dengan ego sepupunya untuk meraup predikat 'serba bisa di segala bidang'. "Omong-omong aku tidak lihat Seijuurou."
"Akashi-kun tidur di kamar atas. Kondisinya sedang tidak baik hari ini jadi aku memaksanya agar istirahat."
"Kau berhasil membujuk Seijuurou agar meninggalkan pekerjaanya? Hebat sekali."
"Bukan membujuk, aku memaksanya," Tetsuya menyanggah dengan raut deadpan. Sudah tergoda untuk bilang 'melumpuhkan' namun satu kata itu ditelan kembali dalam tenggorokan. Biarlah momen gemilang itu hanya menjadi rahasianya berdua dengan Akashi.
Tawa renyah melesat dari bibir seksi sang senior bermarga pelangi. Mendekap selusin kertas kerja, pemuda bersurai hitam itu berniat hengkang. "Kalau begitu aku duluan, Kuroko-kun."
"Nijimura-senpai tidak mau menengok Akashi-kun dulu?"
"Untuk apa? Kan sudah ada kau di sisinya." Satu mata dikedip dalam kode. Nijimura menyempatkan diri untuk memberikan usapan rancu di atas kepala Tetsuya. Dahi milik pemuda yang lebih tua lantas dihiasi kerutan saat menyadari betapa lepek surai biru di bawah telapaknya. "Kuroko-kun kau basah kuyub. Kau baik-baik saja? Bibirmu sedikit membiru..."
Tetsuya menjilat bibirnya yang agak kaku. "Tidak apa-apa. Ini hanya dingin. Nanti hilang sendiri."
Sang wakil mengkerut khawatir. Masih belum puas merencoki Kuroko namun teringat dia sendiri masih memiliki jatah kerjanya yang terbengkalai. Dengan raut cemas, Nijimura berpamitan. Begitu ditinggal seorang diri, barulah Tetsuya sadar bahwa tubuhnya sudah menggigil semenjak tadi.
"Ternyata memang dingin..."
.
.
.
Tetsuya menjatuhkan ketukan singkat pada pintu bercat putih yang mengkilap. Tidak seperti tadi, kali ini ia benar-benar mengetuk ketika akan masuk. Untuk yang terakhir kali, Tetsuya enggan meninggalkan kesan buruk kepada Akashi.
"Akashi-kun, aku masuk." Gerendel platina didorong. Cahaya lampu dari belakang punggung Tetsuya menjadi penerangan tunggal di tengah temaramnya kamar. Gorden jendela diturunkan meski sinar matahari sudah tersembunyi dari balik lindungan awan. Tetsuya berjalan sambil meraba sakelar lampu.
"Akashi-kun, kau masih bangun? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan—"
Kaki Tetsuya tersandung sesuatu. Bersama dengan itu sorot cahaya dari lampu besar di langit-langit menunjukan apa yang telah menubruk langkahnya. Tepat di bawah kakinya, di lantai, tengah tergolek Akashi Seijuurou yang bersandar lemas pada dinding.
"Akashi-kun?!" Tetsuya sontak menjatuhkan diri di sisi majikannya. Mengelus pipi pucat yang dibingkai surai merah cerah. Tidak mengerti apa yang dilakukan oleh sang kapten dengan keluar dari tempat tidurnya. Sepasang manik biru terbelalak saat mendapati apa yang tergeletak di samping Akashi.
"Kau bangun untuk mengambilnya?!" Filecase merah yang menghilang ditemukan berada di tangan pemiliknya. Tetsuya geram. Benar-benar emosi mengetahui seberapa keras kepala majikannya itu kalau menyangkut tugas. Kumpulan berkas itu direnggut lalu dilempar semena-mena ke seberang ruangan.
"Akashi-kun apa kau ini bodoh? Sebenarnya apa maumu dengan memaksakan diri seperti ini?"
"Tetsuya..." Akashi mengerang pelan dengan suara parau. Kedua matanya masih terpejam.
Tetsuya terkesiap mendengar namanya melesat dari bibir sang kapten. Pemuda itu melemas. Seluruh amarahnya lenyap diganti penyesalan.
"Ini semua salahku..." Vokalnya bergetar. Tetsuya merasakan ada sensasi tergelitik di belakang bola matanya. "Karena akulah, Akashi-kun berada dalam kondisi seperti ini. Seharusnya tadi aku tidak meninggalkannya."
Sepasang lengan spontan menempatkan dirinya di sekitar raga yang lebih mungil. Si biru tercekat. Tidak menolak ditarik dalam pelukan Akashi. Sekali lagi mendengar namanya dibawa lelap oleh bibir tipis pemuda beriris merah itu.
Setetes bening menuruni dagu. Tetsuya mendekap Akashi erat. Membiarkan kepala berhelai merah ruby itu menggali kehangatan di antara ceruk lehernya. Hatinya sedikit perih. Mungkin ini yang terakhir kali ia bisa berada di sekitar pemuda yang disebutnya majikan.
Tidak ada sedikitpun penyesalan. Tetsuya menikmati kebersamaannya dengan Akashi tidak peduli apapun yang ia katakan. Andai tidak seperti ini, Tetsuya meyakini Akashi akan menjadi salah satu bagian terpenting dalam hidupnya.
"Aku tidak akan pergi ke manapun Akashi-kun. Tidurlah." Tetsuya berbisik lembut di telinga Akashi. Kepala biru balas dibenamkan pada perpotongan bahu tegap sang pemain basket. Ikut mencari sumber kehangatan untuk melelehkan dingin yang menyusupi tulang. "Semuanya akan baik-baik saja. Aku janji tidak akan meninggalkanmu..."
Sungai kecil mengaliri pipi dan turun melewati dagu. Tetsuya masih tidak paham mengapa ia merasa berat membayangkan tidak bisa bertemu Akashi lagi.
"...Aku ingin sekali mengatakan itu tapi aku tidak bisa. Aku minta maaf."
Scent yang identik dengan blazer di ruang bawah memenuhi kepala Tetsuya. Membuatnya hanyut dalam ketenangan dan rasa nyaman. Manik kembar berwarna sebiru langit tertutup. Tetsuya mengeratkan dekapan, bersinkrosinasi dengan lengan Akashi yang juga semakin kuat melingkar di tubuhnya.
"Selamat tinggal, Akashi-kun..."
.
-To Be Continued-
.
-chapter 6/ Ingatlah untuk tidur 8 jam sehari!/ End-
A/N:
Hai, minna-san. Maaf sekali saya ngandat lebih dari sebulan. Memang sengaja istirahat dulu dari penpiksyen di bulan ramadahan... biar khusyuk. Ini baru mulai ngetik lagi abis lebaran. Semoga masih pada sabar menunggu. *menunduk sampai jidat kejedug lutut*
*lihat chapter ini* Astaga... saya nulis apa? Kesambet apa sampai dapat beginian? Ke mana tag humor yang mangkal di genre fic ini?
Ini bagian plot kok. Maaf kalo suram. Besok bakal balik lagi humornya. Saya minta maaf dulu kalau ada reader yang kurang puas atau malah kecewa. Chapter ini memang khusus untuk menyelami dasar AkaKuro. Agar tidak terlihat bolong-bolong nantinya... :"D
Jadi bagaimana? Ada saran? Kritik? Masukan? Jangan ragu untuk mampir di review... kalau malu, PM juga boleh #Kelewat pede, ditamvar.
Satu lagi... apakah pace fic ini terlalu lambat/cepat? Karena saya berencana mengulas pairing Kisedai yang lain (AoKi, MidoTaka, MuraHimu) Sekalian sambil mendalami karakter Kisedai. Tentu saja tanpa menghilangkan momen AkaKuro/KagaKuro di setiap chapternya. Apakah akan terkesan bertele-tele? Jangan sungkan untuk menyumbang suara... :D
Balasan review:
*dari review chapter 5 saya akan membalas semuanya langsung di fic ini... Login atau tidak. Maaf kalau saya angin-anginan. Saya masih adaptasi, baru kali ini kebanjiran feedback sebanyak ini... Bahkan sampai jebol angka seratus. Saya terhura :"DDD*
Guest: Saya masih belum bisa memberi jawaban pasti kapan Kuroko mulai ada 'rasa' sama Akashi... tapi nanti pasti ada. :)
Reishi 915: gak tersinggung kok. Saya juga senang kalau tulisan saya semakin membaik *nyengir* Kalau end... kayaknya masih lama. Belum puas nistain Akashi, Kuroko juga belum dapat giliran nge-maso... Iya. Kuroko masih belum 'ngeh' kalo penyelamatnya itu Akashi... ^^
Urahime Hikaru: Hehe... semoga chapter ini masih suteki walau ga lucu-lucu amat. Tebakan Urahime benar loh. Gara-gara Akashi tumbang—ditumbangkan—Kuroko udah bisa lebih simpati dan terbuka ke Akashi... :')
el cierto: Tos! Saya juga suka kalo Akashi diperhatiin ama yang lain. Seneng aja liat dia jadi sentral atensi. Chapter ini niatnya fokus ke Akashi. Semoga el cierto puas dengan chapter ini... .
Kazuki Natsu: Natsu bebeeeb... suka-suka dah, aksi emut-emutan itu mau kamu kasih julukan apa *angkat tangan* Maaf chapter ini gak selucu kemarin... *sodorin Tetsuya sebagai penebusan* Apakah kamu masih galau setelah lihat versi utuh dari potongan next chapter kemarin? Apakah chapter ini masih masuk kriteria 'layak ditunggu'? :"D
SheraYuki: Sheraaa... kamu itu kok super sekali, sampai mengutip kalimat-kalimat abal fic ini?! *lempar kecup virtual* Pendatang baru ya? Semoga gak lekas bosen di sini... :-) Kata-kata aja gak cukup untuk menggambarkan senengnya saya waktu baca review kamu yang panjang. Terima kasih banyak. Semoga chapter ini memenuhi ekspektasi kamu seperti saat lihat spoiler-nya. X"DDD
May Angelf: *nutup muka pake baskom* Saya maluuu... chapter kemarin udah molor lama... yang ini semakin lama. Gomennasai, gomennasai, gomennasai! . *niru Sakurai* Sip. Udah matang. Nanti Akashi bakal ditemukan dengan Ishiya. Stay tune, kay. :"D
Penikia: Penikia fans Kagami kah? samaaaa... :"D Iya. Kagami itu bodohnya sweet. Bodoh yang positif. Bodoh yang bikin greget. Suka Akashi ternistai? Kalau begitu harus sabar dulu yah. Soalnya dia lagi di-maso-in abis-abisan di chapter ini. ^^
Zahra Kokoro: Iyaaa... salam kenal juga, Zahra. ^^ Terima kasih mau mampir... Misteri bagaimana Akashi kenal Kuroko sejak awal, telah terjawab di chapter ini. Walau belum men-detail tapi pertemuan yang CPR itu memang bukan yang pertama kali. Karena pakai Oreshi, saya mau coba IC dulu dalam cara memanggilnya—masih pake marga. Nanti akan ada saatnya mulai memanggil nama kecil, ex: Tetsuya, Ryouta, Shintarou etc. Maaf kalau bertele-tele. Kalau ada yang bingung, jangan sungkan... X"DDD
rea: Akashi mah diapain aja juga top! Hai, Rea... makasih sudah mau nunggu. Selamat menikmati chapter ini. :-)
Freyja Lawliet: Apanya yang rame, kak? . Cihuuuy! Saya juga seneng karena telah berhasil membawakan interaksi para mukjizat dengan baik. Apakah kepo-nya terpuaskan? Semoga puas dengan chapter ini... XD
Adelia Santi: Hai, Adel. Saya pecinta romansa yang asam-manis, jadi tolong dimaklumi kalau AkaKuro-nya naik turun seperti perbukitan. Kadang unyu, kadang gigit-gigitan #plak. Secara gamblang, Midorima memang jeles Akashi mau repot buat orang lain—dia ini wakil yang kurang di-notice. Hu'uh. KagaKuro on the way. Kagami mulai ngerasa enak di dekat Kuroko. ^^ Komennya gak lebay kok (kalau panjang sih, iya...)
Gigids: Gigiii! Gak tahu gimana nebusnya dengan kelemotan yang terlalu... lemot ini. Lebih lemot dari kemarin. Lemot kelewatan... Semoga Gigi masih mau baca ya... *nangis*
Kuroi Kanra: *Veluk balik* Hehe. Saya senang kalau tulisan saya udah lebih baik. Kanra-chan, semoga yang ini jauh lebih baik lagi ya. :"))) Kagami sudah siap maju jadi rival Akashi. Sudah mulai peka pada perasaan sendiri. Siap berperang memperebutkan Kuroko. OgiPapa penggemarnya makin banyak yah... *menangis haru*
Matthew Shinez: Dipanggilnya Rin, ya? Salam kenal. :D Iya. Kalo direstui, pair pembukanya (selain AkaKuro/KagaKuro) memang fokusnya ke AoKi dulu—sekalian nyolek seluk-beluk Kisecchi :3 Gak datar kok. Bergelombang~ #digebuk. Terima kasih untuk apresiasinya yang tinggi... :"DDD
Berrypies: *beringsut ke pojokan* Maaf ya... tulisan saya memang agak absurd. . Masih dalam proses membentuk style pribadi... Maaf kalo gak enak dibacanya. Saya akan berusaha biar bisa makin baik ke depannya. Terima kasih karena sudah memberi masukan yang berharga ini. Saya senang sekali *bow*
charisinme: *ikutan sobbing* Semoga AkaKuro-nya masih presyes di chapter ini. Karena sudah terwujud adegan 'Kuroko akan caring pada Akashi yang hopeless' :"DDD Soal Midorima... dia lebih cemburu masalah Akashi yang mendadak menghargai orang lain. OgiPapa populer ya... 3 Maaf tidak bisa memenuhi kriteria 'update soon'-nya... *ngais tanah*
Arryanne: Okay... Ganbarimasu... :"DDD Thanks!
goodnight: Jangan bingung! Kagami masih akan bangkit, Akashi masih ada kesempatan. Perebutan Kuroko baru akan dimulai! . Yap. Setelah Kagami, Kuroko adalah karakter kedua yang pantas disebut 'dense' di fic ini... a.k.a gak peka.
Guast077: Maaf sudah membuat anda menunggu lebih lama lagi... *naik ke pohon* lanjut kok. Molor seabad pun, fic ini lanjut... #ditabok. Baju maid ya? Ada kok ntar. Tunggu aja. Suka dramatis? Kalau begitu, saya berharap chapter ini cukup dramatis yah. Hehehe. Sekali lagi, maafkan saya, ga bisa 'kilat'.
dewi: iyaaa... ini udah dilanjut. :"D
leinalvin775: Yap. Yang nyelametin Kuroko itu memang Akashi lho... :"D semoga masih sabar nunggu fic super ngaret ini. #terisak
Deidara: Ini Deidara dari Akatsuki bukan? Saya pens... :"D Bukan ragu lagi. Yang nyelamatin Kuroko memang bukan Kagami. Apakah chapter ini masih membuat anda sedih? Kagami masih ada peluang kok. Kuroko juga belum rela ninggalin Kagami... :-)
kim ariellink: Yosh! Satu suara untuk AkaKuro! *nyoblos* Yaaa... yang nyelamatin Kuroko kemarin itu bukan Kagami. Penyelamat aslinya malah maso-in diri di sana... Beruntung perjuangannya sudah mulai membuahkan hasil. *pukpuk Akashi*
overexcitedsister: Luv u tu, sistah 3 Gak banting stir ke angst, kok (belum saatnya paling gak...) Besok humornya bakal balik. AkaKuro bakal ngebanyol lagi. ^^ Kenapa Akashi tergelincir bisa indah? Karena dia Akashi. Kalau saya ganti Aomine, pasti jadinya nyungsep #digigit Aomine dan fans. *Kecup balik*
Vanilla Lolipop Candy: Ristu! Ishiya disamain sama Itachi? Jangan plis, nanti saya nge-fly (demen tipe big bro yang kayak Itachi) Kalau Kuroko tahu dari awal siapa penyelematnya, Akashi ga bakal maso dan fic ini udah tamat dari chapter satu. Makin ruwet, ditambah fakta kalo Kagami ngiranya orang yang disukai Kuroko itu Akashi (Nah lho?) Saya senang deskripsi saya berkembang. :"))) Saya berani OOC-in mereka karena masih pasang tag humor. Karena kurang greget kalo kelakuan mereka lurus-lurus aja.
Momonpoi: Hai, momo(?) Makasih sudah mau nunggu. Suka Kuroko? Saya juga *lemparin Kuroko. Dijitakin Aka-Kaga-Ogi ama abangnya*
purikazu: Kembaranku! *melambai gaje* Midorin udah ada Takao kok. Udah sering bareng—tinggal genjot aja #ditamvar (si megane cuma pengen kue tapi terlalu cundele untuk meminta) (o.O) Pens nya Ogi nambah lagi *ikat Ogi, sembunyiin di lemari* Iya. Kalo afdhol semua, kita dapat AoKi setelah ini. Bawel juga gak papa, my twin. Makin cerewet kamu di ripiu, makin cintah aku padamu! 3
versetta: Bukan sok tahu kok. Penyelamat Kuroko emang Akashi :"D Ini udah lanjut... tapi maaf yah gak bisa cepet.
wullancholee: Semua gara-gara Ogiwara. Tapi dari ke-sok tahu-an Ogiwara itulah, cerita ruwet ini berawal. Terima kasih sudah mau mampir lima kali. Hahaha. :"DDD
Dan segenap terima kasih juga untuk yang sudah nge-fav, nge-foll dan tidak lupa para silent reader. Arigatou gozaimasu.
Next chapter: Sunshine
Hanya sekali ini saja, Kurokocchi. Biarkan aku begini dulu. Besok aku akan ceria lagi... Berisik lagi. Ribut sama Aomine-cchi lagi... Hanya malam ini saja, aku ingin menangis. (Kise)
.
Aku sedang tidak ingin bicara denganmu, Akashi-kun. Menjauhlah dariku. (Tetsuya)
.
Kuroko, genggam tanganku. Jangan pernah lepaskan. (Kagami)
.
Tahukah kau cerita tentang Jack Frost si peri salju yang kesepian?
Jack Frost tidak punya teman dan hanya bisa menatap iri pada anak-anak desa yang bergembira bersama. Suatu hari, Dewa yang merasa iba menciptakan seorang teman untuknya.
Si peri salju merasa gembira. Sepanjang hari menghabiskan waktu bersama teman barunya itu. Sayang, teman itu hanyalah imaji sementara. Di kala matahari menghilang, teman itu lenyap bersama hari yang berganti.
Jack Frost menyesal. Rasa sepinya berlipat ganda usai merasakan bahagianya memiliki seorang teman. Jika tahu seperti ini, lebih baik ia tidak memiliki teman sama sekali.
Dalam beberapa sudut pandang, Akashi serupa dengan Jack Frost. Di tengah dingin dan kesunyian masa kecilnya, ia pernah menemukan seseorang. Seseorang yang begitu indah, hangat dan menyilaukan. Seolah dia lah matahari itu sendiri.
Untuk sesaat, dunia kecil Akashi berubah indah dan bermandikan kehangatan. Namun itu semua hanya sementara. Bedanya dengan Jack Frost, Akashi tidak pernah menyesali kehadiran sang mentari meski hanya sebentar. Tidak peduli meski dunianya terasa semakin dingin setelah sempat mencicip singkatnya kehangatan sang surya kecil.
'Seijuurou... Sekali pun kau membenci dunia dan berhenti mencintai dirimu, aku akan tetap mencintaimu. Ingatlah bahwa kau berharga dan bahwa dunia ini indah denganmu di dalamnya.'
.
.
.
Sentuhan hangat cahaya sore menggelitik kelopak Akashi. Sepang biner semerah delima berhadapan langsung dengan angkasa senja yang terlukis di balik jendela. Hujan telah berhenti. Di langit yang bersih, matahari menyempatkan diri untuk berbagi kehangatan sebelum bertukar shift dengan rembulan.
Sorot jingga mewarnai kamar yang hening terkecuali lirih hembusan nafasnya dan seseorang. Masih duduk berdandar dinding, tubuhnya telah bugar. Akashi sudah mampu bergerak bebas seperti sedia kala.
Menghela nafas, hal pertama yang ia lakukan adalah mendekap sang mentari. Akashi membenamkan wajahnya di antara helaian cerulean yang berkilau keemasan diguyur sinar senja. Menyesap lamat-lamat aroma vanilla yang bercampur sedikit bau hujan.
"Aku ingat saat hari itu, kau bilang bahwa aku melihatmu dengan pandangan dingin... kau bilang aku melihatmu tak ubahnya melihat seseorang yang berpapasan denganku di jalanan..."
Bisikan Akashi hanya ditanggapi oleh dengkuran halus. Sang kapten tersenyum teduh. Membelai pelan kepala yang bersandar pada bahunya.
"Maafkan aku untuk hari itu. Tapi kau bukan Tetsuya-ku. Kau adalah orang lain." Dari rambut, sentuhan sarat afeksi itu turun menuju pipi pucat yang terasa dingin. "Aku ingin Tetsuya-ku kembali. Ke mana dia pergi?"
Tangan yang sama kemudian bergerak semakin turun. Menyelinap ke dalam saku blazer yang gembung diisi kemasan susu. "Sampai aku menemukannya, aku ambil ini kembali." Secarik surat terjepit di antara jari. Amplop birunya mulai lusuh karena terdesak oleh pergerakan rancu saat dilanda panik.
"Maaf. Kau mungkin akan membenciku. Tapi aku tidak bisa jika harus kehilangan Tetsuya sekali lagi."
Kelereng scarlet itu mengerling sendu pada si biru yang tenggelam dalam lautan mimpi.
"Kau bebas mencintai Kagami. Hatimu bebas memilih siapapun." Bibir Akashi melayang tepat di atas belah ranum yang mulai kehilangan rona menjadi agak pucat. "Aku bahkan rela jika kau memusuhiku seperti biasa... Rela kau lihat tidak lebih dari sekadar orang egois yang seenaknya sendiri."
Senyum sedih melengkung di paras rupawan sang kapten. Bergerak turun, Akashi malah menjatuhkan kecup hangatnya pada dahi yang tertutup poni biru. "Aku hanya ingin kau tinggal di sisiku. Di sini, di mana aku bisa melihat dan menjangkaumu ketika ingin. Di mana suaramu adalah realita, bukan hanya rekaman semu yang diperdengarkan oleh memoriku."
Di tengah buaian lelap, tanpa sadar Tetsuya ikut mengeratkan jerat lengannya di leher Akashi.
Akashi merengkuh tubuh ringkih itu semakin mendekat kepadanya. "Hanya segitu saja sudah cukup..."
Untuknya, Akashi adalah sebatang lilin. Siap membakar dirinya sendiri hingga habis, jika dapat memerangi gelap di sisinya. Menjadi cahaya untuknya. Meski tidak akan mampu manjadi matahari.
.
-See You Next Time!-
.
.
.
