Baekhyun adalah satu-satunya hal terindah yang Chanyeol miliki. Kematian Baekhyun menyisakan luka yang sangat dalam pada dirinya. Bagaimana keajaiban akan menyembuhkan luka di hatinya?
Main cast: Park Chanyeol, Byun Baekhyun
Genre: Fantasy/Friendship
Scene 5: Awal
"SEKARANG KAU SUDAH MULAI BERANI MELAWANKU HAH? HANYA KARENA AKU MEMBIARKANMU SELAMA INI?"
Seorang anak yang merupakan ketua kelompok berandalan di sekolah mencekik leher Chanyeol dan mendorong tubuhnya ke dinding lalu berteriak. Dua orang di belakang anak itu tertawa kecil. Mereka adalah anak buahnya.
"DASAR BRENGSEK. CEPAT KATAKAN ALASANMU MEMUKULKU TEMPO HARI?"
Chanyeol hanya menggeleng tanpa keinginan untuk menjawab pertanyaan dari orang yang mencekiknya itu.
"CEPAT KATAKAN! DAN AKU AKAN MEMBIARKANMU TETAP HIDUP."
"Tidak akan, brengsek."
Chanyeol memaki ketua kelompok berandalan yang sedang dikuasai amarah itu dengan suara tertahan karena lehernya tercekik. Kedua tangannya memegang tangan yang sedang mencekiknya dengan kuat. Dia berusaha melepaskan diri, tapi kekuatan musuhnya itu sungguh luar biasa sehingga Chanyeol tidak dapat berkutik dan hanya bisa menahan rasa sakitnya.
"KAU SUDAH BOSAN HIDUP HAH?"
Anak itu berteriak semakin keras dan menguatkan cekikannya pada leher Chanyeol membuat Chanyeol kesulitan bernapas.
"Lepaskan! Bukankah aku sudah minta maaf?"
"MAAF KAMU BILANG? AKU TIDAK AKAN MELEPASKANMU WALAU KAMU SUDAH GILA SEKALI PUN."
Chanyeol meronta sekuat tenaga untuk melepaskan diri. Sedangkan matanya memerah menahan amarah. Dia menyesal karena selama ini dia tidak pernah belajar bagaimana cara memukul dan melawan. Yang bisa dia lakukan hanya menahan pukulan dengan baik seperti saat ayahnya memukulnya ketika mabuk, atau pun seperti saat dia di buli oleh anak-anak berandalan sekolahnya seperti ini.
"Sudah habisi saja dia."
Salah satu anak yang di belakang berkata sinis meminta agar ketua kelompoknya itu menghabisi Chanyeol sekarang juga.
"Anak seperti dia tidak akan tahu caranya meminta maaf dengan benar."
Anak yang satunya lagi menimpali perkataan temannya dengan tak kalah sinis.
"Sepertinya hari ini hidupmu akan berakhir Park Chanyeol."
Ketua kelompok berandalan itu mengatakan akan mengakhiri hidup Chanyeol sambil menyeringai seram. Chanyeol menelan ludah ketakutan. Dia merasa sepertinya hidupnya benar-benar akan berakhir hari ini dan dia tidak akan pernah rela.
Bakkk
Satu tinju keras melayang pada wajah Chanyeol, membuatnya tersungkur ke tanah. Sudut bibirnya robek dan membuat darah segar mengalir dari sana. Dia pun terbatuk-batuk untuk melancarkan pasokan oksigen ke dalam paru-parunya.
Tak menunggu lama, dua orang yang tadi hanya melihat itu turut mendekat. Mereka menginjak-ijak dan memukul dengan keras tubuh Chanyeol yang tersungkur di tanah. Mereka memukul Chanyeol seperti binatang buas yang memangsa buruannya. Mereka tidak memperdulikan rintih kesakitan Chanyeol. Mereka terus memukul Chanyeol dengan membabi-buta membuat Chanyeol tak sanggup melawan. Dia hanya bisa melindungi kepalanya dengan kedua tangannya. Dia juga merasa harus menggerakan tubuhnya untuk mencegah pukulan dan injakan itu mengenai organ vital tubuhnya atau dia benar-benar akan mati hari ini. Dengan tenaga yang tersisa sesekali Chanyeol memohon.
"Ku mohon hentikan."
Ketua kelompok berandalan di sekolah Chanyeol itu hanya berdiam diri melihat dua anak buahnya memukul Chanyeol habis-habisan. Dia hanya melihat sambil menyandarkan punggungnya di dinding dan sesekali menyesap rokok yang ada di tangannya. Wajah menyeringainya terkaburkan oleh asap tebal dari rokok yang dia hembuskan.
"Sudah cukup. Tinggalkan dia!"
Merasa sudah cukup puas dengan keadaan Chanyeol, ketua kelompok berandalan itu memberi perintah pada dua orang anak buahnya untuk berhenti memukul Chanyeol. Dua orang itu pun berhenti memukul Chanyeol yang sudah tidak bergerak. Tanpa belas kasihan, mereka bertiga pergi begitu saja meninggalkan tubuh Chanyeol yang terkapar di tanah.
Chanyeol sadar beberapa saat kemudian. Dia terbatuk-batuk merasakan sakit yang luar biasa di dada dan seluruh tubuhnya. Tangannya terus memegang dadanya yang terasa sesak. Dengan tenaganya yang tersisa, dia mencoba berdiri meskipun kesulitan. Dia membersihkan seragamnya yang kotor dengan menepuk-nepuknya. Dia mengambil tas sekolahnya dan berjalan pergi dengan sempoyongan.
Chanyeol melangkah dengan semua kekuatannya yang tersisa. Dia harus menuju suatu tempat. HARUS. Walau pun dia harus mati sekali pun dia akan tetap pergi kesana. Chanyeol terbatuk-batuk sekali lagi dan membuang ludahnya yang bercampur dengan darah ke jalan.
Tidak berapa lama Chanyeol sampai di tempat yang dia maksud. Sebuah jalan raya ramai di dekat perempatan. Tempat kenangan buruk miliknya berasal. Tempat yang sebenarnya ingin dia lupakan, tapi harus dia datangi untuk menyelesaikan takdirnya dan memulai hidupnya kembali.
"Chanyeol."
Chanyeol menoleh ke belakang karena mendengar seseorang memanggilnya.
"Kau kenapa? Apa yang terjadi denganmu?"
Baekhyun terkejut setelah mendekat pada Chanyeol. Dia mendapati wajah Chanyeol penuh luka dan segaramnya sangat kotor.
"Apa ayahmu lagi yang melakukannya?"
Baekhyun meraih tangan Chanyeol dan berusaha memapah Chanyeol yang berjalan sempoyongan, tetapi Chanyeol menepis tangannya.
"Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir."
Chanyeol mencoba tersenyum untuk meyakinkan Baekhyun bahwa lukanya tidak separah yang dipikirkan Baekhyun.
"Bagaimana bisa aku tidak khawatir melihatmu begini. Seperti ini kau masih bisa bilang tidak apa-apa?"
"Kau terlalu berlebihan."
"Katakan siapa yang melakukannya! Atau jangan-jangan?"
"Tidak usah berpikir macam-macam!"
Perintah Chanyeol pada Baekhyun dengan nada tinggi.
"Kau bodoh hah? Seharusnya aku mencegahmu saat itu. Aku tahu mereka pasti akan membalas perbuatanmu cepat atau lambat."
"Baekhyun sudahlah!"
Chanyeol tidak juga menjawab pertanyaan Baekhyun tentang siapa yang memukulnya, membuat Baekhyun merasa diabaikan. Padahal dirinya benar-benar khawatir pada Chanyeol.
"Kau memang bodoh."
Tak mendapat respon dari Chanyeol, Baekhyun mulai marah dan meninggikan suaranya.
"DASAR BRENGSEK. KAU TAHU TIDAK KALAU AKU PEDULI PADAMU?"
"DIAMLAH!"
Tanpa sadar Chanyeol berteriak sambil mencengkeram kerah Baekhyun. Melihat Baekhyun terus memarahinya, emosinya tak lagi bisa dia kendalikan. Hal itu membuat mata Baekhyun membulat karena dia tidak pernah melihat Chanyeol semarah ini apa lagi padanya.
Tangan kanan Chanyeol mengepal dan dia arahkan ke wajah Baekhyun, tetapi kesadarannya kembali seketika dan tinjunya terhenti di udara. Dia pun melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga membuat Baekhyun terjatuh.
"Kau kenapa Chanyeol?"
Baekhyun menangis tertahan melihat kemarahan Chanyeol untuk pertama kalinya. Padahal selama ini Chanyeol selalu berbicara lembut padanya.
Chanyeol mengusap kepalanya yang terasa pusing dan berucap pelan.
"Kau tidak apa-apa? Maaf. Aku tidak bermaksud kasar padamu."
Chanyeol ketakutan akan sikap kasarnya sendiri pada Baekhyun barusan. Kepalanya benar-benar sedang tidak bisa berpikir dengan baik. Dia pun pergi meninggalkan Baekhyun begitu saja. Dia takut amarahnya akan membuat Baekhyun terluka.
Chanyeol menyeberang jalan dengan tergesa-gesa, tanpa memperdulikan keadaan sekitar. Beberapa mobil hampir saja menabraknya. Suara klakson mobil bersautan memintanya minggir. Dia sama sekali tidak peduli.
Sampai di seberang jalan Chanyeol berbalik. Dia melihat Baekhyun berdiri dan menyeberang jalan tanpa berhati-hati untuk mengejarnya. Dia hanya menatap Baekhyun datar.
Dari jauh Chanyeol melihat mobil yang melaju dengan cepat menuju ke arah Baekhyun. Dia pun tersenyum kecil ketika mobil itu mendekat dan sorot lampunya mengenai Baekhyun membuat Baekhyun berhenti di tengah jalan karena kaget.
Chanyeol bahkan tidak bergeming saat mobil itu menghantam tubuh Baekhyun dan membuatnya terlempar jauh ke jalanan.
Chanyeol hanya menatap datar pada tubuh Baekhyun yang tergeletak di aspal. Darah keluar dari kepala Baekhyun dan mengalir ke arah tubuhnya, membuat tubuh mungil itu bersimbah darah. Sekilas dia merasa mata Baekhyun menatap padanya sebelum akhirnya mata itu tertutup rapat.
Chanyeol menghembuskan napas panjang dan mencoba untuk tidak peduli. Dia pun segera berbalik dan melangkah pergi. Mulutnya bergumam pelan.
"Sampai jumpa, tuan Byun."
TO BE CONTINUE
Terima kasih untuk SehunSapiens6104 atas reviewnya. Bukankah Baekhyun Oppa sangat imut jika sedang berteriak-teriak?
Terima kasih untuk Theresia341 atas reviewnya. Saya sudah mengatur spasi dengan baik tapi tiba-tiba saja menjadi seperti itu saat saya posting. Saya akan berusaha menemukan cara memperbaikinya.
Mohon pembaca menginformasikan jika menemukan cerita yang serupa atau sekiranya ada unsur plagiat. Dimohon juga untuk memberikan review yang bersifat membangun untuk memperbaiki cerita selanjutnya. Terima kasih telah menjadi pembaca yang baik. Semoga sehat selalu.
