Bleach © Tite Kubo

A Lift © Nenk RukiaKate

Warning : AU, Typo, OOC maybe, cerita bertele-tele, kacau, abal and segala ketidaksempurnaan masih ada disini.


Sekali lagi Rukia hanya bisa mendesah pasrah ketika dia tidak memiliki cara apapun untuk menyelesaikan masalahnya kali ini. Pilihannya hanya dua, mengatakan yang sebenarnya atau berbohong agar kisah ini aman. Tapi jika harus berbohong alasan apa yang harus dia kemukakan pada sabahatnya itu. Untuk alasan mengapa dia tidak ikut menghabiskan sabtu malam mereka saja rasanya sulit sekali karena biasanya Rukia tidak pernah absen dalam kegiatan mingguan mereka. Bahkan chappy termasuk alasan yang tidak bisa diterima oleh rekan-rekannya, dan selain chappy – satu-satunya alasan yang pernah dia buat- dia tidak memiliki alasan apapun untuk dijadikan sebuah kebohongan.

"Ahhh," Rukia terkaget karena kepalanya tertarik kearah yang berlawanan, belum sempat dia memprotes kata-katanya sudah disambut pertanyaan oleh sang penarik yang masih mempertahankan tangannya disisi kepala Rukia, "Kenapa kau suka sekali membenturkan kepalamu? Memangnya tidak sakit?"

Rukia melongo seketika, keningnya kembali berkerut "membenturkan kepala? Memangnya apa yang sudah ku lakukan tadi?" Rukia membenarkan posisi duduknya sambil melepaskan tangan yang masih setia menahan kepalanya. Dia baru ingat jika dia memang memiliki kebiasaan untuk membenturkan kepala saat sedang memikirkan sesuatu yang dirasa buntu, itu terjadi dengan sendirinya tanpa dia sadari.

"Hey, kau belum menjawab pertanyaanku," tanya pria itu lagi sambil membelokkan arah kemudinya.

"Apanya?" Rukia masih malas menjawab.

"Kau masih marah padaku?"

"Memangnya aku boleh marah pada atasanku," dan dijawab lirikan sebal oleh sang pengemudi tapi itu membuat Rukia tertawa melihat tingkahnya.

"Kenapa jadi kau yang marah?"

"Karena kau masih menganggapku sebagai atasanmu,"

"Itu kenyataan," lirikan dan decakan sebal kembali hinggap diwajah tampan atasannya tersebut.

"Ini masih seperti mimpi untukku Ichigo," lanjut Rukia sambil memandang pemandangan yang terhampar dihadapannya –jalanan. Dia masih tidak tahu kemana Ichigo akan membawanya kali ini.

"Kau masih belum bisa menerimaku?" Ichigo ingin menyangkal tapi akhirnya keluar juga kata-kata yang ingin ditanyakannya. Dan Rukia masih diam untuk menanggapi, tidak tahu harus berkata apa untuk menjawabnya. Ingin menjawab "tentu saja aku menerimamu", tapi rasanya itu tidak pantas, ingin menjawab "maafkan aku", itu akan membuat Ichigo sedih dan tentu saja berlawanan dengan kata hatinya. Baiklah jika boleh jujur siapa yang tidak ingin memiliki kekasih seperti atasannya ini yang bisa dibilang 'paket yang sempurna', tapi jika dia sampai memilihnya maka ada harga yang harus dibayar mahal atas keputusannya ini, dan Rukia belum siap untuk hal itu.

"Kau tahu, aku bukan tipe orang yang suka menunggu jadi berjanjilah jangan terlalu lama," ucap Ichigo pada akhirnya sambil menggengam tangan Rukia untuk meminta perhatiannya. Rukia mengangguk sambil tersenyum untuk memberikan jawaban. Ya, dia masih butuh waktu untuk memikirkan ini semua. Memikirkan langkah terbaik untuk jalan hidupnya selanjutnya.

"Lalu apa yang masih kau pikirkan sekarang?" lanjut Ichigo lagi karena Rukia sudah mulai dengan aksi diam dengan kening berkerut.

"Biar kutebak, um... sekertaris Hitsugaya itu temanmu?" Rukia mengangguk dan menaruh minat pada percakapan mereka sekarang.

"Kalian kelihatannya sangat akrab."

"Sangat akrab," jawabnya sambil mengangguk membenarkan. Seketika dia jadi ingat kejadiansebelumnya saat ketika dirinya ditarik paksa oleh Rangiku masuk kedalam lift yang berisiskan para petinggi perusahaan, dan itu membuatnya berjengit ngeri sekaligus sesak secara bersamaan. Rukia memijat pelipisnya sambil berkata, "maaf."

"Hn, Kenapa kau meminta maaf?"

"Tentu saja karena kelakuan temanku itu, dia memang seperti itu, terlalu... banyak bicara." Rukia tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk mendeskripsikan seorang Rangiku Matsumoto. Benar-benar membuatnya malu setengah mati saat Rangiku memberinya kode secara terang-terangan untuk memperkenalkan dan memperhatikan orang yang menjadi trend topic diperusahaannya tersebut.

"Rukia? Kau tidak apa-apa? Berterimakasihlah pada Kurosaki-san yang telah menolongmu," ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya pada Rukia. Sedangkan Rukia yang masih shock hanya bisa menunduk kaku pada Ichigo dan yang lainnya. Dan selama mereka bersama Rangiku terus mengajak Rukia berbicara seolah disana hanya ada mereka berdua, sedangkan yang lainnya hanya diam memperhatikan dengan berbagai macam pendapat dipikiran mereka masing-masing.

"Lalu kenapa kau lama sekali tadi? Kupikir kau akan langsung menaiki lift yang lain saat keluar bersama temanmu itu." Ichigo mengingat betul dia harus menunggu Rukia selama 30 menit lebih dari waktu yang mereka janjikan, dan hampir saja dia akan menyusul Rukia ketempat terakhir kali berpisah –lantai 10- jika saja Rukia tidak datang dengan tergesa menuju mobilnya.

Dan sebenarnya Rukia agak terkaget saat mengetahui Ichigo memiliki pemikiran yang sama dengannya –menaiki lift selanjutnya setalah keluar bersama Ran- tapi rencana itu tidak dapat terealisasi dikarenakan Rangiku terus menyeretnya untuk mengikuti langkahnya sampai keruang kerjanya. Dan setelahnya bisa ditebak jika Rukia kesulitan untuk lepas dari genggaman seorang Rangiku Matsumoto. Berkelit bahwa dia sudah ditunggu orang yang akan membetulkan gentengnya yang bocor, dan mengatakan sabtu malam besok akan dia usahakan datang ketempat biasa mengingat kelakuan kekasih barunya yang suka memiliki rencana dadakan yang lebih tidak bisa dihindarinya.

"Bagaimana mengatakannya ya? Menurutmu apa yang akan dilakukan temanmu jika selama seminggu ini kau hilang dari peredaran mereka?"

Ichigo sedikit berpikir sebelum menjawab, "tentu saja aku akan menanyakan keadaannya selama satu minggu ini dan..., "

"Dan..., "

"Sepertinya aku benar-benar memonopolimu selama satu minggu ini ya," ucapnya santai disertai dengan seringaian lebar dan mendapat decakan sebal dari Rukia.

"Bagus kalau kau tahu," lanjut Rukia lagi membuat Ichigo semakin melebarkan senyumannya.

"Jangan tersenyum! Kau akan membuatku kehilangan teman jika seperti ini terus!"

"Temanmu akan mengerti jika kau bisa menjelaskannya dengan baik."

"Sayangnya aku tidak bisa menjelaskannya! Kau ini benar-benar ingin membuatku mati ya!" Rukia kembali berteriak frustasi ketika dia harus mengingat apa yang akan terjadi seandainya semua orang tahu tentang hubungannya ini, dan itu hal yang paling mengerikan dibanding dia harus bertemu dengan segerombolan hantu.

"Kau terlalu banyak berpikir Rukia, kenyataan tidak akan pernah sama dengan apa yang kau pikirkan, terlalu banyak berpikir juga bisa membuatmu tua lebih cepat 10 tahun," Sepertinya Ichigo mulai bisa mengerti jalan pikiran gadis itu.

Rukia tertagun mendengar pendapat Ichigo sampai dia tidak mendengarkan dengan jelas ketika Ichigo berkata, "Sudah sampai."

O0o

Mereka duduk bersisian dalam diam menikmati hamparan pasir dan hangatnya mentari senja serta semilir angin yang menerpa tubuh mereka. Ichigo memakaikan jasnya lagi kepada Rukia, dan kali ini tanpa penolakan dari gadis itu. Rukia hanya tersenyum pada Ichigo sebagai ungkapan terima kasih lalu kembali menikmati pemandangan senja yang sayang untuk dilewatkan.

Ichigo tersenyum juga saat Rukia tidak menolak tindakannya kali ini, bolehkah dia menganggap jika Rukia sudah bisa menerimanya kali ini?

"Kau suka?" tanya Ichigo memecah keheningan diantara mereka.

Rukia mengangguk, "suka, suka sekali."

"Indah sekali bukan? Lihat! Lihat Ichigo! Mataharinya sepertinya sudah bergerak sedari tadi, waktu kita datang mataharinya masih bulat sekarang sudah tinggal separuhnya. Hm... aku masih tidak mengerti dengan pemandangan alam ini, benar-benar keajaiban, mau diteliti bagaimanapun caranya kita tidak pernah bisa membaca pergerakan matahari, berapa centimeter dia bergerak setiap detiknya? Ah tidak, milimeter mungkin? Dia bergeser ke kanan atau ke kiri, kenapa kau diam saja?" Rukia memiringkan sedikit kepalanya menghadap Ichigo. Rukia mendesah pasrah saat dilihatnya Ichigo hanya sedang memandangi wajahnya.

"Matahari tidak bergerak dia diam ditempat, yang bergerak itu bumi, dia yang berotasi dan berevolusi, seharusnya kau menjawab seperti itu Ichigo," lanjut Rukia lagi sambil menopang wajahnya diatas lututnya sendiri.

"Aku ingin sekali menjadi seorang pemimpi, menjadi seseorang yang tidak perlu memikirkan apa yang akan terjadi di dunia nyata, tapi pada kenyataannya aku hidup di dunia ini yang menuntutku untuk menjadi seorang yang rasional. Cinta, uang, bahagia, kasih sayang, rasa sakit, pengkhianatan, dikucilkan, tidak dihargai, tidak dianggap, ternyata semuanya memiliki alasan dan pola sebab akibat, dan 'tidak ada yang gratis di dunia ini' pun bukan hanya sekedar kiasan semata."

Ichigo masih setia mendengarkan Rukia berbicara, mencoba memahami apa yang ingin disampaikan gadis bermata violet ini tanpa berniat menginterupsinya.

"Sama seperti matahari yang diam ditempat dan bumilah yang bergerak, begitupun juga kita, walaupun kita tidak melakukan apapun tapi rahasia ini tetap akan terbuka dengan sendirinya, dan ketika hal itu tiba banyak hal yang akan membuatmu menyesali keputusan saat ini, jika hal itu terjadi apa yang akan kau lakukan Ichigo?" tanya Rukia sambil memandang penuh pada wajah Ichigo.

Ichigo nampak memikirkan kata-kata terakhir Rukia, dia menatap manik ungu yang masih menyiratkan kegelisahan selama mereka bersama. Bisakah Ichigo menghilangkan kegelisahan yang terpampang nyata dihadapannya ini? Menghilangkan segala kekhawatirannya? Menggantikannya dengan binar cerah seperti saat mereka sedang dirawat di Rumah Sakit, seperti ketika Rukia tidak sedang berpikir tentang dunia pekerjaannya dan hubungan mereka.

"Aku tidak akan menyesal," jawab Ichigo lantang disertai kerutan di dahi Rukia tanda pertanyaannya kembali melintasi pikirannya seolah berkata, "maksudmu?"

"Aku tidak akan menyesal dengan keputusanku kali ini, menjadikanmu kekasihku, calon istriku, dan kelak menjadi ibu dari anak-anakku, aku tidak pernah seyakin ini Rukia," ucap Ichigo mantap membuat rona merah tercetak jelas di kedua pipi Rukia.

Rukia berusaha keras meredam emosinya dengan berdeham sebelum dia berkata lagi, "Kau tidak tahu siapa sebenarnya diriku, biar kutebak, kurasa kau tidak menyuruh orang-orangmu untuk mencari tahu latar belakangku, iya kan?"

"Kau bilang tidak seorangpun boleh tahu." Rukia membenarkan perkataan Ichigo dalam diam, jika Ichigo menyuruh seseorang mencari tahu otomatis akan ada satu orang yang tahu tentang rahasia mereka, dan seorang itu bisa menjadi dua orang dan tiga orang dengan sangat cepatnya, lebih cepat dibandingkan harus berdiam diri, dan itu tidak masuk dalam daftar rencananya.

"Lagipula aku lebih senang mengenalmu secara langsung dibanding harus membaca kertas-kertas itu." Rukia tidak akan heran jika ada orang yang mecari latar belakangnya dengan kecepatan kilat, karena Rukia pernah hidup di dunia seperti itu dan Rukia tidak menyukainya. Dan itupun membuatnya kembali teringat kejadian beberapa tahun silam dan membuatnya harus semakin berhati-hati dengan setiap langkah yang harus dia buat.

"Jika saat itu tiba, kau lebih suka mendengarkan langsung dariku atau laporan itu atau orang lain."

"Kenapa kau berbicara seperti itu?"

"Jawab saja."

"Kau sudah tahu jawabannya bukan," Rukia menggigit ujung bibirnya, seperti halnya Ichigo, Rukiapun sudah mulai mengerti jalan pikiran pasangannya itu, tapi tetap saja dia ingin penjelasan untuk mengukuhkan pikirannya.

"Aku lebih suka mendengarkannya langsung, tanpa kebohongan, tanpa rekayasa." Rukia kembali diam sambil mengalihkan pandangannya pada matahari yang akan benar-benar tenggelam saat ini.

Beribu-ribu maaf harus Ichigo ucapkan dalam hati ketika melihat Rukia yang terdiam sambil memikirkan sesuatu yang sepertinya sangat berat untuknya. Bukannya Ichigo tidak tahu dan tidak mau tahu konsekuasi yang akan ditanggung oleh Rukia saat semua orang mengetahui kebenaran ini, tapi Ichigo benar-benar tidak bisa melepaskan Rukia untuk hidupnya, tidak akan pernah. Karena itu dia akan menjadi orang yang sangat egois kali ini, hanya untuk Rukia seorang.

Bagi orang luar yang memandang mereka hanya dari layar kaca Rukia hanya akan di anggap sebagai wanita miskin yang mengharapkan kekayaan sang pria. Mereka akan mencemoohnya karena hanya status yang tidak sebanding ataupun perebut kekasih orang yang bisa saja mampir kehadapannya jika mereka tahu memang Rukia yang menjadi alasan utama Ichigo membatalkan pertunangannya. Ichigo tahu itu. Mereka yang ingin menjatuhkannya akan menggunakan Rukia sebagai tameng kesalahannya, dan Ichigo pun mengerti tentang hal itu. Dia hanya tidak menyangka gadis yang di cintainya ini begitu detail memikirkan segalanya, padahal jika gadis biasa dan kebanyakan mereka pasti tidak akan berpikir dua kali untuk bisa menerima Ichigo sebagai kekasihnya. Satu hal yang Ichigo yakini Rukia memang bukanlah gadis biasa, dia benar-benar luar biasa menurut pandangan Ichigo.

Ichigo memeluk Rukia dari samping dan mendaratkan kepalanya diatas bahu kiri Rukia. Rukia tersentak kaget tapi lagi-lagi dia tidak meronta untuk dilepaskan, kelakuan Ichigo yang tiba-tiba memeluknya seperti ini rasanya sudah dianggap biasa oleh Rukia. Satu minggu mereka bersama dan selalu saja ada pelukan kejutan disetiap mereka bertemu karena itu Rukia menganggap kegiatan Ichigo ini sudah menjadi sebuah 'kebiasaan'.

"Rukia."

"Hm."

"Selamat ulang tahun."

Rukia tersenyum sambil mengarahkan kepalanya untuk melihat wajah Ichigo kembali lalu beralih pada matahari yang hampir sempurna untuk tenggelam.

"Apa ini kadomu? Kencan di pantai melihat matahari terbenam?" Rukia berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari hamparan pasir dan air laut.

"Bukan,"

"Hah?" Rukia menatap Ichigo dengan tatapan bingungnya.

"Aku. Akulah kadomu," Ichigo berkata sambil mendaratkan bibirnya pada bibir Rukia. Lagi, Rukia tidak menolak, dia masih terkejut dengan pernyataan Ichigo ditambah dengan ciuman dadakan darinya membuat tubuh Rukia serasa ditimbun dengan ratusan balok es –beku. Tapi kebekuannya perlahan mencair seiring dengan ciuman lembut Ichigo yang membuainya dengan berjuta rasa dan pesona. Baiklah, Rukia benar-benar menyerah kali ini, sudah dia putuskan akan menerima pria ini sebagai kekasihnya dan masalah nanti yang akan terjadi biarlah dia yang akan menanggungnya karena sudah lancang menerima surga dunia ini, "setidaknya biarkan aku bahagia untuk sesaat", pintanya dalam hati.

Ichigo merasa dunianya benar-benar berputar kali ini, satu lagi kejutan yang di dapatnya hari ini Rukia tidak menolak ciumannya. Dia jadi teringat ciuman pertama mereka, apa yang akan dilakukan Rukia padanya jika gadis itu mengetahuinya ya? Dia melirik kearah Rukia yang masih memejamkan matanya, dia tersenyum saat rona merah kembali hadir diwajah Rukia dan itu membuatnya ingin merasakan bibir mungil itu lebih lama. Perlahan tapi pasti Ichigo mencoba meyakinkan Rukia dengan ciumannya –cara kuno, tapi survey membuktikan cara ini banyak berhasil bukan.

O0o

"Ayo pulang!" omel Rukia sambil membekap mulut Ichigo agar tidak meneruskan teriakannya. Dan tentu saja bekapan dari tangan mungil Rukia tidak bisa membuatnya bungkam, ditambah dengan perbedaan tinggi membuat Ichigo dengan mudahnya lepas dari 'cengkraman' Rukia.

"Biarkan aku menyelesaikannya dulu baru kita pulang." Saat ini mereka sudah berdiri di bibir pantai, Ichigo bilang dia ingin melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukannya di lingkungan perkotaan. Rukia pikir Ichigo ingin bermain air sejenak karena menariknya juga untuk mendekati perbatasan darat dan laut itu, tapi yang terjadi benar-benar berbeda dari yang Rukia pikirkan. Ichigo malah berteriak sekencang-kencangnya dengan menyebut namanya, "RUKIAAA AK –" Ichigo tidak sempat menyelesaikannya karena interupsi tangan Rukia yang membekap mulutnya.

"Tidak boleh! Ayo pulang saja."

"Rukia...,"

"Itu memalukan!"

"Siapa bilang memalukan?!"

"Aku!"

"Rukia...,"

"Tidak mau dengar," ucap Rukia sambil menutup kedua telinganya.

"Rukia...," Ichigo masih belum menyerah.

"Orang lain bisa mendengarnya."

"Tidak akan ada yang mendengar, aku sudah menyewa tempat ini," jika boleh Ichigo bilang, tampang Rukia seperti orang dungu kali ini.

"Apa kau lihat orang lain selain kita disini? Ingat, tidak boleh ada yang tahu?" Ichigo memeluk Rukia untuk menenangkan gadis ini, "Sekali ini saja, biarkan aku mengatakannya pada seluruh dunia," pintanya sambil mempertemukan kening mereka, dan Rukia hanya bisa mengangguk lemah sebagai jawaban.

Rukia berdiri sedikit menjauh dari Ichigo, dia benar-benar tidak menyangka Ichigo akan melakukan sebegini besar untuknya. Dia tahu Ichigo membawanya kesini karena keinginannya saat di lift –melihat matahari terbenam- tapi dia tidak menyangka bahwa Ichigo sampai menyewa tempat ini untuk mereka berdua. Dia jadi teringat waktu mereka akan makan siang bersama untuk pertama kalinya, Ichigo bilang dia akan memesan tempat di restoran yang biasa dia gunakan bersama Orihime Inoue, karena tempat itu satu-satunya Restoran yang bisa menjaga privacy pelanggan dan dia bisa menyewa seluruh tempatnya agar tidak ada seorangpun yang bisa melihat mereka bersama. Saat itu Rukia tidak berfikir karena itu tempat Ichigo dan Orihime makanya dia menolak, tapi lebih kepada biaya yang harus Ichigo keluarkan hanya untuk makan yang tidak lebih kurang dari 60 menit itu. Lalu sekarang, hanya untuk melihat matahari terbenam Rukia yakin Ichigo mengelurkan kocek yang tidak sedikit padahal pantai ini bisa dinikmati secara gratis karena merupakan salah satu tempat umum di Karakura.

Ichigo tertegun sebentar sambil menatap langit malam, mengumpulkan segenap keberaniannya, sejujurnya ini memang memalukan tapi Ichigo ingin melakukannya, dia ingin seisi dunia bisa mendengar isi hatinya kali ini, dia juga berharap suaranya bisa terdengar sampai ketempat mendiang ibunya berada –walaupun dia tahu itu mustahil- dan yang terakhir Ichigo ingin Rukia mempercayai kesungguhannya.

Ichigo berbalik sebentar melihat Rukia yang sedang menangkup kedua pipinya sambil tersenyum menjawab tatapan Ichigo, sepertinya sedang berusaha menyembunyikan rona malu yang sebentar lagi pasti akan menguar dengan hebatnya, Ichigo yakin itu. Ichigo mengambil nafasnya dalam-dalam lalu berteriak sekencang-kencangnya pada hamparan laut dan langit yang membentang luas, "RUKIAAA AKU MENCINTAIMU! SANGAT MENCINTAIMU!"

"HEY KALIAN! DENGARKANLAH! RUKIA MILIKKU! AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN SEORANGPUN DAPAT MENYAKITINYA! AKU AKAN MELINDUNGINYA DENGAN SELURUH HIDUPKU! IBUUU AKU SUDAH MENEMUKANNYA! AKU SUDAH MENEMUKAN RUKIA! AKU AKAN –"

Kata-kata Ichigo kembali terpotong saat dia merasakan ada sepasang tangan yang mendekapnya dari belakang, pelukannya semakin erat saat Ichigo mencoba untuk melepaskan sepasang tangan mungil dari pinggangnya. Kemeja belakangnya terasa basah dan tangan mungil ini sedikit bergetar ditubuhnya. Apa yang sudah dilakukannya? Kenapa dia malah membuat gadis ini menangis? Dia tidak mengerti dan memilih untuk diam sambil menenangkan Rukia dengan mendekap kembali lengan mungil yang sedang merengkuhnya. Rukia menangis dibelakang punggungnya karena dia tidak ingin Ichigo melihatnya, Ichigo mengerti akan hal itu, dan dia tersenyum karena bisa menjadi tempat sandaran untuk Rukia -pikirnya.

Setelah beberapa saat Rukia melepaskan pelukannya, tangannya yang sedari tadi memeluk Ichigo kini dia gunakan untuk menghapus jejak air matanya, jemari Ichigo juga turut membantunya, 'memalukan' umpatnya dalam hati.

"Kenapa kau menangis?" Rukia menggeleng.

"Apa perkataanku membuatmu terharu?" Rukia memberengut sambil memukul dada Ichigo pelan.

"Boleh aku melanjutkannya?" Rukia menggeleng lalu menerjang kembali Ichigo dengan pelukannya. Ichigo kembali terkejut sekaligus bahagia tentu saja karena ini pertama kalinya Rukia memeluk dirinya, kembali Ichigo hanya bisa membalas pelukan Rukia dalam diam.

"Buktikan saja."

"Hah," Ichigo belum mengerti maksud perkataan Rukia.

"Buktikan rasa cintamu, buktikan kalau kau memang tidak menyesal dengan pilihanmu, tidak perlu kau ucapkan, biarkan dunia mengetahuinya dan sisanya biarkan aku yang akan menanggungnya." Rukia sudah membuat keputusan finalnya untuk mempercayai Ichigo sepenuhnya, oleh karena itu dia pun siap untuk menanggung segala resiko yang akan dihadapinya nanti. Semua yang akan terjadi sepadan dengan kebahagiaannya saat ini –pikir Rukia.

"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu menanggungnya sendirian, kita akan menanggungnya bersama, kita hadapi bersama segalanya mulai dari sekarang," sanggah Ichigo.

"Apa itu artinya kau sudah bisa menerimaku?" senyuman malu dan anggukan Rukia membuat Ichigo mengangkat tubuh mungil kekasihnya sambil memutarkan tubuh mereka beberapa kali, membuat Rukia berpegangan erat pada bahu Ichigo sambil tertawa lepas saat Ichigo meneriakan kata 'yeah' sebagai simbol kemenangannya.

O0o

Makan malam yang terlambat. Itu yang harus Rukia jabarkan kali ini. Karena terlalu lama menghabiskan waktu di pantai mereka sampai melupakan jam makan malam, rasa bahagia memang bisa membuat orang lupa segalanya tapi tidak bisa melupakan perut yang berteriak minta diisi kembali karena seingat Rukia tadi siang dia tidak bisa menghabiskan jatah makan siangnya.

Lalu apa yang membuatnya masih memberenggut sampai saat ini? Mengabaikan perintah Ichigo yang menyuruhnya untuk makan di meja makan yang telah dia set untuk 'makan malam romantis berdua' dan memilih membawa piring nasinya kehadapan televisi yang ada di salah satu ruang 'kediaman mereka'.

Baru saja mereka sepakat menjadi sepasang kekasih, lagi-lagi Ichigo memberinya kejutan secara pihak dengan membawanya kesebuah apartemen dan mengatakan jika tempat ini akan menjadi 'kediaman mereka bersama'. Rukia benar-benar geram jika harus memikirkan kejutan ini. Sejujurnya dia masih belum siap menerima 'kejutan-kejutan' yang dilakukan kekasihnya tersebut –terlalu cepat dan terlalu gegabah.

"Rukia...," lagi-lagi dia harus mendengar Ichigo merajuk. Hey, yang harusnya merajuk itu Rukia bukan kebalikannya! Rukia mendelik sebal kearah Ichigo.

"Diam dan makan saja sendiri. Dan jangan merusak moodku untuk menyantap makan malam yang terlambat ini!" Ichigo hanya bisa meringis ngeri sambil mengusap belakang lehernya saat melihat cara makan Rukia yang terus memasukan makanannya tanpa mengunyah terlebih dahulu sambil melihat tayangan televisi di hadapannya dan tanpa memperdulikan kekasihnya ini juga. Ternyata kekasih mungilnya memang memiliki sisi yang mengerikan jika sedang marah, Ichigo akan mengingatnya lain kali.

Ichigo mengikuti jejak Rukia untuk makan di ruang tivi, makan dalam diam, memperhatikan dan memikirkannya dalam diam, juga melihat cara makan Rukia yang tergolong 'tidak biasa' disepanjang hidupnya. Ichigo selalu diajarkan untuk melakukan segala sesuatunya sesuai dengan tempatnya, termasuk makan di meja makan tapi bergaul dengan Rukia membuatnya harus melunturkan beberapa aturan yang telah menjadi kebiasannya sejak kecil. Rukia sendiri terlihat nyaman memangku piringnya diatas kaki yang dia lipat sila sambil duduk bersender di sofa, tangan kanan memegang sendok makan sedangkan yang kiri memegang remote tivi dan ingat –tanpa melirik sedikitpun kearah Ichigo. Sedangkan Ichigo meletakkan piringnya di atas meja dan duduk sedikit condong kedepan karena letak meja dan kursi sofanya yang agak renggang.

Ichigo masih tidak habis pikir bisa-bisanya dia berbuat gila seperti ini padahal biasanya bisa ditebak sendiri jika dia adalah orang egois yang menginginkan orang lain untuk mengikuti perintahnya dan bukan sebaliknya, dan lagi-lagi dia harus melakukan 'tindakan tidak biasa' untuk gadis dihadapannya ini. Apa yang akan dikatakan orang-orang terdekatnya jika mereka mengetahui seorang Ichigo Kurosaki bahkan tidak berkutik menghadapi kemarahan kekasih mungilnya ini. Jika boleh dibandingkan dengan sebelumnya, sudah tentu predikat 'tidak memiliki hati' masih disandangnya, karena walaupun dia yang bersalah tetap Orihime Inoue yang akan meminta maaf padanya. Tapi tidak kali ini, Ichigo benar-benar tidak bisa bersikap 'seperti biasanya' jika harus berhadapan dengan seorang Rukia. Memang apa salahnya jika mengajak kekasihnya tinggal bersama? Lagipula banyak pasangan lain yang melakukannya juga, dan lagi dulu ketika Orihime mengusulkan hal ini dia bahkan tidak menaruh minat sedikitpun. Dan tentu saja ini berbeda dengan adanya Rukia dalam kehidupannya.

Ichigo hanya bisa menghela nafas ketika Rukia sudah menyelesaikan makan malamnya, membawa piringnya ke wastafel dan kembali lagi duduk di sofa lalu mengacaukan tontonannya dengan menekan tombol secara acak dan kencang menandakan jika kemarahannya belum surut sedikitpun. Bahkan acara Chappy the Bunny yang sempat membuat mata Rukia berbinar-binartidak bisa membantunya kali ini. Ichigopun turut menyudahi santapan yang terasa hambar dilidahnya walaupun pada kenyataannya dia tahu pesanannya berasal dari salah satu restoran mewah kenalannya.

Ichigo menjaga jarak duduk dengan Rukia sambil masih berpikir bagaimana cara 'menjinakkan' kemarahan kekasihnya itu. Dia benar-benar tidak suka jika Rukia sudah mengacuhkan dan mendiamkannya seperti ini. Dia tidak perduli apa tanggapan Rukia nantinya yang penting mereka kini sudah resmi menjadi sepasang kekasih, paling parah Rukia akan melemparkan sepatu ataupun sesuatu yang ada didekatnya tapi itupun sudah menjadi santapan rutinnya semenjak mengenal Rukia, jadi apapun itu akan dia terima asalkan bisa membuat Rukia berbicara kembali padanya. Dia melirik Rukia sekali lagi untuk memantapkan hatinya.

Perlahan dia menggeser posisi duduknya untuk mendekati Rukia, lalu dengan gerakan cepat dia meluruskan kaki Rukia yang sedang tertekuk diatas sofa kebawah, lalu membaringkan kepalanya diatas paha gadis itu. Rukia yang terkaget refleks menggerakan tangannya yang sedang memegang remote keatas kepala Ichigo dan gerakannya terpatahkan karena Ichigo berhasil menggenggamnya terlebih dahulu, cengiran lebar terpatri diwajahnya sambil menahan tangan itu diatas dadanya. Rukia bertambah marah dengan sikapnya kali ini.

"Lepas!" amuknya sambil memukul tangan Ichigo dengan tangannya yang masih bebas.

"Tidak mau," jawabnya lantang tetap membiarkan Rukia memukuli lengannya tanpa ampun.

"Pukuli aku saja daripada kau harus mendiamkanku, aku tidak suka." Rukia tertegun mendengar tanggapan Ichigo, membuatnya melemahkan pukulannya dan menariknya hingga memperlihatkan wajah Ichigo yang tampak merana.

"Jika kau marah padaku katakanlah, aku akan meminta maaf padamu, kau juga boleh memukuliku atau melempariku dengan sepatu tapi tolong jangan mendiamkanku seperti tadi, itu membuat dadaku terasa sesak kau tahu? Rasanya sangat tidak nyaman ketika kau tidak bisa melakukan apapun untuk orang yang kau sayangi." Ichigo merasakan Rukia telah melemahkan kekuatan tarikannya digenggaman tangannya, dia menarik remote itu dan melemparkannya asal, mengaitkan jemari mereka dan menggenggamnya diatas dadanya.

Rukia masih diam sambil menghela nafas berkali-kali mencoba menetralkan emosinya yang masih belum stabil.

"Lalu apa maumu sekarang?" Rukia memijat pelipisnya untuk meregangkan otot yang terasa tegang akibat kemarahan hebatnya.

"Maafkan aku."

"Kalau aku tidak mau."

"Aku akan tetap menahanmu seperti ini," ucap Ichigo sambil menarik satu tangan Rukia yang masih terbebas dan menahannya diatas dadanya juga.

Rukia merasa matanya ingin melompat keluar saat dia harus memprotes tindakan Ichigo dangan membuat tampang segarang mungkin, dan itu malah membuat cengiran Ichigo semakin melebar, sepertinya dia benar-benar sudah menemukan cara untuk melunakkan kemarahan hati kekasihnya ini.

Rukia masih mendiamkannya dan memilih memandang televisi dihadapannya daripada harus memandang wajah Ichigo yang bisa meluluhkan hatinya. Ichigo yang lagi-lagi diacuhkan, mematikan layar bergambar itu secara sepihak dan kembali mendapat tatapan tajam dari Rukia. Mengetahui Rukia masih belum bisa memaafkannya dan sepertinya akan memakan waktu yang sedikit lama dari yang diperkirakannya, Ichigo melepaskan genggamannya dan beralih memeluk pinggangnya, memilih menenggelamkan wajahnya dihadapan perut Rukia daripada harus melihat wajah menyeramkan kekasihnya tersebut.

Perlakuan Ichigo kali ini benar-benar membuatnya hilang akal, untung saja pria itu sedang tidak melihat wajahnya, karena bisa dipastikan wajah Rukia kembali memerah bukan karena marah tapi karena malu tentu saja. Bersama Ichigo benar-benar bisa membuatnya mati muda karena debaran yang terlalu keras bertalu memburu di jantungnya.

Berkali-kali Ichigo menggeliat mencoba menyamankan posisinya mungkin, Rukia hanya bisa menangkupkan wajahnya agar dia tidak berteriak untuk memprotes tindakan Ichigo kali ini. Dia ingin menyampaikan padanya jika dia memang seperti ini jika sedang marah –diam. Dia terbiasa memprotes kemarahannya dalam diam, dibandingkan harus berteriak yang menurut pengalamannya tidak akan memiliki pengaruh apapun pada tipe egois seperti Ichigo dan kalangannya, Rukia memilih untuk diam sebagai tamengnya.

Jam dinding diatas televisi menunjukkan angka 11, Rukia menghela nafas pasrah. Dan sepertinya Ichigo benar-benar tidak akan melepaskannya saat ini, Rukia merasakan tarikan nafas Ichigo yang mulai teratur dipangkuannya –Ichigo tertidur.

Perlahan Rukia mulai menggerakkan jemarinya pada helaian mahkota jingga milik kekasihnya ini, dan menahan beban kepalanya sendiri dengan topangan sebelah tangannya. Memutar kembali otaknya pada langkah yang telah Ichigo buat untuk mereka berdua, merombak kembali rencana sebelumnya dan menentukan langkah mana yang harus dia ambil kali ini, terus maju, haruskah mundur atau tetap bertahan. Rencana-rencana Ichigo benar-benar diluar dugaannya.

Rukia menegakkan tubuhnya kembali saat Ichigo kembali menggenggam tangannya dan membalikkan posisinya sehingga berbaring kembali dipangkuan Rukia. Kedua pandangan merekapun kembali bertemu. Ichigo tersenyum melihat wajah Rukia tidak setegang sebelumnya.

"Kau sudah tidak marah padaku?" tanyanya memulai percakapan. Karena sesungguhnya Ichigo memang tertidur tadi tapi saat dia merasakan Rukia sedang membelai pucuk kepalanya dia pikir Rukia sudah memaafkannya.

"Menurutmu?" jawab Rukia menaikkan sebelah alisnya sambil menopang kembali kepalanya.

Ichigo mencoba mengabaikannya sambil menghela nafasnya panjang.

"Maaf, aku tahu aku memang egois tapi aku hanya ingin menghabiskan banyak waktuku denganmu. Aku tahu kesalahanku. Aku tahu keinginanku membuatmu terkejut, tapi kupikir cepat atau lambat kita akan tetap bersama, jadi jika kupercepat itu tidak akan ada bedanya bukan,"

"Tentu saja itu berbeda!" sergah Rukia cepat kembali menegakkan tubuhnya.

"Kau bilang tidak ada yang boleh mengetahui hubungan kita, kau melarangku untuk menghamburkan uang untuk menyewa tempat pribadi kita, aku harus bersembunyi ditaman saat harus menjemputmu, pura-pura tidak mengenalimu saat kita berpapasan, menahan diri untuk tidak memelukmu saat bertemu dan aku bertahan untuk tidak mengatakan kau milikku pada semua orang," cecarnya sambil bangkit dari pembaringannya dan menantang tatapan terkejut Rukia saat mendengarkan alibinya.

"Kau tahu betapa frustasinya aku karena merindukanmu?"

"Kau terdengar sangat berlebihan Ichigo."

"Aku tahu! Tapi itulah yang kurasakan."

"Kau seperti remaja yang baru pubertas."

"Aku tahu! Dan kau yang membuatku seperti ini."

"Menyalahkanku?"

"Itu memang salahmu membuatku jatuh cinta dan gila seperti ini, itu salahmu!" hardiknya sambil mengacak-acak rambutnya asal, berbicara pada Rukia untuk menjelaskan perasaannya benar-benar bukan gaya seorang Ichigo Kurosaki.

"Kau tahu, aku merasa sudah berubah menjadi alien seminggu belakangan ini dan itu semua karenamu! Semua orang terdekatku mengatakan aku tidak waras, dan itu membuatku semakin gila saat harus memikirkan 'mungkin saja mereka mengetahui rahasiaku' saat menyadari ketidakwarasanku bersumber karena seorang wanita."

"Kau bisa melepaskanku," Ichigo menggeleng cepat.

"Sudah kubilang aku tidak akan pernah melepaskanmu. Itu bukan sebuah pilihan Rukia," Ichigo pasrah, kini dia memilih duduk bersisian dengan Rukia.

"Aku tidak memiliki tujuan apapun saat membeli tempat ini, apartement ini dulu sengaja kubeli untuk keperluan investasi. Aku memilih tempat ini diantara apartement yang lain karena tempatnya strategis antara rumahmu dan kantor. Aku memang merencanakan tempat ini sebagai tempat pertemuan kita, dan tadinya aku memang berniat hanya mengajakmu makan malam disini."

Ichigo menghela nafas panjang untuk menyesali keputusannya tadi saat mengatakan 'mereka akan tinggal bersama mulai malam ini', dan mulai mendapatkan kemarahan Rukia saat dirinya tidak ingin membawa Rukia pulang malah mengunci pintunya, membuat kemarahan Rukia meradang dan memilih membuat jarak dengannya dan mendiamkannya beberapa jam yang lalu.

"Kenapa kau diam? Lalu kenapa kau mengubah 'hanya makan malammu' itu menjadi tinggal bersama?" tanyanya sambil mengedikkan bahu yang tertempeli kepala orange Ichigo.

"Karena kau telah benar-benar menjadi kekasihku."

"Lalu, jika aku tidak menerimamu malam ini maka tidak akan ada 'tinggal bersama'?" Ichigo menggeleng dan memamerkan seringaiannya pada Rukia.

"Aku akan tetap memaksamu untuk bisa tinggal bersama, kau tahu itu kan? Aaaa –sakit. Aish Rukia itu benar-benar sakit," protes Ichigo saat mendapatkan cubitan maut dan pukulan bertubi-tubi dilengan atasnya.

"Minggu siang aku harus berangkat ke Inggris, ada calon investor yang bersedia membantu perusahaan kita. Banyak orang bilang dia orang yang sulit dihadapi, aku mungkin akan memerlukan waktu yang agak banyak untuk bisa membuatnya mengatakan kata sepakat, karena itu aku ingin menghabiskan waktu lebih lama denganmu. Aku benar-benar bisa mati karena merindukanmu nanti," jelas Ichigo sambil merengkuh Rukia dalam dekapannya.

"Siapa bilang kau boleh memelukku, lepas!" Ichigo menghela nafasnya sambil enggan menarik tangannya dari rangkulan Rukia.

"Kenapa kau masih marah padaku? Aku kan sudah minta maaf,"

"Aku masih kesal! Kalau kau ingin ku maafkan, pulangkan aku sekarang!"

"Tidak mau."

"Tch, egois!"

"Memang! Ayolah... hanya sampai minggu siang, kau pilih mana, mengantarku ke bandara atau menemaniku sampai minggu siang," Rukia menekuk lututnya kembali keatas sofa, untung saja hari ini dia memakai celana bahan jadi tidak masalah dia ingin duduk dengan gaya apapun –trauma minggu lalu-, "tidak dua-duanya," jawabnya cepat sambil memeluk lututnya sendiri dan menopang wajahnya diatas lututnya.

"Ya sudah kuanggap kau memilih keduanya."

"Jangan suka memutuskan sendiri seenaknya tuan kepala jeruk!"

Ichigo hanya menyeriangai senang sambil menghindari pukulan dari Rukia.

"Menyebalkan!" kekehan Ichigo semakin membuat Rukia geram.

O0o

Sepertinya Rukia sudah memaafkan Ichigo, buktinya sekarang mereka sudah kembali tenang, duduk bersisian sambil bergenggaman tangan dan menatap layar televisi yang menyala tanpa bersuara.

"Ichi," suara Rukia memecah keheningan diantara mereka.

"Hm,"

"Boleh aku bertanya?"

"Katakanlah."

"Kenapa kau bisa memperlakukanku seperti ini?"

"Maksudmu?"

"Apa kau juga seperti ini saat bersama Inoue atau wanita-wanita yang lainnya?"

"Tentu saja tidak. Bahkan waktuku bersama Inoue tidak pernah lebih dari 30 menit."

"Dengan yang lain?"

"Mereka bahkan takkan sanggup bertahan walau hanya 5 menit," Ichigo sedikit menunduk saat merasakan wajah Rukia terangkat hanya untuk memberikan tatapan bertanya "kenapa?"

"Aku memelototi mereka." Rukia memukulnya lagi sebagai tanggapan protes.

"Kenapa kau suka sekali memelukku? Menciumku, dan kau bahkan mencuri ciuman dariku berkali-kali! Tadi siang juga! padahal kau bilang tidak pernah sekalipun kau mencium Inoue, bahkan berpegangan tangan." Rukia kembali mendaratkan pukulan dan cubitannya bertubi-tubi pada Ichigo ketika teringat perlakuan Ichigo tadi siang.

"Jadi kau lebih suka aku meminta ijin untuk menciummu lebih dulu, begitu? Seperti kau akan memberikannya saja, orang pelit sepertimu akan merugikanku, jadi aku lebih suka seperti ini, " Ichigo menahan kedua tangan Rukia yang masih sibuk memukulinya mendekatkan wajahnya cepat kehadapan Rukia dan kembali mencuri ciuman darinya.

Rukia berontak sekuat tenaga melawan genggaman Ichigo, yang Ichigo lakukan hanya tetap menciumnya sambil berusaha menaruh kedua tangan Rukia dipinggangnya, dan ketika dia merasa Rukia beralih meremas kemeja disamping pinggangnya, tangannya dia alihkan untuk menarik Rukia semakin dekat dalam pelukannya. Siapa suruh gadis itu membahas tentang ciuman, membuatnya melepas hasrat yang sudah tertahan sedari tadi dengan sendirinya.

Pemuda ini benar-benar membuatnya hilang kewarasan, bisa-bisanya lagi-lagi dia tidak bisa menolak apa yang Ichigo berikan. Ciuman terpanjang kedua dalam semalam setelah kejadian tadi di pantai. Sekarang bahkan dia tidak berani untuk menatap wajah pria yang sedang merengkuhnya ini. Setelah ciuman panjang mereka tadi Rukia lebih memilih membenamkan wajahnya di perpotongan leher Ichigo, sedangkan pemuda itu malah asyik menyandarkan wajahnya pada pucuk kepala Rukia. Mereka masih malu.

Senyuman Ichigo semakin lebar diatas sandarannya, sambil merutuki kebodohan gadisnya ini. Bisa-bisanya dia bertanya sepolos itu padanya. Kenapa dia suka memeluknya? Kenapa dia suka menciumnya? Dan kenapa dia memperlakukannya berbeda dari Inoue. Jawabannya hanya ada satu, Karena dia mencintai Rukia. Selain itu Ichigo tidak akan pernah bertindak sebegini gila tentu saja.

"Ichigo," panggil Rukia lagi dalam pelukannya.

"Hm."

"Lalu kenapa kau membuatku merasa seolah-olah kau tidak bisa hidup tanpaku? Membuatku merasa wanita paling beruntung sedunia karena seorang Ichigo Kurosaki memilihku sebagai kekasihnya. Bagaimana jika aku menerimamu hanya karena hartamu atau bagaimana jika aku menerimamu hanya karena kasihan atau sebatas kepopuleran?" tanyanya lagi kearah Ichigo.

"Pertanyaanmu banyak sekali? Darimana aku harus menjawabnya?"

"Masih banyak lagi pertanyaan kenapa yang bersarang dikepalaku, dan itu membuat kepalaku serasa ingin meledak setiap saat." Ichigo menarik sebelah tangan Rukia untuk dia genggam.

"Kenapa kau bisa jatuh cinta padaku? Kenapa kau bisa seyakin itu menyatakan cintamu hanya untukku? Bahkan aku masih belum yakin apa aku bisa membalas rasa cintamu itu, dan aku masih tidak habis pikir bagaimana caranya kau bisa yakin kalau kau benar-benar mencintaiku selama seminggu ini?"

Ichigo hanya tersenyum mendengar pikiran Rukia dan dia hanya mengecup jemari Rukia sebagai jawaban.

"Nah, nah, dan ini juga." Rukia menarik tangannya dan juga tangan Ichigo memamerkan jemari yang tersematkan cincin yang tidak familiar untuknya sambil menunjukan berulang kali pada tangannya dan juga tangan Ichigo.

"Kenapa bisa ada cincin yang ternyata sama dengan milikmu itu? Aku tidak pernah ingat pernah membelinya atau memakainya? Kenapa tiba-tiba cincin ini ada dijemariku dan anehnya cincin ini tidak bisa terlepas walaupun aku sudah mencobanya dengan berbagai cara –tidak termasuk memotong jariku tentu saja, apa punyamu juga sama Ichigo?"

Ichigo tetap tenang menanggapi raut kebingungan yang jelas terpatri diwajah Rukia itu.

"Aku yang memakaikannya saat di lift, saat kau tidak sadar. Tentu saja kau tidak akan mengingatnya," Rukia memandangnya penuh minat.

"Kau ingat, waktu itu aku pernah bilang, aku kembali karena ingin mengambil sesuatu, dan itu adalah cincin ini. Cincin peninggalan ibuku. Cincin yang diberikan secara turun temurun pada penerus keluarga Kurosaki. Cincin ajaib yang benar-benar sangat ajaib. Tadinya aku tidak percaya tapi sekarang lihatlah bukankah cincin ini sangat pas untuk kita berdua Rukia?" Ichigo memamerkan kedua cincin itu dihadapan Rukia.

"Apa kau pernah memberikan cincin ini ke Inoue juga Ichigo?"

"Em, ya. Saat melihatnya pertama kali dia terlihat sangat tidak suka karena bukan cincin berlian seperti yang diharapkannya hanya seonggok cincin yang terbuat dari batu. Dia berusaha terlihat suka dan mencoba memakaikannya, tapi yang terjadi cincin ini menggelinding kembali kearahku."

"Aku bahkan mencobanya pada kedua adikku, yang hasilnya ternyata sama saja, cincin ini seolah tidak muat pada jari siapapun, Ayahku malah mengomeli kami saat itu. Beliau bilang memangnya aku akan menikah dengan adikku! Beliau bilang cincin ini hanya untuk menantu keluarga Kurosaki tidak ada yang bisa memakainya kecuali satu orang yang akan menjadi pasanganku."

Rukia menatapnya curiga dan tidak percaya.

"Tadinya aku juga tidak percaya, tapi sekarang lihatlah. Kau tahu, aku juga baru bisa memakai cincin ini saat cincin itu terpasang dijemarimu, sebelumnya juga sama cincin ini seakan longgar sepuluh centi dijemariku."

"Kau bohong!"

"Aku tidak berbohong nona, kau bisa lihat buktinya sendiri bukan?"

"Tidak mungkin?!" Rukia mulai menggoyang-goyangkan jemarinya berusaha kembali melepaskannya walaupun dia tahu hasilnya akan nihil seperti sebelumnya.

"Kolot sekali keluargamu itu! Agghhh ini benar-benar tidak bisa lepas!" Ichigo tersenyum melihat tingkah konyol Rukia yang terlihat frustasi saat berusaha melepaskan cincin itu.

"Lalu kau sudah keturunan keberapa? Kenapa hal konyol seperti itu masih ada dijaman sekarang ini sih?! Ichigo bantu aku melepasnya, kau pasti tahu kan cara melepasnya kan?!"

"Aku tidak tahu sudah generasi keberapa, aku hanya tahu sebatas kakekku selebihnya aku tidak tahu –" Ichigo sengaja memberikan jeda untuk pertanyaan terkahir Rukia dia ingin melihat reaksinya jika dia tahu tentang kenyataannya.

"Lalu?"

"Ichigo?!"

"Berjanjilah kau tidak akan marah padaku." Rukia menukikkan tautan alisnya nyaris menjadi satu.

"Katakan cepat! Bagaimana melepaskan cincin ini?" rengek Rukia, "aku tidak suka memakai perhiasan," lanjutnya lagi.

"Tidak ada yang bisa melepaskannya kecuali –"

"–kita menikah."

"AAAaaaaaa!" teriakan shock Rukia mengalahkan bunyi dentingan jam yang menunujukkan angka 12.

Rukia berbalik memunggungi Ichigo dan membenamkan wajahnya dikedua lututnya, Reaksi yang lagi-lagi baru didapat Ichigo dari Rukia. Ichigo tahu Rukia terkadang bisa meledak-ledak tapi tidak dengan tambahan harus membelakanginya juga kan?

Ichigo memeluknya dari belakang, menyandarkan kepalanya pada pucuk kepala Rukia sambil sesekali memanggil namanya untuk meminta perhatiannya. Dan Rukia bergeming, dia tetap diam saat tidak bisa menemukan kata yang tepat sebagai tanggapan ataupun jawaban.

"Hey, aku kan sudah memintamu jangan marah padaku, Rukia,"

Ichigo lagi-lagi menghela nafas panjang sebelum memulai kata-katanya, diapun perlu mengendalikan dirinya agar tetap tenang dalam menghadapi Rukia yang seperti ini.

"Apa kau tidak ingin menikah denganku?" tubuh Rukia menegang mendengarkan perkataan Ichigo, secara tidak terduga dia melepaskan pelukannya dan berbalik menatap Ichigo kembali dengan tatapan yang benar-benar sulit diartikan oleh Ichigo.

"Aku tidak mau menikah denganmu! Menjadi pacarmu saja bisa membuatku dikutuk tujuh turunan apalagi menjadi istrimu," tatapnya horor pada Ichigo.

"Apa ini alasannya kau tidak bisa melepaskanku?" Ichigo mengangguk.

"Kau tidak benar-benar mencintaiku. Kau hanya mencintaiku hanya karena benda ini?" ucap Rukia sambil mengangkat tangannya di wajah Ichigo. Ichigo menggeleng cepat.

"Tidak. Itu tidak benar Rukia. Aku mencintaimu bukan karena cincin itu. Kau lupa? Aku bahkan memintamu untuk menjadi kekasihku sebelum aku memakaikan cincin itu. Aku akui aku tidak jatuh cinta padamu pada pandangan pertama, tapi kesan pertamamu saat kau menerimaku bukan sebagai seorang Ichigo Kurosaki aku sangat menyukainya."

"Aku manaruh harapanku bahkan sebelum aku teringat pada cincin itu. Aku memakaikan cincin itu hanya untuk mencobanya. Tadinya walaupun ternyata cincin itu akan menggelinding aku tetap akan memilihmu. Karena kau satu-satunya wanita yang membuat degup jantungku seperti ini." Ichigo berkata sambil menggenggam sebelah tangan Rukia dan meletakkannya diatas dadanya.

Bulir air mata Rukia kembali jatuh tanpa bisa dicegahnya bertepatan dengan dia mengucapkan, "Kau bohong!"

"Tidak," jawab Ichigo mantap.

"Kau bohong!"

"Kau tahu aku tidak berbohong Rukia." Ichigo berkata dengan kemantapan yang sama saat Rukia masih mencari jawaban dibalik tatapan Ichigo dengan air mata yang masih berurai.

"Kau tahu bagaimana aku yakin bahwa aku jatuh cinta padamu? Menjadi sangat yakin bahwa aku benar-benar mencintaimu?" Ichigo kembali merasakan sesak didadanya saat melihat Rukia yang kembali berurai air mata dan gadis itu menolaknya saat dia mengulurkan tangan untuk membantunya membersihkan air matanya yang berlinang –Rukia memundurkan wajahnya.

"Aku bahagia saat bersamamu. Hanya saat bersamamu. Perasaan yang sudah lama tidak pernah kurasakan bangkit kembali saat kau hadir seminggu yang lalu. Aku bahagia bahkan saat perusahaanku diambang kebangkrutan. Aku bahagia walau hanya bisa melihatmu. Aku sangat bahagia."

Air mata Rukia mengalir bertambah deras saat mendengar perkataan Ichigo. Dia tidak mengeluarkan suaranya menahannya dengan gigitan diujung bibirnya dan tatapan yang dia berikan pada Ichigo menyiratkan kesedihan yang semakin mendalam.

"Apa kau masih takut dengan cibiran orang tentang kita? Aku tidak perduli. Aku bahkan tidak perduli kau menerimaku hanya karena kekayaanku, kepopuleranku atau kasihan padaku. Aku tidak perduli. Cukup kau berada disamping ku, itu membuatku bahagia."

Rukia menangkupkan wajahnya dengan kedua tangannya, dia tidak sanggup memandang wajah Ichigo lagi. Pria ini terlalu baik untuknya, terlalu sempurna untuknya, Rukia merasa tidak pantas jika harus bersanding bersama Ichigo.

"Rukia... kumohon jangan seperti ini. Kau membuatku menjadi pria paling buruk sedunia karena membuat kekasihnya menangis." Ichigo menarik paksa Rukia kedalam pelukannya.

"Aku tidak mengerti apa yang membuatmu menangis kali ini, tapi berjanjilah ini akan menjadi tangisan terakhirmu untukku," ucapnya sambil membelai belakang kepala Rukia.

"Ichi," panggil Rukia sambil menahan tangisnya.

"Hm,"

"Ba –bagaimana jika aku ternyata tidak seperti yang kau perkirakan?"

"Aku tidak perduli."

"Bagaimana jika suatu hari nanti aku membuatmu kecewa?"

Ichigo membuat raut keningnya kembali terlihat jelas, "aku yakin kau tidak akan melakukannya."

"Dan bagaimana jika aku bukanlah seorang 'Rukia' apa kau tetap akan mengatakan hal-hal seperti ini? Akan tetap memperlakukanku seperti ini? Akan tetap menatapku seperti ini?"

Pertanyaan Rukia sedikit sulit untuknya, Bagaimana jika dia bukanlah seorang Rukia? Apakah itu artinya Rukia menjadi orang lain? Ataukah ada orang lain yang menjadi Rukia? Kenapa Rukia memberiaknnya pertanyaan bodoh seperti ini?

Ichigo menyentil dahi Rukia sebagai jawaban ditambah dengan perkataan, "sudah kubilang jangan terlalu banyak berpikir."

"Aku serius!" omel Rukia menahan isakannya.

"Apa itu penting?"

"Sangat penting."

"Berjanjilah untuk tidak memikirkan hal-hal tidak penting mulai saat ini."

"Ichigo!"

"Berjanjilah kau hanya akan memikirkanku saja mulai saat ini."

Rukia kembali memukul lengan Ichigo.

"Dan Berjanjilah untuk menerimaku seperti aku menerimamu mulai saat ini. Hilangkan keraguanmu padaku dan pada hubungan kita. Dan dampingi aku selamanya. Tetap disisiku dan jangan pernah meninggalkanku sekalipun itu hanya dipikiranmu."

Sekarang giliran Rukia yang mengerutkan keningnya, "Aku tidak sedang bernegosiasi!"

"Berjanjilah."

Rukia menggelengkan kepalanya dan Ichigo hanya bisa pasrah menghadapi kekasihnya ini.

"Bagiku, kau seorang 'Rukia' atau bukan itu tidaklah penting, selama itu adalah dirimu bagiku kaulah 'Rukia'nya, karena hanya ada satu 'Rukia' milikku," ucap Ichigo sambil mengeratkan genggamannya.

Dan Rukia benar-benar mengalirkan air mata terakhirnya saat mendengar pernyataan Ichigo, lalu langsung menghambur kedalam pelukan posesif kekasihnya tersebut. Apapun yang akan terjadi maka terjadilah. Rukia sudah memantapkan hatinya untuk berjalan disisi pria berambut jingganya. Karena sama seperti Ichigo, alasan Rukia memilih pemuda itu karena dia merasa bahagia saat bersamanya. Hanya saat bersamanya. Dan Rukia tidak ingin melepaskan perasaan yang selama ini dicarinya.

Untuk malam ini, biarkan bumi, langit serta lautan menjadi saksi awal kisah mereka. Interupsi, sebuah kotak-kecil-baja-bergerak lah yang menjadi awal kisah kasih mereka jika perlu diingat. Atau memang cincin ajaib yang sudah menuntun takdir mereka.

O0o


PocuRuNK:

Masih Seputar Ichiruki, cuma mwu menjelaskan kedekatan mereka ketika bersama dan reromantisan ala Ichiruki, chap-chap depan akan penuh dengan tokoh-tokoh dan kegiatan yang lain, and alurnya mungkin udah agak sedkit cepat buat chap-chap yang akan datang. yang minta Byakuya, ditunggu aja kemunculannya nanti ya... xixixixi sudah adakah yang bisa menebak kemana arah skenario ini akan bermuara? Terima kasih buat dukungannya selama ini and buat yang masih setia menunggu kelanjutannya, mohon maaf sekali lagi nenk ga bisa update dalam waktu dekat dikarenakan nenk bener-bener gak punya media utk mengerjakan ini, setelah lembek yang dinyatakan mati total sekarang giliran my henpun yang kebanting T_T bru aja kemrin dinyatakan mati total juga, jadi mohon maaf ya minna-san. Seperti biasa nenk harus menunggu lepi pinjaman dari my sohib. dan tak lupa nenk sampaikan Terima Kasih yang sebesar-besarnya untuk semua readers dan juga reviewers, jangan bosan-bosan ya mampir kesini... Arigatou Gozaimas...

Luph u all...

Nenk RukiaKate

-290314-