[Baca sampai titik terakhir ya gengs muehehe]
"Apa yang harus kau lakukan saat hendak bepergian"
.
.
.
Beri kabar pada teman terdekatmu lebih dahulu;
"Besok aku tidak akan pergi ke Universitas, hyung"
"Kenapa tidak pergi?"
"Ada acara, aku akan pergi ke pemandian air panas dan camping" Baekhyun terkekeh "Camping di musim dingin"
"Bukankah itu sedikit berbahaya?"
"Sebenarnya tidak juga, itu pasti akan seru"
"Kenapa tidak mengajakku?" suaranya terdengar merajuk
Baekhyun, entah kenapa tersenyum "Kau 'kan sibuk sekali akhir-akhir ini, aku tidak mungkin membuatmu mengabaikan tugas"
Luhan tidak membalas perkataannya, cukup lama, sampai ia berpikir teleponnya terputus
"Hyung?"
"Ah?!" Luhan berseru "Maaf, aku tertidur"
Baekhyun terkekeh "Yasudah, hyung istirahat saja, aku akan menghubungimu lagi besok"
Saat telepon terputus, barulah ia sadar kalau sekarang baru jam tiga pagi, pantas saja suara Luhan terdengar lelah sekali
Persiapkan diri;
Joonmyeon adalah yang terbaik jika sudah menyangkut hal ini
Olahraga menjadi lebih sering beberapa hari sebelum keberangkatan, membeli beberapa kantung darah yang sudah disuntik vitamin, juga beberapa bungkus bubuk ekstrak sayuran yang akan ia campur ke sana
Kesehatan nomor satu, katanya
Barang dikemas dengan sangat rapih dan teratur, sesuai dengan apa yang ia butuhkan, beberapa barang tambahan seperti buku catatan dan bolpoin tidak terlewat
Joonmyeon sudah sangat siap
Ponselnya bergetar beberapa kali tanda pesan masuk, ia lihat nama Sehun ada disana sebagai pengirim pesan
"Hyung, aku membuka sewa untuk teman yang bisa kau ajak pergi nanti, masalah biaya bisa kita bicarakan saat bertemu"
Wajahnya merah padam, dikepala sudah tertulis serentet sumpah serapah untuk Sehun yang sedang tertawa disebrang sana
"Aku tidak mengajak siapapun bukan berarti aku butuh sesuatu seperti itu, kau sialan!"
Hilang sudah wajah Kim Joonmyeon yang dikenal sebagai murid paling sopan seantero Seoul
Pastikan hanya membawa barang yang penting;
"Soo young, kau sudah masukan sepatu bootnya?"
Soo young mengangguk, mata berkeliling mencari sesuatu yang ia rasa belum terbawa
"Bagaimana dengan peralatan make up?"
"Aku sudah masukan itu ke tas yang lebih kecil"
"Makanan ringan untuk jaga-jaga, bagaimana?"
Soo young mengangguk, melihat bagaimana Tiffany dan Wendy yang sangat sibuk dengan koper mereka dari layar laptopnya
Iya, Soo young tengah melakukan video call dengan mereka, padahal rumah mereka bersebelahan dengan rumahnya sebagai penengah
"Aku hampir lupa dengan baju hangat dan handuk" Tiffany kembali ke lemari pakaiannya
Soo young ikut melakukan itu "Aku juga lupa dengan handuk, aku akan bawa dua"
"Apa kita perlu sesuatu seperti pakaian renang?" Wendy mendekatkan beberapa koleksi pakaian renang musim panasnya ke kamera "Semuanya bagus, aku bingung jika harus memilih"
Tiffany terkekeh "Haruskah?
Wendy menggidikan bahunya, memasukan salah satu dari mereka untuk jaga-jaga
"Huh?" Soo young menatap kopernya yang sudah sangat penuh "Apa ini bisa ditutup?"
"Tekan saja" Wendy memberi saran
Soo young mencoba untuk menutup kopernya lalu menekan itu sampai menimbulkan suara berisik, tapi tidak berhasil, tidak bisa tertutup seperti semestinya
"Baiklah, aku akan sedikit mengurangi barang bawaanku"
"Kau sudah mengatakannya tiga kali dan tetap berakhir dengan seperti itu"
"Aku sedang mencoba teman-teman" Soo young cemberut, kembali memilah barang bawaannya "Aku hampir menyerah, sungguh"
Setumpuk pakaian, celana jeans, piyama, baju hangat, jaket, hoodie, mantel, jas hujan, makanan ringan, beberapa pasang kaus kaki, tiga pasang sepatu, satu pasang sandal dan dua handuk adalah sedikit dari barang-barang yang sudah ia masukan ke dalam koper
Jika terlalu sulit, minta bantuan;
Kris memberikan senyum terbaiknya "Kita akan mengemas barang bersama"
Kyungsoo menggeleng tidak setuju "Kita yang kau maksud itu pasti hanya aku"
"Aku bukan orang yang seperti itu"
"Kau orang yang lebih buruk dari itu"
Kris cemberut "Ayolah Kyung, hanya kau yang bisa aku andalkan untuk ini, aku tidak punya siapa-siapa selain dirimu"
Kyungsoo menatapnya sebentar sebelum berjalan menjauh dengan langkah tenang, saat ia hampir membuka pintu kamarnya, Kris berseru
"Kemana kau akan pergi?"
Kyungsoo menunjuk halaman belakang rumah dengan matanya, disana kedua orang tua mereka tengah bersenda gurau "Memberitahu Paman kalau kau tidak pernah menganggapnya ada"
Kris tercekat, menggunakan kekuatannya untuk menutup pintu dan menarik Kyungsoo kembali ke tempat semula "Bukan itu maksudku"
"Lalu?"
"Hanya kau yang bisa aku pintai bantuan"
"Kenapa yang lain tidak?"
Kris sudah membuka mulutnya tapi ia kembali menutup itu saat tidak menemukan kalimat yang pas untuk membalas pertanyaan Kyungsoo
"Kehabisan kata-kata, huh?" Kyungsoo tersenyum miring "Sekarang kau siapkan barang-barangmu dan aku siapkan barang-barangku"
"Percuma aku kemari"
Peran orang yang lebih dewasa sangat penting;
Minseok memasukan mantel ke dalam koper milik Sehun, sedang si pemilik tengah memilih beberapa pakaian dilemari
"Sepupu Minseok, menurutmu apa yang harus aku bawa selain ini?" Sehun bertanya setelah memberikan beberapa pakaian padanya
Minseok menatap isi kopernya yang sudah lumayan terisi penuh "Hot pack?"
"Ah, iya" Sehun berseru, mengambil beberapa hot pack miliknya didalam kotak obat
"Dan bisakah kau berhenti memanggilku dengan sebutan Sepupu Minseok? Panggil aku hyung!"
Sehun terkekeh canggung "Baik, hyung"
"Apa kau sudah membawa peralatan mandi? Jangan lupakan selimut dan baju tidur yang tebal"
"Sudah"
"Kaus kaki?"
"Sudah"
"Bahan masakan?"
"Sudah"
Minseok kembali mengoreksi, takut ada barang penting yang tertinggal
Saat semua sudah selesai, ia menutup kopernya dan menaruh itu didekat pintu kamar agar Sehun tidak melupakannya
"Sekarang pergi tidur agar besok kau merasa segar dan siap pergi"
"Baik, hyung" Sehun melempar tubuhnya ke atas ranjang "Selamat malam"
Semua menjadi mudah jika kau punya teman yang bisa di andalkan;
Jongin memeriksa isi lemari Chanyeol, ia bingung, entah harus berkata apa saat melihat hanya ada beberapa t-shirt, hoodie, satu mantel dan beberapa kaus kaki
"Kapan terakhir kali kau membeli pakaian?"
Chanyeol menggidikan bahu, mata masih terpaku pada video game di komputernya "Sekitar awal tahun"
Jongdae berdecih, meraih ponsel disakunya dan menghubungi satu nomor yang sekiranya bisa membantu
"Selamat pagi Paman"
"Iya tuan?"
"Bisa kau pergi ke tempat perbelanjaan dan belikan aku beberapa baju hangat dan celana?" Jongin menatap datar Chanyeol yang terkekeh disana
"Baik, tuan"
"Terimakasih Paman, aku akan mengambilnya nanti sore"
Telepon terputus dengan helaan napas Jongin sebagai teman
Ia kembali pada lemari pakaian yang bisa saja ia jadikan tempat tidur peliharaannya karena itu terlalu kosong, lalu mengambil koper diruang paling atas dengan susah payah, debu yang berjatuhan membuatnya hampir hilang keseimbangan
"Ingin bawa berapa pakaian?" Jongin bertanya malas
Chanyeol menatapnya "Terserah kau saja, yang penting jangan lupakan kaus kaki kesayanganku"
Kaus kaki yang Chanyeol maksud adalah kaus kaki berwarna ungu dengan gambar kelinci berwarna putih disekelilingnya
"Sudah" Jongin menempatkan itu ditempat yang mudah diraih "Kau pasti butuh beberapa celana" ia memasukan semua celana yang ada disana (karena hanya ada empat jeans dan satu celana training warna hitam bergaris putih disisi kiri dan kanannya)
"Oh!" Chanyeol berseru "Jangan lupakan kaca mataku"
"Serius?" Jongin merotasi matanya "Kau tidak butuh kaca mata!"
"Aku membutuhkan itu, Jongin, aku butuh itu"
Meski enggan, akhirnya Jongin memasukan kaca matanya ditempat yang sama dengan kaus kaki kesukaannya "Lalu apa setelah itu?"
"Terserah kau saja"
"Bagaimana dengan beberapa camilan?"
"Tidak perlu"
"Bagaimana dengan sarung tangan dan topi rajut?"
"Kurasa tidak"
"Bagaimana dengan sepatu ganti?"
"Tidak, aku lebih suka tidak mengenakan alas kaki"
Jongin menghela napas, merasa apa yang ia lakukan sangat tidak ada artinya "Selain kaca mata dan kaus kaki, apa yang ingin kau bawa lagi?"
Chanyeol menggidikan bahunya "Terserah, aku 'kan sudah mengatakannya"
Jongin menggeram rendah, menaruh beberapa camilan didalam koper dengan gegabah, amarah memenuhi kepalanya
"Aku tidak butuh makanan-makanan itu, Nini Kim"
"Yah!" akhirnya Jongin menyerah, melempar makanan ringan itu ke arah Chanyeol yang lebih peduli pada video game nya "Siapkan saja semua itu sendiri!"
Chanyeol berseru, kali ini karena ia memenangkan permainannya "Aku berhasi! Aku adalah masternya!"
Ia berhenti saat sadar kalau tidak ada siapapun dikamarnya "Jongin?"
"Yah! Kim Jongin!"
.
.
.
[Tbc]
Chapter krispi kriuk kriuk
Disini juga aku mau bahas sesuatu, tentang kalian yang masih bertanya-tanya kalau ini Ff ChanBaek atau LuBaek?
1. Ini Ff ChanBaek, udah pasti, ga usah ditanyain lagi, bisa kalian liat di covernya, cuma ada wajah Baek sama Chan disana /melotot
2. Kenapa LuBaek? Karena konsep ff ini tuh emang kaya gitu, ngaco, dari chapter pertama juga jalan ceritanya udah abstrak /kaya yg nulis . Terus juga aku rada bosenlah sama orang ketiga dihubungan ChanBaek yang itu itu aja, kalo ga Kyungsoo pasti Sehun atau Kris. Jangan kaget, yang nulis emang suka coba-coba
3. "Moment ChanBaek nya dibanyakin dong ka/thor" okay, yang ini pasti aku turutin, tapi nanti ya dear, ada waktunya
4. "Fast update" aku ga bisa fast upadate ㅠㅠlagi banyak kerjaan, aku bakal usahain seminggu sekali update nya
5. "Bakal ada couple lain?" Mungkin ada, mungkin juga engga, tergantung situasi, tapi kemungkinan bakal ada heuheu
6. Akan ada konflik yang lumayan serius, "kapan?" Rahasiaaaaa
Udah cuma mau ngasih tau itu aja, intinya aku sayang kalean gengs, terimakasih banyak buat semua dukungannya, tersampaikan dan diterima dengan baik, akhir kata, salam ChanBaek is real!
