Judul : Nyanyian Rumah Sunyi
Chapter : 6
Author : KyuuGa C'Orangan sawah
Pairing : Naruhina, Narusaku.
Semua chara dalam Naruto adalah milik om Masashi ^_^, aku hanya pinjem!
Malam semakin larut, suara kendaraan yang berlalu lalang terlihat sepi. Di beberapa blok terdengar derap langkah yang cepat mengelilingi sepanjang jalan, derap langkah itu terdengar silih berganti mengintari beberapa blok.
"Shino, apa kau sudah menemukannya?" tanya Shikamaru melalui handphonennya.
"Aku tidak menemukannya di gedung sekolah," balas suara dari seberang.
"Baiklah, lalu bagaimana denganmu Kiba?" lanjut Shikamaru pada handponenya yang terhubung ke semua temannya.
"Dia tidak ada di taman," jawab Kiba dari seberang.
"Dia juga tidak ada di mall," sahut Sai dari seberang.
"Gaara, apa dia ada—."
"Dia ada di rumahnya, cepatlah kalian kemari," sambung Gaara memotong kata-kata Shikamaru.
"Baiklah, semuanya kita berkumpul di rumah Naruto!" perintah Shikamaru sebelum menutup ponselnya.
….
Brak! Naruto menghempasakan pintunya dengan keras hingga beberapa buku di dekat pintunya terjatuh akibat getaran yang dibuatnya. Dia melangkah pelan menuju ranjanganya dan menjatuhkan tubuhnya yang letih di atas kasurnya.
Gadis indigo perlahan masuk menembus daun pintu dan menghampiri Naruto dan duduk di samping Naruto.
"Hiks, hiks, kenapa? Kenapa aku menangis?" tanya Naruto pada dirinya sendiri begitu dia merasakan matanya basah dan mengeluarkan cairan bening. "Aku ini laki-laki. Laki-laki tidak boleh menagis!" lagi Naruto berkata pada dirinya sendiri, mencoba menahan deraian air matanya yang terus mengalir membasahi pipinya.
"Aku, aku tidak ingin menangis~~~!" eh, lalu mengapa tangismu semakin kencang. "Bagaimana aku tidak menangis jika di sini, di hatiku terasa sakit!" lanjutnya seraya memeluk lututnya, mencoba menredakan tangisnya.
"Hwaaaaaa~~~!" tangis kembali Naruto memecah.
Sementara itu luar rumah Naruto, tepatnya di bawah kamar Naruto.
"Apa kau yakin ini tidak apa-apa?" tanya Sai pada Shikamaru yang sudah menguap.
"Iya, ini tidak apa-apa. Jika dia tidak menangis baru kita harus siaga 1," jelas Shikamaru tenang sambil mengorek-ngorek telinganya yang kena radiasi gelombang suara Naruto.
"Yah, biar bagaimana pun Naruto juga manusia. Wajar dia menangis jika tersakiti," tambah Sai tersenyum lega.
"Untung saja, kau menceritakan yang sebenarnya pada kita. Kalau tidak sudah ku tonjok habis mukamu!" umpat Kiba kesal seraya melirik Sasuke yang saat ini tengah berdiri di sampingnya seraya menatap jendela kamar Naruto.
"Hwaaaaaa~~~!" mereka kembali menoreh ke arah jendela kamar Naruto begitu suara teriakan tangis Naruto semakin melengking.
"Apa benar ini suara tangis Naruto?" tanya Sai ragu dengan pendengarannya.
"Kok, terasa aneh?" lanjut Kiba menelan paksa ludahnya.
"Entah, mengapa aku merasa Naruto terlalu berlebihan mangangis. Dia terkesan seperti seorang perempuan!" semua mata langsung melirik Shino.
"Kau benar, shino," sahut Gaara pundung, Naruto yang nangis gaje, Gaara yang pundung.
…
"Hiks, hiks, ~~!" tangis Naruto mulai reda, hanya sesekali dia sesegukan menahan tangisnya dan melap cairan bening berlendir dari hidungnya.
Suasana kamar Naruto kembali tenang, suara tangisnya mulai mereda. Gadis indigo itu menarik napas lega karena telinganya akhirnya bisa tenang juga dari suara tangis Naruto yang berlebihan. Gadis itu mendekati Naruto yang masih menekukukan tubuhnya di atas tempat tidurnya, tangannya masih memeluk lututnya.
Kamar yang pengap dan sempit itu kembali sepi, tak ada suara dari pemilik kamar itu. perlahan napas Naruto terdengar teratur dan deru napasnya terdengar lembut tidak menggambarkan situasi depresinya seperti sebelumnya, Naruto terlihat damai saat seperti ini. Atau mungkin lebih baik dia tidur selamanya agar dia tetap tenang seperti ini, benarkan? Jika nanti dia bangun dan mulai menyadari kenyataan yang harus dia hadapi, dia akan kembali frustasi dan kembali mengurung diri seperti ini.
Iya kan, Naruto? Memang lebih baik tidur selama-lamanya dari pada menghadapi kenyataan yang pahit ini?
Tidak! Kau tidak boleh seperti itu, bagaimana dengannya? Bagaimana dengan gadis indigo yang selalu bertahan karenamu?
Gadis indigo itu mematung melihat Naruto dalam diam, tanpa melakukan apa-apa. Cukup lama dia dalam posisi itu hingga dia kembali mendengar suara parau Naruto.
"Sakura~~!" gadis indigo itu terperanjat kaget saat mendengar Naruto mengigau nama Sakura, wajah pucatnya terlihat kecewa. Bahkan setelah disakiti seperti ini dia masih menyebut nama Sakura dalam tidurnya.
"Hiks, hiks, Sakura. Aku mohon jangan tinggalkan aku, aku tidak ingin jauh darimu!" igau Naruto, tangannya menggapai-gapai di udara mencoba menahan sakura dalam mimpinya.
Gadis indigo itu semakin terlihat sedih, tak terasa cairan bening jatuh membasahi pipi transparannya. Dia merasa tersakiti dengan apa yang dilakukan Naruto, gadis indigo perlahan merosot ke lantai. Membiarkan tubuhnya membentur lantai dengan kasar, toh dia juga tidak merasakan kesakitan.
Tak terasa cairan bening dari kolam beningnya semakin deras seiring telingnya mendengar Naruto memanggil-manggil nama Sakura dalam tidurnya.
Dalam sepi dan heningnya malam, suara tangis terdengar mengalun pelan menghantarkan Naruto kembali dalam tidurnya.
"Naruto-kun!"
"SAKURA!"
Naruto tersentak dari tidurnya saat dia mendengar namanya dipanggil, gadis indigo yang tengah larut dalam kesedihannya ikut terkejut mendengar Naruto menanggil nama Sakura dengan kencang.
Naruto terpaku melihat sekelilingnya yang sepi, dia kembali membaringkan badannya begitu menyadari dia tengah bermimpi. Entah mengapa, mungkin rasa sakit itu masih terasa di dadanya hingga membuat dia kembali meringis kesakitan seraya meremas dadanya.
"Sakura!" rintih Naruto seraya menekukkan lututnya dan memeluknya. Perlahan namun pasti telinga gadis itu kembali mendengar suara Naruto menahan tangisnya.
Melihat Naruto yang tersiksa karena perasaannya membuat gadis indigo itu semakin sedih, dia tidak tega melihat Naruto seperti itu, dia tidak suka mendengar Naruto menangis karena Sakura, itu membuat lubang di hatinya semakin terbuka.
Tubuh kurus Naruto begoncang menahan tangisnya, sesekali terdengar sesegukan dan tarikan paksa dari hidungnya yang tersumbat. Gadis indigo pun bergerak pelan mendekati tempat tidur Naruto dan memberingkan tubuhnya menghadap punggung Naruto, tangan trasnparan miliknya bergerak pelan memeluk tubuh Naruto yang berguncang, dengan begini dia beharap Naruto menyadari keberadaannya, menyadari jika dia bersedih melihat Naruto seperti ini.
Perlahan namun pasti, setelah pelukan tak terasa itu menyentuhnya Naruto merasakan sesuatu yang lain. di sendiri tidak tahu apa itu, tapi yang pasti itu membuat dia sedikit lebih tenang.
…
Masih di kompleks perumahan Konoha, hanya beberapa blok dari rumah Naruto. Seorang pemuda dengan tuxedonya berjalan menghampiri seorang pemuda yang juga menggunakan tuxedo tak jauh di depannya.
Pemuda bertuxedo dan bersurai panjang coklat tersenyum sinis saat dia melihat pemuda yang sangat dia kenal datang menghampirinya.
"Jika tujuanmu untuk menanyakan hal yang sama setiap harinya, sebaiknya kau lanjutkan jalanmu!" ucap pemuda itu begitu pemuda yang menghampirinya berhenti didepannya.
"Aku tidak akan berhenti dengan pertanyaan yang sama sampai kau mengatakan dimana Hinata berada!"
"Apa urusan mu menanyakan sepupuku, Sasuke? Apa kau tidak menyadari status mu sekarang?!" pemuda bersurai coklat aka Neji memberikan pertanyaan yang menyebabkan pemuda yang menghampirinya aka Sasuke tersenyum kecut.
"Pertanyaan mu itu tidak mampu menghentikan aku untuk berhenti mendapatkan sepupumu," balas Sasuke.
"Sayangnya, kau bukan tipenya. Bermimpilah selagi kau mampu," sahut Neji seraya berjalan masuk ke dalam pagar rumah yang biasa dia datangi tanpa peduli pada Sasuke yang menggeram kesal karena kembali dia abaikan untuk kesekian kali oleh pemuda sombong itu.
Sasuke masih berdiri di tempatnya, matanya sempat menoreh ke jendela lantai dua yang selalu terbuka itu. Dia menatap jauh ke dalam jendela itu seolah dia tengah menjelajahi seluruh ruangan itu dengan matanya, namun dia kembali menghembuskan napas beratnya saat dia merasa percuma pelototi jendela itu.
Sambil berdecis kesal dia melangkah pergi meninggalkan rumah itu.
Sementara itu Neji yang memperhatikan Sasuke dari balik jendela menghela napas lega, dia kemudian membuang tubuhnya di sofa tak jauh darinya.
"Maafkan aku, Sasuke. Aku tidak bisa memberitahu mu tentang Hinata, aku tahu kau sangat mengkhawatirkannya."
Neji memejamkan matanya, dan bergumam pelan. Ingatannya kembali pada setahun yang lalu, dimana Hinata baru pertama kali pindah ke Suna.
Entah, apa yang terjadi pada mereka hingga sasuke yang terkenal dingin pada para cewek malah tetarik pada Hinata, satu-satunya siswi yang tidak bergabung dalam fansgirl siapa pun meski itu fg Sasuke.
Melihat Sasuke yang secara diam-diam, tanpa sepengatahuan siapapun berusaha mendekati Hinata, neji yang mengetahui hal itu selalu berusaha menjauhkan Sasuke dari Hinata. Dia tidak ingin Hinata kenapa-napa, jika fansgirls Sasuke mengetahui ini, itu bisa membuat Hinata dalam bahaya. Mereka bisa saja mencelakai Hinata yang dianggap telah merebut Sasuke dari mereka.
Hingga inseden itu terjadi, sungguh semua di luar dugaan neji. Neji sama sekali tidak menyangka apa yang dia khawatirkan selama ini justru datang dari orang yang sama sekali tidak dia prediksikan.
Siswa yang sungguh berbanding terbalik dengan Sasuke, dari sudut pandang Neji tak ada yang bisa di banggakan dari sosok siswa itu. Tapi lagi, entah. Apa yang HInata lihat dari anak itu hingga dia mengabaikan Sasuke.
Neji kembali meramas tangan sofa melampiaskan amarahnya begitu teringat pada anak sialan itu!
"Aku menyesal, seharusnya aku membiarkan Hinata bersama Sasuke. Dan insiden itu tidak akan pernah terjadi, namun semuanya sudah terlambat. Sasuke sudah jadian dengan Sakura. Dan tidak mungkin aku memberitahukan Naruto tentang Hinata yang dia sama sekali tidak mengenalinya atau bahkan menganggapnya ada."
Suara detik jam berdeting menandakan pukul 10 malam, Neji mulai beranjak dari sofa ruang tamu dan melangkah menuju tangga yang akan membawanya ke lantai dua.
Langkah Neji berhenti di depan salah satu pintu di lantai dua, tangannya berhenti saat akan menarik kenop pintu. Dia terdiam sesaat, memikirkan sesuatu dan kemudian melangkah menuju pintu yang lain.
"Sasuke, Naruto! Kalian berdua benar-benar brengsek!" runtuk Neji seraya membanting pintu kamarnya dengan keras.
…
Naruto mengerjapkan matanya perlahan-lahan mencoba beradaptasi dengan sinar matahari yang menyeruak masuk ke dalam kamarnya, hembusan napas berat terdengar begitu dia menyadari hari telah pagi.
Naruto kembali memejamkan matanya, dia masih merasa letih setelah menangis semalaman. Suara teriakan kakeknya dari dapur terdengar menggema membanggunkannya dan menyuruhnya ke sekolah, tapi sepertinya Naruto tak peduli. Dia malah tetap memejamkan matanya tanpa bergerak bangun atau hanya sekedar membalas suara kakeknya.
Naruto masih memejamkan matanya, mencoba kembali ingatannya tentang pesta semalam. Aduh, ternyata masih sakit. Iris biru safirnya kini terlihat, namun iris biru safirnya terliha kaget. Dia kembali memejamkan matanya, kemudian membuka matanya dengan cepat.
Perlahan matanya bergerak ke arah perutnya, dan tangannya pun ikut bergerak menyentuh perutnya.
Berat dan dingin.
Itulah yang Naruto rasakan saat dia menyentuh perutnya, seolah ada 'sesuatu' yang tengah memeluknya. Keringat dingin jatuh membasahi pelipisnya menggambarkan perasaannya saat ini, takut. Bagaimana tidak jika hanya perut dan punggungnya saja yang terasa dingin.
"A, apa ini?" batin Naruto ketakutan, serasa ada batu sebesar kepalan tangannya yang menjanggal di tenggorakannya membuat dia sulit bernapas.
Seketika biru safir Naruto kembali membulat saat dia merasakan sentuhan lembut merayapi perutnya, napas Naruto makin tercekat. Apa lagi sentuhan itu terasa begitu nyata dan terus bergerak naik ke dadanya.
"Naruto, apa kau baik-baik saja?"
Naruto terbelak kaget dan langsung melompat bangun dari tidurnya begitu dia mendengar suara kakeknya, sontak pria bersurai putih panjang itu bebalas kaget karena tangannya di tepis dengan tiba-tiba oleh Naruto.
"Ada apa Naruto?" tanya kekeknya kebingungan karena Naruto melihatnya dengan tatapan syok.
"Ojii-san, kau membuat ku hampir mati!" teriak Naruto ketakutan.
"Hei, Hei, mana aku ingin membunuh cucu tersayang ku ini," kakek itu mengacak surai pirang Naruto dengan gemas. "Apa kau sakit? Wajahmu terlihat letih dan matamu kenapa bengkak?"
Naruto membuang wajahnya dengan kesal dari kakeknya. "Aku sedang sakit, mataku ini bengkak karena sakit yang ku rasakan."
Pria tua itu tersenyum lucu melihat ekspresi cucunya yang tak biasa, jika sakit atau demam dia tidak akan bertingkah seperti ini. sepertinya dia paham rasa sakit apa yang Naruto maksud, kakek itu kemudian beranjak dari tempatnya menuju pintu.
"Istirahatlah, nanti ku kabarkan sekolahmu kalau kamu lagi sakit."
Naruto tak menanggapi kata-kata kakeknya, dia masih berdiam diri dengan pikirannya dan perasaannya.
…..
Suna High School, meski tanpa kehadiran Naruto tetap bising, paling tidak agak sedikit berkurang dari biasanya. Sementara itu, Sasuke dan yang lainnya duduk termenung saling berhadapan. Tak ada diantara mereka yang memulai pecakapan atau hanya sekedar melirik, mereka terlihat sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Aku titip Naruto pada kalian," akhirnya Sasuke angkat bicara dan sama sekali tak ditanggapi oleh kelima temannya.
"Aku akan ikut ke Konoha bersama Sakura," lanjutnya tanpa peduli pada tatapan yang diarahkan padanya.
"Sejauh inikah hubunganmu dengan Sakura? Aku tak menyangka ternyata kau selemah ini terhadap perempuan, apa karena kelemahan mu ini membuat mu bersikap cuek terhadap fansgilrsmu?" sindir Shino membuat sasuke menghela napas berat.
"Kau akan kembali ke Konoha juga? Apa kau sudah memberitahu Naruto tentang rencana mu ini?" tanya Shikamaru.
"Hn, dia sama sekali tidak mengakat telponku. Sepertinya dia benar-benar marah padaku,"
"Kau sudah merebut pacarnya, dan menusuknya dari belakang! Siapa yang tidak marah, heh?!" runtuk Kiba makin kesal.
"Aku tidak bisa mengabaikan perasaan Sakura padaku, dan aku terpaksa melakukan ini demi Naruto. Hanya ini cara satu-satunya agar di bisa melepaskan Sakura."
Semua terdiam, mereka kembali larut dalam pikiran masing-masing.
"Apa kau yakin dengan rencanamu ini? apa kau tidak takut Naruto membencimu?" tanya sai setelah cukup lama dia terdiam.
"Bagaimana jika Naruto tahu alasan kau melakukan ini, dia pasti akan semakin terluka," tambah Kiba membuat sasuke kembali berdehem pelan.
…..
Di kamar sempit dan lembab milik Naruto, entah sudah berapa lama dia bediam diri disana. Yang pasti dari tampangnya yang kacau dan sesekali dia melirik dengan malas pada ponselnya yang terus bergetar tanda adanya panggilan masuk, sejak pagi tadi ponselnya selalu berdering tanda ada panggilan yang masuk.
Dengan malas Naruto mengangkat ponselnya dan menerima panggilan masuk.
"Naruto, kamu dimana? Apa kau baik-baik saja? Kenapa kau tidak kesekolah? Kami semua mencemaskan mu!"
Naruto tersenyum kecut mendengar serangan pertanyaan dengan nada panic dari si penelpon, senyum kecut itu seketika berubah menjadi senyuman sedih begitu dia sadar kalau dia telah membuat sahabat-sahabatnya khawatir.
"Kau masih saja berisik, Kiba! Hari ini aku tidak ke sekolah, aku baik-baik saja. Maaf, aku membuat kalian cemas."
"Naruto, kau tahu. hari ini Sakura akan segera ke Konoha, apa kau tidak ingin mengantarnya? Kami semua akan pergi, bagaimana kau mau ikut?"
Entah Kiba menyadarinya atau tidak, yang pastinya aura suram seketika memenuhi kamar Naruto.
"Hei, Naruto! Kau dengar tidak?!" tanya Kiba dari seberang setelah cukup lama dia tidak mendengar respopn Naruto.
"Baiklah, mereka akan berangkat sore ini pukul 6. Kalau pergi ada kami juga disana," lanjut KIba sebelum memutuskan hubungan ponsel mereka.
Hening, kamar Naruto kembali sepi. Naruto masih terdiam dengan posisinya semula, diam tanpa melakukan apa-apa, bahkan ponsel masih tergenggam erat di tangannya. Sementara gadis indigo hanya termenung melihat Naruto yang kian terpuruk, rasa-rasanya dia ingin menampar Naruto untuk menyadarkannya. Jika dia tidak suka Naruto yang seperti ini, yang dia suka adalah Naruto yang selalu ceria, Naruto yang selalu tersenyum riang, Naruto yang tak pernah bersedih berlarut-larut.
Tapi apa daya, untuk menyentuhnya saja dia tidak bisa.
"Naruto-kun."
….
Suara bel berdering tanda istirahat terdengar, Sasuke bergegas keluar dari kelasnya menuju kelas XII.
"Aku rasa apa yang dilakukan Sasuke terlalu berlebihan, aku sangat kasihan pada Naruto. Saat ini dia pasti sangat sedih, dan kita tidak bersama dengannya," kata Sai saat dia melihat Sasuke berjalan keluar dari kelas.
"Aku juga merasakan hal yang sama denganmu, tapi memang ini adalah solusi yang terbaik," tambah Shino.
"Apa sih yang ada pada diri Sakura sampai Naruto segitu mencintainya, meski selalu saja diabaikan, disakiti, bahkan jelas-jelas dia mengetahui Sakura menyukai Sasuke. tapi semua itu tidak mampu membuat Naruto mebenci Sakura atau bahkan sekedar marah," ucap Kiba dengan kesalnya.
"Itu namanya cinta buta," sambung Shikamaru.
"Kita tahu Naruto seperti apa, kejadian ini tidak akan berlarut lama. Dia bukanlah tipe seperti itu, selama kita masih bersamanya tak akan ku biarkan dia terus seperti ini. akan ku buat dia benar-benar melupakan Sakura!"
Semua yang ada seketika memandang Gaara dengan tatapan lucu. "Tumben, hari ini kau terlihat bersemangat!"
Sementara itu di depan kelas XII, Sasuke berjalan masuk menuju satu-satunya meja yang terisi.
"Ada apa lagi Sasuke, aku tidak akan memberitahumu dimana Hinata berada."
Sasuke mendengus pelan begitu pemuda bersurai coklat panjang itu menyapanya seperti biasa.
"Aku menemui mu bukan untuk menyakan keberadaan Hinata."
"Jadi, kau sudah menyerah?" iris amethyst Neji terlihat sedikit agak kaget.
"Tidak, aku tidak akan pernah menyerah."
"Cih, kau ini! Lalu, apa yang kau inginkan?!" tanya Neji seraya kembali pada buku di tangannya.
"Hari ini aku dan Sakura akan segera kembali ke Konoha, dan mungkin aku tidak akan kembali ke Suna lagi."
"Lalu?" tanya Neji masih tetap bergelut dengan bukunya.
"Tolong sampaikan salam ku pada Hinata, katakan padanya aku minta maaf jika selama ini aku membuatnya tak nyaman."
"Baguslah jika kau sadar dengan apa yang kau lakukan," sahut Neji.
Hening, Sasuke masih diam. Neji memang melihat bukunya tapi dia tak bisa focus karena keheningan yang Sasuke buat seolah menciptakan kesan suram.
Tap, tap, Neji mengakat wajahnya saat mendengar suara derap langkah menjauh darinya.
"Hanya itu?" tanya Neji menahan langkah kaki Sasuke yang mulai menjauh, mungkin dia berharap ada pesan yang lebih special untuk Hinata.
Sasuke berhenti sejenak, dia menghela napas berat dan kemudian menoreh pada Neji.
"Tolong katakan padanya, perasaanku masih sama. Masih sama saat pertama kali bertemu dengannya, saat terakhir bertemu dengannya dan saat bertemu nanti perasaanku akan tetap sama padanya," lanjut Sasuke seraya melanjutkan langkahnya menuju pintu.
Hening, Neji terpaku mendengar pesan Sasuke. Dia kemudian meramas buku yang dibacanya.
….
Waktu menunjukan pukul 5 sore, matahari telah redup menyisahkan sedikit bayangan yang panjang di tanah Suna. Angin yang berhembus pun terasa dingin, awan berarak memenuhi langit Suna terlihat menggumpal. Sepertinya sebentar lagi Suna akan diguyur hujan.
Cukup lama Naruto berdiri di depan pagar rumahnya, sepertinya dia tengah bertarung melawan perasaan dan pikirannya. Perasaannya yang besar pada Sakura bersikeras untuk mengantar Sakura, sekalian melepas rindu.
Sementara pikirannya bersikeras menentang perasaannya, pikirannya kembali menapilkan bayangan bagaimana Sakura mengabaikannya tanpa peduli pada perasaannya yang sakit, menampilkan bagaimana Sakura lebih memilih Sasuke dari pada dirinya.
"Memang Sakura telah menyakiti perasaannku, tapi aku tidak bisa membencinya secepat itu. aku masih mencintainya, dia masih gadis yang istimewa bagiku," kata Naruto menengahi pertengkaran antara perasaan dan pikirannya.
Sudah bulat tekad Naruto untuk mengantar Sakura, meski berat, meski sakit dia tetap akan pergi menghantar Sakura. Dengan langkah yang pasti tanpa keraguan sedikit pun Naruto menyusuri jalanan kompleks Konoha yang sepi, melewati tiap-tiap blok perumahan yang mewah itu dengan hati yang lapang selapang jalan yang tapaki.
Namun langkah Naruto seketika terhenti saat dia melihat rumah yang selama ini menjadi perhatiannya dari jauh. Ada yang lain dari rumah itu, dia yakin itu. Ada sesuatu yang yang tidak biasanya dari rumah itu yang membuat Naruto tak sadar kini telah berdiri di depan rumah itu.
"Kenapa hari ini tidak ada nyanyian dari rumah ini? apa yang terjadi?" tanya Naruto karena biasanya setiap melewati rumah ini dia selalu mendengar nyanyian itu, tapi kenapa hari ini dia tidak mendengarnya?
Pletok!
Sebuah sepatu buntut melayang dengan indahnya mengenai surai indah milik Naruto.
"Ittai!"
"Kau tidak pernah kapok rupanya, apa ini sudah menjadi pekerjaan sehari-harimu?" Naruto terbelak kaget saat dia mendengar suara yang tak asing dari dalam rumah itu, tepatnya seorang pemuda bersurai coklat panjang yang saat ini tengah menyender di depan pintu.
"Ne, Neji senpai!"
"Hn, apa yang kau lakukan di situ? Apa kau ingin masuk?"
Lagi, Naruto terkejut medengar tawaran senpainya. Apa dia tidak salah dengar? Apa benar senpainya menyuruhnya masuk ke rumah misterius itu? Seketika muncul dalam pikirannya akan niatnya selama ini yang ingin mengetahui keadaan dalam rumah itu, siapa-siapa yang tinggal disana dan apa yang Neji lakukan di dalam rumah itu.
"A—," dengan semangat 45 Naruto mengiyakan ajakan senpainya, namun dengan cepat pula neji mebuat dia jawsdrop plus geram setengah mati.
"Oh, sepertinya kau sedang sibuk. Lain kali saja!" kata Naji seraya berbalik masuk dan menutup pintu tanpa peduli pada Naruto yang sudah siap meledak.
"SENPAIII!" geram Naruto kesal karena lagi-lagi dia dipermainkan oleh senpainya itu.
Tanpa Naruto sadari seorang gadis bersurai panjang indigo keluar menembus pintu rumah itu dan tertawa pelan melihat aksi Naruto yang telah kembali seperti Naruto yang biasanya.
"Naruto-kun."
Naruto yang akan melangkah meninggalkan rumah itu menahan langkahnya saat dia kembali mendengar suara yang selalu menaggil namanya, perlahan dia membalikan badannya melihat jendela lantai dua dan kemudian dia melihat pintu rumah itu yang masih tertutup.
Lagi, tanpa Naruto sadari saat ini wajahnya tepat berhadapan dengan wajah gadis indigo itu, wajah mereka hanya menyisahkan jarak yang sangat tipis diantara mereka. Iris amethyst gadis indigo itu bergetar saat dia melihat langsung iris biru safir Naruto yang cerah, bibirnya bergetar mengucapkan nama Naruto berulang kali berharap Naruto menyadari keberadaannya.
Angin berhembus pelan menggoyangkan surai mereka hingga bertautan, menciptakan sensai dingin di kulit Naruto dan menyadarkannya pada tujuan awalnya. Naruto kembali membalikan badannya meninggalkan rumah itu, gadis indigo itu mencoba menahan tangan Naruto, mencoba menahannya untuk tidak pergi.
Namun, sepertinya itu sia-sia, karena Naruto tetap pergi tanpa peduli pada gadis transparan yang saat ini terlihat sedih karenanya.
…
Pukul 6 sore, 15 menit sebelum keberangkatan. Tampak Sakura yang di balut jaket berjalan terhuyung-huyung mendekati tempat duduk yang tak jauh darinya, melihat itu Sasuke yang baru saja melakukan cek out mempercepat larinya dan menangkap tubuh Sakura yang hampir saja jatuh menghantam jiku tangan kursi.
"Kau tak apa, Sakura?" tanya Sasuke begitu dia berhasil menahan tubuh Sakura dan mendudukannya di salah satu kursi.
"Maaf, aku selalu merepotkanmu dan membawamu dalam masalahku," jawab Sakura terdengar lemas, wajahnya yang putih terlihat memucat, tubuhnya menggigil kedinginan.
"Istirahatlah, lima menit lagi kita akan berangkat menuju Konoha," ucap Sasuke seraya memeluk tubuh Sakura.
Sasuke tahu, saat ini ada sepasang mata yang melihat mereka dengan tatapan kaget. Dia tahu karena itu dia sengaja melakukan ini, sengaja meyakinkan pemilik mata dengan apa yang dia lihat.
"Istirahatlah Sakura, aku ada disini bersamamu. Aku mencintaimu."
"Sasuke," seulas seringai terukir di wajah Sasuke saat dia mendengar suara yang menyapanya, suara yang sangat dia kenal, suara yang terdengar mulai tenang.
"Naruto?"
"Na, Naruto?"
Naruto tersenyum atau bisa di bilang memaksa untuk tersenyum melihat Sakura yang menyandarkan tubuhnya di dada Sasuke, padahal selama ini Sakura tidak pernah melakukan itu padanya, atau sekedar bermanja seperti ini.
"Yah, ini aku."
Entah, apa yang terjadi diantara mereka bertiga. Mereka saling diam, seolah kehadiran Naruto memang sudah diprediksikan, dan Naruto pun tidak terkejut dengan adengan yang dia lihat seolah dia sudah meprediksikan apa yang akan terjadi jika dia datang.
"Aku hanya ingin mengantarmu, memastikan kau baik-baik saja," kata Naruto seraya memasang senyum rubahnya.
Bodoh! Semua orang yang melihat senyummu itu pasti tahu, kalau senyum mu itu palsu.
"Terimakasih, Naruto. Kau mau mengantar ku sudah membuatku senang, maaf jika selama ini aku selalu menyakitimu."
Naruto kembali tersenyum meski dia tahu mereka tidak akan percaya pada senyum yang benar-benar dia berikan karena iklas, iklash melepaskan Sakura untuk Sasuke.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkannya, bisa menjadi pacarmu saja sudah membuat ku senang."
Sakura tersenyum senang, namun tidak bagi Sasuke. Dia merasa bersalah melihat senyum Naruto yang baginya adalah sebuah kebohongan.
'Pemberitahuan, penerbangan dengan tujuan Konoha akan segera berangkat dalam 5 menit lagi.'
"Baiklah, kalian harus segera pergi. Aku pun harus pulang, hati-hati disana. Teme, aku titip Sakura padamu. Jika kau menyakitinya aku tidak akan memaafkanmu," kata Naruto di sela tawa rubahnya.
"Dasar dobe!" balas Sasuke berusaha tenang dan bersikap senormal biasanya.
…
Pesawat yang membawa Sakura dan Sasuke kini telah tinggal landas dan terbang menghiasi langit Suna yang di selimuti awan cumulus menuju Konoha, Negara asal mereka.
Dengan langkah pelan Naruto meninggalkan area bandara, sepanjang perjalan dia meruntuki teman-temannya yang nyatanya tidak ada di bandara. Apa mereka sengaja mengerjainya?!
Gerbang masuk ke kompleks Konoha kini mulai terlihat, Naruto masih melangkah pelan menyusuri jalan setapak yang membawanya ke depan Gerbang masuk. Rintikan hujan perlahan berjatuhan membasahi pijakannya, semakin lama rintikan hujan semakin banyak dan deras.
Mau tak mau Naruto terpaksa harus berlari untuk menghindari serangan hujan yang tak kunjung berhenti atau reda, sementara tubuhnya semakin basah dan kedinginan. Tubuhnya mulai bergetar hebat, jika begini terus dia bisa jatuh sakit.
Naruto makin mempercepat laju larinya, tapi sepertinya keadaan tidak memihak padanya. Kakinya tiba-tiba terkilir dan tubuhnya membentur aspal dengan keras, lututnya terasa nyeri dan sakit begitu pun dadanya terasa terbakar, sementara hujan masih saja terus berjatuhan menimpa tubuhnya yang kesakitan.
Dengan sudah payah Naruto berusaha berdiri dan mencari tempat berteduh, langkah tertatihnya terus berjalan di tengah guyuran hujan dan diantara rasa sakit di kakinya, dia terus berjalan mencari tempat yang bisa dia gunakan untuk berteduh, namun sejauh dia berjalan tidak ada satupun dari rumah-rumah yang dia lihat bisa dia gunakan untuk berteduh, mengingat orang-orang di kompleks ini sangat tertutup dan jalanan yang selalu sunyi ini membuat dia semakin kepayahan.
Tubuh Naruto semakin menggigil, tubuhnya serasa mati rasa. Pandangannya pun mulai mengabur, di saat seperti ini dia berharap ada seseorang yang datang padanya dan memberikannya pertolongan. Tapi itu sepertinya mustahil.
Bhuuk!
Tubuh Naruto kembali jatuh, dia sudah tidak kuat lagi. Rasa sakit di kakinya membuat dia semakin tak berdaya, semantara tubuhnya yang masih terus di guyuri hujan semakin dingin dan mungkin sudah mati rasa. Di tengah ketak berdayaan seperti ini, Naruto melihat seorang gadis dengan gaun ungu selutut berdiri didepannya di tengah guyuran hujan.
"To, tolong!"
Namun gadis itu masih saja berdiri, bukannya menolong Naruto gadis itu malah berjalan meninggalkan Naruto dan kemudian gadis itu menghilang dalam derasnya hujan.
Samar-samar Naruto melihat gadis itu menjauh, dia bisa melihat surai panjangnya yang gelap, dia bisa melihat dengan jelas gadis itu berjalan menuju salah satu rumah di depannya. Setelah menghilang dalam derasnya hujan, Naruto melihat pagar rumah yang di tuju gadis itu tengah terbuka.
Dengan sisa kekuatan yang dia punya Naruto berusaha berdiri dan berjalan tertatih seraya menyeret kakinya yang terluka menuju rumah yang dia lihat, rumah itu kini makin dekat dan mulai jelas terlihat.
Bruk! Naruto merebahkan tubuhnya yang menggigil di serambi rumah yang terlihat sepi itu.
"Apa yang dilakukan pemilik rumah ini, membiarkan pagar rumahnya terbuka seperti ini, bagaimana jika ada maling?!" kata Naruto sempat mengkhawatirkan kondisi rumah itu begitu dia menyandarkan tubuhnya di dinding sedikit tersembunyi dan terlindung dari tetesan hujan.
"Aku hanya bertahan sampai hujan reda—," Naruto menahan kata-katanya saat dia mendengar suara pintu terbuka di susul suara yang sangat dia kenal.
"Iya, iya. Aku akan segera kesana!"
Naruto menahan napasnya, begitu dia lihat pemilik suara itu berjalan mendekati tempatnya. Untungnya tempat yang dia ambil sedikit tersembunyi dan pemilik suara itu pun kelihatannya terlalu serius dengan ponselnya sampai tak melihat Naruto yang menatapnya dengan tatapan minta ampun.
Suara mobil terdengar menjauh akhirnya menyadarkan Naruto akan situasinya, dengan tertatih-tatih Naruto melangkah keluar dari persembunyiannya untuk memastikan jika apa yang dia pikirkan ini tidak salah.
Dan benar saja, Naruto merosot pelan ke lantai saat tahu rumah siapa yang dia gunakan untuk berteduh.
"Kenapa harus rumah Neji senpai?!" ratap Naruto menyesali menjadikan rumah ini sebagai tempat berteduh. Dia tahu apa yang akan terjadi jika dia ketahuan memasuki pagar rumah ini, itu bisa dibilang adalah menuju kematiannya.
Hening, hanya suara hembusan angin dan deraian hujan yang menghiasi pendengaran Naruto. Angin yang bertiup seolah tidak mempan lagi terhadap tubuhnya yang sudah mati rasa, rintikan hujan seakan tidak lagi dia rasakan.
Telinganya kini menegang, napasnya kini memburu, detak jantungnya berdegub kencang membuat suhu tubuhnya meningkat saat suara nyanyian itu kembali terdengar dari dalam rumah itu.
Perlahan namun nyata, Naruto berani bersumpah di sambar geledek jika dia benar-benar melihat pintu rumah itu terbuka dengan sendirinya.
TBC…
Gimana? Udah dapat feelnya ga belom? Rencananya sih, pingin masukin kesan horornya disini, tapi nyatanya gak bisa. Atau mungkin akunya gak berbakat buat feel horror… ;(
Maaf, mungkin setelah kalian membacanya agak sedikit bingung, kok ada Sasuke juga?
Haaahhh~~~, mungkin ini adalah cinta segi empat. Naruto – Sakura – Sasuke – Hinata – Naruto…
Yah, dah… aku gak tahu mau ngomong apa lagi, semoga kalian terhibur setelah membaca fic ku ini…. ^_^
Terimakasih buat kalian yang udah mendukung dan berbabagi dengan cara mereview fanfic ku ini, aku tidak tahu jika tidak ada kalian aku tidak akan bisa menyelesaikan chapter ini.
Dan kalian tahu, review kalian sangat membantu ku….
Sekali lagi arigatou gozaimasu…
Saatnya balas review!
Fujisawa : Hinata kenapa? Dia sakit atau bagaimana? Nanti di jelaskan di chap 7, ^_^
Guest: bukan, HInata bukan Hantu… nanti aja aku jelaskan di chap 7, oke!
Ypratama17 : eaaauuummm…. :/ bisa dibilang begitu…
Dark Yagami: sangkyuu ne… (^o^)7
Berikan semangat kalian dengan mereview yang banyak!
GANBATTE!
