THE PREGNANCY TEST
.
.
.
NOVEL BY ERIN MCCARTHY
REMAKE BY YOUNLAYCIOUS
.
.
.
CAST: HUNHAN AND OTHERS
.
.
GENRE: DRAMA – ROMANCE – GENDERSWITCH
RATE: M
LENGTH: CHAPTERED (5 to End)
WARNING: FF INI MERUPAKAN FF REMAKE DARI NOVEL KARYA ERIN MCCARTHY DENGAN JUDUL SESUAI NOVEL ASLINYA ^^ IMPROVISASI CERITA DILAKUKAN JIKA DIPERLUKAN….GENDERSWITCH UNTUK PARA UKE ^^
.
.
CHAPTER 5
.
.
.
.
.
Sedikit berbeda dari perjalanan saat berangkat. Saat itu Luhan berusaha untuk menghindari Sehun, tapi sekarang ia malah tidak mau melepaskan Sehun. Ia menyandarkan kepalanya di pundak Sehun sambil mendengarkan pria itu bercerita mengenai apartemennya dan renovasi yang sedang dilakukannya.
"Kau akan tinggal dimana selama apartemenmu di renovasi?" Luhan menyela cerita Sehun.
"Kenapa? Apa kau berniat menawariku menumpang di apartemenmu?"
Luhan mendengus. "Jika kau bersedia menjadi penghuni sofa di apartemenku. Aku rasa itu bukan ide buruk."
"Ohhhh...aku sangat tersanjung dengan tawaranmu Nona Xi. Aku rasa tidur di sofamu memang bukan ide yang buruk, asal kau menemaniku tidur disana." Pernyataan Sehun membuat wanita itu mengangkat kepalanya, menatap pria itu dengan intens.
Sehun tertawa melihat reaksi Luhan. Pria itu tidak menyangka Luhan akan menanggapi leluconnya. Hey, bukankah wanita itu tahu dia sedang bercanda? Kenapa malah menjadikannya serius.
"Kau tidak usah khawatir soal aku akan menginap dimana. Yang pasti aku tidak akan menginap di tempat wanita hamil lainnya." Sehun memberi penekanan pada akhir kalimatnya. Memberi ketegasan bahwa tidak ada wanita hamil di kehidupannya saat ini.
"Tentu saja. Wanita hamil yang kau kenal saat ini hanya aku." Luhan kembali menyandarkan kepalanya di pundak Sehun.
"Kau sendiri bagaimana? Maksudku...dimana kau akan tinggal setelah bayimu lahir?" tanya Sehun sambil membetulkan letak selimut Luhan.
"Karena Baekhyun akan menikah dan pindah ke apartemen Chanyeol, maka aku akan punya kamar sendiri. Kyungsoo dan Xiumin tidak keberatan berbagi apartemen dengan bayiku. Hanya aku merasa sudah meminta terlalu banyak, dengan semua kekacauan dan keributan nantinya. Kita lihat saja bagaimana jadinya saat bayiku sudah lahir."
"Mereka sahabat yang baik dan pengertian."
"Mereka yang terbaik. Dan aku beruntung memiliki mereka di masa-masa sulitku." Luhan menguap, siap untuk tidur. Ia mulai terbiasa tidur siang, kebiasaan barunya sejak liburan ini. "Aku bertemu Kyungsoo di tokoku dulu ketika dia sedang mencari hadiah untuk keponakannya. Dia butuh teman sekamar lagi, kami merasa saling cocok hingga akhirnya aku memutuskan untuk bergabung. Kyungsoo dan Xiumin sama-sama kuliah di SNU, sedangkan Baekhyun dulu satu SMA dengan Kyungsoo, jadi mereka sudah lebih dulu saling kenal. Aku pendatang terakhir di dalam persahabatan mereka, tapi aku merasa sudah kenal lama dengan mereka."
Luhan menguap, lalu melanjutkan, "Kau akan menyukai mereka."
"Aku tidak yakin apakah aku bisa bertemu dengan Kyungsoo dan Xiumin, Luhan."
Ucapan Sehun seketika membuat rasa kantuk Luhan hilang. Ucapan pria itu menjadi pengingat keras mengenai peraturan hubungan mereka nantinya. Peraturannya adalah tidak ada hubungan.
"Kau benar." Luhan memaksakan diri untuk tertawa. "Aku tidak tahu apa yang kupikirkan. Aku lelah."
Luhan dapat merasakan sorot mata Sehun yang menatapnya, tetapi ia menolak untuk mengangkat kepalanya menatap pria itu. Ia tidak ingin Sehun melihat rasa membutuhkan yang pasti akan terpancar di matanya. Mereka tidak bisa bersama, ia tahu itu. Namun mengetahui dan menyukai adalah dua hal yang berbeda.
"Andai kita bisa..." Sehun mencium puncak kepala Luhan. "Aku menginginkanmu Luhan. Amat sangat menginginkanmu. Aku ingin memberimu lebih daripada yang bisa kuberikan sekarang. Tapi aku tidak bisa!"
Sehun terdengar begitu sedih, Luhan tidak sanggup mendengarnya. Akhirnya ia mengangkat kepalanya dan menatap Sehun.
"Hei, hei, tidak apa-apa, Sehun. Aku mengerti. Ini sudah kesepakatan kita. Dapat menghabiskan waktu bersama denganmu, sudah membuatku senang. Satu-satunya hal yang kusesali adalah kebersamaan kita harus berakhir."
Seandainya Sehun mengatakan kalau kebersamaan mereka tidak perlu berakhir, Luhan benar-benar tidak yakin akan mengatakan tidak pada Sehun saat itu juga.
Sehun menatapnya dengan intens, seolah ingin melihat isi jiwanya, cengkeraman Sehun di tubuhnya mengencang. Namun, pria itu akhirnya hanya berkata, "Tidak ada penyesalan. Yang ada hanya kenangan manis, dan itu lebih dari yang aku harapkan."
.
- The Pregnancy Test-
.
Sehun menaruh kopernya di depan pintu dalam apartemennya dan membiarkan kesunyian di sana menenangkannya. Ia menempati lantai dua puluh tujuh untuk menghindari kebisingan kota.
Dihempaskannya tubuhnya di atas sofa, ia kemudia memejamkan matanya. Kejadian di pesawat tadi berputar di kepalanya. Membuatnya merenungkan kembali hidupnya selama beberapa tahun terakhir. Selama ini ia menjalani hidupnya secara lurus dan menanjak dan pilihannya berhasil menyelamatkannya.
Sekarang ia merasa ada yang berbeda dengan hidupnya, perlahan tapi pasti, ada perubahan dalam hidupnya. Entah sejak kapan perubahan itu terjadi. Mungkin saja semenjak Luhan memasuki kehidupannya. Bukan! Bukan sejak liburan yang baru saja berakhir.
Dari perubahan yang terjadi dalam hidupnya saat ini, hanya satu yang pasti. Sekarang ia menginginkan Luhan. Menginginkan seseorang yang tidak bisa bersama dengannya.
Sehun membuka matanya, tangannya dimasukkan ke dalam saku untuk mencari dompet. Ia kemudian membuka dompet dan menarik foto yang disimpannya di bagian belakang. Foto ketika Krystal bersandar di bahunya, mata Krystal tampak tertawa ke arah kamera, terlihat begitu cantik dan sempurna sebagaimana setiap harinya wanita itu terlihat di matanya. Ekspresi Sehun berbeda dengan Krystal, ia seperti sedang merengkuh kebahagiaan, seolah takut kebahagiaan itu akan menghilang.
Ya! Kebahagiaan itu memang telah hilang, dengan cara yang tidak terduga olehnya. Dalam ruang pikirannya yang terdalam, Sehun selalu menduga kalau Krystal akan meninggalkannya suatu hari nanti. Ia tidak bisa membuat istrinya bahagia, mereka selalu berputar-putar dari ketenangan yang membahagiakan ke ledakan ketidakpuasan, Krystal akan uring-uringan dan Sehun akan menggunakan segala cara untuk membuat istrinya tersenyum lagi. Hanya saja, ia tidak pernah menduga bahwa malaikat maut begitu cepat menjemput istrinya.
Gambaran akan kenangan itu sekarang sudah mulai memudar, namun rasa bersalah selalu dirasakan Sehun sama segarnya seperti tahun-tahun sebelumnya ketika ia menyadari dirinya memiliki banyak kekurangan untuk mencintai Krystal seperti yang diharapkan wanita itu.
Tapi kini, harus diakuinya. Untuk pertama kalinya, suara, aroma, bahkan sentuhan Krystal mulai memudar, tergantikan oleh wanita lain. Sehun tahu kalau itu adalah pengkhianatan yang dilakukannya terhadap mendiang istrinya.
.
- The Pregnancy Test -
.
Luhan bersyukur Kyungsoo kebetulan sedang berjalan menuju apartemen mereka saat ia baru saja turun dari taxi yang ditumpanginya bersama Sehun dari Incheon. Itu memberinya pilihan untuk menolak bantuan Sehun yang ingin mengangkat kopernya ke atas, sekaligus menghindari perpisahan yang canggung.
Kyungsoo begitu senang Luhan telah pulang, mengabaikan keadaan sekitarnya, ia memeluk Luhan kemudian segera mengangkat koper sahabat seapartemennya itu.
"Kau terlihat begitu mengagumkan, Lu! Pasti karena udara disana cocok denganmu."
"Well, aku memang merasa jauh lebih baik."
Luhan dan Kyungsoo telah sampai di apartemen mereka. Baru saja ia melangkah masuk, Baekhyun telah menyambutnya. Wanita itu memperhatikan Luhan dari ujung kepala hingga kaki.
"Astaga, Lu! Kau terlihat menakjubkan. Uhhh...bagaimana perjalanannya?"
"Ceritanya menunggu Xiumin pulang saja." Luhan segera mendudukan dirinya di sofa. Dirinya sangat lelah saat ini, bukan hanya lelah fisik tapi hatinya juga.
"Kalau begitu aku akan memesan makanan." Kyungsoo segera meninggalkan Luhan dan Baekhyun untuk memesan makanan.
"Ahhh...hampir saja aku lupa. Kris datang kemari."
Luhan menghembuskan napasnya kasar. "Kapan?"
"Baru sepuluh menit yang lalu. Aku heran dengannya. Setelah yang dilakukannya terhadapmu. Seharusnya dia malu muncul di hadapanmu." Ketidaksukaan Baekhyun terlihat jelas. "Tapi tenang saja. Aku sudah mengatakan padanya untuk tidak muncul lagi di hadapanmu. Karena kau telah menikah dan bayimu telah memiliki ayah. Bahkan kau sedang berbulan madu dengan suamimu."
"Apa?" pekik Luhan. "Byun Baekhyun, apa kau sudah gila?"
"Ya. Aku gila karena kemunculannya. Seandainya aku bisa benar-benar mengatakannya kemudian memberinya beberapa tendangan hapkido yang kupelajari semasa sekolah sudah kulakukan tadi. Sayangnya aku masih waras. Dan berhasil mengendalikan diri."
Luhan merasa lega. Ia tidak bisa membayangkan seandainya semua yang dikatakan Baekhyun benar. Bukan karena ia masih mengharapkan Kris. Hanya saja, dia tidak mau terlihat menyedihkan di mata pria itu jika kebenaran terkuak bahwa tidak ada suami dan ayah baru untuk bayinya. Antara dia dan Sehun tidak ada hubungan selain boss dan sekretaris.
"Aku mengatakan padanya kalau kau baru saja kembali dari Saipan dan akan menghubunginya besok, tapi pria itu bilang dia akan menunggu. Dia sedang pergi ke gedung seberang membeli makanan. Mungkin dia telah melihatmu dan akan datang sebentar lagi."
"Sial!" Luhan berlari ke arah cermin yang tergantung di tengah ruangan. "Aku berantakan. Lihat, rambutku jadi begini."
"Luhan, kau sedang hamil. Jangan mengumpat dan berlari! Siapa peduli dengan penampilanmu." Tegur Kyungsoo, wanita itu telah selesai memesan makanan untuk mereka.
Meskipun yang diucapkan Kyungsoo benar, itu tidak mengurangi keinginan Luhan untuk terlihat cantik saat bertemu Kris. Ia hanya tidak ingin terlihat menyedihkan di depan pria itu. Ia mulai memperbaiki penampilannya, membuat Kyungsoo mendengus. Tampaknya hanya Baekhyun yang memahami keinginannya. Wanita itu membantu Luhan memperbaiki penampilannya.
"Apa aku terlihat sedang hamil?" tanyanya pada Baekhyun. Kyungsoo sedang membuka pintu.
"Tidak." Jawab Baekhyun.
"Bagus." Luhan tidak yakin kenapa itu penting, ia hanya tidak ingin Kris melihatnya sebagai wanita hamil. Ia tidak mau melihat bagaimana reaksi Kris nantinya.
Setelah mempersilahkan Kris masuk, Baekhyun dan Kyungsoo diam-diam meninggalkan ruangan itu. Kini tinggalah Luhan sendirian, menatap pria yang merupakan ayah dari bayinya.
"Hai, Kris. Apa kabar?"
"Luhan." Kris melangkah ke depan dan memeluk Luhan. "Aku baik-baik saja, terima kasih. Dan aku harus mengatakan kalau kehamilan sangat pantas untukmu. Kau terlihat menakjubkan."
"Terima kasih." Luhan segera melepaskan diri dari pelukan Kris. Dulu ia memang menyukai pelukan Kris. Hangat, nyaman dan membuatnya merasa terlindungi. Sekarang pelukan itu terasa asing baginya.
Luhan menatap Kris sambil menebak-nebak. Pasti kunjungan kecil Kris ini ada maksudnya. Apalagi mengingat pertemuan terakhir mereka beberapa bulan lalu. Seketika keheningan tercipta di ruangan itu. Mereka saling menatap selama beberapa saat.
"Boleh aku duduk?" Kris yang lebih dulu memutuskan kontak mata di antara mereka sekaligus memecah keheningan tersebut. Pria itu duduk tepat di hadapan Luhan.
"Maaf, aku baru saja sampai di rumah dari perjalanan bisnis. Aku tidak tahu kau akan datang kemari, ya...mengingat pertemuan kita terakhir kali. Jadi, apa yang kau inginkan?"
"Tao hamil. Usia kandungannya baru sebulan."
Luhan sedikit terkejut dengan berita kehamilan Tao. Tapi mengingat bagaimana hubungannya dengan Kris dulu seharusnya ia tidak terkejut. Seandainya dulu mereka tidak menggunakan kondom saat melakukan seks –meski karena kesalahan kondom akhirnya dia hamil juga- mungkin ia dan Kris sudah sejak lama memiliki anak juga. Dia hanya tak menyangka bayinya sudah menjadi seorang kakak meski belum lahir. Bayinya lebih tua hitungan bulan jadi sudah sewajarnya bayi Kris dan Tao adalah adiknya, adik tiri lebih tepatnya.
"Aku turut senang mendengarnya. Sampaikan ucapan selamatku padanya." Luhan hampir tertawa mendengar komentarnya sendiri, tetapi orangtuanya selalu mengajarkan sopan santun kepadanya terhadap tamu sekalipun itu tamu yang tidak diharapkan.
"Terima kasih, Luhan. Akan kusampaikan padanya...hmmmm...sejujurnya berita kehamilan Tao ini membuatku jadi berpikir. Kau juga mengandung anakku."
Luhan akhirnya mengangkat kakinya ke atas sofa, kemudian meluruskannya. Mengabaikan fakta saat ini ia sedang menerima tamu. Dan yang dilakukannya sangat tidak sopan, tetapi siapa yang peduli soal kesopanan saat ini. Dirinya benar-benar lelah, membutuhkan ranjangnya yang empuk, tapi pria yang merupakan ayah kandung bayinya justru membuatnya tertahan di atas sofa ini.
"Jika kau tidak mengalami amnesia atau kepikunan dini tentang hal itu. Maka tidak ada yang berubah." Jawabnya agak sinis.
Kris berdeham dan menatap Luhan. "Jadi, karena itu aku pikir sebaiknya aku mengecekmu, untuk mengetahui keadaanmu. Mungkin saja kau membutuhkan sesuatu."
"Apa kau khawatir aku tidak sanggup membiayai bayiku? Atau mungkin aku mengabaikan kehamilanku dengan melakukan hal-hal bodoh? Kau ingin mengatakan aku bukan ibu yang baik?" seketika emosi Luhan meledak. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan perkataan Kris, hanya saja dia merasa bahwa pria itu sedang berusaha membuatnya terlihat menyedihkan.
"Bukan seperti itu maksudku." Kris mencondongkan tubuhnya ke depan, berusaha lebih dekat dengan Luhan.
"Kau tidak usah khawatir. Aku baik-baik saja. Aku punya pekerjaan baru dengan gaji dan benefit –yang terbesar adalah Sehun di ranjangnya- yang lumayan. Aku juga sudah melewati masa morning sickness, dokter juga bilang semuanya normal. Aku sama sekali tidak butuh apa-apa saat ini."
Kris meraih tangan Luhan. "Aku tahu mungkin aku terkesan tidak tahu diri..." pria itu berdehem lagi. "Tapi aku ingin ada di dalam kehidupan anak kita. Aku ingin terlibat dalam perkembangannya."
Luhan mengerjap-ngerjapkan matanya. Otaknya memproses pernyataan Kris barusan. Apa ini berarti dia akan berhubungan lagi dengan Kris? Bukan hubungan kekasih hanya saja hubungan sebagai orangtua bagi bayinya. Ini tandanya dia harus kembali menjalin komunikasi yang sempat terputus diantara mereka. Sebenarnya ia agak keberatan, ia sudah tidak mengharapkan keberadaan pria itu di hidupnya dan bayinya. Ada pria lain yang lebih ia harapkan saat ini di hidupnya dan bayinya. Tapi, bagaimanapun juga Kris adalah ayah biologis bayinya.
"Kau ayahnya...aku tidak bisa mencegahmu, jika kau ingin terlibat." Luhan menarik tangannya yang masih berada dalam genggaman Kris.
Kris tersenyum mendengarnya, pria itu tiba-tiba saja menarik Luhan ke dalam pelukannya. "Terima kasih Luhan. Aku sangat berterima kasih sekaligus minta maaf atas sikapku tempo hari. Kau tahu kau banyak berubah sejak terakhir kali kita bertemu, kau sangat menakjubkan saat ini." Luhan sedikit tersenyum, paling tidak ia berhasil membuat dirinya tidak terlihat menyedihkan.
"Kris. Bisa kau lepaskan pelukanmu?" Luhan mendorong tubuh Kris menjauh.
"Maaf membuatmu tak nyaman." Kris tersenyum canggung. "Kau bisa menghubungi kapan saja jika membutuhkan sesuatu. Sabtu ini Tao mengadakan pesta kecil-kecilan untuk mengabarkan perilah kehamilannya. Jadi, jika kau membutuhkanku saat itu, maaf aku tidak bisa. Selebihnya kau bisa menghubungiku kapan saja. Mungkin saat kau akan memeriksakan kandunganmu, aku bisa menemanimu."
"Ya. Aku akan menghubungimu nanti jika jadwalnya tiba." Luhan merebahkan dirinya. Ia sangat membutuhkan istirahat saat ini.
Melihat Luhan yang kelelahan, Kris cukup tahu diri bahwa wanita itu membutuhkan istirahat. Maka dia pun segera pamit kepada Luhan. Begitu tubuh Kris telah menghilang dari balik pintu apartemen, Baekhyun dan Kyungsoo langsung menyerbu ke ruangan itu, mendapati Luhan sedang berbaring sambil mencengkeram perutnya, air mata mengalir di pipinya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Baekhyun. "Apa yang pria itu menyakitimu?"
Tangis Luhan mulai keras. Kyungsoo berusaha menenangkannya. "Tenanglah, Luhan. Kau tidak sendirian, ada kami disini. Semuanya akan baik-baik saja."
"Pria itu tak pantas untuk kau tangisi." Baekhyun meyakinkannya.
Ia menggeleng. "Bukan karena Kris." Katanya parau.
"Lalu mengapa kau menangis?" Kyungsoo mengusap air mata di pipi Luhan.
"Percakapanku dan Kris barusan mengingatkanku pada Sehun."
"Apa mereka saling kenal? Lalu Kris memberitahukan Sehun soal kehamilanmu?" tanya Baekhyun tak sabaran.
Luhan mengusap air matanya sendiri, mengambil posisi duduk, menatap Kyungsoo dan Baekhyun bergantian.
"Mereka tidak saling kenal. Dan Sehun memang sudah mengetahui soal kehamilanku."
"Apa?" pekik Kyungsoo dan Baekhyun.
"Bagaimana bisa dia mengetahuinya? Bagaimana reaksinya? Apa dia marah? Dia memecatmu?" berondong Baekhyun.
"Hey, ini tidak adil. Dia tidak bisa memecatmu begitu saja. Kau tidak melakukan kesalahan dalam bekerja, keadaanmu adalah urusan pribadi di luar pekerjaan. Seharusnya dia bisa lebih bijak dalam menyikapi kasusmu." Cecar Kyungsoo.
"Aku benar-benar yakin dia seorang Oh monster." Maki Baekhyun. Sepertinya masalah Sehun yang tahu mengenai kehamilan Luhan lebih menarik dibahas daripada kedatangan Kris barusan. Dalam sekejap mereka telah lupa akan kedatangan Kris dan membahas soal Oh Monster.
Luhan memijit pelipisnya. "Bukan karena itu."
"Lalu karena apa Xi Luhan? Demi tuhan! Bisakah kau berbicara dengan jelas. Kau membuat kami semakin khawatir." Baekhyun menatap tajam Luhan.
Kyungsoo mendelik pada Baekhyun. Ia khawatir tangisan Luhan akan kembali meledak. Ingatkan dia untuk kembali memberi peringatan pada Baekhyun dan Xiumin tentang betapa sensitifnya perasaan wanita hamil.
Luhan kembali merebahkan dirinya di sofa, menghembuskan napasnya beberapa kali. "Aku telah berhubungan seks dengan Oh Sehun."
Mulut Baekhyun langsung menganga, Kyungsoo terlihat bingung. "Barusan tadi?" Kyungsoo bertanya sambil mengerjapkan mata bulatnya.
Diantara mereka berempat Kyungsoo lah yang paling polos, bahkan mungkin juga satu-satunya yang masih perawan hingga hari ini, tidak ada yang tahu soal itu karena dia tidak pernah bercerita soal kehidupan seksnya, berbeda dengan ketiga sahabat seapartemennya yang akan saling sharing mengenai kehidupan seks masing-masing. Tidak heran jika otaknya akan sedikit lambat jika berurusan dengan seks.
"Tidak di dalam taksi. Saat kami di Saipan."
"Tapi kau sedang mengandung anak Kris, dan...oh, astaga..." Kyungsoo menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
.
- The Pregnancy Test -
.
Sehun sedang menyantap sushi dengan Jongin sebagai makan siang mereka. Jika bukan karena paksaan Jongin untuk makan siang di luar, saat ini pasti dia akan melewatkan jam makan siangnya. Setelah Sehun mengabari pria itu dia telah kembali dari Saipan, Jongin terus menerus mendesaknya menceritakan liburannya –Sehun sadar kali ini dia bukan bekerja sambil liburan-, beruntung Jongin sedang ada dinas di Busan saat itu hingga sebelum makan siang hari ini sehingga dia tidak akan melakukan kunjungan ke apartemennya.
"Dude, kukira dengan perjalananmu ke Saipan akan membuatmu sedikit santai. Tapi kau sepertinya lebih tegang dibanding sebelum kau pergi. Kau pasti menyesal tidak melakukan saranku kan? Sudah kubilang, sebaiknya kau tidur dengan asistenmu."
Sehun mendengus. "Tutup mulutmu!"
Ia melewati akhir pekan yang begitu menyiksa di apartemennya dengan mencoba untuk bekerja. Namun yang bisa dipikirkannya hanya tentang dirinya, Luhan, dan bayi wanita itu. Hari ini, sejak ia datang ke kantor bahkan sampai keluar untuk makan siang, ia tidak melihat Luhan, wanita itu hebat dalam bersembunyi.
Jongin menggeleng. "Kadang-kadang kau membuat orang sulit untuk menyukai dirimu."
Sehun berpikir kalau Jongin hanya bercanda seperti biasa, namun ketika Jongin menatapnya, ia bisa melihat kemuakan di wajah sahabatnya itu.
"Apa maksudmu?" Sehun balas menatap Jongin. Sebenarnya ia tahu apa yang mungkin dimaksudkan oleh sahabatnya itu, hanya saja mungkin ia perlu mendengarnya diucapkan secara langsung.
"Maksudku adalah kau terlalu sibuk mengasihani dirimu sendiri dan memperlakukan oran lain seperti sampah."
Dada Sehun menegang, ia meletakkan sumpitnya di atas piring sumpit, menatap Jongin tajam. "Menurutmu aku mengasihani diriku sendiri? Mudah saja bagimu mengatakannya. Kau tidak pernah berada di posisiku. Bukan kau orangnya yang perlu membeberkan pernikahanmu kepada khalayak di pengadilan, seolah-olah kisah pernikahanmu hanyalah drama televisi yang harus ditayangkan. Tak cukup hanya itu mereka juga memaksaku membeberkan semua kekurangan istriku selama pernikahan kami, mereka berlaku seolah istriku bukanlah manusia."
Sehun tidak pernah membicarakan Krystal dengan begitu lantang seperti saat ini. Namun kendalinya lepas, saat Jongin menuduhnya. Ia merasa marah dan kecewa. Tidak menyangka sahabatnya akan menuduhnya mengasihani dirinya sendiri dan memperlakukan orang lain seperti sampah. Jika benar demikian, lalu kenapa sahabatnya ini masih bertahan dengannya?
"Dengar Sehun. Aku tahu kau telah melewati masa-masa yang berat. Tapi aku mengenalmu sejak kita masih kecil. Kita berbagi banyak hal bersama, dan kau yang sekarang berbeda dengan kau yang dulu. Kau sekarang sama sekali bukan orang yang sama."
Memang tidak lagi sama. Kapan Jongin membuat kesimpulan seperti itu? Sehun sudah lama menyadari hal itu. "Tentu saja. Aku tidak bisa selamanya jadi anak kecil seperti dulu lagi. Atau menjadi pemuda bodoh dua puluh dua tahun lagi, yang bertemu dengan Krystal dan jatuh cinta padanya serta dapat hidup bahagia selamanya bersamanya."
Jongin menggeleng. "Jika saja aku bisa kembali ke hari itu di pinggir pantai, hari itu lebih baik aku melempar bola ke arah lain, sehingga tidak akan mengenai teman Krystal...siapa namanya?"
"Sulli." Sushi yang dimakan Sehun tersangkut di tenggorokannya. Ia mengingat hari itu dengan duka yang mendalam. Sulli adalah sahabat baik Krystal, yang naksir pada Jongin setelah Jongin tidak sengaja melempar bola ke arahnya. Sedangkan Krystal lebih mengambil jarak. Butuh waktu seharian bagi Sehun untuk mendapatkan nomor teleponnya dan waktu seminggu untuk mengajaknya pergi berkencan.
"Walaupun dia wanita yang seksi dan kita bersenang-senang menghabiskan akhir pekan bersama, aku sungguh berharap tidak pernah bertemu dengan Sulli sehingga kau tidak perlu bertemu dengan Krystal. Karena meskipun wanita itu telah meninggal, dia masih saja mengerjaimu."
"Dia tidak mengerjaiku. Ini bukan kesalahannya."
Jongin jadi jengkel, mendengar pembelaan Sehun terhadap Krsytal. "Sampai kapan kau akan terus membelanya? Aku turut menyesal dengan kematiannya. Tapi terlepas dari semua itu, sebelum dia meninggal, kau pasti sadar Krystal adalah wanita yang menyebalkan, Sehun. Dia adalah wanita paling menyebalkan sejak pertama kali kalian bertemu dan tetap menyebalkan hingga hari ini. Dia selalu berhasil memanipulasi, memperdaya dan mempermainkanmu agar kau menuruti semua keinginannya."
Wajah Sehun berubah dingin. Ia duduk dengan amat tenang, berpikir ada bagusnya saat ini mereka sedang berada di restoran, saat ini ia ingin sekali meninju Jongin. Pria itu bersikap tidak pada tempatnya dengan mengatakan hal-hal buruk tentang Krystal.
"Yang kau bicarakan itu istriku."
Suara Jongin menjadi lirih, " Aku tahu itu. Mungkin setelah hari ini kau tidak akan pernah berbicara denganku lagi, sayangnya aku harus mengatakannya. Aku tidak bisa diam, menyaksikanmu mati secara perlahan hari demi hari, menjadi orang yang tidak kukenal. Kau menyedihkan. Coba katakan padaku...ketika kau memikirkan Krystal, apa kau memiliki kenangan indah tentangnya?"
Tidak! Jawaban itu sudah ada di kepala Sehun sebelum ia menyadarinya. Padahal tentu saja ia memiliki kenangan indah tentang Krystal. Ia pernah mencintai wanita itu. Mereka pernah menikah, hidup bersama bahkan bercinta. Namun, selalu ada saja yang salah diantara mereka berdua, mereka juga sudah mengetahuinya.
"Itu tidak mengubah fakta bahwa ia telah meinggal." Sesuatu yang tidak pernah bisa Sehun hadapi. Ia justru memilih membenamkan dirinya dalam kegelapan, menyembunyikan kepalanya agar akal sehatnya tidak ikut mati.
"Tidak, memang tidak." Jongin menyapu rambut dengan jemari. "Hanya saja kau butuh untuk merelakan hubunganmu itu, benar kan? Bukankah kau juga punya hak untuk bahagia?"
"Aku tidak tahu. Aku tidak tahu apakah aku pantas untuk apapun."
"Jika kau bisa memiliki apapun yang kau inginkan, apa yang kau mau?"
Sehun terdiam, ia menatap Jongin lama. "Luhan dan bayinya." Jawabnya dalam hati. Pemikiran itu sama sekali tidak mengejutkannya, ia sudah memikirkan itu selama beberapa hari ini. Ia menyayangi Luhan, ia mencemaskan Luhan dan bayinya, ia ingin melindungi mereka.
"Sebuah keluarga." Jawaban ini tidak sepenuhnya bohong. "Aku menginginkan sebuah keluarga..." –"Bersama Luhan dan bayinya serta anak-anak kami kelak." Tambahnya dalam hati.
"Ibumu bertanya tentang dirimu pada ibuku setiap kali mereka bertemu. Dia ingin tahu apakah aku pernah melihatmu, bagaimana kabarmu, atau apakah kau sedang berkencan dengan seseorang. Kukatakan pada ibuku bahwa aku benar-benar tidak tahu. Aku tidak lagi mengenalmu. Kupikir mungkin itu awal yang bagus untuk memulai...dengan berbicara pada orang-orang yang benar-benar masih menyayangimu. Ada baiknya setelah ini kau menghubungi ibumu. Jangan sampai ibumu berpikir anaknya telah hilang terbawa tsunami saat dalam perjalanan pulang." Jongin tertawa setelah mengucapkannya.
Sehun hanya mendengus, Jongin memang benar. Sudah saatnya dia bangkit dari kegelapan, menjangkau lagi orang-orang yang menyayanginya, membiarkan mereka tahu bahwa ia peduli pada mereka. Karena itulah ia ingin bangkit dari kegelapan dan menemukan kembali bagian dari dirinya yang ia anggap sudah sirna. Bagian yang telah dibuktikan oleh Luhan masih ada.
"Apa kau meminta tagihan atas ceramah psikologimu?" Sehun menepuk pundak Jongin untuk menunjukkan bahwa ia bercanda.
Jongin menyeringai. "Tidak, tapi kau harus membelikanku makan siang."
Mereka kemudian tertawa bersama. "Itu bisa kulakukan. Dan Jongin-ah..."
"Kau memanggilku apa barusan?" Jongin sepertinya perlu memeriksakan telinganya setelah ini. Sudah lama ia tidak mendengar Sehun memanggilnya seakrab itu. Sejak ia kehilangan sosok Sehun yang dikenalnya. Selama ini Sehun seolah menjaga jarak dengannya, mengabaikan fakta bahwa mereka telah berteman sejak kecil.
"Jongin-ah?" Sehun mengulangnya.
"Apa?" Jongin merangkul pundak Sehun. Salah satu kebiasaan lamanya terhadap Sehun. "Ada yang kau butuhkan lagi?"
"Tidak. Aku hanya ingin mengatakan...aku masih mau berbicara denganmu setelah ini. Dan terima kasih masih mau bicara denganku setelah bertahun-tahun ini. Maaf jika selama ini aku memperlakukanmu seperti sampah."
Jongin tertawa, "Asal kau tidak membuangku saja...Lagipula, itulah gunanya sahabat."
Sehun tersenyum. Ia bersyukur Jongin tidak meninggalkannya, bertahan menjadi sahabatnya. Ini membuatnya berpikir bahwa memiliki sahabat rasanya menyenangkan. Tiba-tiba saja di kepalanya melintas sebuah ide mengenai hubungannya dengan Luhan. Seandainya ia tidak bisa menawarkan hubungan yang sesungguhnya pada Luhan, maka ia bisa menjadi teman wanita itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
BDY
.
.
.
.
.
Annyeonggggg! Youn datang membawa chapter 5 ^^
Adakah yang menantikan chapter ini? ^^
Berhubung chapter kemarin akhirnya Hunhan belah duren *smirk* maka chapter ini libur dulu ya wkwkwkkwkwkwk kita semua perlu mendinginkan kepala
Saat nya kita mope on nih...klo macet d chapter kemarin ga selese2 dong ntar FF nya wkwkwkkwkwk
Chapter ini akhirnya kita semua tahu bahwa status Sehun itu duren bin dutam alias duda keren nan tampan #plakkkkk
Jadi, kalo ada yang merasa...Sehun kok mau sih sama Luhan? Luhan kan "bekas"nya Kris -_-
Kalo menurut Youn sih kalo ngomong soal "bekas" status Hunhan sama...sama2 "bekas" orang lain -_-
Cuma kasus mereka beda aja ^^ Dan lagi klo emang cinta harusnya ga hitung(?)an hehehhehe Eh...tapi ini menurut Youn loh...kalian bisa ga sependapat ma Youn, Youn bebas aja ma pemikiran kalian.
Bagi yang sempet bertanya soal siapa Krystal? Apa bener istri Sehun? Di chapter ini udah kejawab kan? .
Soal Krystal meninggalnya kenapa akan terjawab di chapter2 depan...so, stay tune aja ya...
Nahhh...nahh...daripada Youn kebanyakan nyerocos mending Youn paamit aja deh ^^
Tapi kalau ada yg mau tanya2 ttg FF ini or FF yg lain...mungkin jg mau ngobrol2 aja bisa PM Youn ato mention aja ke twitter Youn mjjeeje *numpang promosi* mention aja gapapa kok, Youn ga gigit udah jinak...mau follow jg monggo atuh...ntar mention aja biar Youn folback hehehehe...
Okelahhhh daripada Youn kelamaan trus kalian timpuk pake kolor Hunhan mending Youn minggat aja deh ^^
.
.
.
.
.
Penutupnya seperti biasa...REVIEW JUSEYO *bbuing-bbuing*
.
.
.
.
.
Youn say Thanks To:
Lisnana1 – geminiuz – LynKim - niasw3ty - Oh Ri Han - kimyori95 - chan-wifey - Lieya EL – himekaruLI - Oh Lu-Yan – HUNsayHAN - nisaramaidah28 – ohsehawnn – dazzzzzzzl – kaihunhan - Arabel-SL - Oh Juna93 - hunhan aegy – puputri - - blu3yes - luenie04 - HunHanCherry1220 – DijaminMasihPerawan – karwurmonica - Vhiena Sehun - lu mamijungkook - xiaolu odult - Hwang0203 – exindira – DeerHun – ruixi1 – ByunnaPark – hanalu93 – ohseohse – XD – Rly C Jaekyu – monic maniz – OhByunSoo – immafujoshi – hun12han20selu – sandrimayy88 – favoriters – followers – alerters – semua pembaca yang tidak nampak di review ^^
*chan-wifey: ini udah update kok ^^ maap ya late update...thanks for read and review nya ya and keep reading ^^
*ohsehawnn: Nahhhhh...itu dia Youn juga gemes ma mereka -_- gara2 debat jadi gitu deh sampe TBC wkwkwkwkwk Maap ya updatenya lama...anyway, thanks for read and reviewnya ya...semoga ga bosen ngikutin kisahnya.
*dazzzzzzzl: Wahhhh...lama bgt ya updatenya? Maap ya ^^ Btw, ini udah dilanjut kok, lanjut terus sampe tamat. So, stay tune ya ^^
*blu3yes: udah dilanjut kok ini ^^ keep reading and thanks for review ^^
*luenie04: Untuk saat ini Hunhan masih belum pacaran Hubungan mereka masih boss – sekretaris...Thanks for read and review nya ya ^^
*lu mamijungkook: Sini gw kasih napas buatan wkwkkwkwkwk Nah, itu gw jg sebel ma mereka, kebanyakan debat bwt gw pusing hahahahhahaha untung aja akhirnya naek ranjang jg...Baca lagi ya tan ^^
*ohseohse: Ini udah dilanjut kok...baca lagi ya ^^ makasih
* XD : Udah dilanjut kok...selamat membaca ya ^^ makasih
PS: Bagi yg merasa udah review tapi ga kesebut bisa PM Youn...sapa tau aja review kalian ga masuk ^^
