BURN
PURE BLOOD OF NEMESIS
Pair HunKai, Sehun (seme) X Kai (uke)
Cast EXO Member and others
Warning: BL, Typo
Previous
"Apa maksudmu?"
"Beberapa pihak tak bertanggungjawab menginginkan kemusnahan Nemesis."
"Itu tidak akan baik." Timpal Yonghwa.
"Aku tahu itu tidak akan baik, binatang buas akan melawan ketika dia diancam. Jong Yonghwa jika kau menyesali tindakanmu di masa lalu, kurasa ini waktu yang tepat untuk menebusnya. Mencegah peperangan."
Yonghwa tersenyum. "Kau datang padaku karena kau berpikir aku akan mudah untuk kau ajak bergabung, bukan begitu Kevin?"
"Aku datang padamu karena aku tahu kau tidak akan memihak siapapun."
"Kau memintaku untuk memihakmu."
"Aku mengatakan kebenaran, selanjutnya semua ada di tanganmu. Mungkin akan ada vampire lain yang mendatangimu setelah ini dan memintamu membuat keputusan. Pikirkan baik-baik, tapi akan aku hormati keputusanmu. Aku pergi sekarang, senang melihatmu Yonghwa."
BAB ENAM
Baiklah, ini terdengar bodoh. Sangat bodoh bahkan. Kai akui dia merindukan teman-temannya, merindukan kelas, merindukan sekolah, merindukan semua rutinitas membosankan yang selama ini selalu dia kutuki. Terkurung di dalam rumah nyatanya sejuta kali lebih buruk, dibanding terkurung di dalam ruangan berdinding rapat yang disebut kelas.
Tangan kanan Kai mengusap pinggiran kertas buku yang sedang dibacanya. Aroma khas kertas cetak tercium jelas, hal yang tidak akan kau temukan ketika membaca melalui layar ponsel atau layar komputer. Dalam seminggu ini, Kai merasa seperti seorang tahanan. Tidak diizinkan untuk keluar menghirup udara segar.
Di sekitar rumah bahkan tidak lebih baik. Rumahnya dikepung oleh penjaga. Setiak gerak-gerik keluarganya diawasi. Tapi dia tidak akan melawan kali ini. Masih segar didalam ingatannya apa yang terjadi terakhir kali ketika dia memutuskan sedikit memberontak.
"Nemesis, jadi bagaimana aku bisa mengendalikan kekuatan Nemesis?" gumamnya seorang diri. Kedua matanya beralih dari deretan abjad di atas kertas. Mengamati setiap sudut kamar tempat tidurnya.
"Apa kekuatan Nemesis akan bangkit?" Kai kembali bertanya seorang diri, kewarasannya mungkin sudah hilang.
Kai menatap ke arah jendela dan entah mengapa dia tertarik untuk keluar ke halaman. Setidaknya berkeliaran di sekitar rumah tidak melanggar peraturan. Lagipula seluruh rumah sedang diawasi siapa yang akan berani menerobos masuk.
Mendekati jendela, membuka daun jendela. Dia terpesona dengan salju yang turun. Tunggu! Salju?! Sekarang musim panas. Mustahil ada salju.
"Selain Nemesis apa kau pernah mendengar tentang legenda, vampire terkuat yang bahkan bisa mempengaruhi musim dan cuaca?"
"Sekilas." Balas Kai tanpa menoleh ke belakang, itu suara Sehun dan dia merasa cukup lega dengan hal itu.
"Karena kau tidak pernah memberi perhatian penuh pada setiap kelas yang kau ikuti." Sindir Sehun.
"Dan aku tidak merasa menyesal sama sekali. Toh, semua kelas itu tidak akan bisa menyelamatkan hidupku."
"Kelas-kelas itu akan memberimu pilihan hidup di masa depan."
"Seperti aku akan hidup selamanya."
"Setengah vampire, kau akan berusia sangat panjang."
Jari-jemari tangan kanan Kai bermain pada kusen jendela. Mencerna setiap kata yang Sehun ucapkan. "Tapi aku bisa memilih berapa lama aku akan hidup."
"Ya, kau bisa memilihnya."
"Hmm." Gumam Kai. Memutar tubuhnya menatap Sehun. "Kau satu-satunya vampire yang bisa mengendalikan cuaca dan musim?" Sehun mengangguk singkat. "Untuk apa menciptakan salju di malam musim panas? Kau ingin membuat keributan atau ingin menunjukan kehebatanmu?"
"Kau menyukai salju."
"Benarkah?"
"Di ulang tahun kelimamu kau mengatakannya padaku. Salju selalu membuatmu bahagia, kau terus mengatakannya sampai usiamu sebelas tahun dan kau mulai menyukai hal lain. Hal yang lebih rumit dan salju tidak membuatmu terpesona lagi."
"Semuanya berubah."
"Aku merindukan Kai yang dulu."
Kai tersenyum miring. "Kau mencoba merayuku? Itu tidak berhasil."
"Aku hanya lelah menerka-nerka isi kepalamu. Apa yang membuatmu berubah?"
"Sehun dengar. Aku bukan anak lima tahun lagi, tentu saja aku berubah."
"Aku merindukan Kai yang selalu berlari ketakutan ketika hujan turun, bermain dengan salju hingga hidungnya memerah, tersenyum saat bunga cherry mekar. Kai yang kedua matanya berbinar dengan hal-hal sederhana, Kai penurut yang penuh tawa…,"
"Aku juga merindukannya." Potong Kai. "Aku merindukan diriku yang dulu. Tapi aku tidak tahu harus mencari dia dimana."
"Dia masih ada tapi kau yang membunuhnya."
"Sejak awal kau tahu aku seorang Nemesis? Kau memberiku perhatian karena aku terlihat seperti Jongin, karena keluargaku sedikit banyak berhubungan dengan Jongin. lalu kau mendekati Jongin karena Luhan. Sehun." Kai menatap kedua mata sipit Sehun. "Kau akan terus terjebak dalam lingkaran setan. Jangan menghukum dirimu dengan masa lalu."
Sehun bungkam menatap wajah Kai lekat. "Apa yang ingin kau katakan?"
"Kau berharap aku akan menjadi pengganti Jongin?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Aku memiliki janji yang belum bisa aku tepati. Aku gagal melindungi Luhan, gagal melindungi Jongin. Aku ingin melindungimu."
"Apa urusannya denganku?" Kai menahan tawa mendengar kalimat Sehun.
"Aku mencintaimu."
Kai terperangah untuk beberapa detik. "Wah itu—mengejutkan. Aku tidak menyangka kau akan mengungkapkan perasaanmu."
"Aku tidak ingin kehilangan kesempatan."
"Cintamu selalu datang disaat yang tidak tepat. Pertama Luhan lalu Jongin. Di masa penindasan dan perang. Dan sekarang di masa gencatan senjata." Cibir Kai.
"Karena tidak ada perdamaian yang mutlak. Semua perdamaian itu semu."
"Mungkin." Balas Kai sambil mengendikan kedua bahunya.
"Apa kau muak dengan semua ini?"
"Apa?" Kai menatap Sehun bingung.
"Aku bisa mengajakmu keluar sebentar. Aku bisa menjagamu."
"Aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Ya aku percaya itu." Sehun membalas dengan kalimat yang terdengar sedikit merendahkan. Kai bisa menjaga dirinya sendiri ketika kekuatan Nemesis bangkit, bahkan Sehun yakin dengan kekuatan itu Kai bisa menewaskan dirinya dengan mudah. Namun Kai ketika hanya seorang Kai, dia tidak berdaya.
"Kurasa tidak masalah keluar sebentar."
"Ayo." Ucap Sehun sambil mengulurkan tangan kanannya pada Kai.
Menyambut tangan kanan Sehun, Kai menoleh ke belakang. Tidak ada salju yang turun di luar sana. "Saljunya berhenti."
"Kau bisa mendapatkannya lagi nanti."
"Tentu." Balas Kai.
Gikwang, Yeri, Junyoung, Minho, dan Taemin menatap Sehun dan Kai dengan sebuah senyum tipis yang tersemat pada wajah masing-masing. "Aku hanya keluar mencari udara segar, kami tidak berkencan." Balas Kai.
Yeri tertawa tidak bisa menahannya lagi. Semua orang diam menunggu ledakan emosi Kai. Karena hubungan Kai dengan Yeri tidak baik. Namun, semua pemikiran itu salah. Kai tidak mengatakan apa-apa dan memilih pergi mendahului Sehun.
Bahkan Kevin berusaha menahan tawa melihat kehadiran keduanya. Sehun mengisyaratkan kepada Kevin untuk menyingkir. "Kevin aku yakin kau memiliki tugas lain."
"Siap!" balas Kevin bersemangat sebelum pergi dengan mobil Polisi.
"Sepertinya dia rekan yang menyenangkan." Komentar Kai setelah kepergian Kevin.
"Terkadang." Balas Sehun sambil membukakan pintu penumpang depan untuk Kai.
"Kau tidak perlu melakukan hal memalukan seperti ini." Keluh Kai namun ia tetap melangkah memasuki mobil sedan perak Sehun.
"Jangan lupa kenakan sabuk pengamanmu."
"Aku tidak akan mati karena benturan keras."
"Pakai saja."
"Baiklah cerewet. Kau benar-benar cerewet astaga!" Kai mengeluh dan Sehun menanggapi keluhan itu dengan senyuman. "Katakan, kau akan membawaku kemana?"
"Danau."
"Danau di dekat Istana?!"
"Ya. Kau tidak perlu takut dengan para Serigala. Mereka tidak akan menyerang kita."
"Mereka Serigala jinak, karena Nemesis terdahulu sudah menaklukan kekuatan para Serigala itu."
"Kau tahu?" Sehun menjaga agar suaranya tidak terdengar terkejut, meski dia tidak tahu darimana Kai mendapat semua informasi itu. Karena ia yakin apa yang terjadi sebelum peperangan tidak tertulis di buku Sejarah.
"Aku tahu banyak hal mengenai Nemesis. Aku ingin memberitahumu tapi aku tidak tahu darimana memulainya. Kurasa, setelah aku bertemu dengan Jongin di alam bawah sadarku atau bertemu dengan—kekuatan Nemesis, ada banyak hal baru yang aku ketahui. Seolah semua ingatan Nemesis terdahulu menjadi bagian dari ingatanku."
"Benarkah?"
"Ya." Balas Kai singkat. Kedua matanya memandang lurus pada jalan raya yang mereka lewati. Bulan bersinar penuh malam ini.
Sedan perak Sehun berbelok ke kanan, mengambil jalan berliku melintasi istana. Kai menoleh ke kanan. Mengamati lautan luas di seberang, tebing, dan mercusuar dengan lampu terang di puncaknya.
Mobil Sehun berhenti di pinggir pagar pembatas. Kali ini Kai keluar tanpa menunggu Sehun membukakan pintu untuknya. Dari tempatnya berdiri Danau terlihat sangat indah. Memiliki penglihatan vampire yang tajam membuatnya tidak terpengaruh dengan keberadaan cahaya untuk melihat suatu objek. Dia melihat sama baiknya dengan siang hari.
"Ayo." Ajakan Sehun membuyarkan lamunan Kai, untuk kedua kalinya Sehun mengulurkan tangan kanannya. Dengan tersenyum Kai menyambut tangan Sehun, membalas genggaman tangan Sehun.
Mereka berjalan melompati pagar pembatas. Kai terpesona dengan keadaan di sekitarnya. Selama ini dia tidak pernah memerhatikan keadaan dengan teliti. Kini mereka berdiri di tepi danau. "Aku tidak menyangka tempat ini sangat indah."
"Kau terlalu sibuk dengan duniamu sendiri." Cibir Sehun.
"Ya." Balas Kai.
Melepaskan tangan Sehun, Kai berjalan lebih dekat dengan pinggir danau. Sepatunya menginjak tanah lembek namun dia tidak peduli. Ia membungkuk menyentuh air danau. Seharusnya terasa dingin menyegarkan bukan dingin menusuk seperti sekarang. Kai menegakan tubuhnya dan tersenyum melihat butiran salju turun dari langit.
"Kau akan membuat seluruh kota gempar."
"Vampire tidak akan terkejut."
"Bagaimana dengan manusia dan darah campuran?"
"Aku hanya membuat salju untukmu, kekuatanku tidak bisa mengubah cuaca di seluruh kota bahkan seluruh dunia." Balas Sehun lalu tersenyum.
"Terimakasih, ini—sangat indah."
Sehun tersenyum sambil melangkah mendekati Kai. "Apa kau menerima cintaku?"
"Jongin mencintaimu, dia ingin meminta maaf padamu karena tidak sempat mengucapkan perpisahan."
"Jongin?"
"Ya, dia ingin mengatakan perpisahan padamu tapi tidak sempat, semua ingatan Jongin menjadi milikku."
"Kai aku tidak pernah melihatmu sebagai Jongin."
Kai menggeleng pelan. "Itu membuatku bingung, apa aku mencintaimu atau Jongin yang mencintaimu. Mungkin sebelum aku sadar siapa diriku, ingatan dan perasaan Jongin sudah ada bersamaku."
Sehun bungkam, menunggu hingga Kai menyelesaikan semua ucapannya. "Aku mencintaimu tapi aku tidak tahu itu perasaanku atau milik Jongin. Ayah bilang jika aku sudah sangat dekat denganmu sejak bayi, orangtuaku tidak bisa meredakan tangisku tapi kau bisa. Aku ingin selalu bersamamu aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku mengenalmu bahkan sebelum aku mampu mengingat apapun."
"Apa yang kau inginkan sekarang?"
"Bersamamu."
"Itu sudah cukup." Balas Sehun mengambil langkah untuk lebih dekat kepada Kai. "Aku akan melindungimu."
Kai tertawa pelan, seharusnya dia serius menanggapi sikap Sehun tapi dia justru tertawa karena wajah tanpa ekspresi milik Sehun menurutnya lucu. "Terimakasih." Gumam Kai. "Terimakasih, kau sudah mengatakan ingin melindungiku."
"Ya." Sehun membalas singkat.
"Aku ingin minta maaf."
"Untuk?"
"Semua sikap menyebalkanku selama ini. Setelah aku tahu sedikit banyak tentang masa lalu, aku merasa benar-benar bodoh. Bagaimana aku bisa bersikap seperti itu setelah kedamaian yang dengan susah payah didapatkan."
"Semua orang pernah melakukan kesalahan."
"Aku bukan orang maksudku aku bukan manusia, tidak seratus persen dan kau bahkan bukan manusia."
"Ironis." Sehun tersenyum miring.
"Apa kau pernah berharap menjadi manusia?" Kai melihat alis kiri Sehun terangkat. "Aku pernah berharap menjadi manusia seutuhnya, bukan darah campuran."
"Kenapa berharap seperti itu?"
"Karena manusia yang aku kenal, mereka semua akan mati, dan aku akan hidup lebih lama untuk melihat kepergian mereka satu persatu. Aku bahkan tidak bisa membayangkannya."
"Lalu? Menjadi manusia bisa membantu?"
Kai mengangguk pelan. "Menjadi manusia berarti waktuku terbatas, aku tidak harus melihat lebih banyak orang yang aku sayangi pergi."
"Bahkan menjadi seorang vampire tidak bisa mengobati rasa sakit dari perpisahan." Tutur Sehun lalu tersenyum tipis.
"Setidaknya vampire terbiasa dengan perpisahan."
"Hmm." Sehun bergumam.
Kai berjongkok di tepi danau dan mulai memasukan kedua telapak tangannya ke dalam air danau. "Dan—bagaimana kau bisa bertahan melewati semua tahun-tahun menyedihkan? Aku baru melewati satu perpisahan dan aku benar-benar hancur."
"MinWoo?" tanya Sehun.
"Ya, MinWoo."
"Dia orangtuamu, wajar jika kau merasa hancur."
"Saat kau kehilangan Luhan, Jongin, atau semua yang kau kenal, apa kau hancur?"
"Tentu."
"Bagaimana kau bisa bertahan? Bagaimana kau bisa bersikap kuat?"
Sehun mengambil dua langkah mendekati Kai, hingga mereka sejajar. Sehun berlutut di sisi kiri tubuh Kai. Sehun memasukan telapak tangan kanannya ke dalam air danau. Menggenggam telapak tangan kiri Kai di dalam air pinggiran danau yang dangkal.
"Aku hancur asal kau tahu Kai, aku tidak kuat. Jika mereka semua bisa melihat ke dalam diriku. Aku sudah hancur berpuluh bahkan beratus tahun yang lalu."
"Tapi kau memilih bertahan."
"Karena aku percaya akan ada kebahagiaan untukku."
"Apa kau sudah menemukannya?"
"Ya. Tapi mereka selalu direnggut dariku." Sehun menarik tangan kiri Kai dari dalam air, menyentak tangan itu lembut namun cukup kuat untuk membuat tubuh Kai jatuh ke dalam pelukannya. "Kali ini aku tidak akan kehilangan lagi, aku tidak akan membiarkan kebahagiaanku pergi." gumam Sehun.
Di hari biasa ketika dirinya bersikap menyebalkan, Kai pasti akan menendang perut Sehun karena berani mendaratkan permukaan bibir tipisnya ke atas bibirnya. Mengambil ciuman pertamanya, tapi sekarang Kai justru memejamkan kedua matanya dan menikmati sentuhan bibir dingin Sehun yang terasa lembut. Mungkin salju hadiah dari Sehun telah membekukan otak Kai.
"Aku mencintaimu." Bisik Sehun setelah mengakhiri ciuman singkatnya dengan Kai.
"Aku juga…," Kai membalas lemah dengan wajah bersemu merah. Membuat Sehun tertawa cukup keras melihat Kai yang biasanya bersikap urakan tiba-tiba berubah pemalu.
"Aku nyaris tidak mengenalimu." Goda Sehun sementara tangan kirinya sudah mencubit pipi kanan Kai.
"Sudahlah!" dengus Kai sambil memalingkan wajah. "Sehun!" Kai tersentak karena untuk kedua kalinya Sehun menenggelamkan tubuhnya ke dalam pelukan erat.
"Aku akan melindungimu, semua akan baik-baik saja."
"Terimakasih." Bisik Kai. Dia ingin berada di dalam pelukan Sehun lebih lama tapi ada sesuatu yang mengusiknya. "Bisakah kita pulang sekarang?"
"Tentu." Balas Sehun tanpa melemparkan pertanyaan kepada Kai.
Mereka bergandengan menuju mobil, bahkan tangan kanan Sehun menggenggam tangan kiri Kai ketika mobil berjalan. Sehun hanya menyetir dengan satu tangan. Sesekali Sehun melirik Kai, dan ketika tatapan mereka bertemu, keduanya akan tersenyum tipis.
.
.
.
Bukan pemandangan mengerikan seperti ini yang Kai inginkan. Bukan rumahnya yang hancur dan rata dengan tanah. Kai merasa seolah seluruh fungsi tubuhnya berhenti. Dia hanya berdiri terpaku di depan mobil Sehun memandangi abu rumahnya. Kai berharap semua keluarganya selamat, tapi melihat kehancuran yang terjadi, harapan itu terasa mustahil.
"Rumahku diledakan," ucap Kai dengan nada lemah.
"Kai." Panggil Sehun.
Kai menoleh menatap Sehun, melempar tatapan penuh kekecewaan dan kepedihan. "Kau berjanji untuk melindungi, seharusnya kau melindungi keluargaku juga." Kai berucap lemah.
"Aku tidak tahu jika semua ini akan terjadi."
Kai berdiri masih mengamati rumahnya yang hancur dan lalu lalang ambulans. Berharap semua ini hanya mimpi buruk dan dia segera terbangun. Karena melihat betapa parah ledakan yang terjadi di rumahnya, ia yakin seluruh keluarganya tewas. Brengsek, dia bahkan belum sempat mengatakan permintaan maafnya pada Yeri dan Gikwang, dia belum sempat menunjukan dirinya sebagai seorang anak yang bisa diharapkan dan dibanggakan.
Kepalanya berdenyut nyeri dan dadanya terasa sesak. Kai ingin menangis meraung-raung menyesali semua perbuatannya di masa lalu, dia ingin meratapi betapa bodoh dirinya yang menyiakan keluarganya. Dan sekarang semua yang dia miliki lenyap. Hanya abu sisa kebakaran yang ada di hadapannya sekarang.
"Kai semuanya akan baik-baik saja, aku selalu bersamamu." Sehun mencoba menghibur Kai dengan menyentuh pundak kanan Kai.
"Semua ini perbuatan orang-orang yang mengincarku. Mereka sudah kelewatan! Brengsek!"
Sehun melihat tubuh Kai bergetar dia memeluk Kai dari belakang, melingkarkan kedua tangannya di atas perut datar Kai. Namun, hal itu hanya berlangsung singkat. Kai menyentak tangannya. Memutar tubuh menatap Sehun dengan penuh kebencian.
Kedua bola matanya berwarna hitam pekat. "Kai aku mohon jangan menyerah pada kekuatan Nemesis." Bisik Sehun berusaha untuk tetap menjaga kewarasan Kai.
"Tidak ada yang tersisa lagi, Oh Sehun." Bisik Kai. "Darah dibayar dengan darah, nyawa dengan nyawa. Mereka yang melakukan hal mengerikan ini pada keluargaku akan mati. Tanpa sisa. Akan aku habisi semuanya tanpa tersisa termasuk keturunan mereka."
"Kai..,"
Kalimat Sehun terhenti ketika Kai mencekik lehernya dengan tangan kiri, begitu mudah. Sehun, darah murni terkuat. Ditaklukan dengan satu tangan.
Kai menunduk, napas hangatnya menerpa wajah Sehun namun tatapannya begitu dingin berbanding terbalik dengan napas hangatnya. "Kau. Mati. Jika menghalangiku." Ucapnya sebelum melepas cekikan tangannya dari leher Sehun.
Kai berlari pergi dengan kecepatan tidak masuk akal bahkan untuk seorang darah murni. Kai tidak bisa berpikir lagi, dan dengan cara yang aneh dia bisa mengetahui siapa pembunuh seluruh keluarganya. Para pembunuh itu, aroma mereka menggantung kuat di udara. Mereka akan mati.
"Sehun!" Kevin berlari cepat menghampiri tubuh Sehun yang terjatuh di atas aspal. "Sehun kau baik-baik saja?"
Sehun mengangguk pelan, dengan gontai ia mencoba menegakan tubuhnya. "Kevin, Nemesis bangkit. Kumpulkan sisa pasukan elit kerajaan secepatnya, aku akan melakukan pertemuan darurat dengan seluruh pasukan keamanan."
Ekspresi wajah Kevin berubah dingin, mengangguk pelan. Kevin melepaskan pegangan tangannya pada lengan kanan Sehun, lalu melesat pergi.
TBC
Halo maaf selow update karena dunia nyata semakin menyita waktu dan menguras tenaga, terus otak saya sudah kepengen buat cerita yang baru ini penyakit akut semua hehehe, terimakasih review kalian doubleuu, Jinchanjimin1, cute, Kim Jongin Kai, saya sayya, Park RinHyun Uchiha, jongiebottom, chogiwillis, hkhs9488, jeyjong, GaemGyu92, siyohyunco, NdiwhY, heorayoung, JustFans, novisaputri09 terimakasih para pembaca semua see ya….
